Klara – Wanita dalam Keheningan dan Kenangan (Bagian 8)

10/11/2014
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 440 kali

BAB 8. MASALAH DASAR LAHIRNYA ORDO SANTA KLARA

Ordo Santa Clara

Ordo Santa Clara di Indonesia

Banyak orang ingin hidup menurut nasihat injil sebagaimana dihayati oleh para suster biara San Damiano, yang biasa disebut biara “Para Putri Miskin” ( the Poor Clare Sister ). Bagaimana awal mulanya? Betapa sulit dan berat perjuangan awal berdirinya Tarekat Santa Klara. Pada waktu itu di tengah masyarakat terjadi gerakan pembaharuan hidup rohani di berbagai kota Italia tengah. Selanjutnya tersebar luas di Eropa. Banyak kelompok Para Putri Saleh ingin hidup menurut Injil Suci, hidup sederhana, bertapa dan berdoa serta hidup dalam persaudaraan. Bila dilihat secara sepintas kelompok-kelompok tersebut begitu mirip satu sama lain. Dan kelompok-kelompok tersebut mirip juga dengan cara hidup Para Putri Miskin di biara San Damiano.

Bapa Suci Gregorius 9, waktu masih menjabat sebagai Kardinal Hugolino, telah mengenal Santo Fransiskus dan Santa Klara serta Para Putri Miskin di biara Santa Klara. Tetapi sebelum beliau mengenal Santo Fransiskus dan Santa Klara, beliau pun telah berkeliling Italia tengah, terutama di kota Spoleto, Perugia dan beberapa kota lain yang terdapat banyak kelompok Para Putri Saleh menghayati hidup injili. Kelompok Para Putri Saleh tersebut bisa disebut Para Biarawati, walaupun belum diakui secara resmi dari pihak kepausan atau Gereja setempat. Mereka hanya membentuk kesepakatan hidup bersama secara injili tanpa suatu pimpinan resmi dan pengakuan dari pihak penguasa Gereja setempat. Bapak Kardinal Hugolino bermaksud mempersatukan semua kelompok Para Putri Saleh tersebut menjadi satu kesatuan dengan memiliki suatu Anggaran Dasar yang sama dan berada langsung di bawah perlindungan kepausan.[i] Sehingga mereka tidak dibawah asuhan Biarawan mana pun baik Biarawan Benediktin maupun Agustin. Tetapi mereka berada dalam perlindungan kepausan atau Uskup Setempat.

Pada tahun 1218 waktu Kardinal Hugolino, atas nama kepausan menerima sebidang tanah di Monnticelli, dekat kota Firenze, beliau segera membangun suatu biara bagi Para Putri Saleh yang membaktikan hidup doa dalam klausura. Beliau meminta ijin dari Bapa Suci Honorius ke 3 agar semua kelompok Para Putri Saleh berada dalam perlindungan langsung kepada kepausan. Belianu menulis, “Kita butuh Para Perawan Suci yang bijaksana yang hidup suci. Agar mereka nantinya bertemu Mempelai Kudus dengan pelita bernyala. Kami harus melindungi mereka yang tinggal di tengah dunia, agar tak mengikuti godaan dunia”.[ii] Kiranya memang hal biasa, sebagaimana para Bapa Gereja berpendapat dan selaras dengan perumpamaan Tuhan Yesus tentang para wanita bijaksana yang mempersiapkan minyak untuk pelita dalam menyambut Mempelai Pria. Hal baru terjadi yaitu Tarekat berada langsung di bawah pemeliharaan kepausan.

Pada tahun 1219 Kardinal Hugolino menulis Anggaran Dasar bagi Para Putri Saleh di biara Perugia, Spoleto dan Firenze. Mereka harus berada di biara tertutup. Pada pembukaan Anggaran Dasar dikatakan, “Para Suster harus berada dalam biara selama hidup”. Lalu diberi nama “Tareka Putri Miskin dari lembah gunung Spoleto dan Provinsi Toscana”. Inilah pertama kali terjadi dalam sejarah Gereja bahwa terbentuk biara Para Suster yang tidak tergantung kepada Tarekat Pria mana pun, tetapi langsung berada di bawah perlindungan kepausan. Kiranya bisa dipahami bahwa Kardinal Hugolinolah pendiri Tarekat tersebut. Karena beliaulah yang menulis Anggaran Dasar dan mempersatukan semua kelompok Para Putri Miskin. Karena beliau seorang Kardinal, maka injin dari kepausan pun berlangsung lancar.

Tetapi Santa Klara dan Para Suster di biara San Damiano bukanlah Tarekat yang didirikan oleh Kardinal Hugolino. Sebidang tanah pun bukan berasal dari Kardinal Hugolino. Beliau pun tidak membantu proses berdirinya Tarekat. Mengingat beliau bertemu dengan Santo Fransiskus yang dipanggil Tuhan untuk hidup selaras dengan Injil Suci. Kiranya Uskup Guido pun setuju, karena Kota Assisi berada dalam wilayah pelayanannya.

Waktu Kardinal Hugolino bertemu Santo Fransiskus dan Santa Klara dan dapat menyaksikan cara hidup mereka, beliaupun kagum. Kiranya Beliau bertemu mereka pada tahun 1220. Beliau mengirim surat untuk mengungkapkan rasa kekagumannya. Kekaguman terhadap Santa Klara diungkapkan, “Sejak saya pamit untuk melanutkan perjalanan, saya terpaksa memberhentikan percapakan. Saya merasa sedih, karena tak ada lagi penghiburan surgawi lagi. Hati saya merasa ditegur, waktu menyaksikan kesederhanaan dan ketatnya hidup para Suster San Damiano. Saya merasa berdosa. Saya merasa tidak pantas untuk tinggal lebih lama di biara San Damiano. Saya harus segera kembali untuk berurusan dengan yang duniawi lagi… Mohon doa”.

Dalam Kisah Santa Klara diungkapkan: “Bapa Suci Gregorius ke 9 begitu berkenan mempercayakan diri kepada doa Santa Klara. Karena Bapa Suci memahami arti pentingnya ketekunan doa Santa Klara. Karena waktu beliau menjadi uskup di Ostia, beliau pun mengalami masalah berat. Beliau meminta doa dan nasihat dari Santa Klara lewat surat. Belia pun mendapat jawaban sesuai dengan harapan”.[iii]

Kiranya Kardinal Hugolino merasa heran dan terkesan serta berkeinginan agar semua kelompok Para Putri Saleh yang beliau pelihara menghayati semangat hidup sebagaimana Para Suster Miskin San Damiano. Bahkan beliau pun menghendaki agar Biara San Damiano menjadi teladan bagi mereka dan Santa Klara menjadi pimpinan mereka pula. Beliau pun menghendaki agar Santa Klara dan para suster San Damiano menjadi anggota Tarekat Para Putri Saleh yang beliau dirikan dan persatukan. Selanjuntnya beliau pun meminta agar para anggota Persaudaraan Fransiskan membantu menjadi asisten mereka. Tetapi beliau pun meminta agar Para Suster Biara San Damiano mengikuti Anggaran Dasar yang Kardinal Hugolino tulis.

Persaudaraan Fransiskan belum bisa menanggapi cita-cita Kardinal Hugolino, karena pada waktu itu Anggaran Dasar Fransiskan pun belum secara resmi disyahkan kepausan. Pada tahun 1223 Anggaran Dasara Fransiskan mendapat pengesahan secara resmi dari kepausan. Setelah Anggaran Dasar disyahkan, Para Saudara Fransiskan bisa membantu pendampingan rohani para suster. Pada Tahun 1226, Kardinal Hugolino mendapat kesempatan baik, beliau telah diangkat menjadi Paus yang bergelar Paus Gregorius ke 9. Beliau datang ke Assisi dalam rangka kanonisasi Santo Fransiskus.

Pada waktu Bapa suci Gregorius ke 9 masih sebagai Kardinal Hugolino pernah meminta bantuan Santa Klara dan Para Suster San Damiano untuk mendoakan agar bisa mengatasi berbagai masalah yang sedang dihadapi. Demikian pula setelah beliau menjadi Paus, beliau pun lebih membutuhkan doa dari Santa Klara dan Para Suster San Damiano, terutama terjadinya masalah berat dengan Kaisar Frederik ke2 menyangkut kekuasaan. Bapa Suci menulis surat untuk didoakan, “Semoga Allah Bapa yang mahakuasa membantu hamba Allah ini agar bebas dari bencana”. Bapa suci tidak melawan dengan kekuatan angkatan perang, beilau tidak punya senjata. Tetapi Bapa Suci memiliki kuasa ekskomunikasi. Inilah masalah berat yang dihadapi Bapa Suci Gregorius ke 9. Apalagi Kaisar Frederik ke 2 telah mengirim bala tentara untuk menghancurkan daerah kekuasaan kepausan. Pada waktu itu beliau menulis surat kepada Suster Benedikta, dan kiranya kepada Santa Klara di Biara San Damiano juga.

Pada tanggal 14 Desember 1227 Bapa Suci menulis surat kepada pimpinan Persaudaraan Fransiskan, “Hendaknya Para Saudara Fransiskan yang berkenan kepada Allah terutama pimpinan persaudaraan dan para penggantinya membantu melayani Tareka Para Suster Saleh[iv] sebagaimana halnya domba-domba yang Tuhan Allah percayakan untuk dipelihara”.

Di samping itu Bapa Suci juga menulis surat kepada Santa Klara agar Tarekat San Damiano menjadi Anggota Para Suster Saleh yang beliau dirikan. Beliau menegaskan, “Mengingat bahwa Semua Suster hendaknya mengasihi Allah, sebagaimana permaisuri, Para Suster hendaknya mengasihi Allah dengan seluruh dirinya, hendaknya tidak memisahkan diri dalam mengasihi Allah. Para Suster tinggal dalam biara tertutup, untuk meninggalkan dunia dan segala kecenderungan duniawi dan mencintai Tuhan Allah dengan teguh setia dengan mengikuti keharuman sejati yang berasal dari Tuhan Allah sendiri”.

Walau pun Bapa Suci memerintah dengan alasan mulia, tetapi beliau pun memahami bahwa tidaklah mudah bagi Santa Klara dan para suster San Damiano untuk menerimanya. Karena semangat hidup dan cita-cita Santa Klara dan para suster San Damiano tidaklah sama dengan Tarekat Para Putri Saleh pada umumnya. Dalam surat tersebut juga diungkapkan, “Kami percaya bahwa Anda akan mempertimbangkan secara cermat terhadap permintaan kami dan hal yang sedang kami jalani. Karena yang pada awalnya terasa pahit, akhirnya akan berubah menjadi kemanisan. Pada awalnya terasa keras, pada akhirnya akan menjadi lunak. Dan bila harus menghadapi suatu kesulitan dan penderitaan, hendaknya Anda berbangga, karena Anda ambil bagian dalam penderitaan Tuhan kita Yesus Kristus. Karena Tuhan kita Yesus Kristus rela menderita sengsara dan wafat demi keselamatan kita”. Surat tersebut ditulis pada tahun 1228. Tak sampai saatu bulan Bapa Suci telah datang mengunjungi kota Assisi untuk mengkanosisasi Santo Fransiskus. Bapa Suci juga sempat mengunjungi Santa Klara dan Para Suster di biara San Damiano. Dalam kunjungan tersebut, Bapa Suci memperhatikan dengan mata sendiri betapa sederhana dan miskin hidup mereka. Bapa Suci juga merasa kasihan dan kawatir, jangan-jangan mereka tidak sanggup lagi menghayati hidup kemiskinan yang sedemikian berat dan keras. Bapa Suci mengungkapkan perasaannya kepada Santa Klara sebagaimana tertulis dalam Kisah Santa Klara.

“Bapa Suci mengulang beberapa kali, “Bila anaknda merasa berdosa karena telah menjanjikan kemiskinan suci, ayahnda ini siap memberikan dispensasi”. Tetapi Santa Klara menjawab, “Anaknda tidak meminta apa pun selain ingin mengikuti Tuhan kita Yesus Kristus”.[v]

Kiranya Bapa Suci memahami cita-cita Santa Klara. Tetapi Bapa Suci menghendaki agar biara San Damiano menjadi bagian dari Tarekat yang Bapa Suci dirikan. Tetapi mengingat Bapa Suci sendiri tak sanggup memperhatikan Tarekat tersebut secara langsung, maka beliau memasrahkan tugas tersebut kepada Kardial Rainaldo. Pada waktu itu Tarekat telah berkembang menjad 24 biara. Mereka semua menerima Anggaran Dasar yang Bapa Suci tulis. Biara San Damiano dimasukkan di dalamnya dengan menempati urutan pertama. (Karena Bapa Suci menghendaki agar biara San Damiano menjadi pusat bagi semua biara).

Waktu Bapa Suci menngeluarkan dekrit tentang hal tersebut, Santa Klara merasa dipaksa menerima Anggaran Dasar yang ditulis oleh Bapa Suci dan kehilangan kebebasan untuk mengungkapkan kekhasan semangat hidup kemiskian yang sejati.

Sebulan kemudian Santa Klara menulis surat, memohon kepada Bapa Suci agar dianugerahi “privilegi kemiskian”. Waktu Bapa Suci mendengar permintaan tersebut, beliau bersama dengan para Kardinal merasa kagum. Kemudian Bapa Suci menulis “draft”. Santa Klara menerima bahwa biara San Damiano dipersatukan dengan Tarekat yang Bapa Suci dirikan, tetapi bila pimpinan Gereja mau memelihara langsung Biara San Damiano, Santa Klara memohon agar, “Tak seorang pun berwenang memerintah Santa Klara untuk memiliki suatu milik”. Inilah arti previlege. Memiliki hak untuk tidak meng-hak-i sesuatu pun. Santa Klara ingin menghayati hidup mengikuti Injil Suci, hanya mengandalkan kemurahan Tuhan Allah, tak ada jaminan hidup sama sekali.

“Dekrit Bapa Suci tertulis, “Saya Gregroius, Uskup hamba bagi semua hamba Allah, menulis untuk anaknda tercinta dalam Tuhan kita Yesus Kristus, Klara dan hamba-hamba Tuhan yang lain yang berdekatan dengan biara San Damiano di keuskupan Assisi. Semoga berkat Allah turun atas Anda sekalian. Telah diketahui oleh masyarakat umun bahwa Anda sekalian telah membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah. Anda telah merelakan diri untuk tak menghendaki apa pun sebagai hak pribadi, supaya dapat mengikuti Tuhan yang menjadi orang miskin, yang menjadi “jalan, kebenaran dan hidup”. Dengan niat dan tekad yang Anda lakukan tersebut, Anda tidak lagi takut dan kawatir lagi akan suatu kekurangan yang perlu bagi hidup karena tangan kiri Permaisuri selalu melindungi dan menjadi bantalan kehidupan. Sehingga kelemahan badani dan manusiawi tak menghambat Anda sekalian dalam mencintai Allah sepenuhnya. Akhirnya Bapa di sorga yang memelihara burung di udara dan memelihara bunga-bunga di padang begitu indah, dia pun akan memelihara Anda lebih lagi, sehingga Anda tidak akan kekurangan sesuatu pun baik makanan maupun pakaian. Hingga Anda sekalian sanggup menjalani hidup didunia ini hingga mencapai hidup kekal. Semoga Allah menggunakan tangan kananNya untuk memeluk Anda sekalian memasuki kehidupan bahagia selamanaya. Dan Anda sekalian akan berada di hadapan Allah yang Anda sekalian rindukan. Karena itu sebagaimana Anda sekalian mohon, kami sungguh berkenan menganugerahkan dengan kemurahan hati previlege kemiskinan suci. Kami menyerahkan previlege kemiskinan suci, Anda memiliki hak untuk menolak hak pribadi, siapapun tak punya wewenang memaksa Anda sekalian. Tak seorang pun berwenang menganulir dekrit previlege kemiskinan suci ini dari Anda sekalian. Barang siapa melanggar dekrit ini akan mendapat hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku dan akan menghadapi kemarahan Allah dan Santo Petrus dan Santo Paulus”.

Inilah dekrit dibawah hukum kepausan. Santa Klara sungguh sadar Persaudaraan Para Putri Miskin biara San Damiano merupakan Tarekat resmi secara hukum.[vi] Santa Klara sanggup memelihara semangat hidup kemiskinan suci selaras dengan yang Santo Fransiskus nasihatkan.

Pada tanggal 2 Desember 1234 Bapa Suci menulis surat dan menyebut Biara San Damiano menjadi Tarekat San Damiano dari Assisi. Pada saat itu semua kelompok persaudaraan Putri Miskin berada dalam kesatuan dengan Tarekat San Damiano. Bapa Suci (Kardinal Hugolino) memaksa agar semua kelompok para Putri Miskin bergabung menjadi satu menjadi Tarekat baru. Cara hidup Tarekat baru tersebut memiliki banyak kekhasan selaras dengan banyaknya kelompok yang tergabung menajdi satu. Karena mereka belum mendapat pembinaan dan pengarahan secara seragam. Tetapi setelah mereka bergabung dengan Tarekat San Damiano, mereka bisa saling tukar pengalaman. Dalam tulisan yang berbicara tentang hubugan antara Suster Agnes dari Praga dan Santa Klara terungkap bahwa biara Praga pun mau menjalani hidup sebagaimana dijalani biara San Damiano. Demikian juga kelompok lain pun ingin mengikuti cara hidup biar San Damiano.

Walaupun Tarekat Santa Klara disebut sebagai “Tarekat San Damiano”, tetapi Anggaran Dasar yang dijalani bukanlah Anggaran Dasar yang Santa Klara tulis. Dalam Surat Suster Agnes dari Praga kepada Bapa Suci Gregorius ke 9 terungkap bahwa Suster Agnes memohon agar biara Praga pun meminta previlege kemiskinan sebagaimana biara San Damiano. Tetapi Bapa Suci tidak menganugerahkan kepadanya. Bapa Suci memberikan previlege kemiskinan hanya kepada biara San Damiano. Dalam Surat Bapa Suci kepada Suster Agnes diungkapkan, “Anda sekalian telah mengingkari yang duniawi, dan berjuang mengalahkan segala rintangan godaan duniawi agar dapat memasrahkah seluruh diri kepada Allah. (Bapa Suci nampaknya mau menganugerahkan permintaan Suster Agnes untuk hidup dengan tak seorang pun diperkenankan memaksa Suster Agnes untuk menerima suatu hak milik. Tetapi Suster Agnes tidak hanya memohon previlege kemiskina suci saja, tetapi juga memohon agar menjalani hidup sebagaimana pedoman yang ditulis oleh Santo Fransiskus.[vii] Bapa Suci merasa bahwa Suster Agnes memohon lebih daripada yang sepantasnya, sehingga Bapa Suci tidak mengabulkan termasuk previlege kemiskinan suci. Bapa Suci mengatakan bahwa tidak mungkin memohon ijin untuk menjalani hidup menurut pedoman yang ditulis oleh Santo Fransisksus. Karena sebagaimana dalam surat dikatakan, “Memang benar bahwa kami telah menyerahkan tugas kepada Suster Klara, pimpinan biara San Damiano dari Assisi dan kepada para suster meninggalkan hidup duniawi dan hidup melayani Tuhan Allah dalam Tarekat. Dan mereka semua sebagaimana bayi yang baru lahir yang tidak diberi makan makanan keras, tetapi makanan lembut atau minum susu oleh Santo Fransiskus. Tetapi sekarang mereka telah dewasa. Mereka tak lagi hanya boleh minum susu, tetapi hendaknya mereka diberi makanan yang keras. Dan mereka menyampaikan pedoman hidup dengan perantaran Santo Fransiskus yang dalam berjalanan ke Roma.[viii] Mereka memohon agar kami mengesahkah pedoman hidup yang sebagian besar ditulis oleh Santo Fransiskus dan sebagian berasal dari pedoman hidup biara San Damiano. Setelah kami mengadakan permenungan dalam jangka waktu lama, kami memutuskan untuk tidak mengijinkan”. Karena itu Suster Agnes dari Praga tidak bisa melaksanakan pedoman hidup yang ditulis oleh Santo Fransiskus.

Alasan tak dikabulkan permohonan Suster Agnes terdapat 4 hal:

  1. Saat ini Santa Klara dan para Suster di biara San Damiano telah menjanjikan dan menghayati hidup menurut Anggaran Dasar (1219) yang ditulis oleh Bapa Suci (sewaktu masih menjadi Kardinal) selama 15 tahun. Dan Suster Agnes memohon agar Bapa Suci mengesahkan Anggaran Dasar yang ditulis oleh Santo Fransiskus. Maka Bapa Suci tidak mengabulkan permohonan tersebut.
  2. Mengingat bahwa Para Suster di biara Praga telah menjanjikan kaul menurut Anggaran Dasar yang ditulis oleh Bapa Suci. Suster Agnes juga menjanjikan Anggaran Dasar tersebut sejak ia memasuki biara. Anggaran Dasar tersebut tidak bisa diubah. Maka permohonan mereka tidak dikabulkan.
  3. Bapa Suci menghendaki agar semua biara hidup menurut Anggaran Dasar yang Bapa Suci tulis dengan tidak ada kekecualian dan perubahan. Semua biara hendaknya mengikuti Anggaran Dasar yang satu dan sama. Tak seorang pun diperkenankan mengubah sesuatu pun.
  4. Bila seseorang berusaha mengubah Anggaran Dasar tersebut, akan berpengaruh kepada biara lain, sehingga hidup membiara menjadi tidak stabil. Bisa juga seseorang tidak mau menjalani Anggaran Dasar dengan alasan, “Anggaran Dasar bisa diubah”. Bila Anggaran Dasar telah dijanjikan dan dijalankan, hendaknya tidak diperkenankan mengubah sesuatu pun, sekalipun dari Sannto Fransiskus. Santo Fransiskus telah memberi minum susu, setelah dewasa hendaknya tidak diberi minum susu lagi.

Secara hukum, Anggaran Dasar yang ditulis oleh Santo Fransiskus tidak memiliki nilai hukum yang mengikat. Tetapi Anggaran Dasar tersebut hanyalah semacam nasihat rohani yang tidak mengikat. Sementara Anggaran Dasar yang ditulis oleh Kardinal Hugolino dan mendapat mengesahan dari Bapa Suci Honorius ke 3 sungguh mencerminkan hukum yang mengikat. Suster Agnes hendaknya menerima keputusan Bapa Suci, tetapi ia dapat menjalani hidup selaras dengan cara hidup di biara San Damiano. Walaupun cara hidup tersebut tidak disyahkan secara resmi.

Pada tahun 1241 setelah Suster Agnes memohon pengesahan Anggaran Dasar yang selaras dengan biara San Damiano, tetapi tidak dikabulkan; ternyata terdapat biara lain yang sedikit menyimpang dalam menjalani cara hidup. Bapa Suci menulis surat peringatan kepada semua uskup Eropa bahwa terdapat kelompok Para Wanita yang menamakan diri berasal dari biara San Damiano. Mereka mengungkapkan secara lahiriah semangat kemiskian dengan tidak mengenakan alas kaki.[ix] Dan Uskup pun menerima mereka.[x] Hidup mereka nampaknya mengikuti Anggaran Dasar di biara San Damiano, tetapi mereka tidak tinggal di biara tetap.

Mengapa Bapa Suci menulis surat peringatan? Karena terdapat kelompok Putri Miskin Apostolik yang hidup mengikuti cara hidup Para Saudara Dina mewartakan injil di tengah masyarakat. Mereka tidak tinggal di biara, teapi mewartakan injil dari desa ke desa. Bapa Suci tidak mengijinkan. Bila mereka menamakan diri Putri Miskin hendaknya tinggal di biara klausura. Bapa Suci juga melarang agar Tarekat Pria tidak diperkanankan menjadi pembimbing rohani bagi mereka. Karena mereka hendak mewartakan injil mengikuti Tarekat Pria. Inilah alasan Santo Fransiskus melarang Para Saudara Dina untuk tidak diperkenankan menjadi pembimbing rohani bagi Para Putri Miskin (kecuali di biara San Damiano). Kekhasan cara hidup Santa Klara dan Para Suster San Damiano merasa terancam karena mereka harus hidup mengikuti Anggaran Dasar yang ditulis Bapa Suci Gregorius ke 9. Walaupun Santa Klara telah meminta previlege kemiskinan. Tetapi mereka tak diperkenankan memohon lebih dari itu.

