Klara – Wanita dalam Keheningan dan Kenangan (Bagian 9)

26/11/2014
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 871 kali

BAB 9. MASA PERANG DAN DAMAI

st francis st clareSejak awal abad ke 13, atau pada akhir abad ke 12 masyarakat Eropa dalam keadaan perang. Santa Klara lahir pada masa tersebut, pada tahun 1193. Penguasa sipil berada pada Kaisar Jerman, ia memegang kekusaan seluruh masyarakat Eropa. Ia menguasai wilayah Jerman, Itali, Perancis dan Spanyol. Penguasa ilahi, atau Gerejawi, berada di tangan Bapa Suci. Walaupun Bapa Suci lebih berwenang dalam bidang ilahi atau gerejawi, tetapi pada zaman itu masyarakat percaya bahwa semua kuasa duniawi berada di bawah kuasa ilahi. Semua kuasa di dunia berada di bawah kuasa Allah. Bapa Suci dianggap sebagai wakil Allah. Bapa Suci diakui sebagai penguasa tertinggi baik secara sipil maupun gerejawi. Bapa Suci melayani Gereja dalam usaha melawan ajaran sesat heretik, kelompok muslim, Crusade yang menguasai Tanah Suci. Tetapi para penguasa sipil dan ilahi terjadi persaingan dan perebutan kekuasaan.

Masing-masing kota hendak mandiri, tak mau lagi berada di bawah kekuasaan Kaisar supaya tak perlu membayar upeti atau pajak kepada Kaisar. Masyarakt di kota-kota terbelah menjadi dua kelompok yang saling berebut kekuasaan. Kelompok bangsawan memegang kekuasaan yang diwarisi dari leluhur. Mereka juga mewarisi harta kekayaan dan menjadi tuan tanah. Tentu kita sadari bahwa kota-kota pada waktu itu tidaklah besar. Orang yang tinggal di kota biasanya aman, karena dikelilingi tembok kota. Orang-orang kaya juga memilik rumah besar di kota dan memiliki tanah perkebunan di luar kota. Di luar kota terdapat perkebunan luas dan banyak pekerja harian, yang tidak memiliki tanah pekarangan. Pemilik tanah adalah para bangsawan. Para petani dan pekerja harian bekerja untuk para bangsawan yang tinggal di kota. Para bangsawan memiliki rumah seperti istana dengan segala serdadu penjaga. Keluarga Santa Klara pun memiliki sebagaimana keluarga bangsawan lainnya. Rumah di keliling tembok dan penjaga keamanan. Keluarga bangsawan menjadi tuan tanah dan memegang kekuasaan dalam masyarakat. Keluarga bangsawan pemegang kekuasaan di kota hanya sekitara 20 keluarga bangsawan. Santa Klara termasuk keturunan keluarga Bangsawan. Di samping para bangsawan, orang-orang kaya pun memiliki kuasa.

  1. Para pedagang, mereka berkuasa dalam bidang perdagangan[i], mereka menjadi orang kaya dan penguasa baru, seperti orangtua Santo Fransiskus.
  2. Orang-orang berpendidikan, yang menjadi pegawai pemerintah[ii] dan para petugas Gereja. Baik para pegawai pemerintah setempat maupun para karyawan Gereja pun merupakan bagian penguasa, karena mereka memiliki kepandaian, seperti kepandaian dalam bidang hukum dan andministrasi yang berwenang dalam birokrasi dan dokumentasi. Mereka pun menjadi kelompok orang berkuasa baru.

Pada dasarnya, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelomplk bangsawan (Major) dan kelompok orang biasa (Minor). Dari kelompok orang biasa tersebutlah muncul orang kaya baru baik para pedagang maupun birokrat. Mereka menjadi saingan para bangsawan.

Bila terjadi perang, para bangsawalah menjadi para pemimpin perang, karena mereka memiliki sarana dan perlengkapan perang seperti kuda, pakaian perang dan senjata. Sanak keluarga Santa Klara, para pria ambil peran sebagai Ksatria-Ksatria terlatih. Orang biasa hanya menjadi serdadu yang berjalan kaki. Tetapi orang kaya yang bisa membeli perlengkapan perang bisa juga menjadi pemimpin perang atau Ksatria, seperti Santo Fransiskus.

Sejak tahun 1160 masyarakat kota Assisi harus membayar pajak atau upeti kepada Kaisar Frederik Barbarosa (Jenggok Merah). Kaisar memiliki wakil, bangsawan di kota Spoleto. Ia dipercaya menerima semua pajak dan menyerahkan kepada Kaisar. Ia harus setia kepada Kaisar. Tetapi pada tahun 1198 waktu Santa Klara berumur 5 tahun, Kaisar Frederik Barbarosa meninggal dan digantikan oleh putranya bernama Kaisar Henry ke 6. Sebelum pelantikan secara resmi, kelompok Minores, terutama orang-orang pedagang dan birokrat memberontak terhadap Kaisar. Mereka menuntut agar kota mereka mandiri, tak dijajah atau dikuai oleh Kekaisaran lagi. Santo Fransiskuslah yang dibiayai oleh orangtuanya, termasuk anggota kelompok tersebut. Kelompok pemberontah berhasil mengusir semua bangsawan dari kota, termasuk bangsawan kota Assisi. Keluarga bangsawan Fafarone, orang tua Santa Klara terpaksa harus mengungsi ke keluarga bangsawan lain di kota Pergia, dan diterima dengan tangan terbuka. Para bangsawan di kota Perugia bersepakat dan siap membela para bangsawan Assisi untuk menggempur Minores, para pemberontak Assisi.

Santa Klara berada di pengungsian cukup lama, sekitar 5 tahun. Selama Santa Klara mengungsi di kota Perugia, ia pun mengenal banyak teman putri dan beberapa teman tersebut pada akhirnya menjadi anggota biara San Damiano. Menurut sejarah, perang antara Perugia melawan Assisi berlangsung pada tahun 1202. Santa Klara sendiri secara alami belajar dari pengalaman, betapa buruknya masa peperangan. Ia sendiri harus mengungsi, banyak orang menjadi korban, keluarga menderita dan banyak orang meninggal akibat perang.

Para bangsawan Perugia dan Assisi yang mengungsi bersatu padu menggempur bala tentara dari Assisi. Peperangan terjadi di antara Kota Assisi dan Perugia yang disebut Collestrada. Peperang terjadi pada musim panas tahun 1202. Bala tentara Minores kota Assisi tentunya   kalah total. Mereka ditangkap menjadi tahanan perang dan menjadi budak, termasuk Santo Fransiskus. Para bangsawan kota Assisi yang mengungsi di Perugia mulai kembali ke kota Assisi lagi. Mereka mengadakan perjanjian damai dengan kelompok Minores di kota Assisi. Bangsawan Assisi pada waktu itu berjumlah 20 keluarga. Mereka tinggal di dataran kota Assisi, di sekikar Gereja Santo Rufino. Rumah keluarga Fafarone, orangtua Santa Klara berada di depan Gereja Santo Rufino. Perang kiranya telah menjadi budaya pada abad pertengahan. Perang menjadi sarana memperoleh dan memperluas kuasa. Akibat perang berupa terjangkitnya penyakit menular, kelaparan dan rasa dedam.

Pengembangan kota diusahakan dengan membangun pasar. Bila terdapat pasar, tentunya harus memproduksi barang dagangan. Tanah perkembunan pun dibutuhkan untuk memproduksi hasil bumi kebutuhan pasar. Kota pun butuh tanah yang luas untuk pemekaran kota. Pemekaran kota butuh menguasai tanah milih tetangga kota. Pemekaran kota berarti juga perluasan kekuasaan yang menjadi sumber atau akar peperangan lagi.

Hal yang sama terjadi di kalangan kristen di Itali. Terjadilah dua kelompok penguasa. Kelompok penguasa rohani di bawah pimpinan Bapa Suci (guelfi) dan kelompok penguasa duniawi di bawah kuasa Kaisar (guibellini). Dua kelompok penguasa tersebut berbeda pemahaman. Kelompok penguasa rohani yang di bawah kuasa Bapa Suci berpendapat bahwa semua kuasa duniawi harus berada di bawah kuasa rohani, karena kuasa ilahi merupakan kuasa tertinggi. Bapa Suci merupakan wakil kuasa ilahi maka penguasa duniawi hendaknya berada di bawah kuasa ilahi. Tetapi kelompok penguasa duniawi berpendapat bahwa kuasa Bapa Suci hanyalah kuasa rohani, tak ada hubungannya dengan kuasa duniawi. Kaisar lah yang menjadi penguasa duniawi tertinggi. Bila terjadi perang Bapa Suci tak punya bala tentara dan senjata serta alat perang. Tetapi Bapa Suci memiliki kuasa ilahi berupa exkomunikasi dan larangan kepada umat Kristen untuk tidak setia kepada Kaisar. Persaingan kekuasaan antara Kaisar dan Bapa Suci berakibat pada masyarakat: siapa yang harus didengar?

Pada waktu itu terjadi perang antara kelompok Muslim yang menguasai Tanah Suci dengan Kaisar Frederik ke 2, yang pada waktu beliau masih kecil bapanya meninggal. Ibunya memasrahkan kepada Bapa Suci Innocentius ke 3 untuk diasuh. Sejak kecil beliau mulai mengamati terjadinya perebutan kekuasaan dalam istana. Waktu beliau berumur 18 tahun, mulailah beliau ambil peran. Pada awalnya beliau tidak mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Bapa Suci Innocentius ke 3. Karena Bapa Suci dianggapnya sebagai Bapa pengasuh. Beliau diam-diam ingin bebas bertindak dan tak tergantung lagi kepada Bapa Suci.

Bapa Suci Innocent ke 3 wafat dan diganti Bapa Suci Honorius ke 3. Bapa Suci Honorius ke 3 tak sekeras Bapa Suci Innocentius ke 3. Kaisar Frederik ke 2 mulai terus terang tidak mau setia lagi kepada Bapa Suci, walaupun ia telah berjanji akan setia kepada Bapa Suci. Bapa Suci meminta agar Kaisar menyerang penguasa Muslim yang menduduki Tanah Suci, tetapi ia tak mengikuti perintah Bapa Suci dengan cara menunda-nunda keberngkatan.

Pada tahun 1227 Bapa Suci Honorius ke 3 wafat. Kardinal Hugolino[iii] terpilih menjadi Paus dan bergelar Bapa Suci Gregorius ke 9. Sejak Santa Klara belum lahir, pada tahun 1187 Saladino[iv] berhasil menguasai kota Yerusalem. Bapa Suci berhusaha dengan berbagai cara untuk membebaskan kota Yerusalem dari kuasa Muslim. Bapa Suci mngajak masyarakat Eropa untuk bersatu membebaskan kota Yerusalem. Beliau mengutus Santo Bernardus, pengkhotbah untuk memperngaruhi masyarakat Eropa untuk diajak berperang untuk membebaskan Tanah Suci. Santo Bernardus pergi ke Bizantini, Konstantinopel Katholik Orthodox[v]. Tetapi terjadilah suatu kesalahbpahaman. Kesalahpahaman tersebut berlangsung hingga kini.

Mengapa terjadi masalah antara Kaisar Frederik ke 2 dengan Bapa Suci Gregorius ke 9? Sebagaimana telah dikatakan bahwa Kaisar Frederik ke2 berhasil menipu Bapa Suci Honoius ke 3 dengan cara menunda-nunda keberangkatan berperang merebut Tanah Suci. Bapa Suci Gregorius ke 9 mempertanyakan kapan Kaisar mau berangkat berperang? Bapa Suci pun mengancam Kaisar Frederik ke 2. Kaisar terpaksa berangkat. Terjadilah di luar dugaan. Di bagian selatan Italia terdapat balatentara dari berbagai tempat yang telah lama menunggu untuk turun ke kapal menunju Tanah Suci. Selama menunggu keberangkatan tersebut terjangkitlah penyakit menular sehingga banyak serdadu meninggal. Kaisar Frederik ke 2 menjadi patah semangat, tak ada niat untuk berangkat berperang. Tetapi karena takut kepada Bapa Suci Gregorius ke 9, Kaisar pun berangkat dengan kapal. Waktu dalam perjalanan Kaisar pun jatuh sakit. Banyak serdadu juga jatuh sakit. Serdau yang lain pun mengeluh, “Bagaimana mungkin kita bisa berperang dalam situasi payah begini?” Mereka putuskan untuk kembali ke Italia.

Waktu Bapa Suci Gregorius ke 9 mendengar berita kembalinya Kaisar Frederi ke 2 dan tidak berangkat perang, Bapa Suci merasa tertpu. Bapa Suci Gregorius ke 9 menjatuhkan hukuman terhadap Kaisar Frederik ke 2 dengan hukuman ekskomunikasi dan diumumkan di seluruh daratan Eropa, dengan alasan Kaisar tidak menerpati janji setia. Kaisar tidak diperkenankan menerima Sakramen hingga datang meminta maaf dan siap berangkat ke Tanah Suci untuk berperang. Situasi Gereja dan masyarakat menjadi kacau. Masyarakat menjadi bingung siapakah yang harus diikuti? Bila mereka mengikuti Kaisar berarti mengingkari Bapa Suci.

Sebagaimana kita ketahui bahwa waktu Bapa Suci mau merayakan kanonisasi Santo Fransiskus, Beliau tidak lagi tinggal di Roma, tetapi sedang mengungsi di Perugia. Setelah Bapa Suci mengumumkan ekskomunikasi terhadap Kaisar Frederik ke2, masyarakat yang membela Kaisar memberontak terhadap Bapa Suci. Karena itu Bapa Suci mengungsi ke Perugia.

Bapa Suci bersedia kembali ke Roma bila Kaisar telah bertobat dan rela peprgi berperang membela Tanah Suci. Bapa Suci pun siap mengampuni semua orang yang membela Kaisar. Keadaan tersebut berlangsung selama 3 tahun, hingga tahun 1230.[vi] Terjadilah perdaiaman pada tahun 1235. Demikianlah situasi masyarakat dan Gereja pada saat itu. Semua pihak berusaha menggunakan kekuasaan dan kekerasan dalam memecahkan masalah dan kepentingan masing-masing. Tak ada satu pihak pun yang memiliki pemikiran yang luas dan bijaksana.

Kiranya Santo Fransiskus menanggapi tanda-tanda zaman situasi masyarakat yang cenderung menggunakan kekuasaan dan kekerasan untuk mempertahankan kepentingan masing-masing, dengan mewartakan damai dan dengan semangat ketidak-lekatan atau tanpa miliki (sine proprio). Di samping itu Santo Fransiskus juga mengutamakan hidup saling mengampuni dan mewartakan semangat rekonsiliasi. Ordo Fransiskan Sekular pun merupakan bagian usaha menciptakan damai. Karena orang-orang yang menjadi anggota OFS menurut hukum diijinkan bebas wajib militer. Maka serdadu perang menjadi semakin berkurang. Semangat berperang pun menjadi kendor karena kurangnya bala tentara.

Menntalitas masyarakat pada waktu itu nampak egois, mengutamakan pandangan dan agamanya sendiri. Mereka yang tak sepaham harus digempur dengan perang. Orang-orang muslim diserang, orang-orang Yahudi dibenci, kelompok heretik dikucilkan, atau diekskomunikasi. Demikian juga orang-orang kusta pun dibenci dan dikucilkan. Pada hal penyakit kusta mucul akibat perang crusade. Kembali dari tanah suci untuk bertempur melawan orang Muslim, banyak orang terkena sakit kusta. Mereka pun dikucilkan dari masyarakat. Dalam kitab Levitikus 13,45-46 diungkapkan bahwa orang kusta harus berpakaian hitam, pangkas rambut, menutup wajah, tinggal terpisah and harus berteriak “haram-haram”. Sehingga orang lain tahu dan tak perlu mendekat agar tidak terjangkit. Gereja pun mendirikan rumah sakit orang kusta agar orang kusta tak disingkirkan dan masyarakat tidak terjangkit, menurut Konsili Lateran ke 3 pada tahun 1179.

Pada waktu itu mereka pun percaya bahwa pernyakit kusta menular melalui hubungan badan. Sehingga mereka menilai bahwa orang kusta berarti orang berdosa. Dalam kisah Orang Jerman, terdapat Raja Markus hendak menghukum Isotta, permaisuri yang menyimpang tatanan dengan hukuman mati dengan dibakar. Tetapi terdapat kelompok meminta agar permaisuri tersebut dihukum dengan berhubungan badan dengan mereka yang terkena kusta agar mati terjangkit penyakit kusta. Santo Fransiskus dalam Wasiat mengungkapkan, “Setelah Tuhan mengantar saya ke tengah orang kusta, terjadilah suatu perubahan batin, timbullah rasa belas kasih terhadap mereka.”[vii] . “Tuhan Allah membuka hati saya melalui tantangan untuk mengalahkan diri, Tuhan Allah menganugerahan hati yang damai”[viii]. Santo Fransiskus berdamai dengan diri sendiri dan dengan orang kusta.

Penulis buku ini mengungkapkan bahwa situasi masyarakat pada zaman Santo Fransiskus dan Santa Klara terjadi saling bersaing, saling berebut kuasa, saling menyerang dan terbiasa menggunakan kekerasan. Masyarakat pun memperlakukan orang sakit kusta sebagai orang yang harus dibenci dan disingkirkan. Bahkan Santo Fransiskus sendiri butuh perjuangan keras untuk mengalahkan diri dalam mengubah sikap dan perlakuannya terhadap orang kusta. Tuhan Allah menaruh belas kasih kepada Santo Fransiskus, sehingga ia pun menaruh belas kasih kepada orang kusta. Menurut Kisah Ketiga Sahabat, Santo Fransiskus mengajak bahwa memelihara kedamaian dan ketenangan batin sebagaimana orang merawat orang sakit.

“Kedamaian yang Anda wartakan dengan lisan, hendaknya dihayati dalam diri sendiri lebih dahulu. Hendaknya tidak menimbulkan batu sandungan terhadap sesama. Janganlah menimbulkan kemarahan terhadap sesama. Tetapi hendaknya memancarkan kedamaian batin, kebaikan dan semangat kebersamaan dengan kerendahan hati. Inilah panggilan[ix] kita, merawat luka hingga sembuh. Kita dipanggil untuk menyembuhkan yang terluka, menuntun kembali mereka yang tersesat ke jalan yang benar. Walaupun saat ini barangkali mereka sepertinya menjadi kaki tangan yang jahat, tetapi suatu saat mereka pun bisa menjadi putra-putri Tuhan kita Yesus Kristus”.[x] Inti nasihat Santo Fransiskus berupa ajakan untuk membawa damai. Masyarakat butuh damai, selaras dengan Injil. Celano pun mengungkapkan nasihat Santo Fransiskus tentang ajakan untuk membawa damai.

Setiap kali Santo Fransiskus memulai khotbahwanya selalu diawali denan “Semoga Allah memberikan damai”.[xi] Tugas mewartakan damai merupakan tugas dasariah bagi semua Saudara Dina. Para Saudara Dina diminta mewartakan kepada masyarakaat untuk tidak berperang lagi. Karena akar dasariah peperangan karena ingin lebih berkuasa, ketidakadilan, khususnya pemegang kekuasaan, para bangsawan kota. Dan terutama munculnya orang kaya baru yang juga ingin berkuasa.

Dalam Kisah Santo Fransiskus diungkapkan, “Waktu Santo Fransiskus pergi kota Aresso, ia dan para Saudara Dina menyaksikan bahwa masyarakat di kota tersebut sedang kacau, mereka berperang satu sama lain secara mengerikan. Santo Fransiskus merasa kasihan terhadap mereka. Ia dan para Saudara Dina berusaha berjalan mengelilingi kota tersebut. Santo Fransiskus melihat penampakan adanya banyak setan sedang berskaria penuh tertawa karena masyarakat saling bertengkar dan berperang. Setan berhasil membujuk masyarakat kota Aresso tersebut untuk salig bermusuhan. Santo Fransiskus memanggil Saudara Silvester, orang yang begitu sederhana, rendah hati dan penuh kepercayaan kepada Tuhan Allah. Santo Fransiskus menyuruh agar Saudara Silverster pergi ke pintu gerbang kota Aresso dengan berpesan, “Saudara yang terkasih, segeralah pergi ke pintu gerbang kota dan berserulah dengan suara keras, perintahkan dan usirlah semua setan keluar dari kota saat ini juga. Perintahkan kepada mereka, keluarlah dari kota saat ini juga”.[xii]

Ringkasnya, Santo Fransiskus mengursir setan di kota Aresso. Santo Fransisksu berdoa dan Saudara Silvester bertindak mengusir sertan. Santo Fransiskus memahami bahwa kebencian berasal dari dorongan daging manusiawi sendiri dan dari pengaruh jahat.

Di kota Bologna, menurut tulisan Thomas da Spalato, waktu Santo Fransiskus sedang berkhotbah tentang malaikat, setan dan manusia dan tentang ajakan Santo Fransiskus agar masyarakat Bologna menguasai rasa benci satu sama lain. Ia juga mengajak agar masyarakat berdamai satu sama lain. Para bangsawan pun sepakat mengadakan perjanjian damai karena khotbah Santo Fransiskus.

Santo Frnsiskus melihat dengan jelas bahwa perang berakar pada kedengkian manusia. Damai hanya bisa diwujudkan dengan menguasai diri dan dengan saling memaafkan. Santo Fransiskus sungguh memahami makna “khotbah di bukit”, sebagaimana Yesus sampaikan, “Berbahagialah orang yang lembut dan rendah hati, karena mereka akan mewarisi Kerajaan Allah”. Bagi Santo Fransiskus Kerajaan Allah bukan hanya soal rohani, tetapi Kerajaan Allah sungguh harus terwujud secara lahiriah, dengan membiarkan diri dikuasai Allah, sehingga menciptakan damai dengan sesama dan dalam pemerintahan kota. Artinya Kerajaan Allah menjadi nyata, hendaknya terjadi keselarasan baik secara rohani dan duniawi.

Keadaan masyarat pada wktu itu sedang terjadi saling bermusuhan dari segala tingkat. Permusuhan dalam kota, antar kota, bahkan permusuhan antara Kaisar dengan Bapa Suci. Masyarakat juga membenci sesama, terutama orang-orang sakit kusta. Perdamaian hanya menjadi nyata bila semua pihak menyadari diri dan menguasai kecenderungan batin dan menghargai sesama.

Terdapatlah pengalaman di kota Perugia, “Mengingat Bapa Fransiskus sanggup memohon kepada Kaisar untuk berdamai. Bapa Fransiskus pun kiranya berkenan berdoa memohon kepada Tuhan Allah, agar Kaisar mengeluarkan perintah untuk tidak menangkap anak-anak putri (burung-burung Klark) dan membahayakan mereka. Bahkan semua orang yang berkuasa di tengah masyarakat hendaknya memerintahkan kepada anak buahnya agar waktu perayaan Natal mereka menaburkan butir-butir gandum di jalan-jalan agar saudari burung-burung Klark, mendapat makan secukupnya. Demikian juga hendaknya orang-orang miskin pun mendapat perhatian secukupnya pada hari Natal”.[xiii]

Santo Fransiskus bukan hanya memahami masalah yang terjadi di masyarakat, tetapi juga cara mengatasi dengan caranya sendiri. Pada waktu itu terjadilah perang antara orang Kristen dengan orang Muslim (perang crusade). Bapa Suci memanggil Kaisar dan umat Kristen agar siap pergi berperang. Kaisar bersedia, tetapi beliau tidak berangkat. Santo Fransiskus siap berangkat berperang tetapi tidak membawa senjata apa pun (‘sekti tanpa aji’ (tambahan) dan tidak membawa bala tentara seorang pun (‘ngluruk tanpa bala’). Dengan dua saudara ia berani menghadap Sultan[xiv] Mesir. Hingga Sultan menyampbut Santo Fransiskus dan para Saudara Dina dengan ramah serta mendengar kata-kata Santo Fransiskus. Kiranya misi Santo Fransiskus bukanlah untuk mempertobatkan Sultan untuk menjadi Kristen. Tetapi misi dasariah agar Sultan ambil bagian dalam menciptakan damai. Cara Santo Fransiskus mengejutkan masyarakat Italia. Sehingga Giotto mengekspresikan dalam bentuk gambar yang begitu mengesankan dan Dante pun mengungkapkan secara puitis dalam tulisan sastranya. Karena Santo Fransiskus mengungkapkan semangat keberaniannya seperti seorang Ksatria. Ia pun menunjukkan semangat kerendahan hati dalam menawarkan damai. Sebagaimana Santo Fransiskus menunjukkan rasabelas kasih terhadap terhadap orang kusta, demikian juga ia menunjukkan kelembutan kasihnya kepda Sultan. Ia mengalahkan (‘menang tanpa ngasorake’(tambahan) sikap rasa benci dan jijik[xv] baik terhadap orang kusta maupun terhadap Sultan. Sultan pu menerima Santo Fransiskus dengan ramah dan damai. Inilah cara Santo Fransiskus membawa damai (bukan seperti orang Roma dengan semboyan ‘bonum para bellum’ (menciptakan damai dengan ancaman perang(tambahan).

Kita saksikan peran Santa Klara dalam usaha membawa damai. Santa Klara lahir dari tengah keluarga bangsawan dan ksatria. Dan waktu ia masih kecil pun menyaksikan situasi peperangan. Di rumah pun mendengar tentang siasat perang, kemasyuran dan cara-cara menguasai musuh. Santa Klara senang waktu mendengar tentang Santo Fransiskius yang mewartakan damai. Dalam dokumen proses kanonisasi, Suster Pacifica, saksi mata dikatakan, “Ia mengenal Bunda Klara, yang kudus waktu Santa Klara belum masuk biara dan masih berada di rumah orangtunya. Dari kesaksiannya, Santa Klara amat menunjung tinggi hidup saleh”.[xvi] Saksi mata tak menyebut langsung tentang “damai”, tetapi “melakukan banyak kebaikan dan hidupnya tulus”. Tak diungkapkan secara langsung sikap Santa Klara terhadap orang kusta. Barangkali Santa Klara menaruh belaskasih dan membawa makan bagi mereka. Tetapi tentu saja Santa Klara tidak mungkin melakukannya secara langsung. Bagi Santo Fransiskus tindakannya begitu jelas dan langsung karena memang merupakan bagian dasariah dari proses panggilan. Santa Klara meninggalkan rumah dan langsung masuk biara unuk mengikuti Kristus yang miskin. Kiranya Santa Klara memiliki cita-cita yang sama dengan Santo Fransiskus. Artinya, hidup miskin bukan hanya masalah tidak adanya suatu harta kekayaan, tetapi menyangkut semangat kerendahan hati, tak menggunakan kuasa, bertindak dengan bijaksana, menguasai kecenderungan jahat dengan kebaikan. Inilah yang Bapa Suci kutip dari Surat St. Paulus kepada umat di Roma, “Hedaknya yang jahat jangan menguasai diri Saudara, tetapi hendaknya Saudara menguasai kecendurngan jahat dengan kebaikan”. Inilah princip hidup Santo Fransiskus juga yang mengatakan, “hendaknya bersikap rendah hati dan bukan dengan kuasa”. Santa Klara menggunakan cara sikap rendah hati pertama waktu Suster Agnes adiknya, dipakasa dengan kuasa oleh sanak keluarga, tapi ternyata kekuatan kekuasaan tidaklah membawa hasil. Demikian waktu sanak keluarga mau memaksa dengan kekuatan kekuasaann terhadap dirinya sendiri, Santa Klara cukup hanya membuka selubung kepala untuk menunjukkan bahwa ia telah mempersembahkan diri kepada Allah, berada dalam perlindungan Gereja, sanak keluarga pun menyerah dan pergi.

Lain halnya dengan peristiwa Suster Agnes yang belum secara resmi membaktikan diri, sanak keluarga masih bisa menggunakan kekuatan kekuasaan untuk memaksa Suster Agnes. Dalam kisah diungkapkan, “…enampuluh hari setelah Santa Klara meninggalkan dunia dan masuk biara, Agnes, saudarinya mendapat inspirasi Roh Kudus untuk mengunjungi saudarinya, Santa Klara.[xvii] Pada waktu itu Santa Klara berada di biara San Angelo di Panzo. Agnes mengunjungi Santa Klara hampir tiap hari. Suatu saat Agnes mengungkapkan keinginannya untuk membaktikan diri selamanya. Mendengar keinginan Agnes, Santa Klara merasa amat bahagia, memeluk adiknya erat-erat sambil berkata, “Adikku terkasih, kakak-nda bersyukur kepada Allah dengan sebulat hati, karena Allah telah mengabulkan permohonanku tentang dirimu, mengingat kakakmu mengkhawatirkan dirimu”.

Hidup Agnes telah berubah. Ia meninggalkan rumah dan tinggal di biara bersama dengan Santa Klara dalam perlindungan Tuhan Allah. Ia mendapat bimbingan dari kakaknya secara langsung. Santa Klara sendirilah menjadi pembimbing utama. Agnes menjadi novis dan saudari Santa Klara. Tetapi terjadi masalah dengan sanak keluarga.

Waktu sanak keluarga mendengar bahwa Agnes telah mengikuti Santa Klara dan tinggal di biara San Angelo di Panzo. Sanak keluarga pun marah besar. Hari berikutnya mereka membawa 12 algojo di bawah komamdo Tuan Monaldo, paman Agnes dan Santa Klara sendiri. Mereka datang dengan dalih mau mengunjungi Agnes dan Santa Klara. Mereka pun berusaha menemukan Agnes untuk dibawa pulang. Mereka tak berpikir lagi tentang Santa Klara, karena tak mungkin lagi diajak kembali. Waktu mereka melihat Agnes, mereka pun mempertanyakan, “Mengapa Agnes tinggal di sini? Pulanglah bersama kami.” Agnes menjawab, “Kami tidak mau pulang. Kami tidak mau dipisahkan dengan Kakak Klara lagi”. Tuan Monaldo memerintah algojo untuk bertindak. Mereka menyeret Agnes keluar biara. Agnes menderita kaarena dijambak dan diseret dengan paksa.

Agnes merasa bahwa dirinya sepertinya berada dalam cengkeraman singa ganas. Ia meronta-ronta dan berteriak, “Kakak tolonglah, jangan biarkan adik terpisah dari Tuhan Yesus!”. Waktu Santa Klara mendengar teriakan, ia segera berlutut berdoa dengan air mata mengalir. Ia berdoa memohon pertolongan Tuhan, agar Agnes memiliki kekuatan untuk bertahan dan dalam perlindingan Roh Kudus.

Waktu Santa Klara berdoa, mereka berhasil menyeret Agnes keluar dari biara dan sedang berjalan mendaki bukit. Agnes bersi keras tidak mau pergi. Ia berusaha melepaskan pegangan hingga pakaian koyak, dan rambut pun tercabut. Agnes tak berdaya dan jatuh pingsan. Tetapi berat badan Agnes menjadi amat berat. Mereka tak sanggup mengangkat tubuh Agnes. Biar pun mereka memanggil para pekerja kebun setempat pun, tetap mereka tidak sanggup mengankat tubuh Agnes.

Para algojo yang terdiri dari 12 orang pun menyerah. Mereka pun bilang, “Kiranya dia maka besi semalaman. [xviii] Sehingga badannya amat berat”. Tuan Monaldo amat marah, berniat mau memukul kepala Agnes. Tetapi ia pun kesakitan sendiri.[xix] Ia pun berteriak kesakitan. Mereka pergi ke Assisi dengan meninggalkan Agnes seorang diri.

Santa Klara mengikuti dari belakang dan menemukan Agnes dalam keadaan lusuh dan luka-luka. Santa Klara memegang tangan dan mengajak pergi untuk melayani Tuhan Yesus. Agnes bangun dan berangkat dengan penuh bahagia. Karena mereka berhasil dalam perjuangan awal. Agnes memasrahkan diri untuk melayani Tuhan Allah. Santo Fransiskus memotong rambut Agnes. Sekaligus mengajak Agnes untuk melayani Tuhan Yesus bersama Santa Klara”.[xx]

Walaupun Santa Klara berada di biara, tetapi ia merasa bahwa ia tidak terpisah dari dunia, terutama dengan Gereja. Suster Caecilia, saksi mata mengungkapkan bahwa, “Ia bilang bahwa Bunda Klara punya niat kuat untuk pergi menjadi martir karena kasihnya kepada Tuhan Allah. Keinginan untuk menjadi martir semakin kuat waktu mendengar bahwa beberapa saudara dina telah menjadi martir di Moroco. Ia pun hendak pergi ke Moroco. Keinginan menjadi martirlah menjadi awal Santa Klara menderita sakit badani”.[xxi] Suster Caecilia tahu bahwa Santa Klara sungguh-sungguh ingin menjadi martir, hingga ia menangis. Thomas Celano tidak mengungkapkan dalam tulisannya. Karena Thomas mengira bahwa Santa Klara sebagai seorang pimpinan biara tak pantas memiliki keinginan untuk untuk pergi menjadi martir di Moroco. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1220. Santa Klara tidak bermaksud untuk berperang atau balas dendam. Tetapi Santa Klara ingin menderita sebagaimana Tuhan Yesus Kristus. Ia akan pergi ke Moroco dengan senjata kerendahan hati dan doa.

Cita-cita kemartiran Santa Klara dan Santo Fransiskus selaras. Intinya mereka mau membawa damai. Demikian juga di Assisi, hendaknya terjadai damai antara Bapa Uskup Assisi dengan Wali kota. Santa Klara berusaha membawa damai dengan berdoa, sedang Santo Fransiskus membawa damai dengan menyusun khotbah sedemikian indah, sebagaimana terungkap dalam Legenda Perugia.

“Sementara Santo Fransiskus berhasil menulis syair pujian kepada Allah, terjadilah peristiwa di sekretariat Keuskupan Assisi. Bapa Uskup Assisi menjatuhkan hukuman terhadap Wali Kota Assisi dengan tidak diperkenankan menyambut komuni. Wali Kota Assisi pun melawan Bapa Uskup dengan melarang masyarakat untuk tidak membeli atau menjual apa pun dengan Keuskupan.[xxii] Wali Kota pun melarang masyarakat untuk tidak menjalin komunikasi dengan keuskupan.[xxiii] Dan semua perjanjian dengan keuskupan pun dibatalkan. [xxiv]Mereka saling bermusuhan. Santo Fransiskus yang sedang sakit merasa kasihan terhadap mereka yang saling bermusuhan. Apalagi tak ada seorang imam pun berani tampil untuk menjadi juru damai.

Santo Fransiskus berkata kepada para saudara, “Saudara-saudara, betapa malu kita, sebagai pelayan Tuhan kita Yesus Kristus dan menyaksikan di depan mata kita adanya permusuhan antara Bapa Uskup dan Wali Kota. Dan tak seorang imam pun berani tampil menjadi juru damai bagi mereka”.[xxv]

Santo Fransiskus merasa tidak tenteram dan berpikir untuk menulis suatu syair bagi mereka yang sedang saling bermusuhan dan saling dendam, agar mereka bisa saling memaafkan dan hidup damai. Syair tersebut berbunyi,

“Allah Bapa kmi, segala pujian milik Tuhan; Berbahagialah mereka yang saling memaafkan karena kasih kepada Tuhan; Berbahagialah mereka yang tekun bertahan dalam penderitaan dan cobaan; Dan berbahagialah mereka yang bertahan dengan batin tenteram; Karena Allah akan menganugerahkan mahkota kepada mereka”.[xxvi]

Waktu Santo Fransiskus telah berhasil menulis syair tersebut, ia memanggil seorang saudara dan berkata kepadanya, “Saudara terkasih, Pergilah menghadap Wali Kota Asissi, dan sampaikanlah kepadanya agar Beliau bersama semua pegawai kehormatan kemerintahan menghadap Bapa Uskup”. Saudara tersebut berangkat dengan segera.

Santo Fransiskus juga memanggil seorang saudara lain lagi dan berkata kepadanya, “Saudara terkasih, bawalah 3-4 saudara dan pergilah memuji dan meluhurkan Tuhan Allah serta bacakanlah syair pengampunan yang saya tulis di depan sekretariat Keuskupan Asissi. Mereka pun melaksanakan sesuai pesan Santo Fransiskus. Peristiwa tersebut disaksikan oleh semua pejabat kehormatan baik dari pihak Keuskupan maupun Wali Kota.

Para Sausara Dina yang Santo Fransiskus utus pun menyampaiakan pesan Santo Fransiskus, “Bapa Fransiskus mengutus kami datang kepada Anda sekalian, agar kami menyanyikan pujian kepada Allah dengan lagu-lagu yang diciptakan oleh bapa kmi Fransiskus sendiri. Lagu ini mendorong semangat hidup bahagia bagi sesama. Silakan menikmati lagu-lagu pujian kepada Allah yang kami sajikan. Di samping itu Bapa Fransiskus juga menulis syair khusus untuk Anda sekalian”.

Mereka pun mulai menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Allah dan membaca syair yang Santo Fransiskus tulis. Segera Wali Kota berdiri dan mengatupkan tangan dalam sikap berdoa. Beliau mendengar syair yang dibacakan dengan lantang dengan hati tenteram dan ia pun menangis dengan suara keras.

Waktu para Saudara Dina mengakhiri penyajian lagu dan pembacaan syair, Wali Kota Assisi menyampaikan sambutan di depan semua hadirin, “Sesungguhnya, kami sampaikan kepada Anda sekalian bahwa kami siap memaafkan, bukan hanya kepada Bapa Uskup, yang sungguh menjadi gembala kami, tetapi juga kepada setiap orang dan siapa saja yang bertindak tidak sepantasnya kepada kami dan kepada anak cucu kami. Kami siap mengampuni mereka semua.” Selesai menyampaikan perkataannya, Wali Kota Assisi pun berlutut di hadapan Bapa Uskup, sambil berkata, “Demi kasih kepada Allah dan Putra Allah dan demi kasih kepada Santo Fransiskus hamba Allah, kami siap menghormati Bapa Uskup selaras dengan kehendak Allah”.

Bapa Uskup Assisi nampak begitu kagum dan memeluk Wali Kota sambil berkata, “Sesungguhnya jabatan yang saya emban seharusnya menyadarkan saya sebagai pelayan. Tetapi saya terbawa emosi pribadi, mohon maaf atas kekhilafan”. Mereka saling memaafkan satu sama lain.”[xxvii]

Penulis juga membandingkan peristiwa di kota Assisi pada masa Santo Fransiskus dengan peristiwa pada masa Santa Klara. Dalam Legenda Santa Klara yang memuat tentang proses kanonisasi Santa Klara diungkapkan, “Suatu kali Panglima perang Batalion Vitale Aversa yang haus akan kehormatan dan napsu perang mengepung kota Assisi. Mereka diperintahkan untuk menggusur semua pohon dan menghancurkan semua hal yang menghalangi di sekeliling kota Assisi. Dan akhirnya berhasil mengepung kota Assisi.

Panglima perang memerintahkan, “Jangan mundur hingga kota Assisi hancur!”. Tetapi masyarakat Assisi tak mau menyerah. Mereka saling menyerang. Kota Assisi menjadi ajang peperngan. Waktu Santa Klara mendengar berita tantang pepeprangan tersebut, ia pun merasa sedih. Ia mamanggil semua suster dan berkata, “Anak-anakku terkasih, kita menerima segala yang baik setiap hari dari masyarakat kota Assisi. Kiranya akan terjadilah yang terburuk bika kita tidak membantu mereka. Santa Klara minta diambilkan abu dapur. Ia minta agar semua suster melepas kain kerudung. Ia sendiri pun memberi contoh melepaskan kain kerudung pertama dan menaburi kepala dengan abu dan membantu menaburi kepala semua suster dengan abu juga. Ia mengajak semua suster berdoa di depan tabernakel memohon dengan segenap hati agar kota Assisi selamat dari ancaman musuh”.

Tuhan Allah yang penuh belaskasih tak menghendaki kota Assisi jatuh ke tangan musuh. Terjadilah kekacauan di tangah bala tentara batalion musuh. Mereka mundur dan panglima perang terbunuh dengan pedang. Bala tentara musuh pergi meninggalkan kota Assisi.”[xxviii]

Cara Santa Klara untuk menciptakan damai yaitu dengan doa. Santa Klara belajar dari liturgi Pra-Paska, yaitu upacara Rabu Abu. Ia mengungkapkan sikap ketidakberdayaan di hadapan Allah dan memohon bantuan Allah. Ia pun percaya bahwa doanya akan dikabulkan Tuhan.

Santa Klara mengungkapkan rasa simpatinya dan merasa bertanggungjawab terhadap masyarakat Assisi, sebagaimana Santo Fransiskus merasa prihatin terhadap Uskup Assisi dan Wali Kota Assisi yang saling bertengkar. Santa Klara dan para suster San Damiano tak tinggal diam. Dengan kekuatan doa mereka ambil bagian dalam mengatasi masalah yang terjadi di kota Assisi. Mereka percaya bahwa perang terjadi karena mereka jauh dari Tuhan Allah. Tuhan Allah kiranya tidak menghendaki peperangan. Berdoa merupakan sarana mendekatkan Allah dengan mereka yang sedang bertempur. Berdoa merupakan senjata untuk melunakan hati orang yang sedang membara.

Dalam Legenda Santa Klara pun diungkapkan, “Melalui doa Santa Klara, terjadilah mukjijat. Pada waktu itu Gereja mendapat banyak penganiayaan dari dunia. Terakhir Gereja mendapat serangan dari Kaisar Frederik. Di lembah Spoleto pun Kaisar membagi batalion[xxix] untuk menyebar. Mereka memiliki bala tentara yang tak terhitung jumlahnya seperti lebah. Bala tentara tersebut menyerbu ke mana-mana hingga ke kota Assisi. Masyarakat Assisi baik yang berada di luar kota dan di dalam kota pun takut menghadapi bala tentara tersebut. Karena mereka bertindak kejam, ganas dan haus darah. Umat Allah berusaha mengungsi ke kota untuk menyelamatkan diri. Hanya kelompok Putri Miskin yang tak punya senjata apa pun tersisa di biara. Waktu bala tentara Sarasen menghancurkan rumah-rumah penduduk, dan membunuh banyak orang, dan sebelum masuk kota Assisi, mereka harus melalui biara San Damiano. Para Suster takut dan gemetar. Mereka berdoa dan berpuasa. Santa Klara sendiri sedang sakit. Bala tentara memanjat pagar dan mengepung biara. Para Suster menangis dengan suara keras sehingga Santa Klara terbangun dan menanyakan apa yang terjadi. Waktu Santa Klara memahami hal tersbut, ia pun minta dituntun menuju pintu gerbang. Dan minta supaya seorang suster membawa monstran yang dihiasi dengan gading gajah. Santa Klara berlutut di depan monstran dan berdoa dengan suara keras, “Tuhan Allah kami, berkenankah Tuhan membiarkan kami yang tak punya senjata, yang Tuhan telah lindungi hingga kini dengan penuh kasih, jatuh ke tangan musuh. Tuhan Allah, sudilah melindungi kami, yang kami sendiri tak sanggup melindungi diri kami sendiri”.[xxx] Segera setelah itu Santa Klara mendengar suara yang berasal dari dalam monstran, “Kami akan melindungi kalian semua. Karena kasihmu kepada Kami”. Santa Klara pun berdoa lagi, “Tuhan bila Tuhan berkenan lindungilah juga kota juga karena mereka pun memelihara kami karena kasih kepada Allah”, Dan terdengarlah suara keras, “Kota ini harus menghadapi pencobaan berat. Tetapi kami akan melindungi mereka”. Santa Klara pun berseru, “Anak-anakku, kalian jangan takut. Kalian tidak akan menghadapi suatu bahaya apa pun. Hendaknya kalian teguh dan percaya kepada Tuhan kita Yesus Kristus”. Bala tentara Sarasen pun segera pergi meninggalkan biara dengan ketakutan dan hilang lenyap termasuk bala tentara yang mengepung biara. Kekuatan doa Santa Klara menimbulkan kuasa mengusir bala tentara. Santa Klara melarang, agar tak seorang Suster pun menceritakan yang didengarnya suara tersebut dengan pesan, “Anak-anakku, saya meminta kalian semua, jangan bicara tentang peristiwa ini kepada siapa pun, selama saya masih hidup”.[xxxi]

Cara Thomas Celano menceritakan hal tersebut tak bermaksud merendahkan kemampuan bala tetantara Sarasen. Sebagaimana diungkapkan bahwa bala tentara Sarasen seperti anjing dan orang haus darah. Pada waktu itu bala tentara mana pun akan menggunakan kekerasan dan bersikap bengis. Hanya mukjijatlah yang membuat bala tentara mengubah sikap batin mereka. Apalagi mereka menyaksikan para putri sedang bedoa. Karena mereka sendiri pun berdoa setiap hari berkali-kali. Mereka kiranya merasa sungkan.

Kita saksikan juga bahwa Santa Klara tidak kawatir sama sekali. Walaupun Santa Klara sedang sakit, ia pun berusaha meneguhkan para suster dan berdoa bagi kota Assisi. Dengan doa penuh kepasrahan, “Tuhan, pandanglah hambamu yang tak mampu lagi menilidungi anak-anakMu”. Ia memasrahkan segalanya kepada perlindungan Tuhan. Dengan membawa monstran, mereka percaya bahwa Tuhan selalu beserta mereka, walaupun tak nampak. Kita hanya menyaksikan Komuni Kudus.

Saksi mata pun mengungkapkan pengalaman, “Waktu saksi mata ditanya, mereka menyaksikan apa waktu bala tentara Sarasen memasuki biara. Mereka mengungkapkan bahwa Bunda Klara menghadapi para bala tentara Sarasen di depan pintu biara bersama dengan mereka. Bunda Klara sambil memegang monstran berlutut dan berdoa. “Tuhan lindungilah mereka, karena kami sendiri tak sanggup melindungi mereka”. Dan saksi mata pun mengungkapkan bahwa mereka mendengar suara, “Kami akan melindungi mereka”. Bunda Klara berdoa lagi, “Tuhan lidungilah juga kota ini”. Mereka pun mendengar suara, “Kota akan mengalami pencobaan tetapi kami akan melindunginya”. Bunda Klara menghadap para suster dan berkata, “Jangan takut, hendaknya kalian tekun berdoa agar tak jatuh dalam pencobaan sekarang dan selamanya. Agar kalian tetap berpegang teguh pada janji Tuhan”. Lalu para bala tentara Sarasen meninggalkan biara dengan tidak membahayakan seorang suster pun dan merusak apa pun.[xxxii]

Saksi mata yang lain pun mengungkapkan, “Ia menceritakan bahwa waktu terjadi peperangan di kota Assisi, para suster takut kepada serbuan para Tartar kelompok Sarasen. Merekalah musuh Allah dan Gereja. Bunda Klara meneguhkan para suster dengan mengatakan, “Anak-anakku yang terkasih, janganlah takut, bila Tuhan Allah beserta kita, tak seorang pun akan mengganggu kita. Percayalah kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Ia kan melindungi kita, sehingga kita akan aman. Bunda Klara meminta kami tekun berdoa agar hati kami tenteram. Bila kelompok Sarasen menyerbu, mereka akan membiarkan Santa Klara menghadapi mereka di pintu gerbang”.[xxxiii]

Ringkasnya, hendaknya kita memilih cara Santo Fransiskus dan Santa Klara, memasrahkan segala-galanya kepada kehendak Allah sambil berdoa. Allah sendiri akan bertindak selaras dengan kehendakNya.

———————————————-

[i] Kota menjadi maju dan berkembang karena terdapat pasar, terjadi transaksi jual beli.

[ii] Mereka bukan pegawai Kaisar, tetapi pemrintah kota setempat.

[iii] Cucu Bapa Suci Innocentius ke 3. Pada waktu beliau berumur 82 tahun terpilh menjadi Paus hingga berumur 96 tahun.

[iv] Saladino berarti Raja Mesir.

[v] Santo Bernardus berselisih paham dengan Kelompok Katholik Orthodox.

[vi] Kaisar mengutus seseorang kepada Bapa Suci untuk menjelaskan peristiwa sebenarnya.

[vii] Test 1: FF 110.

[viii] Test 27: FF 121.

[ix] Membawa damai berarti merawat luka, luka batin.

[x] Leg. Tre. 53: FF1469.

[xi] 1 Cel 23: FF 359.

[xii] Leg. Per. 81.

[xiii] Leg. Per. 110: FF 1669.

[xiv] Bertindak seperti Kaisar.

[xv] Pada waktu itu masyarakat Eropa membenci orang Muslim dan orang Muslim juga memenci orang Krisiten.

[xvi] Proc. 1,1: FF 2926.

[xvii] Minta injin untuk mengunjungi Santa Klara di biara.

[xviii] Mereka belum menyadari tangan Allah sedang bertindak.

[xix] Santa Klara berjuang dari belakang dengan doa.

[xx] Leg. Cl. 24-26.

[xxi] Proc. 6,6: Ff 3029.

[xxii] Pada waktu itu Santo Fransiskus sedang sakit berat, dai ia pun tidak mau melihat bahwa pimpinan menjadi batu sandungan bagi masyarakat dan umat.

[xxiii] Pada waktu itu Uskup pun menjadi tuan tanah yang menghasilkan barang dagangan untuk pasar.

[xxiv] Semua perjanjian dengan Uskup dibatalkan oleh Wali Kota, sebagai pembalasan.

[xxv] Santo Fransiskus merasa terpanggil untuk menjadi juru damai.

[xxvi] Terjemahan bebas.

[xxvii] Leg. Per 44: FF 193.

[xxviii] Leg. Cl. 23: FF 3203, cfr. Prc. 3,19; 9,3; 13,9; 14,3.

[xxix] Balatentara Sarasen.

[xxx] Santa Klara sebagai, pimpinan Biara tak sanggup lagi melindungi para suster.

[xxxi] Leg. Cl. 21: FF 3201.

[xxxii] Proc. 9,2: FF 3060.

[xxxiii] Proc. 3,18: FF 2984.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *