Sikap Emosi yang Sehat (bagian 2)

03/11/2015
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 409 kali

SIKAP EMOSI YANG SEHAT

[Bagian 1]  [Bagian 2]  [Bagian 3]  [Bagian 4]

emosi 2

2. Emosi dan Hidup sehat

Emosi mengambil peran penting dalam hidup kita sehari-hari. Hal itu berpengaruh pada tindakan dan perkataan kita. Hal itu biasa terungkap dalam penampilan, ekspresi, dan watak. Hal yang sama berkaitan dengan kognitif dan berpengaruh dalam berelasi dengan sesama. Tetapi terutama emosi terpusat pada kedalaman batin, dalam perasaan pribadi. Ambil contoh rasa nyeri, emosi menunjukkan informasi pribadi yang berkaitan dengan kesehatan dan bahkan keberlangsungan hidup (Strongman, 2003).

Goleman dalam riset (1995) mengungkapkan bahwa kita manusia mencapai sukses bukan hanya karena memiliki kemampuan intelektual (IQ) saja, tetapi juga karena kita memiliki kecerdasan emosi (EI). Kecerdasar emosi memungkinkan kita untuk mengontrol emosi, memelihara kesadaran batin, dan menguasai diri. Kecerdasan emosi membantu dalam menjalin relasi dengan sesama dan mengatur orientasi pelayanan. Hal itu pun berupa kemampuan untuk mempelajari suatu ilmu pengetahuan dan menerapkannya, termasuk juga untuk memahami emosi dirinya sendiri dan sesama agar bisa mengatasi suatu masalah. Kemampuan intelektual (IQ) barangkali terbatas, tetapi kecerdasar emosi (EI) tetap terbuka untuk dikembangan sepanjang masa.

Kecerdasan emosi menciptakan keseimbangan antara emosi dan penalaran, sehingga tak didoninasi baik oleh emosi maupun penalaran (Evans, 2001). Sesorang yang memiliki kecerdasan emosi sadar akan dirinya dan tahu saatnya untuk menguasai emosi dan membiarkan emosi terjadi atas dirinya. Emosi kita menunjukkan kepada kita sikap selayaknya dan menanggapi sepantasnya terhadap situasi nyata.

Orang yang mengutamakan kesadaran emosi memahami bahwa kesadaran terdalam perasaannya menjadi pedoman utama lebih daripada pertimbangan lain dalam mengambil keputusan. Bila kita sanggup menerima diri kita sendiri dan seluruh perasaan kita, kita pun siap menerima segala kerapuhan kita pula. Tentu saja kita siap dan tidak takut sama sekali menerima pedihnya perasaan terdalam dalam diri kita sendiri, sebab perasaan tersebut bukanlah untuk menghancurkan diri kita. Demikian juga kita pun tidak membiarkan perasaan kita dikuasai oleh perasaan orang lain, termasuk orang yang sungguh kita cintai, sebab kita pun masih bisa mengungkapkan rasa simpatik tanpa harus mengorbankan diri atau menjadi martir.

Bermain perasaanlah salah satu bagian seorang Pembina yang efektif. Ia hendaknya memiliki kemampuan membiarkan diri menjadi sensitif menanggapi emosi sepantasnya. Ia hendaknya sanggup membangun persahabatan dengan calon dengan penuh saling percaya. Kiranya pantaslah Pembina memiliki kriteria beberapa hal berikut:

Cara mengembangkan emosi:

  • Bertindak sebagai orang yang bahagia.
  • Menjalani kegiatan dengan senang.
  • Berbagi pengalaman dengan orang lain.
  • Siap membantu.
  • Menggunakan waktu santai secara alami.
  • Aktif secara badani

 

Diterjemahkan oleh : FX. Sutarja OFM

Dari sumber : Rosamma ICM and Thomas Varkey SDB, Healthy Emotional Life, dalam Jose Parappully, SDB, Psychosexual Integration and Celibate Maturity, Bosco Siciety of Printing and Grapphic Trining, New Delhi, 2012, hal. 48-81.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *