Kustos Tanah Suci yang Baru Memasuki Yerusalem

21/06/2016
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 294 kali

Kustos

(Lihat juga tayangan sebelum ini: Francesco Patton OFM, Kustos Baru Tanah Suci)

Oleh: Alfons S. Suhardi, OFM

Pada tanggal 6 Juni 2016, Kustos yang baru untuk Kustodia Tanah Suci, Sdr. Francesco Patton, secara resmi memasuki Yerusalem dengan upacara meriah. Serah terima jabatan diadakan dalam upacara yang dirayakan dalam Biara Sang Penebus (San Salvatore).

Sementara semua lonceng kapel San Salvatore berdendang sepenuhnya, iring-iringan penyambutan pun bergerak dari Gerbang Baru tembok Yerusalem menuju ke kapel Biara San Salvatore yang menjadi tempat tinggal Kustos dan pusat Kustodia Tanah Suci. Madah Lauda Jerusalem Dominum yang mereka nyanyikan dengan penuh semangat pun menggetarkan tembok-tembok di sebelah kiri kanan jalan itu. Iring-iringan itu diawali oleh kelompok kawas dalam pakaian resmi yang mewakili semua Gereja Timur yang ada di Yerusalem. Mereka diikuti oleh Saudara-saudara Dina Fransiskan berdua dua dan Kustos yang baru yang diapit oleh pendahulunya: Sdr. Pierbattista Pizzaballa, Wakilnya Sdr. Julio Bunader dan Visitator Kustodi Sdr. Jakab Várnai. Di belakang mereka Delegatus Apostolik untuk Palestina, Nuncio Apostolik untuk Israel (Mons. Giuseppe Lazzarotto), para utusan dari Patriarkhat Latin Yerusalem, para Kepala Gereja-gereja, Dewan General yang hadir di Yerusalem, para penguasa sipil dan sejumlah umat Katolik.

Pada pintu masuk gereja, Sdr. Stéphane Milovitch, Gardian dari Biara San Salvatore, menunggu Sdr. Kustos. Kepadanya diserahkan air suci dan salib untuk dihormati dan kemudian diukupinya.

Kemudian Sdr. Jakab berterimakasih kepada Sdr. Pierbattista atas segala karya yang telah dilakukannya selama tahun-tahun yang telah silam dan kemudian dia pun membaca keputusan pengangkatannya yang resmi dalam bahasa Latin dan Inggeris. Kustos yang baru pun lalu mengucapkan Credo dan dengan meletakkan tangan kanannya pada Injil diucapkannya kata-kata yang terakhir. Sdr. Jakab kemudian memberikan kepadanya cap Kustodi dan dengan demikian Sdr. Francesco Patton secara resmi menjadi Kustos Tanah Suci. Sesudah madah St. Fransiskus dinyanyikan, Sdr. Kustos pun memberikan kata sambutannya.

Pertama-tama dia berbicara dalam bahasa Inggeris untuk menyampaikan terimakasih kepada setiap orang atas kehadiran mereka dan bagaikan seorang Fransiskus yang lain, dia meminta doa dari setiap orang. Kepada saudara-saudaranya dia berbicara dalam bahasa Italia yang merupakan bahasa resmi dari Kustodi Tanah Suci. “Saya menerima permintaan ini (untuk menerima tugas pelayanan ini) sebagai sebuah panggilan yang baru dan saya menjawab sebagaimana yang saya lakukan pada hari profesi pertama saya. Saya merasa diri seperti seorang novis (….) namun Tuhanlah yang menjadi Kustos kita. (….) Dan saya mohon kalian menerima saya juga sebagai seorang saudara yang baru.” Kata-kata kerendahan hati yang sungguh bernafaskan Fransiskan.

Kemudian para Fransiskan yang banyak itu, yang mewakili semua biara yang ada di Israel, Palestina dan Yerusalem, mendekati dan memeluknya sebagai tanda selamat datang dan memperlihatkan ketaatan kepadanya.

Kustodia Tanah Suci mempunyai seorang Kustos yang baru. Dia telah tiba dari tempat yang jauh, tetapi dia di sini telah menemukan sebuah persaudaraan yang baru untuk dicintai dan orang banyak untuk dilayaninya, dengan langkah-langkah yang menapaki langkah-langkah Yesus, lebih dekat dari sebelumnya.

(Sumber: http://www.ofm.org/ofm/?p=10996&lang=en )

Beberapa catatan:

Perihal lonceng gereja: Tidak semua gereja di Indonesia dilengkapi dengan lonceng. Seandainya ada pun di sana hanya ada satu lonceng, yang seringkali suaranya parau, tidak berdentang jernih dan nyaring. Berbeda dengan gereja-gereja di Eropa dan Timur Tengah. Tiap gereja ada menara dan loncengnya. Jumlah lonceng pun tidak hanya satu, tetapi banyak, menurut kedudukan dan besar kecilnya gereja itu. Gereja biara Mousky, Kairo, yang saya tempati 45 tahun yang lalu, mempunyai sepuluhan lonceng dengan macam-macam nada dan warna suara. Satu gereja di Nijmegen (yang dahulunya Katolik, tapi setelah Protestan berkuasa diambil oleh mereka sampai sekarang) memiliki puluhan lonceng lengkap dengan nada kromatis beberapa oktaf. Bahkan dilengkapi dengan tuts-tuts seperti piano dan kadang-kadang dimainkan karya-karya klasik tertentu. Tentu saja tidak setiap hari lonceng gereja yang banyak itu dibunyikan semua. Hari-hari biasa (untuk Angelus misalnya) hanya dibunyikan satu. Pada Hari Minggu bisa sampai dua atau tiga, tapi pada hari Raya, Paskah dan Natal, bisa saja semua dibunyikan. Para misdinar pada berebut menarik tali-talinya, karena mereka bisa ikut terangkat ke atas.

Kustos Tanah Suci: Kita bisa saja terheran-heran, mengapa seorang Kustos baru disambut dengan upacara sedemikian resmi dan meriah. Melibatkan Nuncio Apostolik, Perwakilan dari Gereja-gereja ritus lain dsb. Secara liturgis, memang ada upacara penyambutan seorang Kustos Baru memasuki biaranya yang baru, apalagi kalau dia itu berasal dari Provinsi ataupun Kustodia yang lain. Tetapi untuk seorang Kustos Tanah Suci ada hal penting lain lagi. Wilayah Kustodia Tanah Suci itu tidak hanya terdapat di Israel, tetapi juga meliputi berbagai negara, yakni: Israel, Palestina, Yordania, Syria, Lebanon, Siprus dan sebagian dari Mesir. Dengan demikian Kustos Tanah Suci memiliki visa tetap untuk keluar masuk melewati perbatasan negara-negara tersebut. Menurut ceritera, dahulu malah tidak usah menunjukkan paspor, cukup berkata “Kustos Terra Sancta” dan penjaga perbatasan pun mengizinkannya lewat. Entah sekarang. Seorang Kustos Terra Sancta seperti memiliki kewenangan diplomatik.


Kustos TS09
Kustos TS08
Kustos TS07
Kustos TS06
Kustos TS05
Kustos TS04
Kustos TS03
Kustos TS02
Kustos TS01

Satu komentar pada Kustos Tanah Suci yang Baru Memasuki Yerusalem

  1. Alfons S. Suhardi, OFM
    21/06/2016 at 10:06

    Para pembaca kiranya sudah bisa menyimpulkan, bahwa urutan foto di atas terbalik. Dimulai dari yg paling bawah terus ke atas:
    1. Bersama orang banyak menyusuri jalan dari Gerbang Baru (New Gate) ke gerbang Biara San Salvatore.
    2. Penyambutan di gerbang biara
    3. Bersalaman dengan para pimpinan Gereja Ritus Timur
    4. Bersalaman dengan Delegatus Apostolik
    5. Para pimpinan Gereja Ritus Timur
    6. Penyerahan kunci dan meterai (cap) resmi Kustodi Tanah Suci
    7 dst. Upacara selanjutnya di kapel biara.
    Biara San Salvatore ini terletak di dalam lingkup tembok tua kota Yerusalem Tua, dan meliputi bidang tanah yg cukup luas, dengan gedung yang bertingkat.

    Salam
    Alfons S. Suhardi, OFM.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *