Sejarah Singkat Fransiskus

02/04/2009
Oleh   |  Dilihat: 1,412 kali  |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak

tauSeperti orang muda kebanyakan, Fransiskus (1181-1226) putra Pietro Bernardone seorang pedagang kain lenan dari Asisi, memiliki impian masa depan yaitu kemasyuran dan kejayaan. Dengan dukungan harta dan kekuasaan orang tuanya, ia melakukan segala sesuatu untuk meraih impiannya itu. Tidak cukup sekedar menjadi pimpinan gerombolan anak muda yang kerjanya berkeliling dari pesta ke pesta, Fransiskus pergi ke medan laga demi menyandang gelar ksatria, simbol status yang terhormat pada masanya. 

Tetapi Allah memiliki rencana lain. Ia hadir dalam mimpi-mimpi Fransiskus dan mengusik nuraninya. Maka dimulailah pergulatan seorang anak muda untuk menemukan jati diri dan panggilannya.

Ketika benak Fransiskus dipenuhi berbagaimacam ketidak-pastian hidup, dalam suatu keheningan ia bertanya, “Tuhan, apa yang Kauinginkan supaya aku lakukan?”. Setelah bergulat sekian lama, ia memperoleh jawaban yang ditunggunya dari Yesus yang tersalib di Gereja San Damiano, “Fransiskus, pergilan dan perbaikilah GerejaKu”.

Fransiskus telah menemukan panggilannya. Ia tinggalkan segalanya: kekayaan, kekuasaan, cita-cita tentang kejayaan bahkan orang tuanya. Tanpa menunda-nunda lagi, perintah Tuhan segera dilaksanakannya. Gereja San Damiano yang nyaris runtuh dibangunnya kembali. Tetapi bukan itu maksud Tuhan sebenarnya.

Kemudian, Fransiskus sadar bahwa Gereja bukan pertama-tama bangunan fisik. Ia sadar bahwa sebenarnya ia dipanggil untuk membarui hidup menggereja dan menopangnya dengan hidup injili yang sejati. Cita-cita Injil tentang kerendahan hati, hidup yang bersahaja, persaudaraaan dan perdamaian diwujudkannya dalam hidup sehari-hari. Yesus yang miskin telah mengubah pandangannya tentang nilai hidup. Orang kusta yang dulu dipandang menjijikkan kini begitu dikasihi dan dihormati.

Itulah Fransiskus Asisi, pencinta kemiskinan dan kesederhanaan yang tidak membenci orang kaya. Ia adalah pencari keadilan tetapi menolak pemberontakan; pendoa sejati yang riang-gembira dalam ketiadaan; pelaku tapa keras tetapi lemah lembut terhadap semua ciptaanNya; bentara Tuhan tanpa kemegahan dan keagungan. Hanyalah pakaian kasar satu-satunya pembalut tubuh dalam segala cuaca. Kaki telanjang tanpa tongkat di tangan menelusuri seluruh kota. Itulah Fransiskus, si miskin dari Asisi.

Pada 1224, di Gunung La Verna, Tuhan berkenan menganugerahkan stigmata (lima luka Yesus) kepada Fransiskus. Dan dua tahun kemudian, tepatnya 3 Oktober 1226 sore hari, dengan riang gembira ia menyambut saudari maut yang datang menjemput.