Anggaran Dasar Santa Clara

Dilihat: 1.339 kali

[ Index Buku  St. Clara dan Warisan Rohaninya ] [ Index Ordo St. Clara ]

BAGIAN III

Pengesahan

ANGGARAN DASAR SANTA KLARA

Surat Pengesahan Paus Innocentius IV

Uskup Innocentius, hamba sekalian hamba Allah, menyampaikan selamat dan berkat apostolik kepada putri-putri yang terkasih dalam Kristus, Klara, Abdis, dan lain-lain saudari di biara St.Damianus di kota Asisi.
1. Tahta apostolik sudah biasa melayani keinginan suci dan dengan rela hati mengabulkan permohonan pantas dari mereka yang mengajukannya.
Dari pihak kalian memang ada pada kami suatu permohonan yang dengan rendah hati diajukan, supaya kami berkenan meneguhkan pola hidup kalian dengan wewenang apostolik kami.
Pola hidup tersebut diberikan kepada kalian oleh Santo Fransiskus dan kalian telah menerima dengan rela hati. Sesuai dengan pola hidup itu kalian harus hidup bersama-samadengan kesehatian dan sumpah setia kepada kerniskinan tertinggi. 2 Kor 8:2
Permohonan tersebut kalian ajukan oleh karena saudara kami yang terhormat, yakni uskup Ostia dan Velletri sudah sampai berpendapat bahwa pola hidup itu pantas disahkan, sebagaimana selanjutnya termaktub selengkap-lengkapnya dalam surat pengesahan uskup tersebut.
2. Kami rela menerima permohonan kalian yang saleh itu. Kami menganggap sah dan tetap apa yang telah dibuat oleh uskup tersebut. Semuanya kami teguhkan dengan wewenang apostolik kami dan dengan surat keterangan ini sebagai pelindungnya kami kukuhkan. Isi surat pengesahan uskup tersebut kami suruh supaya dicantumkan secara harafiah di dalam surat kami ini.
Adapun isinya adalah sebagai berikut:
Raynaldus, berkat belas kasihan ilahi uskup Ostia dan Velletri, menyampaikan selamat dan berkat kebapaan kepada ibu dan putrinya dalam Kristus, yaitu tuan putri Klara, Abdis biara Santo Damianus di kota Asisi, dan kepada semua saudarinya, baik yang sekarang ada maupun yang nanti menyusul.
Anak-anakku yang terkasih dalam Kristus. Kalian telah meremehkan apa yang memuliakan dan menyenangkan menurut penilaian dunia ramai. Dengan maksud mengikuti jejak-jejak Kristus sendiri serta Bunda-Nya yang tersuci kalian telah memilih dengan badan terkurung tinggal di rumah dan mengabdi kepada Tuhan dalam kemiskinan yang paling keras, agar dengan hati yang bebas kalian dapat melayani Tuhan. Komi menganjurkan niat kalian yang suci itu kepada Tuhan dengan senang hati dan kasih sayang kebapaan kami rela mengabulkan keinginan kalian yang suci. 1 Ptr.2:21
Oleh karena itu, hendak melayani permohonan kalian yang saleh, kami dengan wewenang Sri Paus dan wewenang kami sendiri untuk selama-lamanya meneguhkan bagi kalian semua dan bagi mereka yang menggantikan kalian di biara kalian dan dengan perlindungan surat kami ini kami kukuhkan pola hidup dan gaya persekutuan suci serta kemiskinan tertinggi yang oleh bapa kalian, Santo Fransiskus, dengan sabda dan tulisan diberikan kepada kalian untuk dilaksanakan dan tercantum dalam surat kami ini.
Adapun isinya adalah sebagai berikut

Bab 1

I. Demi nama Tuhan mulailah pola hidup para saudari miskin

(1) Adapun pola dasar ordo saudari-saudari miskin, sebagaimana yang ditetapkan oleh Santo Fransiskus, adalah sebagai berikut:
(2) Melaksanakan Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus dengan hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian.
(3) Klara, seorang hamba-sahaya Kristus yang tidak layak, dan tanaman kecil bapa Santo Fransiskus, menjanjikan ketaatan dan sembah hormat kepada Sri Paus Innocentius serta kepada semua penggantinya yang mendapat jabatan itu sesuai dengan hukum Gereja, dan juga kepada Gereja di Roma.
(4) Dan sebagaimana pada awal hidup kebiaraannya Klara serta saudari-saudarinya telah menjanjikan ketaatan kepada Santo Fransiskus, demikian pun ia berjanji dengan teguh mentaati para pengganti Fransiskus.
(5) Dan saudari-saudari lainnya wajib selalu mentaati para pengganti Fransiskus, saudari Klara dan Abdis-abdis lainnya yang menjadi penggantinya setelah dipilih sesuai dengan hukum Gereja yang berlaku.

Bab 2

II. Perihal mereka yang ingin menempuh cara hidup ini dan caranya mereka harus diterima

(1) Kalau seorang wanita atas ilham Allah datang kepada kita karena mau menganut (cara) hidup ini, maka Abdis wajib meminta persetujuan semua saudari.
(2) Kalau jumlah terbanyak setuju, Abdis boleh menerima wanita itu, setelah mendapat izin dari pihak yang mulia Kardinal pelindung kita.
(3) Kalau Abdis berpendapat bahwa wanita itu mesti diterima, maka hendaklah Abdis dengan teliti menguji wanita itu, atau menyuruh orang lain mengujinya, sehubungan dengan iman Katolik dan sakramen-sakramen Gereja.
(4) Kalau wanita itu temyata mengimani semua dan dengan setia mau mengakui dan melaksanakan semuanya hingga akhir, (5) dan kalau seandainya wanita itu tidak bersuami atau jika bersuami, suaminya dengan wewenang uskup keuskupannnya telah masuk hidup membiara serta mengikrarkan kaul bertarak, dan wanita itu tidak terhalang melaksanakan (cara) hidup ini karena usia lanjut atau gangguan jiwa.
(6) Maka dengan seksama harus dijelaskan intisari cara hidup kita kepadanya.  Mat 19:1
(7) Kalau wanita itu temyata cakap, hendaknya dikatakan kepadanya firman Injil, yaitu: supaya ia pergi dan menjual seluruh miliknya dan dengan sungguh-sungguh berupaya membagi-bagikannya kepada orang miskin. (8) Kalau ia tidak dapat melakukannya, maka cukuplah baginya kemauan yang baik. (9) Abdis dan para saudarinya jangan memusingkan dirinya dengan barang sementara wanita itu, supaya dengan bebas ia berbuat dengan barangnya seperti diilhami Tuhan kepadanya. (10) Tetapi kalau diminta nasehat, hendaklah Abdis serta saudari-saudarinya mengirimnya kepada beberapa orang yang bijak dan takwa, lalu sesuai dengan nasehat mereka hendaknya barang milik wanita itu dibagi-bagikan kepada orang miskin.  

Kis 13:16

 

(11) Sesudah itu hendaklah Abdis memberi wanita itu tiga jubah dan sebuah mantel, setelah rambutnya dipotong berkeliling dan pakaian preman ditanggalkan.
(12) Selanjutnya ia tidak diperbolehkan keluar biara, kalau tidak ada alasan yang berguna, masuk akal, jelas atau yang dapat dibenarkan.
(13) Setelah tahun percobaan selesai,wanita itu hendaknya diterima ke dalam (rangka) ketaatan (komunitas), sambil (wanita itu) bej1 Ptr.2:21 anji untuk selamanya melaksanakan (cara) hidup dan pola dasar kemiskinan kita.
(14) Tidak seorang pun saudari boleh diberi selubung selama waktu percobaan.
(15) Para saudari boleh mempunyai mantel pendek supaya dengan mudah dan pantas dapat melakukan pelayanan dan pekerjaan.
(16) Hendaklah Abdis dengan bijaksana mangusahakan pakaian bagi mereka dengan memperhatikan masing-masing orang, tempat, musim dan daerah-daerah yang dingin, sebagai mana Abdis menganggapnya sesuai dengan keperluan.
(17) Puteri-puteri yang diterima dalam biara tetapi belum menggenapi umur yang ditentukan hukum Gereja, mesti dipotong rambutnya berkeliling. Setelah menanggalkan pakaian preman, mereka mengenakan pakaian kebiaraan, sebagaimana ditentukan Abdis. (18) Setelah puteri-puteri itu mencapai umur yang ditentulcan hukum Gereja dan setelah mengenakan pakaian seperti lain-lain saudari, hendaklah mereka mengikrarkan prasetianya.
(19) Hendaklah Abdis dengan seksama menyediakan bagi puteri-puteri itu dan novis-novis lainnya seorang pembina yang diambil dari antara para saudari yang paling bijak dalam biara. (20) Hendaklah pembina itu dengan seksama mendidik para novis tersebut dalam hidup suci dan tingkah laku yang pantas, sesuai dengan cara hidup yang kita profesikan.
(21) Cara penyelidikan dan penerimaan saudari-saudari yang menangani pelayanan di luar biara harus sama dengan yang disebut di atas. (22) Saudari-saudari itu boleh mengenakan sepatu. Luk 2:7.12
(23) Tidak ada seorang pun wanita boleh secara tetap tinggal bersama dengan kita, kecuali kalau telah diterima sesuai dengan cara hidup yang kita profesikan.
(24) Dan demi kasih Kanak-kanak yang tersuci dan paling tercinta, yang terbendung lampin yang miskin dan terletak di palungan, dan demi kasih Bunda-Nya yang tersuci, saya menasehati, memohon dan mengajak para saudari saya, supaya selalu mengenakan pakaian yang dina.

Bab 3

III. Perihal sembahyang berkala, puasa, pengakuan dosa dan menyambut Sakramen Maha Kudus
(1) Para saudari yang tahu membaca hendaklah mengadakan sembahyang berkala sesuai dengan yang biasa pada para Saudara-saudara Dina. (2) Karena itu mereka dapat mempunyai buku brevir. Hendaklah mereka mendaras sembahyang itu tanpa menyanyi. (3) Saudari-saudari yang dengan alasan yang masuk akal kadang-kadang tidak dapat mendaras sembahyang itu, boleh membaca Bapa Kami seperti lain-lain saudari.
(4) Para saudari yang tidak tahu membaca hendaklah mengucapkan Bapa Kami:  Mat 6:9-13
Dua puluh empat kali sebagai sembahyang malam, lima kali sebagai sembahyang pagi, sebagai sembahyang Prima, Tertia, Sexta dan Nona, masing-masing tujuh kali. Duabelas kali sebagai sembahyang sore, dan tujuh kali sebagai sembahyang penutup.
(5) Untuk arwah, hendaklah mereka mengucapkan: pada sembahyang sore tujuh kali Bapa Kami, dengan: Semoga Tuhan memberi mereka istirahat kekal. Pada sembahyang malam duabelas kali. (6) Sedangkan saudari-saudari yang tahu membaca wajib mengadakan sembahyang berkala bagi orang yang sudah meninggal. (7) Apabila seorang saudari anggota biara kita berpulang, hendaklah mereka mengucapkan Bapa Kami sebanyak lima puluh kali.
(8) Hendaklah para saudari selalu berpuasa. (9) Pada hari raya Kelahiran Tuhan, entah pada hari manapun dirayakan, mereka boleh makan dua kali sepuas-puasnya.
(10) Kalau dianggap baik oleh Abdis, maka para saudari yang belum dewasa atau lemah dan para saudari yang menangani pelayanan di luar biara, dengan kasih sayang boleh dibebaskan.
(11) Tetapi para saudari tidak wajib berpuasa secara badani, apabila keadaan nyata tidak mengizinkan.
(12) Dengan seizin Abdis, para saudari hendaklah sekurang-kurangnya duabelas kali setahun menerima sakramen tobat. (13) Pada kesempatan itu jangan mereka membicarakan sesuatu yang lain dari pada apa yang bersangkutan dengan pengakuan dosa dan keselamatan jiwa.
(14) Sebanyak tujuh kali hendaklah mereka menyambut Sakramen Mahakudus, yaitu:
Pada Hari Raya Kelahiran Tuhan,
Pada Hari Kamis.Putih,
Pada Hari Raya Kebangkitan Tuhan,
Pada Hari Raya Pantekosta, Pengangkatan Maria ke surga, hari raya Santo Fransiskus, dan pada hari raya Para Orang Kudus.
(15) Supaya para saudari, baik yang sehat maupun yang sakit, dapat menyambut Sakramen Mahakudus, imam yang ditugaskan pada biara boleh merayakan Misa di dalam biara.

Bab 4

IV. Perihal pemilihan Abdis, jabatan Abdis, sidang biara, para pejabat biara dan Para penasehat
(1) Pada pemilihan Abdis, para saudari wajib menuruti aturan hukum Gereja.
(2) Para saudari sendiri segera mesti mengambil tindakan yang perlu, supaya Minister umum atau Minister provinsi dari Ordo Saudara-saudara Dina hadir, (3) agar beliau dengan firman Allah membina mereka guna mengadakan pemilihan itu dengan kesehatian penuh demi kepentingan bersama.
(4) Hanya saudari yang sudah berprofesi boleh dipilih. (5) Tetapi seandainya seorang saudari yang belum profesi dipilih atau dengan jalan lain ditentukan, maka ia tidak perlu ditaati selama belum memprofesikan pola kemiskinan kita.
(6) Apabila seorang Abdis meninggal, haruslah diadakan pemilihan Abdis yang lain.
(7)’ Dan apabila pernah para saudari menjadi yakin bahwa Abdis yang dipilih tidak sanggup seperlunya melayani kepentingan bersama para saudari, maka para saudari wajib selekas mungkin memilih seorang Abdis dan ibu lain, sesuai dengan aturan yang disebut di atas.
(8) Tetapi saudari yang dipilih menjadi Abdis hendaknya merenungkan betapa berat beban yang dipikul kepada dirinya dan kepada siap ia mesti mempertanggung jawabkan kawanan yang dipercayakan kepada dirinya.  Mat 12:36Ibr 13:17
(9) Hendaklah ia juga berupaya terlebih mengatasi yang lain-lain dengan kebajikan dan cara hidup yang suci daripada dengan wewenang jabatan, sehingga para saudari terbujuk oleh teladannnya terlebih taat kepadanya karena kasih, bukan karena takut.
(10) Ia tidak boleh pilih kasih, supaya jangan memasang batu sandungan bagi keseluruhan oleh karena terlebih mencintai sebagiannya.
(11) Hendaklah Abdis menghibur saudari-saudari yang susah. (12) Hendaklah is menjadi tempat pengungsian terakhir bagi mereka yang tersesak,jangan-jangan penyaldt keputusasaan menjadi-jadi pada mereka yang lemah, oleh karena pada Abdis tidak ditemukan obat mujarab yang menyelamatkan. Mzm 31:7
(13) Hendaklah Abdis berteguh pada hidup bersama, khususnya sehubungan dengan ibadat di Gereja, dengan ruang tidur,v ruang makan, kamar orang sakit dan pakaian. (14)Demikian pula wakil Abdis wajib berteguh padanya.
(15) Sekurang-kurangnya seminggu sekali, Abdis wajib menghimpun para saudari untuk sidang biara.
(16) Dalam sidang tersebut, Abdis sendiri serta para saudari lainnnya dengan rendah hati harus mengakui pelanggaran-pelanggaran dan kelalaian-kelalaian dalam hidup bersama, yang diketahui umum.
( 17) Dalam sidang itu pun hendaklah Abdis berembuk dengan para saudari berkenaan dengan apa yang perlu dibicarakan demi kemajuan dan mutu hidup di biara. (18) Sebab seringkali Tuhan menyatakan kepada yang paling hina apa yang paling mulia.
(19) Tidak diperbolehkan berhutang besar tanpa persetujuan para saudari dan hanya kalau ternyata perlu. Dan itu pun melalui pengurus resmi biara.
(20) Jangan Abdis serta para saudari menerima barang simpanan orang lain di dalam biara. (21) Sebab kerapkali itu menimbulkan kesulitan-kesulitan dan syakwasangka.
(22) Para petugas biara hendaklah dipilih dengan persetujuan para saudari guna memelihara persatuan kasih persaudaraan dan ketenteraman.
(23) Dengan cara yang sama, hendaklah dipilih setidak-tidaknya delapan saudari dari antara yang paling bijak. Abdis wajib memanfaatkan nasehat saudari-saudari itu dalam hal-hal yang merupakan tuntutan pola hidup kita.
(24)Para saudari boleh dan malah kadang-kadang harus memecat para petugas biara dan para penasehat Abdis dan memilih orang lain, yaitu kalau mereka menjadi yakin bahwa itu berguna atau perlu.

Bab 5

V. Perihal berdiam diri, jendela bicara dan kisi-kisi

(1) Mulai dengan sembahyang Penutup sampai dengan sembahyang Tertia, hendaklah para saudari berdiam diri, kecuali saudari-saudari yang menangani pelayanan di luar biara.

(2) Di Gereja, di.bangsal tidur dan di ruang makan selama makan, hendaklah mereka selalu berdiam diri. (3) Di kamar orang sakit, para saudari selalu boleh bicara dengan cara yang sopan guna menyenangkan dan melayani mereka yang sakit. (4) Tetapi selalu dan di mana saja, para saudari boleh dengan suara lembut dan singkat mengatakan apa yang perlu.
(5) Para saudari tidak diperbolehkan berbicara di jendela bicara-atau kisi-kisi dengan tidak ada izin dari pihak Abdis atau wakilnya.
(6) Mereka yang mendapat izin j angan berani berbicara pada jendela bicara, kecuali dengan hadirnya dua saudari yang dapat mendengarnya.
(7) Tetapi mereka jangan memberanikan diri pergi ke kisi-kisi kecuali dengan hadirnya paling sedikit tiga saudari yang ditunjuk oleh Abdis atau wakilnya dari antara kedelapan saudari yang oleh para saudari telah dipilih menjadi penasehat Abdis.
(8) Aturan mengenai berbicara tersebut harus dituruti oleh Abdis sendiri dan wakilnya.
(9) Pada kisi-kisi pembicaraan semacam itu hendaknya jarang terjadi. Tetapi tidak pernah pada pintu masuk biara.
(10) Pada sebelah dalam kisi-kisi, mesti dipasang kain. Kain itu jangan disingkirkan, kecuali apabila firman Tuhan Allah disampaikan atau seorang saudari bicara dengan orang lain. (11) Pada kisi-kisi itu mesti ada sebuah pintu kayu yang daun- daunnya dipasang dengan teliti dan dilengkapi dengan dua kancing besi yang berbeda-beda serta induk kunci. (12) Khususnya malam hari mesti terkunci dengan kunci yang anaknya disimpan, yang satu oleh Abdis dan yang lain oleh koster. Pintu tersebut mesti terkunci, kecuali apabila para saudari mengikuti Misa Kudus atau pada kesempatan yang disebut di atas. (14) Tidak ada seorang pun saudari boleh berbicara dengan siapa pun pada kisi- kisi sebelum matahari terbit dan sesudah matahari terbenam.
(15) Pada jendela bicara sebelah dalam selalu mesti ada kain yang tidak boleh disingkirkan.
(16) Selama masa puasa yang berlangsung 40 hari mulai pesta Santo Martinus dan selama masa Pra-Paskah, tidak seorang pun saudari boleh berbicara pada jendela bicara dengan orang luar, (17) kecuali dengan seorang imam untuk mengaku dosa atau karena adanya keperluan lain yang nyata mendesak: penentuannya diserahkan kepada kebijaksanaan Abdis atau wakilnya.

Bab 6

VI. Perihal janji Fransiskus dan tidak diperbolehkannya mempunyai harta milik

(1) Setelah Bapa sorgawi Yang Mahatinggi karena kasih karunia-Nya berkenan menerangi hati saya, supaya saya melakukan pertobatan sesuai dengan teladan dan ajaran bapa kita Santo Fransiskus tidak lama setelah beliau sendiri bertobat, maka saya bersama-sama dengan saudari-saudari saya dengan rela hati menjanjikan ketaatan kepada beliau.
(2) Setelah bapa suci itu melihat bahwa kami tidak takut terhadap kemiskinan, kesusahan, kedinaan dan kehinaan di mata dunia ramai, melainkan malah menilai semuanya itu sebagai kesukaan, maka tergerak oleh kasih sayangnya beliau menulis bagi kami suatu pola hidup sebagai berikut: (3) “Oleh karena atas ilham ilahi kalian telah menjadikan diri kalian puteri dan hamba-sahaya Raja Mahaluhur dan Mahatinggi, Bapa sorgawi, dan bertunangan dengan Roh Kudus oleh karena kalian memilih hidup menurut kesempurnaan Injil, (4) maka saya mau dan berjanji, bahwa saya sendiri dan melalui saudara-saudara saya selalu dengan seksama akan memelihara kalian dan menaruh perhatian khusus kepada kalian, sama seperti kepada saudara-saudara saya.” (5) Janji itu oleh Fransiskus selagi hidup dilaksanakan dengan seksama dan beliau menghendaki supaya saudaranya pun selalu melaksanakannnya.
(6) Dan agar supaya kami sendiri dan juga mereka yang akan menyusul kami tidak pernah menyimpang dari kemiskinan tersuci yang kami pilih, maka menjelang wafatnya beliau menuliskan bagi kita kehendaknya yang terakhir sebagai berikut: (7)” Saya, saudara Fransiskus yang kecil ini, ingin mengikuti kehidupan dan kemiskinan Yang Mahatinggi, Tuhan kita Yesus Kristus dan Bunda-Nya yang tersuci dan saya ingin bertahan di dalamnya hingga akhir. (8) Dan saya mohon kepada kalian, tuan puteri saya, dan menasehati kalian, supaya kalian selalu menghayati hidup tersuci dan kemiskinan itu. (9) Hendaklah kalian awas sekali, jangan kalian pernah sedikit pun mundur dari padanya atas ajaran atau nasehat siapa pun”  

Mat 10:22

(10) Dan seperti saya bersama-sama dengan saudari- saudari saya selalu berupaya memelihara kemiskinan suci yang kita janjikan kepada Tuhan Allah dan Santo Fransisktus (11)demikian pun para Abdis yang mengganti saya dalam jabatan itu dan semua saudari lainnya, wajib melaksanakan kemiskinan itu secara utuh hingga akhir: (12) yaitu dengan tidak menerima atau mempunyai, entah secara langsung atau dengan perantaraan orang lain, milik atau kepunyaan, ( 13) atau apa saja yang selayaknya disebut kepunyaan, (14) kecuali tanah sebanyak sungguh diperlukan untuk kelayakan dan kesendirian biara. (15) Tanah itu jangan digarap, kecuali sebagai kebun untuk keperluan para saudari sendiri.

Bab 7

VII. Perihal cara bekerja

(1) Para saudari yang oleh Tuhan diberi karunia untuk bekerja, hendaklah sehabis sembahyang Tertia bekerja dengan setia dan pasrah kepada Tuhan sambil menangani pekerjaan yang pantas dan demi kepentingan bersama. (2) Dan itu pun sedemikian rupa, sehingga pengangguran, musuh keselamatan manusia, tercegah dan tidak terpadam semangat berdoa dan pasrah suci, yang mesti dilayani oleh segala sesuatu yang sementara.'(3) Dan apa yang dihasilkan oleh kerja tangan para saudari wajib ditentukan penggunaannya oleh Abdis atau wakilnya dalam sidang biara di depan para saudari yang hadir. 1 Tes 5:19
(4) Demikian pun hendaknya dibuat, kalau ada orang yang mengirim derma bagi keperluan para saudari dengan maksud supaya mereka didoakan oleh para saudari bersama.
(5) Semuanya itu hendaknya dibagi-bagi menurut kepentingan bersama oleh Abdis atau wakilnya dengan minta nasehat para penasehat.

Bab 8

VIII. Perihal tidak dimilikinya apa-apa oleh para saudari dan perihal mengusahakan derma dan saudari-saudari yang sakit

(1) Para saudari jangan menjadikan apa saja miliknya, entah rumah, entah tempat tinggal, entah apa saja. (2) Dan hendaklah mereka, sambil sebagai musafir dan pendatang di dunia ini mengabdi kepada Tuhan dalam kemiskinan dan kerendahan, penuh kepercayaan menghubungi orang guna mendapat derma. (3) Dan tidak sesuailah mereka merasa malu, sebab Tuhan menjadikan diri-Nya miskin di dunia bagi kita. (4)Itulah puncak kemiskinan yang mengangkat kalian, saudari-saudari yang terkasih, menjadi ratu kerajaan sorga: Ia menjadikan kalian miskin akan barang, tetapi meningkatkan kalian dalam keutamaan-keutamaan. (5) Kemiskinan itulah hendaknya menjadi bagian warisan kalian yang mengantar kalian ke tanah orang-orang yang hidup. (6) Hendaklah kalian, saudari-saudari yang terkasih, sebulat-bulatnya melekat kepadanya dan demi nama Yesus Kristus dan BundaNya tersuci, jangan menginginkan untuk memiliki sesuatu yang lain di bawah kolong langit.  Mzm 38:131Ptr 2:112Kor 8:9Mat 5:3

Luk 6:20

Mzm 141:6

(7) Para saudari tidak diperbolehkan mengirim surat atau menerima sesuatu atau memberikan sesuatu di luar biara dengan tidak seizin Abdis. (8) Dan tidak diperbolehkan mempunyai sesuatu yang tidak diberikan atau diizinkan oleh Abdis.
(9) Kalau kepada seorang saudari, dikirimkan sesuatu oleh sanak-saudara atau lain-lain orang, maka hendaklah Abdis membiarkan itu diberikan kepadanya. Kalau saudari itu sendiri membutuhkannnya, bolehlah ia menggunakannya. Kalau tidak, maka hendaklah ia dengan kasih menyerahkannya kepada seorang saudari yang kekurangan. (11) Tetapi kalau kepada seorang saudari dikirimkan uang, maka Abdis dengan nasehat para penasehatnya hendaknya dengan uang itu mengusahakan apa yang dibutuhkan saudari itu.
(12) Sehubungan dengan saudari-saudari yang sakit, Abdis wajib benar dengan seksama meneliti, entah Abdis sendiri entah melalui saudari-saudari lain, apa yang dibutuhkan bagi penyakit mereka, baik dalam hal petunjuk-petunjuk ahli, baik dalam hal makanan, baik dalam lain-lain keperluan. (13) Dan dengan kasih dan sayang hendaklah Abdis sedapat mungkin dan sesuai dengan keadaan setempat mengusahakan apa yang perlu.
(14) Sebab semua harus berupaystronga bagi saudari-saudari yang sakit dan melayani mereka sebagaimana mereka sendiri ingin dilayani, apabila kena penyakit. (15) Dan hendaklah yang seorang dengan terus terang menyatakan kebutuhannnya kepada yang lain. (16) Dan kalau seorang ibu mencintai dan mengasuh anak kandungnya, apa pula seorang saudari harus mencintai dan mengasuh saudari rohaninya dengan seksama.  Mat 7:121Tes 2:7Gal 4:19-202Sam 1:26
(17) Saudari-saudari yang sakit hendaknya tidur di kasur yang diisi dengan jerami dan memakai bantal yang diisi dengan bulu. (18) Dan mereka yang membutuhkan kaos kaki dan bolsak, boleh memakainya.
(19) Saudari-saudari yang sakit tersebut, kalau ditengok oleh orang yang masuk ke dalam biara, boleh masing-masing sendiri dengan beberapa kata tepat dan singkat menjawab mereka yang berbicara dengannya. (20).Tetapi saudari-saudari lainnya yang mendapat izin, jangan bicara dengan orang-orang yang masuk ke dalam biara, kecuali kalau dua saudari penasehat yang ditunjuk oleh Abdis atau wakilnya hadir dan mendengar. (21) Aturan berbicara tersebut harus dituruti juga oleh Abdis dan wakilnya.

Bab 9

IX. Perihal hukuman yang mesti dikenakan pada saudari-saudari yang berdosa dan perihal saudari-saudari yang menangani pelayanan di luar biara

(1) Kalau seorang saudari atas hasutan musuh berdosa berat dengan melanggar pola hidup yang kita profesikan, maka hendaklah ia dinasehati dua atau tiga kali oleh Abdis atau lain-lain saudari. (2) Kalau ia tidak memperbaiki dirinya, maka hendaklah ia di ruang makan di depan saudari, makan hanya roti dan air di lantai selama sebanyak hari ia degil. (3) Kalau dianggap tepat oleh Abdis, ia harus menjalani hukuman lebih berat. (4) Selama saudari itu degil hati hendaklah didoakan, agar Tuhan menerangi hatinya sehingga bertobat.
(5) Tetapi Abdis dan saudari-saudarinya jangan marah atau jengkel karena dosa seseorang, sebab kemarahan dan rasa jengkel menghalangi kasih di dalam dirinya dan di dalam orang lain.
(6) Seandainya pernah terjadi – mudah-mudahan jangan – bahwa antara dua saudari timbal rasa jengkel atau sakit hati akibat ucapan atau isyarat, (7) maka hendaknya saudari yang menimbulkan rasa jengkel itu segera dengan rendah hati merebahkan diri pada kaki saudari lain itu untuk minta maaf sebelum menghunjukkan persembahan doanya kehadapan Tuhan. (8) Kecuali itu hendaklah ia, dengan polos memohon, supaya saudari lain itu minta doa baginya pada Tuhan, agar Ia mengampuninya. (9) Dan saudari lain itu hendaklah ingat akan firman Tuhan ini: “Jika kamu tidak dengan sebulat hati mengampuni, Bapamu di sorga pun tidak akan mengampuni kamu”, (10) lalu dengan murah hati mengampuni saudarinya segala kejahatan yang ia lakukan terhadap dirinya.  Mat 5:23Mat 6:15Mat 18:35 
(11) Para saudari yang menangani pelayanan di luar biara jangan tinggal lama-lama di luar biara, kecuali kalau dituntut oleh sesuatu keperluan yang nyata.
(12) Dan hendaklah mereka bertingkah laku dengan sopan dan hanya sedikit berbicara, sehingga selalu dapat membina orang yang mengamati mereka.
(13) Dan hendaklah mereka sangat awas, jangan bergaul dengan laki-laki dan omong-omong dengan mereka dengan cara yang mencurigakan.
(14) Jangan mereka menjadi ibu permandian laki-laki atau perempuan, agar tidak diberi kesempatan untuk timbulnya omelan dan rasa jengkel.
(15) Jangan pula mereka dengan sengaja menceritakan dalam biara macam-macam kabar angin dari luar. (16) Dan mereka wajib benar tidak menceritakan di luar biara apa saja yang dikatakan atau dibuat di dalam dan mungkin menimbulkan nama kurang baik atau syakwasangka. (17) Kalau ada seseorang saudari yang sekali-sekali melanggar kedua aturan tersebut, maka Abdis menurut kebijaksanaannya, dapat dengan kasih sayang memberi hukuman. (18) Tetapi kalau pelanggaran itu berasal dari kebiasaan buruk, maka hendaklah Abdis, setelah minta nasehat para penasehatnya, memberinya hukuman yang sepadan dengan kesalahannya.

Bab 10

X. Perihal menasehati dan memperbaiki para saudari

(1) Hendaklah Abdis menasehati dan menengok para saudarinya dan dengan rendah hati dan kasih sayang memperbaiki mereka. Ia tidak boleh mernerintahkan kepada mereka sesuatu yang berlawanan dengan kepribadian rohani mereka atau dengan pola hidup yang kita profesikan.
(2) Tetapi para saudari yang menjadi bawahan, hendaknya ingat bahwa mereka telah menyangkal kema sendiri karena Allah. (3) Karena itu mereka benar-benar wajib mentaati semua Abdis mereka dalam hal-hal yang telah mereka janjikan kepada Tuhan, untuk dilaksanakan dan yang tidak berlawanan dengan kepribadian rohani mereka dan dengan yang kita profesikan.
(4) Tetapi Abdis hendaknya begitu akrab dengan mereka, sehingga mereka dapat berbicara dengannya serta memperlakukannya, seperti seorang nyonya rumah dapat berbuat terhadap hamba-hambanya. (5) Sebab seharusnya demikin halnya, sehingga Abdislah yang menjadi hamba-sahaya para saudari. Mat 20:27
(6) Maka demi Tuhan Yesus, saya dengan bersungguh-sungguh mengajak para saudari, agar mereka waspada terhadap setiap macam kesombongan, kebanggaan sia-sia, iri hati, keserakahan, keprihatinan dan susah mengenai yang duniawi, fitnahan, ornelan, perselisihan dan percekcokan. (7) Sebaliknya hendaklah mereka selalu berupaya satu sama lain untuk mempertahankan persatuan kasih timbal-balik yang merupakan pengikat yang membulatkan kesempurnaan.  Luk 12:15Mat 13:22Luk 21:34Gal 4:14-21

Ef 4:3

Kol 3:14

(8) Dan para saudari yang tidak mendapat pendidikan di sekolah, jangan merepotkan diri untuk mendapatkan pendidikan itu.
(9) Tetapi hendaklah mereka memperhatikan baik-baik bahwa apa yang paling mesti mereka inginkan ialah: mempunyai di dalam dirinya Roh Tuhan dan daya kerjaNya yang kudus, (10) selalu berdoa kepadaNya dengan hati yang murni bersih, merasa diri rendah dan menjadi sabar-tekun dalam kesusahan dan keadaan sakit, dan (11) mencintai mereka yang menganiaya kita, mengecam dan mencela. (12) Sebab Tuhan telah berkata: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. (13) Orang yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat”

Bab 11

XI. Perihal menjaga pingitan

(1) Penjaga pintu haruslah seorang saudari yang matang dalam tingkah lakunya dan tahu membawakan diri. Umurnya harus sepadan. Siang hari ia harus tinggal pada pintu masuk biara di sebuah bilik terbuka tanpa pintu.
(2) Baginya mesti diangkat seorang teman kerja yang cakap, yang kalau perlu, dapat menggantinya dalam segala urusannya.
(3) Pintu masuk biara dengan teliti harus dilengkapi dengan daun-daun pintu, dua kunci besi yang berbeda serta induk kunci. (4) Khususnya malam hari pintu mesti terkunci dengan dua kunci yang anaknya disimpan, yang satu oleh penjaga pintu dan yang lain oleh Abdis. (5) Dan di siang hari pintu masuk itu jangan dibiarkan tanpa pengawalan dan harus terkunci satu kunci. (6) Hendaklah saudari-saudari berjaga baik-baik dan menjamin bahwa pintu masuk biara tidak pernah terbuka, atau hanya sejauh perlu apabila mesti dibuka.
(7) Untuk orang yang mau masuk, pintu sekali-kali jangan dibuka, kecuali kalau orang itu mendapat izin dari Sri Paus atau dari yang mulia Kardinal kita.
(8) Dan.para saudari jangan mengizinkan seseorang pun masuk ke dalam biara sebelum matahari terbit atau tinggal di dalam setelah matahari terbenam, kecuali kalau sungguh-sungguh perlu oleh karena salah satu alasan jelas, yang masuk akal dan tidak dapat dielakkan.
(9) Apabila seorang Uskup mendapat izin untuk merayakan Misa di dalam biara, entah untuk pemberkatan Abdis, atau pentahbisan seseorang saudari menjadi rubiah, entah untuk keperluan lain, maka hendaklah Uskup itu mencukupi dirinya dengan iringan dan pelayan-pelayan yang jumlahnya sedikit mungkin dan orang-orangnya mesti orang yang pantas dihormati.
(10) Apabila perlu laki-laki masuk ke dalam biara guna melakukan salah satu pekerjaan, maka hendaklah Abdis dengan seksama menempatkan seorang saudari yang cocok pada pintu masuk. (11) Dan saudari itu hanya membuka pintu bagi mereka yang ditugaskan untuk melakukan pekerjaan itu dan tidak untuk lain-lain orang. (12) Semua saudari hendaklah berawas-awas, jangan pada kesempatan itu dilihat oleh mereka yang masuk.

Bab 12

XII. Perihal visitator, imam yang ditugaskan bagi biara dan Kardinal Pelindung

(1) Visitator kita selalu harus dari Ordo Saudara-saudara Dina, sesuai dengan kehendak dan penugasan oleh Kardinal kita.
(2) Visitator itu mesti seorang yang bijak dan yang kelakuan baiknya sudah sepenuh-penuhnya diketahui.
(3) Tugas visitator itu ialah: memperbaiki penyelewengan dari pola hidup yang kita profesikan, yang dilakukan entah oleh kepada entah oleh anggota (tubuh) biara.
(4) Visitator itu, sedang berada di tempat umum sehingga dapat dilihat orang lain, boleh berbicara dengan beberapa saudari serentak atau dengan masing-masing saudari tersendiri, mengenai apa yang termasuk tugas visitatornya, sesuai dengan apa yang dianggap perlu oleh visitatornya.
(5) Demi kasih sayang Allah dan Santo Frknsiskus, kami minta dari ordo Saudara-saudara (6) Dina sebagai anugerah seorang imam dan seorang rohaniwan sebagai rekannya, yang mempunyai nama baik dan perhatian bijaksana, serta dua saudara awam, pencinta kehidupan suci dan pantas. (7) Begitu kerniskinan kita mendapat pertolongan yang selalu dengan murah hati diterimakan oleh ordo tersebut.
(8) Imam yang bertugas pada biara tidalk diperbblehkan masuk ke dalam biara seorang diri tanpa rekannya. (9) Bila mereka masuk, mereka mesti berada di tempat urnum, sehingga mereka dapat saling melihat dan dilihat orang lain.
(10) Mereka diperbolehkan masuk ke dalam biara untuk menerimakan sakramen tobat kepada saudari-saudari yang sedang sakit dan tidak mampu pergi ke jendela biara, untuk menerima sakramen Mahakudus dan sakramen pengurapan terakhir dan untuk sembahyang pemasrahan orang yang mendekati ajalnya.
(11) Menurut pertimbangan Abdis boleh masuk juga sebanyak laki-laki yang sesuai dan perlu untuk Misa penguburan, upacara Misa Agung bagi orang yang sudah meninggal, untuk menggali atau membuka atau mengurus kuburan.
(12) Akhirnya para saudari benar-benar wajib selalu mempunyai sebagai pembimbing, pelindung dan pengawas kita Kardinal Gereja Roma yang kudus, yang oleh Sri Paus ditugaskan bagi Saudara-saudara Dina. (13) Maksudnya supaya kita, dengan selalu takluk dan tunduk kepada Gereja Kudus itu serta teguh dalam iman Katolik, senantiasa melaksanakan kemiskinan dan kerendahan Tuhan kita Yesus Kristus serta BundaNya yang tersuci dan Injil suci yang kita janjikan dengan tegap hati. Amin.
Dikeluarkan di Perugia, tanggal 16 September dalam tahun kesepuluh Sri Paus Innocentius IV memegang jabatannya (tahun 1252).
Maka tidak ada seorang pun yang diperbolehkan merusak piagam pengesahan kami ini dan dengan sembrono membantahnya.
Kalau seseorang memberanikan diri berbuat demikian, hendaklah ia ingat bahwa ia akan kena murka Allah yang Mahakuasa dan murka rasul-rasul-Nya Petrus dan Paulus.
Dikeluarkan di Asisi, tanggal 9 Agustus dalam tahun kesebelas kami menjabat sebagai Paus (tahun 1253)