Santa Clara dari Assisi 1194-1253

Dilihat: 1.974 kali

[ Index Buku  St. Clara dan Warisan Rohaninya ] [ Index Ordo St. Clara ]

BAGIAN II
SANTA KLARA DARI ASISI
1194-1253

Sebagai Perawan Yang Miskin
 Memeluk Kristus Yang Miskin

IN MEMORIAM ADVENTUS
DOMINARUM PAUPERUM
IN INDONESIAM
 A. D. MCMXXXIV

Hidup Segan, mati tak mau

Cletus Groenen, OFM

KATA PENDAHULUAN
“Tidak baik kalau manusia, seorang diri saja”, firman Tuhan. “Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kej 2.18). Itulah firman dasariah Alkitab yang menyangkut seluruh eksistensi manusia. Hanya berdua, bersama kemanusiaan dapat diwujudkan. Itu berlaku pula di bidang keagamaan, rohani. Firman dasariah Tuhan tersebut dengan indah dan utuhnya diilustrasikan oleh dua tokoh abad pertengahan yang sejarah pengaruhnya dalam Gereja Katolik, bagian barat, amat besar dan awet, yakni: Fransiskus dari Asisi (th. 1181/1182-1226) dan Klara dari Asisi (1194-1253). Kedua tokoh spiritual itu mewakili dan mewujudkan satu gagasan dasar dari Injil Yesus Kristus yang hanya dapat diwujudkan bersama. Seperti Adam dan Hawa mewujudkan satu kemanusiaan, demikian Fransiskus dan Klara mewujudkan satu gagasan dasar Injil. Seolah-olah gagasan itu berupa “Androgyne”, sehingga hanya secara utuh dapat direalisaiikan oleh pria dan wanita bersama, tegasnya oleh Fransiskus dan Klara. Kedua tokoh itu merupakan belahan yang hanya bersama-sama mewujudkan satu segi hakiki dari Injil yang mempribadi dalam Yesus Kristus.

Di sini kami hanya akan mengutarakan Klara saja. Tetapi sejak awal mesti diingat bahwa Klara tidak bisa terpisah dari Fransiskus dan Fransiskus tidak bisa terpisah dari Klara. Begitu pula aliran yang mereka cetuskan dalam Gereja Katolik, yakni Fransiskanisme, tidak dapat utuh kalau tidak disalurkan oleh pria dan wanita bersama. Paul Sabatier, ahli fransiskanisme – meskipun bukan Katolik, yang mengagumi Fransiskus – pernah menulis bahwa Gita Sang Surya, ciptaan Fransiskus, kurang satu bait. Bait itu dilengkapi oleh Paul Sabatier sendiri sebagai berikut:

Terpujilah Engkau Tuhanku,
karena saudari kami, Klara.

Engkau membuat dia, menjadi berdiam diri,
menjadi asyih dan bijaksana.

Melalui dia bersinarlah cahayaMu
di dalam hati kami.

Kalau Gita Sang Surya tidak lengkap tanpa bait tersebut, maka Fransiskus pun tidak lengkap tanpa Klara. Dalam rangka Fransiskanisme Chiara di Favarone di Offreducio menjadi penggerak sekelompok wanita Kristen Katolik yang (mestinya) mempunyai wajah sendiri, wajah Chiara yang.diabadikan. Wanita-wanita itu tentu saja Katolik, tetapi menghayati kekatolikannya dengan caranya sendiri. Mereka mewujudkan suatu gaya hidup injili yang (mestinya) lain dari yang lain. Gaya hidup itu sudah 700 tahun lebih membuktikan keawetannya, sehingga nyata bahwa mengandung suatu yang sungguh-sungguh bernilai.

Selama jangka waktu yang lama itu kelompok wanita itu tentu saja mengalami pasang surutnya. Namun gaya hidup itu, kendati penyelewengan, berhasil mempertahankan diri sampai dengan hari ini. Para pengikut Klara dengan berbagai cabangnya pada tahun 1980 masih berjumlah sekitar 18.500 jiwa yang mendiami 780 rumah tersebar di seluruh dunia.

Oleh karena kelompok wanita Katolik tersebut, yang dinamakan “Klaris miskin” (poor Clares) masih tetap ada dan menyalurkan suatu nilai injili, yang ditemukan oleh Chiara di Favarone di Offreduccio pada tahun 1212, maka alangkah baiknya tokoh itu diperkenalkan barang sedikit kepada sidang pembaca di Indonesia. Tokoh itu kan tetap dapat memperlihatkan bagaimana orang beriman dapat disergap oleh Yesus Kristus serta Kabaruya guna dengan seluruh dirinya dan kehidupannya menghayati serta mewujudkannya demi seluruh umat percaya. Kalau Injil memang kekal, maka nilai yang pernah digali di masa yang lampau tetap bernilai pula.

Dan nilai abadi itu terdapat pada diri Klara. Ia tidak meninggalkan bagi kita banyak tulisan. Hanya tersedia Anggaran Dasar yang dikarangnya bagi puteri-puteri rohaninya, sebuah dokumen yang disebut “wasiat” S. Klara dan sejumlah surat (empat). Tersedia pula “Riwayat Hidup” (legenda) S. Klara yang ditulis Tomas dari Selano pada tahun 1256, waktu Klara diresmikan sebagai orang kudus dan tersedia sejumlah kesaksian yang diberikan beberapa teman Klara dalam peresmiannya sebagai orang kuduS. Tetapi semua dokumen dan beberapa dokumen lain lagi hanya berguna untuk berkenalan dengan diri pribadi S. Klara, sebagai sumber spiritualitasnya.

Kami terutama mau memperkenalkan Klara sebagai asal-usul spiritualitas itu dan bagaimana Klara memperjuangkannya. Sebab justru dalam hal itu kepribadian rohaninya paling nyata. Dan itu pun sebabnya tokoh Italia dari abad pertengahan itu pantas terus dikenang.

 BAB I
 DI RUMAH KELUARGA DI FAVARONE DI OFFREDUCIO

Tokoh yang sekarang dikenal sebagai Klara dari Asisi lahir pada tahun 1194 sebagai anak ketiga keluarga bangsawan Asisi, Italia tengah. Keluarga itu dikenal di kota kecil itu sebagai di Favarone di Offreducio. Klara didahului dua puteri, yang satu bernama Penenda dan yang lain tidak lagi diketahui namanya, dan masih akan disusul dua puteri lagi, yaitu Agnes dan Beatrice. Seorang putera sebagai ahli waris kedudukan keluarga itu diharapkan, tetapi agaknya tidak dikaruniakan. Klara dibaptis dengan nama Italianya Chiara, artinya; bercahaya. Ayah Klara bernama Favarone, sedangkan ibunya disebut Hortulana, artinya: pengurus, tukang kebun. Ada cerita bahwa selama mengandung, Hortulana diberitahu bahwa akan melahirkan “cahaya yang akan mengalahkan terang Sang Surya”. Kiranya begitulah harapan ibu yang masih muda itu.

Hortulana, keturunan bangsawan, ternyata seorang wanita yang kuat. Bersama dengan pasukan perang salib ia berani berziarah ke Tanah Suci. Bayangkanlah sebentar; di abad ketigabelas berziarah ke Palestina melalui daratan dan Laut Tengah di.tengah-tengah laki-laki yang sedang maju perang. Hortulana jelas gemar membuat perjalanan jauh, sebab ia pun pernah berziarah ke Roma dan pergi ke daerah Apulia, Italia Selatan.

Ayah Klara, Favarone, termasuk kaum bangsawan di kota Asisi, tegasnya bangsawan militer, latinnya: MileS. Berarti bahwa Favarone mesti ikut maju perang setiap kali rajanya berperang, hal mana di masa itu tidak jarang terjadi. Sebagai bangsawan militer Favarone termasuk tulang punggung masyarakat feodal di zaman itu. Ada pun kedudukan dan kuasa kaum bangsawan di zaman itu bertumpu pada milik berupa tanah. Memang diketahui bahwa keluarga di Favarone di Offreducio mempunyai beberapa rumah di kota Asisi dan cukup banyak tanah di sekitarnya. Jelaslah bahwa keluarga di Favarone tidak termasuk golongan bangsawan yang sudah merosot dan jatuh miskin. Kakak Favarone, jadi paman Klara, yaitu Monaldo, mempunyai benteng di gunung Subasio, di dekat Asisi, yakni Sasso Roso. Monaldo berperan sebagai kepala keluarga besar Offreducio. Maka jelaslah keluarga di Offreducio berhasil mempertahankan kedudukannya yang berkuasa dan sungguh berada dan tidak seperti sekian banyak kaum bangsawan di masa itu terpaksa menyewakan tenaganya sebagai prajurit kepada siapa saja yang mau membayar.

Meskipun Asisi sebenarnya termasuk daerah kepausan, namun sudah lama dikuasai oleh Kaisar Jerman. Keluarga di Offreducio mendukung Kaisar Jerman (selama itu menguntungkan), sehingga melawan Sri PauS. Yang di masa Klara lahir dijabat oleh Celestinus III yang pada tahun 1198 diganti Innocentius III. Adalah mungkin bahwa keluarga di Offreducio, sebagiannya keturunan Jerman (Lombard). Sebab diketahui bahwa Klara misalnya berambut pirang dan bermata biru, ciri-ciri bangsa di utara Eropa, Jerman dan sebagainya, sedangkan pribumi Italia berambut hitam dan bermata hitam atau coklat. Keluarga Klara memang sangat terlibat dalam gejolak politik yang di masa itu melanda Italia dan seluruh Eropa. Nanti hal itu dikupas lebih lanjut.

Akibat gejolak politik itu keluarga di Favarone terpaksa melarikan diri ke kota Perugia, waktu Klara berumur 6 tahun, yakni sekitar tahun 1200. Lebih kurang lima tahun Klara bersama keluarga di Favarone tinggal di Perugia dan pada tahun 1205 barulah mereka dapat kembali ke Asisi.

Klara mengikuti pendidikan yang lazim bagi para puteri bangsawan di zaman itu. Pendidikan itu bertujuan menghasilkan wanita yang mampu mengurus keluarga besar seorang bangsawan, menjadi istri taat, cantik dan cakap. Pendidikan agama yang bersungguh-sungguh menjadi dasar segala sesuatu, tetapi pendidikan itu mencakup juga berbagai keterampilan yang berguna. Dan termasuk ke dalam ketrampilan seorang istri bangsawan: tahu membaca dan menuliS. Dan itu pun dalam bahasa Latin yang di masa itu menjadi bahasa resmi, bahasa internasional, bahasa administrasi negara dan bahasa Gereja. Tulisan-tulisan Klara membuktikan kemahirannya baik dalam hal membaca, maupun dalam hal menulis (bahasa latin). Ternyata bahwa Klara tidak hanya membaca buku agama (dan liturgi), seperti Alkitab (latin), tetapi juga buku-buku profan, yakni roman-roman yang bercerita tentang hal ihwal dan kepahlawanan kesatria dan bangsawan tersohor. Baik diingat bahwa di masa itu buku-buku termasuk barang luks dan mahal sekali.

Klara tentu saja belajar keterampilan yang perlu untuk wanita terkemuka di zaman itu. Artinya: mengurus dapur rumah tangga (besar), menjahit, memintal dan menyulam. Di bidang itu pun kemahiran Klara terbukti. Masih tersimpan sampai hari ini sebuah alba dan dalmatika yang dibuat dan disulam oleh Klara bagi Fransiskus serta semacam sepatu sandal khusus dari kulit halus bagi kaki Fransiskus yang terluka (stigmata). Diberitahukan juga bahwa Klara waktu sakit keras di tempat tidurnya masih sibuk dengan membuat “korporale” dengan sarung sutera dan lain-lain keperluan ibadat. Fransiskus memang sering memesan pakaian ibadat pada Klara. Dan pastilah sudah bahwa Klara belajar merawat dirinya, sehingga selalu cantik kelihatannya dan dapat memikat hati pria. Pakaian wanita bangsawan di masa itu sudah ada potongan khas yang ditentukan tradisi. Klara pasti belajar membuat dan memasang pakaian semacam itu.

Seluruh pendidikan puteri bangsawan berlangsung di rumah orang tua. Sekolah-sekolah belum ada banyak dan pasti tidak untuk puteri-puteri. Mereka paling-paling dititipkan dalam biara-biara rubiah untuk dididik. Tetapi biasanya semua di rumah saja di bawah bimbingan ibu atau guru-guru yang biasa disewa.

Bagaimana hal ihwal Klara di masa mudanya di Asisi dan Perugia tidak diketahui secara terperinci. Hidup puteri bangsawan menurut pola yang sudah tradisional di kalangan itu agak terkurung di rumah saja di bawah pengawasan ibu. Apa pula di kota seperti Asisi dan Perugia yang toh sudah menjadi dunia yang agak terisolir, mengingat bahwa komunikasi di masa itu tidak lancar dan tersendat-sendat, antara lain sebab situasi di luar tembok kota jauh dari aman. Memang hampir selalu ada perang besar atau kecil yang berkecamuk. Puteri-puteri yang tinggal di rumah jarang keluar di jalan-jalan kota. Hanya kadang-kadang – kalau ada pesta – oleh orang tua “dipamerkan” di depan umum. Maklumlah agak pagi sudah musti dicarikan jodoh yang sesuai. Dalam proses peresmian Klara sebagai orang kudus ada kesaksian tentang masa mudanya yang diberi oleh puteri teman (di Perugia), yakni Buona di Guelfuccio. Menurut kesaksian itu Klara memang puteri saleh yang bapyak bermati-raga dan memberi banyak sedekah kepada orang miskin. Ibunya, Hortulana, juga seorang ibu saleh dan kesalehan itu disalurkan kepada puterinya. Memang kemudian Hortulana dan adik-adik Chiara semua masuk biaranya. Namun demikian kesaksian tersebut tidak terlalu banyak artinya. Semuanya kan menjadi unsur normal pada wanita bangsawan di masa itu. Mereka demi kedudukannya, mesti saleh dan mesti memberi sedekah. Agama pada umumnya dipercayakan kepada wanita oleh pria yang sibuk mengurus politik dan sebagainya. Suami berbangga atas isteri saleh, yang rajin beragama dan bersedekah. Catatan yang sedikit menarik perhatian – sebab kurang biasa – ialah sebagai berikut: diberi kesaksian bahwa Klara waktu kecil tidak ingin dilihat dan dikagumi orang di luar rumah. Itu tentu saja kurang biasa pada anak-anak kecil yang justru suka dipuji dan dikagumi – kalau tidak malu-malu, apalagi di Italia tempat orang tua gemar memamerkan anak-anaknya, khususnya puteri-puteri. Ciri yang kurang lazim pada Klara itu boleh diartikan sebagai tanda bahwa secara wajar condong mengundurkan diri dari dunia luar, berbeda dengan kebanyakan puteri biasa.

Waktu Klara berumur sekitar 12 tahun, familinya mulai merencanakan pernikahan, seperti biasa di zaman itu, khususnya di kalangan bangsawan. Pernikahan memang bukan urusan mereka yang bersangkutan, melainkan urusan famili. Dan orang yang dalam hal itu memegang peranan yang memutuskan ialah kepala famili seluruhnya, dalam hal Klara – pamannya Monaldo, (barangkali bukan nama diri, tetapi gelar; Munaldo=wali). Apa yang paling panting dalam urusan perkawinan ialah harta-milik famili. Harta milik itu tetap mesti tinggal di dalam famili yang bersangkutan, sehingga tidak beralih ke dalam tangan famili (bangsawan) lain. Karena itu calon suami bagi puteri dicari dalam lingkup famili yang sama. Hal itu semakin mendesak bagi keluarga di Favarone, sebab tidak ada putera sebagai ahli wariS. Biasanya harta milik beralih kepada putera (sulung). Puteri-puteri hanya diberi “mas kawin” waktu dikawinkan. Tetapi ahli waris keluarga di Favarone hanya puteri. Maka perkawinan mesti direncanakan dengan seksama, agar harta milik keluarga tinggal di dalam famili. Calon suami harus dicari di antara kemenakan. Dan calon yang direncanakan bagi Klara ialah Ranieri di Bernardo.

Sejak Klara mulai didekati dengan rencana perkawinan itu, ia blak-blakan menolak. Famili boleh mendesak, malah calon yang ditentukan secara pribadi boleh mendesak, tetapi Klara menolak semua usul dan tidak mengalah. Begitulah kesaksian beberapa orang yang terlibat dalam urusan perkawinan itu, waktu mereka didengar dalam proses peresmian Klara sebagai orang kuduS. Mengapa persis Klara menolak semua tawaran itu kurang diketahui. Ia sudah berumur 16-17 tahun, sehingga sudah tiba saatnya untuk menentukan arah hidupnya. Tidak ada tanda bahwa Klara mempunyai rencana “masuk biara”, artinya dimasa itu: menjadi rubiah. Tidak ada satu pun kesaksian, malah dari pihakyang sejak kecil berkenalan dengan Klara (misalnya Buona di Guelfuccio) bahwa Klara pernah mempunyai rencana semacam itu di masa mudanya sebelum berkenalan dengan Fransiskus bin Pietro di Bernardone. Hanya jelas Klara, tidak mau menyesuaikan diri dengan rencana orang lain dan dengan pola hidup tradisional bagi puteri bangsawan.

Di masa itu nyatanya hanya tersedia dua kemungkinan bagi puteri bangsawan, yaitu: perkawinan dengan calon yang ditentukan famili atau masuk biara rubiah (yang belum ada banyak). Bahkan cukup banyak puteri bangsawan “dititipkan” ke dalam biara rubiah dan di situ pada waktunya bisa menjadi “abdis”, agar supaya harta milik famili tidak terlalu dikurangi melalui mas kawin yang mesti diberikan kepada puteri. Tetapi Klara waktu saatnya tiba tidak bersedia memilih antara kedua kemungkinan itu. Ia tidak mau kawin dan tidak mau masuk biara.

BAB II
 MASYARAKAT YANG BERGEJOLAK

Boleh dipertanyakan kalau-kalau sikap Klara yang berkepala batu itu bersangkutan dengan suasana umum dalam masyarakat di masa itu. Sebab di segala bidang pola hidup tradisional tergoncang. Sekitar tahun 1200 masyarakat Eropa, sungguh-sungguh bergejolak. Sedang berlangsung suatu perubahan yang mendasar, baik di bidang pribadi, social, politik, maupun di bidang gerejani dan religiuS. Masyarakat kekristenan abad pertengahan di mama itu bukan lagi masyarakat mantap dan stabil. Perubahan yang sedang berlangsung dan yang ujung pangkalnya tidak diketahui siapa pun dengan tepat, sangat mendalam, lebih mendalam dari pada misalnya perubahan yang terjadi di masa Renaissance dan Reformasi, barangkali malah lebih mendalam dari pada perubahan yang sedang berlangsung di abad ke duapuluh ini. Bahkan boleh dikatakan bahwa perubahan ini sedikit banyak melanjutkan apa yang dimulai pada abad ke tigabelas. Memang Eropa pada abad itu bergoncang.

Sejak kebudayaan Roma Barat runtuh dalam abad ke enam, Eropa jatuh kembali ke dalam keadaan terkurung, terkepung oleh Islam. Hampir saja tidak ada hubungan dengan dunia di luar Eropa. Masyakarat Eropa, dengan struktur feodal dan hirarkisnya adalah masyarakat kolektip, terbagi atas tiga golongan yang terpisah dan tersendiri. Ada kaum bangsawan yang berdasarkan milik berupa tanah mempunyai segala kuasa dan tersusun secara hirarkiS. Kaisar/raja pada puncaknya, disusul dan didukung berbagai tingkat tuan feudal yang menguasai sebagian tanah yang luas, agak swasembada dan melalui sumpah setia – yang kerap dan mudah dilanggar – terikat pada kaisar/raja. Kaisar/raja terpaksa mengakui kedudukan para tuan tanah dan kerap kali sama sekali tergantung pada mereka. Di samping golongan bangsawan ada golongan “rohaniwan/biarawan”, satu-satunya yang “makan huruf” sedikit. Milik berupa tanah menjadi jaminan penghidupan.

Rohaniwan, artinya pejabat Gereja, golongan atas biasanya dari kalangan bangsawan. Uskup-uskup dan abas/abdis biara-biara besar mempunyai peranan politik juga dan kerap kali menjadi “raja/ratu” (sipil) di wilayah kekuasaannya. Akhirnya ada masa rakyat yang tidak berarti apa-apa, kebanyakan menjadi setengah budak tuan-tuan tanah/rohaniwan dan tidak mempunyai kesadaran politik.

Seluruh masyarakat berfikir secara kolektip dan seorang perorangan tidak berarti banyak. Semua memang beragama (Kristen) bercampur banyak tahyul. Tuhan (Allah/Kristus) dipikirkan sebagai “Maharaja” dan manusia (secara kolektip) secara mutlak mesti mengabdi kepada-Nya. Agama disalurkan melalui upacara-upacara liturgi Gereja, secara masal-kolektip tanpa banyak keterlibatan pribadi. Agama dan rohaniwan/biarawan sering menjadi permainan politik saja di tangan kaum bangsawan kalangan atas yang secara mutlak menguasai segala sesuatu, meskipun Paus Gregorius VII Agung (1013-1085) dan pengganti-penggantinya sudah mencoba memperbaiki keadaan itu.

Tetapi pada akhir abad ke duabelas mulai bergejolaklah suatu perubahan yang berlangsung sampai pertengahan abad ke tigabelas, jadi di masa Fransiskus dan Klara hidup. Akibat “Perang Salib” Eropa keluar dari kurungan dan berkenalan dengan kebudayaan baru, yakni kebudayaan Bizantium (Roma Timur) dan Arab. Kebudayaan itu jauh lebih maju, halus dan berbelit-belit dari pada yang dikenal Eropa. Banyak hal dari kebudayaan “asing” itu diambil alih, antara lain filsafat Yunani, Plato, AristoteleS. Para cendekiawan (umumnya rohaniwan/biarawan) rajin mempelajari “ilmu” dari Timur dan kebudayaan Yunani-Romawi dari zaman dahulu. Sementara itu orang mulai berfikir dan berlaku secara individual perorangan. Harga diri manusia meningkat, pandangan terhadap “alam dunia” dan “masyara¬kat” berubah. Dan itu pun mempengaruhi hidup keagamaan gerejani. Penghayatan iman berubah. Orang tidak puas lagi dengan upacara-upacara gerejani yang diselenggarakan para “ahli”, yaitu rohaniwan. Sebaliknya orang secara pribadi mau menghayati iman dan agama. Perhatian beralih dari “Tuhan di surga”, Maharaja berdaulat, kepada Yesus Kristus yang pernah hidup di dunia sebagai manusia, di negeri Palestina yang melalui Perang Salib mulai dikenal dan suka dikunjungi. Dengan sendirinya orang pun mulai menaruh minat terhadap kitab Injil yang ingin dikenal dan dibaca oleh kaum, awam juga.

Penyalur dan pengemban pikiran baru tersebut ialah suatu golongan baru yang mulai berkembang dalam masyarakat. Golongan baru itu ialah “warga kota” perdagangan. Dahulu tentu saja juga ada kota-kota (kecil), tetapi biasanya dikuasai, bahkan dimiliki kaum bangsawan klas ataS. Tetapi pada akhir abad ke duabelas dan awal abad ke tigabelas, warga kota dan khususnya di Italia, mulai menangani perdagangan antar kota dan antar daerah, malah perdagangan internasional dengan daerah-daerah timur. Sekaligus warga kota – dengan perdagangannya itu – mulai mengembangkan macam-macam industri yang memprodusir barang-barang untuk diperdagangkan. Para ahli teknis (keterampilan) mengorganisasikan diri menjadi berbagai kelompok yang menspesialisir dirinya di salah satu bidang dan mencoba merebut semacam monopoli (hak tunggal) atas produksi barang tertentu. Tata ekonomi baru itu tidak lagi bertumpu pada milik berupa tanah, tetapi pada uang, minyak pelumas perdagangan dan industri.

Kota-kota perdagangan dan industri – seperti di Italia, misalnya Venetia, Viterbo, Perugia, Asisi dan lain-lain, – tidak lagi rela menerima kuasa dari kalangan bangsawan dan tidak mau mengabdi kepada tuan-tuan tanah itu. Kota-kota itu mencoba merebut, kalau perlu dengan kekerasan senjata, suatu otonomi mutlak, lepas dari kaum bangsawan. Oleh karena bangsawan semakin membutuhkan uang untuk membeli barang-barang baru dan luks yang diperdagangkan dan untuk operasi militernya, – sebab musti menyewa pasukan – maka kota-kota yang mempunyai uang seringkali dapat memaksa kaum bangsawan untuk memberi otonomi yang semakin besar. Kota-kota dagang dan industri juga bersaing satu sama lain dan saling memerangi demi keuntungen dagang dan industri. Masing-masing kota menjadi semacam “negara kerdil”, yang otonom dengan pemerintahannya sendiri, paling-paling di bawah payung nominal raja, kaisar atau Sri PauS. Pemerintahan kota tidak terikat pada keluarga tertentu berupa warisan, seperti halnya dalam masyarakat feodal. Pemierintahan kota dipilih oleh warga-warga kota sendiri, berarti para pedagang dan industrialiS. Rakyat jelata di kota-kota tidak banyak pengaruh. Begitu kesadaran politik di kalangan itu dipertajam. Dan apa yang dalam masyarakat kota penting bukanlah warisan, melainkan keuletan perorangan di bidang perdagangan dan industri yang berdasarkan prinsip untung dan konkurensi.

Di bidang agama pun warga kota merebut semacam otonomi. Berarti mereka tidak lagi begitu rela menerima, menuruti dan mentaati para “ahli agama”, ialah para rohaniwan, seringkali sekaligus bangsawan dan tuan tanah, yang menyelenggarakan upacara-upacara. Para warga kota condong mengemansipasikan diri dari pimpinan rohaniwan, artinya hirarki Gereja. Mereka condong menempuh jalan sendiri dalam hal menghayati iman dan agamanya. Penghayatan itu menjadi lebih perorangan, pribadi dan bersifat emosional serta konkrit. Pengahayatan iman terarah kepada hal-hal konkrit dan historis, khususnya Yesus dari Nazaret, Injil dan Maria.

Perubahan yang sedang berlangsung dalam masyarakat memperlihatkan diri dalam macam-macam bentrokan yang di masa itu – abad ke duabelas dan ke tigabelas – melanda masyarakat Eropa. Ada konflik politik, konflik sosial dan konflik religius.

Masih berlangsunglah suatu konflik lama antara dua kuasa politik yang tertinggi di Eropa, yaitu Kaisar Jerman (menguasai seluruh Eropa kecuali Perancis, Inggris, Polandia serta Skandinavia) di satu pihak dan Sri Paus di lain pihak. Paus memang masih “kepala negara kepausan” kecuali kepala Gereja Katolik. Negara Kepausan itu meliputi – paling tidak secara nominal – sebagian besar Italia dan beberapa raja secara nominal menjadi “raja muda” Sri PauS. Sebagai kepala negara, Paus langsung terlibat dalam catur politik. Tidak jarang kedudukannya sebagai kepala Gereja Katolik dipakai untuk mendukung kedudukannya sebagai kepala negara. Dan itulah sebabnya mengapa Sri Paus mempunyai kuasa politik yang besar sekali, satu-satunya kuasa yang lebih kurang dapat mempersatukan Eropa. Raja-raja lain, khususnya raja Perancis dan Inggris pada dirinya kurang penting, namun memainkan peranan besar dalam konflik antara Kaisar dan Paus yang masing-masing mencari dukungan Inggris dan terutama PeranciS. Italia secara langsung dan intensip terlibat dalam bentrokan antara Paus dan Kaisar itu, mengingat bahwa justru di Italia wilayah kekuasaan kedua tokoh itu bertemu. Di Italia ada dua “partai” (kalau boleh disebut demikian). Yang satu yaitu Ghibilin mendukung Kaisar dan melawan PauS. Dan yang lain disebut Welf, mendukung Paus dan melawan Kaisar. Meskipun bentrokan antara Paus dan Kaisar langsung hanya melibatkan kaum bangsawan, namun kota-kota jadi terlibat pula. Sebab masing-masing partai mencari dukungan (dan uang) kota dan kota-kota memanfaatkan konflik itu untuk semakin merebut otonominya sendiri, lepas dari kaum feodal. Oleh karena kota-kota itu pada dasarnya hanya mencari keuntungan sendiri, maka mereka gampang berubah haluan, sekali memihak Kaisar, sekali memihak Paus, berarti memilih pihak yang paling menguntungkan bagi kota. Akibat bentrokan politik yang melibatkan Paus, ialah: Paus kadang kala tidak merPaul Sabatier, ak tanah di sekitarnya. Jelaslah bahwa keluarga di Favarone tidak termasuk golongan bangsawan yang sudah merosot dan jatuh miskin. Kakak Favarone, jadi paman Klara, yaitu Monaldo, mempunyai benteng di gunung Subasio, di dekat Asisi, yakni Sasso Roso. Monaldo berperan sebagai kepala keluarga besar Offreducio. Maka jelaslah keluarga di Offreducio berhasil mempertahankan kedudukannya yang berkuasa dan sungguh berada dan tidak seperti sekian banyak kaum bangsawan di masa itu terpaksa menyewakan tenaganya sebagai prajurit kepada siapa saja yang mau membayar.asa aman di Roma dan melarikan diri ke tempat yang lebih aman.

Tetapi permainan politik itu mengakibatkan kota-kota pun secara politik militer berbentrokan. Dasarnya memang ekonomi belaka, sebab kota-kota itu di bidang dagang dan industri bersaing satu sama lain dan mencoba saling menyingkirkan dari pasar dunia. Keterlibatan politik hanya melayani ekonomi.

Akibat situasi politik tersebut ialah: Italia dan Eropa terus dilanda peperangan, antara Kaisar dan Paus serta dukungan masing-masing, antara kota-kota dan antara warga kota dan kaum feodal. Dan tentu saja kejahatan pun terus meningkat berupa perampokan dan penyamunan. Bekas tentara, bangsawan yang menjadi miskin, proletariat kota melarikan diri ke gunung dan hutan dan merampok di mana saja ada kesempatan. Jalan-jalan Eropa di masa itu memang jauh dari aman.

Dalam bentrokan politik-militer tersebut tersembunyilah bentrokan sosial. Konflik itu berlangsung antara “klas baru” yang muncul, yakni kaum dagang dan industrialis di kota-kota dan klas feodal lama, kaum bangsawan dan rohaniwan golongan ataS. Warga-warga kota mencoba merebut kekuasaan yang semakin besar dari tangan kaum feodal/rohaniwan yang tentu saja tidak rela melepaskan kekuasaan dan kedudukannya. Sudah dikatakan bahwa “warga-warga kota” itu bukanlah seluruh penduduk kota, melainkan hanya para pedagang dan industrialis yang mempunyai uang serta semangat wiraswasta dan keuletan disertai kelincahan yang perlu. Mereka mengorganisasikan diri dalam “persaudaraan” (fraternitates, communitates, brigota), persekutuan (coniurationes) dan sebagainya. Oleh karena “agama” dan “hidup social” tidak terpisah, maka kelompok-kelompok itu pun mengorganisasikan diri secara khusus di bidang keagamaan. Kerap mereka mempunyai gereja serta “pastornya” sendiri. Kapan saja ada kesempatan warga-warga kota itu melepaskan diri dari dominasi kaum bangsawan dan rohaniwan kelas ataS. Rohaniwan kelas bawah di kota-kota kerap kali memihak kepada warga-warga kota. Bentrokan antara kaum borjuis dan kaum feodal tersebut tidak jarang berdarah. Tambah lagi persaingan sosio-ekonomi antara kota-kota yang disebut di ataS. Kalau perlu kota-kota itu dapat bergabung (untuk sementara waktu) dengan kaum bangsawan (musuh kota lain) guna memerangi dan melawan saingannya.

Di dalam kota-kota sendiri mulai tampil golongan yang boleh diistilahkan sebagai proletariat. Ialah golongan yang tidak mempunyai tanah, tidak mempunyai uang dan karena itu pun tidak mempunyai kuasa sedikit pun. Merakalah orang miskin di kota-kota yang seluruhnya bergantung pada kemurahan hati mereka yang berada. Mereka kerap kali orang yang terpaksa melarikan diri dari desa ke kota akibat peperangan dan perampokan.

Kota Asisi, di daerah Umbria, Italia Tengah sangat terlibat dalam gejolak sosio-politik itu. Secara tradisional Asisi termasuk wilayah negara Paus-raja dan takluk kepadanya. Tetapi menjelang akhir abad ke duabelas (th.1150-1200) daerah kepausan itu sudah diduduki oleh Kaisar Jerman (bangsa Hohenstaufen ) yang berbentrokan dengan PauS. Paus Innocentius III (th.1198-1216), yaitu Paus yang mensyahkan Anggaran Dasar Fransiskus, semula ingin merebut kembali daerah itu dengan dukungan Perancis dan mempunyai rencana ke arah itu. Kota Asisi dikuasai oleh sebuah benteng (Rocca Magiore), tempat ada komandan (Konradus) dan pasukan Jerman. Waktu Paus Innocentius III naik tahta dan komandan itu mencium maksud Paus, ia berangkat ke Agni untuk berunding dan meyakinkan PauS. Kesempatan itu (1198) dimanfaatkan warga kota Asisi untuk menyingkirkan kuasa Jerman itu. Dalam sekejap mata mereka merusakkan dan merombak seluruh benteng Rocca Magiore, yakin bahwa orang Jerman tidak akan kembali lagi kalau dilawan. Kaum bangsawan di Asisi, seperti keluarga di Offreducio, yang berada di pihak Jerman, menjadi sasaran kebencian dan pemberontakan warga kota (yang disebut “minores”, berlawanan dengan “mayores” – bangsawan). Maka bangsawan Asisi turut diusir dari kota dan miliknya disita. Mereka melarikan diri ke kota Perugia, yang dekat dan menjadi saingan Asisi. Pietro di Bernardone dan anaknya Fransiskus (yang berumur 16 tahun) ikut merombak benteng Jerman dan mengusir bangsawan. Klara, putri di Favarone, turut diusir sementara miliknya disita. Lalu warga kota Asisi memilih pemerintahannya sendiri (dari kalangan pedagang) terkemuka; turut dipilih Pietro di Bernardone. Pemerintahan itu diketuai seorang “wali kota” (Podesta). Pemerintahan itu segera mulai mengeluarkan macam-macam undang-undang untuk mengatur kehidupan kota yang “merdeka”. Asisi memang tidak mau bergantung pada Kaisar dan tidak mau bergantung pada PauS. Segera pula meledaklah perang antara kota Asisi dan kota Perugia yang berlangsung selama sepuluh tahun (1200-1210), tentu saja dengan banyak “istirahat” diselingi beberapa pertempuran. Begitu pada tahun 1203 ada serangan dari pihak Asisi melawan Perugia, waktu itu Fransiskus bin Pietro di Bernardone ikut maju perang. Tetapi pasukan Asisi (terdiri atas warga-warga kota dan orang kecil yang dipaksa menjadi prajurit) yang sama sekali tidak terlatih atau berpengalaman, dikalahkan oleh Perugia yang didukung kaum bangsawan antara lain yang lari dari Asisi. Pasukan Asisi dihancurkan dan Fransiskus menjadi tawanan perang sampai pada tahun 1204 ia ditebus oleh ayahnya. Klara waktu itu tetap di Perugia.

Kemudian Asisi mencari dukungan Paus melawan Perugia dan ancaman dari pihak Jerman. Itu menjelaskan mengapa Fransiskus pada tahun 1205 mau berangkat ke Apulia bersama dengan pasukan Asisi yang dikepalai seorang bangsawan guna bergabung dengan pasukan Sri Paus yang berperang dengan pasukan Kaisar di Italia selatan. Pada tahun 1210 perang antara Asisi dan Perugia serta kaum bangsawan Asisi yang diusir berakhir dengan suatu perjanjian perdamaian (Trattato di Concordia). Kaum bangsawan, yang masih dalam pembuangan boleh kembali ke Asisi dan mendapat kembali harta miliknya. Tetapi kekuasaan yang sebenarnya tetap di tangan warga kota Asisi. Bangsawan ditolerir saja dan gengsi tradisionalnya dimanfaatkan warga kota. Pemulihan dan pembangunan kembali kota segera dimulai, ditangani dan dalam waktu singkat Asisi kembali menjadi kota yang cukup penting di daerah Umbria. Jaringan perdagangan meliputi seluruh Eropa dan sebagian daerah Timur Tengah (Bizantium dan Muslimin). Pedagang-pedagang besar antara lain Pietro di Bernardone terus di perjalanan dengan barang-barang dagangan. Ayah Fransiskus memang jarang di rumah waktu Fransiskus masih kecil.

Di samping dan tercampur dengan gejolak sosio-politik tersebut, Eropa juga dilanda gejolak keagamaan dan gerejani. Mulai dengan pertengahan abad ke duabelas sampai pertengahan abad ke tigabelas (1150-1250) di mana-mana di Eropa muncullah macam-macam gerakan dan kelompok pembaharuan agama. Kelompok dan gerakan itu biasanya berpangkal warga kota, tetapi juga menarik dan menghanyutkan cukup banyak orang dari kalangan bangsawan dan rohaniwan/biarawan tradisional. Ada pengikut-pengikut Waldes, seorang Perancis yang kaya. Secara mendadak ia bertobat dan dalam kemiskinan mulai mewartakan Injil dan hidup injili. Ada juga di Perancis, “orang-orang miskin” dari Lyon. Ada “Humiliati” di Italia, ada gerakan Premonstrat, gerakan Apostolik, pengikut Stefanus Muret, pengikut Robert dari Abrisel, ada Pasagini, Josephini, Arnaldistae dan lain-lain. Gerakan-gerakan itu pun menghanyutkan kaum wanita yang bergabung dengan pria atau pun bergerak tersendiri, seperti gerakan yang dilepaskan Catharina dari St. Truiden, Iveta dari Hoei, Maria dari Oignes, Ida dari Nijvel, Beatrix dari Nazareth. Yang paling tersebar luas ialah “Beghin” (wanita) dan “Bogard” (pria). Mereka sebenarnya setengah awam setengah biarawan, mereka hidup berkelompok-kelompok dan aktip di bidang amal kasih. Masih ada gerakan “saudara-saudara” (fratres) dan “saudari-saudari” (sorores) dari Roh Kebebasan, yang memang merasa diri “bebas”, berarti liar di, segala bidang.

Pada umumnya gerakan dan kelompok-kelompok itu mempunyai ciri awami, berarti: unsur utama ialah kaum awam. Mereka: langsung berorientasi pada Injil dan Kitab Suci dengan melompati pimpinan resmi Gereja. Mereka tertarik oleh Yesus dan jemaat perdana di Yerusalem, seperti digambarkan dalam Perjanjian Baru. Secara tersendiri mereka berkumpul antara lain untuk membaca Kitab Suci (Injil), yang rajin diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa daerah. Mereka mewartakan Injil yang seorang kepada seorang di luar rangka Gereja hirarki. Kemiskinan Injili dan rasuli menjadi cita-cita mereka (karena itu mereka kerap kali menyebut diri sebagai “pauperes minores” (kaum miskin yang dina).

Oleh karena gerakan dan kolompok-kelompok bermacam-macam itu kerap kali secara spontan muncul lepas dari pimpinan dan lembaga gerejani, maka tidak jarang timbul konflik dengan pimpinan Gereja. Mula-mula kelompok-kelompok itu tentu saja tidak mau menjadi “bidaat”, sebab tidak mempunyai minat doktriner. Tetapi akibat bentrokan dengan pimpinan Gereja, kelompok-kelompok itu mulai menjadi tersesat. Sebenarnya hanya ada dua gerakan yang sejak awal berupa bidaat, yakni Katar dan Albigens di PeranciS. Ajaran Katar dan Albigens sangat berdekatan. Dua-duanya menganut suatu dualisme, yang menyatakan kejasmanian secara dasariah jahat. Dualisme (gnosis) sudah tua sekali. Dengan nama Manikkheisme sudah dikenal AgustinuS. Pada abad duabelas dan tigabelas, bidaat itu kambuh lagi. Penganut ajaran itu cukup menarik orang banyak, sebab anggota-anggota penuh (sempurna) mempraktekkan kemiskinan secara serius, sertapa dan bermatiraga dan hidup morilnya tak tercela, berbeda dengan banyak rohaniwan dan biarawan masa itu. Tetapi praktek itu tidak berdasarkan Injil, malainkan dualisme. Oleh karena seluruh kejasmanian jahat (karena diciptakan prinsip jahat yang setingkat dengan prinsip baik, ialah Allah), maka kejasmanian secara dasariah mesti ditolak. Dan pandangan itulah yang melandaskan pantang mereka, matiraga, kemiskinan dan ulah tapa. Dan atas dasar yang sama mereka menolak sakraman-sakraman, sebab yang ilahi (rahmat) tidak dapat diikat kepada kejasmanian (barang sakramantal). Tetapi ada juga yang menarik kesimpulan lain. Manusia yang sebenarnya dan sejati ialah “jiwa”. Dan jiwa itu tidak bisa terkena oleh kejasmanian, oleh kejahatan. Maka apa saja yang dilakukan “manusia sejati” itu tidak bisa kena dosa. Karena itu ada yang tidak mengambil pusing tentang kejahatan apa saja yang mereka lakukan (antara lain bidang seksual).

Gerakan “Injili” dan “rasuli”, “kemiskinan” tersebut yang pada dirinya tidak tersesat dari ajaran sehat, kadangkala ditulari pandangan para Katar dan Albigens tersebut, khususnya manakala mereka berbentrokan dengan pimpinan Gereja. Innocentius III sebenarnya mencoba menampung gerakan dan kelompok semacam itu. Beliau malah menyetujui dan mensyahkan beberapa, seperti sebahagian dari pengikut Waldes, Humiliati, dan Orang Miskin dari Lyon. Tetapi oleh pemimpin setempat mereka kerapkali tidak disenangi. Sebab dengan gaya hidupnya dan dengan kata-kata gerakan dan kelompok-kelompok macam itu sering tidak segan mengkritik dan mengecam para rohnniwan, termasuk uskup dan biarawan. Tanpa izin atau persetujuan pimpinan Gereja mereka berkeliling sambil mewartakan Injil pertobatan, berkhotbah dan menjelaskan Kitab Suci kepada rakyat yang dengan senang hati mendengarkan mereka. Dengan cara demikian rasa kurang puas dengan Gereja dan rohaniwan/biarawan yang tersebar luas di kalangan rakyat dikobarkan dan disuarakan. Karena ketegangan yang menjadi-jadi itu sementara gerakan dan kelompok-kelompok itu tidak mau lagi mengikuti sakraman-sakraman yang diterimakan rohaniwan yang hidupnya buruk. Upacara-upacara dihina, dilalaikan dan malah ditolak. Sakraman-sakraman yang diterimakan orang (rohaniwan) berdosa dianggap tidak syah, sedangkan “orang suci” begitu saja berhak dan berwenang menerimakan sakraman dan berkhotbah. Secara lahiriah gerakan-gerakan dan kelompok-kelompok itu agak serupa dengan misalnya Katar dan sukar dibedakan. Akibatnya ialah: pada para pimpinan Gereja perlahan lahan tumbuh suatu rasa curiga terhadap segala macam gerakan dan kelompok yang kambuh dan pengawasan diperketat. Meskipun kebijaksanaan pimpinan Gereja agak simpang siur dan kurang mantap, namun Paus-Paus dan Konsili-Konsili mulai menindak dan mengutuk gerakan dan kelompok-kelompok itu. Sebuah Konsili Verona misalnya pada tahun 1199 (dipimpin oleh Paus Lucius III), mengutuk beberapa kelompok yang terdaftar sebagai: Katar, Patarini, Humiliati, Orang-orang Miskin dari Lyon, Pasagini, Josephini, Arnoldistae. Sekaligus ditolak pandangan salah yang tersebar pada beberapa kelompok mengenai sakraman-sakraman, tentang awam yang berhak berkhotbah tanpa izin dari pihak pimpinan Gereja. Dan Paus Innocintius III (1199) mengecam kaum (kelompok) awam yang tanpa bimbingan membaca, dan menerjemahkan Kitab Suci dan berkhotbah satu sama lain. Konsili Lataran IV (1215) mengutuk Pengkhotbah awam (Waldes), Katar, AlbigenS. “Fratres” dan “Sorores”, “Liberi Spiritus” dikutuk oleh Bonifatius VIII (1306), sedang Konsili Viene (1312) mengutuk Beghin dan Bogard.

Suatu gerakan yang membentuk bermacam-macam kelompok pantas diberi perhatian khusuS. Yang dimaksud ialah gerakan kelompok-kelompok yang dinamakan “poenitentes” (orang yang bertobat). Adapun Fransiskus dan Klara sebenarnya agak berdekatan dengan “poenitentes” itu. Bukankah Fransiskus dan teman-teman mula-mula menyebut dirinya “Viri Poenitentes de Assisi Oriundi” (orang-orang bertobat dari Asisi)? Gerakan poenitentes itu tersebar luaS. Gagasan dasarnya ialah: melakukan pertobatan seperti yang dituntut Injil Yesus Kristus. Di sana terbaca: “Bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat”. Dengan pertobatan itu orang menyiapkan diri untuk akhir zaman. Memang di masa itu tersebar luas keyakinan bahwa akhir zaman sudah mendekat. Dan suasana umum itu mendukung gerakan “poenitentes” itu. Gerakan itu terutama tersebar di kalangan awam dan juga manarik banyak wanita, termasuk wanita-wanita kelas tertinggi. Mereka gemar melakukan macam-macam ulah tapa sebagai tanda lahiriah pertobatan hati. Mereka suka berkumpul bersama-sama dan malah hidup bersama-sama di salah satu tempat dan mengundurkan diri dari masyarakat ramai serta melakukan amal kasih di kota-kota di antara orang miskin. Tidak segan pula mereka merawat orang sakit. “Poenitentes” itu pada umumnya awam, sehingga tidak masuk biara, artinya rahib/rubiah. Namun kelompok-kelompok itu kerap kali mirip dengan apa yang kemudian muncul sebagai biarawan/biarawati aktip. Gerakan dan kelompok-kelompok “poenitentes” itu mencakup macam-macam orang, baik yang bujangan maupun yang berkeluarga.

“Poenitentes” itu benar-benar suatu gaya hidup khusuS. Mereka tidak hanya memakai pakaian khusus, tetapi juga segan melibatkan diri dalam hidup masyarakat umum. Mereka enggan memegang jabatan sipil, enggan menjalankan perdagangan, menolak angkat sumpah dan memegang senjata, tidak ikut dalam pesta rakyat dan mempraktekkan kemurnian sesuai dengan situasi masing-masing. Dari “poenitentes” itu berasallah apa yang disebut “Ordo Ketiga Santo Fransiskus”. Paus Nicolaus IV, bekas pemimpin tertinggi “Saudara Dina”, pada tahun 1280 menempatkan “poenitentes” di bawah pimpinan para saudara-saudara dina dan sejak waktu itu “poenitentes” itu boleh dikatakan “Ordo Ketiga S. Fransiskus”. Namun sebelumnya, mulai dengan Fransiskus (dan Klara) sendiri, sudah ada hubungan antara mereka dengan sebagian “poenitentes” itu. Gerakan dan kelompok-kelompok “poenitentes” itu begitu banyak dan luas, sehingga kadang-kadang mengganggu lancarnya pemerintahan sipil. Justru karena gaya hidupnya, mereka tidak bisa menjadi prajurit, penjaga kota, saksi dalam pengadilan dan sebagainya.

 BAB III
 DICULIK BAGI TUHAN

Pada latar belakang “rohani-religius” seperti digariskan di atas dapat ditempatkan Fransiskus dan Klara di Favarone di Offreducio. Sudah dikatakan bahwa Klara sudah cukup berumur, tidak mau masuk biara dan tidak mau menikah. Ia pasti mendengar dan melihat macam-macam gerakan dan kelompok keagamaan baru yang mencari dan mengusahakan suatu hidup keagamaan intensip dengan gaya dan bentuk baru. Sudah barang tentu banyaknya gerakan dan kelompok itu membingungkan. Klara kiranya tertarik, tetapi tidak tahu persis bagaimana, belum dapat menentukan kalau-kalau bergabung dengan salah satu kelompok atau tidak. Sudah dikatakan bahwa gerakan-gerakan itu menghanyutkan sejumlah kaum bangsawan, baik pria maupun wanita. Tersiar cerita-cerita tentang macam-macam tokoh yang “bertobat” dan mulai menempuh jalan Injili, jalan rasuli, jalan kemiskinan dan pertapaan.

Salah satu dari tokoh itu tampil di kota Asisi sendiri. Namanya Fransiskus bin Pietro di Bernardone. Sejak tahun 1206 Fransiskus yang berbentrokan dengan ayahnya, seorang pedagang terkemuka dan kaya raya, menjadi buah bibir di kota Asisi dan sekitarnya. Oleh ayahnya ditolak sebagai anak dan seluruh harta milik dan warisan ditinggalkan Fransiskus. Ia hidup sebagai “poenitens”, mengemis di kota, memperbaiki Gereja-Gereja, antara lain Gereja San Damian dan Porziuncula, dan merawat orang-orang kusta di leproseri-leproseri sekitar Asisi. Ia pun tidak segan-segan berkhotbah di jalan-jalan kota dan mengajak warga-warga kota untuk bertobat dan berdamai satu sama lain. Lama kelamaan beberapa orang terkemuka di Asisi bergabung dengan Fransiskus. Dan peristiwa itu pun ramai dibicarakan di Asisi. Malah Paus Innocentius III (1209/1210) menyetuji gerakan kecil yang dilahirkan Fransiskus, sebab Paus berkesan kelompok itu tidak condong menuruti sekian banyak kelompok-kelompok lain yang melawan Gereja resmi dan menjadi bidaat.

Setelah Klara bersama dengan keluarga di Favarone pada tahun 1205 dapat kembali ke Asisi dari pembuangan di Perugia, tidak dapat tidak ia mendengar tentang Fransiskus serta kelompoknya yang mulai tampil. Tidak mustahil juga bahwa perdamaian antara “minores” (warga kota) dan “majores” (bangsawan) yang kemudian pada tahun 1210 tercapai, antara lain hasil pengaruh Fransiskus. Perdamaian itu memberi kembali rasa aman kepada keluarga di Favarone di Offreducio. Rupanya Klara tertarik sedikit oleh Fransiskus. Sebab ada berita bahwa Klara menyuruh seorang membawa sejumlah uang kepada Fransiskua pada saat ia sibuk memperbaiki kapala S. Maria dei Angell di Porziuncula (1210), untuk membeli daging. Ternyata Klara sendiri dapat mengurus uangnya, hal mana kurang lazim bagi putri bangsawan. Kecuali itu ada seorang lagi dari familinya sendiri yang sudah bergabung dengan Fransiskus. Karena Imam Silvester dari Asisi menjadi kerabat jauh dari Klara, malah tidak mustahil Rufino di Sciffi di Favarone seorang kemenakan Klara yang pada tahun 1210 menggabungkan diri dengan Fransiskus.

Di masa Prapaska tahun 1211, Fransiskus secara teratur berkhotbah di Katedral Asisi, Gereja S. Rufino. Gereja itu berdekatan dengan rumah keluarga Favarone di Offreducio. Di Italia dahulu dan sampai sekarang ada kebiasaan bahwa selama masa Prapaska diadakan khotbah-khotbah khusus dan panjang yang disampaikan – kalau dapat oleh pengkhotbah-pengkhotbah yang ternama. Fransiskus sejak tahun 1210 sudah menjadi “rohaniwan”, sehingga menurut hukum Gereja boleh berkhotbah secara resmi. Dan ia pun sudah mendapat izin dari Paus untuk berkhotbah dan juga izin dari Uskup Asisi, Guido, yang sejak awal mendukung dan menolong Fransiskus. Rakyat di Italia biasa beramai-mmai datang mendengarkan khotbah¬khotbah yang istimewa itu di masa Prapaska. Maka wajar kalau Klara dengan keluarga di Favarone di Offreducio pergi ke Katedral untuk mendengar Fransiskus berkhotbah, apalagi oleh karena Fransiskus sudah menjadi terkenal dan menarik perhatian Klara.

Ternyata Klara terkena oleh khotbah, semangat dan pribadi Fransiskus. Menjadi jelas baginya apa yang dikehendakinya. Klara sendiri dalam wasiatnya – kemudian memberi kesaksian bahwa Tuhan berkenan menerangi hatinya. Menjadi jelas bahwa ia harus menempuh cara hidup yang mirip dengan cara hidup yang dianjurkan Fransiskus. Klara waktu itu berumur 17-18 tahun.

Selama masa Prapaska pada tahun 1211 mulai terjalin hubungan langsung antara Klara dan Fransiskus. Diceritakan bahwa Klara sering mengunjungi Fransiskus dan sekali-sekali Fransiskus membalas kunjungan tersebut. Rupanya Klara pergi ke Porziuncula, tempat Fransiskus dengan teman-temannya menetap. Lebih kurang satu jam perjalanan kaki dari Asizi ke sana. Klara ditemani oleh Buona de Guelfuccio. Kurang jelas siapa sebenarnya Buona itu, entah pembantu, sahabat atau bibi Klara, sebab tidak jelas apakah Buona itu sama dengan Pacifica di Guelfuocio yang nanti akan menemani Klara ke Porziuncula, seperti juga tidak jelas apakah Buona – Pacifica itu sama dengan seorang wanita lain yang berperan dan yang bernama Biancha. Fransiskus ditemani seorang pengikutnya, yaitu saudara FilipuS. Kunjungan itu terjadi di malam hari. Rupanya Klara mau menyembunyikan hal itu bagi kaum keluarganya. Baiklah dibayangkan sebentar apa artinya dua puteri muda di malam hari berjalan kaki. Pintu gerbang kota sudah ditutup dan agak sukar menyusup keluar dari kota yang dijaga ketat. Tidak ada penerangan dan jalan-jalan di luar kota jauh dari aman. Ternyata Klara dan temannya yang berani sangat berhasrat bicara dengan Fransiskus. Memang Klara mencari penerangan lebih lanjut dari pihak Fransiskus tentang cara hidup itu dan bagaimana dapat melaksanakan niatnya. Hubungan antara Klara dan Fransiskus berlangsung lebih kurang satu tahun. Jadi mereka tidak bertindak tergesa-gesa dan tergopoh-gopoh.

Dalam waktu itu panggilan Klara menjadi matang, tekatnya diperkuat dan rencana pelaksanaan dibuat. Tentu saja Klara tahu maksud familinya untuk menikahkan dirinya. Ia tahu bahwa pihak keluarganya pasti berkeberatan. Barangkali mereka masih dapat menerima bahwa bila Klara tidak mau menikah, ia masuk ke salah satu biara rubiah, khusus biara yang hanya menerima puteri bangsawan seperti biara S. Pietro di dekat Asisi. Tetapi mereka pasti tidak dapat menerima bahwa Klara bergabung dengan Fransiskus bin Pietro di Bernardone yang belum sepuluh tahun lalu mengusir keluarga di Favarone di Offreducio dari kota Asisi. Fransiskus seorang dari kelas terhina, warga kota, yang bermusuhan dengan kelas bangsawan. Familinya pasti tidak dapat menerima bahwa Klara menjadi pengemis yang meninggalkan kedudukannya sebagai putri bangsawan yang cukup berada. Klara dan Fransiskus tentu saja sudah menyadari bahwa bukan saja tidak akan mendapat dukungan dari keluarga di Favarone di Offreducio, melainkan perlawanan keras.

Rupanya Fransiskus dan Klara juga berbicara dengan Uskup di Asisi, Guido. Mereka mendapat dukungan dari pihak Gereja. Kelompok Fransiskus sudah disyahkan dan menurut hukum Gereja sebagai rohaniwan tidak lagi di bawah kekuasaan sipil (negara, kota), tetapi hanya di bawah kekuasaan Gereja (Uskup). Kalau Uskup mendukung rencana mereka, Fransiskus dan Klara dapat bertumpu pada hukum Gereja guna melindungi dirinya terhadap kuasa sipil dan tekanan dari pihak keluarga Klara. Nampaknya Uskup Guido dapat diyakinkan, sehingga beliau menyetujui rencana Fransiskus dan Klara. Mereka semua sepakat bahwa Klara mesti melarikan diri dan rencana akan dilaksanakan pada hari Minggu Palma tahun 1212. Pada waktunya Uskup akan memberi tanda bahwa segalanya beres dan rencana dapat berlangsung.

Pada hari Minggu Palma tanggal 18 Maret 1212, Klara pergi ke Gereja S. Rufino guna mengikuti upacara pemberkatan palem dan perarakan. Waktu umat pergi menerima daun palem dari tangan Uskup, Klara tidak ikut tetapi tinggal di tempatnya. Uskup sendiri datang membawa daun palem kepada Klara. Itulah kiranya tanda yang sudah disepakati. Uskup memberi lampu hijau kepada Klara yang pada waktu itu berdandan pesta dan pergi ke Gereja dengan harapan bahwa itu menjadi kali terakhir. Uskup memberkati pelaksanaan rencana Fransiskus dan Klara.

Maka pada malam hari tanggal 18 Maret 1212, Klara melarikan diri dari rumah orang tuanya. Itu musti terjadi sembunyi-sembunyi dan diam-diam. Klara yang ditemani oleh Pacifica di Guelfuccio tidak bisa keluar melalui pintu depan yang agaknya dikawal seperti biasa. Di Italia, sampai sekarang, ada kebiasaan bahwa pada rumah besar ada pintu samping yang hanya dipakai waktu sebuah jenazah diusung keluar. Pada waktu lain pintu itu tertutup dengan kayu, batu dan kapur. Sukar dibuka dan biasanya diperlukan dua pria untuk membongkarnya. Adapun Klara dan Pacifica memakai pintu samping itu dan dengan tangan sendiri membongkar kayu, batu dan kapurnya. Klara sedang mengenakan pakaian dan dandanan yang pagi-pagi dikenakannya waktu ke Gereja. Dandanan itu menjadi tanda betapa senang Klara karena niatnya terlaksana.

Di malam hari Klara dan Pacifica berjalan kaki lebih kurang satu setengah jam ke kapala, Porziuncula. Di sana mereka ditunggu dan dijemput oleh Fransiskus dan teman-temannya yang membawa lilin dan obor sambil bernyanyi. Di dalam kapala itu Fransiskus sendiri memotong rambut pirang Klara dan memberinya kerudung. Pakaian pesta Klara diganti dengan jubah seperti yang dipakai Fransiskus dan teman-temannya; kain kasar dari bulu domba yang tidak diwarnai, jadi berwarna keabu-abuan.

Fransiskus tidak bermaksud Klara tinggal di Porziuncula bersama dengan dirinya serta teman-temannya. Jelaslah Klara tidak menjadi anggota kelompok Fransiskus. Memang di waktu itu ada kelompok-kelompok yang mencakup baik pria maupun wanita sebagai anggota penuh. Pria dan wanita tinggal di satu komplek, kalaupun biasanya terpisah. Tetapi jelas bahwa Fransiskus dan Klara sejak awal memikirkan halnya secara lain. Klara dan Pacifica tidak menjadi anggota ordo “saudara-saudara dina”.

Maka pada malam itu juga Fransiskus mengantar Klara serta temannya kepada sebuah biara Benediktines, yakni biara S. Paolo di Bastia. Untuk sementara waktu Klara dan temannya dititipkan di situ. Nanti halnya akan diurus lebih lanjut. Mungkin sekali Fransiskus dan Klara mengambil tindakan itu untuk sedikit melindungi Klara terhadap familinya. Sebab Gereja S. Paolo mempunyai hak suaka, artinya kuasa sipil tidak dapat masuk dan mengambil tindakan terhadap mereka yang berada di situ. Malah semua orang yang tinggal dalam biara itu dan selama tinggal di situ tidak boleh ditindak oleh instansi sipil, artinya: polisi atau tentara kota Asisi. Maka di S. Paolo di Bastia, Klara terlindung oleh hukum dan kuasa Gereja, yang di masa itu masih cukup disegani.

Tentu saja di rumah keluarga di Favarone keesokan harinya menjadi gempar. Klara hilang entah kemana. Hanya mungkin ibu Klara, Hortulana, tahu sedikit banyak mengenai apa yang dibuat Klara. Sebab dalam seluruh berita dan cerita tentang peristiwa itu ibu Klara tidak pernah sampai disebut. Tetapi kaum keluarganya, entah bagaimana segera mendapat tahu di mana Klara bersembunyi. Maka pamannya Monaldus, wali Klara, dengan sejumlah kesatria naik kuda dan langsung ke biara S. Paolo di Bastia. Mereka berhasil masuk biara dan menuntut Klara dikembalikan. Akhirnya kesatria dapat bertemu dengan Klara. Mereka menuntut dan mengancam, tetapi Klara tidak mengalah. Ia sudah pergi ke gereja biara dan memegang altar di situ. Waktu didekati kesatria itu Klara membuka selubung sehingga nampak rambutnya sudah dipotong, ia telah mendapat “tonsura” para rubiah. Itu pun berarti Klara langsung di bawah perlindungan Gereja dan siapa saja menanganinya terkena ekskomunikasi, pengucilan dari Gereja. Kecuali itu orang yang di dalam gereja S. Paolo, apa lagi yang memegang altar, tidak boleh dibawa keluar dengan paksaan dan kekerasan. Agaknya semuanya direncanakan sebelumnya oleh Klara dan Fransiskus. Dan para rubiah S. Paolo kiranya tahu duduk perkaranya. Rombongan kesatria pulang dengan tangan hampa ke Asisi.

Tidak lama Klara tinggal di biara S. Paolo. Tanggal 3 April 1212 ia pindah tempat ke biara Benediktines lain, yaitu Sant’Angelo di Panzo, yang terletak di lereng gunung Subasio. Tidak jelas mengapa Klara merasa perlu pindah tempat. Mungkin para rubiah di S. Paolo akhirnya toh mau menghindarkan kesulitan lebih lanjut dari pihak famili Klara.

Di tempat titipan baru itu, adik Klara yaitu Agnes yang baru berumur lebih kurang 15 tahun, menggabungkan diri dengan kakaknya. Agnes juga diam-diam melarikan diri dari rumah, entah bagaimana. Menurut hukum, Agnes sudah “dewasa”, sehingga tidak dapat diambil tindakan. Fransiskus sendiri datang menerima Agnes. Tetapi keluarga di Favarone segera mengambil tindakan. Sebanyak duabelas kesatria lengkap dengan senjata datang mengambil Agnes. Kali ini mereka mengambil tindakan kekerasan. Meskipun Klara mendoakan adiknya, Agnes diseret keluar dan dibawa lari. Tetapi kesatria-kesatria itu tidak jauh maju, entah apa yang terjadi, tetapi di tengah jalan mereka meninggalkan Agnes tergeletak di pinggir jalan. Menurut legenda, Agnes atas doa Klara Maka pada malam hari tanggal 18 Maret 1212, Klara melarikan diri dari rumah orang tuanya. Itu musti terjadi sembunyi-sembunyi dan diam-diam. Klara yang ditemani oleh Pacifica di Guelfuccio tidak bisa keluar melalui pintu depan yang agaknya dikawal seperti biasa. Di Italia, sampai sekarang, ada kebiasaan bahwa pada rumah besar ada pintu samping yang hanya dipakai waktu sebuah jenazah diusung keluar. Pada waktu lain pintu itu tertutup dengan kayu, batu dan kapur. Sukar dibuka dan biasanya diperlukan dua pria untuk membongkarnya. Adapun Klara dan Pacifica memakai pintu samping itu dan dengan tangan sendiri membongkar kayu, batu dan kapurnya. Klara sedang mengenakan pakaian dan dandanan yang pagi-pagi dikenakannya waktu ke Gereja. Dandanan itu menjadi tanda betapa senang Klara karena niatnya terlaksana.menjadi begitu berat, sehingga tidak terpikul lagi. Agaknya “berat” itu menekan suara hati para kesatria. Tengkorak Agnes masih tersimpan sampai hari ini. Pada tengkorak itu ada bekas luka berat. Mungkin terjadi waktu Agnes diseret keluar biara Sant’Angelo. Barangkali Agnes menderita luka secara serius dan pingsan. Kesatria-kesatria itu kiranya menjadi takut kalau-kalau Agnes mati dan mereka dianggap pembunuh dengan segala akibatnya. Karena itu mereka meninggalkan Agnes di jalan. Lalu Agnes dibawa kembali ke biara Sant’Angelo dan setelah dirawat tinggal di sana bersama dengan kakaknya dan Pacifica.

Beberapa minggu kemudian, yakni awal Mei 1212, Klara dengan kedua temannya pindah lagi. Uskup Guido menemukan sebuah tempat bagi mereka. Di luar kota Asisi, sekitar lebih kurang satu kilometer jauhnya, ada sebuah komplek kecil dengan gereja S. Damiano. Uskup Guido menghadiahkan komplek itu kepada Klara dan temannya. Jelaslah Uskup tetap mendukung Klara. Mungkin sekali jauh sebelumnya sudah ada rencana memberi komplek itu kepada Klara sebagai tempat tinggal. Sekarang ledakan aKlarah keluarga di Favarone sudah mereda, sehingga rencana itu dapat dilaksanakan. Kekuatan Klara dan teman-teman telah terbukti, ancaman langsung tidak ada lagi. Maka Klara dapat menempati komplek itu. Sebelumnya tentu saja tidak aman. Bila Klara serta temannya Pacifica pergi ke S. Damiano, mereka sendirian tanpa perlindungan, mereka sama sekali tidak berdaya terhadap kaum keluarga. Tetapi selanjutnya Klara tidak lagi terganggu oleh familinya.

Ada berita yang dikutip Klara dalam wasiatnya, bahwa dahulu ketika Fransiskus memperbaiki gereja S. Damiano, ia sudah meramalkan bahwa “di sana di gereja itu akan tingal wanita-wanita” Apakah itu suatu “vaticinium ex eventu” atau terlebih sebuah tanda bahwa Fransiskus pada waktu itu, entah kapan, sudah mempunyai pikiran bahwa wanita juga akan menggabungkan diri dengan gaya hidupnya yang baru? Boleh dipertanyakan juga apakah Uskup Guido dahulu sudah mempunyai rencana membuat komplek, milik keuskupannya itu, menjadi biara wanita dengan gaya hidup yang baru? Rupanya Uskup sejak awal melihat sesuatu yang sangat bernilai dalam gerakan yang mulai dilahirkan Fransiskus.

Awal pelaksanaan panggilan Klara cukup dramatis, tegang dan seram seperti tema sebuah film. Tetapi di bawah permukaan dramatis itu tersembunyi sesuatu yang lebih mengesankan. Klara tidak melarikan diri, seperti sekian banyak puteri, oleh karena jatuh cinta kepada pemuda Fransiskus. Sebaliknya Klara jatuh cinta kepada Yesus Kristus serta Injil-Nya, sebagaimana itu diartikan baginya oleh pemuda Fransiskus, yang juga jatuh cinta, bukan kepada pemudi Klara di Favarone di Offreducio, melainkan kepada Yesus dan Injil yang-sama. Dalam Yesus Kristus itu Klara dan Fransiskus menjadi satu tak terpisah lagi. Menjadi bukti kekuatan cinta Kristus dan daya InjilNya. Baik diingat kembali bahwa Fransiskus dan Klara masuk dalam klas sosial yang di masa itu secara radikal bertentangan satu sama lain. Fransiskus termasuk kelas warga kota yang pamornya sedang naik dan Klara termasuk klas bangsawan yang pamornya sedang menurun, merosot dan mengendor. Karena cintanya kepada Yesus Kristus dan berpedoman Injil-Nya, Fransiskus secara radikal memutuskan hubungan dengan klasnya sendiri serta segala nilai yang dijunjung tinggi oleh klas itu. Klara pun demikian, karena cinta Kristus dan berpedoman Injil-Nya, tidak kurang radikal dalam memutuskan hubungan dengan klasnya sendiri serta segala apa yang di sana dijunjung tinggi. Kedua mahluk itu secara sosial seolah-olah terkatung-katung dan melayang-layang di luar dan di atas segala struktur, sipil dan gerejani yang tersedia, saling bertemu dan memulai sesuatu yang baru, yang seluruhnya hanya ditentukan oleh Kristus serta Injil-Nya. Mereka bersama-sama memulai suatu dunia dan masyarakat baru. Bentrokan lahiriah yang dialami itu tidak lain dari cetusan kekuatan Injil yang dapat mendobrak segala apa yang termasuk ke dalam “dunia lama” dan yang membuka pintu bagi dunia baru, dunia injili. Ada bentrokan antara dunia lama dengan nilai-nilainya dan dunia baru dengan nilai-nilainya yang langsung bertentangan dengan yang sudah-sudah.

Tentu saja Fransiskus bersama Klara baru mulai. Tetapi seumur hidupnya kedua tokoh itu tidak mundur selangkah pun. Sebaliknya, sekuat tenaga mereka terus memperjuangkan apa yang mereka sudah awali. Boleh disayangkan bahwa mereka yang agak segera membanjir menggabungkan diri dengan Fransiskus dan Klara, tidak mampu dan tidak berhasil membangun terus atas landasan yang diletakkan Fransiskus di Porziuncula dan Klara di S. Damiano. Terlalu banyak dari antara “would be” pengikut itu kembali membawa masuk dunia lama serta nilai-nilainya ke dalam dunia injili ciptaan Fransiskus dan Klara. Alhasil: suatu campuran yang tidak seluruhnya duniawi dan tidak seluruhnya injili, setengah-setengah saja. Itu mungkin sesuai dengan kerapuhan manusia, tetapi tidak sesuai dengan maksud Fransiskus, dan Klara. Sebab – mengingat kesaksian “wasiat” Fransiskus dan Klara – kedua tokoh itu sampai akhir hayatnya mempertahankan dan memperkokoh awalnya. Dan satu-satunya daya kekuatan mereka ialah cinta kepada Kristus serta InjilNya dan cinta Kristus kepada dua orang pilihan-Nya. Fransiskus dan Klara benar-benar menyerap seluruh cinta itu dan apa saja yang lain tidak lagi berarti bagi mereka.

 BAB IV
 MERUMUSKAN PRINSIP

Pada awal bulan Mei tahun 1212 – dua tahun setelah gaya hidup Fransiskus serta teman-temannya disyahkan oleh Paus Innocentius III – Klara dan paling tidak dua temannya (Agnes dan Pacifica), barangkali tiga, menetap di komplek St. Damiano di luar kota Asisi. Dan Klara akan tinggal di situ sampai akhir hidupnya pada tahun 1253.

Belum ada suatu pedoman hidup, apa pula pengesahan resmi dari pihak Gereja, meskipun ada dukungan dari pihak Uskup setempat. Namun demikian bagi Klara arah dasar hidup mereka cukup jelas dan.mantap. Dengan caranya sendiri ia ingin mewujudkan gaya hidup Fransikus tanpa begitu saja menjiplak Fransiskus serta teman-temannya. Sejak awal Klara mau hidup secara terkurung di luar masyarakat ramai dan sekaligus cukup dekat juga. Sudah pasti ia tidak berpikir akan kemungkinan untuk hidup secara aktip, seperti Fransiskus dan teman-temannya, berarti: dalam kemiskinan mutlak mengikuti jejak Kristus sambil berkeliling mewartakan Injil pertobatan. Di masa itu memang ada kelompok-kelompok wanita yang menempuh jalan hidup semacam itu, sesuai dengan kemungkinan yang nyata bagi wanita dalam masyarakat di zaman itu. Tetapi Klara dan Fransiskus tidak pernah berfikir ke arah itu, tidak ada satu pun tanda bukti pernah ada pikiran itu. Di lain pihak Klara juga tidak mau mencontoh “hidup membiara” para rubiah, seperti dikenalnya dahulu dan beberapa minggu lamanya dialaminya di St. Paolo dan St. Angelo. Tentu saja ada berita bahwa Klara pernah mengucapkan hasrat menjadi “martir” dengan pergi kepada orang tak beriman guna mentobatkan mereka. Tetapi ini hanya “pium desiderium”, hasrat yang saleh belaka. Hidup sebagai rubiah tradisional tidaklah mungkin, sebab Klara secara dasariah menolak prasyarat cara hidup itu, yakni harus milik tetap yang menjamin kehidupan. Kemiskinan real untuk mengikuti Kristus yang miskin menjadi dasar dan janminan seluruh cita-cita Klara (dan Fransiskus). Nafkah mesti dicari dengan cara lain, entah dengan bekerja, entah dengan menerima derma dan bantuan dari orang yang baik hati.

 Maka Klara sendiri, dengan bantuan Fransiskus, mesti mencari bentuk perwujudan konkrit dalam cara hidup yang serasi dengan cita-cita dasarinya. Tidak tersedia contoh atau model baginya.

Rupanya agak segera Fransiskus (bersama Klara?) menulis bagi Klara serta teman-temannya suatu “Pola Dasar Hidup”. Sebagiannya dikutip Klara dalam Anggaran Dasar yang dikarangnya menjelang akhir hidupnya. Pola Dasar hidup itu agak serupa dengan Pola Dasar Hidup yang ditulis Fransiskus bagi teman-temannya dan yang oleh Pans Innocentius III secara lisan disyahkan pada tahun 1209/1210. Pola dasar bagi Klara agaknya juga terdiri terutama atas sejumlah kutipan Injil. Ternyata Pola Dasar Hidup itu oleh Klara sampai akhir hidupnya dipegang, sehingga Anggaran Dasarnya sendiri dianggapnya sebagai perkembangan dari Pola Dasar Hidup itu berdasarkan pengalaman selama empat puluh tahun dengan ditambah beberapa aturan yang diambil dari hukum Gereja.

Menurut kutipan yang tercantum dalam Anggaran Dasar Klara, maka dalam Pola Dasar Hidup tersebut ada dua pokok utama, yakni: hidup menurut kesempurnaan Injil dan ikatan erat dengan Fransiskus serta Ordonya. Dan unsur pokok dalam “kesempurnaan Injil” tersebut ialah “kemiskinan suci”, seperti diartikan oleh Fransiskus dan Klara, yakni kemiskinan total untuk mengikuti jejak-jejak Tuhan Yesus Kristus. Kemiskinan sosio-ekonomis hanya satu segi pada kemiskinan tersebut dan sekaligus jaminan bagi kemiskinan menyeluruh. Ikatan dengan kelompok Fransiskus secara formal dan sejak awal.diwujudkan melalui janji ketaatan dari pihak Klara kepada Fransiskus, seperti ditegaskan Klara dalam Anggaran Dasar dan wasiatnya.

Tetapi dalam kerangka umum tersebut Klara mesti mencari jalannya sendiri. Ada sebuah kesaksian dari tahun 1216 yang diberikan seorang Uskup Perancis, Yakobus dari Vitry yang berkelana di Italia dan lain-lain daerah. Mengenai daerah Italia tengah (Umbria, Toskane) Yakobus dari Vitry bercerita sebagai berikut: “Di daerah-daerah itu saya menemukan banyak pria dan wanita dari kalangan orang kaya dan tanpa pangkat gerejani (awam) yang telah meninggalkan segala sesuatu demi untuk Kristus. Mereka disebut “Saudara-saudara dina” dan “saudari-saudari dina”. Wanita dari gerakan itu, tinggal bersama-sama dalam “hospitia” (penginapan, tempat penampungan) di dekat kota-kota. Mereka tidak mau menerima apa saja sebagai miliknya, tetapi menjamin penghidupannya dengan hasil kerja tangan. Tidak dapat diragukan bahwa Uskup itu berkata tentang kelompok-kelompok wanita yang mirip dengan kelompok Klara di St. Damiano. Oleh Uskup Yakobus mereka tidak dianggap “rubiah” sebagaimana ia kenal. Sebab tempat kediaman mereka bukan “monasterium” melainkan “hospitium”. Kata itu kadang kala berarti tempat merawat orang sakit dan orang miskin, tetapi juga berarti: tempat tinggal kurang mantap dan awet. Yakobus dari Vitry melihat juga bahwa “saudari-saudari dina” itu bekerja untuk mendapat nafkahnya, tetapi tidak dikatakan pekerjaan yang mana dan di mana. Sebaliknya para rubiah menjamin penghidupannya dengan harta milik, seperti tanah, kebun anggur, kebun zaitun dan sebagainya, yang dikerjakan orang lain. Pokoknya informasi yang diberikan Yakobus dari Vitry agak kabur. Karena itu tidak dapat dipakai untuk mendukung pendapat bahwa Klara dan teman-temannya mula-mula merawat orang sakit (kusta), seperti memang dibuat Fransiskus dan kawan-kawannya. Nama “saudari-saudari dina” juga tidak dikenal dari sumber-sumber lain. Mungkin nama itu diberikan rakyat kepada kelompok-kelompok wanita yang mirip dengan “Saudara-saudara Dina”. Tetapi bagaimanapun juga, empat tahun setelah Klara menetap di St. Damiano ada beberapa kelompok serupa yang mempunyai cirinya sendiri berbeda dengan yang tradisional.

Mereka cukup laku pada rakyat. Sebab Yakobus dari Vitry masih menambahkan bahwa “saudari-saudari dina” itu tidak senang dengan sikap rohaniwan dan awam yang menghormati mereka lebih dari pada mereka inginkan. Menurut penilaian Yakobus sendiri, gaya hidup mereka memang suatu cara baru untuk mengikuti Yesus Kristus.

Meskipun Yakobus dari Vitry tidak secara langsung berbicara tentang kelompok Klara di St. Damiano, namun cara hidup mereka lebih kurang sama dengan yang diamati Yakobus pada “saudari-saudari dina” itu. Di St. Damiano mereka bertiga (Klara, Pacifica, Agnes) memulai hidup seperti itu. Tetapi pada tahun 1212 itu juga ada dua wanita lain yang bergabung, yakni Benvenuta dan Filipa, dua puteri bangsawan Asisi. Mereka hidup bersama tanpa banyak perlindungan, berdoa dan bekerja, seluruhnya diserap oleh cita-citanya yang mempribadi bagi mereka dalam Yesus Kristus yang memikat hati mereka. Mengingat awal itu Klara dalam Anggaran Dasarnya menulis tentang “kemiskinan, kesusahan, kedinaan dan kehinaan di mata dunia ramai, sedangkan mereka sendiri menilai semuanya itu sebagai kesukaan”.

Masih tetap mesti dicari bentuk lebih terperinci lagi bagi “Pola Dasar Hidup” yang disusun Fransiskus. Tidak dapat diragukan, bahwa Klara mendapat cukup banyak nasehat dan pertimbangan Fransiskus serta teman-temannya. Mereka sendiri juga masih mencari bentuk lebih terperinci bagi gaya hidupnya. Klara dalam Anggaran Dasar dan wasiatnya memberikan kesaksian bahwa Fransiskus selalu memprihatinkan Saudari miskin di St. Damiano. Dalam wasiatnya Klara menulis: “Fransiskus tidak merasa puas hanya dengan banyak wejangan dan teladan mengajak kami, tetapi Fransiskus juga memberi kami beberapa tulisan”. Jadi rupanya ada juga surat-menyurat antara Fransiskus dan Klara. Tetapi dari “tulisan-tulisan” itu hanya tersimpan Pola Dasar Hidup (sebagian), wasiat Fransiskus untuk Klara dan sebuah sajak. Hanya jelas bahwa pokok utama pembicaraan Klara dengan Fransiskus ialah: bagaimana mencintai dan melaksanakan kemiskinan suci, seperti yang ditegaskan Klara dalam wasiatnya. Klara tentu saja tidak dapat dan tidak mau menjiplak cara hidup Fransiskus serta kawan-kawannya. Saudara-saudara Dina berkelana kemana-mana, memberitakan Injil pertobatan sambil menangani bermacam-macam pekerjaan untuk mencari nafkah. Sebaliknya Klara nyatanya tinggal dan mau tinggal di komplek kecil St. Damiano. Tidak ada satu pun tanda bukti bahwa Klara pernah/ingin mengikuti saudara-saudara dina di perjalanannya. Memang di masa itu ada kelompok-kelompok wanita yang bersama dengan kelompok¬kelompok pria berkeliling dan begitu menghayati hidup rasuli. Kelompok-kelompok itu tentu saja dicurigai oleh pimpinan Geereja. Sebaliknya cukup pasti bahwa Klara sejak awal menghendaki hidup kontemplatip, tanpa menjadi rubiah seperti sudah ada. Karena itu, Klara, kendati pertolongan (bukan paksaan) Fransiskus (serta teman-temannya), mesti mencari jalannya sendiri guna memberi bentuk terperinci kepada gaya hidup yang secara dasariah saja sama dengan gaya hidup saudara-saudara dina.

Semua itu berarti bahwa mula-mula hidup di St. Damiano sangat eksperimental. Di bawah inspirasi dasariah yang mantap kelompok Klara mencari-cari saja dengan kebebasan penuh. Gaya hidup kelompok itu yang masih perlu ditentukan secara terperinci oleh Klara dan Fransiskus nampaknya dirasakan sebagai belahan kedua, pelengkap setingkat, bagi gaya hidup saudara-saudara di sana. Mereka mesti saling melengkapi, agar karisma mereka menjadi utuh terwujud. Ada berita bahwa Fransiskus pernah bimbang kalau-kalau mesti menghayati Injil seperti dipahami secara kontemplatip – sesuai dengan kecendrungan pribadi Fransiskus – atau secara aktip. Atas nasehat Klara (dan Silvester) Fransiskus memilih cara aktip. Adalah mungkin bahwa pada kesempatan itu Klara menegaskan dan berjanji, bahwa ia sendiri beserta teman-temannya akan memilih cara kontemplatip. Begitulah karisma Fransiskus dan Klara bersama mendapat penghayatan konkrit, utuh dan lengkap.

Begitulah pada tahun 1215 prinsip-prinsip dasar gaya hidup kelompok Klara sudah dirumuskan. Inspirasi dasariah tercantum dalam Pola Dasar Hidup, sedangkan kerangka lahiriah ditentukan sebagai gaya hidup kontemplatip. Kerangka itu memang diambil dari tradisi kerahiban dan bukan ciptaan Klara atau Fransiskus. Tetapi kerangka lahiriah yang sama itu diisi dan dijiwai oleh semangat Injili yang baru. Ditinjau dari segi itu gaya hidup Klara merupakan suatu pembaharuan tradisi kerahiban dan penyegarannya.

 BAB V
 MENCARI TEMPAT DALAM GEREJA KATOLIK

Pada tahun 1215 kelompok di St. Damiano belum mendapat kedudukan resmi dalam Gereja Katolik. Pengesahan gaya hidup Fransiskus serta teman-temannya oleh Paus Innocentius III pada tahun 1209/1210 tidak begitu saja berlaku bagi kelompok kecil di St. Damiano. Pola Dasar Hidup mereka memang mirip dengan Pola Dasar Hidup kelompok Fransiskus yang disyahkan oleh takhta apostolik. Tetapi pengesahan lisan itu tidak begitu saja dapat dipindahkan. Dukungan dari pihak Uskup Guido memang sangat berharga, tetapi belum juga boleh dianggap sebagai pengesahan resmi, yang diturunkan oleh takhta apostolik. Meskipun Fransiskus dan Klara sejak awal mau sungguh-sungguh Katolik dan di bawah pimpinan Gereja, namun tidak ada satu pun tanda bukti bahwa mereka pernah meminta pengesahan resmi atas Pola Dasar Hidup bagi Klara. Rupanya Klara dan Fransiskus tidak merasa bahwa halnya mendesak. Klara kan sudah langsung di bawah kekuasaan Gereja, oleh karena dianggap semacam “rubiah”. Tetapi pokoknya kedudukan kelompok St. Damiano di dalam tata hukum Gereja tidak jelas sama sekali.

Tetapi pada tahun 1215 terjadi sesuatu yang mempercepat perkembangan. Peristiwa itu ialah diadakannya Konsili Lataran IV, yang sejak 1213 disiapkan oleh Paus Innocentius III. Konsili Lataran IV adalah di antara yang paling panting pada abad pertengahan. Konsili itu dikumpulkan Innocentius III dengan dua maksud utama yaitu: Mengorganisasikan suatu “perang salib” baru melawan orang Turki (Islam) yang baru saja berhasil merebut Tanah Suci. Kedua – dalam pandangan Innocentius III – barangkali maksud utama ialah: mengatur kehidupan Gereja sendiri, mengadakan pembaharuan Gereja yang dilanda pelbagai bidaat dan gejolak rohani-sosial. Konsili Lataran IV sebuah Konsili besar-besaran dan praktis seluruh umat Kristen ikut serta di dalamnya. Hanya Gereja Timur hampir saja tidak hadir. Kecuali uskup-uskup ikut serta juga beberapa ordo religius yang besar, banyak raja dan pejabat-pejabat sipil lainnya. Konsili mengeluarkan “constitutiones” (penentuan), sebanyak 17 Konstitutiones itu mengenai macam-macam pokok dan masalah, terutama masalah praktis.

Ada satu “constitutio” yang langsung menyangkut kelompok Klara. “Constitutio 13” melarang mendirikan ordo religius baru, sebab jumlahnya yang terlalu besar hanya mengacaukan kehidupan Gereja. Kelompok-kelompok religius yang sudah ada tetapi belum mempunyai Anggaran Dasar yang disyahkan, mesti mengadopsi salah satu Anggaran Dasar yang disyahkan lebih dahulu. Penentuan itu misalnya menyebabkan bahwa Dominikus terpaksa mengambil Anggaran Dasar Agustinus sebagai pegangan ordonya. Juga kelompok Klara menjadi terjepit. Mereka tidak mempunyai Anggaran Dasar yang disyahkan. Anggaran Dasar Fransiskus tidak dapat diambil alih oleh karena hanya disyahkan secara lisan dan belum secara definitip. Kalau Klara dengan gaya hidup kontemplatipnya mesti mengadopsi salah satu Anggaran Dasar yang sudah ada, maka hampir pasti mesti menerima Anggaran Dasar Benediktus yang paling laku di zaman itu dan itu pun menurut versi para Sistersien, yang besar sekali pengaruhnya baik dalam konsili Lataran IV maupun Pada pimpinan Gereja Roma.

Fransiskus sendiri barangkali hadir dalam Konsili Lataran IV dan paling sedikit tahu tentang penetapan tersebut. Ia sendiri masih terluput tetapi bagaimana Klara? Sudah pasti Fransiskus dan Klara yang mau “katolik” seluruhnya, tidak berpikir untuk mendurhaka dan menolak keputusan konsili, seperti beberapa kelompok lain. Di lain pihak mengadopsi Anggaran Dasar Benediktus berarti: menjadi Benediktines, hal mana tidak diinginkan Klara. Sebab kemiskinan tertinggi yang dianggapnya dasariah tidak mungkin dipertahankan dalam rangka Anggaran Dasar Benediktus. Maka masalahnya sebagai berikut: Bagaimana dalam rangka Gereja dan tata hukumnya mempertahankan cita-cita dan gaya hidup Klara?

Ada berita bahwa “tiga tahun setelah bertobat”, Klara atas desakan Fransiskus menerima gelar “abdis” yang sebelumnya selalu ditolak. Klara tahu apa isi gelar itu dan sendiri menyaksikannya di biara St. Pulo dan St. Angelo. Abdis memang semacam “ratu” kecil dengan segala embel-embelnya. Ini tidak sesuai sama sekali dengan pandangan Klara tentang peranan “pemimpin” dalam kelompok seperti yang ia cita-citakan. Pemimpin mesti menjadi “pelayan”. Mengapa Fransiskus terus mendesak sehingga Klara akhirnya mengalah? Latar belakang agaknya justru keputusan Konsili Lataran IV tersebut. Oleh karena tidak disyahkan, maka dari kelompok Klara tidak dapat dipilih seorang “abdis”, kalau nanti mereka mesti menerima Anggaran Dasar Benediktus. Itu berarti bahwa nanti seseorang lain dari luar – dan hampir pasti dari para Sistersien – akan diangkat menjadi pemimpin di St. Damiano. Dan pemimpin semacam itu dari tradisi Benediktin atas dasar Anggaran Dasar Benediktus hampir pasti akan membimbing kelompok di St. Damiano di jalan Benediktus dan bukan di jalan Fransiskus (dan Klara). Tetapi kalau Klara sudah menjadi abdis juga, langsung dapat diangkat oleh Paus atau kuasa Paus. Karena itu Klara menjadi “abdis” guna menyelamatkan cita-citanya.

Tetapi masih tetap tinggal masalah: bagaimana mengamankan gaya hidup yang khas, kalau nanti terpaksa Anggaran Dasar Benediktus diterima? Mesti mencari akal untuk secara hukum dalam rangka Gereja Katolik mengamankan prasyarat dasariah bagi cita-cita dan gaya hidup Klara serta teman-temannya. Dalam tata hukum Gereja Katolik, khususnya selama abad pertengahan, tersedialah suatu sarana ampuh untuk menempuh suatu jalan di luar tata hukum biasa dan umum tanpa melanggar tata hukum tersebut. Sarana itu disebut sebagai “privilegium”, ialah: hak istimewa dan khusus yang tidak tercantum dalam hukum Gereja yang umum. Kerap kali “hak istimewa” itu berarti pula bahwa bagi mereka yang mendapat “previlegium” itu hukum umum dibekukan. Sarana previlegium itu banyak dipakai pimpinan Gereja, terutama pimpinan pusat (Roma) untuk menguntungkan orang atau lembaga tertentu dan mengeluarkan orang/lembaga itu dari kerangka hukum umum. Rupanya Klara dan Fransiskus tidak hanya tahu akan akal itu, tetapi juga tahu bagaimana memanfaatkannya, meskipun Fransiskus sebenarnya tidak begitu gemar akan macam-macam “privilegium”, seperti ia tegaskan dalam wasiatnya: “Kuperintahkan dengan keras demi ketaatan… supaya mereka … jangan berani memohon sepucuk surat di kuria Roma …”

Tetapi pada tahun 1215 Klara dan Fransiskus melihat dalam sarana “privilegium” itu suatu jalan untuk mengamankan cita-cita Klara dan sebelumnya sudah membendung akibat keputusan Konsili Lataran IV. Baru saja Konsili itu selesai, maka Klara mengajukan kepada Paus Innocentius III (meninggal 16 Juli 1216) suatu permohonan yang memang sungguh luar biasa. Klara akan meminta “privilegium” (hak istimewa), bahwa ia serta teman-temannya di St. Damiano berhak untuk tidak memiliki harta milik (tetap) dan tidak seorang pun boleh atau berwenang memaksakan harta milik semacam itu. Paus memang sudah biasa dibanjiri macam-macam permohonan guna mendapat “previlegium”. Tetapi menurut kesaksian Inosentius sendiri, permohonan seperti yang diajukan Klara belum pernah sampai di tangannya. Innocentius III bersedia mengabulkan permohonan Klara yang mengesankan di hati beliau. Dengan tangan sendiri Paus menulis konsep hak yang sungguh-sungguh “istimewa”. Konsep itu kemudian oleh pegawai-pegawai Paus dituliskan pada perkaman, dibubuhi tanda tangan, cap dan meterai Paus sendiri. Tidak mustahil bahwa Paus sendiri dengan jalan itu mau mengesampingkan bagi kelompok Klara keputusan Konsili Lataran IV. Sebab melalui “hak istimewa” itu Klara serta teman-temannya yang tidak mempunyai Anggaran Dasar yang syah, toh diakui sebagai suatu lembaga tersendiri di dalam tata hukum Gereja. Adanya kelompok Klara serta gaya hidupnya dilegalisasikan dan terlindung terhadap segala tekanan dari luar, termasuk tekanan dari pihak para penguasa Gereja. Menurut kesaksiannya sendiri dan kesaksian lain-lain orang (dalam proses peresmian Klara sebagai orang kudus), Klara amat senang dengan “privilegium paupertatis” itu dan menjunjungnya tinggi sekali. Masih beberapa kali ia akan memohon, supaya privilegium paupertatis itu diteguhkan kembali oleh pengganti-pengganti Innocentius III, antara lain Gregorius IX, bekas Kardinal pelindung, Hugolinus. Berkat “privilegium” itu kedudukan Klara agak aman. Kalau nanti Klara mesti menerima Anggaran Dasar Benediktus maka akibat yang paling buruk – dalam penilaian Klara – sudah tercegah, yaitu harta milik tetap. “Privilegium paupertatis” itu dapat dianggap sebagai semacam “konstitusi” yang mengadaptasikan Anggaran Dasar Benediktus pada apa yang diinginkan. Seperti Dominikus yang sebagai akibat keputusan Konsili Lataran IV menerima Anggaran Dasar Augustinus menyesuaikannya dengan cita-citanya sendiri melalui konstitusi-konsitusi khusus.

“Previlegium paupertatis” seperti yang diberikan Paus Innocentius III pada tahun 1215/1216 adalah sebagai berikut:
Uskup Innocentius, hamba sekalian hamba Allah, kepada puteri-puterinya yang terkasih dalam Kristus, yaitu Klara dan perawan-perawan lain pada Gereja St. Damiano di Asisi, yang untuk selamanya mewajibkan diri melaksanakan hidup regular (kebiaraan), baik yang sekarang sudah ada maupun yang akan menyusul:

  1. Sudah terbukti bahwa kalian – karena ingin membaktikan diri kepada Tuhan semata-mata – telah membuang segala keinginan akan harta-benda duniawi. Karena itu pun kalian telah menjual segala sesuatu dan memberikannnya kepada orang miskin (Mat 19:21). Kalian telah memutuskan untuk tidak memiliki apa-apa, agar dalam segala hal mengikuti jejak Dia yang telah menjadi miskin demi untuk kita, Dia yang menjadi jalan, kebenaran dan kehidupan (Yoh 14:6)
  2. Malah kalian tidak dapat diselewengkan dari niat kalian itu oleh kekurangan akan apa yang perlu. Sebab Mempelai Surgawi menggalang kepala kalian dengan tangan kiri-Nya, (Kid 2:6) guna menopang kalian dalam kerapuhan badan kalian, yang kalian taklukkan kepada hukum roh kalian dalam kasih yang teratur dengan tepat.
  3. Sebab akhirnya Dia yang memberi makan kepada burung di udara dan pakaian kepada bunga bakung di padang (Mat 6:26-28) pasti menolong kalian dengan makanan dan pakaian. Sampai – dalam hidup abadi – Ia sendiri akan datang kepada kalian untuk memberikan Dirinya kepada kalian (Luk 12:37), yaitu pada saat Ia sambil memeluk kalian dengan tangan kanan-Nya (Kid 2:6) lebih lagi akan membahagiakan kalian dengan pandangan-Nya yang utuh lengkap.
  4. Maka sesuai dengan permohonan kalian, kami dengan anugerah apostolik memperteguh niat kalian untuk hidup dalam kemiskinan tertinggi. Dengan surat kuasa ini kami memberi kalian hak istimewa, bahwa kalian tidak dapat dipaksa oleh siapa pun untuk menerima harta milik. Seandainya salah seorang dari wanita tersebut tidak mau atau tidak sanggup menyesuaikan diri, maka ia tidak boleh tinggal bersama dengan kalian. Ia mesti dipindahkan ke lain tempat (biara ordo lain).
  5. Maka kami menetapkan bahwa sekali-kali tidak seorang pun boleh mengganggu kalian atau dengan jalan apa pun mempersulit kalian. Kalau selanjutnya salah seorang tokoh gerejani atau sipil memberanikan diri dengan sadar dan bebas melawan apa yang kami tetapkan dan teguhkan melalui surat ini, maka tokoh itu, setelah ia insaf dan tiga kali dinasehati, dipecat dari jabatannya dan martabatnya, kecuali bila ia sudah meluluskan kesalahannnya dengan denda yang setimpal. Hendaklah diketahui bahwa bersalah di hadapan pengadilan Allah karena tindakan kekerasan itu. Ia harus dicegah dari Tubuh dan Darah Allah kita, T ] [ uhan Yesus Kristus, dan dalam penghakiman terakhir ia kiranya ditimpa hukuman balasan yang keras.
  6. Hendaknya damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus beserta dengan kalian semua dan dengan rumah kalian, tempat kasih dalam Kristus kalian amalkan. Dan semoga mereka memetik buah basil amalnya dan mendapat pahala berupa kedamaian kekal dari tangan Hakim tegas. Amin.

Surat kepausan itu tidak hanya bernafaskan cita-cita Klara (mengikuti jejak-jejak Kristus dalam kemiskinan menyeluruh, kasih persaudaraan), tetapi juga memperlihatkan rasa simpatik Sri Paus dengan usaha Klara dan teman-temannya. Nada keras ancaman (ekskomunikasi dari Ekaristi; interdikt) memang biasa dalam surat semacam itu. Tetapi nada itu memperlihatkan bahwa Paus sungguh-sungguh dalam dukungannya. Dengan larangannya bahwa mereka yang tidak menyetujui kemiskinan itu tidak boleh tinggal di St. Damiano Klara diberi alat ampuh untuk menangkis bahaya bahwa kelompoknya kemasukan unsur-unsur yang merosotkan cita-citanya.
Menarik perhatian bahwa pada tahun 1216 Paus menganggap gaya hidup kelompok St. Damiano sebagai “hidup regular” (kebiaraan: menurut “regula”, meskipun tidak ada regula!). Kelompok itu tidak dianggap sekelompok wanita aktip (seperti misalnya Beghin) atau sebagai kelompok “petapa” (eremitae, reclusae). Rupanya Klara dalam permohonannya menggambarkan kelompoknya dengan cara demikian. Akhirnya perlu diperhatikan bahwa “privilegium paupertatis” itu hanya diberikan kepada kelompok di St. Damiano, tidak hanya untuk sekarang, tetapi juga untuk masa depan. Diandaikan kelompok itu terus akan ada. Maka kelompok itu dianggap dan diperlakukan sebagai suatu lembaga tersendiri dan badan hukum yang dapat diberi dan memakai hak-hak (istimewa). Begitu surat itu sebenarnya mengesahkan gaya hidup Klara di dalam rangka Gereja Katolik dan tata hukumnya.

Apa sebenarnya paling penting ialah: Surat kepausan itu menyatakan bahwa gaya hidup Klara yang dapat dipadatkan dalam “kemiskinan mutlak dan tertinggi” sungguh-sungguh injili. Gaya hidup itu merupakan penghayatan dan pelaksana Injil sejati, sehingga pantas diusahakan orang beriman. Tidak lama setelah Klara meninggal sejumlah theolog di kota Paris akan menyatakan bahwa “kemiskinan tertinggi” itu sebenarnya berlawanan dengan Injil, suatu “bidaat”. Sebelumnya Innocentius III sudah menangkis serangan dasariah itu atas gaya hidup yang dilahirkan Fransiskus dan Klara di Asisi. Mereka sesungguhnya menemukan dan mewujudkan suatu nilai dasariah dari Injil Yesus Kristus.

Dengan demikian maka sejak tahun 1216 Klara dengan gelar “abdis” dan terlindung oleh “privilegium paupertatis” secara terbuka diakui kedudukannya. Meskipun tidak ada Anggaran Dasar namun Klara dapat mengembangkan cara hidupnya. Berapa jumlah teman Klara pada tahun 1216 tidak diketahui dengan pasti. Tetapi surat Paus Innocentius III dengan “privilegium paupertatis” mengandaikan sudah ada beberapa. Sebab surat itu dialamatkan kepada “Klara dan perawan-perawan lain” dan diandaikan bahwa lain-lain orang masih akan menyusul. Hanya diketahui dengan pasti bahwa pada tahun 1213 jumlah penghuni St. Damiano sebanyak lima atau enam orang: Klara, Agnes, Pacifica, Balbina, Benvenuta dari Perugia dan Filipa. Pasti juga bahwa pada tahun 1216 jumlahnya lebih banyak.

Klara mempunyai gelar “Abdis”, tetapi ternyata sejak awal tidak berlaku sebagai abdis tradisional, baik pada Benediktines maupun pada Sistersien. Pandangannya tentang peranan “abdis” oleh Klara diambil alih dari Fransiskus. Peranan itu tidak dilihat sebagai “jabatan” dan “kedudukan” (menurut tata hukum), melainkan sebagai palayanan belaka (menurut Injil). Kalau “Abdis” berlaku sebagai “pimpinan”, namun pimpinan itu terlebih pimpinan rohani, karismatik, bukan pejabat yang memegang kekuasaan. “Abdis” lebih suatu “peran” dari pada suatu “jabatan” dalam pandangan Klara. Abdis berwenang bukan atas dasar hukum dan jabatan, melainkan atas dasar kewibawaan rohani dan pribadi. Gambaran “abdis” yang disajikan Klara dalam Anggaran Dasarnya (th.1253; bab. IV, X) sudah selama 40 tahun diperlihatkan oleh Klara sendiri. Ada cukup banyak kesaksian dari pihak mereka yang lama hidup bersama dengan Klara, tentang bagaimana gaya Klara selaku “abdis”. Ia tidak pernah mau duduk di tengah pada meja utama dalam ruang makan; tidur bersama dengan suster lain di bangsal tidur; ia bangun sebagai yang pertama, menarik lonceng dan mempersiapkan gereja; selalu dan dimana-mana melayani saudari-saudari, merawat yang sakit, mencuci pakaian dan menyapu lantai. Dari “Abdis-ratu” Klara menjadi “Abdis-pelayan”. Klara biasa berkonsultasi dengan semua saudari, juga waktu penghuni St. Damiano berjumlah 50 orang.

 BAB VI
 MENJADI PEREBUTAN

Bulan Juli 1216 Innocentius III meninggal dan digantikan Honorius III (1216-1227). Honorius sudah lanjut usia dan sakit-sakitan. Ia pertama-tama bertugas melaksanakan ketetapan-ketetapan Konsili Lataran IV. Dalam rangka itu pun mesti ditempatkan tindakan Honorius yang dengannya ia mensyahkan Anggaran Dasar Saudara-saudara Dina pada tahun 1223. Anggaran Dasar itu diredaksikan oleh Fransiskus dengan pertolongan Kardinal Hugolinus. Berkat pengaruh Hugolinus itu kiranya Anggaran Dasar itu dianggap sebagai lanjutan Pola Dasar Hidup yang pada tahun 1209/1210 disahkan oleh Innocentius III (secara lisan). Karena itu Saudara-saudara Dina dapat melayani tuntutan Konsili Lataran IV mengenai Anggaran Dasar yang sudah disahkan sebelumnya. Tetapi Klara dengan kelompoknya tidak memenuhi syarat. Tidak ada Anggaran Dasar yang disahkan, sehingga kedudukan kelompok itu dalam tata hukum Gereja belum seluruhnya tegas dan jelas. Perlu diingat kembali, bahwa di masa itu ada berbagai kelompok, pria dan wanita yang mirip dengan kelompok Klara. Konsili Lataran IV justru bermaksud menertibkan dan menjernikan dituasi yang serba kacau. Maka juga ketetapan mengenai kelompok-kelompok macam itu mesti diterapkan sesudah tahun 1215.

Maka Paus Honorius III pada tahun 1217 menugaskan Hugolinus di Segni, Kardinal-Uskup Ostia dan Velletri, seorang keponakan Paus sendiri, untuk melaksanakan ketetapan Konsili Lataran. Hugolinus itu seorang yang bersungguh-sungguh, bekas abas biara Kamaldulens – petapa-petapa yang gaya hidupnya keras sekali St. Silvester di gunung Subasio. Secara khusus Hugolinus ditugaskan untuk menertibkan semua kelompok wanita yang lebih kurang religius, yang terdapat di daerah Umbria (Asisi termasuk) dan Toskane. Hugolinus sudah berkenalan dan berurusan dengan Fransiskus dan sejak 1217 bertindak sebagai pelindung kelompok Fransiskus. Sudah pasti bahwa Hugolinus paling sedikit mendengar tentang Klara dan “Privilegium paupertatis”. Kemudian antara Klara dan Hugolinus terjalinlah persahabatan yang cukup akrab. Ada surat menyurat ramai antara Klara dengan Hugolinus yang kemudian menjadi Paus Gregorius IX. Sayang surat-surat Klara hilang tetapi ada dua surat Hugolinus/Gregorius IX masih tersimpan. Memang pikiran dan rencana Hugolinus tidak selalu sejalan dengan pikiran dan rencana Klara. Tetapi perbedaan pendapat itu tidak pernah mengendorkan atau memutuskan hubungan dan penghargaan timbal-balik. Hugolinus berwatak luhur dan bersemangat tinggi. Pada dasarnya ia selalu mendukung Fransiskus dan Klara. Tetapi sebagai pejabat dan pemimpin Gereja, ia sekaligus ingin memanfaatkan gerakan Fransiskus-Klara itu sebagai saran politik gerejani.

Hugolinus mempunyai beberapa pembantu yang berfungsi sebagai pelaksana untuk dan atas nama kekuasaan Paus menangani penertiban kelompok-kelompok wanita di Umbria dan Toskane. Seorang pembantunya, yaitu seorang rahib sistersien, bernama Ambrosias. Ia ditugaskan sebagai “visitator” bagi kelompok Klara dan kelompok-kelompok lain yang serupa. Tetapi pada tahun 1218 atau 1219 Hugolinus sendiri mengunjungi St. Damiano. Kelompok itu amat mengesankan di hatinya dan mempertebal simpatinya. Ia tidak mau terlalu memaksakan dirinya serta rencananya kepada kelompok itu. Itu terbukti oleh surat yang ditulis Hugolinus seusai kunjungannya. Ia menyebut Klara sebagai “ibu keselamatannya”.

Namun sebagai petugas Paus dan dengan pikiran serta rencananya sendiri, Hugolinus tetap mesti menertibkan gerakan wanita di Umbria dan Toskane. Dapat dipahami bahwa Hugolinus, bekas abas Kamaldulens, melihat Benediktus dalam versi Sistersien sebagai suatu model yang dapat dimanfaatkan. Maka pada tahun 1218/1219 Hugolinus menulis sebuah Anggaran Dasar, yang olehnya disebut sebagai Anggaran Dasar Benediktus. Tetapi Anggaran Dasar Benediktus hanya merupakan dasar dan latar belakang saja. Hugolinus menambah sejumlah aturan dan penetapan atau “konstitusi-konatitusi” yang merincikan dan lebih lanjut mengatur kehidupan yang berdasarkan Anggaran Dasar Benediktus. Konstitusi-konstitusi itu sebenarnya konstitusi yang disusun oleh Petrus Damianus dan diikuti oleh para rahib-petapa Kamaldulens di Fonte Avalana dan konstitusi biara Benediktenes St. Paolo di gunung Subasio. Jadi Hugolinus hanya menggabungkan beberapa unsur yang sudah berlaku dan disahkan. Melihat asal-usul konstitusi-konstitusi Hugolinus, dapat dipahami bahwa cukup keras dan ketat.

“Anggaran Dasar” atau “konstitusi-konstitusi” Hugolinus itu ditujukan kepada “Ordo Wanita-Wanita Miskin di daerah Spoleto dan Tookane”. Istilah “ordo” itu jangan diartikan sebagai suatu “organisagi” dengan pimpinan pusat yang ketat, keseragaman dan ketergantungan kesatuan-kesatuan satu sama lain. “Ordo” hanya berarti: suatu gaya hidup religius yang mempunyai kerangka hukum bersama. Maksud dengan Anggaran Dasarnya itu hanyalah secara hukum mengatur sedikit kelompok-kelompok wanita di daerah itu dan memberinya dasar dan landasan hukum. Oleh karena Hugolinus sepenuhnya percaya pada Fransiskus dan Klara, maka ia mengharapkan dan menginginkan bahwa St. Damiano berperan sebagai semacam sumber inspirasi dan pusat rohani bagi kelompok-kelompok “wanital miskin” lain.

Jadi maksud utama “Anggaran Dasar” atau “konstitusi-konstitusi” Hugolinus tersebut ialah memberi suatu kerangka hukum kepada kelompok-kelompok wanita itu, sesuai dengan tuntutan Konsili Lataran IV. Melalui “Anggaran Dasar Benediktus” itu semua seolah-olah dilegalisasikan. Dalam kerangka hukum bersama itu, semua kelompok-kelompok itu boleh saja meneruskan gaya hidupnya sendiri dan kerangka hukum umum itu tidak perlu dilaksanakan seadanya. Mungkin dengan mengingat akan kelompok Klara dengan “privilegiumi paupertatis”, maka Anggaran Dasar Hugolinus itu tidak berkata spa-apa mengenai kemiskinan dan harta milik. Masing-masing kelompok juga St. Damiano boleh saja meneruskan jalannya sendiri di bidang ini. Hugolinus sendiri pernah menegaskan bahwa Anggaran Dasarnya tidak perlu dilaksanakan. Jelaslah sebagai seorang ahli hukum, Hugolinus hanya mau menolong kelompok-kelompok wanita, termasuk St. Damiano, untuk mendapat tempatnya dalam tata hukum Gereja, sehingga juga dapat diawasi seperlunya.

Dan itulah sebabnya mengapa Klara tanpa banyak keberatan menerima Anggaran Dasar Hugolinus bagi St. Damiano juga. Tentu saja itu bukan situasi ideal, tetapi mengingat penetapan Konsili Lataran IV, jalan itulah yang sekarang terbuka. Sebab untungnya ialah: kedudukan kelompok Klara dalam tata hukum menjadi jernih dan aman. Tidak ada terlalu banyak kerugian dan bahaya. Klara dapat saja meneruskan dan mengembangkan cara hidup kelompoknya dengan berpedoman “Pola Dasar Hidup” karangan Fransiskus dan “privilegium paupertatis”. Anggaran Dasar Hugolinus tidak menjadi tekanan. Malah Hugolinus secara khusus menjamin kebebasan St. Damiano. Kelompok-kelompok wanita miskin lain tetap di bawah pengawasan Uskup setempat. Tetapi St. Damiano pada tahun 1219 dijadikan “eksempt”, berarti: tidak lagi di bawah pengawasan pejabat-pejabat setempat, melainkan langsung di bawah kuasa Paus sendiri, konkritnya Hugolinus sebagai kuasa Paus.

Pada tahun 1219 itu pun suatu ciri gaya hidup kelompok Klara yang lain dipertegas. Secara resmi St. Damiano menerima pingitan. Praktek itu sebelumnya sudah ada, tetapi secara hukum dipertegas. “Clausura” itu tercantum dalam Anggaran Dasar/konstitusi Hugolinus. Aturan-aturannya ketat sekali dan oleh Hugolinus diambil alih dari konstitusi-konstitusi Petrus Damianus dan Benediktines. Pingitan itu belum “pingitan kepausan”, seperti kemudian ditetapkan oleh hukum umum. Clausura kepausan pada tahun 1297 barulah dikenakan pada St. Damiano. Pingitan pada tahun 1219 masih “partikulir”, kalau boleh disebut demikian. Tidak boleh dikatakan bahwa “pingitan” itu dipaksakan kepada Klara. Aturan-aturan itu hanya mempertegas apa yang sejak awal dikehendaki dan dipraktekkan di St. Damiano. Sejak semula Klara memilih gaya hidup kontemplatip seperti sudah dikatakan di atas, dan dalam rangka itu ia mau mewujudkan cita-cita Fransiskannya. Ia mau menjadi “hati” dan “jantung” Gereja, penggerak dari dalam dan sumber hidup. Sejak semula Klara menyadari diri sebagai “pembantu Allah” dan “penopang Gereja”. Dengan caranya sendiri ia mau memberikan sumbangannya kepada seluruh umat Allah. Klara tidak dapat atau mau merepotkan diri dengan “keselamatan jiwa sendiri” saja dan tidak ingin menjadi “eremit” atau “reclusa”. Kesadaran gerejani Klara selalu cukup kentara. Tetapi selalu dengan caranya sendiri dan pingitan tidak dirasakan sebagai halangan dan rintangan. Baiklah diingat bahwa Fransiskus juga tahu menghargai “pingitan” bagi gaya hidup kontemplatip, seperti terbukti oleh “Anggaran Dasar” bagi saudara-saudara dalam pertapaan.

Clausura atau pingitan sudah lama dipraktekkan oleh para rahib dan rubiah. Pertama-tama dengan arti: tidak keluar dari komplek biara, clausura pasip. Tetapi aturan pingitan tidak sama di segala tempat dan semua kelompok, sebab belum ada aturan atau hukum umum di bidang ini. Namun dalam riwayat hidup Benediktus umpamanya, sudah diandaikan bahwa ada semacam pingitan. Hanya jelas bahwa aturan kebiaraan itu, yang bukan hukum umum Gereja, kerapkali dilanggar oleh para rahib dan rubiah. Karena itu sejak abad ke empat beberapa konsili (misalnya Konsili Khalkedon th 451) dan sinode lokal merasa perlu menindak rahib dan rubiah yang secara liar berkelana kemana-mana sambil mengganggu umat dan menjadi beban. Akibatnya: aturan-aturan menjadi semakin ketat.

Perlahan-lahan bagi para rubiah berkembanglah pingitan (clausura) aktip. Artinya: rumah mereka tidak boleh dimasuki orang lain, entah laki-laki entah perempuan. Pertimbangan-pertimbangannya bermacam-macam, antara lain guna melindungi para rubiah terhadap gangguan dan tindakan kekerasan dari luar, baik dari pihak awam, khususnya yang berkuasa, maupun dari pihak rohaniwan. Semuanya yang melanggar pingitan rubiah kena hukuman gerejani yang cukup disegani. Pertimbangan praktis agak segera diikuti dengan pertimbangan ideal, semacam “ideologi pingitan”. Pingitan menjadi lambang ikatan eksklusip para rubiah-perawan dengan Kristus, Mempelai surgawi. Dalam lingkup pingitan keadaan firdaus semula dipulihkan; Hortus conclusus (taman tertutup), tempat orang dapat bergaul dengan Allah seperti di firdaus.

Tetapi pingitan aktip dan pasip tersebut juga menjamin bahwa para rubiah dapat mempertahankan otonominya dalam mengatur dan mengurus hidupnya sendiri tanpa campur tangan dan gangguan dari pihak orang yang tidak berwenang. Secara insidental tentu saja jenis kelaminnya mesti dilindungi terhadap serangan dari jenis kelamin lainnya.

Ternyata bahwa selama abad kedua belas dan ketiga belas pingitan aktip dan pasip yang menjadi “adat”, terlalu sering dilanggar dan tidak digubris. Akibatnya pimpinan Gereja mencoba membendung kemerosotan itu dengan mengeluarkan aturan-aturan yang semakin ketat. Tetapi baru pada tahun 1294 Paus Bonifasius VIII mengeluarkan hukum Gereja umum mengenai pingitan. Hukum itu hanya mengumpulkan dan memadukan berbagai aturan, hukum dan adat kebiasaan yang sudah lama dipraktekkan oleh para rahib dan rubiah. Pingitan seperti yang diatur oleh Bonifasius VIII diistilahkan sebagai “pingitan kepausan” dan sekaligus hukum itu menghapus perbedaan praktek pingitan yang sampai saat itu ada. Sebelum Paus Bonifasius, Paus Gregorius IX (bekas Kardinal Hugolinus) dan Paus Inosentius IV sudah mengumpulkan aturan-aturan dan mencantumkannya dalam Anggaran Dasar karangan Hugolinus/Gregorius IX dan Inosentius. Tetapi aturan-aturan itu belum berlaku umum, hanya bagi mereka yang kena Anggaran Dasar tersebut, antara lain St. Damiano. Pokoknya pingitan itu bukan ciptaan paus-paus saja dan tidak begitu saja dipaksakan dari atas. Pingitan itu sebenarnya hasil perkembangan (dan kemerosotan) di kalangan para rahib dan rubiah sendiri.

Dari Anggaran Dasar karangan Klara ternyata bahwa jauh sebelum Bonifasius VIII, Klara sudah mempraktekkan pingitan. Karena pingitan itu misalnya, ada “saudari-saudari yang menangani pelayanan di luar biara-biara”. Dalam Anggaran Dasarnya Klara mengambil alih aturan-aturan yang tercantum dalam Anggaran Dasar Hugolinus/Gregorius IX dan Innocentius IV. Klara jelas mengartikan hukum itu sesuai dengan praktek di St. Damiano. Itu sekali-kali tidak berarti bahwa Klara “memperlunak pingitan”. Orang mesti ingat akan maksud-tujuan hukum Gereja. Hukum itu menetapkan aturannya secara “ekstrim”. Sehingga kalau perlu, ada dasar hukum untuk bertindak. Tetapi pelaksanaan hukum yang ketat selalu diandaikan lebih lunak dari pada apa yang dituliskan. Hukum umum selalu mengizinkan macam-macam pengecualian dan adaptasi pada keadaan nyata, tanpa merubah huruf hukumnya.

Karena itu sekali-kali bukan sesuatu yang “luar biasa” atau “istimewa” kalau dalam riwayat hidup Klara ada berita bahwa kadang-kadang Klara keluar dari biara, misalnya untuk merawat Fransiskus; bahwa Klara di dalam biara (pingitan) dikunjungi orang, entah Saudara Dina entah orang lain, misalnya orang sakit. Hal semacam itu sama sekali tidak dinilai sebagai pelanggaran pingitan. Hanya berarti bahwa Klara dan orang-orang lain dengan tepat memahami maksud hukum dan tahu bagaimana menerapkannya.

Sebaliknya ada beberapa hal yang menyarankan bahwa Klara dalam hal pingitan melampaui batas hukum ke atas. Sebab rupanya bahwa selagi Klara hidup di St. Damiano, pingitan menjadi isi kaul keempat. Itu tidak pernah dibebankan oleh hukum Gereja. Kaul keempat itu terdapat dalam Anggaran Dasar karangan Isabella dari Perancis (disyahkan th 1259). Anggaran Dasar itu disusun dengan bantuan Bonaventura dan antara lain bersumberkan Anggaran Dasar karangan Klara dan praktek di St. Damiano, juga dalam hal pingitan. Anggaran Dasar Isabella itu membuktikan praktek yang sudah ada pada pengikut-pengikut Klara. Begitu pula Anggaran Dasar yang diberikan Paus Urbanus IV (1263), yang sekali lagi ditulis dengan bantuan Bonaventura, memuat kaul keempat. Kaul keempat itu sampai masa itu tidak terdapat pada rubiah lain, sehingga merupakan keistimewaan pengikut-pengikut Klara. Dari mana itu, kalau tidak dari Klara dan St. Damiano?

Agaknya Klara melihat pingitan sebagai sesuatu yang sesuai dengan cita-citanya yang didukung oleh aturan lahiriah itu. Pingitan melambangkan dan mendukung ikatan dengan Yesus Kristus yang miskin, yang secara eksklusip mau dicintai dan diikuti. Menarik perhatian bahwa dalam Anggaran Dasar Klara aturan-aturan mengenai pingitan sedikit terserak-serak dan dikaitkan pada apa yang dikatakan mengenai kemiskinan tertinggi. Pingitan rupanya dilihat sebagai sesuatu yang mendukung kemiskinan itu. Memang rubiah yang tidak mempunyai harta milik dan terkurung di rumah, tak mungkin menjadi kaya dan bergantung seluruhnya pada kebaikan Tuhan yang disalurkan melalui kemurahan hati manusia.

Karena semuanya itu pingitan oleh Klara tidak dipahami dan dipraktekkan sebagai “hukum” yang mesti dilaksanakan secara ketat, entah untuk apa. Klara tidak mengandaikan semangat legalis, melainkan semangat cinta kepada Yesus yang miskin yang secara nyata disalurkan melalui pingitan. Maka pingitan tidak dirasakan sebagai beban, kurungan, pengendalian dan pengekangan kebebasan. Klara menghendaki bahwa pengikut-pengikutnya menjadi kontemplatip sejati dalam kemiskinan tertinggi demi cinta kepada Yesus yang miskin. Untuk mencapai itu Klara memakai segala sarana yang tersedia.

Dalam kerangka kontemplatip itu, Klara menghayati karisma Fransiskus dengan caranya sendiri, lain dari pada caranya Fransiskus serta teman-temannya menghayatinya. Klara tentu saja yakin bahwa karisma Fransiskus dapat dan mesti disalurkan melalui hidup kontemplatip. Tetapi ia pun yakin bahwa tidak boleh dikurung di dalamnya. Sama seperti Fransiskus yakin bahwa karisma yang sama dapat dan mesti disalurkan melalui hidup aktip, namun tidak boleh dikurung di dalamnya. Klara berbagi tugas dengan Fransiskus, supaya karisma yang sama sungguh menjadi lengkap dan utuh.

 BAB VII
 MERCU SUAR YANG MEMANCARKAN SINARNYA

Maka pada tahun 1219 kerangka dan dasar gaya hidup kelompok Klara sudah mantap. Inspirasi dasar tertuang dalam Pola Dasar Hidup karangan Fransiskus. “Privilegium paupertatis” mengamankan pelaksanaan inspirasi itu. Anggaran Dasar karangan Hugolinus memasukkan semuanya ke dalam tata hukum Gereja, sehingga Klara serta teman-temannya secara resmi dapat mengikrarkan profesi. Pingitan menentukan kerangka kontemplatip dan mengamankan otonomi St. Damiano. Berapa jumlahnya penghuni St. Damiano pada tahun 1219 tidak diketahui. Namun demikian jumlahnya relatip besar, meskipun bukan kelompok besar seperti biasa di biara-biara Benediktines. Jumlah penghuni S. Damiano sudah sedemikian besar, sehingga mengizinkan adik Klara, Agnes, meninggalkan St. Damiano untuk menjadi abdis dalam sebuah biara di Monticelli, di dekat Firenze.

Yang masih perlu dijernihkan sedikit ialah hubungan Klara serta teman-temannya dan Fransiskus dan kawan-kawannya. Relasi itu oleh Klara memang dianggap dasariah, tetapi menjadi jelas bahwa hubungan itu perlu diatur sedikit.

Alasan penjernihan itu ialah perginya Fransiskus ke kawasan Timur Tengah pada tahun 1219. Ketidak hadiran Fransiskus di Italia mencetuskan kekacauan kritis di antara para Saudara Dina. Dan kekacauan itu secara tak langsung menyangkut juga Klara dan teman-temannya. Ada seorang saudara yang bernama Filipus yang entah bagaimana, merasa dirinya terpanggil untuk mencampuri kehidupan kelompok wanita yang mirip dengan St. Damiano. Kelompok Klara juga agaknya tidak bisa luput dari campur tangan itu. Belum diketahui pasti apakah Filipus didukung oleh Kardinal Hugolinus. Tetapi nyatanya ia mulai berlaku sebagai “visitator” kelompok-kelompok itu. Filipus ingin dan berusaha menciptakan semacam “ordo” baru dan mulai mengatur cara hidup “wanita-wanita miskin”. Tetapi ketika Fransiskus pada tahun 1220 tergesa-gesa kembali ke Italia, ia menindak Filipus. Kembali pembantu Hugolinus, Ambrosias, rahib Sistersien, menjadi “visitator”. Akibat dari pengalaman yang kurang enak itu membuat Fransiskus mulai memperketat hubungan antara kelompoknya sendiri dengan kelompok Klara. Sampai saat itu hubungan itu lancar dan tidak formal. Fransiskus serta teman-temannya menolong St. Damiano baik di bidang spiritual (pembinaan rohani) maupun di bidang matarial, yaitu dengan mengumpulkan derma bagi penghuni St. Damiano. Tetapi kini disadari oleh Fransiskus bahwa hubungan itu juga dapat mengacaukan kelompok Klara. Karena itu Fransiskus mulai mengundurkan diri dan jarang berkunjung ke St. Damiano. Para Saudara Dina pun diatur, meskipun hubungan tidak terputus.

Tetap ada dan terus akan ada saudara-saudara yang melayani St. Damiano dan Fransiskus tetap ingin dan rela mendukung Klara. Tetapi sekaligus ia ingin “mengamankan” mereka, sehingga dapat mengembangkan gaya hidupnya sendiri. Fransiskus sudah melihat bagaimana kelompoknya sendiri dapat menjadi kacau. Janganlah kekacauan itu menular kepada St. Damiano. Itulah sebabnya mengapa Fransiskus mulai mengatur hubungan antara Saudara-saudara Dina dan Saudari-saudari Miskin.

Di masa itu (abad ketiga belas) muncul kembali “biara rangkap dua”, yang dahulu pernah ada tetapi dilarang. Artinya: Satu (komplek) biara merangkum sebuah komunitas laki-laki dan suatu komunitas perempuan, yang semua mengikuti gaya hidup yang sama. Menurut ideologinya laki-laki itu melambangkan rasul Yohanes yang melayani Maria, yang dilambangkan kelompok wanita itu. Struktur somacam itu tentu saja mengandung bahaya kemerosotan moral.

Tetapi gagasan dasar “biara rangkap dua” itu – yaitu dua-duanya menganut cara hidup yang sama – tidak sesuai dengan pikiran Fransiskus. Inspirasi dasar Fransiskus dan Klara memang sama, tetapi gaya hidup konkrit mesti berbeda. Karena itu Fransiskus tidak menginginkan “biara rangkap dua” semacam itu. Otonomi Klara untuk sendiri menentukan gaya hidupnya mesti terjamin dan aman. Dan otonomi itu terancam kalau Saudara-saudara Dina terlalu mencampuri hidup di St. Damiano.

Itulah kiranya sebabnya mengapa Fransiskus sedikit banyak mengundurkan diri dan memperketat hubungan dengan St. Damiano dan kelompok temannya, walaupun hal itu membuat Klara amat menyesal. Kalau dalam Anggaran Dasarnya pada tahun 1223 Fransiskus melarang para saudara masuk biara para rubiah tanpa izin istimewa, maka ia juga berpikir kepada St. Damiano. Larangan itu tidak dipaksakan kepada Fransikus dan tidak pula memutuskan hubungan dengan St. Damiano. Aturan itu tercetus oleh keprihatinan Fransiskus sehubungan dengan otonomi kelompok Klara di St. Damiano.

Begitulah hubungan antara “Saudara-saudara Dina” dan “Saudari-saudari Miskin” diformalkan, tidak diputuskan. Saudara-saudara yang ditugaskan tetap memelihara penghuni St. Damiano baik secara rohani (liturgi, khotbah dan sebagainya) maupun secara jasmani (keperluan jasmani). Selalu ada sejumlah saudara yang tinggal di dekat St. Damiano, boleh jadi di dalam komplek itu. Ada cukup banyak kesaksian tentang saudara-saudara yang mengunjungi Klara dan teman-temannya dan kalau perlu masuk juga pingitan. Antara Fransiskus dan Klara tetap terjalin persahabatan mesra dan akrab. Mereka saling mengasihi secara mendalam. Tetapi kasih itu tidak ada sangkut pautnya dengan cinta birahi. Ada berita bahwa Fransiskus gemar menyapa Klara dengan nama “Christiana”. Maksudnya: Klara adalah milik Kristus. Ada berita mengenai Fransiskus yang mengarang sebuah cerita kiasan, yang memperlihatkan bagaimana Fransiskus menilai wanita, khususnya wanita seperti Klara. Ceritanya begini. Seorang raja yang kuasa berturut-turut mengirim dua hamba kepada sang permaisuri. Yang pertama kembali dan hanya melapor apa yang dipesankan permaisuri. Yang kedua kembali dan setelah dengan singkat melapor pesan permaisuri, ia dengan panjang lebar mulai menguraikan mengenai kecantikan permaisuri. Raja naik pitam dan menegur: “Hamba yang tidak berguna, kau berani melayangkan matamu yang tidak kenal malu kepada isteri saya? Sudah jelas engkau ingin merampas apa yang kau amati dengan cara seteliti itu.” Lalu hamba pertama dipanggil sekali lagi. Raja sertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang permaisuri?” Hamba itu berkata: “Permaisuri menurut pendapatku memang seorang yang istimewa. Ia tahu berdiam diri sambil mendengarkan dan dapat membalas dengan cerdas.” Tanya raja: “Tetapi apakah permaisuri seorang wanita yang cantik?” Jawab hamba itu: “Mengamati hal itu adalah urusan tuan. Saya hanya mesti menyampaikan pesan saja.” Hamba yang matanya murni bersih itu dipuji raja dan dinaikkan pangkatnya. Yang lain diusir, sebab boleh jadi nanti mencemarkan peraduan raja. Dengan cerita itu Fransiskus mengungkapkan juga bagaimana melihat Klara: mempelai Kristus, Raja Agung. Klara dan Fransiskus saling membutuhkan dalam penghayatan karisma yang sama. Antara Fransiskus dan Klara ada surat menyurat dan Klara merawat Fransiskus waktu ia sakit dalam sebuah gubuk yang dibangun Klara di komplek St. Damiano. Tidak mustahil pula Klara pernah mengunjungi Fransikus di Porziuncula. Betapa erat hubungan itu terungkap dalam sebuah mimpi yang diceritakan Klara kepada teman-temannya. Ia bermimpi bahwa membawa sebuah baskom dengan handuk kepada Fransiskus. Klara naik tangga yang tinggi, tetapi rasanya seolah-olah meBab 1njalani tanah rata. Waktu mendekat Fransiskus Klara diajak olehnya untuk menyusu tetek Fransiskus yang diunjukkannya. Itu terjadi dua kali dan amat manis rasanya bagi Klara yang memegang tetek Fransiskus. Simbolik mimpi itu cukup jelas. Klara menghisap semangat dan inspirasinya dalam kebatinan Fransiskus. Tidak pada tempatnya memberi tafsir atas mimpi itu ala Freud.

St. Damiano tetap memerlukan Fransiskus serta teman-temannya (dan sebaliknya juga). Hanya relasi itu sejak 1219 menjadi lebih teratur. Waktu pada tahun 1230 Paus Gregorius IX melarang para Saudara Dina tanpa izin khusus (sesuai dengan larangan dalam Anggaran dazar 1223) melayani St. Damiano secara rohani, maka Klara memprotes dengan juga mengembalikan semua saudara yang melayani keperluan jasmani. Pertimbangannya: Kalau kami tidak boleh diberi santapan rohani, kami tidak mau menerima santapan jasmani. Gregorius menerima protes itu dan mengalah serta mengizinkan pemeliharaan rohani teratur lagi.

Sejak tahun 1219/1220 dengan dasar yang mantap, dalam kerangka hukum yang aman dan di bawah naungan Saudara-sauda Dina yang teratur Klara di St. Damiano dapat lebih lanjut memerincikan hidup sehari-hari kelompok teman-temannya. Mulai diciptakan apa yang diistilahkan sebagai “kebiasaan St. Damiano”

Mengenai perkembangan “kebiasaan-kebiasaan” itu sejak 1219 tidak banyak diketahui dengan pasti. Oleh semua keeaksian yang tersedia diberitahukan bahwa dengan bijaksana sekaligus tegas, Klara membina kelompoknya. Ia selalu memberi “instruksi” kepada para saudari dan menyakinkan mereka betapa luhur dan mulia panggilan untuk mengikuti jejak-jejak Yesus Kristus, Tuhan yang miskin. Klara, juga mengusahakan, agar para imam/rohaniwan yang melayani St. Damiano harus orang yang sungguh bermutu. Sudah pasti Klara mengambil alih cukup banyak unsur yang sudah tradisional dalam hidup biaraan (kerahiban) kontemplatip. Banyak memang tercantum dalam Anggaran Dasar Hugolinus yang secara formal berlaku di St. Damiano. Tetapi dalam penerapan dan tafsiran unsur itu Klara menempuh jalannya sendiri. Ia misalnya mengambil alih sembahyang berkala, ofisi ilahi. Tetapi Klara dalam hal itu menuruti Saudara-saudara Dina, sejak mereka (th.1221) mulai melakukan ofisi ilahi. Klara tidak mengambil alih sembahyang berkala seperti lazim pada para rubiah, yang panjang dan dilakukan dengan meriah (menyanyi). Klara mengambil alih ofisi yang disederhanakan, seperti Saudara-saudara Dina. Bentuk itu sesuai dengan kemiskinan dan kesederhanaan kelompok di St. Damiano. Ofisi panjang yang dinyanyikan tidak hanya menyerap terlalu banyak waktu (saudari-saudari kan mesti mencari nafkah dengan bekerja), tetapi buku-buku yang perlu juga terlalu mahal. Semuanya mesti sesuai dengan kemiskinan tertinggi yang dicita-citakan Klara.

Klara juga mengambil alih praktek pantang dan puasa yang sudah tradisional di kalangan para rubiah. Tetapi dalam penerapan aturan amat keras yang tercantum dalam Anggaran Dasar Hugolinus, Klara relatip lunak. Dalam hal itu pun Klara menuruti nasehat Fransiskus dan praktek Saudara-saudara Dina, walaupun Klara lebih keras. Bagi dirinya sendiri Klara malah melampaui batas manusiawi. Ia hampir saja tidak makan dan jarang sekali minum anggur (minuman biasa di Italia). Akhirnya oleh Fransiskus dan uskup mesti disuruh untuk paling sedikit makan setuap hari. Tetapi ukuran pribadi itu tidak dibebankan Klara kepada Saudari-saudarinya. Sebaliknya Klara agak gampang membebaskan saudari-saudari dari aturan pantang dan puasa yang ada.

Sementara itu sejak 1219 Klara dan kelompoknya mulai memancarkan sinarnya ke luar lingkup St. Damiano. Sudah dikatakan bahwa pada tahun 1219 Agnes menjadi Abdis pada sebuah kelompok di Monticelli. Pada waktu yang kira-kira sama ada kelompok-kelompok yang mirip dengan kelompok Klara di Perugia, Lucca dan Siena, Tetapi tidak terlalu jelas bagaimana hubungan antara St. Damiano dan biara-biara tersebut. Boleh dipertanyakan apakah biara-biara itu didirikan oleh Klara dan penghuni St. Damiano. Dalam suratnya kepada Klara, Agnes menulis bahwa di tempatnya yang baru di Monticelli, ia menemukan kesehatian antara para saudari di sana dan bukan perpecahan seperti dikira semula. Orang berkesan bahwa di Monticelli sudah ada suatu kelompok ketika Agnes dikirim ke sana dan menjadi abdis. Mungkin sekali kelompok wanita itu minta tolong di St. Damiano dan dilayani sesuai dengan keinginannya. Dan hal yang sama kiranya terjadi di lain-lain tempat.

Agaknya duduk perkara kira-kira sebagai berikut: Ada sementara kelompok-kelompok wanita religius yang sudah ada dan dilingkupi oleh Anggaran Dasar Hugolinus yang dialamatkan kepada “Wanita-wanita miskin”, lalu menggabungkan diri dengan St. Damiano dan kadang kala minta bantuan di situ untuk mengatur hidupnya lebih lanjut, sesuai dengan gaya hidup di St. Damiano. Kelompok-kelompok semacam itu tidak didirikan Klara, tetapi terlebih disemangati oleh inspirasi Klara seperti yang dihayati di St. Damiano. Penggabungan semacam itu sesuai dengan keinginan Kardinal Hugolinus. Beliau percaya pada Klara (dan Fransiskus) dan mendorong menuju semacam “federasi” antara pelbagai kelompok wanita yang sedikit banyak mirip dengan kelompok Klara. Alangkah baiknya kalau kelompok-kelompok itu di bawah pimpinan rohani Klara. Begitu terjamin sedikit bahwa kelompok-kelompok itu tidak menyeleweng dan menjadi mangsa aliran-aliran sesat dan bidaat-bidaat yang berkerumun. Hal serupa itu selanjutnya masih berulang kali terjadi. Misalnya biara yang didirikan Ermentrudis di Brugge. Biara itu sudah ada, tetapi pada tahun 1252 menggabungkan diri dengan Klara dan St. Damiano. Begitu pula Agnes dari Praha pada tahun 1223 sudah mendirikan sebuah biara wanita, dan sesudahnya barulah menghubungi Klara dan minta tolong di St. Damiano. Lima saudari dari St. Damiano dikirim ke Praha untuk menyemangati kelompok Agnes dan mengatur gaya hidupnya sesuai dengan yang ada di St. Damiano.

Tidak semua biara baru itu diberi (atau menerima) “privilegium paupertatis”, seperti terjadi di Monticelli dan kemudian di Praha. Tidak jelas pula sejauh mana kelompok-kelompok itu berpedoman pada Pola Dasar Hidup yang menjadi pegangan di St. Damiano. Caranya “ordo” Klara (di masa itu tentu saja belum boleh disebut demikian) merambat dan berkembang menjelaskan berbagai gejala kekacauan yang kemudian muncul di kalangan mereka yang menggabungkan diri dengan Klara. Gaya hidup biara-biara itu jauh dari seragam, khususnya dalam hal kemiskinan. Kecuali kerangka formal yang dipasang oleh Anggaran dasar Hugolinus (dan kemudian Innocentius IV) tidak ada suatu cara hidup seragam. Masing-masing kelompok tetap menempuh jalannya sendiri dan penyesuaian dengan gaya hidup St. Damiano ada macam-macam tingkatnya. St. Damiano tidak berperan sebagai pusat pimpinan menurut hukum, melainkan semacam “pusat rohani” saja.

Pada latar belakang itu dapat dipahami apa yang ditulis Klara dalam wasiatnya bagi para penghuni St. Damiano: “Tuhan tidak hanya menjadikan kita suatu teladan bagi yang lain sebagai contoh dan cermin, tetapi juga bagi saudari-saudari kita yang oleh Tuhan dipanggil untuk mengikuti panggilan kita, supaya mereka menjadi cermin dan teladan bagi orang-orang yang hidup di dunia. Dengan lain perkataan: kelompok di St. Damiano menjadi teladan bagi kelompok-kelompok serupa di lain-lain tempat. S. Damiano waktu Klara meninggal berperan sebagai “pusat spiritual”. Dan begitulah kiranya duduknya perkara sejak awal mula.

Jelaslah bahwa Klara di S.Damiano berusaha sekuat tenaga agar supaya inspirasi dasariah yang secara lahiriah diamankan oleh “privilegium paupertatis” menjadi terwujud. Inspirasi dasariah itu boleh dipadatkan dalam rumus: mengikuti jejak-jejak Tuhan kita Yesus Kristus yang menjadi miskin bagi kita. Klara mengembangkan semacam mistik kemiskinan, tegasnya mistik Kristus yang miskin. Maka kemiskinan lahir-batin bagi Klara bukanlah satu unsur gaya hidupnya, melainkan dasar dan landasan segala sesuatu. Mengikuti Yesus Kristus dalam kemiskinan dan kerendahan serta BundaNya yang miskin itulah yang menjadi pendorong dan penggerak bagi Klara, Yang sebulat-bulatnya mencintai Kristus yang miskin. Kemiskinan dan kerendahan itu memuncak di palungan di Bethlehem dan pada salib di Golgota. Itulah yang mau dan mesti diterjemahkan ke dalam hidup sehari-hari di St. Damiano.

Tanpa melarat – Klara dan kelompoknya memang cepat menjadi populer sehingga biasanya tidak ada kekurangan akan keperluan pokok – penghuni St. Damiano hidup dalam kemiskinan real, yang didukung oleh puasa, pantang dan pingitan abadi. Taraf hidup matarial memang boleh dikatakan minimal. Ada beberapa berita bahwa penghuni St. Damiano kadang kala benar-benar kekurangan akan barang paling dasariah. Kiranya di masa paceklik umum, seperti tidak jarang terjadi di masa itu. Klara selalu penuh kepercayaan pada Allah dan selalu menemukan jalan keluar. Dan itu terungkap dalam pelbagai cerita tentang Klara yang secara ajaib memperbanyak roti dan menyediakan minyak zaitun. Klara memang seorang karismatik dan cirinya itu memperlihatkan diri dalam gejala-gejala yang di abad pertengahan dinilai sebagai “mukjizat” dan diceritakan sebagai “mukjizat”.

Meskipun Klara menghendaki dan mempertahankan “kemiskinan tertinggi” namun sebagai pemimpin bijaksana iapun mesti realis. Ia tidak boleh menuntut terlalu banyak. Itulah sebabnya mengapa Klara memberikan kebebasan agak besar bagi masing-masing saudari dalam pelaksanaan kemiskinan jasmani. Kalau ada kiriman dari luar, mereka boleh saja menerimanya dan memakainya sejauh mereka sendiri menganggapnya perlu. Tetapi mereka boleh juga membagi-bagikannya kepada saudari-saudari lain, sesuai dengan keperluan. Kiriman uang pun diterima dan dibelikan untuk keperluan saudari yang bersangkutan. Sikap Klara terhadap uang jauh lebih lunak dari pada sikap Fransiskus, yang benci kepada uang. dan melarang pemakaiannya. Sekali lagi nampak bahwa Klara tidak menjiplak Fransiskus. Satu-satunya yang dengan keras, dilarang Klara ialah apa saja yang berlawanan dengan “privilegium paupertatis”. Klara tidak mau menerima milik tetap di luar St. Damiano, meskipun berulang kali ditawarkan kepadanya, malah oleh Kardinal Hugolinus. Tetapi St. Damiano dengan sebidang tanah sekitar untuk berkebun memang milik pennghuninya, padahal Fransiskus (mula-mula) tidak mengizinkan milik semacam itu.

Klara yang ingin mendidik para pengikutnya dan mengantar mereka kepada kesempurnaan Injil, membimbing mereka dengan mendahuluinya di jalan sempit itu. Untuk mengikuti Yesus yang miskin dan bersengsara Klara menerapkan pada dirinya suatu kekerasan yang melampaui kemampuan dan daya tahan manusia yang kurang bersemangat. Mistik kemiskinan pada Klara bergabung dengan mistik sengsara, sama seperti pada Fransiskus. Dan mistik itu mewujudkan diri dalam ulah tapa yang melampaui batas manusia yang bukan mistikus. Tempat tidur Klara entah tanah rata – di masa itu orang biasa tidur dengan memakai tikar – atau setumpukan ranting pokok anggur dan bantalnya sepotong kayu. Akhirnya tempat tidur itu diganti dengan tikar dan seberkas jerami sebagai bantal. Klara pun beberapa lamanya mengenakan baju dalam yang dibuat dari kulit babi dengan di sebelah dalamnya bulu babi yang tajam. Akhirnya Fransiskus dan Uskup Asisi merasa perlu campur tangan dalam ulah-tapa semacam itu dan menyuruh Klara memperlunak sedikit prakteknya. Di belakang ulah tapa itu tidak tersembunyi semacam “askese”, apalagi dualisme yang membenci kejasmanian. Klara – sama seperti Fransiskus – memuji Allah dalam alam ciptaan-Nya yang baik dan yang menjadi cerminan kebaikan dan kekuasaan-Nya. Ulah-tapa Klara dijiwai oleh kasihnya kepada Yesus yang tersalib, kasih karismatik dan mistik. Dan latar belakang itu nampak dalam kegembiraan yang selalu berpancar keluar dari Klara, sukacita sejati yang tidak dapat dipadamkan. Itulah sebabnya mengapa, Klara dengan pmkteknya itu tidak menakutkan teman-temannya di St. Duniano , melainkan menimbulkan rasa simpatik dan kasih spontan.

Dengan teman-temannya Klara hidup dalam pingitan di luar kota, namun tidak jauh dari temboknya. Klara dan pengikut-pengikutnya tidak lari ke gunung, ke hutan atau ke gurun. Dengan sengaja Klara mau tinggal di dekat masyarakat. Kendati pingitan yang dengan demikian bijaksana diterapkan Klara, penghuni St. Damiano jelas berpengaruh dalam masyarakat sekitarnya. St. Damiano cukup ramai dikunjungi orang. Dan kunjungan rakyat biasa tidak dialami sebagai gangguan. Klara merasa dirinya dipanggil untuk memainkan peranannya sendiri dalam Gereja dan pada umat Allah. Seperti ditulis kepada Agnes dari Praha, Klara dan teman-temannya merasa diri sebagai pembantu Allah dan penopang anggota-anggota lemah Tubuhnya yang tak terperikan. Mereka semua dengan gaya hidupnya yang khas menjadi teladan dan cermin bagi mereka yang hidup di dunia. Klara tidak pernah condong menangani salah satu karya sosial atau amal kasih, seperti di masa itu ditangani beberapa kelompok religius. Para rubiah di masa itu tidak jarang menampung sejumlah puteri untuk dididik antara lain dalam berbagai keterampilan. St. Damiano tidak pernah mempraktekkan karya macam itu. Hanya putri yang bakal calon mau ditampung. Klara cukup ketat dalam hal menyaring calon, sehingga pernah malah tidak rela menerima calon yang ditawarkan dan dipujikan Fransiskus. Tetapi tanpa karya amal apapun Klara menganggap gaya hidup yang diperjuangkannnya sebagai sesuatu yang banyak manfaatnya bagi Gereja dan masyarakat.

Semangat dan pendirian seperti digariskan di atas oleh Klara dialihkan kepada para penghuni St. Damiano. Pada tahun 1238 jumlah penghuni S.Damiano, yang kecil sekali, mencapai 50 jiwa. Dan semangat dan pendirian itu sedapat mungkin dialihkan kepada kolompok-kelompok lain yang sedikit banyak menempatkan diri di bawah naungan St. Damiano. Jumlah kelompok itu sertambah dengan pesatnya. Pada tahun 1228 sudah ada 28 antara lain di Roma, Lucio, Ancona, Camullia, Venetia, Gatoiala, Padua, Verona.
Suatu peristiwa yang pada tahun 1226 menimpa Klara serta teman-temannya ialah meninggalnya Fransiskus. Jenazahnya diantar ke Asisi melalui St. Damiano (jalan putar yang tidak kecil). Klara dan teman-temannya masih sempat melihat dan minta diri. Namun Klara cukup mantap dan mandiri untuk tanpa dukungan Fransiskus meneruskan rencana dan gaya hidupnya. Hilangnya Fransiskus, yang menurut keterangan Klara sendiri menjadi “tumpuan kita, satu-satunya hiburan kita di samping Allah, dan peneguh kita” sampai saat itu, ternyata tidak menggoncangkan Klara dalam rencana hidupnya. Kardinal Hugolinus tetap mendukung Klara dan kelompoknya, walaupun Kardinal itu mempunyai rencana sendiri.

Setelah Hugolinus menjadi Paus Gregorius IX (th.1227) ia – mungkin sekali atas permintsan Klara – menyuruh minister umum Saudara-saudara Dina, yang mengganti Fransiskus, yakni Yohanes Parenti, supaya secara khusus memperhatikan kelompok St. Damiano serta kelompok-kelompok yang sehaluan. Perintah itu pasti sesuai dengan keinginan Klara, yang mau tetap menjalin hubungan erat dengan Saudara-saudara Dina. Minister umum Saudara-saudara Dina itu serentak berperan sebagai minister umum pengikut-pengikut Klara. Klara juga selalu ingin bahwa Kardinal Pelindung Saudara-saudara Dina menjadi Kardinal Pelindung Klara serta teman-temannya.

Tidak lama sebelum meninggal Fransiskus masih mengarang sebuah sajak/lagu dengan musiknya bagi para saudari di St. Damiano. Lagu itu diciptakan Fransiskus oleh karena mendengar bahwa para saudari di St. Damiano resah karena penyakitnya. Lagu itu disuruhnya bawa ke St. Damiano. Lama sekali lagu itu hilang, tetapi pada tahun 1976 ditemukan kembali. Isinya adalah sebagai berikut:

Dengarlah, hai (putri-puteri) miskin yang kecil,
yang dipanggil oleh Tuhan.
Dari banyak daerah dan propinsi kalian telah terkumpul.
Hendaklah selalu hidup dalam kebenaran,
sehingga dapat mati dalam ketaatan.
Jangan menengok kepada yang di luar,
sebab hidup roh jauh lebih baik.
Demi kasih yang besar saya meminta kalian,
agar dengan hati-hati menggunakan sedekah yang diberikan Tuhan.
Mereka yang dibebani oleh penyakit
dan yang lain-lain yang karena mereka berpayah-payah,
hendaklah kalian semua menanggungnya dengan tentram.
Sebab susah payah itu nanti
kalian jual dengan harga tinggi,
oleh karena kalian masing-masing akan dinobatkan menjadi ratu di surga,
bersama dengan Perawan Maria.

Pada waktu yang kira-kira sama (th.1226) Fransiskus juga menulis wasiatnya bagi Klara. Wasiat itu oleh Klara dicantumkan ke dalam Anggaran Dasarnya (1253) bersama dengan Pola Dasar Hidup karangan Fransiskus. Jelaslah Fransiskus dan Klara ingin bahwa para saudari di St. Damiano tetap setia pada apa yang dianggap dasariah. Dalam wasiat itu Fransiskus seolah-olah mempercayakan mutiara yang paling berharga baginya kepada Klara dan teman¬temannya. Yaitu “hidup tersuci”, yaitu mengikuti kehidupan Yang Mahatinggi, Tuhan kita Yesus Kristus, dan “kemiskinan” (Yesus Kristus itu). Seolah-olah Fransiskus kurang percaya pada pengikut-pengikutnya sendiri, sehingga menyimpan mutiara itu di St. damiano.

Pada tahun 1226 itu juga ibu Klara, Hortulana, menggabungkan diri dengan putrinya di St. Damiano. Dan pada tahun 1229 diikuti oleh adik Klara yang bungsu, Beatrice. Hampir seluruh kaum wanita keluarga di Favarone masuk “Klaris”. Agaknya Hortulana yang waktu masuk St. Damiano menjanda, meninggal sebelum tahuri 1238.

Keluarga di Favarone memang bangsawan. Dan di antara penghuni St. Damiano, masih ada puteri bangsawan lain juga. Namun demikian juga ada puteri dari golongan rendahan, termasuk yang buta huruf. Dalam hal itu Klara sama seperti Fransiskus – tidak mengambil pusing tentang asal-usul pengikutnya. Di St. Damiano perbedaan sosial tidak berperan sedikitpun, seperti halnya di banyak biara lain di masa itu; tidak jarang terdapat berbagai “klas” rubiah/rahib Anggaran dasar Klara mengandaikan bahwa di antara para penghuni St. Damiano ada sejumlah buta huruf, yang tidak dapat membaca ofisi ilahi (bahasa Latin), sehingga sebagai gantinya mereka boleh membaca sejumlah Bapa Kami. Itu diambil alih dari golongan “conversi” (yang bukan rahib sebenarnya) pada Sistersien. Tidak diketahui kapan di St. Damiano muncul “saudari-saudari” yang menangani pelayanan di luar biara. Tetapi mereka tidak dinilai sebagai “saudari tingkat ke dua”. Saudari-saudari itu bertugas melayani keperluan real, seperti ditimbulkan oleh pingitan yang telah diterima dan dengan caranya sendiri dipertahankan Klara. Tidak ada tanda bukti sedikit pun bahwa “saudari-saudari yang menangani pelayanan di luar biara” itu berasal dari golongan rendah dalam masyarakat, dan dianggap semacam pelayan “rubiah” yang sejati.

 BAB VIII
 MEMPERJUANGKAN IDENTITASNYA

Pada tahun 1227 kardinal Hugolinus, sahabat dan pendukung Klara dipilih menjadi Paus dengan nama Gregorius IX (th. 1227-1241).
Segera Klara mengajukan permohonan, agar “privilegium paupertatis” diteguhkan kembali. Klara memang tahu bahwa Hugolinus agaknya selalu menggeleng-gelengkan kepala atas keberani¬an Klara yang dianggapnya masih gegabah itu. Klara ingin sejak awal mengamankan mutiara itu. Pada tanggal 25 Mei – 17 Juli tahun 1228 Grgorius IX tinggal di Perugia dan Asisi. Di Perugia tahun 1228 Gregorius mengabulkan permohonan Klara. Gregorius menyalin surat Paus Innocentius III , tetapi dengan mempersingkatnya sedikit. Paus tidak dengan sebulat hati melayani keinginan Klara itu. Beliau tetap prihatin kalau-kalau kemiskinan seperti dicita-citakan Klara kurang realis. Sebelum memberi surat peneguhan tersebut, Paus masih bertemu dengan Klara, entah di mana, mungkin sekali di St. Damiano. Situasi sosio politik di masa itu memang kurang mantap dan aman, sehingga Paus tetap merasa perlu memberi jaminan hidup kepada kelompok di St. Damiano, sekarang sebagai pejabat tertinggi dalam Gereja. Maka Gregorius (sekali lagi) menawarkan kepada Klara harta-milik tetap (tanah, kebun anggur dan sebagainya). Paus menyatakan bahwa beliau sendiri bersedia memberikan dispensasi kepada Klara dan teman-temannya, kalau mereka merasa diri terikat pada janji mereka dahulu. Jawaban Klara tegas dan sekaligus menyingkapkan dasar terdalam bagi kemiskinan yang diinginkannya. Ia menegaskan: “Kami tidak ingin sama sekali dibebaskan dari hal mengikuti jejak Kristus.” Maka Paus (sekali lagi) mengalah saja.

Pada waktu yang kira-kira sama (th.1228) Paus Gregorius IX mengirim sepucuk surat kepada penghuni St. Damiano dan semua biara yang sudah tergabung dengan kelompok Klara. Menarik perhatian bahwa pada awal surat itu Paus berkata mengenai “Saudari-saudari pingitan ketat”. Isi seluruh surat itu memperlihatkan betapa Paus menjunjung tinggi cara hidup terkurung seperti yang dipilih Klara dan juga inspirasi dasarnya. Paus menyatakan bahwa para saudari menjadi hiburan baginya yang terlanda banyak kesusahan akibat jabatannya sebagai Paus, antara lain bentrokan dengan kaisar Jerman dan macam-macam bidaat. Ia mendesak, agar para saudari terus mendoakannya. Jelaslah Paus merasakan nilai gerejani dari cara hidup para pengikut Klara.

Kedua dokumen kepausan tersebut memperlihatkan bahwa Gregorius IX tetap mengikuti, mengawasi dan sedikit banyak menertibkan dan memadukan gerakan “Wanita-wanita miskin” dan menilai St. Damiano sebagai pusat dan pangkal yang sehat. Itulah sebabnya mengapa Paus tidak mengizinkan sembarangan orang ikut campur tangan. Maka pada tahun 1230 dikeluarkan Surat lain yang menyangkut kelompok Klara dan biara-biara yang sehaluan. Surat itu dialamatkan kepada Saudara-saudara Dina. Dengan keras mereka dilarang masuk biara-biara “rubiah” tanpa izin khusus Sri Paus. Larangan itu sebenarnya tercantum dalam Anggaran Dasar Saudara-saudara Dina sendiri (th.1223). Tetapi rupanya ada sementara saudara yang terlalu lunak dalam penerapan larangan itu. Paus tidak melarang saudara-saudara melayani keperluan jasmani rubiah itu, tetapi pimpinan rohani mau diawasi dan diatur dengan ketat. Tindakan Paus dapat dipahami, oleh karena di masa itu memang pertikaian cukup hangat di antara para Saudara Dina. Di atas sudah dikatakan, bahwa Klara memprotes – dengan gayanya sendiri, – larangan Paus itu. Maka sekali lagi Paus mengalah dan memperlunak larangan itu. Minister umum Saudara-saudara Dina dapat menerapkan larangan itu sesuai keperluan. Perlunakan itu juga cukup. Sebab tetap ada larangan dalam Anggaran Dasar Saudara-saudara Dina. Paus mempunyai sarana pengawasan. Peristiwa kecil itu memperliha kan dua hal sekaligus: Klara ingin agar kelompoknya tetap dibina oleh Saudara-saudara Dina, keturunan rohani Fransiskus, dan Paus ingin agar tidak sembarang orang memcampuri pembinaan itu. Alhasil: semacam kompromi:kedua pihak mencapai apa yang diinginkan.

Sudah jelas bahwa Gregorius IX tetap melihat St. Damiano sebagai semacam “pusat rohani” bagi gerakan wanita-wanita yang sehaluan. Tetapi ia pun tetap melihat Anggaran dasar karangan sendiri sebagai kerangka hukum dan sarana pemersatu. Itu menjadi jelas ketika pada tahun 1233 puteri raja Bohemia, Ottokar I, yakni Agnes di Praha mendirikan biaranya yang cepat menjadi sahluan dengan St. Damiano. Agnes kiranya berkenalan dengan gaya hidup baru di St. Damiano melalui Saudara-saudara Dina yang sejak 1232 menetap di Praha. Oleh pimpinan dan penghuni kota itu mereka diterima dengan baik. Agnes sendiri mendukung mereka, antara lain dengan membangun sebuah gereja bagi mereka. Di dekat Saudara-saudara Dina itu, Agnes mendirikan juga semacam tempat penampungan bagi orang miskin dan musafir. Hal semacam itu memang lazim di kalangan kaum bangsawan di masa itu. Pada tahun 1234 Agnes sendiri, yang menolak suatu perkawinan luhur dan mulia, dengan tujuh teman (bangsawati) masuk “biara” yang didirikannya. Agnes ingin menuruti gaya hidup seperti yang ditempuh di St. Damiano. Pada tahun 1235 Agnes menghubungi Paus Gregorius IX untuk mendapatkan persetujuannya. Gregorius tidak segan terhadap minat Agnes. Tetapi ia pun ingin bahwa ada semacam “persatuan”. Segera Gregorius mengangkat Agnes sendiri menjadi abdis di biaranya, meskipun Agnes mula-mula tidak mau. Serentak Gregorius mendesak, supaya Agnes mengkhususkan sebagian harta-miliknya bagi biara itu sebagai jaminan hidup bagi para rubiah. Tetapi pada tahun 1234 lima saudari dari St. Damiano sudah didatangkan dan ada surat-menyurat antara Agnes dan Klara. Maka Agnes tahu baik apa yang dicita-citakan Klara. Ia pun tahu mengenai “privilegium paupertatis”. Dari Paus Innocentius III dan Paus Gregorius IX sendiri. Maka Agnes menanggapi desakan Paus untuk mengkhususkan harta-miliknya bagi biaranya justru dengan meminta “privilegium paupertatis” bagi dirinya. Tidak segera Gregorius melayani permohonan itu. Sebaliknya ia menegaskan bahwa Anggaran Dasar, yaitu “konstitusi-konstitusi Hugolinus”, yang berlaku bagi St. Damiano berlaku pula bagi kelompok Agnes di Praha. Sama seperti Klara, Agnes pada prinsipnya (meskipun tidak dengan sebulat hati) bersedia menerima Anggaran Dasar itu, tetapi mendesak agar “privilegium paupertatis” diberikan juga. Pada tahun 1238 permohonan itu dikabulkan. Maka di Praha ada juga sekelompok wanita yang amat mirip dengan kelompok di St. Damiano dan dengan landasan resmi yang sama. Agnes juga mengikuti “kebiasaan St. Damiano” dan nasehat-nasehat Klara sedapat mungkin. Atas dasar itu, Agnes masih mengirim beberapa Surat kepada Gregorius IX minta izin menyimpang dari Anggaran Dasar Hugolinus (Gregorius IX). Sebab dinilai kurang sesuai dengan keadaan di Praha. Dan si ahli hukum itu tidak berkeberatan. Sebab maksudnya tercapai: kelompok Agnes pun terpasang dalam kerangka hukum sebagaimana mestinya. Sekaligus Paus mempunyai saran pengawasan. Tetspi Agnes juga mencapai maksudnya: menuruti cita-citanya sendiri sesusi dengan gaya hidup di St. Damiano. Memang antara Agnes dan Klara tetap berlangsunglah surat-menyurat yang cukup ramai, meskipun hanya empat surat dari Klara kepada Agnes tersimpan bagi kita. Tetapi empat surat itu cukup membuktikan betapa kedua wanita itu sehaluan, sesemangat dan sama-sama nekat menempuh jalannya sendiri. Klara tidak segan memperingati Agnes bahwa harus berhati-hati sedikit dengan tokoh yang penting, tidak mengalah kepadannya. Tokoh itu sebenarnya tidak lain dari Paus sendiri. Tanpa memberontak, Klara dan Agnes berjuang terus mempertahankan cita-citanya.

Meskipun Agnes dan Klara menerima konstitusi-konstitusi (Anggaran Dasar) Hugolinus sebagai kerangka hukum, namun dua-duanya menginginkan suatu Anggaran Dasar yang lebih sesuai dengan cita-cita mereka sendiri dan yang lebih realis. Agnes sebagai puteri raja dan kakak raja Bohemia yang baru, yakni Wensislaus III, lebih kuat kedudukan politisnya untuk mendesak Paus. Paus tentu saja menginginkan dukungan politik raja Bohemia terhadap Kaisar Jerman, Frederik II, yang selalu merupakan ancaman bagi kekuasaan politis Sri Paus. Karena itu pada tahun 1237/1238 Agnes memberanikan diri menulis sebuah Anggaran Dasar dan minta pengesahan dari pihak Paus. Tetapi Gregorius IX menolak dan kembali menegaskan bahwa sudah ada Anggaran Dasar, yakni “Anggaran Dasar Benediktus”, artinya: Konstitusi-konstitusi Hugolinus (Gregorius IX).

Kecuali itu Gregorius tetap mempunyai rencana sendiri sekitar gerakan wanita yang berkiblat kepada St. Damiano. Maka pada tahun 1239 Paus mengeluarkan “Anggaran dasar Benediktus” yang baru bagi wanita-wanita itu. Konstitusi-konstitusi itu sebenarnya hanya memperketat konstitusi-konstitusi dahulu (th.1219). Kembali konst tusi-konstitusi ini sangat terpengaruh oleh hukum-hukum para rahib Sistersien, yang memang dinilai Gregorius IX sebagai pembaharu hidup membiara, yang bermutu dan sehat.

Maksud Gregorius IX tentu saja mempersatukan dan menyeragamkan gerakan wanita-wanita yang berorientasi kepada Klara. Tetapi nyatanya Anggaran Dasar itu hanya menambah kekacauan dan kebingungan. Sebab St. Damiano dan beberapa biara lain tetap berpedoman pada Pola dasar Hidup karangan Fransiskus (dan “privilegium paupertatis”) Pola Dasar Hidup itu tidak dapat diakui sebagai Anggaran Dasar oleh Sri Paus. Ada juga biara-biara yang terus mengikuti konatitusi-konatitusi Hugolinus, yang berselubung Anggaran Dasar Benediktus, tanpa Pola Dasar Hidup tersebut dan tanpa “privilegium paupertatis”. Dan ada lagi yang mengikuti Anggaran Dasar Benediktus yang baru itu.

Gregorius IX meninggal pada tahun 1241. Maka, kiranya sepengetahuan Klara, Agens segera mengajukan permohonan kepada penggantinya, Paus Innocentius IV (th.1243-1254). Ia mohon, agar Anggaran Dasar Benediktus dicabut saja (dan diizinkan menulis Anggaran Dasar sendiri). Permohonan Agnes ditolak. Anggaran Dasar Gregorius IX tetap berlaku, tetapi sebagai dasar hukum saja, menurut keterangan innocentius IV. Malah pada tahun 1246 Inosentius kembali meneguhkan Anggaran Dasar Hugolinus, jadi mencabut Anggaran Dasar Gregorius IX, yang dinilai terlalu keras.

Memang amat mengagumkan caranya Agnes yang terus didukung Klara bergulat dengan Sri Paus sendiri dan Sri Paus tidak naik pitam karena nekad semacam itu. Sekaligus nampak betapa Agnes dan Paus saling menghargai dan menghormati. Betapa cita-cita injili yang dipribadikan dua wanita berbentrokan dengan realisme politik kepala Gereja! Tetapi semuanya itu tidak menjernihkan situasi dan tidak melayani keinginan Agnes dan Klara. Tidak boleh diragukan bahwa Agnes dalam pergulatan mewakili Klara. Seandainya Agnes berhasil, Klara pun aman. Sebab kedua-duanya tetap menginginkan suatu Anggaran Dasar yang sesuai dengan cita-cita mereka. Sementara itu tetap ada macam-macam biara “Klaris” dengan gaya hidupnya sendiri.

Sementara itu Klara sendiri di St. Damiano mengalami masa yang gawat di bidang lain. Kaisar Frederik II yang berperang dengan Sri Paus menyerbu Italia. Pada tahun 1240 Kaisar dengan pasukan sewaan (muslimin) lewat Asisi. Tentara itu pun menyerang St. Damiano, yang terletak di luar tembok kota. Mereka memasuki (kebun) biara, Klara yang sudah lama sakit-sakitan – sejak Fransiskus masih hidup – mesti melindungi saudari-saudari yang tentu saja mati ketakutan. Klara dibawa ke bangsal makan, tempat saudari-saudari berkumpul. Klara dan para saudari berdoa. Klara menyuruh membawa Sakramen Mahakudus, entahlah siapa yang membawa, yang tersimpan dalam kotak dana yang dibuat dari gading. Begitu Klara menangkis pasukan yang suka merampok itu. Sebab entahlah bagaimana, tentara itu mengundurkan diri dan tidak terjadi apa-apa. Pada kesempatan itu Klara menguatkan para saudari dengan firman Kristus yang didengarnya: “Aku selalu akan melindungi kalian”. Saudari-saudari lain pun mendengar suara itu.

Tahun berikutnya, 1241, pasukan muslimin itu, dipimpin oleh panglima Vitalis dari Aversa, kembali dan man mengepung kota Asisi untuk dirampoki. Penghuni kota minta para saudari di St. Damiano untuk mendoakan keselamatan kota. Dan nyatanya tidak terjadi apa-apa. Menurut keyakinan penduduk Asisi, berkat doa Klara. Sampai sekarang peristiwa itu masih dipestakan di Asisi pada tanggal 22 Juni.

 BAB IX
 MEMPERKUAT BANDAR TUAN PUTERI KEMISKINAN

Klara tidak hanya membela “Saudari-saudari Miskin” di St. Damiano terhadap serangan dari pihak tentara muslimin, tetapi ia pun terus mesti mempertahankan benteng kemiskinan itu terhadap maksud baik pejabat-pejabat Gereja Yesus Kristus yang miskin. Kerena itu Klara terus memperkuat benteng itu dari dalam dengan membangun komunitas yang semakin berkembang.

Nama Klara makin hari makin bercahaya dan bersinar. Pingitan ketat tidak dapat memadamkan atau menyuramkan cahaya injili itu. Klara seorang mistika Kristus yang tersalib. Mistik itu semakin berkembang dan mendekati puncaknya. Kadang-kadang – begitu diceritakan – Klara masuk ekstase mistik yang berjam-jam lamanya mencekap seluruh dirinya. Sekali peristiwa pada Kamis Putih, Klara diserap oleh Kristus yang menderita, sehingga selama sehari semalam tidak menyadari lingkungannya. Kalau saudari-saudari datang melihat bagaimana keadaan Klara, ia tetap dalam keadaan yang sama. Ketika menjadi sadar akan lingkungannnya, Klara malah heran bahwa sudah semalam sehari berlalu dengan tidak disadarinya. Mistik sengsara itu pun terungkap dalam kebiasaan Klara membaca “Ofisi sengsara” karangan Fransiskus.

Dan Mistik sengsara itu tidak hanya nampak dalam ekstase, tetapi juga secara jasmani menjadi kelihatan. Klara selama 28 tahun dalam hidupnya sakit-sakitan, kiranya juga akibat ulah-tapanya yang tidak tahu batas. Tidak jarang Klara mesti tetap di tempat tidurnya dan dari tempat tidur itu ia membimbing komunitasnya, sambil tidak berhenti menangani kerja tangan (menyulam dan sebagainya).

Klara tidak hanya seorang mistika, tetapi juga seorang karismatika. Ia antara lain mendapat karunia penyembuhan. Ia banyak dicari orang sakit, sampai di tempat tidurnya. Ternyata tidak sedikit orang yang tertolong olehnya. Hanya karisma itu kurang bermanfaat bagi diri Klara sendiri. Ia tidak menyembuhkan dirinya dari penyakitnya yang terus menjadi-jadi saja. Klara malah tidak terlindung terhadap celaka yang sangat fatal. Sekitar tahun 1247 ia jatuh, tertindih daun pintu yang berat sekali. Klara tidak mampu membebaskan dirinya, sehingga mesti ditolong oleh beberapa saudari yang mengangkat daun pintu itu. Memang karismata selalu diberi demi untuk orang lain, bukan demi si karismatik sendiri. Klara tahu hal itu, sebab juga dalam penderitaan jasmaninya wajahnya tetap berseri. Dan begitu di bidang itu pun ia memberi hati kepada para saudari. Sebab dari berita yang tersedia, cukup terang bahwa tidak jarang sejumlah saudari yang relatip besar dihinggapi macam-macam penyakit. Klara selalu sedapat mungkin menjamin perawatan. Hanya di masa itu ilmu kedokteran belum maju dan sebagian besar berupa, tahyul belaka. Karena itu selalu ada sejumlah saudari yang sakit parah yang mesti dirawat. Sebagian rumah disediakan bagi perawatan itu dan diberi perlengkapan yang sepadan. Di bagian rumah itu aturan-aturan biasa tidak berlaku lagi, supaya yang sakit selalu bisa dihibur sebaik mungkin. Klara, si karismatika penyembuh orang sakit, di sana berlaku sebagai perawat, bukan sebagai tabib.

Nama Klara semakin harum. Ia sendiri dapat mendengar pujiannya sendiri, seperti yang didengungkan Tomas dari Selano dalam riwayat hidup Fransiskus yang dikarang oleh Saudara Dina sasterawan itu. Bunyinya sebagai berikut: “Di atas dia (Klara) menjulang tinggi bangunan meriah berhiaskan mutiara paling berharga, yang mendapat pujian dari Allah, bukan dari manusia. Sebab sungguh tak terperikan, entah oleh pemahaman kami yang terbatas, atau oleh kosa kata kami yang miskin “. Dan pujian itu ditulis pada tahun 1232 dan dibacakan setiap tahun pada pests St. Fransiskus, yang ramai-ramai dihadiri oleh orang banyak. Mendengar pujian semacam itu Klara kiranya senyum simpul saja atas kebodohan itu, yang sudah dikecam oleh firman Allah yang menegaskan: jangan memuji orang sebelum mati.

Nama harum Klara itu pasti turut menarik wanita yang semakin banyak ke St. Damiano. Pada tahun 1233 jumlah penghuni St. Damiano mencapai angka 50. Bagaimana saudari sebanyak itu dapat ditampung di rumah yang kecil itu sukar dibayangkan. Tetapi nyatanya terjadi. Sebab tidak ada berita bahwa selagi Klara hidup komplek St. Damiano pernah diperluas. Saudari-saudari itu pasti berdesak-desakan. Tidur bersama di bangsal tidur, makan bersama di ruang makan; bersembahyang bersama, berdiam diri bersama, berpuasa dan berpantang bersama. Dan yang masuk di St. Damiano, datang dari segala lapisan masyarakat dan berbagai daerah. Ada bangsawati, tetapi juga ada yang berasal dari kalangan warga kota, kaum kaya baru, pun pula dari “populo grasso”, lapisan rendah dalam masyarakat kota di abad pertengahan.

Tentu saja agak sukar membina dan mempertahankan persaudaraan sejati dalam komunitas semacam itu. Tetapi justru persaudaraan rohani itulah yang dipentingkan Klara. Gagasan “persaudaraan” rohani itu tentu saja bukanlah suatu yang serba baru. St. Augustinus sudah mengembangkan gagasan injili itu serta menekankan pelaksanaan gagasan itu dalam kelompok rohaniwan (dan rohaniwati) seperti yang didirikan Augustinus di kota Hipo. Tetapi, sama seperti Fransiskus, Klara kembali menekankan gagasan itu sebagai tiang penopong komunitas injili. Dari Anggaran Dasar Fransiskus, Klara mengutip desakan sebagai berikut: “Dan kalau seorang ibu mencintai dan mengasuh anak kandungnya, apa pula seorang saudari harus mencintai dan mengasuh saudari rohaninya dengan seksama”. Persaudaraan itu memang bukanlah persaudaraan menurut daging, melainkan “dalam roh”. Dan roh itulah yang membongkar segala pemisahan dan rintangan yang terpasang antara klas-klas dalam masyarakat biasa. Pemaudaman rohani tidak tahu akan perbedaan semacam itu. Tentu saja juga di St. Damiano kemanu¬siaan serta kerapuhannya kadang kale memperlihatkan hidungnya. Tetapi “abdis dan saudari-saudarinya jangan marsh atau jengkel karena dose seseorang, sebab keKlarahan dan rasa jengkel meng¬halangi kasih di dalam dirinya dan di dalam orang lain”. Saling memaafkan dan mengampuni menjadi kaidah yang tertinggi. Me¬meliham persatuan kasih persaudaraan dan ketentraman mesti menjadi keprihatinan semua, sebab persatuan kasih timbal-balik merupakan pengikat yang membulatkan kesempurnaan. Karena itu salah satu ajakan tertulis yang terakhir diberikan Klara kepada kelompok di St. Damiano berbunyi: “Sambil saling mencintai demi kasih Kristus, hendaklah kalian dengan perbuatan menyatakan di luar, kasih yang kalian taruh di batin. Dengan demikian para saudari tertantang oleh teladan itu semakin maju dalam kasih kepada Allah dan cinta satu sama lain”.
Klara memang memahami seluruh Injil Yesus Kristus dan ingin menghayatinya secara menyeluruh pula. Dan sumber kekuatan sudah barang tentu tidak lain dari Roh yang mencetuskan Injil itu dan menyodorkannya kepada. Klara sebagai pedoman hidupnya. Maka semua saudari mesti menimba kekuatan di situ. Oleh karena itu “Hendaklah mereka memperhatikan baik-baik bahwa apa yang paling mesti mereka inginkan ialah: Mempunyai Roh Tuhan dalam dirinya dan daya kerjaNya yang kudus; selalu berdoa kepadaNya, dengan hati yang murni bersih; merasa diri rendah dan menjadi sabar-tekun dalam, kesusahan dan sakit; mencintai mereka yang menganiaya kita, mengecam dan mencela”. Dalam hal itu pun Klara benar-benar adalah “tanaman”, cangkokan sejati dari Fransikus, dan bukan “tanaman kecil”.

Suasana persaudaraan rohani itu yang merupakan lingkup, tempat Tuan Puteri Kemiskinan, yang dicintai dan dipeluk Klara, tetap dapat segar dan cantik menawan. Sebab dalam suasana itulah para saudari dapat menganggap dan mengalami “kemiskinan, kekurangan, kedinaan dan kehinaan sebagai hal yang sangat menyenangkan”.

Sementara Klara memperkuat dengan cara demikian, “bandar kemiskinan” (begitulah bunyi suratan yang terukir di atas pintu masuk St. Damiano) dari dalam, terpasanglah juga kubu pertahanan di luar tembok St. Damiano. Sebab ternyata pengaruh Klara di luar St. Damiano juga menanjak. Ia tidak hanya menjadi buah-bibir di kalangan bangsawan dan bangsawati dan lain-lain lingkungan. Memanglah di masa itu ada semacam “mode” berbincang-bincang tentang gejolak hidup keagamaan dan macam-macam aliran serta kelompok pembaharuan yang bermunculan. Tetapi sekitar Klara halnya tidak hanya berbincang-bincang. Sebab ada cukup banyak wanita, baik yang perawan maupun yang bersuami, yang di tempatnya masing-masing mencoba meneladani gaya hidup baru, seperd dianjurkan Klara. Pengaruh itu tentu saja terutama terasa di kalangan para “poenitentes”. Dengan demikian juga di sekitar St. Damiano, sama seperti di sekitar Fransikus, mulai berkembang sesuatu yang boleh diistilahkan sebagai semacam “Ordo Ketiga” St. Klara.

Klara dan komunitasnya di St. Damiano memang membutuhkan kekuatan batiniah yang luar biasa untuk menghadapi serangan terakhir atas cita-citanya dan terus berpegang pada peringatan Fransikus yang terakhir ini: “Hendaklah kalian awas sekali, jangan sampai kalian sedikit pun mundur dari hidup tersuci dan kemiskinan itu atas ajaran atau nasehat siapa pun”

Serangan yang amat halus itu sekali lagi datang dari instansi tertinggi Gereja Katolik, yakni Paus, lnnocentius IV. Paus itu melarikan diri ke Perancis, ke kota Lyon (dari tahun 1244 sampai 1251) terhadap Kaisar Fredrik II untuk mendapat perlindungan dan dukungan dari pihak raja Perancis (Ludovikus IX yang bersimpati dengan gerakan Fransiskan). Salah satu masalah Paus ialah soal yang sudah lama berlarut-larut: Situasi biara-biara yang lebih kurang bergabung dengan St. Damiano dan berkiblat ke situ masih tetap jauh dari jernih dan jelas.

Maka pada tahun 1247 Innocentius mengeluarkan suatu Anggaran Dasar baru bagi biara-biara itu. Paus, agaknya mau melayani sedikit keinginan pengikut-pengikut Klara dan Agnes dari Praha. Anggaran Dasar ciptaan Hugolinus/Gregorius IX dicabut. Anggaran Dasar yang baru itu oleh Inosentius IV disebut sebagai “Anggaran Dasar Fransiskus”. Pembinaan para saudari dipercayakan kepada Saudara-Saudara Dina. Yang terakhir ini tentu saja menyenangkan Klara. Tetapi ia tidak dikelabui oleh sebutan muluk-muluk: “Anggaran Dasar Fransiskus”. Sebab Anggaran dasar itu sebenarnya tidak bersangkutan sedikit pun dengan Fransiskus. Bebarapa hal dalam Anggaran Dasar baru itu diatur dengan lebih lunak dari pada dalam Anggaran Dasar Hugolinus/Gregorius IX, khususnya sehubungan dengan puasa. Paus sebenarnya hanya mengesahkan apa yang sudah lama dipraktekkan. Demikian pula penetapan sehubungan dengan kemiskinan. “Privilegium paupertatis” sejak awal hanya diberikan kepada St. Damiano. Kemudian diperluas juga untuk biara di Monticeli, Perugia dan Praha. Biara-biara lain yang bergabung dengan Klara sejak awal mempunyai harta-milik tetap. Kardinal Hugolinus sendiri, juga sebagai Paus Gregorius IX dengan murah hati melengkepi beberapa biara dengan harta-milik yang diambil dari harta-milik Hugolinus sendiri.

Tetapi Anggaran Dasar Innocentius IV yang baru itu sebenarnya mencabut “privilegium paupertatis”. Semua biara, termasuk St. Damiano, diizinkan mendapat harta-milik tetap.
Anggaran Dasar Innocentius IV tersebut teruntuk bagi “Abdis dan para rubiah Ordo St. Damiano”. Tidak terlalu jelas berapa banyaknya biara yang termasuk “Ordo St. Damiano” itu. Hanya diketahui bahwa pada tahun 1248 ada sebanyak 23 biara di Italia (dan Trente). Sejak tahun 1228 sudah ada sebuah biara di Pamplona (Spanyol); sejak 1234 ada biara Agnes di Praha dan pada tahun 1237 sejumlah saudari dari St. Damiano membuka sebuah biara di Ulm, Jerman, dan sejak tahun 1220 ada biara-biara di Perancis.

Nyatanya “Anggaran Dasar Fransiskus” karangan Innocentius IV tidak diterima baik oleh semua “saudari-saudari Ordo St. Damiano” itu. Boleh diandaikan protes terutama datang dari Klara, adiknya Agnes dan Agnes dari Praha dan biara-biara lain yang memiliki “privilegium paupertatis” yang dicabut oleh Anggaran Dasar itu. Sebab dengan demikian unsur khas dan dasariah gaya hidup Klara hilang dan para pengikut Klara menjadi sama dengan sekian banyak rubiah lain, diantaranya rubiah Benediktus atau Bernardus.

Protes dari pihak saudari berhasil, sejauh Innocentitis IV pada tahun 1250 menyatakan bahwa Anggaran Dasarnya “fakultatip”, berarti tidak mewajibkan biara-biara yang tidak mau menerimanya. Tentu saja akibatnya ialah: kekacauan tambah besar dan kebingungan sekitar situasi para pengikut Klara semakin meniadi-jadi. Sekali lagi Klara berhasil menyelamatkan cita-citanya, tetapi jelas tidak aman sama sekali.

 BAB X
HIKMAT-KEBIJAKSANAAN YANG KELUAR DARI MULUT ALLAH MENGINJAK-INJAK TIPU MUSLIHAT SI MUSUH YANG CERDIK

Serangan terakhir atas cita-citanya, yang mengibarkan bendera Fransiskus, membuka mata Klara. Cita-cita dasariah dapat terancam dari pihak pimpinan tertinggi dalam Gereja. Klara juga tidak dapat menaruh terlalu banyak kepercayaan pada Saudara-saudara Dina. Sebab pengingkut-pengikut Fransiskus terus bertikai dan berkelahi satu sama lain sekitar gaya hidupnya. Minister umum, Elias, seorang kepercayaan Klara, pada tahun 1239 sudah dipecat dari jabatannnya karena kebijaksanaannya yang terlalu otoriter dan yang mendorong perkembangan ordo ke arah yang tidak dapat disetujui teman-teman Fransikus dahulu dan saudara-saudara rohaniwan. Setelah dipecat, Elias membelot kepada Kaisar Jerman, musuh kawakan Sri Paus. Saudara-saudara Dina mulai terlibat dalam bentrokan politik antara Kaisar dan Sri Paus: sebagian mendukung Kaisar, dan sebagian lagi mendukung Paus.

Situasi antara para Saudara-Saudara Dina turut membahayakan cita-cita Klara. Sebab pertikaian itu menyangkut kemiskinan. Ada sejumlah saudara “ zelanti “, dipimpin oleh bekas teman-teman Fransiskus, orang bersemangat, yang ingin meneruskan gaya hidup semula yang mengandaikan kemiskinan mutlak. Tetapi ada juga sekelompok besar saudara (communitas) yang mendukung perkembangan ordo ke arah klerikal, karya pastoral yang melembaga dan studi ilmiah. Semuanya itu mengakibatkan bahwa praktek kemiskinan, seperti diperlihatkan Fransiskus, semakin diperlunak melalui macam-macam ”tafsiran” dan dispensasi. Klara tidak melibatkan diri dalam pertikaian itu. Ia bersahabat dengan “zelanti”, seperti Leo atau Aegidius, tetapi juga mempunyai hubungan baik dengan Minister-minister umum yang mendukung perkembangan itu. Tetapi sudah jelas bahwa Klara tidak boleh mengharapkan terlalu banyak dukungan dari pihak Saudara-saudara Dina.

Syukurlah sejak tahun 1248 Klara mendapat dukungan kuat dari pihak kardinal pelindung, Raynaldus, uskup Ostia dan Velletri. Raynaldus dei Conti di Segni itu adalah kemenakan Gregorius IX (Hugolinus) dan sejak 1227 (ketika Hugolinus menjadi Paus) kardinal pelindung Saudara-saudara Dina. Raynaldus itu nantinya akan menjadi Paus Alexander IV.

Dalam situasi semacam itu Klara merasa perlu menyusun Anggaran Dasarnya sendiri dan mengusahakan pengesahan oleh takhta apostolik. Hal ini semakin mendesak oleh karena penyakit Klara semakin parah. Pada tahun 1260 ia mengalami krisis gawat, sehingga sudah diberi sakramen orang sakit, di masa itu disebut sakramen orang yang mendekati ajalnya. Klara menjadi sembuh sedikit, tetapi jelaslah bahwa hidupnya tidak lama lagi. Selanjutnya Klara hampir terus menerus berbaring di tempat tidurnya.

Sekitar tahun 1251 Klara selesai menyusun Anggaran Dasarnya sendiri, yang mungkin sudah dimulai tahun 1247. Kalau demikian, maka Klara mulai mengarang Anggaran Dasarnya sendiri pada saat Inosentius mengeluarkan “Anggaran Dasar Fransiskusnya” yang menyangkal fransiskanisme Klara. Dalam menyusun Anggaran Dasarnya, Klara mungkin sekali mendapat bantuan dari Kardinal Raynaldus. Anggaran Dasar Klara itu merupakan gabungan antara saduran Anggaran Dasar Fransiskus (th.1223 dan 1221), beberapa dokumen dasariah (Pola Dasar Hidup, Wasiat Fransiskus, “privilegium paupertatis”) dan aturan-aturan yang disadur seperlunya, dari konstitusi-konstitusi Hugolinus dan Innocentius IV. Ditambah beberapa hal dari pengalaman Klara sendiri. Dan keseluruhan Anggaran Dazar itu disusun Klara dengan memakai latar belakang “kebinsaan-kebiasaan St. Damiano”. Oleh karena Klara memanfaatkan berbagai dokumen resmi yang disyahkan, Klara sedikit banyak terluput dari larangan konsili Lateran IV sehubungan dengan Anggaran Dasar baru. Maka para ahli hukum Paus tidak terlalu banyak berkeberatan dan lebih kurang merasa puas.

Pada tahun 1252 Klara sakit parah lagi. Sejak saat itu, ia tidak dapat bangun dari tempat tidurnya sampai ia meninggal. Anggaran Dasarnya sudah selesai disusun. Waktu dikunjungi kardinal Raynaldus dan diberi komuni suci olehnya, Klara meminta agar beliau sebagai kuasa Paus mensahkan Anggaran Dasarnya itu. Permohonan itu dilayani juga. Pengesahan itu pasti menghibur Klara, meskipun ia belum merasa aman seluruhnya. Pada tahun itu juga Klara mendapat pengalaman mistik yang luar biasa. Dari atas tempat tidurnya di St. Damiano ia dapat mengikuti perayaan Natal di Gereja Saudara-saudara Dina, tempat Fransiskus dikuburkan, dan yang dibangun secara meriah oleh Minister umum, Elias. Hati Klara tetap bersatu dengan Fransiskus yang pernah memperagakan Kristus di palungan. Tidak lama kemudian, tahun 1253, adik Klara Agnes kembali ke St. Damiano, barangkali dipanggil oleh Klara. Pada waktu yang kira-kira sama, Klara menulis suratnya yang terakhir kepada Agnes dari Praha. Surat itu semacam Surat minta diri dan kesaksian kentara atas kematangan rohani Klara. Selama sakitnya yang terakhir, Klara masih ramai-ramai dikunjungi, baik oleh bekas-bekas teman Fransiskus, seperti Yuniperus, Angelo dan Leo, maupun oleh rohaniwan terkemuka.

Masih tinggal satu hal untuk diselesaikan. Yaitu Pengesahan Anggaran Dasar tulisan Klara oleh takhta apostolik, Sri Paus sendiri. Agak kebetulan Paus Innocentius IV dengan iringannya tinggal di Perugia dan Asisi (Mei-Oktober). Setelah musuhnya yang paling dahsyat, yaitu Kaisar Frederik II meninggal pada tahun 1250, Paus kembali dari Perancis pada tahun 1251. Paus mendengar tentang sakitnya Klara dan langsung mengunjunginya sampai dua kali. Kesempatan itu dimanfaatkan Klara untuk memohon pengesahan Anggaran Dasarnya. Pada tanggal 9 Agustus 1253 permohonan Klara secara lisan dikabulkan Sri Paus yang sedang mengunjungi Klara. Segera dokumen resmi disusun oleh pegawai-pegawai Paus di Perugia; hari berikutnya sudah diantar oleh seorang Saudara Dina ke St. Damiano. Dengan gembira dan rasa puas Klara mencium dokumen itu, hasil perjuangan selama empat puluh tahun. Hari berikutnya, tanggal 11 Agustus 1253 Klara dengan tenang hati beralih kepada Mempelai surgawinya.

Tidak diragukan bahwa dalam seluruh urusan pengesahan Anggaran Dasar Klara itu kardinal Raynaldus, yang berada dalam iringan Paus, memegang peranan besar. Kardinal itu memang dengan sebulat hati mendukung Klara.

Sampai akhir Klara masih berbincang-bincang dengan saudari-saudarinya serta menasehati dan memberkati mereka. Antara lain ia pernah berkata kepada mereka: “Adakah kalian melihat Raja kemuliaan yang saya lihat?” Memang tepatnya kata-kata yang lain ini: Berbahagialah di mata Tuhan kematian orang kudus-Nya (Mzm.116:15). Dua minggu sesudahnya yakni 27 Agustus, juga adik Klara, Agnes meninggal di St. Damiano. Paus Innocentius IV pribadi dengan seluruh iringannya datang mengantar jenazah Klara ke Gereja St. Giorgio di Asisi, untuk dikuburkan di situ. Paus menginginkan bahwa sebagai pengganti ofisi orang mati dinyanyikan ofisi para perawan. Tetapi kardinal Raynaldus mencegah Sri Paus dengan berkata sebaiknya mengikuti saja kebiasaan. (Jenazah St. Klara pada tahun 1260 dipindahkan ke Basilika St. Chiara di Asisi). Atas nama para saudari di St. Damiano sepucuk surat diedarkan kepada “semua saudari Ordo St. Damiano” yang terpencar di semesta dunia. Memang waktu Klara meninggal sekitar 120 biara berorientasi kepada St. Damiano.

Begitulah kebodohan salib yang adalah hikmat-kebijaksanaan Allah menang atas hikmat-kebijaksanaan dunia, yang malah dilayani oleh pejabat tertinggi Gereja Katolik. Sayangnya kemenangan hikmat kebijaksanaan Injil yang mempribadi dalam diri Klara kemudian nyatanya bukan kemenangan cita-citanya secara definitip. Anggaran Dasar Klara tersebut yang disyahkan oleh Sri Paus, hanya disyahkan untuk St. Damiano saja, bukan untuk “Ordo St. Damiano”. Ternyata hanya beberapa biara rela mengambil alih Anggaran dasar Klara tersebut. Kecuali St. Damiano, biara di Monticelli, Siena, Lucca dan Praha kiranya menerima Anggaran Dasar itu. Tetapi paling tidak duabelas biara tetap berpegang pada Anggaran Dasar Hugolinus. Dan masalah yang menyebabkan bahwa Anggaran dasar Klara tidak diterima secara luas, justru apa yang paling dasariah bagi Klara yaitu kemiskinan tertinggi seperti yang tertuang dalam “privilegium paupertatis”.

Sepuluh tahun setelah Klara memenangkan Anggaran Dasarnya, Paus Urbanus IV (thn 1263) mengeluarkan “Anggaran Dasar bagi Ordo St. Klara”. Untuk pertama kalinya muncul nama “Ordo St. Klara” itu. Tetapi Anggaran Dasar Urbanus IV, yang memuji Klara setinggi langit, mencabut “privilegium paupertatis” dan menghilangkan ciri fransiskan dari Ordo St. Klara itu. Bahkan kelompok St. Damiano, yang pada tahun 1257 pindah ke lokasi lain di kota Asisi, pada tahun 1288 melepaskan “privilegium paupertatis” dan menerima saja harta mili tetap, sama seperti semua mereka yang mengadopsi Anggaran Dasar Urbanus IV. Begitulah jadinya bahwa pengikut-pengikut Klara sendiri membatalkan kemenangan pribadi Klara yang dipuji-puji sebagai “pendiri Ordo St. Klara” dan dipuja sebagai orang kudus. Sebab sahabat dan pendukung Klara sampai akhir kardinal Raynaldus sebagai Paus Alexander IV (th.1254-1261) pada tahun 1255 meresmikan Klara sebagai orang kudus.

 BAB XI
 LA POVERELLA

Meninjau kembali riwayat hidup dan hal-ihwal Klara orang tentu mengagumi wanita yang bersemangat baja itu. Orang kagum atas keseimbangan kepribadiannya. Dan itu semakin mengherankan mengingat zamannya, waktu seluruh kekristenan di Eropa, jauh dari keseimbangan, waktu tampil sekian banyak tokoh yang tidak seimbang. Kendati ketegangan terus-menerus antara kekatolikannya dan semangat injili, karismatik dan kenabian, Klara berhasil menanggung ketegangan itu dan dengan sepenuh-penuhnya mempertahankan kedua-duanya. Dan justru dalam hal itulah terletak kebesaran kepribadian rohaninya.

Demi cintanya kepada Kristus yang benar-benar hidup bagi Klara dan yang beristerikan Tuan Puteri Kemiskinan, Klara berani, bergulat dengan siapa pun, dengan familinya, dengan pejabat-pejabat Gereja, dengan Sri Paus sendiri. Dan Klara menjadi berani justru oleh, karena ia miskin secara total dan menyeluruh. Dan begitu Klara berbeda dengan sekian banyak tokoh di zamannya dan di lain-lain zaman, yang hanya pura-pura miskin atau hanya separuhnya. Kemiskinan menyeluruh itu dapat membakar semangat Klara sedemikian rupa sehingga hatinya mencetuskan sajak dan nyanyian sebagai berikut:

O Kemiskinan yang bahagia,
yang memberikan kekayaan kekal kepada mereka
yang mencintai
dan memeluknya!
O Kemiskinan yang 8uci
kepada mereka yang memiliki dan menginginkannya,
dijanjikan oleh Allah kerajaan sorga
dan pasti diberikan kemuliaan kekal dan hidup bahagia.
O kemiskinan yang berbakti
yang mau diutamakan dan dipeluk
oleh Tuhan Yesus Kristus
yang dahulu dan sekarang memerintah langit dan bumi,
yang berkata ma ] [ka terjadi semua.

Bagi orang yang dapat menyanyi dengan cara demikian, kemiskinan itu bukan soal ekonomi, melainkan masalah religius yang mendasar, yang menyangkut seluruh eksistensinya.  Memang gelar yang paling tepat bagi Klara ialah “La Poverella”. “La Poverella” tampil dalam abad ketiga belas di samping “Il Paverello” sebagai “separuh hatinya”. Gejolak religius yang di masa itu melanda kekristenan, oleh karena kembali menjadi sadar akan Injil Yang mempribadi dalam Yesus Kristus, dikristalisasikan oleh kedua tokoh itu. Dari gejolak itu mereka berdua menyelamatkan apa yang benar-benar otentik dan bernilai. Yaitu suatu visi atas dunia dan kehidupan, bersumberkan Injil, yang langsung berlawanan dengan apa yang menjiwai masyarakat sipil dan gerejani: gengsi, kekuasaan, uang.

Apakah orang mesti menyebut Klara sebagai “La Poverella” dalam arti: kasihan dengan dia yang empat puluh tahun berjuang untuk secara legal dalam rangka Gereja Katolik menobatkan tuan puteri kemiskinan, yang segera ditinggalkan, malah oleh mereka yang bersumpah setia kepadanya? Orang memang berkesan demikian, kalau melihat hal-ihwal cita-cita Klara (dan Fransiskus) dalam sejarah selanjutnya. Orang boleh sertanya: Apakah Klara (dan Fransiskus) tidak menawar sesuatu yang tidak real, yang melampaui kemungkinan manusia dalam dunia seadanya? Klara memang insaf – seperti diungkapkannya dalam wasiatnya – bahwa apa yang ia tawarkan “jalan sempit dan pintu sesak”. Ia tahu bahwa “hanya sedikit saja orang yang bisa melewati jalan itu dan masuk. Kalau pun ada orang yang untuk sementara waktu menempuh jalan itu, namun hanya sedikit saja orang yang sertahan”. Namun demikian Klara tetap yakin bahwa mesti menawarkan penemuannya, panggilannya. sebagai “anugerah yang paling besar”.

Dengan utuh, panjang lebar dan terperinci Klara menuangkan panggilannya dan cita-citanya itu ke dalam dokumen yang disebut sebagai “wasiatnya”. Untuk mengenal kepribadian matang Klara, dokumen itulah yang pantas dipelajari. Maka jelaslah bahwa Klara dengan keyakinan yang mendalam meninggalkan warisannya tidak hanya bagi saudari-saudarinya, tetapi melalui mereka diwariskan kepada seluruh umat Allah. Umat Allah itu selalu bergumul dengan Injil Yesus Kristus. Injil itu terus mengganggu umat Allah, seolah-olah suara kalbunya, biar terus dilanggar, ditindas, disingkirkan. Setiap kali Injil itu seolah-olah bangkit kembali dan selalu mengganggu. Demikian pula halnya dengan mutiara yang digali Klara (dan Fransiskus) dari Injil itu dalam abad ketiga belas. Penghayatan Injil sebagaimana yang dicita-citakan Klara dan Fransiskus, terus menggugah hati orang-orang yang dipanggil Tuhan melalui jalan sempit itu; dan melalui mereka itu Allah menggugah hati umatNya. Beberapa kali sepanjang sejarah cita-cita Klara sudah terkubur, tetapi setiap kali dibangkitkan kembali, justru oleh karena dari dalam kubur masih bersuara dan mengganggu. Biar dilanggar, biar ditindas, biar disingkirkan, warisan Klara tidak dapat dibunuh lagi.

Meskipun Klara merasa diri dipanggil oleh Tuhan, “yang berkenan menerangi hatinya”, dan yakin tentang apa yang mesti ia sumbangkan kepada umat Allah sepanjang masa, namun ia pun cukup “miskin” untuk tidak menaruh kepercayaan kepada dirinya dan membuat dirinya menjadi sasaran harapan. Ia tahu bahwa cita-citanya mempunyai ciri eskatologis, termasuk ke dalam dan teruntuk bagi dunia lain, dunia ciptaan Allah melalui Yesus Kristus. Selalu hanya akan ada sebuah “kawanan kecil yang dilahirkan Bapa di dalam Gereja-Nya untuk mengikuti kemiskinan dan kerendahan Anak Bapa yang terkasih serta kemiskinan dan kerendahan Bunda-Nya, Perawan yang termulia”. Dan kawanan kecil itulah yang berperan di dalam dunia sekarang ini sebagai teladan dan cermin dunia lain itu bagi seluruh umat Allah, supaya selalu insaf akan apa yang sungguh-sungguh bernilai dan berharga.

“La Poverella” tidak meminta kasihan bagi dirinya dari pihak siapa pun. Perjuangan, eksistensi Klara, sebenarnya tidak gagal. Ia tetap pemenang yang jaya, dalam segala-galanya senasib dengan Tuhan dan Mempelainya. Dengan mengajak Agnes dari Praha, Klara sebenarnya menggambarkan kepribadian rohaninya sendiri sebagai berikut:

Ya, ratu dan penganten Kristus, hendaklah tiap-tiap hari bercermin kepada-Nya dan mengamati wajah anda di sana. Dan dengan demikian hendaklah anda berdandan, lahir batin dan selengkap-lengkapnya, berpakaian dan berselubungkan kain beraneka warna, berhiaskan bunga-bungaan dan dandanan segala kebajikan, sebagaimana mestinya, ya puteri dan penganten terkasih Raja Yang Mahatinggi.

Dalam cermin itu terpantul kemiskinan bahagia, kerendahan yang suci dan kasih yang tak terperikan, sebagaimana berkat kasih karunia Allah anda sendiri dapat mengamatinya terpapar pada seluruh cermin itu.

Saya berkata: perhatikanlah bagian pertama cermin itu, ialah kemiskinan Dia yang terletak di palungan terbendung dengan lampin.

O Kerendahan yang patut dikagumi!
O kemiskinan yang menakjubkan!
Raja segala malaikat, Tuhan langit dan bumi, dibaringkan di palungan.

Di bagian tengah cermin itu amatilah kerendahan, paling tidak kemiskinan bahagia, susah-payah yang tak terbilang banyaknya serta sengsara yang Ia tanggung untuk menebus umat manusia.

Di bagian terakhir cermin itu pandanglah kasih yang tak terperikan, yang oleh karenanya Ia rela menderita di kayu salib dan wafat padanya dengan cara yang jijik.

Terpasang pada salib, cermin itu sendiri mengajak semua yang lewat untuk memperhatikan di situ apa yang mesti dipandang. Ia berkata: Hai sekalian orang yang berlalu di jalan, pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihan-Ku. Mari kita, demikian kata (Alkitab), dengan sehati dan sesuara, menjawab Dia yang berseru dan menjerit itu: Aku selalu teringat dan jiwaku melebur di dalam diriku. Semoga oleh kehangatan kasih itu anda selalu semakin menyala, o permaisuri Raja sorgawi.
Dan juga dengan memandang kesukaanNya yang tak terkatakan, kekayaan dan kehormatan abadi, hendaklah anda sambil rindu karena kasih dan hasrat hati, berseru:

Tariklah aku di belakangMu,
marilah kita cepat-cepat berlari ke bau harum wangi-wangian-Mu,
hai Mempelai sorgawi.
Aku man berlari dan tidak berhenti
sampai Engkau membawa aku masuk ke dalam rumah anggur
sampai tangan kiri-Mu ada di bawah kepalaku
dan tangan kanan-Mu memeluk aku menjadi kebahagiaanku,
dan dengan kecupan mulut-Mu yang paling membahagiakan Engkau mencium aku.

Itulah Klara yang jatuh cinta kepada Kristus dan mengikuti-Nya di jalan hidup-Nya sampai akhir. Bukan akulah yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam aku. Sambil bercermin Klara tidak melihat mukanya sendiri melainkan wajah Kristus.

(Cipanas, 28 Agustus 2012, Alfons S. Suhardi OFM)