Sejarah Ordo Fransiskan Hingga Tahun 1517

25/08/2011
Oleh   |  Dilihat: 3.470 kali  |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak

Unduh artikel ini

Artikel ini karangan: P. Cletus Groenen OFM.

Daftar Isi:
A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus
B. Perlu wadah yang pasti: organisasi
C. Jumlah anggota meledak; kebutuhan penyesuaian: dua golongan
D. Bonaventura: penengah; reorganisasi Ordo
E. Kelompok Spirituales: monastik, Konventual
F. Pertikaian mengenai “kemiskinan”
G. “Observantes”: murni tanpa aneka dispensasi
H. Konventual dan Observantes resmi dipisah

A. Hubungan pribadi dengan Fransiskus

Fransiskus memang mula-mula tidak bermaksud untuk mendirikan suatu ordo kebiaraan. Tetapi keadaan dan hal-ihwal yang nyata akhirnya memaksanya untuk menempuh jalan itu, yaitu mendirikan suatu kelompok keagamaan baru di dalam Gereja Katolik. Lama-kelamaan berkembanglah sekitar Fransiskus sekelompok penganut yang semakin banyak jumlahnya. Sejak awal mula kelompok itu dianggap sebagai suatu perserikatan kegerejaan yang setara dengan perserikatan-perserikatan yang sudah ada. Juga para saudara Fransiskus “meninggalkan dunia”, hanya cara dunia ditinggalkannya berbeda dengan cara yang hingga saat itu tradisionil. “Meninggalkan dunia” bagi Fransiskus dengan penganut-penganutnya tidak berarti lagi menjauhkan diri secara materil dari masyarakat pada umumnya. Dalam perserikatan baru itu ditekankan “persaudaraan”.

Anggota-anggotanya berasal dari segala golongan masyarakat: awam dan rohaniwan, bangsawan dan warga kota, kaya dan miskin. Di dalam persaudaraan Fransiskan itu golongan masyarakat atau kegerejaan tidak memainkan peranan sama sekali. Prinsip pengatur dari masyarakat feodal diganti dengan prinsip persaudaraan Injili, yang dijiwai dan disemangati oleh saling mengabdi dan saling menaklukkan diri. Perserikatan Fransiskan hidup dan bekerja dengan organisasi yang selonggar-longgarnya. Para saudara tidaklah hidup di dalam biara, melainkan seolah-olah di jalan raya. Kekurangan hidup bersama di dalam biara diganti dengan ikatan pribadi yang kuat sekali, baik diantara para saudara maupun antara saudara-saudara dengan atasannya. Atasan itu dinamakan “minister”, artinya hamba dan pelayan persaudaraan. Hubungan satu sama lain tiap-tiap kali memuncak dalam apa yang disebut mereka “kapitel”. Di dalam kapitel macam itu semua saudara berkumpul dan merundingkan cara hidup mereka. Dalam dialog dengan saudara-saudaranya yang berkumpul di dalam kapitel itu, Fransiskus pun menyusun anggaran dasarnya.

Hubungan satu sama lain dimajukan dan dipelihara pula oleh “visitasi”, artinya: para atasan wajib sering mengunjungi saudara di manapun berada dan tiap-tiap saudara pun selalu boleh langsung menghadap atasannya untuk minta nasehat dan petunjuk. Persatuan antara semua saudara berdasarkan satu anggaran dasar bersama dan persatuan itu pun menyatakan diri di dalam pakaian seragam dan doa berkala yang mereka adakan bersama-sama (berupa Bapa kami dan kemudian berupa “brevir”, atau doa ofisi).

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *