Sikap Emosi yang Sehat (bagian 4)

03/11/2015
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.052 kali

SIKAP EMOSI YANG SEHAT

[Bagian 1]  [Bagian 2]  [Bagian 3]  [Bagian 4]

emosi 4

4. Kelompok Emosi

Untuk lebih mudah memahami dasariah emosi, kita bagikan menjadi 4 kelompok: emosi dasar, kognitif, bawah sadar dan sisi positif dan negatif emosi.

4.1. Emosi-emosi Dasar

Banyak peneliti yakin bahwa emosi kurang mendapat perhatian dalam penelitian. Secara alami emosi bersifat menyeluruh dan asli. Emosi secara dasarian bersifat seragan bertubi-tubi dan sekaligus berakhir dalam beberapa detik. Para peneliti tak sepakat berapa jumlah emosi dasar. Damasio (1999) yakin bahwa terdapat 6 emosi dasar: bahagia, susah, takut, marah, terkejut dan menjijikkan. Menurut Evans (2001) terdapatlah kesepakatan bahwa 6 emosi dasariah. Walaupun terdapat suatu perbedaan tipis istilah yang sebenarnya amat mirip yaitu bahania dan susah dengan istilah sedang dan sedih.

Tidak mungkinlah hidup tanpa emosi. Apalagi emosi tak perlulah dipelajari dan telah tertanam dalam diri kita manusia.`Kita pun menyadari bahwa anak-anak pun mengalami emosi dan sanggup mengungkapkannya dalam relasi dengan sesama walaupun tanpa kata-kata sekalipun. Emosi sanggup mempersatukan umat manusia dan melampaui perbedaan budaya manapun. Sehingga relasi bisa dijalin tanpa kata.

Plutchil (2002) menjelaskan 3 tingkat emosi menurut intensitasnya, tingkat keserupaan dan gabungan emosi utama. Contohnya, dalam duka-tertegun dalam kesusahan, duka jauh lebih terasa daripada hanya tertegun dalam kesusahan. Dalam marah-kecewa-terusik, marah jauh lebih kuat daripada hanya terusik. Demikian juga dalam hal pemahaman terror-ketakutan. Demikianlah, emosi dapat dikelompokkan dalam berbagai pola seturut situasi alami, intensitas, fungsi, dan kompkesitasnya.

4.2. Emosi Kognitif

Di samping emosi dasar, terdapatlah emosi kognitif, biasanya disebut emosi social (Damasio, 1999). Emosi social bersifat alami tetapi selaras dengan budaya setempat. Emosi kognitif atau sosial tidaklah mudah dibangkitkan, tetapi sulit juga untuk dipadamkan, berbeda dengan emosi dasariah (Evans, 2001). Lihatlah dalam kotak, terdapatlah suatu daftar perbedaan daya kekuatan emosi. Emosi kognitif tak bersifat alami dan tak secepat emosi dasariah. Emosi kognitif melibatkan proses kesadaran akal (kesadaran akal dan rencana) lebih daripada emosi dasariah.

Kasih Rasa Bangga Rasa Gelisah
Rasa Salah Rasa Marah Rasa Sesal
Rasa Malu Rasa Dengki Rasa Syukur
Rasa Bingung Rasa Kesepian Belas Kasih

Sementara Emosi dasariah berada di bawah sadar. Emosi kasih biasanya bersifat penggabungan antara emosi dan kesadaran. Akal dan biologis mengambil peran utama dalam proses pembinaan dan dalam memelihara emosi kognitif (Damasio, 1999, Evans, 2001).

4.3. Emosi Bawah Sadar

Setiap orang berusaha menekan emosi untuk mempertahankan harga diri. Emosi negative yang tak disadari dan diperlakukan sewajarnya tinggal dalam bawah sadar. Suatu saat kita tidak akan mengenali lagi dalam bentuk aslinya. Bisa juga emosi bawah sadar tersebut tiba-tiba muncul tanpa kita sadari. Contohnya, seseorang yang menekan kemarahan terhadap ayahnya pada waktu ia masih kecil, kemarahan tersebut akan mucul tak terduga. Ia menyalurkan kemarahan dengan cara mempersalahkan, mengkritik, memprotes dan melawan pimpinan, atau terhadap seseorang yang bertindak seperti ayahnya. Tetapi orang tersebut bisa menampilkan diri secara halus, sehingga ia kelihatan sempurna, sopan, saleh, dan aman dalam pembenaran diri. Demikian juga orang yang rendah diri, ia akan tampil penuh kebanggaan, sombong dan sepertinya memiliki kekuasaan dan memiliki sikap egois. Demikian pun orang yang memiliki rasa takut, ia berusaha menghindari orang-orang tertentu, tak suka dengan situasi tertentu, dan menunjukkan rasa malu untuk mengambil inisiatif. Orang tersebut kiranya tidak menyadari ketidaksukaan terhadap seseorang atau situasi tertentu dan alasannya, kecuali ia menjalani suatu pengolahan hidup. Kadang-kadang kita membutuhkan pendamping yang trampil dalam bidang tersebut.

Puspha kehilangan ibunya pada waktu ia berumur 14 tahun. Ia bilang, “Aku telah kehilangan segala-galanya dalam hidupku dengan meninggalnya ibuku”. Ia hidup seperti tidak memiliki apa pun. Ia segera memasuki hidup religius dan menjadi seorang anggota tarekat yang “saleh”.Pada waktu ia berumur 40 tahun, ia merasa bahwa ia tidak memiliki sesuatu yang mau ia perjuangkan dan motivasi hidup. Ia semacam kehilangan perasaan batin. Ia tetap tersenyum terhadap apa pun yang orang lain katakan kepanya, sekalipun hal yang menyakitkan hati. Anggota tarekat amat mencintai dia, sebagai seorang Suster yang saleh, rendah hati dan sederhana serta murah hati. Tetapi mereka pun tak begitu memperhitungkannya. Karena beberapa anggota tarekat mengamati bahwa ia tak memiliki suatu kepekaan batin. Pada kenyataannya, tak seorangpun memahami wataknya.Ia tidak memiliki gairah hidup. Perlulah ia berkonsultasi pada psikiater. Waktu ia menjalani proses pengolahan hidup ia menemukan akar masalah. Ia masih menyimpan kemarahan karena meninggalnya ibunya. Ia pun menyalurkan kemarahanya dan siap menerima kenyataan serta siap menjalani hidup baru. Pada akhirnya orang-orang yang dekat dengannya menyadari terjadinya suatu perubahan hidup dalam dirinya. Mereka pun menjalin relasi dengannya secara baru pula. Tak terselesainya masalah masa lampau membebani hidup saat ini. Tetapi hal tersebut tidak disadari. Dan orang yang bersangkutan tidak tahu alasan dasariahnya.

4.4. Emosi Positif dan Negatif

Kita semua terbiasa dengan istilah emosi positif dan negatif. Pada masa lalu pendekatan psikologis cenderung melihat seseorang dari sisi emosi negatif. Tetapi dewasa ini terjadilah sebaliknya, para psikolog lebih mengutamakan sisi emosi positif. Dari pengamatan sepintas, orang yang bahagia hidupnya begitu efektif daripada mereka yang tidak bahagia. Orang yang bahagia, hidupnya begitu produktif, lebih sosial, dan mendapat penghasilan lebih (Diener, 2000; Hupert, 2005; Seligman, 2001).

Orang yang memiliki sikap positif dan emosi disembuhkan dari berbagai penyakit lebih cepat daripada yang berpikiran negatif. Di samping itu mereka yang berpikir positif memiliki kekebalan tubuh dan batin lebih daripada mereka yang bersikap negatif. Karena emosi positif meningkatkan kekebalan tubuh dan batin. Sikap hidup positif meningkatkan kekebalan tubuh dan batin.Tetapi tingginya tekanan emosi atau sedemikian lamanya mengalami stress menghancurkan fungsi kekebalan tubuh dan batin (Huppert, 2005).

Sebaliknya mereka yang hidupnya tidak bahagia, dengan emosi negative, cenderung mempersempit semangat berpikir dan bertindak. Berbeda dengan mereka yang cenderung berpikir positif, hidupnya begitu bahagia, puas dan penuh minat sehingga meningkatkan daya berpikir dan bertindak (Frederickson, 2001). Frederickson mengangkat 10 emosi positif dasariah yang hendaknya ditingkatkan, yaitu bahagia, syukur, tenteram, minat, harap, bangga, hiburan, inspirasi, kagum, dan kasih. Hendaknya kita mengenali dan menyadari pentingnya emosi positif untuk meningkatkan kedewasaan manusiawi dan pribradi yang efektif.

Ryan dan Deci (2001) mengungkapkan bahwa orang yang begitu bahagia atau sejahtera cenderung memiliki gaya hidup semakin meningkat dan lebih memungkinkan daripada mereka yang hidupnya tak begitu bahagia dan kurang sejahtera. Kebahagiaan dan kesejahteraan memungkinkan terjadinya pemahaman positif yang semakin meningkatkan kebahagiaan. Menurut penelitian, orang yang hidupnya bahagia cenderung memahami pengalaman dan peristiwa hidup sebagai berkat daripada orang yang tidak bahagia hidupnya (Lyubomirsky and tucker, 1998). Mereka pun tak begitu reaktif terhadap pengalaman dan peristiwa negatif (Lyubomirsky and Ross, 1999).

Emosi negarif juga berperan penting dalam hidup kita. Hendaknya kita pun memahami arti pentingnya emosi negatif. Contohnya, pengaruh negatif dari pengalaman frustrasi atau sekedar depresi ringan merupakan pertanda bahwa cita-cita tak tercapai. Hendaknya kita menyelaraskan cita-cita dengan keterbatasan kita sendiri. Bahkan pengangaruh positif pun bisa berakibat buruk terhadap diri kita pada situasi terentu yang mengakibatkan dirinya menjadi lengah. Dalam hal ini pengaruh negatif pun amat berguna bagi hidup kita dalam relasi dengan sesama seperti pengalaman kekecewaan, kesedian atau kedukaan (Huppert, 2005).

Tidak mungkinlah kita mengharapkan para calon untuk mengubah emosi dalam waktu singkat, terutama emosi mendalam dari pengalaman pahit masa lalu. Emosi mendalam yang berupa luka batin tersebut butuh waktu lama dalam proses penyembuhan, bisa butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dalam proses pendampingan, pembina hendaknya mencatat tingkat perubahan emosi para calon. Proses perkembangan emosi dari emosi negatif ke emosi positif tergantung dari seringnya dan intensitas kejadian.

4.5. Memahami Emosi Utama

Hendaknya kita memahami emosi-emosi yang begitu berpengaruh bagi perkembangan hidup terpadu. Emosi-emosi utama berupa kebahagiaan, kesusahan, dan kesedihan, amarah, takut, kawatir, rasa salah dan rasa malu.

  • Kebahagiaan

Kebahagiaan berakar secara mendalam dalam suatu perjuangan dan keprihatinan kita. Walaupun kebahagiaan kadang-kadang berupa suatu kesenangan sepintas, tetapi amat berkaitan dengan situasi dan hal-hal di sekitar kita entah baik atau buruk. Sebenarnya kebahagiaan tidaklah sama dengan kesenangan. Evans (2001) membedakan bahwa kebahagiaan biasanya berlangsung lebih lama dari pada kesenangan. Suasana batin merupakan latar belakang emosi yang turun naik berdasarkan rangsangan dari luar. Dalam keadaan suasana batin tenang, kita cenderung mudah bereaksi terhadap berita baik. Tetapi sebaliknya bila suasana batin tidak tenteram, kita pun tak begitu tertarik juga pada berita baik.

Kebahagiaan tidaklah diukur dari sikap lahiriah seseorang. Seseorang barangkali nampak begitu sedih atas meninggalnya orangtua. Tetapi mungkin ia pun begitu bahagia karena orangtuanya telah bebas dari penderitaan fisik selama bertahun-tahun. Suasana batin orang tersebut begitu bahagia dan penuh syukur. Hendaknya kita pun sanggup memahami kebahagiaan batin para calon.

  • Susah dan Sedih

Rasa sedih merupakan ungkapan pengalaman kehilangan seseorang atau sesuatu yang amat berharga dalam hidup. Kesediahan berkaitan dengan ketidakberuntungan, tetapi pada dasarnya kita menaruh belas kasih kepada orang lain yang kita kasihi. Dalam kesusahan kita terpusat pada diri sendiri. Sehingga perhatian kita terhadap sesama menjadi berkurang.

Duka merupakan bagian dari kesedihan. Biasanya berkaitan dengan kematian seseorang. Dalam situasi tertentu kekesedihan terpadu dengan suatu tekanan batin, ketakutan, marah. rasa salah dan malu. Segala peristiwa sedih tersebut hendaknya dipahamai, dan disadari sepenuhnya.

Pengalaman sedih dialami semua orang karena memiliki relasi dengan sesama. Biasalah seorang wanita menangis, tetapi pria hendaknya tidaklah demikian, demikianlah peribahasa kuno. Bila terjadi kematian seseorang, banyak orang menahan diri untuk tidak menangis, sekalipun harus kehilangan seorang terkasih. Orang mengerti bahwa menangis menandakan kelemahan seseorang. Orang tak seharusnya menunjukkan kelemahannya. Tetapi bila seseorang menahan kesedihan, ia pun akan mengungkapkan kemaharahan. Para wanita mengungkapkan kemarahan dengan mencucurkan air mata kesedihan.

Dalam peristiwa Sr. Elsy, ia tak mengungkapkan rasa sedih waktu bapanya meninggal. Ia menangis pada hari hari penguburan, tetapi pada hari berikutnya ia telah disibukkan dengan kerja harian seperti biasanya. Ia telah bisa tersenyum, sepertinya tak terjadi sesuatu. Sikap menekan kesedihan dan kedukaan bisa berakibat timbulnya rasa kasihan pada diri sendiri.

Contoh lain, peristiwa terjadi pada seorang novis bernama Maria. Ibunya meninggal pada waktu ia berusia 6 tahun. Neneknya berusaha memeliharanya higga usia dewasa. Ia menjadi seorang yang begitu sensitif terhadap segala teguran sekecil apa pun dan ia pun selalu menangis. Dalam dirinya sepepertinya selalu terdengar suara berupa kasihan pada diri sendiri, “Anak yang malang, ditinggalkan ibunya”. Sanak keluarga dan tetangga biasa memperlakukan dia sebagai anak yang pantas dikasihani. Bahkan pembina pun memperlakukan dia dengan cara yang sama, sebagai anak malang yang pantas dikasihani. Tentunya siapa pun yang memahami situasinya akan memperlakukan Maria dengan sikap kasihan. Karena ia tidaklah mungkin mendapat kasih dari orang lain sebagaimana kasih dari ibu kandungnya sendiri. Sikap merasa kasihan terhadap diri sendiri menjadi hambatan bagi dirinya untuk berkembang mencapai kedewasaan. Ia hendaknya berani berjuang keluar dari “kubangan” rasa kasihan terhadap diri sendiri. Hanya dengan cara demikianlah ia akan mencapai kedewasaan manusiawi.

Terdapatlah gejala lain yang menunjukkan adanya hambatan dari kedukaan yang ditekan dan tak terselesaikan. Gejala tersebut berupa: rasa amat kawatir menjalani hidup; kegagalan hidup; rasa gagal dalam hidup; rasa kesepian; merasa tak dicintai atau disukai; merasa lunglai atau kehilangan minat sama sekali; putus harapan; rasa sedih kronis, yang tersembunyi dalam seringnya tertawa; dan penyakit sulit tidur.Dari pengalaman mendampingi para calon, ternyata terdapat sepertiga calon mengalami gejala tersebut. Hendaknya selama dalam pembinaan awal hal-hal tersebut diselesaikan, sehingga mereka dapat membaktikan hidup sepenuhnya dan penuh bahagia, tanpa hambatan batin.

  • Amarah

Amarah merupakan emosi yang amat kuat. Begitu kuatlah pengaruhnya dalam diri seseorang dan dalam relasi dengan sesama. Amarah merupakan misteri emosi yang sulit dipahami dan tak dikehendaki oleh siapa pun. Namun amarah sungguh amat beguna bagi pertahanan hidup baik secara pribadi maupun sosial, baik secara psikologis maupun psikososial. Amarah merupakan daya kekuatan dan tanda dalam komunikasi sosial (Stongman, 2003). Amarah merasuki dalam perayaan nyeri dan suatu keinginan atau dorongan untuk membalas ketidakadilan yang terjadi atas diri sendiri atau sesama (Lazarus, 1991).

Amarah juga mengandung hal yang tak berguna. Evans (2001) mengamati bahwa kita bukan seperti nenek moryang yang begitu takut pada amarah. Tetapi kita butuh ketabahan dan kebulatan untuk memahami makna amarah. Amarah memungkinkan kita membahharui diri, untuk mengatasi keterbatasan, dan untuk memperjuangkan ketidakadilan. Orang yang tak pernah marah, ia tidak pernah akan maju dan berkembang. Dalam hal ini, Elsy tidak sanggup mengolah kemarahan secara benar, waktu ia dilecehkan. Sebaliknya ia menyalurkan kemarahan terhadap diri sendiri, dengan melukai batinnya sendiri, merendahkan martabat dan mengambil kebutusan secara buru-buru dan tidak dengan bijaksana. Bila amarah tak diatur sebagaimana mestinya, ia akan   bangkit merusak diri dan sesama.

Terdapatlah budaya menguasai amarah (Lemerise & Dodge, 1993). Para wanita dinilai lebih menekan amarah dibandingkan dengan pria dalam hidup keluarga. Pada umumnya para wanita biasa menekan rasa marah. Pria menyalurkan amarah lewat kompetisi dan kemarahan sewajarnya. Orangtua kita biasa memperingatkan bahwa pria marah maklumlah, tetapi wanita tidaklah pantas marah. Bila seorang anak laki-laki marah biasa dimaafkan, dan diangkap hal biasa. Tetapi bila seorang gadis marah diangkap tidak pantas. Para wanita cenderung berteriak bila mereka sedang marah, kebiasaan tersebut dimaklumi. Tetapi menginjak dewasa para wanita mengalami kesulitan menyalurkan amarah sewajarnya.

Dalam mendampingi para calon, lebih dari sepertiga calon mengalami masalah dalam menyalurkan amarah. Pada umumnya para calon baik pria maupun wanita tak mengungkapkan rasa marah atau menyalurkannya sebagaimana mestinya. Amarah mereka ditekan. Amarah yang ditekan berakibat orang tidak memiliki konsentrasi; tak bisa tidur; batin tak tenang; mendengar pun tak memiliki perhatian; pikiran mengembara; rasa benci terhadap berbagai hal; mengalami tekanan batin; batin mudah tersinggung atau terluka; mudah menangis; kepala terasa berat; kepala sakit; dan timbul keinginan ingin bunuh diri.

Amarah terhadap orangtua, sanak keluarga. dan pimpinan biasanya ditekan berlangsung lama sejak kecil. Ditekannya amarah tersebut berakibat negatif sebagaimana gejala-gejala tersebut. Rasa putus harapan hidup biasa berakar pada amarah. Rasa sedih nampaknya tak berkaitan dengan amarah, tetapi bila ditelusuri akar kesediahan adalah amarah yang ditekan. Sebenarnya telah menjadi kebiasaan bahwa mereka yang menekan rasa marah dan mereka yang melampiaskan amarah telah terjadi sejak kecil hingga sekarang. Terpisah dari orangtua, entah karena meninggal atau ditinggal pergi sejak ia masih kecil, perselisihan dalam keluarga, gagal pendidikan di sekolah, penyakit, kemiskinan dan pengalaman pahit serupa merupakan akar terdalam amarah. Hendaknya orang mengolah diri dengan memahami akar dasariah amarah yang terjadi sejak masa kecil apa pun penyebabnya, agar ia berkembang menjadi dewasa dan memiliki kebebasan batin.

Sikap menerima rasa marah dan memmahami alamiahnya merupakan prisip dasariah bagi orang yang sungguh dewasa. Orang yang menehan amarah tersembunyi rasa takut akan akibat yang akan terjadi. Pikiran diliputi berbagai kekawatiran dan ketakutan yang tak terkontrol sama sekali. Mengingat bahwa para wanita terbiasa menahan amarah, hendaknya melatih diri menyalurkan amarah sepantasnya demi kedewasaan sejati.

Tetapi tidaklah mudah untuk membiasakan para calon menyadari dan menyalurkan amarah sepantasnya. Karena Pembina sendiri mengikuti budaya setempat dalam mengungkapkan amarah mereka. Para Pembina pun biasanya juga memiliki sikap negatif dalam mengungkapkan amarah. Bila calon marah secara terus terang dinilai tidak baik dan dinilai orang bermasalah. Pembina hendaknya memahami calon yang sedang mengungkapkan amarah dengan sikap simpatik. Calon yang biasa marah memiliki banyak tenaga yang suatu saat bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjalani tugas pelayanan.

  • Rasa Takut

Rasa takut merupakan istilah yang biasa digunakan dalam bahasa lisan dan secara psikologis berkaitan dengan perasaan. Ketakutan yang paling dasariah berkaitan dengan ancaman hidup, seperti binatang buas, tempat dan situasi asing. Rasa takut sebenarnya dimaksudkan untuk mempertahankan hidup. Terdapatlah rasa takut yang tidak masuk akal, yang disebut fobia, misalnya takut pada binatang kecil seperti kecoa. Mengapa kita takut ular? Kita taku digigit dan mati karena bisa ular. Mengapa kita takut pada binatang buas, kecelakaan, guntur, petir, penyakit dan lain sebagainya. Kita takut karena yang kita takuti akan membawa kematian.

Kita takut pada situasi asing, karena kita takut terjadi hal yang tidak diinginkan, atau hal yang negatif terhadap diri sendiri. Kita takut ditolak sebagai orang yang memiliki martabat pribadi. Barangkali kita takut gagal ujian. Kita takut naik podium dan berbicara di depan publik. Kita takut pada pimpinan. Kita takut direndahkan atau tidak berarti. Ringkasnya rasa takut salah dan malu. Walaupun rasa takut menyangkut berbagai pengalaman hidup, tetapi pada dasarnya akar rasa takut berupa rasa salah dan malu.Mengapa kita takut pada podium? Tak mungkinlah seseorang mengancam kita. Tetapi kita takut menjadi malu. Mengapa kita takut pada pimpinan? Tentunya pimpinan tak akan mencederai kita. Kita takut dinilai negatif. Penilaian negatif menimbulkan rasa malu.

Rasa takut pada dasarnya mengandung nilai positif, untuk melindungi diri kita sendiri. Rasa takut mendapat kecelakaan memperingatkan kita agar hati-hati mengendarai mobil. Demikian juga rasa takut yang lain terjadi demi keselamatan kita. Rasa takut juga memacu kita untuk melakukan hal yang sulit dengan penuh ketekunan. Takut dihukum memacu seorang anak untuk belajar keras agar tidak mendapat hukuman. Rasa takut tak berfungsi dalam hal membahayakan dirinya. Rasa takut hendaknya tidak dihindari. Rasa takut hendaknya dihadapi dengan cara yang sehat dan sikap mengambil manfaat.

  • Kegelisahan

Kegelisahan merupakan emosi pada umumnya. Kegelisahan mengungkapkan hal tidak pasti yang berakibat tekanan batin.

Kegelisahan berbeda dengan rasa takut. Rasa takut berasal dari hal yang lebih realistik atau objek tertentu. Tetapi kegelisahan berasal dari hal yang tidak pasti. Tetapi keduanya mengakibatkan tekanan batin.

Banyak calon imam dan religius mengalami rasa gelisah dan takut. Para Pembina hendaknya memahami perasaan para calon. Lebih dari duapertiga calon mengalami kegelisahan dan ketakutan. Hal itu terungkap dalam kata-kata, “Saya akan sakit dan mati”; “Saya akan mati dalam kecelakaan”; “Barangkali saya punya penyakit bawaan”; “Saya biasa berdebar-debar karena takut”. Bahkan beberapa mengalami fobia terhadap kilat dan guntur, mayat, hantu, sihir, ketinggian, dan lain-lain.

Kegelisahan dan ketakutan berakar pada peran negatif model seorang ayah. Seorang ayah seharusnya menjadi model orang yang menanamkan rasa aman bagi seorang anak. Seorang anak yang mendapatkan rasa aman selama masa kecil, ia akan percaya diri dan merasa aman. Sebaliknya seorang anak yang mengalami rasa tidak aman semasa kecil akan menjadi anak penakut dan tak percaya diri, terungkap dalam rasa takut, fobia dan gelisah. Kiranya banyak calon yang mengalami pengalaman negatif terhadap figure ayah mereka semasa kecil. Akibatnya mereka merasa takut dan gelisah.

Mereka yang dibesarkan dengan figur ayah yang memberikan rasa aman termasuk juga: Ayah yang jujur dan bertanggungjawab; yang sungguh memperhatikan hidup keluarga; yang terhormat dalam keluarga dan masyarakat; dan yang selalu hadir dalam segala situasi nyata selama pertubuhan anak. Anak yang berkembang dalam lingkungan keluarga tersebut tumbuh menjadi anak pemberani, penuh rasa percaya diri, dan aman.

Seorang ayah bisa juga menampilkan figur negatif, misalnya: “Ia biasa pergi dan tak selalu hadir bersama anak; Waktu ia berada di rumah, ia tak menunjukkan tanggungjawabnya sebagai seorang ayah, dengan minum dan mabuk; Ia menampilkan diri sebagai orang yang berkuasa dan mudah marah; Ia biasa menghukum dan menghajar anggota keluarga; Ia bertengkar dengan istri di depan anak-anak. Ia tak jujur dan tak setia pada keluarga”.

Bila calon menunjukkan gejala-gejala aneh seperti takut akan hantu, gelap, ular, setan, jenasah, kilat dan petir, suara keras dan yang semacam itu, barangkali ia mengalami masalah masa kecil yang belum diselesaikan, terutama dengan ayah. Hampir 50 persent dari calon kami mengalami masalah tersebut. Selama masa pembinaan awal mereka nampaknya merasa tidak aman, takut, tak percaya diri, dan mengalami kegelisahan tanpa sebab.

Rasa takut juga merupakan dampak dari sistem keluarga atau kelompok masyarakat tertentu lebih dari dampak lain. Bila orangtua percaya akan tenaga gaip, mantra-mantra, sihir dan ramalan-ramalan nasib, anak-anak pun akan tumbuh dalam lingkungan tersebut, sehingga mereka memiliki kepercayaan tidak teguh, takut dan kelisah.

Hendaknya kita menyadari bahwa para calon pada kenyataannya berasal dari latar belakang keluarga dan figur negatif ayah sebagaimana terungkap di atas. Sehingga mereka membutuhkan pendampingan dan pengolahan hidup demi perkembangan pribadi sebagaimana mestinya.

  • Rasa Salah dan Rasa Malu

Rasa salah dan rasa malu sebenarnya amat berkaitan erat tak terpisahkan (Lazarus 1991) yang amat berpengaruh secara psikologis dalam diri manusia.

Secara fenomenologi, rasa salah diungkapkan sebagai suatu emosi yang disadari karena mendpat kritik dan penyesalan karena suatu pemikiran, perasaan atau tindakan tertentu. Rasa salah muncul karena kita melakukan sesuatu yang kita sadari secara moral tercela; waktu kita bertindak berlawanan dengan suara hati; atau waktu kita melanggar aturan. Rasa salah mendorong kita untuk menyesal. Karena kita begitu sadar terpusat pada masalah khusus, maka kita bebas dari emosi dan menyadari untuk memperbaiki tindakan baik terhadap diri sendiri maupun sesama (Lewis, 1993).

Rasa malu terbentuk dari identitas pribadi, dari perasaan terdalam, dari perbedaan antara diri kita seadanya dan keinginan kita untuk menjadi, dan bukan berasal dari suatu tidakan buruk atau tidak pantas. Rasa salah sungguh terjadi dalam seluruh dan begitu kuat berakar dalam budaya masyarakat yang menganut moralitas yang ketat dan ajaran agama (Blum, 2008).

Menurut Blum (2008), dan Lazarus (1991), rasa malu merupakan paduan nyerinya perasaan batin, ketidaknyamanan, perasaan tertekan, merasa tidak pantas dan tak layak. Dalam rasa malu kita memikirkan diri kita sendiri sebagai orang yang tidak pantas. Kita malu dengan diri sendiri, dan berusaha menyembunyikan diri. Kita berusaha mengurangi rasa nyeri dalam batin, terutama di depan orang yang kita anggap penting. Lewes (1993) mengamati bahwa dalam sikap rasa malu “badan terasa menyusut, sepertinya diri sendiri pun tak melihat orang orang lain” (p.569). Rasa malu merupakan hasil dari sikap kompleks pemahaman atas diri sendiri yang begitu negatif.

Dalam pengalaman mendampingi para calon, ternyata terdapatlah banyak kasus yang berhubungan dengan terjadinya dalam diri para calon yang berkaitan dengan rasa malu dan rasa salah. Rasa malu dan rasa takut terungkap dalam sukap: rasa takut berhadapan dengan masyarakat; mereka mengira bahwa masyarakat sedang mengamati dirinya; merasa takut menjadi objek pembicaraan; takut mengungkapkan pendapat di depan pimpinan; dirinya bergetar karena takut yang tak jelas; merasa rendah diri.

Masalah seksualitas menjadi salah satu akar rasa malu dan rasa salah. Calon merasa malu karena memikirkan hal-hal yang menyangkut seksualitas. Mereka berpikir bahwa hal tersebut tak sepantasnya terjadi. Barangkali rasa malu dan rasa salah yang berkaitan dengan seksualitas tersebut berdasarkan pengalaman masa kecil. Pengalaman tersebut mengakibatkan rasa sedih, marah dan terutama rasa salah dan malu. Pengalaman buruk menyangkut seksual pada masa lampau menuntun seseorang pada fantasi, keingintahuan, ketertarikan pada pornografi dan masturbasi. Sehingga ia justru semakin merasa salah dan malu.

Kekerasan emosi mengakibatkan rasa salah dan malu. Pengalaman sering dihukum, dipersalahkan, dituduh, direndahkan, dan selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain oleh orangtuanya mengakibatkan timbulnya rasa malu dan rasa salah. Ternyata banyak calon berasal dari keluarga dengan latar belakang peristiwa tersebut. Mereka butuh pendampingan khusus agar mereka terbebas dari rasa salah dan rasa malu serta memiliki rasa percaya diri dalam menjalin relasi dengan lawan jenis dan masyarakat pada umumnya. Mereka pun sanggup membaktikan dirinya sepenuhnya.

4.6. Kedewasaan Emosi

Secara keseluruhan kita telah mengungkapkan masalah dasar emosi. Selanjutnya kita akan memahami dan berkembang menjadi menunju kedewasaan emosi.

Bila kita memiliki kedewasaan emosi, kita akan sanggup menerima dengan tenang segala peristiwa hidup, baik berupa kehilangan dan penyesalan, dan sanggup menyelesaikan masalah dengan efektif. Kita menjadi orang yang mudah menyesuaikan diri dan siap untuk berani berubah, sanggup menjaga keteguhan batin dalam situasi apa pun dan tetap merasa bahagia sejati dan bahagia dalam menjalin relasi dengan siapa pun. Kedewasaan emosi memungkinkan kita mengambil keputusan dengan bijaksana dan siap mengambil resiko atas keputusan tersebut.

Perrtama-tama hendaknya kita menyadari emosi yang sedang berlangsung memberi pertanda terhadapnya. Dengan mengenali emosi dan memahami penyebabnya, kita akan sanggup mengatasinya. Hendaknya kita menerima emosi sepenuhnya dan menyalurkannya sepantasnya. Perlulah menjaga keseimbangan emosi dan akal sehat dalam proses pembinaan. Ada kalanya kita dikuasai emosi, tetapi ada saatnya kita menggunakan akal sehat. Keseimbangan batin amatlah penting untuk mempertimbangkan dalam mengambil suatu keputusan.

Dengan menyadari emosi kita menyadari pula perubahan jasmaniah dan reaksi emosi dan suasana hati. Banyak di antara kita yang kurang menyadari dan menanggapi tubuh kita sendiri. Biasanya kita menyadari diri kita hanya dalam hal emosi yang sungguh menonjol dan tak menyadari kedalaman batin.

Tak mudalah menyadari emosi. Dari 100 orang dewasa yang kami amati ternyata sedikit sajalah orang yang sungguh menyadari emosinya. Kebanyakan mereka tidak menyadarinya dan bertindak mengikuti dorongan emosi. Sebenarnya sasaran dasariah pembinaan mengarahkan calon untuk mencapai kedewasaan emosi.

Setiap waktu kita bisa menyadari emosi, hendaknya kita mulai mengatur emosi. Mengatur emosi merupakan bagian perjalanan hidup menuju kedewasaan emosi. Kita hendaknya mulai mengespresikan emosi sepantasnya. Bagian dari mengatur emosi, hendaknya dipertimbangkan pantas tidaknya eskpresi emosi dalam situasi nyata. Tidaklah benar bahwa emosi harus ditumpahkan dimana-mana sesuai dengan nalurinya. Kita hendaknya belajar mengatasi emosi tanpa harus mengungkapkannya dengan cukup menyadari diri.

Salah satu aspek penting dalam mengatur emosi adalah mengatur dorongan emosi. Pada dasarnaya orang yang belum dewasa emosinya hanyalah memiliki daya kontrol emosi amat kecil pula. Mereka biasanya mengikuti dorongan naluri emosi begitu saja. Sebaliknya orang yang dewasa emosinya sanggup memperhitungkan penyaluran emosi yang tepat sesuai dengan situasi nyata.

Sebagaimana halnya kita belajar ilmu hitung atau belajar nyetir mobil haruslah kita berlatih, demikian juga dengan menguasai emosi kita pun hendaknya melatih diri. Masalahnya kita tak bagitu peduli atau tak mendapat perhatian sepantasnya untuk melatih diri untuk menguasai emosi dalam keluarga atau dalam proses pendidikan awal. Bahkan dalam pendidikan formal pun pelatihan emosi tidak mendapat perhatian semestinya. Sedikit orang kiranya mendapat kesempatan belajar di bidang konseling atau mengiuti suatu pengolahan hidup dan pelatihan pendewasaan emosi walaupun tidak untuk menjadi ahli. Para calon imam dan hidup membiara mendapat kesempatan belajar filsafat, teilogi, liturgy dan lain sebagainya. Tetapi mengapa mereka tak dibekali juga dengan pelatihan pendewasaan emosi secara formal.

Kiranya pembekalan hidup bagi para calon pun dibutuhkan bagi para Pembina. Mereka pun perlulah menyadari emosi dan mengaturnya secara efektif. Mereka hendaknya menjadi teladan dalam mengatur emosinya sendiri. Tetapi pada kenyataannya para Pembina pun belum bisa menguasai emosinya sendiri. Mereka pun seharusnya melatih diri menguasai emosinya sendiri (Lih. Kuttianimattathil, Lendakadavil & Pereira, Bab 23, vol. 2).

4.7. Ketidak-dewasaan Emosi

Orang yang belum dewasa emosinya nampak dalam pola berpikir, sikap, motivasi, dan cara bergaul dengan sesama. Hendaknya ungkapan ketidak-dewasaan emosi ditandai dengan jelas.

  • Sikap egois

Orang yang belum dewasa emosinya mengira bahwa ia menjadi pusat dunia. Ia pun kurang menghargai sesama. Ia dikuasai cara pola berpikir dan perasaannya sendiri. Ia menyangka bahwa dirinya begitu penting, sehingga ia pun butuh perhatian, hormat dan simpati. Ia butuh kasih dan perhatian dari sesama, tetapi ia jarang memberi perhatian dan kasih terhadap sesama.

Para calon hendaknya dilatih untuk berani keluar dari diri sendiri dan memilik semangat dedikasi bagi sesama. Masalah masa lampau bisa juga secara tidak sadar menghambat seseorang untuk membaktikan diri sepenuhnya. Kiranya banyak calon berasal dari keluarga yang kurang memperhatikan masalah emosi. Bisa juga keadaan keluarga yang tak rukun atau situasi keluarga yang terpaksa terjadi perceraian atau kematian, sehingga amat berpengaruh pada perkembangan pribadi anak. Peran orangtua yang tidak menunjukkan rasa tanggungjawab dalam membina anak karena suka minum dan mabuk, menghukum anak secara kejam, atau terlalu memanjakan, juga berakibat pada perkembangan emosi anak. Pengalaman negatif masa kecil berakibat pada sikap egois anak.

  • Sikap Emosi yang tak seimbang

Orang yang tak dewasa emosinya cenderung tak stabil emosi dan suasana batinnya. Mereka terbiasa mudah frustrasi dan mudah bereaksi bila dikritik. Mereka tak mudah memaafkan dan tak mudah juga minta maaf. Mereka tak biasa mengontrol emosi dan biasa menekan emosi negatif. Sikap tidak mengontrol dan menekan emosi menunjukkan ketidakdewasaan seseorang. Contohnya, tidak bisa mengontrol emosi merusak relasi dengan sesama dan menekan emosi merugikan diri sendiri. Pribadi yang tidak seimbang menyebabkan dia menjadi orang yang memiliki sikap pasif agresif.

Beberapa calon pun ternyata membawa masalah pribadi dan bisa berakibat buruk baik pada diri sendiri maupun komunitas hanya karena suatu masalah kecil. Masalah kecil tersebut berupa merasa diitolak, berupa amarah kecil, atau merasa direndahkan, atau dipersalahkan atau hanya dipertanyakan. Masalah terdalam terdapat dalam dirinya yang tak terlesaikan.

Tetapi terdapat juga calon yang emosinya begitu dingin, dan ditekan. Karena mereka tidak mengungkapkan emosi sepestinya. Mereka sulit menjalin relasi dengan sesama secara hangat. Dalam proses pembinaan hendaknya masalah emosi mendapat perhatian semestinya.

  • Relasi tak semestinya dengan sesama dan lingkungan

Untuk menjadi orang yang memiliki kedewasaan emosi butuh menjalin relasi yang sehat dalam keluarga dan dalam komunitas. Relasi yang sehat merupakan jaminan kebahagiaan sepanjang hidup. Menurut Lazarus(1991) perjumpaan adaptasi sosial merupakan tempat yang tepat bagi kedewasaan emosi. Emosi tak bungkinlah didefinisikan atau dipahami terlepas dari relasi dengan sesama. Emosi berlangsung melalui interaksi dan berjuang secara fisik dan terutama dalam lingkungan sosial dan cara kita beradaptsi.

Ketidak-dewasaan emosi dalam berrelasi berakar pada suatu keterikatan, tranferens dan dangkalnya relasi yang tak membahagiakan. Bila kita sungguh menyadari akar masalah tersebut kita tentunya segera memperbaiki dan mengembangkan relasi dengan sesama dan lingkungan secara sehat. Kalau kita tidak mengubah sikap kita bergaul, kiranya kita tetap tinggal dalam rasa benci, tak menaruh kepercayaan, curiga, posesif dalam menjalin relasi. Kita tetap akan cenderung mempersalahkan sesama atau lingkungan setiap kali kita mengalami kesalahan atau kegagalan dan bukan orang yang sungguh berani bertanggungjawab.

Tidaklah sepantasnya seorang calon memiliki suatu kelekatan terhadap seseorang, baik terhadap rekannya ataupun terhadap Pembina. Tetapi pada kenyataannya hal itu terjadi dalam diri beberapa calon karena masalah masa lalu yang belum diselesaikan. Bila mereka sanggup melepaskan diri dari segala keterikatan batin, mereka akan sanggup percaya pada diri sendiri dan merasa aman dalam hidupnya daripada hanya selalu melekat pada orang lain.

  • Terlalu Tergantung

Gejala ketidak-dewasaan emosi nampak dalam ketergantungan. Orang yang tergantung pada orang lain tidak bisa membuat suatu keputusan tanpa peneguhan dari pihak lain, terutama orang-orang yang memiliki wewenang yang diakui. Mereka tak punya kekuatan batin untuk mengenal keteguhan batinnya sendiri.

Terdapatlah berbagai alasan sikap ketergantungan terhadap orang lain. Salah satu alasan utama adalah ia tidak sanggup menghadapi suatu perlawanan atau merasa rendah diri.

  • Terlalu Sensitif

Ketidak-dewasaan emosi nampak juga dalam rasa mudah tersinggung. Orang yang mudah tersinggung akan mudah terluka karena hal-hal sederhana seperti teguran dan peringatan, bahkan termasuk juga dalam suasana lelucon. Pembina pun tidaklah mudah memahami dan mengalami kesulitan menghadapi orang yang mudah tersinggung. Mengingat bahwa orang yang mudah tersinggung menerima segala teguran dan lelucon sebagai hal melukai dirinya. Siapapun akan mengalami kesulitan berelasi dengan mereka yang mudah tersinggung sebab kita harus selalu hati-hati dalam kata-kata dan tindakan di hadapannya. Membina orang-orang yang mudah tersinggung tidaklah mudah.

  • Takterpadu

Orang yang tidak dewasa tidaklah terpadu dalam dirinya. Mereka biasa menghindari masalah-masalah relalsi dan laporan keungan yang membutuhkan integritas. Bila terjadi sesuatu yang tidak beres, mereka selalu mempersalahkan orang lain. Mereka tak sanggup atau tidak mau tahu tentang kerapuhan dirinya sendiri. Bila mereka mengalami masalah hidup atau frustrasi, mereka cenderung menghindar, tida menerima kenyataan dan mempersalahkan orang lain. Mereka tidak sanggup belajar dari pengalaman kegagalan sebagaimana orang-orang dewasa lain yang bisa belajar dari kegagalan sebagai pelajaran, menerima tanggungjawab, menerima umpan balik, dan mencari kesempatan untuk berkembang dan maju terus.

Pada kenyataannya terdapatlah banyak religius yang terlibat dalam penggelapan uang dan perilaku seksual yang tak sepantasnya. Terbuktilah bahwa para imam dan religius menyalahgunakan wewenang dengan memanipulasi laporan keungan, memalsukan kwitansi, mencuri uang projek dan menipu untuk mendapat uang. Banyak orang melakukan penipuan hanya sebagai masalah moral. Tetapi para religius melakukannya karena suatu kelainan psikologis. Biasanya mereka berasal dari keluarga yang tak saling setia, yang mengalami permasalahan dengan keuangan dan seksualitas yang tidak sepantasnya. Waktu kecil kiranya mereka menyaksikan hal-hal tersebut dalam keluarga, orangtua mereka. Sehingga mereka mengalami perkembangan dengan batin tak terpadu.

Henry, seorang imam tarekat, ia telah dipindahkan dari berbagai komunitas. Para anggota komunitas menunjukkan rasa toleransi yang tinggi terhadapnya. Tetapi ia tidak mendapat tugas dan tanggungjawab utama dalam persaudaraan karena ia tidak sanggup menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya. Ia selalu mengalami masalah dalam setiap tugas yang ia jalankan. Ia tak sanggup mengatur tugas operasional, dengan rekan kerja, sarana, waktu, tugas dan relasi dengan sesama. Keputusannya selalu mendadak dan tak terpikirkan. Seringkali ia meninggalkan tugas tanpa memberitahu siapa pun dan kembali sesuka hatinya. Kadang kala ia lupa janji dan meminta orang lain untuk mengambil alih. Ia pun kadang kala berpegang teguh pada pendapatnya sendiri, tanpa memperhitungkan rekan kerja.

Inilah orang yang berkembang menjadi dewasa, tetapi tak dewasa secara emosional. Henry telah mengalami permasalah hidup semasa kecil. Ibunya meninggal waktu ia masih kecil. Dua saudaranya meninggal waktu mereka masih kecil. Saudara laki-lakinya tumbuh bandel. Ayahnya tak mempedulikan anak-anaknya dan acuh tak acuh. Keluarga mengalami masalah berat tentang keuangan. Dan terjadilah permusuhan dalam keluarga. Ia telah kehilangan segalanya pada masa kecilnya. Ia memendam segala kebencian dan kemarahan terhadap berbagai permasalah hidup dan orang yang bertanggungjawab dalam keluarga. Masalah tersebut menguasai seluruh diri Henry secara tidak disadari. Sehingga hidupnya sepertinya tidak teratur, mengalir, mengambang dan tak sanggup mempertimbangkan dan memberikan penilaian terhadap sesama dan lingkungan.

Terdapatlah pertanyaan dasariah berkaitan dengan peristiwa yang menimpa Henry. Sejauh mana latar belakang keluarga diketahui oleh Pembina? Apakah calon dengan latar belakang demikian mendapat pendampingan sepenuhnya?

Masalah Henry kiranya mirip dengan masalah Elsy sebagaimana diungkapkan sebelumnya. Mereka berkembang secara dewasa tetapi perkembangan emosi mereka tidak seimbang dan tidak stabil. Kiranya banyak anggota tarekat pun sedikit banyak mengalami peristiwa senada yang berakibat pada ketidak-seimbangan emosi. Para Pembina hendaknya menyediakan sarana pembinaan untuk mengatasi masalah emosi. Barangkali para Pembina pun tidak dibekali pembinaan khusus dalam bidang tersebut. Kiranya perlulah menghadirkan tim ahli dalam bidang tersebut.

Permasalah tersebut sengaja diungkapkan yang hendaknya menjadi keprihatinan para Pembina. Bagian lain yang berkaitan dengan pembinaan menjadi tantangan yang hendaknya dihadapi dalam proses pembinaan.

4.8. Kedewasaan Emosi dan Kemurnian

Kedewasaan emosi kiranya menjadi tuntutan Gereja bagi mereka yang menjalani hidup selibat. Kiranya sebelum menjanjikan kaul perlulah tiap calon memastikan dirinya telah mengolah diri dan memiliki kedewasaan emosi secukupnya. Tetapi sayang dalam proses pembinaan dalam pembinaan awal masalah tersebut kurang mendapat perhatian sepantasnya. Tetapi kami yakinlah bahwa para pembinan sanggup mengevaluasi para clon sesuai dengan observasi dan intuisi. Pada kenyataannya, dewasa ini perlulah mempertimbangkan evaluasi calon yang disertai dengan pemahaman ilmiah, terutama karena dewasa ini Gereja mendapat tekanan dari masyarakat mengingat para petugas Gereja dan anggota tarekat mengalami menyimpangan hidup selibat.

Prinsip dasar hidup selibat adalah penyerahan diri total kepada Allah yang diwujudkan dalam pembaktian diri pelayanan terhadap sesama (Lih. Mannath, Bab 12, vol. 2). Orang yang tidak dewasa emosinya terungkap diatas, yaitu menjadi orang egois, mementingkan diri sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang mementingkan diri sendiri sanggup membaktikan seluruh dirinya kepada Allah dan membaktikan diri melayani sesama? Orang yang belum dewasa emosinya cenderung tak sanggup mengontrol emosinya atau menjadi dingin tak beremosi sama sekali. Orang yang dewasa emosinya kiranya tidak bahagia menjalani hidup selibat. Bila emosinya seperti amarah, kasih, perasaan tak terkendali, bagaimana mungkin menghayati kasih penuh dedikasi sebagaimana dihayati orang hidup selibat? Demikian juga bila seseorang begitu dingin emosinya, mungkinkah mengungkapkan kasih kehangatan dalam persaudaraan sebagaimana orang hidup selibat? Orang yang tak dewasa emosinya biasanya memiliki segala macam sikap kelekatan. Sikap sedemikan memungkinkan penyalahgunaan relasi, termasuk dalam hal seksual, sehingga tak mungkinlah menghayati hidup selibat sepantasnya.

Orang yang belum dewasa emosinya cenderung merasa diri tidak aman dan merasa rendah diri dan terlalu tergantung pada orang lain. Ketergantungan pada orang lain bisa menggerakan dia menyerahkan dirinya kepada orang lain, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pribadi orang lain, juga dalam hal seksual. Rasa sungkan membuat dia tak bisa mengatakan “tidak”pada permintaan yang ia sendiri tak suka. Ia pun takut hubungan putus, sehingga ia mau berbuat apa saja yang orang lain minta, bahkan dalam relasi seksual. Orang yang memiliki harga diri dan memiliki martabat merupakan syarat dasariah untuk menjalani hidup selibat. Hanya orang demikianlah sanggup menghormati tubuhnya sendiri, pendapat dan emosi serta perasaan sendiri juga sesama.

Orang yang dewasa emosinya memiliki keseimbangan menghadapi kenyataan dan seimbang dalam menilai relasi dengan sesama. Ia sanggup menjalin relasi dengan orang lain secara hangat dan tak tertalu terikat perasaan. Ia tahu untuk mempertahankan sesuaatu, tetapi ia rela untuk melepaskan juga. Ia sanggup mencintai tetapi ia pun tidak mengalami suatu kelekatan. Ia bisa ambil bagian dalam hidup seseorang, tetapi ia pun tidak mengganggu siapa pun. Ia bisa mengasihi orang lain dan orang yang dikasihi pun tak melekat padanya. Ia bisa membaktikan seluruh dirinya, tetapi tidak mengganggu siapa pun. Sikap seperti itulah yang diharapkan terdapat dalam diri orang yang membaktikan diri dalam hidup membiara.

4.9. Kedewasaan Emosi dan Intimasi

Sr. Vinitha, seorang Suster dari India yang menjadi missionaris di Brasil jatuh cinta pada seorang Bruder dari Afrika waktu mengikuti program bina lanjut selama dua bulan. Sejak dalam pembinaan awal ia telah terbiasa terbuka mengungkapkan masalah pribadinya dengan pembimbing rohani termasuk juga tentang hidup seksualnya. Ia bilang, “Saya jatuh cinta kepadanya. Saya selalu memikirkan dia sepanjang waktu. Saya sadar bahwa kami segera akan berpisah. Saya tidak tahu bagaimana saya mau mengatasi hal ini selanjutnya. Saya tidak bisa berdoa; ia selalu hadir dalam pikiranku selalu. Kadang kala saya berpikir untuk meninggalkan hidup membiara dan pergi dengan dia ke tengah hutan Afrika. Saya sadar bahwa gejolak emosi yang kuat seperti ini tidak akan berlangsung lama (sebagaimana ia katakan di kelas). Tetapi sungguh saya tidak habis pikir bagaimana saya bisa mengatasi masalah ini”.

Setelah berlangsung satu tahun, Sr. Vinitha berbagi pengalaman, “Suster, saya merapa bahagia karena kuatnya gejolak cinta telah berangsur surut. Sekarang saya bisa tersenyum setelah mengalami pergolakan tersebut, bahwa panggilan saya diperteguh. Terima kasih atas pendampinganmu, terutama karena Suster tidak mempersalahkan siapa pun”.

Sr. Sangeetha yang menginjak umut 30 tahun sungguhlah ahli dalam bidang musik dan nyanyi sekaligus menjadi guru di sekolah terkenal. Suaranya sungguh merdu sehingga ia biasa diundang di berbagai Gereja untuk koor. Hidupnya begitu bahagia dan penuh syukur dapat membaktikan bakatnya sebagai seorang anggota Tarekat. Sayanglah ia dipanggil provincial dan ia merasa terdapat sesuatu yang tidak beres. Ia dituduh menjalin kasih dengan guru music pria sesama anggota koor. Provinsial telah menyita banyak surat cinta dari orang tersebut yang sesungguhnya tak pernah diketahui dan diterima oleh Suster Sangeetha sendiri. Ia sendiri tak pernah menerima satu pucuk surat pun mengingat semua surat dialamatkan di provinsialat yang langsung disita Provinsial. Ia sendiri dengan berat hati menerima segala tuduhan dari provincial tanpa memberikan suatu penjelasan atau membela diri dalam bentuk apa pun. Ia dipindah-tugaskan dan dilarang untuk menyanyi dalam koor lagi.

Dunianya seolah-olah telah lebur. Ia sungguh mengalami peristiwa kehancuran batin. Ia merasa ditolak, merasa malu, salah dan marah terpendam. Ia tak kuasa mengungkapkan masalahnya kepada siapa pun dalam komunitas. Ia tidaklah mengalami suatu kehancuran. Ia tetap memiliki kekuatan batin untuk bisa mengatasi penderitaan batin dan menjadikan penglaman pahit menjadi bekal hidup dalam pengolahan hidup.

Sr. Vinitha beruntung dapat mengatasi permasalah hidup seksualitasnya dengan pendampingan yang sehat dan penuh pengertian. Sedangkan Sr. Sangeetha tak mendapatkan pendampingan dari anggota komunitas sepantasnya, bahkan ia dipersalahkan. Kiranya hidup selibat menyimpan banyak permasalahan hidup yang hendaknya mendapat perhatian sepantasnya (Lih. Parappully, Bab 15, vol. 2). Para Pembina hendaknya dibekali pelaltihan secukupnya dalam mendampingi para calon.

Selanjutnya kita hendaknya menyadari pentingnya kedewasaan emosi khususnya dalam persahabatan intim hidup selibat.

Secara singkat istilah “intim” berasal dari kata Latin, “intimare” berarti mendalam. Intinya persahaban intim berarti persahabatan yang sungguh mendalam baik dalam bidang perasaan batin, lahir maupun rohani sebagai anggota tarekat hidup bhakti. Terdapatlah tingkat persahabatan dan intimasi. Menurut Goergen (1979) intimasi merupakan puncak persahabatan antar pribadi, mencapai kesatuan dengan yang lain.

Persahabatan intim butuh kemampuan untuk memahami jati diri seseorang. Dalam arti kita memahami jati diri sendiri dengan segala watak dan sifat kita yang sungguh terjadi dalam diri kita. Kita mengambil tanggungjawab penuh atas diri kita dalam mengeskpresikan diri dengan penuh kesadaran dan pemahaman diri. Kita menampilkan diri seadanya di depan sesama. Menurut McClone (2009) orang yang sungguh dewasa membaktikan seluruh ketrampilan dalam menjalin relasi dengan sesama dan semakain efektif dengan menggunakan identitas diri, pemahaman dan penampilan jati diri. Di sampaing itu, kita juga menggunakan kemampuan untuk mendengar, memahami dan menunjukkan semangat empati untuk memahami pengalaman hidup sesama.

Intimasi merupakan prinsip dasar perkembangan diri seseorang, harga diri dan seluruh perasaan yang begitu majemuk. Relasi intim merupakan daya tahan idup bagi seseorang berhadapan dengan pengaruh tekanan hidup yang melelahkan. Relasi intim juga membawa peneguhan dan kekebalan yang membawa kesehatan lahir dan batin. Orang-orang yang tak mengalami persahabatan intim cenderung terkena berbagai macam penyakit. Relasi intim mengakibatkan kesehatan mental dengan terpenuhinya kebutuhan psikologis, seperti kebutuhan untuk diperhatikan, untuk dipahami, dan terutama ditema seadanya sebagai orang yang memilik harga diri. Relasi intim memenuhi kebutuhan dasar terus-menerus bagi peneguhan hidup yang menumbuhkan rasa tentaram dan rasa diterima dan mencegah kelainan pribadi. Di samping itu, terpenuhinya rasa aman dalam dirinya, menumbuhkan semangat untuk meraih cita-cita dan percaya diri, pengenalan, pendalaman dan tujuan hidup serta harga diri (Praeger, 1995).

Terdapatlah nilai saling memperngaruhi antara kedewasaan emosi dan relasi intim, yaitu semangat saling melangkapi. Kita memiliki emosi yang sehat melalui relasi dengan sesama. Kedewasaan emosi kita amat berpengaruh dalam menjalin relasi yang sehat dengan sesama.

Dengan berbagi pengalaman yang mendalam dengan seorang rekan membantu kita untuk menjadi orang yang egois dan menyempurnakan peziarahan rohani.

Menurut Jung (Kast, 2006), relasi dengan sesama terutama dengan lawan jenis mendewasakan kita dalam memiliki nilai kepriaan dan kewanitaan. Dengan memiliki sifat-sifat kepriaan dan kewanitaan dalam diri seseorang menuntun kita menuju kedewasaan rohani dan manusiawi.

Terdapatlah satu contoh seorang religius muda yang dicintai oleh seorang wanita; “Selama saya menjalani Tahun Orientasi Pastoral, saya berusaha menjauhi pergaulan dengan lawan jenis. Bahkan sejak masa kanak-kanak saya terbiasa hanya bergaul dengan sesama jenis. Tetapi seorang gadis begitu baik terhadap saya. Ia penuh perhatian dan kasih begitu mulia. Saya merasa begitu dekat dan terbuka kepadanya tanpa ragu-ragu. Saya tidak menyadari bahwa saya sungguh mencintai dia hingga ia berhasil menyelesaikan studinya. Waktu ia telah pergi, saya merasa kesepian dan rasa sakit hati yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Saya tidak tahu apakah saya sedang melekat padanya atau merasa bangga atau mungkin juga merasa malu dalam batin. Tetapi saya merasa sesuatu tumbuh dalam diri saya, yaitu semangat untuk ingin memperhatikan. Hal tersebut tak pernah saya alami sebelumnya. Pada awalnya saya merasa tak berdaya, kasihan pada diri sendiri, dan pada akhirnya saya begiu hormat pada para wanita pada umumnya”.

Relasi pria dan wanita hendaknya disertai dengan semangaat kedewasaan, artinya keduanya hendaknya berbagi suatu kebahagiaan. Syarat untuk mencapai suatu kedewasaan relasi dibutuhkan saling kerja sama, rasa humor, cepatnya rekonsiliasi, inntim dan penuh perhatian, rasa hormat, semangat saling memberi dan menerima, semangat setara, tulus, saling menerima, tahu batas, saling menghargai, kebersamaan, semangat memperluas relasi, semangat menghormati urusan pribadi, seimbang dalam kerja dan bermain, semangat saling meneguhkan. Hal-hal tersebut terjadi hanya dalam diri orang-orang yang sungguh dewasa emosinya.

Tentunya kita sadar bahwa untuk menjadi orang dewasa butuh proses sepanjang hidup, dan tidaklah mudah. Kita menjadi dewasa dengan membiarkan diri mengalami kerapuhan dan ketidak-dewasaan dalam pengalaman awal menjalin relasi. Biasanya orang yang belum dewasa dalam menjalain relalsi nampak dalam adanya kelekatan dalam relasi. Kita pun dapat mengamati orang-orang yang mengalami kelekatan dalam menjalin relasi.

4.10. Hambatan-Hambatan Relasi Intim

Ketergantungan

Saling membutuhkan dalam relasi sosial merupakan hal yang penting dan berguna bagi kestabilan dalam perkembangan pribadi. Tetapi ketergantungan total pada orang lain hingga kehilangan identitas pribadi merupakan hal tidak sehat. Mandiri total dan sikap tidak membutuhkan orang lain sama sekali menghambat seseorang untuk memperoleh sesuatu yang berguna bagi diri sendiri. Seseorang yang tak mandiri total dan sikap saling ketergantungan pertanda kedewasaan seseorang.

Seorang sahabat sejati menjadi tempat kita untuk saling bergantung dengan tidak perlu merasa sungkan dan takut. Bersama dengan seorang sahabat kita siap terluka karena kita mempercayakan diri kita kepada sikapnya untuk meterima dan memahami kita. Menghayati hidup saling menjalin persahabatan dan saling bergantung tidaklah mudah terutama bagi mereka yang tidak dewasa emosinya.

Iri hati

Rasa iri hati tentu akan terjadi dalam relasi antar pribadi. Iri hati terjadi karena kita terbiasa membanding-bandingkan dalam persahabatan. Sifat membanding-bandingkan dan yang menimbulkan rasa irihati merupakan akar dasar kecenderungan kita manusia. Hendaknya kita sanggup menerima dan mengatasi dengan hati lapang dan tulus. Membanding-bandingkan menimbulkan rasa rendah diri. Kita biasa membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain yang mendapat anugerah lebih dari kita, sehingga kita merara kecil. Rasa rendah diri dan rasa iri haati hanya bisa diatasi dengan sukap percaya diri, mandiri, dan tidak lagi membanding-bandingkan dengan siapa pun, sehingga kita tetap merasa tenteram dalam batin. Semua orang tanpa kecuali cenderung memiliki sikap membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.

Bila terjadi iri hati, berarti terjadilah hal yang normal dan alami. Hendaknya kita menyadari rasa iri hati. Janganlah kita menekan atau mengingkarinya. Kita pun tak perlu malu bahwa kita merasa iri dan cemburu. Rasa iri hati dan cemburu hendaknya dibicarakan bersama dengan sahabat secara tulus. Orang yang sedang mengalami rasa iri hati dan cemburu sedang mengalami kekecewaan. Puncak kekecewaan bisa berubah menjadi permusuhan. Hendaknya perasaan-perasaan tersebut diselesaikan secara tulus demi perkembangan pribadi yang dewasa.

Penyaluran

Hidup tidak pasti dan kesepian merupakan pengalaman yang menggelisahkan bagi hidup membiara. Menjalin persahabatan pentinglah bagi orang hidup membiara. Seringkali persahabatan intim dan sehat tak pernah tercapai, karena motivasi menjalin persahabatan hanya sekedar penyaluran dan bukan dijadikan sebagai dasar dan semangat hidup.

Rasa Takut

Menurut McClone (2009) rasa takut merupakan masalah dasar dalam menjalin persahabatan. Rasa takut ditolak, takut gagal, takut malu, dan takut terjadi konflik itulah masalah dasar relasi antar pribadi. Relasi persahabatan intim yang dewasa hendaknya disertai rasa tanggungjawab dan berani menanggung risiko bila terjadi hal yang tidak diinginkan. Hendaknya kita siap mempercayakan diri secara imani, percaya pada kekuatan batin untuk berani menghadapi segala permasalah dalam menjalin relasi pribadi. Hanya orang yang memiliki kedewasaan emosilah siap menanggung segala resiko hidup dalam persahabatan intim.

Masalah lain dalam hidup persahabatan antar pribadi berupa sikap ingin memiliki, daya tarik sesaat, tak tahan menderita, sikap ingin menguasai, tak sanggup dipisahkan dan kesendirian. Hal itu menunjukkan sikap belum dewasa dalam menjalin relasi antar pribadi.

5. Kesimpulan

Setelah kita mengadakan penelitian berbagai emosi, kedewasaan emosi, dan persahabatan intim serta pengaruhnya dalam kedewasaan psikologis, kita ambil intisarinya bagi proses pembinaan.

Kesanggupan menyadari emosi dan memanfaatkannnya pada tempatnya merupakan factor dasarian bagi perkembangan seseorang (Lih. Jeyaraj, Bab 6 dalam buku ini). Usaha mengelompokkan berbagai emosi dan menentukan emosi-emosi dasar amatlah berguna dalam membina calon untuk melatih diri dalam mengatur emosi. Proses pembinaan mengatur emosi berupa pengolahan hidup dengan menggali pengalaman masa kecil calon, terutama tak-beresnya relasi dalam keluarga, rasa memiliki harga diri, relasi-relasi dalam keluarga, dan relasi-relalsi antar pribadi.

Pada umumnya calon memasuki tarekat pada usia belasan tahun. Pembinaan psiko-seksualitas berlangsung pada tahun-tahun pertama masa pembinaan awal. Pembinaan berkaitan dengan seksualitas, kasih sejati dan penuh tanggungjawab, dan relasi yang sehat dengan lawan jenis.

Pembina hendaknya tahu dan sanggup mengevaluasi perkembangan seluruh diri calon. Dengan mengingat bahwa perkembangan kedewasaan seseorang mengalami proses perkembangan terus-menerus. Seluruh dimensi perkembangan calon hendaknya diperhatikan baik badani, pikiran, rohani, sosial, pemngetahuan, maupun kasih. Pembina hendaknya memperhatikan kekuatan dan kelemahan calon dalam bidang perkembangan dan integrasi mereka. Pembina hendaknya mengadakan permenungan berhubungan dengan kemampuan calon dalam mengatur emosi dan sikap tanggung jawab serta kebebasan pribadi.

Seluruh integrasi berbagai pengaruh, pemikiran dan fantasi hendaknya dicermati atas dasar pengalaman hidup dan bukan melalui terori-teori yang kita pelajari atau pengalaman orang lain. Pengalaman nyata tersebut bisa juga berasal dari pengalaman sendiri menjalin relasi antar pribadi. Calon butuh pendampingan dalam proses memahami arti pentingnya pengalaman menjalin relasi antar pribadi. Proses pendampingan hendaknya disertai penuh pemahaman.

Para calon tumbuh dan berkembangn melalui relasi dan contoh teladan dari para Pembina, yang telah sanggup mengatasi berbagai gejolak emosi dengan penuh kedewasaan. Para Pembina kiranya akan menjadi pemicu cepatnya kedewasaan para calon dengan menyadari emosinya sendiri dan pengembangannya. Sambil menyadari perkembangan emosi para calon, para Pembina pun terpanggil untuk meninjau kembali perkembangan emosinya sendiri. Para Pembina merenungkan kembali perkembangan emosi, mengambil risiko, dan menghadapi tantangan baru untuk tumbuh dan berkembang dengan penuh kepercayaan dan memiliki harga diri. Kebijaksanaan tumbuh dari dalam diri sendiri seseorang melalui refleksi pribadi, dan pengalaman hidup yang merangsang perkembangan para calon menuju kedewasaan emosi.

Diterjemahkan oleh : FX. Sutarja OFM

Dari sumber : Rosamma ICM and Thomas Varkey SDB, Healthy Emotional Life, dalam Jose Parappully, SDB, Psychosexual Integration and Celibate Maturity, Bosco Siciety of Printing and Grapphic Trining, New Delhi, 2012, hal. 48-81.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *