Misi Saudara-saudara Dina di Indonesia dalam abad XX

15/12/2009
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 2.083 kali

Perebutan kuasa di wilayah Indonesia oleh Belanda (1605) berarti juga berakhirnya misi Katolik di wilayah itu. Oleh karena kerap kali kuasa V.O.C itu hanya nominal saja, maka tidak segera semua aktifitas misioner di seluruh Indonesia berhenti, tetapi lama-kelamaan semua dilumpuhkan. Baru dalam tahun 1800 segala-galanya (Flores) terpaksa dihentikan.

Hasil dari revolusi Perancis adalah kebebasan agama diumumkan di negeri Belanda dalam tahun 1807. Prinsipnya kebebasan itu berlaku di Indonesia. Dalam tahun 1817 dua imam Praja berangkat ke Batavia untuk melayani orang-orang Katolik Indonesia. Sekitar 1840 timbul kesulitan antara pemerintah Hindia Belanda dan Gereja Katolik di sana, terutama oleh karena semua kegiatan misioner secara praktis dihalangi oleh pemerintah Hindia Belanda yang jelas anti-Katolik.
Diikat akhirnya suatu konkordat dengan Roma dan dalam tahun 1841 Batavia menjadi Vicariat Apostolik yang merangkum seluruh Hindia Belanda. Ketegangan dengan pemerintah Hindia Belanda tetap berlangsung dan juga ada semacam pemberontakan dari pihak pastor-pastor kepada Vicaris Apstolik Mgr. Grooff. Akhirnya ketegangan menjadi reda sedikit dan pekerjaan Gereja dapat dimulai kembali (dalam tahun 1846 tidak ada seorang imam di Indonesia kecuali Vicaris Apostolik
karena para pastor pemberontak diusir oleh Raja Willem II yang bertentangan dengan Gubernur yang mempertahankan Vicaris Apostolik). Baru dalam tahun 1859 mulailah apa yang dapat dikatakan “misi”, meskipun hanya sedikit sekali. Datang biarawan-biarawati pertama (Suster-suster Ursulin dan Bruder-bruder Santo Aloysius) dan terutama Yesuit Belanda (1859). Pengikut-pengikut Fransiskus sebagai yang pertama muncul kembali di Indonesia ialah Fransiskanes dari Heythuyzen tahun 1870. Saudara-saudara Dina sendiri baru muncul dalam tahun 1905, yaitu para Kapusin yang ditugaskan di daerah yang tradisional daerah misi Fransiskan di Indonesia, yaitu Sumatra Utara.

Fransiskan bermunculan dalam tahun 1929. Datanglah lima orang untuk membantu di daerah Batavia. Mereka ditempatkan di Panti Asuhan Vincentius, di Paroki Bidara Cina dan Kampung Sawah. Fransiskan itu cukup segera juga menerima calon-calon orang pribumi untuk masuk Fransiskan. Calon-calon yang pertama (yaitu Theogenes Koesnen dan Aquino Ciptopranata – meninggal tahun 1944) dikirim ke negeri Belanda untuk pendidikannya dan dalam tahun 1935 diterima sebagai Fransiskan dalam Ordo Saudara Dina. Mereka disusul oleh Martinus Hardjowardojo (diterima 1937) dan Redemptus Wahjosudibjo (1938). Entah karena apa, tetapi Fransiskan ingin mendapat suatu daerah sendiri di misi Indonesia dan dalam tahun 1941, diserahkan kepada mereka daerah Sukabumi. Terhalang oleh perang dengan Jepang tidak segera daerah itu dapat dikerjakan. Baru setelah perang berakhir pekerjaan dapat dimulai di sana (1948). Sebelum perang Fransiskan sudah bermunculan di sana, juga sebab mereka melayani stasi Cianjur (1931) dan mempunyai rumah chalwat di Cicurug (1933) dan di sampingnya ada Biara Klaris (yang datang dalam tahun 1937). Fransiskan juga melayani stasi Tangerang (Jakarta) dan Rangkasbitung (1933). Dalam tahun 1950 Fransiskan memulai pendidikan calon-calon Fransiskan dari Indonesia di Indonesia sendiri, yaitu di Cicurug. Dalam tahun 1951 mereka mengembangkan kegiatannya ke Flores sedangkan sejak tahun 1937 mereka juga bekerja di Irian Barat dengan cukup banyak orang. Dalam tahun 1962 didirikan di Indonesia (kecuali Irian Barat) Kustodi Autonom St. Michael dan dalam tahun 1957 daerah Sukabumi diperluas dengan daerah Bogor dan dijadikan Keuskupan dalam tahun 1961. Sejak tahun 1965 Fransiskan juga ada di Yogyakarta yaitu rumah pendidikannya yang bergabung dengan seminari Keuskupan Semarang. Dalam tahun 1970 kedudukan “Kostodi” diubah menjadi “Regio Vicaria” dengan Vicarius P. R. Wahjosudibjo.

Pages: 1 2 3

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *