Modernitas dan Agama

03/11/2009
Oleh   |  Dilihat: 831 kali  |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak

Modernitas dan Agama

Agama Kristen tidak hanya turut menghasilkan modernitas melainkan juga menyanderanya. Di satu pihak banyak perkembangan yang diklaim oleh modernitas di negara-negara Barat, seperti universalisme, konsep-konsep subjek individual, sejarah, suatu dunia yang dapat diubah, kesetaraan, martabat pribadi dan sebagainya, juga menjadi milik agama Kristen. Di lain pihak, berabad-abad lamanya Gereja-gereja Kristen mengidentifikasikan dirinya dengan sejarah penguasaan, ketidakadilan, kolonialisme, machismo dan sebagainya, sedemikian rupa sehingga hampir tidak mungkinlah membedakan pesan Kristen yang sebenarnya dengan perwujudannya yang konkret dalam sejarah. Karena itu, jika orang-orang Kristen mau melayani umat manusia dalam masa krisis ini, haruslah mereka membersihkan dirinya dan bertobat, kembali ke sumber-sumber imannya yang asali, menyelamatkan harta pusaka rohani mereka yang kaya dan paling manusiawi dan warisan mereka yang paling khusus untuk memberikan makna pada kehidupan, dan dengan segenap tenaga melibatkan dirinya pada proyek-proyek yang menyelamatkan umat manusia. Agama Kristen dan agama-agama besar di dunia ini mempunyai sarana untuk bertindak sebagai perantara-perantara kebijaksanaan, dengan mengingatkan umat manusia akan panggilannya yang luhur, akan cita-citanya untuk mewujudkan pelbagai alternatif yang sahih dan pantas.

Jadi, dengan modernitas itu sendiri serta pelbagai keterbatasan dan kontradiksinya, kita diminta untuk menyelidiki kembali hakekat manusia, keutuhan keberadaan manusia dan karena itu, juga pribadi St. Fransiskus. Di dalam agama Kristen, hanya ada sedikit saja tokoh inspiratif yang diterima dengan baik seperti St. Fransiskus. Dalam sejarah dunia, hanya sangat sedikit saja tokoh yang dihormati dan dipuji dengan suara bulat di semua bidang dan budaya, yang sangat berbeda dari budayanya sendiri. Nyatanya, St. Fransiskus sudah tidak lagi menjadi milik Gereja dan biara-biaranya saja. Dia sudah menjadi seorang tokoh yang universal.

Dari: Alberto da Silva Moreira, Saint Francis and Capitalist Modernity: A View From The South, Franciscan Digest X, no. 1, March (2000), 102-103.

Kirim komentar

Email anda tak akan dipublikasi. Kolom bertanda * harus diisi

*