Surat Bersama Para Minister General Fransiskan pada Peringatan 8 Abad Indulgensi Portiuncula

09/08/2016
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 172 kali

indulgensi

Indulgensi Portiuncula dan Tahun Yubile Kerahiman

Tahun 2016 ini ditandai dengan dua peristiwa penting: Hari Ulang Tahun yang tanggalnya secara tradisional dikaitkan dengan penganugerahan Indulgensi Portiuncula, yang terinspirasikan oleh keinginan St. Fransiskus bahwa “setiap orang haruslah diantar ke surga”, dan perayaan Tahun Kerahiman, yang diilhamkan oleh Paus yang mengambil nama St. Fransiskus.

Kita serahkan saja kepada para ahli sejarah untuk mendiskusikan bilamana tepatnya Indulgensi Portiuncula itu diberikan; yang kita perhatikan sekarang ialah kesempatan yang diberikan dua peristiwa yang terjadi bersama itu, untuk menelisik tema yang kaya perihal kerahiman dan pengampunan di dalam konteks tradisi rohani Fransiskan kita.

Perkataan Kerahiman, Belaskasih (Misericordia) sangatlah disayangi oleh Fransiskus. Dalam tulisan-tulisannya, biasanya Fransiskus mempergunakannya dalam dua arah: mengacu baik kerahiman Tuhan bagi kita maupun kerahiman yang kita ungkapkan kepada para saudara dan saudari kita. Hal ini mengingatkan ungkapan Injil yang telah Paus sarankan sebagai moto dari Tahun Jubile: “Hendaknya kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah urah hati” (Luk 6:36). Relasi kita yang penuh murah hati dengan orang-orang lain sangatlah erat terkaitkan pada kerahiman yang diperlihatkan Tuhan kepada kita: cinta Allah itu sumber nan tak kunjung habis; dari sanalah kita dapat menimba kerahiman yang kemudian kita komunikasikan kepada sesama kita. Dan sebagaimana kita ketahui, kita dapat mencintai hanya sejauh kita menyadari bahwa diri kita ini dicintai oleh Sumber Ilahi segala kebaikan.

Apa yang pada umumnya dapat kita katakan perihal cinta, dapat diterapkan juga pada pengampunan, yang merupakan salah satu bentuk tertentu dari belaskasih atau kerahiman. Perumpamaan yang diceriterakan Yesus sebagai jawaban atas pertanyaan Petrus “berapa kali saya harus mengampuni?”, menghukum perilaku hamba yang tidak mengampuni hutang sesama hambanya, padahal sebelumnya tuannya itu telah mengampuninya atas hutang yang demikian besar. Sekali lagi, alasan atau dasar untuk mengampuni orang lain adalah bahwa kita sendiri telah diampuni oleh Tuhan – sebagaimana kita berdoa dalam Bapa Kami, “ampunilah dosa kami sebagaimana kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Perkataan “sebagaimana” itu tidaklah menunjukkan adanya kesamaan, tetapi hanya sekedar memperlihatkan motif di belakang pengampunan kita pada orang lain: dari adanya kepastian bahwa Tuhan telah mengampuni saya dan dari sinilah muncul kebutuhan untuk mengampuni “sebagaimana” Bapa telah mengampuni. Ini merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa kita hendaknya bermurah hati “sebagaimana” Bapa itu murah hati.

Didasarkan pada kebenaran itu, maka jalan terpasti bagi kita untuk semakin menjadi berbelaskasih adalah usaha untuk semakin menyadari bahwa kita sendiri ini telah dicintai oleh Tuhan. Di sini sekali lagi kita menghubungkan antara anugerah yang kita terima dari Tuhan dan pemberian yang kita tawarkan kepada para saudara dan saudari kita. Hal ini merupakan sesuatu yang mencirikan pengalaman spiritual Fransiskan kita. Sedemikian, sehingga kita, seperti Fransiskus, menemukan bahwa Tuhan itu “adalah kebaikan, segalanya yang baik, kebaikan tertinggi, dan hanya Dialah yang baik”. Dengan demikian kebutuhan untuk memberikan jawaban kepada kebaikan yang telah kita terima, menjadi bertambah kuat di dalam diri kita, dengan akibat bahwa kita mampu meneruskan kebaikan sejauh kemampuan kita.

Dan berhubung untuk menjadi semakin menyadari cinta Tuhan bagiku itu, musti ada waktu untuk refleksi diri, maka menjadi sadarlah kita bahwa kita ini telah diundang untuk memelihara semangat doa dan devosi, dan untuk mempersatukan kontemplasi dan aksi. Hal ini mutlak, bila kita menghendaki:

  • menemukan kembali sumber yang benar dari komitmen dan cinta kita pada sesama,
  • memulihkan kekuatan dan energi yang diperlukan untuk menghabiskan hidup kita demi pelayanan bagi saudara-saudara dan saudari-saudari kita dan
  • melahirkan budaya damai dan rekonsiliasi, yang menjadi buah-buah kontemplasi atas kasih.

Ketika dia memohon kepada Paus indulgensi luar biasa bagi gereja kecil Portiuncula, Fransiskus membangun sarana baru untuk merayakan pengampunan dan kasih yang berlimpah dari Tuhan bagi kita. Kita dapat mengambil alih dan mendalami definisi indah dari indulgensi yang telah diberikan oleh Paus Fransiskus dalam Misericordiae vultus. Di sana indulgensi itu diuraikannya sebagai “pengampunan pada pihak Bapa yang, melalui Mempelai Kristus, Gereja-Nya, menyentuh pendosa yang telah diampuni dan membebaskannya dari setiap sisa-sisa yang ditinggalkan oleh berbagai akibat dosa. Dengan begitu memampukan dia untuk berbuat dengan murah hati dan berkembang dalam kasih dan tidak jatuh kembali ke dalam dosa.” (MV 22). Setiap kali kita menerima indulgensi yang menakjubkan dari Bapa melalui Gereja ini, kita mengalami juga berlimpahnya belas kasih. Dan hal ini memungkinkan kita untuk menjadi lebih mampu lagi dalam hal berbela rasa dan membangun kembali hubungan baik (rekonsiliasi) dalam berbagai macam keadaan hidup yang nyata.

Kita dapat melihat contoh-contoh yang menakjubkan dari kemampuan kreatif untuk memajukan kedamaian dan rekonsiliasi ini dalam hidup Fransiskus. Muncullah dalam benak kita episode pada akhir hidupnya, ketika dia memperdamaikan Penguasa Sipil (Podestà) dan Uskup Asisi. Dia melakukan hal ini dengan menyanyikan Madah Saudara Matahari, dengan menambahkan satu bait perihal pengampunan. Seorang penulis perdana menulis pada permulaan ceritera ini bahwa Fransiskus berkata kepada para pengiring dan sahabatnya: “Adalah aib bagi kalian, para hamba Allah, bahwa Uskup dan Podestà saling membenci seperti itu, dan bahwa tak seorang pun campur tangan demi melerai dan mendamaikan mereka.” (Antologi Asisi 84). Fransiskus tidaklah berpendapat bahwa dirimya tidak punya urusan dalam hal ini; justru dia merasa malu karena tidak ada seorang pun telah menengahi dan membangun kembali damai dan ketenteraman. Saya pun bertanya-tanya apakah kita juga merasa sedikit banyak malu karena tak seorang pun menengahi perselisihan-perselesihan pada zaman kita ini? Sejauh mana tanggung jawab yang kita rasakan, sebagaimana yang dilakukan oleh Fransiskus, untuk menciptakan kedamaian dan rekonsiliasi? Khususnya dalam persaudaraan kita sendiri, bilamana terjadi perpecahan, tetapi juga dalam perselisihan-perselisihan yang bernuansa politik, keagamaan, ekonomi dan sosial di zaman kita sekarang ini?

Suatu komitmen yang dipegang teguh dan pro-aktif seperti ini, muncul dari permenungan yang mendalam perihal cinta Tuhan bagi diriku. Karena saya memang disentuh oleh kemurahan hati Bapa, maka semacam kekuatan, keberanian dan “kebodohan” yang cemerlang terbangkit di dalam diri saya. Hal ini membawa saya melibatkan diri, tetapi hanya dalam cara seorang pribadi yang miskin yang menjalin cinta pada Tuhan – untuk ikut campur tangan melalui nyanyian, dan bukan melalui khotbah yang resmi, apalagi melalui kekuatan. St. Fransiskus dengan kesederhanaannya yang cerdas, tidak berusaha untuk memanggil Uskup dan Podestà untuk mengadakan pertemuan demi memecahkan perselisihan dan perbedaan mereka. Fransiskus tahu betul bahwa yang demikian itu bukanlah jalan yang tepat: sebaliknya dia mengumpulkan mereka itu untuk mendengarkan sebuah nyanyian, karena hanya dengan jalan mengarahkan pandangan mereka ke strata yang lebih tinggi, ke arah keindahan Tuhan – dan berbuat demuikian itu sementara berada di atas sayap-sayap lagu – sehingga kedua orang yang sedang terjerat dalam perselisihan itu, diharapkan dapat mampu mengenal kembali alasan-alasan yang lebih tinggi untuk hidup dalam perdamaian. Dalam dunia sekarang ini, kemungkinan besar orang-orang Fransiskan tidak sering diundang untuk menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dunia yang rumit, lalu memberikan berbagai pemecahaan teknis, atau dengan terlibat dalam isyu2 yang sulit, yang acap kali melampaui kemampuan kita. Sebaliknya, kita ini dipanggil untuk menemukan cara mendorong terjadinya rekonsiliasi dan damai dengan menyentuh hati orang-orang melalui kesaksian minoritas, kesederhanaan, keindahan dan nyanyian. Dengan hidup sebagai saudara-saudara dan saudari-saudari dalam ketulusan dan kebenaran, kita memberikan kesaksian apa yang penting (essential). Dengan demikian orang-orang zaman sekarang ini, persis seperti si Podestà dan Uskup Asisi itu, mampu mengenal kembali betapa berharganya hidup dalam kedamaian, melihat masalah-masalah dalam perspektifnya yang tepat, dan memilih jalan untuk pengampunan.

Dalam berbicara perihal kemurahan-hati (inulgensi) dan belaskasih, pertama-tama kita memeperhatikan kemurahan hati Bapa pada kita, dan kemudian bergerak, pindah berbicara perihal bagaimana secara positif melibatkan diri di dalam realitas dunia sekarang ini yang memang dipenuhi dengan konflik-konflik. Namun kita pun dapat berbuat dengan urutan terbalik: mulai dari pengampunan dan rekonsiliasi dengan saudara-saudara dan saudari-saudari kita, dan kemudian baru berbicara perihal belaskasih Allah, sebagaimana Fransiskus berbicara dalam Wasiatnya. Apa yang paling harus kita perhatikan adalah bahwa kedua aspek itu harus selalu dikaitkan, tidak boleh dipisahkan yang satu dari yang lain, karena di dalam Injil pun Yesus mengajarkan bahwa yang pertama dari perintah-perintah itu berbicara sekaligus perihal cinta Tuhan dan cinta terhadap sesama, dua komponen yang tak pernah terpisahkan.

Semoga perayaan seratus-tahunan ini membantu kita untuk mengalami adanya suatu “rasa malu yang sehat” karena tidak adanya komitmen yang kuat untuk bekerja demi kedamaian dan keharmonisan di dalam realitas penuh konflik di mana kita sekarang ini hidup. Semoga hal ini membantu kita untuk berkembang dalam kemampuan kreatif kita demi menemukan cara-cara dan jalan-jalan yang baru: menyanyikan sebuah lagu yang menyapa orang zaman kita ini, baik yang pria maupun yang wanita. Semoga hidup kita pun menjadi suatu nyanyian pujian yang hidup dan terarah pada Allah, sumber segala cinta, dan dengan demikian menjadi sebuah inspirasi yang nyata bagi pembangunan perdamaian dan rekonsiliasi.

Roma, 23 Juli 2016, Pesta St. Brigita, Pelindung Eropa.

Fr. Michael Anthony Perry, OFM
Minister General

Fr. Marco Tasca, OFMConv
Minister General

Fr. Mauro Jöhri, OFMCap
Minister General

Fr. Nicholas Polichnowski, TOR
Minister General
President FFC

Tibor Kauser, OFS
Minister General

Sr. Deborah Lockwood, OSF
Minister General

Diterjemahkan dari naskah Inggris oleh: Sdr. Alfons S. Suhardi, OFM
Depok 8 Agustus 2016.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *