Pesan Minister General untuk Pekan Doa Demi Kesatuan Umat Kristen 2017

18/01/2017
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 288 kali

Pendahuluan dari penerjemah:

Sampai pertengahan abad XVI (Reformasi Luther) Gereja Kristus hanya mengenal dua bagian yang besar, yakni: Gereja Barat yang berpusat di Roma dan dipimpin oleh Paus; dan Gereja Timur yang terdiri dari tiga kelompok besar: Gereja Alexandria, Konstantinopel dan Yerusalem yang masing-masing dipimpin oleh seorang Batrik yang sejajar tingginya. Secara tradisi Batrik Konstantinopel (sekarang Istambul) dipandang sebagai Primus inter Pares, sebagai yang dituakan, diperlakukan sebagai “pemimpin”. Kemudian Gereja Ortodoks Rusia dengan pusat Moskow, semakin memainkan perannya, sejajar dengan kemajuan Rusia dalam percaturan dunia. Moskow dalam hubungan ini sering disebut sebagai Roma III, dan Konstantinopel sebagai Roma II.

Setelah Reformasi Luther yang menimbulkan Gereja Protestan, maka Gereja Barat menjadi terpecah belah. Perpecahan besar berikutnya adalah munculnya Gereja Inggris (Anglikan) di bawah raja Hendrik VIII yang sekaligus diangkat menjadi Kepala Gereja Anglikan. Apa yang semula dinamakan Gereja Protestan, semakin terpecah belah setiap hari dan timbullah ribuan Gereja Kristen yang mandiri dengan relasi satu sama lain yang tidak selalu baik, bahkan bermusuhan.

Sejak semula, bahkan sudah mulai pada zaman Paulus bahaya perpecahan ini sudah dirasakan terjadi, dan diusahakan untuk tetap menjadi satu. Bahkan Yesus sendiri sudah mendoakan supaya “supaya mereka semua menjadi satu…” (Yoh 17:21).

Gerakan Ekumene digalang demi semakin mendekatnya sikap antara Gereja yang satu dengan Gereja yang lain, khususnya antara Gereja Katolik dengan Gereja-gereja non-Katolik. Gerakan ini semakin kentara dan didorong secara serius sekali sejak Konsili Vatikan II.

Diadakanlah Pekan Doa demi Kesatuan Umat Kristen, yang berlangsung setiap tahun dari tanggal 18 s/d 25 Januari.

Berikut ini pesan dari Minister General OFM dalam rangka merayakan Pekan Doa Sedunia ini.

*****

 

Mike Perry OFM, Minister General OFM

Mike Perry OFM, Minister General OFM

Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. (2Kor 5:14-20)

Saudara-saudaraku yang terkasih dari Ordo Saudara-saudara Dina,
dan semua saudara, saudari dan para sahabat Keluarga Fransiskan,

Semoga Tuhan memberikan Damai kepada kalian semua!

Kasih Kristus, sungguh, terus mendorong kita; kasih itu memaksa kita untuk membagikan kepada semua naggota keluarga umat manusia, apa yang telah kita lihat dan dengar, yakni bahwa dalam Yesus Kristus, Sabda Kasih Allah telah menjadi daging, sehingga kita dapat diperdamaikan yang satu dengan yang lain sebagaimana anak-anak-Nya dan diperdamaikan kepada Allah sebagai Bapa Surgawi kita (bdk. 1Yoh 1:3). Inilah panggilan kita – sebagai Fransiskan, ya. Karena bagaimana pun jua, inilah Berita yang Baik itu yang telah kita ikrarkan dalam profesi sebagai Anggaran Dasar dan Hidup kita. Lebih mendasar lagi, inilah panggilan kita sebagai orang-orang Kristen, dan di dalam dunia yang berteriak-teriak merindukan berita yang benar seperti cinta, hal ini menjadi tema yang paling tepat bagi Pekan Doa Sedunia demi Kestuan Umat Kristen tahun ini.

Sama sekali bukanlah hal berlebihan untuk mengatakan bahwa kita ini hidup dalam zaman yang diwarnai dengan keaneka-ragaman dan perpecahan sebagaimana belum pernah terjadi – sosial, ekonomi, politik, bahkan lingkungan – dan konflik terbuka dan bersenjata, termasuk kekerasan yang mengerikan yang dilakukan dalam nama Allah. Kita tidak harus membuka koran, menyalakan televisi, atau masuk ke dalam jaringan internet yang seluas bumi ini, untuk melihat gambar dan foto penderitaan yang tak terbayangkan itu. Apa yang harus kita perbuat adalah melihat keluar jendela; dunia ini secara harafiah ada pada jenjang pintu kita dan sedang berseru-seru minta keadilan itu. Keadilan itulah saja yang dapat dipergunakan untuk fondasi perdamaian: pengakuan efektif atas martabat manusia yang azasi, yang senantiasa melekat pada dirinya dan tidak dapat dilanggar: martabat sebagai anak Allah, tidak peduli nama apa yang dipakai untuk menyapa-Nya. Seruan mereka itu diharapkan memperoleh sambutan kepekaan hati dan diberikan kepada semua orang oleh siapa pun yang mengaku (meng-claim) dirinya sebagai murid Putera Allah.

Sebagaimana baru-baru ini dinyatakan oleh Paus Fransiskus dan Uskup Agung Justin Welby dalam Pernyataan Bersama mereka, yang menandai ulang tahun kie 50 dialog resmi antara dua persekutuan gerejawi kita. “Yesus telah memberikan hidup-Nya dalam cinta, dan bangkit kembali dari kematian, bahkan mengalahkan kematian itu sendiri. Orang-orang Kristen yang telah sampai pada iman ini, telah menjumpai Yesus dan kemenangan cinta-Nya dalam diri mereka sendiri, dan mereka itu didorong untuk membagikan kegembiraan Berita Baik ini dengan orang-orang lain.” Karena itu,

“Kita dapat dan harus bekerja bersama untuk melindungi dan memelihara rumah kita bersama: dengan hidup, mengajar dan bertingkah laku dengan cara-cara yang mendukung berakhirnya secara cepat pengrusakan lingkungan hidup yang menistai sang Pencipta dan memerosotkan segala ciptaan-Nya dan dengan membangun pola tingkah laku individual dan kolektif yang integral dan lestari demi kebaikan semua. Kita dapat, dan harus, bersatu dalam masalah bersama untuk menopang dan mempertahankan martabat semua orang. Pribadi manusia direndahkan melalui dosa personal dan dosa kelompok. Dalam budaya indiferen (acuh tak acuh), dinding-dinding keterasingan memisahkan kita dari orang-orang lain, beserta perjuangan dan penderitaan mereka, yang diderita juga oleh banyak orang di kalangan saudara dan saudari kita dalam Kristus sekarng ini. Dalam budaya yang suka membuang-buang, hidup yang sedemikian rawan dalam masyarakat seringkali terpinggirkan dan disingkirkan. Dalam budaya kebencian, kita melihat perbuatan-perbuatan ganas tak terlukiskan, seringkali malah dibenarkan dengan pengertian keliru perihal kepercayaan agama. Iman Kristen kita membimbing kita untuk mengakui nilai yang tak terkirakan dari setiap hidup manusia, dan untuk menghormati dalam perbuatan-perbuatan cinakasih dengan membawa pendidikan, pemeliharaan kesehatan, makanan, air bersih dan perlindungan serta selalu berusaha memecahkan perselisihan dan membangun kedamaian. Sebagai murid Kristus, kita harus memperlakkan pribadi manusia sebagai kudus dan sebagai utusan Kristus, kita hr us menjadi pembela mereka.”

Tentu saja, pekerjaan yang penuh iman semacam itu, tidak, dan sungguh tidak dapat, menutupi atau menghindari perbedaan-perbedaan yang nyata dan penting yang memisahkan kita sebagai murid-murid Kristus. Bila hal ini diakui dengan benar, maka perbedaan-perbedaan kita juga “tidak bisa menghalangi kita untuk saling mengakui sebagai saudara-saudara dan saudari-saudari dalam Kristus; alasannya ialah: sama-sama menerima sakramen Baptis. Juga janganlah orang pernah lagi menghalangi kita untuk menemukan dan bergembira dalam iman dan kesucian Kristen yang saling kita temukan di dalam tradisi masing-masing,” terutama berkat kerja sama kita mewartakan Berita Baik Kerajaan Allah. Sungguh, melalui pewartaan bersama dan penghayatan Injil itulah kita murid-murid yang terpecah belah ini dapat sampai mampu menghargai bahwa “terdapatlah sesuatu yang lebih luas dan mendalam daripada perbedaan-perbedaan kita, yakni: iman yang sama-sama kita miliki dan kegembiraan bersama kita di dalam Injil,” dan menemukan jalan ke arah persatuan hati dan budi sebagaimana didoakan Kristus bagi kita, “supaya dunia dapat percaya” (Yoh 17:21).

Saudara-saudaraku, bukanlah kebetulan bahwa tahun ini, ketika kita memperingati lima ratus tahun reformasi Protestan, Pekan Doa demi Kesatuan Umat Kristiani kita ini mengajak kita memusatkan diri pada tema rekonsiliasi. Pada kenyataannya, tepat karena ulang tahun inilah tema ini dipilih. Karena itu,sebagaimana diminta oleh Paus Fransiskus dan Uskup Mounib Younan, Presiden Federasi Lutheran Sedunia, dalam Deklarasi Bersama mereka baru-baru ini, semoga kita Protestan dan Katolik tidak hanya bersyukur “karena anugerah-anugerah rohani dan teologis yang kita terima berkat Reformasi,” tetapi juga “mengakui dan meratapi di depan Kristus” bahwa kita telah sedemikian melukai kesatuan Tubuh-Nya yang kelihatan. Sungguh, sebagaimana dinyatakan oleh Paus Fransiskus dan Uskup Youman,

“Iman dan pembaptisan kita yang sama dalam Yesus Kristus menuntut kita melakukan pertobatan setiap hari; dengan pertobatan sehari-hari inilah kita membuang perselisihan dan pertentangan historis yang menghalangi pelayanan rekonsiliasi. Sementara yang sudah lewat tidak bisa diubah, apa yang dingat dan bagaimana hal itu diingat dapatlah mengalami transformasi. Kita berdoa demi sembuhnya luka-luka kita dan demi penyembuhan kenang-kenangan yang menyelubungi kita dalam memandang satu sama lain. Dengan tegas kita menolak semua kebencian dan kekejaman, yang lalu dan yang ada sekarang ini, khususnya yang diungkapkan dalam nama agama. Sekarang ini, kita mendengar perintah Tuhan untuk menyingkirkan semua pertentangan. Kita mengakui bahwa kita dibebaskan berkat rahmat, untuk bergerak menuju ke persekutuan (communion); untuk communio inilah sebenarnya kita ini dipanggil oleh Tuhan.”

Saudara-saudara Dinaku yang terkasih, dan semua saudari, saudara serta semua sahabat keluarga Fransiskan kita, semoga hati kita sungguh-sungguh terbuka untuk menerima anugerah rahmat ini ketika kita merayakan Pekan Doa Sedunia Untuk Kesatuan Umat Kristen ini, sehingga kita dapat menjadi pelayan-pelayan rekonsiliasi, karena untuk inilah Tuhan telah menamai kita: Saudara-saudara Dina; Orang-orang Katolik yang setia; saudara-saudara dari dan bagi semua orang, wanita dan pria, yang didorong oleh cinta-Nya untuk menyembuhkan dunia yang tercabik-cabik ini: untuk dunia semacam inilah Yesus Kristus telah wafat – dan dibangkitkan.

Pax et Bonum

Sdr. Michael A. Perry, OFM
Minister General dan Hamba.

Paus Fransiskus dan Uskup Agung Canterbury Justin Welby saling memberikan tanda kedamaian sewaktu Ibadat Sore (Vespers) di Biara San Gregorio al Cielo di Roma, 5 Oktober 2016. Photo REUTERS/Tony Gentile

Paus Fransiskus dan Uskup Agung Canterbury Justin Welby saling memberikan tanda kedamaian sewaktu Ibadat Sore (Vespers) di Biara San Gregorio al Cielo di Roma, 5 Oktober 2016.
Photo REUTERS/Tony Gentile

Paus Fransiskus menerima kedatangan Pimpinan Gereja Swedia dan Uskup Agung Uppsala,Antje Jackelén di Vatikan, 5 Mei 2015 Photo: CTV

Paus Fransiskus menerima kedatangan Pimpinan Gereja Swedia dan Uskup Agung Uppsala,Antje Jackelén di Vatikan, 5 Mei 2015.
Photo: CTV

 

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *