Pasal III Ibadat dan Puasa



Dilihat: 92 kali

(1)Tuhan berfirman: Setan jenis ini tidak dapat diusir, kecuali dengan berpuasa dan berdoa; (2)dan lagi: Apabila kamu berpuasa, janganlah muram, seperti orang munafik.

(3)Karena itu semua saudara, baik rohaniwan maupun awam, harus melakukan ibadat harian[1], puji-pujian dan doa-doa, sebagaimana diwajibkan bagi mereka. (4)Para rohaniwan harus melakukan ibadat itu dan bersembahyang bagi orang yang hidup dan yang mati menurut kebiasaan para rohaniwan. (5)Untuk cacat-cela serta kelalaian saudara-saudara, hendaknya mereka setiap hari mendaras mazmur[2] Kasihanilah aku, ya Allah serta doa Bapa Kami; sedangkan bagi saudara-saudara yang telah meninggal hendaklah mereka mendaras mazmur Dari jurang yang dalam serta doa Bapa Kami. (7)Buku-buku yang memang perlu untuk melaksanakan ibadat mereka, boleh mereka miliki. (8)Juga para awam yang tahu membaca kitab mazmur, boleh memilikinya. (9)Sedangkan saudara lainnya yang tidak dapat membaca, tidak diperbolehkan memiliki buku.

(10)Para awam hendaknya mengucapkan[3] Aku percaya akan Allah dan duapuluh empat Bapa Kami dengan Kemuliaan kepada Bapa untuk ibadat Matutinum, sedangkan untuk ibadat Laudes lima; untuk ibadat Prima: Aku percaya akan Allah dan tujuh Bapa kami dengan Kemuliaan kepada Bapa; untuk ibadat Tertia, Sexta dan Nona masing-masing tujuh; untuk ibadat Vesperae duabelas; untuk ibadat Completorium diucapkan Aku percaya akan Allah dan tujuh Bapa kami dengan Kemuliaan kepada Bapa; untuk orang-orang yang telah meninggal tujuh Bapa Kami dengan Tuhan, berilah mereka istirahat yang kekal; dan untuk cacatcela serta kelalaian saudara-saudara hendaknya diucapkan doa Bapa Kami tiga kali setiap hari.

(11)Demikian pula semua saudara harus berpuasa dari pesta semua orang kudus sampai Natal, dan dari Epifani[4], ketika Tuhan kita Yesus Kristus memulai puasa-Nya, sampai Paskah. (12)Tetapi pada vaktu-waktu lainnya, sesuai dengan cara hidup ini, mereka tidak wajib berpuasa, kecuali pada hari Jumat. (13)Mereka boleh makan makanan apa saja yang dihidangkan bagi mereka, sesuai dengan Injil.


[1]. “ibadat harian”, dahulu dipakai istilah “Ofisi Ilahi”, yang pada zaman itu mencakup ibadat harian dan Ekaristi. Istilah itu dewasa ini lenyap dari liturgi Gereja.
[2]. Nomor Mazmur ikut bilangan lbrani, seperti yang diikuti kitab suci bahasa Indonesia terbitan LAI-LBI.
[3]. “Ofisi ilahi” waktu itu dibagi atas matutinum (malam; dengan banyak bacaan), laudes (pujian-pujian menjelang fajar), prima (sekitar pk 06.00), tertia (sekitar pk 09.00), sexta (sekitar pk 12.00), nona (sekitar pk 15.00), vesperae (ibadat sore) dan completorium (ibadat penutup).
[4]. Epifani berarti pesta pembaptisan Yesus, yang waktu itu disebut juga Epifani Tuhan, atau penampakan diri Tuhan.