Perspektif Fransiskan Perihal Kepemimpinan Memperluas Lingkup Kepemimpinan

03/05/2017
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 141 kali

fransikan-leadershipPada 20 April 2017, Cindy Wooden dari Catholic News Service (CNS) menerbitkan sebuah artikel perihal ide Fransiskan mengenai kepemimpinan, sesudah mengadakan interview dengan Minister General, Sdr. Michael Anthony Perry, OFM dan Profesor Universitas Villanova, Massimo Faggioli. Masalah ini menjadi hangat dan dibicarakan banyak pihak, karena keempat Minister General Keluarga Fransiskan dalam pertemuan mereka dengan Paus Fransiskus telah memohon “privilege”: supaya Fransiskan diperkenankan membuka pintu kepemimpinan bagi para Saudara Awam (Bruder) yang sampai sekarang oleh Kitab Hukum Gereja masih “dimonopolikan” kepada Saudara yang tertahbis (Imam). Berikut ini terjemahannya. Selamat menikmati dan mendalaminya.

VATICAN CITY (CNS). Bagi St. Fransiskus dari Asisi, mengikuti Kristus berarti meneladani kerendahan hati-Nya dan meninggalkan kekayaan, kekuasaan dan kedudukan (status); orang yang sekarang ini menamakan dirinya Fransiskan meyakini bahwa mereka itu dipanggil untuk memeluk sikap yang sama, termasuk cara pemerintahannya.

Pada awal bulan April 2017, para Minister General dari empat cabang laki-laki dari keluarga Fransiskan – Saudara-saudara Dina (OFM), Kapusin, Konventual dan Ordo III Regular – memohon kepada Sri Paus Fransiskus “prigilege, kekhususan” untuk mengizinkan para Saudara Dina Awam (Bruder) dapat dipilih menduduki posisi pimpinan, termasuk posisi-posisi yang berwenang membawahi imam-imam tertahbis.

Perkataan “privilege” berarti izin khusus atas sesuatu yang tidak biasa diberikan oleh hukum Gereja. Dalam hukum kanon, pemerintahan dalam gereja biasanya terikat pada pentahbisan.

Permintaan Fransiskan ini perihal memulihkan kembali pengertian persaudaraan  dan pelayanan yang telah diberikan oleh St. Fransiskus kepada para sahabatnya yang pertama, demikian kata Pater Michael Perry, Minister General para Saudara Dina. Tetapi hal ini mencakup juga kepemimpinan, otoritas dan pemerintahan dalam lingkup Gereja yang lebih luas.

Pada akar dasarnya, hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan: “Apakah kepemimpinan untuk mengorganir sesuatu itu sedemikian rupa sehingga seseorang memiliki kekuasaan mutlak, absolut, atas segala sesuatu? Ataukah kepemimpinan untuk memperkuat, memberdayakan orang-orang, sehingga terjadi suatu sinergi, mempersatukan semua kekuatan di dalam sebuah komunitas?” tanya Pater Perry kepada Catholic News Service (CNS).

Identitas terdalam dari pelayanan tertahbis termasuk juga dalam hal ini.

Karena hubungannya yang unik dengan Ekaristi, Imamat pelayanan (ministerial) mempunyai peran istimewa dan tak tergantikan di dalam Gereja Katolik dan di dalam komunitas religius Katolik, kata Pater Perry. Permohonan Fransiskan “bukanlah masalah menantang otorita spiritual atau peran penggembalaan; sebenarnya permohonan itu perihal membebaskan si gembala sehingga dia dapat memusatkan diri pada domba-domba dan tidak harus risau perihal pintu gerbang dan pagar.”

Cita-cita Fransiskan dalam hal kepemimpinan adalah bahwa kepemimpinan itu hendaknya mengundang dan menantang para saudara dina – sebagai saudara-saudara di antara mereka sendiri, baik ditahbiskan atau tidak – “ke arah ‘kedinaan, minoritas’, untuk tidak naik ke atas, tetapi turun ke bawah”, kata Pater Perry. Minoritas itu berlawanan dengan klerikalisme, yang merupakan “dorongan untuk naik ke atas seolah-olah gerak ke atas itu menawarkan sesuatu, suatu kepastian dan garansi kesetiaan, suatu jalan untuk memerintah orang lain sehingga mereka tetap setia pada kebenaran. Orang-orang Fransiskan, kami, tidak melihat secara demikian itu.”

Dari tahun 1208 sampai 1209, ketika Paus Innocentius III mengesahkan Anggaran Dasar St. Fransiskus yang mula-mula bagi Ordonya dan sampai 1239, kata Pater Perry, para Fransiskan diizinkan untuk memilih para Bruder memegang peran pimpinan, termasuk sebagai Minister General, dan mereka memang berbuat demikian itu.

Massimo Faggioli, seorang ahli sejarah gereja dan profesor teologi pada Universitas Villanova, berkata bahwa bila Paus Fransiskus mengabulkan permohonan para Fransiskan ini, “itu akan menjadi sinyal, tanda bagi seluruh Gereja adanya suatu pergeseran dalam arti deklerikalisasi Ordo-ordo religius dan kembali ke inspirasi semula yang asli (original) dari para pendirinya: Fransiskus itu bukanlah seorang imam, tetapi seorang awam, dan klerikalisasi para Fransiskan itu baru muncul kemudian.”

Beberapa orang berargumentasi bahwa St. Fransiskus itu seorang diakon (tertahbis), tetapi Pater Perry berkata bahwa bahkan hal ini pun menjadi bahan perdebatan yang panas di antara para ahli Fransiskan. Yang pasti adalah bahwa dia menerima “tonsura”, sebuah upacara memotong rambut sekeliling kepala, yang seringkali menandakan adanya persiapan untuk pentahbisan sebagai imam. Tetapi Pater Perry yakin bahwa dalam kasus St. Fransiskus, tonsura itu hanyalah sekedar tanda resmi bahwa dia telah dianugerahi izin oleh uskup untuk berkhotbah di gereja-gereja.

Dengan melepaskan kaitan antara tahbisan dan pemerintahan, semakin terbukalah kemungkinan-kemungkinan untuk mengakui martabat, bakat-bakat, ketrampilan dan panggilan untuk melayani dari semua orang yang dipermandikan, kata Pater Perry.

Bila kebanyakan peran kepemimpinan hanya dikhususkan pada mereka yang ditahbiskan, kata Pater Perry, “maka tertutuplah kemungkinan memberikan ruang bagi para wanita dan juga, sesekali, memadamkan kemampuan seseorang. Hal itu telah tidak mendukung kompetensi, kemampuan dan, pada kenyataannya, justru telah menimbulkan ketidak-mampuan (inkopetensi).”

Suatu model kepemimpinan gereja yang di dalamnya orang tertahbis menjadi gembala rohani, yang juga berhak mengawasi kepastian supaya masalah-masalah administratif dan finansial dilaksanakan dengan benar, adalah “suatu model yang lain dan berbeda dengan model kepemimpinan yang di dalamnya terdapat kontrol kepemimpinan yang harus memberikan kepastian ‘sayalah yang bertanggung-jawab”. Kepemimpinan model terakhir ini muncul dari ketidak-pastian dan adanya kekurangan iman personal si pemimpin itu, dan bukan dari adanya keyakinan diri,” kata Pater Perry.

Dalam pandangannya, katanya, “klerikalisme adalah tanda kurangnya iman (faith), kurangnya kepercayaan (trust) – kurangnya kepercayaan pada Tuhan, kurangnya kepercayaan pada orang-orang lain, dan akhir-akhirnya, adanya kurang percaya pada diri sendiri.”

Faggioli, ahli sejarah gereja, berkata kepada CNS bahwa “Gereja yang berpusat pada klerus adalah bagian dari relasi yang kuat antara Gereja dan negara di dunia Barat dari Kekristenan yang sudah mapan. Hal itu lebih merupakan keharusan sosial dan politik daripada suatu keharusan teologis: otoritas negara atau politik dahulu memang perlu memperhitungkan kelas klerus profesional yang terpercaya, yang setia pada otorita politik.”

Tetapi dunia telah berubah, katanya, dan “misi Gereja dalam dunia yang sudah disekularisasi ini membutuhkan semua tangan, tidak hanya tangan-tangan para klerus.

Sementara “pemerintahan masih terkait erat kuat pada pentahbisan,” kata profesor tadi, “dalam hidup nyata Gereja Katolik seantero dunia sekarang ini, banyak keputusan kunci diambil oleh orang-orang awam. Pendidikan Katolik, pemeliharaan kesehatan, media, karya sosial dan sebagainya, secara luas berada dalam tangan orang awam.”

“Kita harus sampai pada kesepakatan perihal apa itu hakekat Gereja dan apa itu hakekat pelayanan di dalam Gereja?” kata Pater Perry. “Fransiskus dari Asisi menawarkan sebuah model yang baru, suatu model yang samasekali tidak bermaksud menantang hakekat Gereja dan peran-peran yang khas di dalam Gereja, tetapi ingin mengingatkan Gereja bahwa semua ini demi melayani sesuatu yang lebih tinggi, suatu yang lebih besar.”

 

Sumber: http://www.catholicnews.com/services/englishnews/2017/all-hands-on-deck-franciscan-idea-can-expand-church-leadership-pool.cfm

Diterjemahkan oleh: Alfons S. Suhardi, OFM

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *