Rahasia Sukses St. Antonius



Dilihat: 151 kali

saint-anthony-pray1)  Semangat doa melekat padanya.

Sudah menjadi kebiasaan, bagaimanapun sibuknya, St. Antonius selalu mengutamakan dan menjalani kebutuhan hidup doa. Ditengah kesibukan berkhotbah, dan di antara kesibukannya sebagai minister provinsi di Italia Utara, hidup doanya tak pernah dilupakan, tetapi tetap terpelihara.

Dalam buku, St. Antonius, Doktor Gereja, (1973), Sdr. Sophronius Classen OFM, menyebut sekurang-kurangnya dua tempat yang biasa dia kunjungi untuk menyepi dan berdoa. Salah satu tempat doanya berada di bukit pepohonan di Monteluco di dekat Spoleto. Di tempat inilah orang biasa berdoa tanpa gangguan apa pun. Dari sini juga orang bisa memandang indahnya lembah Umbria. Menurut Classen, St. Antonius suka mendaki bukit di bagian selatan perkampungan. Bila kita berjalan sekitar satu jam saja kita akan mencapai sebuah kapel tua yang tak seorang pun memperhatikannya lagi. Kapel itu diberikan oleh Ordo Benediktin kepada Fransiskan.

Para Saudara Fransiskan dengan ketekunannya berhasil membangun pondok tempat singgah dari bahan tanah liat persis di dekat kapel itu. “Tetapi sebenarnya di tengah hutan pohon ek (burung-burung suka makan bijinya) terdapat banyak gua di antara tebing-tebing pegunungan. Di gua inilah siapa saja bisa tinggal dengan tenang dan berdoa tanpa gangguan. Bila kita memandang ke lembah pegunungan kita saksikan betapa indahnya pemandangan lembah Umbria. Dengan sendirinya orang akan memuji Allah pencipta semesta yang mengagumkan.”

Classen melanjutkan cerita pengalamannya, “St. Antonius biasa tinggal di gua-nya sendiri yang dikhususkan baginya. Bahkan hingga kini kita masih bisa menyaksikan tulisan yang tertera di dinding “Inilah gua tempat St. Antonius melakukan matiraga.”

Tempat yang paling disukai St. Antonius kiranya Gunung La Verna, tempat stigmatisasi St. Fransiskus. Tempat ini ia kunjungi terus-menerus untuk memuaskan kerinduan hidup doanya. Sebagaimana Classen ungkapkan bahwa St. Antonius mendapat kasih St. Fransiskus di gua yang tersembunyi di tengah pegunungan yang sepi di bagian Utara Italia ini. Di sinilah St. Antonius menikmati kesunyian doanya. Untuk mengenang St. Antonius di tempat ini telah dibangun tempat doa yang disebutnya, “Tempat Doa St. Antonius”. Hingga kini tempat ini tetap populer.

Classen menemukan bukti dalam khotbah St. Antonius yang meyakinkan kita bahwa St. Antonius menaruh perhatian khusus dan membaktikan dirinya pada doa. St. Antonius sendiri menyatakan, “Kemanisan Allah dalam doa jauh lebih nikmat daripada kenikmatan yang lain; apapun yang pernah orang rasakan tak mungkin melebihi kenikmatannya. Mengingat bila orang berada di hadapan Allah dan memandang betapa kebahagiaan-Nya dan merasakan kemuliaan-Nya, sebenarnya ia berada di Sorga”.

2) Surat St. Fransiskus pada Sdr. Antonius

Dorongan kuat motivasi doa St. Antonius yang bisa menghalau segala kesibukannya adalah Surat St. Fransiskus kepada St. Antonius yang ditulis sekitar tahun 1224. Surat berisi ijin mengajar Teologi bagi para Saudara Fransiskan, dengan catatan khusus, “…asal engkau tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian karena studi itu…”.

Kata-kata St. Fransiskus singkat dan jelas: “…Sdr. Fransiskus menyampaikan salam. Aku setuju, engkau mengajarkan teologi suci kepada para saudara, asal engkau tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian karena studi itu, sebagaimana tercantum di dalam Anggaran Dasar”

Saya bisa membayangkan St. Antonius memeluk surat ini erat-eraat untuk mengingat selalu agar memelihara hidup batin, sebagaimana St. Fransiskus sendiri yang tak terpadamkan selalu mencari wajah Allah dalam doa apapun pentingnya hidup kerasulan.

3) Doa tak kunjung akhir

Selama 2 tahun terakhir St. Antonius, dikenal sebagai pengkhotbah dan pendengar pengakuan yang populer khususnya di Padua. Para pendengar khotbahnya amat banyak bahkan bisa mencapai 30.000 orang. Untuk menampung orang sebanyak itu ia biasa menggunakan alam terbuka.

Ia tidak lupa daratan, ia tetap ingat untuk memelihara hidup rohaninya sendiri. Di tengah padatnya kerasulan ia tetap menyisihkan waktu untuk berdoa di tempat tersembunyi, terutama di gunung La Verna. Pengalaman doannya menjadi kekuatan baru untuk tugas pelayanannya.

Akhirnya ia menyadari bahwa akhir hidupnya telah mendekat walaupun umurnya baru 36 tahun. Ia mengasingkan diri dari Padua untuk berdoa. Ia diarahkan ke tempat sunyi Composampiero. Ia dibantu oleh Bangsawan Tiso. Ia disediakan rumah bambu dengan dinding daun-daun palma di tengah hutan, tak jauh dari rumah Fransiskan di daerah itu. Ia menikmati hari-hari akhir hidupnya di pondok bambu itu. Dalam “Riwayat Hidup”-nya dikatakan, “Di pondok inilah, hamba Allah menghayati hidup menyepi sejati dan membaktikan hidup doa suci-nya”.

Suatu hari waktu ia turun dari pondok untuk bergabung makan siang dengan para saudara, tiba-tiba sakitnya bertambah parah. Ia minta para saudara untuk membawanya ke Padua. Waktu tiba di dekat Padua, para saudara berniat untuk singgah di Arcella, tempat para saudara tinggal yang berdekatan dengan biara Klaris. Di tempat ini St. Antonius hampir meninggal.

Ia mendapat sakramen pengurapan yang terakhir dan “menyanyikan madah Sang Perawan Mulia”. Selesai bermadah, tiba-tiba ia menengadahkan pandangannya ke atas, ia nampak begitu serius, dan cukup lama. Saudara yang mendampinginya penasaran dan bertanya, apa yang ia lihat? Ia menjawab, “Aku melihat Tuhanku”.

Kerinduan St. Antonius dalam doa untuk selalu memandang Allah telah terpenuhi.

Hanya menerjemahkan saja, tetapi rasanya mengalami,
Salam dari Sdr. Tarjo

2 Respon pada “Rahasia Sukses St. Antonius”



  1. oki ofm

    jadi ingat waktu itu menyempatkan diri untuk mengunjungi makam St. Antonius di Padua. Pengunjungnya membludak, padahal kapel makamnya kecil. Jadi, kami harus antre, berjalan memutari makam. Sambil berjalan, aku terus menyentuhkan telapak tanganku di dinding makam St. Antonius, memanjatkan syukur, pujian dan permohonan kepada Tuhan melalui sang santo ini. Santo Antonius, doakanlah kami…

    #647
  2. erwin

    senangnya .. jika bisa “melihat Tuhanku” seperti St. Antonius..

    #646



Kirim Komentar