Pengantar Tulisan-Tulisan St. Clara

Dilihat: 854 kali

[ Index Buku  St. Clara dan Warisan Rohaninya ] [ Index Ordo St. Clara ]

Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan terbitan Latin
C. Groenen, OFM  

KATA PENGANTAR
Terjemahan tulisan-tulisan St. Klara dari Asisi ke dalam bahasa Indonesia ini dikerjakan menurut terbitan latin yang diselenggarakan oleh I. Boccali, Textus Opusculorum S. Francisci et S. Clarae Assisiensium, Assisi 1976, sedangkan kata pengantar untuk tulisan-tulisan Klara berdasarkan B. v. Leeuwen, Regel van Clara, Fransiskaans Leven 66 (1983) 251-265, dan H. Goosens, De Heilige Clara, Leven/Geschriften/Documenten, Haarlem 1976. Adapun penomoran ayat-ayat mengikuti Claire d’Assise, écrits, introduction, texte latin, traduction par Marie-France Becker, Jean-Francois Godet et Thaddée Matura, 1955.

Tulisan-tulisan Klara merupakan pelengkap tulisan-tulisan Fransiskus yang tidak boleh tidak ada, supaya sumber-sumber paling asli spiritualitas fransiskan utuh-lengkap.

C. Groenen. ofm
Yogyakarta 28 Oktober 1991

ANGGARAN DASAR KARANGAN ST. KLARA

0. Sejarahnya.
Menjelang akhir hayatnya, St. Klara menggubah sebuah Anggaran Dasar bagi ordo “Saudari-8audari miskin”. Begitulah dikatakan pada awalnya: “Adapun Pola Dasar Hidup saudari-saudari miskin, sebagai mana ditetapkan oleh Santo Fransiskus, adalah sebagai berikut: Melaksanakan Injil Suci Tuhan Kita Yesus Kristus dengan hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian.”

Baik Anggaran Dasar, gubahan Fransiskus, maupun “Pola Dasar Hidup” susunan Klara disyahkan oleh Sri Paus. Anggaran Dasar karangan Fransiskus disyahkan untuk seluruh ordo “Saudara-saudara dina”, sedangkan “Pola Dasar Hidup” karya Klara disyahkan untuk biara S. Damiano. Tidak ada satupun petunjuk bahwa hal itu oleh Sri Paus dimaksudkan dan oleh Klara dirasakan sebagai semacam pembatasan pada apa yang diinginkannya.

Adapun Pola Dasar Hidup gubahan Klara itu terlibat dalam sejarah perkembangan semula dari “nyonya-nyonya miskin”, “saudari-saudari miskin”, atau bagaimanapun juga sebutannya. Banyak hal-ihwal mendahului penggubahan “Pola Dasar Hidup” itu dan setelah Klara meninggal sejarahnya berjalan terus. “Pola Dasar Hidup”, karangan Klara hanya satu dari unsur-unsur yang membentuk sejarah itu, betapapun pentingnya.

1. Pola Dasar Hidup yang ditulis oleh Fransiskus bagi S. Damiano.
Berselang beberapa waktu Klara serta sementara wanita lainnya menetap di S. Damiano, Fransiskus mengarang bagi mereka sebuah “Pola Dasar Hidup” yang pendek. Dalam bab VI Anggaran Dasarnya Klara mengutip sebagiannya dan dalam wasiatnya “Pola Dasar Hidup” itu disinggung juga.

“Pola Dasar Hidup” itulah yang bagi Klara serta “nyonya-nyonya miskin” menjadi landasan gaya hidup mereka. Dan itupun selalu, baik bagi mereka maupun bagi yang nanti menyusul. Tidak seluruh “Pola Dasar Hidup” itu tersimpan bagi kita. Hanya sebagian besar tercantum dalam Anggaran Dasar yang ditulis Klara bagi ordo “saudari-saudari miskin”

Dalam “Pola Dasar Hidup” tersebut Fransiskus memuji nyonya-nyonya miskin itu karena telah memilih cara hidup sesuai dengan kesempurnaan Injil, yaitu dengan memberikan harta miliknya kepada orang-orang miskin dan dengan hidup dalam persekutuan tanpa milik. Hidup tanpa milik secara pribadi di masa itu bukanlah hal baru. Ordo kebiaraan yang sudah ada telah lama melaksanakan hal itu. Apa yang benar-benar baru ialah: Kelompok itu tidak mempunyai harta milik berupa tanah, kebun anggur dan sebagainya, sebagai jaminan penghidupan. Dan justru itulah yang diperjuangkan Fransiskus dan Klara.

Hal panting yang kedua dalam “Pola Dasar Hidup” tersebut ialah: Fransiskus berjanji bahwa beliau sendiri serta para penggantinya selalu akan memprihatinkan para saudari sama seperti memprihatinkan para saudara. Hal itupun selalu. dipertahankan Klara. Saudara-saudara dina dan nyonya-nyonya miskin di S. Damiano terikat satu sama lain sedemikian rupa, sehingga pada dasarnya hanya membentuk satu ordo saja, tergabung melalui gaya hidup sesuai dengan pola Injil Suci dan ketaatan Klara serta putri-putrinya kepada Fransiskus serta pengganti-penggantinya.

2. Privilegium (hak khusus) kemiskinan: 1215/1226.
Konsili Lateran IV pada tahun 1215 menetapkan bahwa semua kelompok kebiaraan baru mesti mengambil salah satu Anggaran Dasar yang sudah disyahkan sebagai undang-undang dasar hidupnya. Anggaran Dasar baru tidak diizinkan lagi. Penetapan itulah yang mendorong Klara untuk memohon kepada Paus Innocentius III, agar supaya kelompoknya di S. Damiano berhak hidup tanpa harta milik. Dengan jalan itu Klara mau mengamankan “Pola. Dasar Hidup” karangan Fransiskus.

Seusai Konsili Lateran IV, bulan Nopember 1215, dan sebelum mangkatnya, tanggal 16 Juli 1216, Paus Innocentius III mengabulkan permohonan unik itu bagi Klara serta putri-putrinya. Paus hmocentius III itu pun mengesahkan Anggaran Dasar pertama karangan Fransiskus bagi para pengikutnya pada tahun 1209/1210. Memang privilegium tersebut sungguh unik dan belum pernah diberikan (ataupun dimohonkan), yaitu hak Klara dan saudari-saudarinya di S. Damiano untuk hidup tanpa harta milik bersama. Tidak ada seorang pun yang boleh memaksakan harta milik semacam itu kepada mereka. Permohonan aneh itu mengesankan di hati Paus sedemikian rupa, sehingga beliau secara pribadi menyusun konsep privilegium kemiskinan itu. Pada tahun 1226 privilegium itu diteguhkan oleh Paus Gregorius IX, bekas kardinal Hugolinus.

3. Anggaran Dasar karangan Kardinal Hugolinus: 1218-1219.
Waktu Kardinal Hugolinus pada tahun 1217 menjadi kuasa Paus di daerah Toskania dan Lombardia (termasuk Assisi), sudah ada di sana berbagai biara rubiah yang miskin dan terpingit. Atas desakan Kardinal Hugolinus, Paus Honorius mengambil kebijaksanaan menempatkan semua biara yang belum mempunyai Anggaran Dasar langsung di bawah kekuasaan Paus sendiri, lepas dari kuasa Uskup setempat. Maka Hugolinus sebagai kuasa Paus langsung bertanggung jawab atas biara-biara itu. Menurut keterangan Paus sendiri beliau dengan jalan itu hanya melayani keinginan para rubiah itu sendiri.

Dalam suratnya kepada Hugolinus itu, Paus menulis tentang “banyaknya perawan dan wanita yang mengundurkan diri dari manyarakat ramai dan tinggal di tempat-tempat kediaman dengan tidak memiliki apa-apa kecuali tempat kediaman itu.” Seandainya mereka nanti mendapat harta milik, maka itupun langsung di bawah pengawasan Paus sendiri, lepas dari Uskup setempat.

Langkah berikutnya yang tidak dapat tidak menyusul ialah Hugolinus pada tahun 1218-1219 menyusun suatu pola hidup bagi semua rubiah miskin yang hidup terpingit”. Sesuai dengan penetapan Konnili Lateran IV, Hugolinus memberikan Anggaran Dasar Benediktin, tetapi menambah suatu “pola dan cara hidup” (forma et modus vivendi) yang khusus. Itulah sebabnya mengapa tambahan tersebut disebut sebagai “Konstitusi-Konstitusi”. Adapun “pola dan cara hidup” itu memuat peraturan seputar pingitan, puasa dan sembahyang. Tidak ada apa-apa mengenai harta milik atau hubungan dengan saudara-saudara dina.

Anggaran Dasar karangan Hugolinus tersebut merupakan semacam undang-undang dasar yang mau meliputi semua rubiah miskin yang hidup terpingit. Dalam kerangka umum semacam itu, masing-masing biara yang semua terlepas satu sama lain dapat menempuh jalannya sendiri. Itulah sebabnya mengapa Klara tanpa keberatan dapat menerima Anggaran Dasar karya Hugolinus itu. Klara tetap berpegang pada “Pola Dasar Hidup”, karangan Fransiskus dan pada privilegium kemiskinan. Itu tidak berbentrokan dengan Anggaran Dasar buatan Hugolinus.

Klara dan Hugolinus berbeda pendapat dalam soal harta milik yang dapat menjamin penghidupan biara-biara tersebut. Klara tidak mau menerima harta milik macam itu bagi S. Damiano. Sebaliknya Hugolinus yakin bahwa harta milik sejenis itu mutlak perlu bagi rubiah yang hidup terpingit. Dari laporan mengenai peresmian Klara menjadi kudus kita mendapat tahu bahwa Hugolinus berusaha meyakinkan Klara, supaya menerima saja harta milik. Tetapi Klara menolak. Dan ternyata Hugolinus tidak memaksa Klara menerima tawarannya. Hal itu terbukti oleh privilegium kemiskinan yang diteguhkan Hugolinus waktu menjabat Paul Gregorius IX (th.1226).

Diketahui bahwa Hugolinus menghadiahkan harta milik kepada beberapa biara. Tetapi ada juga biara-biara yang menuruti Klara dan menolak tawaran Hugolinus. Privilegium kemiskinan itu hanya diperluas bagi beberapa biara, yaitu yang di dekat Firenze, tempat adik Klara, Agnes, menjabat abdis dan biara di Perugia.

4. Anggaran Dasar karangan Paus Inosentius IV: 1247
Paus Innocentius IV pada tahun 1245 meneguhkan Anggaran Dasar karangan Kardinal Hugolinus dahulu. Atas permohonan sejumlah rubiah peneguhan itu dicabut lagi. Pada tahun 1247 Paus Inosentius memberikan Anggaran Dasar karangannya sendiri kepada para “abdis dan rubiah dari ordo S. Damiano yang hidup terpingit” Dalam Anggaran Dasar itu disyahkan saja perlunakan dalam hal puasa dan harta milik yang sudah diberikan kepada sementara biara. Tetapi Anggaran Dasar itu pun mengizinkan harta milik. Hanya tanggal 6 Juni 1250 Paus menegaskan bahwa Anggaran Dasarnya itu tidak mewajibkan seseorang pun rubiah yang tidak mau.

Anggaran Dasar karangan Innocentius IV tersebut menyebutkan “ Ordo S. Damiano “. Berapa biara diliputi “ordo” itu? Kardinal pelindung Raynaldus pada tahun 1240 dalam sepucuk surat menyebut sebayak 23 biara, satu di luar Italia (Trente). Biara-biara itu disebut¬nya sebagai “Biara-biara miskin S.Damiano”. Pada tahun 1228 sebuah biara diresmikan di Pampola, Spanyol. Hari Raya Pantekosta tahun 1234, Agnes dari Praha masuk anggota biara yang didirikannya sendiri di Praha. Ordo jelas subur berkembang. Sebagian biara-biara itu baru, tetapi sebagiannya biara-biara yang sudah ada dan kini menggabungkan diri dengan ordo baru itu. Memang pada tahun 1235 jumlah rubiah di S. Damianus sebanyak 50 orang. Pada tahun 1218 sudah ada 4 biara, pada tahun 1237 sejumlah rubiah dari S. Damiano melalui Trente pindah ke Ulm, Jerman.

5. Anggaran Dasar karangan Klara: 1253
Anggaran Dasar karangan Innocentius IV yang mengizinkan harta milik kiranya tidak dapat diterima Klara. Meskipun Paus sudah menegaskan bahwa Anggaran Dasarnya tidak mewajibkan, namun Klara agaknya merasa terdorong menyusun Anggaran Dasarnya sendiri, meskipun kepastian tidak ada, mengapa dan kapan Klara mengarang Anggaran Dasarnya. Hanya melalui kesaksian beberapa saudari dari S. Damiano dalam proses peresmian Klara menjadi kudus kita mendapat tahu bahwa Klara menganggap, penggubahan Anggaran Dasar itu hal yang amat panting dan amat menginginkan Anggaran Dasarnya itu disyahkan oleh Sri Paus. Anggaran Dasar itu memang buah matang kehidupan Klara, lanjutan langsung dari “Pola Dasar Hidup” buatan Fransiskus dan privilegium kemiskinan.

Anggaran Dasar karangan Klara tersebut disyahkan oleh Kardinal pelindung, Raynaldus, tanggal 16 September 1252. Atas permohona Klara sendiri kemudian Anggaran Dasar itu sekali lagi disyahkan dan diresmikan oleh Paus Innocentius IV pada tanggal 9 Agustus 1253. Semuanya terjadi terburu-buru, oleh karena Klara mendekati ajalnya. Keesokan harinya, tanggal 10 Agustus, sehari sebelum Klara wafat, seorang saudara dina membawa surat peresmian Paus itu kepada Klara. Pada naskah asli surat itu tercatat bahwa Klara menerimanya dengan amat gembira dan beberapa kali menciumnya.

Dalam penyusunan Anggaran Dasarnya, Klara memanfaatkan Anggaran Dasar karya Hugolinus, konstitusi-konstitusi Hugolinus dan Anggaran Dasar karangan Paus Innocentius IV. Tetapi semua dokumen itu tidak sampai disebutkan. Hanya “Pola Dasar Hidup”, pemberian Fransiskus saja yang dengan tegas disebut dalam Anggaran Dasar Klara dan itulah sebagai landasan Anggaran Dasar itu.

Klara mengarang Anggaran Dasarnya itu bagi “Ordo Saudari-saudari Miskin”. Tetapi oleh Kardinal Raynaldus dan oleh Sri Paus hanya disyahkan bagi biara S. Damiano. Sedikit aneh rasanya, seakan-akan Kardinal dan Paus mempersempit maksud Klara. Sebenarnya Klara menulis Anggaran Dasarnya bagi biara S. Damiano dan semua biara lain yang mau menggabungkan diri. Tetapi hanya beberapa biara saja yang berbuat demikian sedangkan kebanyakan biara tidak bersedia menerima Anggaran Dasar Klara, terutama oleh karena harta milik dilarang. Biara-biara itu memang mandiri dan tidak bergantung pada Klara.

Olen karena Anggaran Dasar tersebut hanya berlaku bagi biara S. Damiano dan beberapa biara lain, maka tidak mengherankan bahwa sejarahnya belum selesai waktu Klara meninggal.

6. Anggaran Dasar Isabela dari Longchamps: 1263
Putri Ludovicus IX, raja Perancis 1254-1255, yaitu Isabella mendirikan sebuah biara di Longchamps di dekat kota Paris setelah Klara baru saja meninggal. Dengan pertolongan Bonaventura dan beberapa saudara dina, magistri ilmu keTuhanan di Paris, Isabella menyusun sebuah Anggaran Dasar. Ia memanfaatkan Anggaran-anggaran Dasar yang sudah ada, antara lain: Anggaran Dasar karya Klara. Anggaran Dasar Isabela itu disyahkan pada tahun 1263 bagi rubiah-rubiah yang bergelar “Saudari-saudari Dina”. Anggaran Dasar itu berlaku untuk biara Longchamps dan sejumlah biara di negeri Perancis dan Italia yang menggabungkan diri. Nampaknya Isabela dan Bonaventura tidak berminat mengambil alih Anggaran Dasar karangan Klara, terutama karena masalah harta milik.

7. Anggaran Dasar buatan Paus Urbanus IV: 1263
Berselang sepuluh tahun wafatnya Klara pada tahun 1253, Paus Urbanus IV memberikan suatu Anggaran Dasar bagi semua biara “Ordo St. Klara” (Ordo Sanctae Clarae). Paus memadukan semua sebutan dan Anggaran-anggaran Dasar sebelumnya. Semua biara diizinkan mempunyai harta milik. Dan pada umumnya itu sesuai dengan keadaan nyata pada biara-biara “Klaris”. Pemeliharaan para rubiah dipercayakan kepada Kardinal pelindung yang mesti mengangkat pria yang mampu sebagai “Visitator”.

Tetapi pada tahun 1297 para “Klaris Urbanis” dipercayakan kepada minister umum dan minister propinsial Saudara-saudara Dina. Mereka diajak supaya berusaha agar semua biara yang belum menerima Anggaran Dasar Urbanus itu akhirnya menerimanya juga.

Anggaran Dasar karangan Urbanus tersebut memuji Klara setinggi langit, tetapi hampir tidak ada sesuatu dari Anggaran Dasar karya Klara serta gaya hidupnya, khusuanya sehubungan dengan harta milik dan relasi dengan Saudara-saudara Dina, dua unsur utama bagi Klara. Sudah pasti Klara tidak bersedia menerima Anggaran Dasar macam itu. Sayanglah Klara sudah meninggal dan dinyatakan kudus. Aneh rasanya bahwa ordo yang disebut “Ordo St. Klara” mesti berlayar dengan pola hidup dan bendera yang tidak ada banyak sangkut pautnya dengan Klara dari Asisi.

Anggaran Dasar karangan Urbanus tersebut dituruti para Klaris-urbanis sampai dengan awal abad XX ini. Di samping itu masih tetap berlaku Anggaran Dasar karangan Hugolinus dan Paus Innocentius. Dan di beberapa biara masih juga tersimpan Anggaran Dasar karangan Klara. Biara di Asisi tanggal 31 December 1266 masih menerima peneguhan Anggaran Dasar itu. Tetapi pada tahun 1288 mereka diberi harta milik yang diterima juga. Maka dalam praktek mereka pun “urbanis”.

Dalam gerakan pembaharuan di kemudian hari Anggaran Dasar karya Klara mulai dituruti lagi. Pada tahun 1458 Paus Pius II meneguhkan Anggaran Dasar Klara itu bagi para Klaris dari S. Koleta, ditambah konstitusi-konstitusi khusus. Berkat pengaruh pembaharuan para kapusin tampil kapusines yang juga sebahagian besar menuruti Anggaran Dasar karangan Klara, ditambah konstitusi-konstitusi yang mirip dengan konstitusi-konstitusi para kapusin. Pembaharuan-pembaharuan di luar lingkup kapusin juga menuruti Anggaran Dasar Klara.

8. Naskah Anggaran Dasar Klara yang asli ditemukan kembali: 1893
Dengan cara yang agak aneh rasanya naskah resmi Anggaran Dasar karangan Klara yang tercantum dalam surat peresmian Paus, ditemukan kembali pada tahun 1893. Seputar tahun 1890 para Klaris di Lyon, Perancis, mencari teks asli Anggaran Dasar Klara, sebab berbagai teks sedang beredar. Diduga yang asli memang berada di Asisi. Maka abdis di Lyon, Maria Angela, pada awal tahun 1893, meminta kepada abdis, Matilda Rossi, di Asisi supaya teks asli dicari di biara itu. Dan benar jugs, teks itu ditemukan terbungkus dalam jubah dan mantel Klara, tersimpan dalam sebuah kotak yang bermeterai. Mungkin ditemukan dalam kubur Klara, meskipun tidak ada kepastian. Dengan seizin Uskup dan Paus, kotak itu dibuka pada awal Oktober 1803, dihadiri beberapa pejabat tinggi gereja yang sedang merayakan hari raya Fransiskus di Asisi. Dalam kotak tersebut ternyata tersimpan naskah asli dari surat peresmian Paus dengan tanda tangan Paus Innocentius IV. Beberapa lamanya naskah itu tersimpan di situ tidak diketahui.

Penemuan Anggaran Dasar asli itu secara luas diumumkan. Uskup Asisi mengirim sepucuk surat kepada semua Klaris. di dunia dengan janji mengirim salinan Anggaran Dasar itu. Bulan Mei 1894 abdis di Lyon menerima salinan pertama.

Naskah Anggaran Dasar karya Klara itu ditemukan pada masa orang mulai menaruh minat besar pada Fransiskus serta Klara dan tulisan-tulisan mereka. Pada tahun 1894 P. Sabatier menerbitkan riwayat hidup Fransiskus yang dikarangnya dan di dalamnya tercantum sebuah bab khusus mengenai Klara. Karya P. Sabatier sebanyak 42 kali cetak ulang dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Pada akhir abad yang lampau dan selama abad XX banyak biara Klaris-urbanis kiranya mulai menuruti Anggaran Dasar Klara itu. Sebab dalam konstitusi-konstitusi bagi para Klaris yang terbit pada tahun 1930 dan pada tahun 1940 menjadi resmi berlaku, tercantum Anggaran Dasar Klara itu, sedangkan Anggaran Dasar Urbanus hanya tampil sebagai tambahan saja. Konstitusi-konstitusi yang diterbitkan 1974, tetapi belum definitip, menggabungkan para Klaris, Klaris-Urbanis dan Klaris S. Koleta, yang menuruti Anggaran Dasar karangan Klara. Konstitusi terbaru (1988) mencakup para Klaris dan Klaris-Urbanis.

9. Susunan dan isi Anggaran Dasar Klara.
Pola Hidup karangan Klara benar-benar sebuah Anggaran Dasar lengkap. Anggaran Dasar.itu bersumberkan “Pola Dasar Hidup” karya Fransiskus bagi biara S. Damiano dan pengalaman selama tahun 1212-1253 di biara S. Damiano dan beberapa biara lainnya.

Teladan dan ajaran Fransiskus menjadi menentukan bagi Klara. Ditambah beberapa aturan mengenai pingitan dan hidup sehari-hari para rubiah. Sebahagian besar aturan itu diambil dari Anggaran Dasar karangan Hugolinus dan Paus Innocentius IV serta dari praktek hidup dalam pingitan di S. Damiano dan lain-lain biara. Klara menetapkan aturan-aturan itu berdasarkan pengalaman selama sekian banyak tahun. Dalam penerapannya Klara ternyata secara lunak menafsirkan aturan yang dicantumkannya dahulu.

Kalau Anggaran Dasar Fransiskus dari tahun 1223 dibandingkan dengan Anggaran Dasar Klara, maka nyatalah Klara sedapat mungkin mengambil alih Angpran Dasar Saudara-saudara Dina itu. Namun demikian Anggaran Dasar Klara itu bukan salinan Anggaran Dasar Saudara-saudara Dina. Semuanya disadur secara pribadi.

Pada awal Anggaran Dasarnya Klara mencatat bahwa Pola Dasar Hidup Saudari-saudari Miskin ditetapkan oleh Fransiskus. Artinya: “Pola Dasar Hidup” yang disusun Fransiskus pada awal hidup Klara di S. Damiano pada, tahun 1212/1213.

Sama, seperti Fransiskus yakin bahwa Anggaran Dasar Saudara-saudara Dina pada tahun 1221 dan 1223 pada dasarnya sama dengan Pola Dasar.Hidup yang disyahkan pada tahun 1209/1210 oleh Paus Imocensius III, demikianpun Klara yakin bahwa Anggaran Dasarnya dari tahun 1253 pada dasarnya sama dengan Pola Dasar Hidup susunan Fransiskus berselang 40 tahun. Surat pengesahan Kardinal Raynaldus dan Sri Paus Innocentius IV mengungkapkan keyakinan yang sama.

Dalam Anggaran Dasar Klara itu boleh dibedakan dua lapisan. Lapisan dasar dan terdalam mengenai hal menuruti sabda dan jejak-jejak Tuhan kita Yesus Kristus, seperti yang ditunjuk dan dituliskan Fransiskus bagi Klara dan putri-putrinya. Lapisan itulah yang menentukan gaya hidup injili dan kaitan dengan Fransiskus serta ordonya. Begitu ditegaskan Klara pada awal wasiatnya: “Anak Allah telah menjadi bagi kita jalan sebagaimana dengan kata dan teladan telah diajarkan kepada kita oleh bapa kita Fransiskus”.

Lapisaan kedua menyangkut aturan-aturan konkrit sekitar hidup dalam pingitan dengan segala seluk beluknya. Itu pun termasuk gaya hidup para Saudari Miskin. Begitulah caranya mereka sebagai rubiah menuruti jalan Injili. Tidak ada petunjuk satu pun bahwa Klara serta putri-putrinya sebenarnya tidak menghendaki cara hidup terpingit itu, seolah-olah dipaksakan oleh Paus, Kardinal dan Uskup berlawanan dengan maksud Fransiskus dan Klara.
Garis-garis besar isi Anggaran Dasar karangan Klara adalah sebagai berikut: Pembagian atas 12 bab tentu saja tidaklah asli dan tidak terdapat dalam naskah asli. Demikian pun judul pada bab-bab itu berupa tambahan. Namun demi jelasnya pembagian atas 12 bab itu boleh diikuti.

BAB I: Klara menegaskan bahwa ia sendiri dan para putrinya di S. Damiano telah menjanjikan keteatan kepada Fransiskus dan para penggantinya. Dalam pendekatan Klara, Fransiskus menjadi minister umum baik bagi Ordo Saudara-saudara Dina maupuri Ordo Saudari-saudari Miskin. Dalam suratnya kepada Agnes dari Praha, Klara menulis bahwa sehubungan dengan unsur-unsur dasariah gaya hidupnya Agnes hendaknya mendengarkan petunjuk dari pihak saudara Elias, yang pada saat itu menjabat minister umum “Seluruh ordo”. Ungkapan “seluruh ordo” dapat diartikan sedemikian rupa, sehingga mencakup baik Ordo Saudara-saudara Dina maupun Ordo Saudari-saudari Miskin. Karna itu boleh dikatakan tentang satu ordo, yang ciri khasnya ialah cara hidup menurut Injil dengan satu minister umum dan terikat satu sama lain melalui ikatan ketaatan. Tentu saja orang juga dapat berkata: Dua Ordo, oleh karena gaya hidup para saudara dan para saudari memang berbeda. Fransiskus dan Klara tidak pernah berkata tentang ordo pertama dan ordo kedua atau dua ordo.

BAB II: Menuruti Anggaran Dasar Saudara-saudara Dina dalam hal penerimaan calon baru. Hanya Klara menambah bahwa kebanyakan saudari harus menyetujui penerimaan itu. Dalam seluruh Anggaran Dasarnya Klara menekankan persekutuan dan kesepakatan serta sidang para saudari (kapitel). Kita tahu bahwa terpaksa Klara menerima gelar “abdis”. Ia yakin bahwa gelar yang berasal dari ordo-ordo lama itu tidak sesuai dengan gaya hidup Saudari-saudari Miskin. Rupanya Fransiskus sendiri meyakinkan Klara bahwa mesti menerima gelar itu sesuai dengan penetapan Konsili Lateran IV. Tetapi dalam Anggaran Dasarnya Klara mengartikan gelar itu dengan caranya sendiri, sepadan dengan apa yang dikatakan Anggaran Dasar Saudara-saudara Dina mengenai jabatan Minister yang menjadi pelayan persaudaraan. Ada banyak kesaksian dari proses peresmian Klara menjadi kudus, bahwa beliau memang benar-benar menjadi pelayan para saudari. Dari Anggaran Dasar Saudara-saudara Dina, Klara mengangkat penetapan bahwa yang mau masuk sedapat mungkin mesti memberikan harta miliknya kepada orang miskin. Ini tidak hanya mengenai masuknya, tetapi cara hidup seluruh kelompok, tanpa milik.

BAB III: Berhubung dengan ibadat dan sembahyang, Klara sedapat mungkin menuruti Anggaran Dasar Saudara-saudara Dina. Berkenaan dengan puasa, Klara berpegang pada petunjuk-petunjuk yang pernah diberikan Fransiskus. Hal itu dibicarakan Klara dalam Surat ketiga kepada Agnes dari Praha yang condong menuruti aturan lebih keras, seperti yang diberikan Sri Paus.

BAB IV & V: Dibicarakan hubungan saudari-saudari satu sama lain sebagai atasan dan bawahan. Dibicarakan juga cara hidup yang sesuai dengan. pingitan biara. Aturan-aturan Paus dituruti.

BAB VI: Kembali kepada dua hal pokok bagi gaya hidup Klara, yakni hidup bersama-sama tanpa milik dan hubungan erat dengan Saudara-saudara Dina melalui diri Fransiskus serta para penggantinya. Klara mengutip sebagian dari “Pola Dasar Hidup” yang diberikan Fransiskus serta sebagian dari wasiat Fransiskus bagi para Saudari-saudari Miskin; ditekankan janji tugas dari pihak Fransiskus bahwa ia sendiri dan para penggantinya selalu akan memprihatinkan Saudari-saudari Miskin sama seperti Saudara-saudara Dina. Sekali lagi Klara berkata mengenai ketaatan para saudari kepada Fransiskus dan para penggantinya.

BAB VII: Mengenai tugas kerja dan cara mencari nafkah.

BAB VIII: Kembali dibicarakan kemiskinan. Secara harafiah disalin suatu lagu pujian Fransiskus atas kemiskinan tertinggi. Hanya sebagai teladan kemiskinan itu, Klara menambahkan Bunda yang tersuci.

BAB IX, X, XI: Termuat aturan terperinci sehubungan dengan pingitan. Sama seperti Fransiskus, Klara membatasi ketaatan dengan Anggaran Dasar ini serta keselamatan orang. Abdis tidak dapat memerintahkan sesuatu berlawanan dengan gaya hidup yang tercantum dalam Anggaran Dasar dan dengan keselamatan orang.

BAB XII: Mengenai kaitan Saudari-saudari Miskin dengan Saudara-saudara Dina. Para saudara dan saudari musti mempunyai Kardinal pelindung yang sama. Klara ingat akan janji Fransiskus bahwa selalu akan memprihatinkan para saudari miskin. Karena itu Klara meminta bagi S. Damiano seorang imam pembantu dan dua saudara awam pembantu “dalam kemiskinan kita”, berarti: mereka mencari derma bagi saudari.

Sama seperti Fransiskus, demikian pun Klara mengakhiri Anggaran Dasarnya dengan menyatakan rasa hormat dan kesetiaan kepada Gereja serta kesetiaan kepada Injil dengan mengikuti Tuhan kita Yesus Kristus dalam kemiskinan dan kerendahan. Hanya Klara menambahkan: dan BundaNya yang tersuci.
(bdk.B. v. Leeuwen, Regel van Clara, Fransiskaans Leven 66 (1983) 251¬265)

WASIAT SANTA KLARA

Mungkin terpengaruh oleh “Wasiat Fransiskus” yang pasti dikenalnya, Klara menjelang akhir hidupnya menyusun sebuah dokumen yang selayaknya disebut “wasiat rohaninya”. Istilah “wasiat” tentu saja tidak muncul dalam tulisan ini, seperti dalam wasiat Franalskus, namun dokumen itu jelas dimaksudkan sebagai “kehendak dan pernyataan terakhir”. Cukuplah melihat kata penutup tulisan itu, yang berkata: “Aku meninggalkan semuanya itu secara tertulis, supaya lebih baik mesti dilaksanakan.” Disusul semacam berkat.

Tidak ada berita bahwa Klara pernah menulis dokumen semacam itu. Tidak diketahui juga kapan persis dikarang. Sebuah naskah tua yang berdekatan dengan masa Klara juga tidak ada, paling tidak belum ditemukan. Teks pertama kalinya dicetak pada tahun 1626, yang memakai salah satu naskah. Tetapi naskah itu hilang juga. Meskipun ada sementara ahli yang pernah meragukan kalau wasiat Klara benar-benar karangan Klara sendiri, namun keraguan itu kurang berdasar. Isi dokumen menyingkapkan Klara.

Dokumen itu tersusun dengan baik dan lancar, malah secara “logis” sekali. Bahasa latinnya pun lancar dan baik. Jelaslah halnya dipikirkan masak-masak. Betapa pun “hangatnya” wasiat itu, namun bukan suatu luapan hati secara sepontan. Kehalusan dokumen itu jangan dipakai untuk meragukan keasliannya, melainkan sebagai bukti kematangan kepribadian Klara sebagai wanita religius yang sampai berumur 60 tahun berhasil mempertahankan dan mematangkan cita-cita dan semangatnya semula.

Nada dalam dokumen itu tenang dan tenteram saja. Seolah-olah pengalaman pahit tidak meninggalkan bekas di hati Klara. Maka wasiat itu merupakan kesaksian paling bulat dan menyeluruh tentang diri Klara serta apa yang menggerakkannya. Dokumen itu tidak terpengaruh oleh unsur-unsur luar, seperti halnya dengan Anggaran Dasar karangan Klara, tidak pula merupakan suatu tulisan fragmentaris, seperti surat-surat Klara. Dalam dokumen itu ditemukan sebuah kesaksian pribadi yang dengannya Klara menyingkapkan kematangan kepribadiannya.

Dengan nada tenang dan nostalgia sedikit, Klara bercerita tentang panggilannya dan relasi hangatnya dengan Fransiskus. Ia pun mengungkapkan pengalamannya semula. Semuanya diliputi nada rasa syukur yang mendalam dan hangat serta mengharukan hati. Dengan tenang, tanpa menyebut nama atau menyakiti hati orang, Klara bercerita tentang perjuangannya membela dan memenangkan cita-cita.

Dengan panjang lebar diuraikan tentang apa inti pokok seluruh dirinya dan gaya hidupnya yang diusahakan selama 40 tahun. Kemiskinan seperti Yesus dan Fransiskus, tanpa tawar menawar, meskipun realistik, kaitan erat dengan ordo saudara-saudara Dina. Semuanya dalam kesetiaan kepada Gereja Katolik dan dalam kasih persaudaraan yang hangat, sejati dan mendalam.

Dokumen itu serentak “kehendak terakhir” dari Klara bagi para putrinya, khususnya penggantinya sebagai pemimpin. Dengan mendesak Klara meminta agar supaya cita-citanya selalu dipertahankan dan diteruskan secara murni, bersih dan dengan semangat sejati. Beberapa hal yang tercantum dalam Anggaran Dasar terulang. Dan itu memperlihatkan apa yang paling panting bagi Klara.

Pokoknya “wasiat” Klara selalu mesti dibaca di samping Anggaran Dasarnya. Begitu tersingkap kehangatan hati yang juga meresap ke dalam Anggaran Dasar, tetapi tertutup sedikit oleh pelbagai hal yang bersifat hukum dan aturan.

BERKAT SANTA KLARA

Menurut sebuah berita dari Thomas dari Cleano, Klara waktu mendekati ajalnya, meminta berkat melimpah atas para penghuni biara S. Damiano, baik yang sudah ada maupun yang menyusul. Tidak dikatakan bahwa berkat itu menjadi tertulis.

Memang tradisi sekitar berkat St. Klara itu agak simpang-siur. Berkat itu beredar dalam beberapa versi. Ada naskah yang memuat berkat Klara (pendek) yang dialamatkan kepada Ermentrudis, ada versi yang dialamatkan kepada Agnes dari Praha, kebanyakan naskah memuat suatu berkat Klara yang panjang dan ditujukan kepada para saudari di S. Damiano. Versi panjang itu diterjemahkan di sini. Naskah tertua yang tersedia memuat sebuah terjemahan ke dalam bahasa Jerman. Naskah itu dibuat sebelum tahun 1393, dan berkat itu ditujukan kepada Agnes dari Praha.

Jadi tidak boleh dikatakan pasti bahwa berkat itu benar-benar karangan Klara. Memang isi berkat itu mengingatkan kepada pikiran dan ungkapan yang terdapat dalam tulisan-tulisan asli Klara juga. Maka tetap ada kemungkinan real bahwa berkat itu dalam salah satu bentuk dapat dikembalikan kepada Klara.

SURAT-SURAT KLARA KEPADA AGNES DARI PRAHA.

Agnes dari Praha (1205-1282) adalah puteri raja Bohemia (Cekoslowakia sekarang), Ottokar I. (1197-1223) dan adik putra mahkota Wensilaus. Sejak kecil Agnes talon istri putra kaisar Jerman Frederik II, bakal raja Hendrik VII. Tetapi Hendrik meminang putri lain. Ada cerita bahwa Frederik II sendiri meminang Agnes. Ibu Agnes ialah permaisuri Konstansia dari Hungaria. Tetapi Agnes ternyata tidak jadi nikah dengan siapa pun.

Agnes berkenalan dengan gerakan Fransiskan melalui Saudara-saudara Dina yang pada tahun 1232 menetap di Praha. Mereka diterima baik dan amat dibantu oleh kaum bangsawan. Agnes sendiri mendirikan sebuah gereja bagi mereka dengan harta milik warisannya. Kemudian Agnes masih mendirikan semacam “rumah sakit” untuk merawat orang miskin.

Pada tahun 1233 Agnes mendirikan sebuah biara untuk “Saudari-saudari Miskin”. Dari S. Damiano didatangkan lima Saudari (1234). Begitu Agnes lebih berkenalan dengan kepribadian dan cita-cita Klara. Ternyata kedua wanita itu sehaluan. Meskipun mereka secara pribadi tidak pernah bertemu, namun, melalui surat-menyurat, terjadilah hubungan amat pribadi dan mesra antara kedua wanita itu. Secara “rohani” mereka memang berkerabat.

Dengan beberapa teman bangsawati, Agnes pada tahun 1234 sendiri masuk biara yang didirikannya di Praha. Berlawanan dengan kehendaknya sendiri Agnes diangkat menjadi abdis oleh Paus Gregorius IX (bekas Kardinal Hugolinus, pelindung para Klaris). Antara Agnes dan Gregorius selanjutnya terjalinlah hubungan resmi melalui surat-menyurat. Besarlah minat Gregorius bagi biara Agnes. Gregorius mendesak, agar supaya Agnes memberikan sebagian harta miliknya kepada biaranya, sebagai jaminan penghidupan para rubiah. Tetapi pada tahun 1237 Agnes menjawab bahwa tidak mau berbuat demikian, melainkan memberikan semua kepada orang miskin. Boleh jadi dalam hal itu Agnes meminta dan mendapat nasehat Klara. Selanjutnya Gregorius menghendaki agar sebagai Anggaran Dasar, Agnes mengadopsi “konstitusi-konstitusi” yang dikarangnya sewaktu is masih menjadi Kardinal Hugolinus. Agnes menerimanya, asal saja sekaligus diberi “privilegium kemiskinan”. Permohonan itu dikabulkan pada tahun 1238.

Kemudian, kiranya atas nasehat Klara, Agnes minta dibebaskan dari beberapa aturan (puasa dab) yang tercantum dalam konstitusi-konstitusi Hugolinus, sebab tidak cocok dengan situasi antara lain iklim di Bohemia. Pada waktu itu ada surat menyurat antara Agnes dan Klara (surat 2 dan 3). Pada waktu yang sama Agnes menyusun Anggaran Dasarnya sendiri, berpedoman pada “Pola Dasar Hidup” di S. Damiano. Agnes minta Anggaran Dasarnya itu disyahkan Paus (1237). Permohonan itu ditolak (1239). Sebab Gregorius IX mengeluarkan konstitusi-kostitusi baru yang disebutnya Anggaran Dasar Benediktus. Dokumen itu berlaku untuk semua Klaris. Tetapi kepada pengganti Gregorius, yakni Paus Celestinus IV (hanya menjabat 2 minggu) Agnes minta dibebaskan dari konstitusi-kostituai Gregorius. Permintaannya ditolak (1245). Akhirnya Agnes menerima Anggaran Dasar karangan Innocentius IV (1247), ditambah privilegium kemiskinan dan sebagai dasar tetap “Pola Dasar Hidup” karangan Fransiskus.

Pastilah sudah bahwa ada surat-menyurat antara Agnes dan Klara yang cukup ramai. Tetapi hanya lima surat Klara (tidak ada satupun dari Agnes) tersimpan. Hanya tersedia satu naskah yang memuat surat-surat itu. Pada tahun 1920 ditemukan di Milano oleh Akhillo Ratti, bakal Paus Pius XI. Naskah itu dibuat di Bohemia (Cekoslowakia) antara tahun 1280 dan 1330.

Surat Pertama ditulis Klara sebelum Agnes sendiri masuk biaranya, tetapi sudah menjauhkan diri dari “dunia”. Jadi ditulis sebelum hari raya Pantekosta 1234. Rupanya Agnes minta nasehat sehubungan dengan biara yang didirikannya (1233). Mungkin surat itu diantar oleh lima saudari yang dari S. Damiano pindah ke Praha, meskipun tidak jadi disinggung dalam surat yang tersimpan.

Surat kedua ditulis waktu saudara Elias masih menjabat Minister umum Saudara-saudara Dina, sebab namanya sebagai Minister disebut dalam surat ini. Maka surat itu ditulis sebelum, 1239, waktu Elias dipecat. Agnes sedang bergumul dengan Paus Gregorius IX sekitar gaya hidupnya dan sedang menyusun Anggaran Dasarnya sendiri, sebab tidak senang dengan konstitusi-kostitusi Gregorius.

Surat ketiga ditulis sedikit waktu sesudah surat kedua. Jadi sekitar awal tahun 1238. Agnes sudah sibuk dengan Anggaran Dasarnya yang pengesyahannya diminta pada Paus. Agnes jelas telah minta informasi mengenai praktek (puasa) di S. Damiano.

Surat keempat dikarang jauh sesudah surat-surat lain. Adik Klara, Agnes, yang disebut dalam surat ini, sudah kembali ke S. Damiano (awal 1253). Klara sakit parah dan sudah hampir menjelang kematiannya. Surat ini memang semacam “surat perpisahan”. Terungkap di dalamnya kematangan Klara dan kasih besarnya kepada Agnes.

SURAT KEPADA ERMENTRUDIS.

Ada berita bahwa Klara menulis dua surat kepada Ermentrudis. Tetapi hanya ringkasan satu surat saja tersimpan (Wadding). Ada berita lagi bahwa Ermentrudis sangat ingin bertemu dengan Klara dan ia pergi ke Italia. Tetapi waktu tiba di Roma, Klara sudah meninggal.  Ermentrudis mendirikan beberapa biara (Klaris) di Flandria. Ia sendiri menjabat abdis di Brugge. Biara-biara itu mengikuti gaya hidup S. Damiano (Pola Dasar Hidup karangan Fransiskus).

Karena hanya ringkasan yang tersimpan, surat Klara itu kurang pribadi dan tidak ada banyak ciri khas Klara. Boleh dipertanyakan apakah ringkasan itu benar-benar bersumber sepucuk surat Klara.