Santo Yohanes Don Bosco

19/03/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 3.587 kali

[index santo-santa fransiskan]

31 Januari
Santo Yohanes Don Bosco
1815-1888

11-yohanes-bosco-1

RIWAYAT HIDUPNYA
St. Yohanes Bosco, atau Don Bosco, salah seorang santo terbesar pada jaman modern ini, dilahirkan di sebuah desa wilayah Piedmonte, pada tahun 1815. Ketika berumur dua tahun ayahnya, seorang petani yang sederhana, meninggal dunia. Dia pun dibesarkan oleh ibunya, Margareta, seorang anggota Ordo Ketiga yang suci hidupnya. Tidak diragukan lagi, berkat contoh dan pengaruh ibunya inilah, bahwa Yohanes juga menggabungkan diri dalam Ordo Ketiga St. Fransiskus.

Bahkan sebagai seorang anak yang masih muda, Yohanes sudah menemukan bahwa menjadi panggilan hidupnyalah untuk membantu anak-anak yang miskin; dan dia pun mulai mengajarkan katekismus kepada anak-anak sekampungnya dan membawa mereka ke gereja. Dia berhasil mengumpulkan mereka itu dengan peragaan-peragaan akrobatik dan kiat-kiat yang mencengangkan.

Pada umur 16 tahun dia masuk Seminari di Chieri. Pada waktu itu dia begitu miskin, sehingga bapak walikota menyumbangkan sebuah topi, pastor paroki memberinya sebuah mantol, seorang umat paroki sebuah jubah dan seorang yang lain sepasang sepatu. Setelah ditahbiskan menjadi diakon, dia meneruskan ke Seminari di Turino. Dan di sana, dengan persetujuan atasannya, mulailah dia pada hari Minggu mengumpulkan anak-anak miskin dan terlantar kota itu.

Tidak lama sesudah pentahbisan imamatnya, yang terjadi pada bulan Juni 1841, dia mendirikan apa yang dia sebut Oratorium Sukacita, semacam sekolah Minggu dan menjadi pusat rekreasi bagi anak-anak laki-laki di Turino. Ibunya datang sebagai pemelihara rumah dan ibu dari Oratorium itu. Sesudah itu didirikan lagi dua buah Oratorium di kota yang sama. Ketika ibu Romo Yohanes Bosco meninggal dunia pada 1856, Oratorium-oratorium itu menampung 150 anak laki-laki; dan terdapat empat kelas berbahasa Latin dan empat bengkel, satu di antaranya dipergunakan sebagai percetakan. Sepuluh orang imam muda membantu Romo Yohanes dalam karyanya ini. Romo Yohanes juga banyak sekali diminta untuk berkhotbah; dan dia menghabiskan separo dari hari malamnya untuk menulis buku-buku populer supaya tersedialah buku-buku bacaan yang baik.

Bapa pengakuan dan pembimbing rohani Romo Yohanes adalah seorang imam kudus, anggota Ordo Ketiga, Yoseph Cafasso; dan Romo Yohanes juga terkenal dengan kekudusannya. Mukjizat-mukjizat, kebanyakan berupa penyembuhan, terjadi berkat pengantaraannya. Dengan kelembutan, simpati dan kemampuannya yang menakjubkan untuk membaca pikiran-pikiran anak-anaknya, dia menanamkan pengaruh yang mendalam pada mereka itu. Dia pun mampu membimbing mereka dengan ketekunan yang mencolok, penuh pengampunan dan tanpa perlu menghukum. Hal ini sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh para pendidik waktu itu.

Pada 1854 Romo Yohanes mendirikan Ordo Salesian. Dinamakan demikian untuk menghormati St. Fransiskus dari Sales. Para anggotanya mengkhususkan diri dalam bidang pendidikan anak-anak laki-laki miskin. Ordo yang baru itu berkembang dengan pesat. Selama hidupnya, Romo Yohanes dapat menyaksikan 38 rumah yang didirikan di Dunia Lama dan 26 buah rumah yang didirikan di Dunia Baru. Sekarang Ordo itu merupakan salah sebuah Ordo pria yang terbesar di dalam Gereja Katolik.

Romo Yohanes juga mendirikan sebuah kongregasi untuk para Suster yang dinamakan Para Puteri Bunda Maria Penolong. Dia pun mengorganisir banyak pendukung luar dalam perkumpulan “Kooperator (Pendukung) Salesian”, yang berjanji untuk membantu, dengan salah satu cara, karya-karya pendidikan para Salesian. Pada 1930 mereka itu berjumlah 800.000 orang.

Karya Romo Yohanes yang terakhir adalah mendirikan Gereja Hati Kudus di Roma, suatu tugas yang dipercayakan padanya oleh Paus Pius IX, sesudah terlihat bahwa proyek itu tidak memberikan harapan lagi. Imam yang kudus itu, yang di mana-mana sudah diakui sebagai seorang santo dan pembuat mukjizat, menggalang dana di seantero Italia dan Perancis dan bagaimana pun juga dia berhasil, padahal orang-orang lain telah mengalami kegagalan. Tetapi dengan bekerja seperti itu, dia sendiri pun terkuras habis dan pada 31 Januari 1888, dia dipanggil untuk menerima imbalannya. Empat puluh ribu orang datang berkumpul untuk memberikan hormat mereka yang terakhir kepada jenazah yang dibaringkan di gereja Turino. Pemakamannya berlangsung laksana sebuah prosesi kemenangan.
St. Yohanes menerima kanonisasi pada 1934.

PERIHAL BERPIKIRAN LEMBUT DAN RAMAH PADA ORANG LAIN
1. Apakah rahasia St. Yohanes Bosco, sehingga dia dapat memberikan pengaruh yang sehat pada anak-anak didiknya? Bukankah itu semangat St. Fransiskus Asisi dan St. Fransiskus Sales, yang telah merasukinya dengan begitu mendalam? Sebuah semangat, roh, yang membuatnya berpandangan begitu lembut dan ramah terhadap anak-anak itu, dan kemudian mendorongnya berbuat dengan segala kemampuannya demi keselamatan duniawi dan rohani mereka. Dengan berpandangan lembut dan ramah terhadap orang lain, kita akan mampu memahami mereka, menilai mereka dengan penuh kasih dan memperlihatkan penghargaan kita kepada mereka. Memahami orang lain berarti menempatkan diri kita sendiri pada tempat orang itu dan mempertimbangkan apa pun jua yang telah dan sedang membuatnya seperti apa adanya sekarang ini: karakter, disposisi, latar belakang dan dunia sekelilingnya, keinginan-keinginan dan perjuangannya, kesulitan-kesulitan dan kebutuhan-kebutuhannya. Memahami orang lain berarti melangkah melampaui penilaian insani yang sempit dan mendapatkan sesuatu dalam kerangka dalam dan luasnya visi Tuhan sendiri, yang memiliki pemahaman yang terdalam bagi setiap insan. Itu berarti: menjadi serupa dengan Penebus ilahi kita, yang di dalam diri-Nya menjadi terlihatlah kebaikan dan cinta Tuhan itu sendiri; sang Penebus, yang selama Dia hidup di dunia memperlihatkan pemahaman-Nya yang sedemikian dalam dan penuh kasih bagi para Rasul-Nya dan semua saja yang mendatangi-Nya atau mendengarkan kata-kata-Nya. Bila terdapat keselarasan utuh antara dua pribadi, kita berkata bahwa mereka saling memahami; bila terdapat disharmoni antara mereka, maka itu sering terjadi karena adanya kesalah-pahaman.

2. Orang yang memiliki pemahaman dan pengertian perihal orang lain, juga akan menilainya dengan penuh kasih dan kemurahan hati, bahkan bila orang lain itu jelas-jelas dan tak dapat diingkari telah berbuat salah. Dia tidak akan kaku dan kasar dalam penilaiannya, karena dia akan menemukan keadaan-keadaan yang meringankan dan mendapatkan sifat-sifat yang baik. Tuhan yang Mahasuci tidak membuang dan menghinakan orang yang berdosa, bahkan bila dosa-dosanya itu berat dan tak terampuni. Cinta dan rahmat-Nya memampukan setiap jiwa manusia, supaya dapat menghasilkan kemenangan dan kesempurnaan di dalam dirinya. Berpikir baik dan ramah perihal orang lain dan menilai mereka dengan penuh kasih, membuat kita bagaikan Tuhan; itu adalah tanda bahwa kita dipersatukan dengan Tuhan di dalam kasih. Itu suatu pertanda akan keagungan jiwa dan kematangan rohani. Seperti St. Fransiskus dari Sales, St. Yohanes Bosco dikritik karena dia terlalu baik dan pengampun; tetapi ia memahami anak-anaknya dan menilai mereka dengan penuh kasih, karena keagungan jiwanya dan kesatuannya dengan Tuhan yang terus menerus.

3. Orang yang berpikiran lembut, ramah dan baik terhadap orang lain akan juga memperlihatkan penghargaan pada orang lain itu dan bagi yang menerimanya, penghargaan yang jujur merupakan sumber kebahagiaan besar dan daya dorong untuk maju. Hal itu membuatnya merasa bahwa kita mempercayai adanya kebaikan dalam dirinya, atau sekurang-kurangnya bahwa kita yakin bahwa pada akhirnya dia akan bisa mengatasinya. Dengan menunjukkan penghargaan pada orang lain, kita merangsang rasa hormatnya, dan hal ini merupakan faktor moral yang penuh kekuatan yang telah ditanamkan oleh sang Pencipta dalam setiap orang. Sebaliknya, orang bersalah yang hanya menerima penghinaan dari sesamanya, seringkali kehilangan serpihan terakhir dari hormat dan percaya dirinya dan bersama dengan itu, semua dukungan dan insentif moralnya pun hilang lenyap. St. Yohanes Bosco yakin akan kebaikan yang terdapat dalam setiap anaknya; dia mendorong mereka untuk terus mencoba dan berusaha; dia memiliki bela rasa dengan mereka dalam menghadapi kesulitan-kesulitan; Dia pun penuh perhatian akan kemajuan-kemajuan mereka, baik yang duniawi maupun yang rohani. Selalu berpikir baik terhadap sesama kita dan membuktikan hal itu dengan berusaha memahami orang itu, menilainya dengan penuh kasih, dan memperlihatkan penghargaan kita kepadanya – itulah jalan Fransiskan untuk bergaul dengan tetangga kita dan untuk mengasihi mereka.

DOA GEREJA
Ya Tuhan, Engkau telah mendidik Pengaku Iman-Mu, St. Yohanes Bosco, menjadi seorang bapa dan guru bagi kaum muda, dan menghendaki bahwa melalui dia, dengan bantuan Santa Perawan Maria, telah berkembanglah sebuah keluarga religius baru di dalam Gereja, anugerahilah, kami mohon kepada-Mu, bahwa kami pun, yang dinyalakan oleh api cintakasih yang sama, mampu bekerja menemukan jiwa-jiwa dan hanya mengabdi kepada-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Sumber: The Franciscan Book of Saints, ed. by Marion Habig, OFM, © 1959 Franciscan Herald Press.Penerjemah: Alfons S. Suhardi, OFM