Sikap Emosi yang Sehat (bagian 3)

03/11/2015
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 485 kali

SIKAP EMOSI YANG SEHAT

[Bagian 1]  [Bagian 2]  [Bagian 3]  [Bagian 4]

emosi 3

3. Pandangan Teoretis Emosi

Emosi menjadi pusat perhatian kita manusia sepanjang masa. Tentulah filsof besar sejak Aristoteles hingga Spinosa, Kant hingga Dewey, Bergson hingga Russel telah menaruh perhatian pada masalah emosi. Emosi disadari keaslian, ekspresi, pengaruh dan tempat keberadaannya dalam hidup kita manusia. Para teolog pun mengakui peran pentingnya emosi dalam pengalaman hidup keagamaan. Hendaknya masalah emosi dipertimbangkan dalam proses pembinaan. Para penulis, artis dan pemusik pun berjuang menarik daya pikat emosi pendengar melalui komunikasi simbolis. Dan pada pertengahan abad terakhir ini, perkembangan dalam bidang psikoanalisa, psikologi klinis, dan pengobatan psikosomatis telah berfokus pada peran emosi dalam hal memahami kesehatan dan penyakit (Lazarus, 1991). Berbeda dengan karya para filosof, teori-teori emosi dewasa ini mendapat informasi dari perkembangan riset empirik. Teori-teori tersebut tidaklah terpisah satu sama lain, tetapi sebaliknya dalam riset mereka saling bekerjasama untuk mencapai wawasan luas melalui karya mereka.

3.1. Pemahaman budaya kuno dan cerita rakyat

Pada masa lampau kita biasa mendengar ungkapan: “Janganlah hatimu menguasai budimu”; “Janganlah terbawa emosi”; “Tak mungkinlah Anda melakukan suatu bisnis, bila hidupmu dikuasai emosi”; “Sadarlah dan tetaplah tenang”; “Janganlah kehilangan kesadaran”; “Janganlah tenggelam dalam kekhawatiran”; “Janganlah kawatir, jalani saja”; “Hendaknya Anda jangan merasa sedih, marah, malu, rasa salah, kawatir, bahagia” dan lain sebagainya. Mengapa emosi dinilai keliru? Salahkah munculnya suatu emosi?

Anggapan bahwa emosi hanyalah sebagai angin berlalu, merupakan ungkapan falsafah kuno. Telah bertahun-tahun emosi dirasakan sebagai hal yang bertentangan dengan akal sehat, sesuatu yang harus dilawan, harus tetap diwaspadai atau selalu harus dikontrol. Dalam bidang filsafat, Plato sendiri nampaknya memandang rendah emosi. Akal budi, jiwa dan hasrat menjadi tiga pusat perhatiannya, emosi tidaklah relevan. Kiranya bagi Plato, emosi merupakan hal yang mengacaukan, mencampuri, merasuki, atau tergabung, atau sesuatu yang malah mengurangi martabat manusiawi (Strongman, 2003).

Pandangan pada umumnya menyatakan bahwa pemikiran berasal dari akal, dan emosi berasal dari hati. Tetapi dalam pengalaman kita menunjukkan bahwa bila emosi sedang mumbara, seluruh diri kita sungguh terpengaruh. Contohnya, bila suasana hati sedang meliputi kita, kemampuan kognitif seperti perhaatian, memori, dan pemikiran sehat terpengaruh. Perhatian merupakan daya kemampuan untuk berkonsentrasi pada suatu gagasan atau tindakan. Sebagai contaoh, bila kita sedang takut, seluruh perhatian kita beralih pada sesuatu yang menakutkan kita. Kemarahan muncul dalam bentuk gangguan. Demikian juga rasa kasih mendorong kita untuk memusatkan diri pada yang terkasih. Sebagai contoh, seorang pemuda yang sedang dimabuk cinta terhadap seorang wanita membuatnya tak lagi bisa konsentrasi pada studinya, walaupun ia tahu bahwa studi merupakan masa depan utama hidupnya. Sehingga terbiasalah kita mempersalah emosi kita, karena menggangu konsentrasi. Demikian pula halnya, emosi dan suasana batin amat mempengaruhi ingatan dan dalam mengambil keputusan (Evans, 2001). Contohnya, informasi yang kita peroleh tentang diri seseorang ternyata berbeda waktu kita bertemu langsung orang orang tersebut.

“Dalam hati tersimpan alasan tersendiri yang tak dipahami oleh akal sehat” Blaise Pascal bilang. Bila kita berbicara tentang pengetahuan konitif dan emosi, atau tentang alasan dan keprihatinan, mereka biasa membedakan dua kemampuan mental. Walaupun hati berperan secara indipenden tidak berarti bahwa tak berkaitan dengan yang masuk akal. Tetapi sebaliknya, banyak hal yang keluar dari hati biasanya membebaskan kita dari bahaya, menghindari agar tak menyimpang perhatian utama, dan tetap terpusat pada suasana batin, dan yang mempengarui pertimbangan kita, karena masing-masing memiliki alasan tersendiri. Kadang-kadang yang masuk akallah yang terbaik. Evans (2001) bilang, “Tidak hanya keprihatinan perlu masuk akal, tetapi juga yang masuk akal karena keprihatinan”.

3.2. Pemahaman Emosi dewasa ini

Marilah kita secara singkat memperhatikan kembali teori emosi. Kita saksikan bahwa emosi berpengaruh sepanjang waktu. Bahkan bisa juga terjadi bahwa terjadi suatu kenyataan di luar teori pada umumnya.

Teori Somatik. 

Menurut teori somatik, ungkapan reaksi fisik melebihi penalaran merupakan emosi dasariah. Pemikiran tersebut berasal dari William James pada tahun 1880. Teori tersebut tak mendapat dukungan sama sekali pada abad 20. Tetapi teori tersebut telah muncul kembali sebagaimana diungkapkan oleh John Cacioppo (Cacioppo, Klein, Berntson, and Hatfield, 1993), Antnonio damasio (1994, 199), Joseph LeDoux (1993, 1998) and Robert Zajonc (1980, 1984). Berdasar pada riset otak yang begitu mendalam dan terbaru yakinlah bahwa emosi berubah-ubah karena mendapat rangsangan dari jaringan saraf yang amat kompleks di kepala dan kelenjar endoktrin. Contohnya, Damasio (1994), menggambarkan bahwa badan kita merupakan “teater emosi”. Ia mengatakan bahwa “emosi dasariah merupakan suatu kumpulan perubahan keadaan badaniah yang disebabkan oleh berbagai organ yang berasal dari terminal-terminal sel saraf, yang dikendalikan oleh saraf otak (hal. 139). Dalam karya Damasio (1999) diungkapkan bahwa terdapatlah hubungan yang begitu mendalam antara “emosi dan kesadaran” dan hubungan yang mendalam antara “emosi dan kesadaran dengan tubuh kita” (halaman 16). Berbagai emosi merupakan jaringan yang kompleks atas reaksi saraf dan kimiawi yang membentuk suatu pola tingkah laku. Hal tersebut “secara biologis menentukan proses, yang tergantung pada jaringan interal akal” (halaman 50).

Teori James-Lange.

Dalam artikel klasiknya yang berjudul “Apa arti emosi?”, James (1984) mengungkapkan bahwa pengalaman emosi pada dasarnya berupa suatu pengalaman perubahan badaniah. Carl Lange juga berpendapat hal serupa pada masanya. Gagasan tersebut disebut “ Teori emosi James-Lange”. Teori terebut mengungkapkan bahwa perubahan situasi mempengaruhi perubahan keadaan badaniah. Menurut James, perubahan badaniah mempengaruhi perubahan emosi. Kita merasa sedih karena kita menangis; kita marah karena kita menyerang; kita takut karena kita bergetar. Dan bukan karena kita menangis, menyerang atau bergetar karena kita menyesal, marah atau takut. Dengan kata lain, pengalaman somatic atau psikologis terjadi lebih dahulu sebelum pengalaman emosi. Kita bereaksi secara badaniah lebih dahulu terhadap suatu situasi dan kemudian kita menginterpretasikan tindakan kita ke dalam reaksi emosi. Dalam hal inilah emosi membantu menjelaskan dan mengatur tindakan kita (lih.www.emosi).

Teori Kognitif.

Teori kognitif mendapat perhatian utama dalam pendekatan psikologi untuk memahami dan mengartikan emosi. Teori kognitif lebih bersifat pemahaman kenyataan daripada penelitian dengan reset bahwa suatu aktivitas seperti bentuk penilaian, evaluasi atau pemikiran, menimbulkan suatu emosi. Richard Lazarus (1991) merupakan orang pertama berhasil mengankat masalah tersebut. Lazarus mengemukankan suatu teori emosi “itulah kognitif, motivasi dan relasi” (halaman 3), suatu pandangan integral tentang emosi bahwa ia telah merintis pandangan psikologis tersebut selama 40 tahun. Tindakan kognitif “berkaitan terutama untuk membedakan dengan bentuk-bentuk pemikiran, entah disadaari atau tidak”, yang meresapi seluruh tindakan kita. Motivasi hendaknya berkaitan dengan “keinginan, kehendak atau kebutuhan”. Aktivitas kognitif dan motivasi dibentuk dan diubah oleh transaksi yang kita lakukan dengan lingkungan fisik dan social (halaman 6).

Menurut Lazarus (1991) emosi merupakan suatu gangguan sebagai berikut: 1) Penilaian kognitif, penilaian suatu peristiwa secara kognitif yang berkaitan dengan emosi. 2) Perubahan filosofi, reaksi kognitif yang memacu perubahan biologis, seperti meningkatnya denyut jantung atau reaksi andrenal pituitary. 3) Tindakan, seseorang merupakan suatu emosi dan memutuskan untuk melakukan suatu reaksi. Lazarus mengartikan emosi sebagai berikut:

“Emosi merupakan reaksi-reaksi yang begitu kompleks, terpola, dan teratur dalam cara kita berpikir. Hal-hal tersebut berpengaruh dalam seluruh hidup kita dalam seluruh perjuangan hidup, berkembang dan meraih cita-cita. Emosi tak berbeda dengan suatu bangunan psiko-sosio biologi. Dengan cara demikianlah kita mengungkapkan nilai keintiman pribadi yang begitu mendalam dalam relasi dengan hidup sosial. Hal tersebut juga mengkombinasikan proses motivasi, kognitif dan adaptasi serta psikososial menjadi satu jaringan kompleks (1991, halaman 6).”

Terdapatlah beberapa ahli yang begitu terkenal tentang teori kognitif, seperti halnya Back (1971, 1976), Ellis (1973, 1985; Ellis and Harper, 1961), dan Meichenbaum (1977). Setiap orang menymbangkan suatu pemikiran tentang proses kognitif yang memunculkan emosi. Teori emosi rasional dikenal sebagai teori ABC (Ellis, 1973). Teori tersebut mengungkapkan suatu pemahaman yang amat berguna tentang dialektik antara kognitif dan emosi. “A” merupakan suatu kejadian, situasi atau seorang pribadi yang melakukan suatu tindakan. “C” merupakan akibat dari suatu emosi dan kelakuan yang terungkap dalam suatu tindakan. “B” dipahami sebagai suatu (sikap, harapan atau perkiraan) tentang A yang dimiliki seseorang. Teori tersebut mengungkapkan bahwa emosi-emosi tersebut tidak disebabkan oleh A, tetapi oleh B, keyakinan seseorang tentang A. Karena itu bila kita ingin mengubah emosi, kita hendaknya mengubah keyakinan atau pandangan kita terhadap A.

Teori pemahaman kognitif tentang sebab emosi merupakan implikasi mendasar, terutama yang berkaitan dengan peristiwa traumatis. Pada saat ini kita tidak bisa berbuat apa-apa terhadap suatu peristiwa yang terjadi atau pengalaman yang sedang berlangsung dalam pengalaman-pengalaman hidup kita yang telah lalu. Tetapi kita bisa mengubah sikap kita terhadap peristiwa yang telah terjadi dan dalam mengubah sikap tersebut kita akan merasakan sesuatu yang berbeda atas peristiwa tersebut.

Teori Persepsi

Teori persepsi merupakan perkembangan dari terori somatic dan kognitif yang berkaitan dengan emosi. Teori persepsi bisa diterima sebagai neo-Jemasian yang menyatakan bahwa reaksi badani merupakan pusat emosi. Di samping itu teori persepsi menekankan artipentingnya emosi yang dipahami sebagai kognitif teori. Hal yang baru menurut teori persepsi adalah pemahaman yang didasarkan pada konsep tidak harus mengungkapkan suatu arti. Badan berekasi dengan sendirinya atas dasar desakan emosi yang penuh arti yang dibangkitkan oleh suatu situasi tertentu. Dalam hal ini emosi dipahami sebagaimana pancaindera seperti visi dan sentuhan yang memberikan informasi tentang relasi seseorang dengan dunia sekitar (lih. www.wikipedia.org/wiki/emotion).

Dari berbagai teori tersebut, diketahuilah bahwa emosi merupakan gejala kompleks. Hal itu melibatkan perubahan badani yang disebabkan oleh aktivitas saraf dan endoktrin. Hal itu berakibat pada perubahan-perubahan persepsi dan perasaan mendalam mental dan sikap. Seseorang yang dewasa emosinya sanggup menguasai emosi yang berubah-ubah dan akibatnya selaras dengan situasi nyata.

Diterjemahkan oleh : FX. Sutarja OFM

Dari sumber : Rosamma ICM and Thomas Varkey SDB, Healthy Emotional Life, dalam Jose Parappully, SDB, Psychosexual Integration and Celibate Maturity, Bosco Siciety of Printing and Grapphic Trining, New Delhi, 2012, hal. 48-81.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *