Spiritualitas PRCA

Dilihat: 369 kali

prcaBertempat di Samadi Klender, 37 biarawati penghayat spiritualitas PRCA berkumpul. Pertemuan yang dihadiri oleh anggota tarekat FCh (Palembang), SFS (Sukabumi), KSFL (Pematangsiantar), dan FSE (Medan) itu berlangsung dari tanggal 11 s.d. 14 Oktober 2016.

Tujuan utama pertemuan ini adalah presentasi dan pembahasan rancangan naskah tentang spiritualitas PRCA. Penulisan rancangan ini melibatkan para anggota ke-4 tarekat tersebut.

PRCA

PRCA merupakan singkatan dari Peniten Rekolek Caritas Alles voor allen. Maksudnya, ke-4 tarekat (FCh, SFS, KSFL, FSE) adalah penghayat spiritualitas PRCA.

Dalam buku _*Gerakan Awal Kongregasi Peniten Rekolek*_ (Kanisius: Yogyakarta, 2009), yang diedit oleh A. Eddy Kristiyanto OFM, telah dijelaskan dimensi dan kandungan makna Peniten Rekolek sebagai gerakan religius. Gerakan yang dirintis oleh Johanna van Jesus (abad XVII) ini dalam perjalanan sejarah menginspirasi ke-4 puteri, yang masing-masing mendirikan FCh (Theresia Saelmaekers), SFS (Rosa de Bie), KSFL (Lucia Dierkx), dan FSE (Mathilda Leenders).

Setelah penerbitan buku tersebut (2009), para penghayat PRCA memimpikan lahirnya buku ke-2. Buku yang dimimpikan itu berisi spiritualitas.

Pada 2010  dan 2012 mimpi itu mulai mendapatkan wujud awalnya.  Konkretnya, masing-masing tarekat menyiapkan dan menunjuk penulis yang kompeten, yang berkontribusi bagi penulisan buku termaksud.

Peran utama Sdr. A. Eddy Kristiyanto OFM, yang bukan penghayat PRCA, adalah (bagaikan) seorang bidan, yakni membantu proses persalinan atau lahirnya mimpi tersebut menjadi kenyataan. Tepatnya, mengedit hasil riset yang tertuang dalam format naskah.

USIA KANDUNGAN

Setiap usaha penulisan buku yang bermutu senantiasa menuntut banyak hal, a.l. KELUASAN sumber, kenampuan analitik penulis, “passion”, kelihaian penulis melakukan sintesis, bekerja sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama.

Kendati ada usaha mewujudkan mimpi akan lahirnya karya tentang Spiritualitas PRCA, namun hal itu tidak dengan sendirinya mimpi itu segera berubah menjadi kenyataan. Sebab tuntutan penulisan karya yang unggul tidak terpenuhi. Contohnya: terjadi pergantian penulis, penulis tidak biasa membaca sehingga mengalami kesulitan besar untuk mengaktualisasikan diri dalam bentuk tulisan yang runtut (sistematis), inspiratif, menarik, komprehensif, dan mendalam.

Kini usaha melahirkan karya besar itu berada pada tahap dan bagian akhir, setelah ada input dan catatan kritis selama pertemuan di Samadi Klender. Masih diperlukan pertemuan satu kali lagi selama tiga hari penuh. Pertemuan itu dimaksudkan untuk finishing touch, pengerjaan bersama, tukar-informasi yang akan membulatkan karya ini sebagai produk bersama.

Pertemuan terakhir, yang direncanakan akan berlangsung di Palembang pada awal Februari 2017 nanti, menegaskan bahwa usia kandungan yang sudah 6 tahun itu memang merupakan proses yang perlu. TAK ADA YANG SIA-sia. Sebab ini memiliki makna yang sangat besar baik bagi formasi bina lanjut maupun bagi formasi inisial.

Kualitas karya tulis Sr Ludovika SFS, Sr Yulisa FCh, Sr Adelberta KSFL, Sr Alfoncine KSFL, Sr Xaveria FSE, Sr Agnes SFS, Sr Susana FCh, Sr Carolisa FCh sudah terlihat nyata. Tak berlebihan berharap, karya bersama ini semoga bermakna sebagai penegasan apa yang sudah dihayati, sekaligus memperlihatkan lorong alternatif ke depan dalam rangka menepati Injil suci seturut gaya para tokoh pilar PRCA, tradisi sehat kongregasi, dan situasi konkret di mana pun para penghayat spirit PRCA diutus.

Kontributor: A. Eddy Kristiyanto OFM

Satu komentar pada Spiritualitas PRCA

  1. Thomas Aji
    19/01/2017 at 10:58

    Selamat jumpa saudara Romo Eddy Kristiyanto OFM Terkasih.

    Senang sekali membaca berita dan liputan di web ini. Ada tambahan informasi yang cukup menarik.

    Mohon saudara Romo Eddy berkenan memberi penjelasan terkait PRCA (Peniten Rekolek Caritas Alles voor allen) dalam bahasa Indonesia itu artinya apa?
    Kemudian dengan tokoh Johanna van Jesus yang disebut pada paragraf 4. Saya baru tahu tokoh tersebut. Apakah termasuk orang kudus dalam gereja katolik atau tokoh dalam komunitas tertentu saja?

    Semoga Saudara Romo Eddy berbaik hati memberi saya wawasan singkat tanpa saya harus beli dan membaca buku _*Gerakan Awal Kongregasi Peniten Rekolek*_ (Kanisius: Yogyakarta, 2009).

    Terima kasih saya sampaikan atas kemurahan hati saudara Romo Eddy Kristiyanto OFM.

    Salam

    Aji

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *