Mengapa Anda Menjadi Misdinar?

21/03/2018
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 75 kali

“Mengapa Anda menjadi misdinar?” tanya salah seorang novis OFM. Pertanyaan inilah yang mengawali rekoleksi bersama para misdinar paroki St. Paulus Depok. Kegiatan yang merupakan agenda wajib para misdinar ini diadakan di aula Novisiat Transitus pada Minggu, 11 Maret 2018. Para peserta rekoleksi sangat beragam, mulai dari tahap novis (misdinar baru) sampai senior. Para novis OFM juga mengikuti kegiatan rekoleksi ini. Mereka turut membaur bersama para misdinar yang usianya berkisar antara 10 –17 tahun.

Kegiatan rekoleksi yang mengambil tema “Melayani” ini diawali dengan acara makan siang bersama. Setelah itu para peserta disuguhi ice breaking yang dipandu oleh sdr. Alan, Ogu, dan Alfred. Situasi langsung riuh. Namun ada pula beberapa misdinar tingkat senior yang ogah-ogahan. Maklum saja, sudah senior.

Sesi pertama rekoleksi dibawakan oleh Sdr. Aldo, Oping, dan Obet. Mengawali sesi ini, Sdr. Aldo meminta semua peserta menutup mata. Lalu ia memberikan pertanyaan tentang motivasi menjadi misdinar. Jika jawabannya ya, peserta diminta untuk mengangkat tangan. Jika jawabannya tidak, peserta diminta untuk diam saja. Rupanya hampir semua peserta mengakui bahwa mereka menjadi misdinar atas kemauan pribadi. Hanya dua tiga orang saja yang menjadi misdinar karena kemauan orang lain.

Pada sesi pertama para peserta diajak untuk mengenal sejarah misdinar, sasaran pelayanan, dan model pelayanan yang bisa ditiru. Diharapkan para misdinar bisa tahu dan paham betul akan pekerjaan mereka. Semuanya dilakukan supaya pelayanan para misdinar tidak menjadi asal-asalan.

Ada peserta yang setia mendengarkan, ada pula yang sibuk ngobrol dengan temannya. Lebih parah lagi ada pula yang tidur saat sesi pertama. Hal ini menjadi alarm bagi para novis. Maklum, baru selesai makan siang. Menanggapi hal ini tim ice breaker langsung beraksi. Mereka mengajak para peserta bergoyang bersama. Suasana kelas kembali hidup.

Setelah sesi ice breaking, para peserta memasuki sesi kedua. Sesi ini dibawakan oleh Sdr. Epang, Arsi, dan Aldo. Pada sesi ini para pemateri menampilkan berbagai tindak lanjut dan langkah-langkah praktis yang bisa diambil oleh para misdinar sebagai aplikasi pelayanan mereka dalam hidup sehari-hari. Mereka diajak untuk semakin mendalami Alkitab, iman Katolik, dan Liturgi sebagai bekal dalam pelayanan mereka. Para misdinar juga diajak untuk menjadi duta kerukunan di lingkungan mereka, bukan hanya ramai di dunia maya. Diharapkan mereka bisa menjadi “garam dan terang bagi dunia”, apalagi di tengah situasi kerukunan di Indonesia yang cukup memprihatinkan. “Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” tandas salah seorang pemateri.

Sesudah mengikuti sesi kedua, para peserta yang dibagi dalam delapan kelompok memasuki sesi sharing bersama. Mereka diberi waktu 45 menit pada sesi ini. Mereka diajak untuk meninjau kembali motivasi pelayanan mereka dan memikirkan niat yang akan mereka wujudkan dalam pelayanan mereka nantinya.

Setelah sharing bersama, para peserta memasuki sesi terakhir. Pada sesi ini dibacakan hasil sharing bersama. Masing-masing kelompok mengutus satu orang sebagai perwakilan mereka. Hasil sharing yang didapat sangat beragam. Ada yang menjadi misdinar mutlak demi melayani Tuhan, ada yang supaya terkenal, ada yang cari penggemar, ada pula yang ingin membanggakan orang tua. Niat-niat mereka juga beragam. Ada yang ingin lebih serius melayani saat misa, tidak tidur saat homili, lebih rajin belajar, dan lain sebagainya. Setelah pleno hasil sharing, kegiatan rekoleksi ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Sdr. Alfred. Beberapa peserta langsung pulang (banyak yang dijemput oleh kerabat mereka). Ada juga yang membantu membersihkan aula. Ada pula yang masih tinggal. Mereka bermain futsal bersama para novis.

Kontributor: Oki Dwihatmanto OFM


Mengapa Anda menjadi misdinar (1)

Mengapa Anda menjadi misdinar (2)

Mengapa Anda menjadi misdinar (3)

Mengapa Anda menjadi misdinar (4)

Mengapa Anda menjadi misdinar (5)

Mengapa Anda menjadi misdinar (6)

Mengapa Anda menjadi misdinar (7)

Mengapa Anda menjadi misdinar (8)

Mengapa Anda menjadi misdinar (9)

Mengapa Anda menjadi misdinar (10)

Mengapa Anda menjadi misdinar (11)

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *