Sikap Emosi yang Sehat (bagian 1)

03/11/2015
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 514 kali

SIKAP EMOSI YANG SEHAT

[Bagian 1]  [Bagian 2]  [Bagian 3]  [Bagian 4]

emosi 1

1. Pengalaman Hidup Elsy

Setelah lulus SMA Elsy masuk Tarekat. Itulah bekal pendidikan formal yang telah ia tempuh. Satu-satunya keinginan hidupnya hanyalah untuk menjadi misionaris yang baik. Ia menjalani tahun-tahun pembinaan dengan penuh ketekunan di dalam rumah pendidikan Tarekat. Dari penampilan hidupnya, ia begitu mengesankan bahwa ialah calon yang begitu pantas untuk menjadi seorang religius. Ia begitu murah hati, penuh kasih, siap melayani, akrap dengan siapa saja, dan penuh perhatian kepada semua orang. Sebagai seorng Suster ia telah ditempatkan di berbagai komunitas tempat karya. Ia pun mengalami berbagai tantangan fisik dan mental dalam menjalani karyanya. Bahkan ia sanggup berbicara hingga 5 bahasa daerah karena ia begitu akrap dengan masyarakat setempat, termasuk bahasa Inggris walaupun tak begitu sempurna. Ia begitu mencintai tugas-tugas pelayanan. Bahkan ia pun pada akhirnya terpilih menjadi pimpinan Tarekat pada usianya yang relaatif muda mengingat banyak anggota Tarekat begitu mencintainya.

Seorang pemuda begitu terkesan akan cara hidup Suster Elsy. Ia pun siap membantu karya misi Tarekat dengan menyumbangkan berbagai sarana penunjang misi. Pada mulanya Suster Elsy menganggap biasa saja menjabata sebagai pimpinan Tarekat dan menjalin relasi dekat dengan penyumbang Tarekat. Tetapi pemuda tersebut merasa tergila-gila dan terobsesi dengan Suster Elsy dan bertekad untuk menikahinya. Suster Elsy tidak siap menghadapi peristiwa tersebut apalalgi ia pun tak begitu tertarik akan pengalaman romantik dengan pria mana pun termasuk pemuda tersebut. Timbullah rasa benci keluar dari hati pemuda tersebut karena kasihnya tak mendapat tanggapan sama sekali. Pemuda tersebut melampiaskan kebenciannya dengan menyebarkan gosip bahwa ia segera akan menikah dengan Suster Elsy yang telah mengandung.

Mendengar gossip tersebut, Suster Elsy merasa tersambar petir pada siang bolong. Suster Elsy tak sanggup menghadapi sikap seseorang yang sungguh menghancurkan hidupnya, walaupun anggota Tarekat sungguh tidak percaya pada gossip tersebut. Akhirnya Suster Elsy memutuskan untuk meninggalkan Tarekat karena ia tidak sanggup menanggung rasa malu. Para suster anggota Tarekat mengingatkan bahwa Suster Elsy begitu terburu-buru dengan mengambil keputusan secara tidak bijaksana. Tetapi ia tidak menggubrisnya dan segera meninggalkan persaudaraan. Kiranya keputusan tersebut merupakan suatu pelarian dari kenyataan, ia akan menyesal di kemudian hari.

Ia pun menikah dengan seorang pria pilihan keluarganya. Pernikahan tersebut justru menjadi awal kehancuran hidupnya karena ia tidak siap menghadapi masalah myata.

Suster Elsy memiliki kepribadian “ingin menyenangkan orang lain”, ia tidak bisa mengatakan “tidak” kepada orang lain dalam hidupnya. Ia tidak pernah memperhatikan kebutuhan dan kebahagiaan pribanya sama sekali. Ia begitu mengutamakan pelayanan terhadap sesama apa penngorbannya demi “menyenangkan orang lain”. Bagi dia “sikap memperhatikan dirinya sendiri” bukanlah “seorang religius yang baik”. Ia tak pernah mengungkapkan rasa kekesalan dan rasa sedih”. Ia pun tidak pernah ingin melukai seseorang. Bila seseorang merasa terluka karena tindakannya yang tak disengaja, iapun sungguh menyesal begitu mendalam. Ia tampil dengan senyum manis secara tulus, walaupun ia pun menekan emosinya. Para pembinanya tak pernah mengamati secara jelas adanya ketidakberesan emosinya dalam menghadapi suatu masalah.

Masalah Suster Elsy bukanlah luar biasa. Kiranya beberapa anggota Tarekat pada umumnya mengalami peristiwa yang mirip dengan pengalaman Suster Elsy. Pada masa pembinaan awal kiranya mereka dianggap sebagai calon yang “baik” dan berhasil menempuh proses pembinaan awal dengan tidak banyak hambatan yang berarti. Hanya pada masa karya suatu saat mereka akan menyadari suatu hambatan emosi dalam menghadapi suatu masalah dalam hidupnya. Ketidaksanggupan menguasai emosi dalam menghadapi suatu masalah membuat ia bingung, tertekan dan menderita batin dan akhirnya berpengaruh pada hidup religius dan karya.

Sikap emosi yang sehat merupakan syarat bagi calon untuk menjadi seorang anggota Tarekat atau imam. Melalui penglaman mendampingi para calon, ternyata terdapat banyak calon yang mengalami masalah emosi. Perlulah para Pembina memperhatikan hal tersebut. Dewasa ini timbullah suatu kesadaran dari pihak para Pembina untuk memperhatikan masalah emosi dan terungkap dalam pedoman pembinaan. Para Pembina pun siap mendapingi para calon. Baik Pedoman pembinaan, Pembina dan calon hendaknya terpadi agar terciptalah suatu emosi yang sehat dan terpadu.

Pada dasarnya nampaklah gejala emosi yang tak seimbang dalam diri beberapa anggota Tarekat: rasa kawaatir, rasa bersalah, merasa diri tidak pantas, rasa benci pada diri sendiri, rasa takut berlebihan, rasa tertekan dan emosi tak stabil. Di samping itu terdapatlah suatu kelekatan, macam-macam obsesi, menipu, mencuri dan bohong, tak bisa dipercaya, marah tak terkendali, dan yang begitu parah usaha bunuh diri. Gejala-gejala tersebut merupakan masalah psiko-emosional yang menimpa kita manusia, termasuk para anggota Tarekat yang mendapat pembinaan bertahun-tahun. Tetapi yang patut disesalkan adalah walaupun para anggota Tarekat telah mendapat pembinaan bertahun-tahun dan menjalani bina lanjut tetapi masalah emosi pun tetap saja belum bisa diatasi. Hal itu menunjukkan bahwa dalam proses pembinaan terdapatlah suatu “lubang” yang hendaknya kita perhatikan. Artinya dalam proses pembinaan hendaknya menyadari perlunya pedoman pembinaan dan proses pendampingan yang menyangkut masalah psiko-emosi. Namun Pembina sendiri hendaknya memiliki kedewasaan emosi agar bisa mendampingi para calon. Bahan berikut disediakan agar bisa membantu Pembina dalam usaha mendapingi para calon untuk memiliki kedewasaan emosi.

Diterjemahkan oleh : FX. Sutarja OFM

Dari sumber : Rosamma ICM and Thomas Varkey SDB, Healthy Emotional Life, dalam Jose Parappully, SDB, Psychosexual Integration and Celibate Maturity, Bosco Siciety of Printing and Grapphic Trining, New Delhi, 2012, hal. 48-81.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *