Sebuah Refleksi Sosial: Kesenjangan Kaya – Miskin

20/01/2011
Oleh   |  Dilihat: 1,231 kali  |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak

Bila kita pernah terjebak kemacetan total di jalan tol, misalnya di ruas Cawang – Tanjung Priok, kita dengan mudah melihat, betapa mobil-mobil pribadi dan tidak sedikit yang mewah mendominasi barisan panjang kendaraan yang mengular. Itu baru yang kita lihat di sekitar tempat kita terjebak. Pada saat yang sama, ada berapa mobil pribadi dan tidak sedikit yang mewah itu tengah berada di jalan tol antara Merak sampai Ciawi, Bogor dan Cileunyi, Bandung? Tak terbayangkan. Lebih tak terbayangkan lagi, ada berapa mobil jenis itu yang berada di luar jalan tol di Jabotabek saja. Belum lagi yang berada di kota-kota lain di pulau Jawa saja. Semakin tak terbayangkan! Ternyata ada banyak sekali mobil pribadi, dan tidak sedikit yang mewah.

Luar biasa! Di Indonesia ternyata banyak orang yang kaya, dan tidak sedikit yang kaya raya. Itu baru dilihat dari kepemilikan kendaraannya. Bila dilihat dari kepemilikan-kepemilikan lainnya, misalnya rumah yang bagus, isi rumah yang serba mewah, semakin kita dibuat tercengang.

Kemudian, bila pernah berkunjung pada sebuah perkampungan pinggir sungai Ciliwung, Jakarta, dengan mudah kita melihat, betapa rumah-rumah sempit dan sumpek berhimpitan satu sama lain, dan isi rumah pun hanya yang minimal untuk bertahan hidup. Itu baru yang terlihat di sekitar tempat kita berkunjung. Pada saat yang sama, ada berapa rumah yang keadaannya sama atau bahkan lebih mengharukan berada di kanan-kiri sepanjang sungai Ciliwung dari Bogor sampai muaranya di teluk Jakarta? Tak terbayangkan. Lebih tak terbayangkan lagi ada berapa rumah semacam itu yang terletak di Jabotabek? Belum lagi yang berada di kota-kota lain dan desa-desa di pulau Jawa saja! Semakin tak terbayangkan. Ternyata, ada banyak sekali rumah sempit-sumpek, dan tidak sedikit yang isi di dalamnya hanya yang minimal untuk bisa bertahan hidup.

Memprihatinkan! Di Indonesia ternyata ada banyak orang yang miskin, dan tidak sedikit yang amat miskin. Itu baru dilihat dari kepemilikan rumahnya. Bila dilihat dari kepemilikan lainnya, yang memang sedikit atau bahkan tak ada, semakin kita dibuat tercengang-cengang!

Itulah kenyataan negara kita yang luar biasa, dan sekaligus amat memprihatinkan. Ada yang orang yang kaya sekali, tetapi ada orang yang miskin sekali.

Orang-orang kaya menempati tanah 10.000 m2 untuk 10 keluarga saja, dan orang-orang yang miskin menempati tanah dengan luas yang sama untuk 1000 keluarga. Dari hal semacam itu bisa ditarik kesimpulan secara sederhana, bahwa jumlah yang kaya ternyata lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah orang miskin. Dan rasanya, ini diteguhkan oleh data, kalau itu benar, bahwa jumlah keluarga miskin yang menerima Bantuan Langsung Tunai akhir-akhir ini ada 15-an juta keluarga, bahkan semakin bertambah [ceritanye, ini jaman kompensasi bbm baheula!]. Itu baru keluarga yang dikategorikan sangat miskin. Belum lagi yang ada dalam kategori miskin saja.

Di negara kita, ada yang kaya dan ada yang miskin, dan yang miskin jauh lebih banyak dari pada yang kaya. Hal ini terasa biasa saja kalau tidak dipikirkan. Untuk apa dipusingkan? Itu adalah sebuah kenyataan dalam kehidupan. Sudah tidak aneh, kalau ada orang yang kaya dan ada orang yang miskin. Mau menentang kenyataan? Ha??

Apakah benar kenyataan seperti itu tidak perlu kita pikirkan, lalu kita tentang, dan selanjutnya kita berusaha meminimalkan kesenjangan kaya-miskin yang demikian besar? Siapa pun yang mempunyai akal sehat dan kepekaan sosial pasti menjawab “perlu”, dan bahkan “harus”. Kenyataan itu merupakan penyakit dalam kehidupan sosial. Dan tidak ada penyakit yang dibiarkan semakin menjalar-meluas, kecuali oleh orang yang tidak waras kepekaan perasaannya.

Memang, kita hanya bisa meminimalkan, sebab tidak mungkin meniadakan sama sekali kesenjangan kaya-miskin. Yang terakhir, dengan usaha apa pun tidak akan terwujud. Mengharapkan semua orang memiliki segala sesuatu secara sama adalah suatu harapan yang kosong-melompong.

Kecuali dalam martabat sebagai makhluk paling sempurna, setiap manusia mempunyai keunikan, tidak ada yang sama persis dengan yang lain dalam segala hal. Dari penampilan fisik dan kedalaman psikis, hal itu tidak bisa disangkal. Setiap manusia mempunyai wajah, rambut, kuping dan bagian badan yang lain, tidak sama dengan yang dimiliki oleh yang lain. Begitu pula, setiap manusia mempunyai bakat, kepandaian, emosi dan bagian kejiwaan lain yang tidak sama dengan yang dimiliki oleh yang lain. Dari hal itu, sudah terbaca dengan amat jelas, bahwa memang dari kodratnya, di antara manusia tidak akan ada kesama-rataan dalam segala hal. Kenyataan itu memungkinkan, –misalnya dalam kepemilikan materi—ada yang lebih kaya, dan tentu saja ada yang lebih miskin. Maka, kita tidak bisa merindukan semua orang bisa menjadi sama kaya atau sama miskin. Sekali lagi, tidak bisa! Dalam batas tertentu dan wajar, adanya kesenjangan kaya miskin bukanlah sebuah masalah.

Masalah akan muncul ketika kesenjangan kaya-miskin teramat besar. Perlu diingat, bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang keberadaannya (hidup dan secara mutlak lahirnya) tidak bisa tidak membutuhkan manusia lain. Ke-makhluk-sosial-an manusia membawa konsekuensi logis bahwa manusia saling memperhatikan satu sama lainnya. Konsekuensi logis dari ke-makhluk-sosial-an manusia ini menyangkut manusia lain bukan berdasarkan kriteria suku, kerabat, agama atau penggolongan apa pun, namun manusia sebagai manusia yang mempunyai kesetaraan martabat. Oleh sebab itu tidak ada batasan bagi manusia untuk memperhatikan sesamanya. Bila semua manusia, atau sebagian besar saja sudah menyadari dan mewujudkan ke-makhluksosial-annya, tidak ayal lagi kesenjangan kaya-miskin yang merupakan salah satu noda hitam besar ke-makhluk-sosial-an manusia, diperkecil.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana caranya agar manusia memahami dan menghayati ke-makluk-sosial-annya? Mungkin terkesan agak melecehkan bila kita pada zaman pendidikan yang kelihatannya sudah berkembang ini, mempertanyakan pemahaman manusia akan ke-makhluk-sosial-annya. Seolah-olah banyak manusia dewasa ini tidak mengerti hal tersebut. Namun, bila kita melihat kenyataan akan adanya kesenjangan kaya-miskin yang sungguh besar, tidak diragukan lagi bahwa pemahaman, dan lebih lagi, penghayatan ke-makhluk-sosial-an sebagaian besar manusia dewasa ini amat lemah. Apakah ini salah?

Memang bisa saja, manusia zaman sekarang “terpaksa” merelatifkan ke-makhluk-sosial-annya karena desakan situasi. Tawaran-tawaran arus zaman, seperti hedonisme, individualisme, materialisme, ekshibisionisme telah menendang jauh ke-makhkuk-sosial-an manusia. Akan tetapi, tawaran-tawaran itu tetap tidak bisa menjadi pembenaran bagi penendangan ke-makhluk-sosial-an manusia. Hal-hal itu mestinya diperangi, apa bila manusia mau sungguh memahami dan menghayati ke-makhluk-sosial-annya.

Sesungguhnya, upaya untuk memerangi tawaran-tawaran yang antisosial itu bukan tidak ada. Agama apa pun dan negara mana pun pastilah menekankan bahaya dan/atau ekses-ekses negatif dari hal-hal itu, dan perlunya menghindarinya untuk membangun sebuah tatanan kehidupan sosial yang baik. Akan tetapi, persoalannya kembali pada masing-masing manusia yang pada dirinya memang memiliki kehendak dan kebebasan.

Kehendak dan kebebasan sendiri bersifat netral, dan justru oleh dua hal inilah manusia menjadi makhluk yang paling tinggi martabatnya dibandingkan dengan makhluk lain. Tidak bijaksana jika kita menjatuhkan keputusan bahwa kehendak dan kebebasan menjadi sumber penyakit kehidupan sosial.

Setiap manusia mempunyai kehendak dan kebebasan dengan beberapa batasan. Kehendak manusia bisa mengarah pada kutub pembangunan kehidupan sosial, pun pula bisa mengarah pada kutub perusakan kehidupan sosial. Kutub manakah yang diperjuangkan sesorang, amat tergantung dari pemahaman pribadinya sebagai makhluk sosial.

Berkaitan dengan arah (kehendak) kutub perjuangan seseorang, mesti juga disadari bahwa setiap orang mempunyai “peruntungan kelahiran” menyangkut tempat dan waktunya. Dalam bahasan ini hanya dilihat dimensi tempatnya. Bahwasannya, setiap orang tidak bisa memilih tempat untuk kelahirannya. Ada faktor eksternal yang membuat begitu saja seseorang “harus” lahir di tempat tertentu. Konkretnya, ada yang lahir di keluarga kaya, ada yang di keluarga miskin, ada yang di tempat bersih, ada yang di tempat kumuh, ada yang di daerah subur, ada yang di daerah tandus, ada yang di desa, ada yang di kota dan sebagainya. Tidak ada seorang pun yang bisa memilih tempat kelahirannya, melainkan tergantung pada “keberuntungan”-nya.

Terlepas bahwa peruntungan kelahiran itu berdimensi misteri, kiranya kenyataan itu menyinggung amat keras ke-makhkuk-sosial-an manusia. Kesungguhan ke-makhluk-sosial-an manusia ditantang oleh kenyataan keberagaman tempat kelahiran manusia. Apakah mereka yang “beruntung” karena lahir dan hidup dalam keluarga berada, mampu menjadi makhluk sosial bagi yang “tidak beruntung” karena lahir dalam keluarga miskin? Ini hanya salah satu contoh pertanyaan. Yang jelas keberagaman tempat kelahiran manusia mestinya dipandang sebagai tantangan dan sekaligus peluang untuk mewujudkan ke-makhluk-sosial-an manusia. Menjadi tragis apa bila peruntungan itu dipandang sebagai sesuatu yang memang harus dipertahankan seperti itu. Misalnya, “aku memang ditakdirkan menjadi orang kaya, dan engkau menjadi orang miskin. Jadi, ya jalani saja”.

Sejalan dengan peruntungan kelahiran seseorang, bakat dan kecakapan serta peruntungan yang lain yang beragam juga menjadi tantangan dan peluang untuk mewujudkan ke-makhluk-sosial-an manusia.

Apa bila peruntungan kelahiran, bakat dan kecakapan serta peruntungan lainnya hanya diarahkan untuk menggemukkan diri sendiri, kehidupan sosial akan sakit, karena di dalamnya tidak tersedia ruang untuk menggemukkan yang lain. Seorang kapitalis ekstrem akan berusaha sekuat tenaga –dan mungkin dengan segala cara—untuk mengembangkan modalnya. Modal di sini bukan hanya kepemilikan materi, melainkan juga kepemilikan non-materi, misalnya keunggulan sosial, religius, psikis, intelektual dan sebagainya. Baginya, segala sesuatu yang tidak berguna untuk menambah modalnya, tidak penting dan harus dihindarkan, termasuk di dalamnya praktek ke-makhluk-sosial-an. Hidup adalah persaingan. Siapa yang kuat, dialah yang menang. Dan inilah yang ditentang oleh kaum sosialis, yang mencita-citakan kesamarataan dalam segala hal, dan tidak memperkenankan persaingan buta, atau lebih tegasnya, mau menang sendiri.

Kehendak bebas, peruntungan kelahiran, bakat dan kecakapan manusia telah menumbuhkan dua aliran sosial yang saling bertentangan. Di satu pihak muncul aliran kapitalis yang seakan memutlakkan kemampuan sendiri sebagai yang paling penting dan harus mengalahkan kemampuan orang lain. Di pihak lain, sebagai reaksi, muncul aliran sosialis yang memperjuangkan kesamarataan manusia dalam segala hal. Keduanya merupakan bibit penyakit kehidupan sosial. Aliran kapitalis memutlakkan kemampuan pribadi manusia, sehingga menutup ke-makhluk-sosial-annya, dan aliran sosialis memutlakkan ke-makhluk-sosial-an manusia, sehingga membelenggu kemampuan pribadinya.

Kiranya, untuk membangun sebuah kehidupan sosial yang semestinya, perlu diambil jalan tengah dari kedua aliran ekstrem itu. Bahwasannya, setiap manusia memang mempunyai kemampuan pribadi dan perlu dikembangkan serta dihargai. Akan tetapi, dalam memngembangkan kemampuan itu hendaklah memperhatikan juga dimensi ke-makhluk-sosial-annya.

Dengan peneropongan masalah seperti di atas, akan terlihat aliran sosial manakah yang lebih laku dan menyetir perjalanan kehidupan sosial negara kita? Sepintas lalu, kalau merenungkan kenyataan akan adanya kesenjangan kaya-miskin yang besar, rupanya aliran kapitalis adalah jawabannya. Memang, mungkin ada yang menolak pernyataan ini. Akan tetapi, rasanya penolakan itu akan dibantah oleh kenyataan yang ada sekarang ini.

Rasa-rasanya, untuk melangkah lebih jauh, memperjuangkan kehidupan sosial yang semestinya, lebih dahulu perlu disadari dan dipahami kenyataan kehidupan sosial kita sekarang ini, yang di dalamnya ada masalah dan sumbernya. Semua dari kita, yang mempunyai peruntungan, bakat, kecakapan yang berbeda-beda, oleh ke-makhluk-sosial-an kita, bersama-sama memiliki tanggung jawab untuk membangun kehidupan sosial yang baik. Namun beberapa dari kita, yang memiliki keunggulan-keunggulan sosial-politik-religius-budaya-ekonomi dan selanjutnya amat berpengaruh pada hitam-putihnya kehidupan sosial, mempunyai peranan yang lebih dan menentukan. Yang lebih besar mempunyai tanggung jawab yang lebih besar pula.

Untuk membuat diri kita tidak tercengang-cengang-prihatin ketika merenungkan kenyataan negara kita, kiranya dibutuhkan proses yang panjang dan berliku serta melelahkan. Tetapi, bukan berarti hal itu tidak perlu.

Oleh: Sdr. Anton Padmono, OFM

Satu komentar pada Sebuah Refleksi Sosial: Kesenjangan Kaya – Miskin

  1. jane rani
    07/07/2011 at 07:31

    What a good writings !

Kirim komentar

Email anda tak akan dipublikasi. Kolom bertanda * harus diisi

*