Waktu Bapa Suci Gregorius ke 9 wafat, dipilihlah Bapa Suci Innocentius ke 4. Bapa Suci berhati lembut terhadap Santa Klara dan Para Suster San Damiano dengan mengijinkan mereka mengikuti Anggaran Dasar yang ditulis oleh Santo Fransiskus dalam 3 hal:

  1. Ketaatan kepada Pimpinan Fransiskan.
  2. Previlege kemiskinan, untuk tidak memiliki suatu milik.
  3. Menjanjikan kemurnian sebagaimana Santo Fransiskus ajarkan, dengan tinggal di biara sepanjang hidup (selaras dengan kehendak Bapa Suci, agar tak ada para Putri Miskin yang ambil bagian dalam pewartaan injil di luar biara).

Inilah Anggaran Dasar yang ditulis oleh Bapa Suci Innocentius ke 4 pada tahun 1247. Walaupun Anggaran Dasar tersebut mengandung dasariah semangat hidup Santo Fransiskus, tetapi Santa Klara merasa tidak puas dengan Anggaran Dasar tersebut. Walaupun Anggaran Dasar tersebut menekankan semangat meninggalkan segalanya supaya menghayati hidup kemiskinan, tetapi masih juga mengijinkan kepemilikan sebidang tanah untuk jaminan hidup. Hasil bumi menjadi jaminan hidup. Di samping itu, agar para suster bebas dari urusan sebidang tanah dan hasil bmi, diharuskan memiliki para ahli yang mengurus kepemiliikan tanah dan hasil bumi. Sehingga Santa Klara merasa berat hati untuk menerima Anggaran dasar tersebut. Terutama ia menyadari bahwa dengan menerima Anggaran Dasar tersebut previlege kemiskinan menjadi tak berarti lagi.

Akhirnya Santa Klara menulis sendiri Anggaran Dasar baru.[xi] Ia merangkum berbagai sumber dasariah untuk dipadukan menjadi Anggaran Dasar Sanata Klara:

  1. Anggaran Dasar Santo Fransiskus baik Anggaran Dasar dengn Bulla yang disyahkan olah Bapa Suci maupaun Anggaran Dasar Tana Bulla yang mengandung nilai dasar semangat hidup Fransiskan.
  2. Anggaran Dasar Kardinal Hugolino,[xii] yang kiranya selaras dengan semangat hidup para anggota biara San Damiano dan yang mendukung perkembangan hidup persaudaraan biara San Damiano.
  3. Anggaran Dasar Santo Benediktus yang Bapa Suci Innocentius ke 4 pernah angkat untuk menjadi pedoman hidup biara San Damiano.

Inti dasariah Anggaran Dasar Santa Klara yang sungguh mengungkapkan bobot tulisan, karena Santa Klara sendiri telah menjalani hidup sebagaimana ia tulis menjadi Anggaran Dasar Santa Klara. Santo Fransiskus juga memiliki pengalaman hidup yang begitu penuh dedekasi, tetapi ia tidak memiliki penglaman hidup di biara tertutup sebagaimana dijalani oleh Santa Klara. Santa Klara semacam merangkum pengalaman hidup nyata sebagaimana ia jalani. Dan dengan mengambil referensi Anggaran Benediktus dan Agustinus, ia pun menjadi bijaksana, karena ia tidak menyimpang dari pedoman dasar hidup membiara sejati. Barang siapa menyempatkan diri untuk membandingkan Anggaran Dasar Hugolino dan Anggaran Dasar Santa Klara memahami perbedaan jelas. Kardinal Hugolino yang tidak mengalami hidup di biara, kiranya memaksakan pedoman hidup bagi orang lain, yang dalam berbagai hal tak bisa dilakukan. Sedangkan Santa Klara yang menjalani hidup di biara, merangkum pengalaman hidup menjadi Anggaran Dasar.

Santa Klara lebih realistis, sebagaimana terungkap:

Dalam Anggaran Dasar Kardinal Hugolino dikatakan, “Barangsiapa telah memasuki biara, ia hendaknya tinggal di biara sampai mati. Jenazahnya pun hendaknya dimakamkan di kuburan biara. Kecuali bila biara membuka biara baru di tempat lain”. Tetapi dalam Anggaran Dasar Santa Klara diungkapkan, “Barangsiapa telah memasuki biara, ia hendaknya tinggal tetap di biara, kecuali terdapat alasan yang masuk akan dan jelas serta niat suci”[xiii]

Demikian juga dalam Anggaran Kardianal Hugolino diungkapkan, “Suster hendaknya menjaga keheningan selalu. Ia tidak boleh berbicara, kecuali mendapat injin dari pimpinan”. Dalam Anggaran Dasar Santa Klara dikatakan, “Para Suster diharapkan menjaga keheningan mulai dari setelah doa malam hingga doa siang, kecali para Suster yang melayani di luar biara. Yang lain hendaknya menjaga keheningan selalu, baik di kapel, di koridor, di kamar tidur, di kamar makan, khusnya waktu makan, kecuali di kamar sakit. Di kamar sakit para suster boleh berbicara seperlunya supaya menghibur dan melayani saudari yang sakit. Bagaimana pun di mana pun para suster boleh bicara, bicara singkat dan pelan-pelan”.[xiv]

Kiranya kita perlu menyadari bahwa pada waktu Santa Klara menulis Anggaran Dasar, terdapat anggota biara 50 orang. Wajarlah para suster saling menegur, karena mereka tinggal bersama di satu ruangan. Siapa bisa membisu, kecuali mereka yang sungguh-sungguh mengekang diri. Santa Klara sendiri memperbolehkan berbicara pada waktu malam, terutama bila terdapat saudari yang sakit. Nampaknya begitu sederhana menyinggung tentang masalah bicara. Tetapi pada dasarnya amatlah penting. Melalui penghayatan keheningan, terungkaplah dasariah semangat hidup sejati, menghayati kehadiran Tuhan. Santa Klara juga mengajurkan “boleh bicara singkat dan pelan”, bila perlu. Santa Klara memahami pentingnya menjaga keheningan dan permenungan pribadi. Ia tidak melarang, sebagaimana diungkapkan oleh Kardinal Hugolino, “tidak boleh berbicara untuk menjaga ketertiban”. Santa Klara menghormati suara batin para suster. Karena ia tahu bahwa para suster datang di biara dengan sukarela, cukuplah dinasihati dan tidak perlulah dipaksa.

Anggaran Dasar Santa Klara mendapat pengesahan hanya 2 hari sebelum Santa Klara wafat. Bapa Suci Innocentius ke 4 datang mengunjungi Assisi. Beliau mengetahuni bahwa Santa Klara sedang sakit keras. Dan Bapa Suci tahu benar bahwa Santa Klara sungguh kudus. Anugerah disyahkannya Anggaran Dasar kiranya menjadi penghiburan dan keteguhan batin Santa Klara. Karena ia telah menjalani yang ditulisnya dalam Anggaran Dasar. Ia menjadi wanita pertama yang menulis Anggran Dasar yang disyahkan Bapa Suci, yang biasa mengesahkan Anggaran Dasar dari Religius Pria atau Seorang ahli hukum atau pun seorang spiritualis.

Waktu Santa Klara menulis Anggaran Dasar, ia ingat siapa? Tentunya ia ingat para suster di biara San Damiano dan biara Firenze dan biara Praga serta biara lain. Setiap kali seorang imam pembimbing rohani dari Praga datang ke Assisi, tentunya ia pun singgah di biara San Damiano untuk mendapatkan dokumen-dokument penting yang menyangkut semangat hidup membiara termasuk juga Anggaran Dasar San Damiano. Pedoman hidup yang diperoleh dari Biara San Damiano dilaksanakan juga oleh Suster Agnes di biara Praga. Pada dasarnya Anggaran Dasar San Damiano menurut hukum hanya diperboleh dijalankan di Biara San Damiano saja. Sementara biara lain tetap berpegang pada Anggaran Dasar yang ditulis oleh Kardinal Hugulino. Tetapi Suster Agnes dari Praga cukup bijaksana, ia memperoleh dokumen dari Biara San Damiano dan melaksanakannya di biaranya sendiri, walaupun tidak mendapat ijin dari pimpinan Gereja secara syah.

Tentu saja Bapa Suci Urbanus ke 4-lah yang harus menghadapi permasalahan. Karena di biara San Damiano terdapat banyak Anggaran Dasar. Sehingga Bapa Suci menulis Anggaran Dasar baru dan mewajibkan agar semua biara menggunakan Anggaran Dasar yang satu dan sama. Dan beliau pun menetapkan nama biara San Damiano menjadi “Biara Santa Klara”. Karena Santa Klara telah meninggal dan ditetapkan menjadi orang kudus. Dalam Anggaran Dasar tersebut mengambil Anggaran Dasar Kardinal Hugolino dan Anggaran Innocentius ke 4 sebagai pedoman dasar dengan tidak menggunakan Anggaran Dasar Santa Klara sama sekali. Anggaran Dasar tersebut diawali dengan kata-kata, “Semua orang yang telah meninggalkan dunia dan memasuki tarekat ini hendaknya menjalani hidup ketaatan tidak memiliki hak pribadi, hidup dalam kesucian dan dalam klausura”. Anggaran Dasar tersebut tak menyebut nama Santa Klara dan Santo Fransiskus sama sekali. Dan tidak menyebut Anggaran Dasar yang ditulis oleh Santa Klara juga. Walaupun dalam Anggaran Dasar Urbanus ke 4 tersebut terkandung dengan jelas berasal dari Anggaran Dasar Santa Klara, yaitu pimpinan hendaknya mendengar semua suster anggota biara sebelum menerima anggota baru. Hal tersebut tak terungkap dalam Anggaran Dasara Kardinal Hugolino dan Anggaran Dasar Innocentius ke 4.

Penulis menanyakan, “Bila kita merenungkan perkembangan Anggaran Dasar Tarekat Santa Klara yang ditulis oleh Kardinal Hugolino, mengingat penulis tidak menyebut nama San Damiano, kita bisa bertanya, “Siapa pendidri Tarekat Santa Klara?” Bila kita membaca Anggaran Dasar yang ditulis Santa Klara, terungkap dengan jelas, “Pedoman hidup Para Putri Miskin yang didirikan oleh Santo Fransiskus menjanjikan hidup menurut Injil Suci Tuhan kita Yesus Kristus. Dengan menjalani hidup ketaatan, tidak memili hak milik, dan dalam kemurnian”.[xv] Santa Klara sendiri mengatakan dengan tegas bahwa Santo Fransiskus lah pendiri Tarekat Santa Klara.

Waktu Bapa Suci Gregorius ke 9 menulis surat kepada Agnes dari Praga pada tahun 1238, mengungkapkan bahwa Santo Fransiskus menuai hasil berlimpah dengan mendirikan 3 Tarekat: Tarekat Para Saudara Dina, Tarekat Putri Miskin dan Tarekat Sekular, yang pada awalnya disebut “Tarekat Para Pentobat”. Inilah dokumen Gereja yang mengatakan bahwa Santo Fransiskuslah pendiri Tarekat.

Banyak orang heran, Kardinal Hugolino yang menjadi Paus Gregorius ke 9, yang menulis Anggaran Dasar pertama, tetapi menyebut bahwa Santo Fransiskuslah pendiri Tarekat. Dan bukanlah Bapa Suci sendiri sebagai pendiri Tarekat. Pada dasarnya Para Suster San Damiano menjalani hidup menurut Anggaran Dasar yang ditulis Kardinal Hugolono, sebelum menjadi Paus Gregorius ke 9. Bapa Suci mempersatukan semua kelompok Para Putri Saleh menjadi satu dengan mengikuti satu Anggaran Dasar. Beliau juga menetapkan dan memelihara dan memaksa para suster untuk melakukan Anggaran Dasar tersebut dalam hidup membiara. Bapa suci dalam menyebut bahwa Tarekat didirikan oleh Santo Fransiskus juga mendapat suatu keuntungan yaitu mereka hidup menurut Anggaran Dasar yang ditulis oleh Bapa Suci sendiri. Sepertinya Anggaran Dasar yang Bapa Suci tulis tersebut selaras dengan semangat hidup Santo Fransiskus dan Santa Klara. Apalagi Santo Fransiskus telah dikanonisasi dan dipuji banyak orang sebagai Santo yang sungguh terhormat.

Dalam Anggaran dasar Santa Klara yang ditulis pada tahu 1253 diungkapkan bahwa Santo Fransiskuslah pendiri Tarekat Santa Klara. Semua orang memuji Santo Fransiskus merupakan Santo yang terhormat. Tetapi sesungguhnya Santa Klara sendirilah pendiri Tarekat Santa Klara dan juga Kardinal Hugolino serta Bapa Suci Innocentius ke 4 dan akhirnya Bapa Suci Urbanus ke 4. Karena itu pada dasarnya pendiri Tareka Santa Klara adalah Santa Klara dan Kardinal Hugolino.

Bila kita mendalami riwayat hidup Santa Klara selanjutnya, Bapa Suci Urbanus ke 4 pun menulis Anggaran Dasar bagi para Suster Klaris hingga kini. Hanya sedikit kelompok yang masih memelihara semangat hidup Santa Klara. Syukur kepada Allah bahwa Konsili Vatikan kedua mengajak semua Tarekat untuk kembali kepada semangat pendiri untuk membaharui semangat hidup. Sehingga kita semakin memahami semangat hidup pendiri dan mewarisi kebebasan sepenuhnya dalam membaktikan hidup.

——————————————————–

[i] Secara resmi para Biarawati pada waktu itu berada di bawah asuhan Biara Benediktin atau Agustin.

[ii] Kiranya Bapak Uskup Guido juga setuju.

[iii] Leg. C. 27: FF 3208.

[iv] Semua Tarekat Para Suster, tak hanya Para Suster San Damiano.

[v] Leg. Cl. 14 : FF 3187.

[vi] Pada waktu itu Tarekat yang Bapa Suci dirikan bernama “Tarekat Para Putri Miskin dari Lembah Spoleto dan Provinsi Toscana”.

[vii] Walaupun pedoman hidup yang ditulis Santo Fransiskus begitu pendek, tapi semangat hidup kemiskinan begitu jelas.

[viii] Santo Fransiskus sedang dalam perjalanan menuju ke Roma.

[ix] Mereka hanya mengenakan pakaian dan tali pinggang saja.

[x] Mereka menulis Anggaran Dasar dan Uskup mengesahkan.

[xi] Santa Klara menjadi wanita pertama yang menulis Anggaran Dasar bagi tarekat.

[xii] Anggaran Dasar Hulolino menggabungkan Anggaran Dasar Benediktus dan Agustinus.

[xiii] Reg. Cl. 2,13: FF 2759.

[xiv] Reg. Cl. 5,1-4: Ff 2783. Boleh bicara bila perlu.

[xv] Reg. Cl. 1,1-2: FF 2750.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *