Pengalaman Jenaka Bruder Lukas

29/01/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 961 kali

Jenaka (1)

Saudara kita Lukas Esti Sunarno almarhum menurut penilaian Redaksi (yang sudah bergaul akrab dengannya sejak tahun 1958) memang seorang fransiskan sejati: bukan karena bahwa dia tidak terpelajar, tapi karena kesederhanaannya dan sepertinya tanpa beban; dengan keluguannya yang tanpa pretensi itu dia berhasil menembus batas-batas sosial yang ada dan dapat memberikan suasana riang kepada orang-orang sekitarnya. Benarlah bahwa pada mulanya orang dapat jengkel, tapi lama-lama orang akan menyerah dan menanggapinya dengan ringan juga.

Syahdan, dia sudah beberapa lama berbaring sakit di Carolus. Pater Provinsial pun mengunjunginya. Kendati dengan lemah, tapi tanpa ragu dia langsung menyapa Pater Provinsial, katanya “Kamu kan Romo Parto to?” “Bukan”, kata Provinsial, “Romo Parto sudah meninggal, saya Pater Provinsial”. “Ah, Pater Provinsialnya kan Pater Alo Murwito!” Provinsial langsung menjawab “Ya saya ini Alo Murwito, Provinsialnya!” Dengan suara lemah penuh keheranan dia menjawab “O, sudah ganti to?!” Dengan jurus Lukas yang terakhir ini, Pater Provinsial yang masih sehat wal afiat jiwa dan raganya itu pun tersodok ke sudut, tak tahu lagi harus menjawab apa.

Jenaka (2)

Seperti kita ketahui selama tahun-tahun terakhir hidupnya, Lukas dirawat di rumah Lansia Wisma Asisi di Sukabumi. Di sana pun dia sangat menjadi pusat perhatian semua penghuni wisma itu. Dia memberi suasana tertentu kedalam kehidupan antar insani uzur yang kehidupannya cenderung monoton. Saudara Bloemen pun pernah mengusulkan kepada Provinsial supaya Lukas tetap tinggal di sana. Kendati kadang-kadang bikin jengkel, tapi pada umumnya memberikan suasana cerah. Mungkin ini alasan yang ada di benak Bloemen.

Di sana ada seorang nenek yang seringkali rewel, mogok tidak mau makan dan sebagainya. Suster Gerarda yang mengetahui kepiawaian Lukas, minta padanya supaya membujuk si nenek kolokan itu. Tanpa protes Lukas pun pergi kepadanya. Lalu terdengarlah Lukas dengan nada seadanya nembang Walang kekek, Ilir-ilir dan sebagainya. Dua lagu ini adalah lagu-lagu Jawa yang sangat populer bagi generasi tua. Satu dua kalimat cukuplah. Sambil masih nembang seadanya, Lukas menggandeng sang nenek itu ke kamar makan. Begitu masuk, yang lainnya menyambut mereka berdua dengan tepuk tangan meriah. Mungkin sambutan seperti inilah yang diharapkan oleh sang nenek ini.

Jenaka (3)

Suatu sore yang mendung nyaris gerimis, Lukas juga ikut Misa dan sembahyang sore di kapel Wisma Lansia Asisi di Sukabumi bersama para suster yang ada di sana. Sehabis sembahyang, Lukas keluar pertama, lalu berdiri di depan kapel, menarik ritsluiting celananya yang nyaris kumal itu, kebawah dan tanpa sungkan-sungkan buang air kecil di situ. Suster Gerarda yang keluar berikutnya, melihat ulah Lukas yang jorok itu, langsung terusik rasa tanggungjawabnya untuk mempertahankan ketertiban dan kepatutan di wilayah yang menjadi tanggungjawabnya itu. “E Bruder Lukas! Tidak boleh kencing di situ! Ini kan di depan kapel!” tegurnya dengan nada yang dibuat seenak mungkin, karena dia sadar bahwa Lukas memang tidak begitu suka pada Suster Kepala yang suka melarangnya jalan-jalan keluar wisma itu. Mendengar teguran itu, seperti biasanya, tanpa beban apa pun, dengan enteng dia menjawab “Nggak boleh ya sudah”, sambil berjalan ke tempat lain dengan tetap memegang sang burungnya yang terus memuntahkan air, menyirami bebungaan dan lantai yang dilaluinya. Melihat ulah Lukas seperti itu, Suster Gerarda hanya bisa berseru jengkel “Lukas …!”

(dimuat di Taufan edisi Februari 1999)

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *