Klara – Wanita dalam Keheningan dan Kenangan (Bagian 7)

31/10/2014
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 520 kali

BAB 8. MASALAH DASAR LAHIRNYA ORDO SANTA KLARA

stfrancis_and_clareSecara psikologis, “Setiap orang memiliki sikap kepriaan dan kewanitaan. Seorang pria memiliki sikap kepriaan jauh lebih maskulin dan kental daripada seorang wanita. Dan seorang wanita memiliki sifat kewanitaan jauh lebih feminin daripada seorang pria”. Relasi persahabatan antara Santo Fransiskus dan Santa Klara meningkatkan kedua sifat tersebut. Santo Fransiskus mewarisi sikap kewanitaan dari kelemah-lembutan Santa Klara. Kepriaan Santa Klara diperteguh melalui persahabatan dengan Santo Fransiskus. Bahkan kelemah-lembutan Santa Klara pun semakin ditingkatkan melalui persahabatan tersebut. Demikian juga sifat kepriaan Fransiskus semakin diperteguh melalui persahabatan dengan Santa Klara.

Dari berbagai tulisan, misalnya tulisan Celano, kita bisa mengamati bahwa Celano mengungkapkan semangat hidup Santo Fransiskus amat sedikit. Sedang dalam tulisan Santa Klara, ia mengungkapkan semangat hidup Santo Fransiskus begitu sering dan mendalam. (Tetapi Santo Fransiskus sendiri dalam tulisannya amat sedikit menyebut semangat hidup Santa Klara). Mengapa terjadi demikian?

Karena Celano menyadari bahwa cara hidup Santa Klara yang tinggal di biara menjadi contoh teladan bagi hidup bhakti pada zaman itu. Sedang hidup apostolik Santo Fransiskus, yang mewartakan injil di tengah masyarkat diangapnya sebagai hal yang biasa.

“Lebih daripada itu, menurut Anggara Dasar Tanpa Bulla, diungkapkan bahwa ‘Semua Saudara, di mana pun mereka berada, ke mana pun mereka pergi, hendaknya tidak memperhatikan atau bertemu dengan seorang wanita mana pun, memberi nasihat atau makan bersama. Dilarang dengan keras tidak boleh menerima seorang wanita menjanjikan ketaatan di hadapan mereka. Tetapi setelah diberi nasihat seperlunya di kamar pengakuan, biarlah ia pergi melakukan pertobatan di tempat yang selaras dengannya”.[i]

Pada awal Santo Fransiskus menuslis Anggaran Dasar bagi para saudara dina, ia tidak bermaksud untuk mendirikan suatu Ordo bagi para wanita. Tetapi bila kita baca tulisan Santa Klara dikatakan:

“Klara, hamba tak berguna Tuhan Yesus Kristus dan tanaman kecil Santo Fransiskus, berjanji bahwa saya akan selalu taat dan hormat kepada Bapa Suci Innocentius dan para penggantinya dan kepada Gereja Roma Katolik. Sejak awal pertobatan, Klara bersama para saudari berjanji akan selalu taat dan hormat kepada Santo Fransiskus dan berjanji taat juga kepada para penggatinya ”.[ii]

Dan Santa Klara mengulangi lagi dalam Anggaran Dasara bab 6, “Setelah Allah Bapa di Sorga menganugerahkan kepadaku, dengan bantuan rahmat ilahi saya mulai melakukan pertobatan, dengan mengikuti teladan dan nasihat Santo Fransiskus, bapa kita. Tidaklah lama setelah pertobatan Santo Fransiskus. Saya bersama dengan para suster berjanji dengan suka rela mau mentaati beliau”.[iii]

Dalam tulisan Santa Klara, terungkap 32 kali menyebut nama Santo Fransiskus. Tetapi dalam tulisan Santo Fransiskus, ia tidak menyebut nama Santa Klara sama sekali. Tentu saja Santa Klara datang belakangan, tetapi ia sungguh-sungguh mau mengikuti hidup Santo Fransiskus. Waktu mereka bertemu muka, Santo Fransiskus tentunya amat terkesan tetapi ia tidak mengungkapkannya seacara langsung.[iv] Mereka bersahabat satu sama lain. Sehingga Santa Klara menyebut dirinya “Tanaman kecil Santo Fransiskus”. Apa artinya? Orang Eropa pun terkejut mendengar ungkapan tersebut. Orang yang memandang Santo Fransiskus sama halnya memandang Tuhan Yesus Kristus. Artinya, ia hidup seperti Tuhan Yesus dalam hal hidup sederhana dan mencintai semua orang. Kiranya Santa Klara terkesan semangat hidup Santo Fransiskus. Tetapi rasa terskesan yang begitu berbeda. Karena Santo Fransiskus menjalani hidup religius secara ketat sebelum bertemu Santa Klara. Sedang Santa Klara merasa terpanggil setelah menyaksikan dan bertemu dengan Santo Fransiskus. Pershabatan khusus. Keduanya saling berpengaruh.

Hidup Santo Fransiskus amat berpengaruh terhadap hidup religius Santa Klara dan para suster. Tetapi tidak berarti bahwa Santo Fransiskus tidak mendapat pengaruh dari cara hidup Santa Klara dan para suster. Santo Bonaventura mengungkapkan hal tersebut dalam Legenda Maior sebagai berikut:

“Santo Fransiskus berkata kepada para Saudara, ‘Para Saudara, berilah pendapat, manakah kiranya lebih baik bagi kita, apakah kita akan membaktikan hidup doa atau kesaksian hidup pewartaan di tengah masyarkat?”[v] Para Saudara pun tidak tahu, manakah kiranya lebih baik, menjalani hidup doa atau pewartaan. Mereka bertukar pendapat selama beberapa hari. Tetapi mereka pun belum bisa memutuskan manakah yang terbaik untuk dihayati secara tepat dan berkenan kepada Allah. Santo Fransiskus segera mengutus dua saudara. Seorang Saudara diminta pergi kepada Saudara Silvester[vi], agar ia berdoa kepada Allah untuk menunjukkan jalan terbaik, manakah jalan yang hendaknya ditempuh. Dan Santo Fransiskus pun meminta agar segera mendapat berita tentang masalah tersebut. (Saudara Silvester-lah yang telah melihat salib besar keluar dari mulut Santo Fransiskus. Ia tekun berdoa dan berpuasa di gunung Subasio, Assisi). Seorang Saudara lagi diminta pergi kepada Santa Klara untuk menanyakan kepadanya kehendak Allah tentang hal tersebut. Santo Fransiskus mendapat jawaban yang sama dari keduanya, baik dari Saudara Silvester maupun dari Santa Klara. Kehendak Allah bagi Santo Fransiskus dan para Saudara hendaknya menjalani hidup pewartaan di tengah masyarakat.”[vii]

Santo Fransiskus merasa bimbang, manakah yang lebih baik dan berkenan kepada Allah, untuk hidup doa atau pewartaan. Setelah Saudara Silvester dan Santa Klara berdoa, mereka menasihati agar Santo Fransiskus dan Para Saudara memmbaktikan hidup pewartaan. Santo Fransiskus memahami bahwa baik Saudara Silvester maupun Santa Klara menyampaikan kehendak Allah yang hendaknya dilakukan. Aneh tetap nyata! Orang yang membaktikan hidup dalam doa menasihati sesama untuk hidup pewartaan. Tetapi bagi dirinya sendiri, ingin membaktikan diri dalam hidup doa. Tetapi tidak semua orang dipanggil untuk membaktikan hidup dalam doa. Masing-masing orang dipanggil selaras dengan kehendak Allah. Allah menghendaki agar Santo Fransiskus membaktikan hidup pewartaan.

Informasi tersebut kapan didapat, sebelum atau sesudah wafat Santa Klara. Kita tahu bahwa Santa Klara tak butuh promosi. Bahkan di dalam biara sendiri, Santa Klara selalu menyebut nama Santo Fransiskus, dan tidak pernah mempromosikan dirinya sendiri. Ia menyarankan agar Santo Fransiskus dijadikan teladan hidup. Ia sendiri menjadikan Santo Fransiskus sebagai teladan hidupnya. Di samping itu, Santo Fransiskus merasakan kedekatan pershabatan kedua persaudaran. Sehingga ia pun mengutus seseorang untuk mendapat pertimbangan.

Apa maksud pembicaraan tersebut? Kiranya tulisan tersebut mau mengungkapkan kekudusan Santa Klara dan bukan kekudusan Santo Fransiskus. Bila kekudusan Santo Fransiskus mau ditonjolkan, kiranya akan berbicara tentang Santo Fransiskus melaksanakan kehendak Allah. Waktu Santo Fransiskus belum memahami kehendak Allah secara jelas, ia pun merendahkan diri dengan meminta nasihat dari Saudara Silvester dan Santa Klara.

Kiranya Santo Bonaventura tidaklah mengarang cerita tersebut, tak ada alasan. Cerita tersebut berasal dari mana? Kiranya cerita tersebut berasal dari para saudara yang Santo Fransiskus utus untuk menanyakan kepada Saudara Silvester dan Santa Klara. Kiranya Saudara Leone menceritakan hal tersebut kepada Santo Bonaventura. Santo Bonaventura tidak mengenal Santa Klara secara langsung, mau mengungkapkan bahwa Santa Klara dirasakan sebagai orang begitu penting bagi Santo Fransiskus, sehingga dimintai nasihat.

Santo Bonaventura menulis Legenda Major 10 tahun setelah Santa Klara wafat. Tulisan tersebut diawali dengan Santa Klara memberi nasihat kepada Santo Fransiskus dalam hal tertentu. Dan sungguh Santa Klara menjadi penasihat rohani sejati. Santa Klara sering kali menyebut pengaruh semangat hidup Santo Fransiskus dalam perjalanan hidupnya dan para Suster. Terdapat bukti yang tak ditulis oleh Thomas Celano, tetapi saksi mata Suster Fillipa mengungkapkan kesaksiannya.

“Ia memberi kesaksian bahwa suatu saat Bunda Klara meyaksikan suatu penglihatan bahwa dirinya membawa tempat cuci tangan[viii] dan kain lap tangan agar Santo Fransiskus mencuci tangan. Ia menaiki tangga yang amat tinggi, tetapi Santa Klara lari cepat menaiki tangga tersebut dengan tidak merasa lelah sama sekali. Di puncak tangga tersebut Santo Fransiskus menarik buah dadanya sendiri untuk diberikan kepada Santa Klara untuk diisap[ix] dan berkata kepada Santa Klara, “Ambil dan minumlah”. Setelah Santa Klara meminumnya, Santo Fransiskus pun meminta agar Santa Klara meminum lagi. Santa Klara merasakan suatu kenikmatan yang tak bisa diungkapkan. Santa Klara merasakan bahwa terdapat sesuatu yang amat bernilai tetap tertinggal selamanya di mulutnya[x].

Thomas dari Celano tidak mau mengungkapkan cerita tersebut dalam kisah Santa Klara. Tetap Santa Klara kiranya menceritakan hal tersebut kepada para Suster dengan tidak merasa malu, karena cerita tersebut merupakan perlambang hidup rohani yang begitu mendalam.

Suster Ammata pun sebagai saksi mata mengungkapkan tentang, “Mukjijad yang terjadi melalui bunda Klara dan penglihatan tentang buah dada Santo Fransiskus serta mukjijad hari raya Natal sebagaimana Suster Fillipa telah sampaikan”.[xi]

Pada masa itu bila seorang Suster atau pimpinan biara tidak memiliki suatu bahan renungan untuk disampaikan untuk pembinaan, ia pun bisa memanfaatkan suatu penglihatan atau permenungan sebagai bahan pembinaan. Santa Klara memanfaatkan penglihatan tersebut sebagai bahan pembinaan.

Dalam cerita penglihatan tersebut, “Santo Fransiskus berada di puncak tangga”, kiranya mengandung arti bahwa ia telah meninggal dan menjadi orang terhormat serta kudus. Karena Suster Ammata memasuki biara pada thun 1228, setelah Santo Fransiskus wafat (1226) dan telah mendapat kanonisasi. Artinya waktu Santa Klara mengalami penglihatan tersebut, Santo Fransiskus telah menjadi Santo. Penglihatan tersebut merupakan penghiburan rohani, artinya Santa Klara tetap berpegang teguh pada semangat hidup Santo Fransiskus, khususnya semangat kemiskinan dan persahabatan dengan persaudaraan Para Saudara Dina. Pada waktu itu sedang terjadi krisis dalam persaudaraan. Tentu kita ingat juga bahwa Santo Fransiskus pernah berjanji bahwa Ia akan selalu memelihara Para Suster. Tetapi waktu Santo Fransiskus wafat, Persaudaraan Para Saudara Dina mengalami krisis berat. Timbul pertanyaan, “Siapakah yang hendaknya memelihara Persaudaraan Para Suster Klaris?” Kiranya penglihatan Santa Klara tersebut mengandung inspirasi bahwa Santa Klara sendirilah yang hendaknya menjadi “Santo Fransiskus baru”, dalam arti Santa Klara sendiri-lah yang harus memelihara para suster, tak lagi mengandalkan para Saudara Dina yang sedang mengalami krisis. Karena Persaudaraan Para Suster Klaris telah terbentuk, walau pun pimpinan Gereja tak begitu menerima “semangat kemiskinan” para Suster San Damiano, sebagaimana Santo Fransiskus nasihatkan.

Dalam Wasiat, Santa Klara mengungkapkan bahwa Santo Fransiskus merupakan batu penjuru persaudaraan. Ia menjadi alat Allah untuk menuntun, menasihati dan memberi penghiburan kepada seluruh anggota persaudaraan. Secara alami tentulah terjadi demikian adanya, pimpinan bertindak sebagai kepala keluarga yang memelihara anak-anaknya, memberikan bimbingan, nasihat dan dorongan batin agar sanggup mengatasi segala krisis hidup persaudaraan.

Dalam penglihatan tersebut diungkapkan, Santa Klara membawa “tempat air cuci tangan, kain lap tangan, dan lari dengan cepat mendaki tangga”. Itulah cara hidup Santa Klara setiap hari, yaitu meinmba air dan mengangkat air melalui tangga. Kerja demikian kiranya bukanlah kerja fisik sederhana, tetap kerja berat. Tetapi bagi Santa Klara kerja seperti itu tidaklah berat, karena dijalankan dengan suka rela dan penuh bahagia. Karena ia sedang menjalani semangat hidup sebagaimana diajarkan oleh Santo Fransiskus. Sehingga Santa Klara bekerja dengan riang gembira karena Santo Fransiskus sedang menunggu di puncak tangga kehidupan. Penglihatan mistik, Santo Fransiskus dibandingkan dengan seorang ibu yang menysui anaknya, memberikan santapan rohani.

Dengan demikian, Santa Klara kiranya menjadi Santo Fransiskus baru yang tidak perlu lagi tergantung kepada siapa pun, kecuali kepada semangat hidup Santo Fransiskus. Karena pada saat ini Santa Klara sendirilah yang menjadi pegangan utama. Inilah alasan mengapa Suster Filippa dan Suster Ammata menceritakan penglihatan Santa Klara tersebut. Penglihatan Santa Klara tersebut merupakan keajaiban dalam hidup sehari-hari. Santa Klara sendiri menceritakan penglihatan tersebut kepada para Suster agar mereka pun memahami bahwa Santa Klara pada saat itu menjadi pegangan utama, mewakili Santo Fransiskus dalam usaha memelihara persaudaraan Para Suster San Damiano. Sehingga persahabatan rohani sejati antara Santo Fransiskus dan Santa Klara semakin menjadi kenyataan, justru setelah wafat Santo Fransiskus, terutama dalam memelihara semangat hidup Santo Fransiskus. Dan kata-kata Santa Klara yang terungkap dalam Anggaran Dasar pun menjadi semakin tegas, “Klara hamba yang tak berguna dari Tuhan Yesus Kristus dan tanaman kecil Santo Fransiskus”[xii]. Santa Klara menerima dirinya sebagai tanaman kecil Santo Fransiskus. Setelah Santo Fransiskus wafat, Santa Klaralah yang memelihara semangat hidup Santo Fransiskus. Santa Klara membaktikan hidup dalam usaha memelihara semangat hidup Santo Fransiskus amat lama, mengingat bahwa Santo Fransiskus wafat pada tahun 1226 dan Santa Klara wafat pada tahun 1256. Selama 27 tahun Santa Klara berjuang memelihara semangat hidup Santo Fransiskus. Selama jangka waktu tersebut Santa Klara sungguh memelihara semangat dan cita-cita Santo Fransiskus melalui perjalanan hidupnya.

Selama 27 tahun Persaudaraan Fransiskan berada dalam krisis. Karena Bapa Suci menetapkan Santo Fransiskus menjadi orang kudus hanya dalam waktu 2 tahun setelah wafat. Di samping itu Bapa Suci membangun Basilika Santo Fransiskus untuk membaringkan jenazah Santo Fransiskus di kota Assisi. Untuk membangun Basilika tentunya butuh biaya amat besar. Persaudaraan Fransiskan yang menjanjikan kemiskinan terpaksa harus mencari dana untuk membantu membangun basilika. Sehingga para pimpinan persaudaran harus sibuk mencari dana. Di samping itu terjadi krisis pimpinan persaudaraan juga.

Waktu Santo Fransiskus masih hidup, wakil pimpinan adalah Saudara Elias. Setelah Santo Fransiskus wafat, pada kapitel persaudaraan Saudara Elias tidak terpilih lagi menjadi pimpinan persaudaraan. Setelah 5 tahun berlalu, Saudara Elias terpilih lagi menjadi pimpinan persaudaraan. Setalah 6 tahun, ia pun diturunkan dari tugas pimpinan di hadapan Bapa Suci.[xiii] Pada waktu itu sungguh terjadi puncak krisis Persaudaraan Fransiskan. Orang yang sungguh memelihara semangat hidup Santo Fransiskus adalah Santa Klara dan Para Suster San Damiano.

Santa Klara sendiri menghadapi perjuangan keras terutama menghadapi kebijaksanaan Bapak Kardinal dan Bapa Suci, yang mau menggabungkan Semua Persaudaraan Putri Saleh dengan Biara San Damiano menjadi Satu Persaudaraan. Tetapi kebijaksanaan tersebut tidklah selaras dengan hidup dan cita-cita Santo Fransiskus, sebagaimana dinasihatkan kepada Santa Klara. Santa Klara harus berjuang keras untuk mewujudkan dan memelihara cita-cita Santo Fransiskus secara murni. Sementara Santa Klara sendiri tak mungkin meminta nasiha kepada Para Saudara Fransiskan, karena mereka sedang menghadapi krisis persaudaraan. Bagaimana pun juga Santa Klara tetapi bertekun dan berjuang seorang diri selama 27 tahun.

Persaudaraan Fransiskan harus sanggup mengatasi krisis persaudaraan. Karena Santo Fransiskus sendiri telah membangun Persaudaraan dengan dasar yang kuat, semangat injil. Waktu jumlah persaudaraan hanya sedikit, tak perlulah terjadi suatu kelekatan. Tetapi waktu persaudaraan berkembang dalam jumlah banyak, terpaksa harus terjadi suatu perubahan. Misalnya, pembinaan novis butuh novisiat, tenaga pendidik dan biaya pendidikan. Persaudaraan Fransiskan sendiri, sebagai organisasi butuh Anggaran Dasar dan Pedoman-Pedoman Pendidikan.

Pada masa itu Santa Klaralah yang menjadi saksi utama semangat hidup Santo Fransiskus. Sekurang-kurangnya Santa Klara dan Para Suster San Damiano sungguh mewarisi dan memelihara semangat hidup Santo Fransiskus sejati. Di samping itu saudara Leone dan saudara Angelo serta para saudara awal Santo Fransiskus tentunya masih berpegang pada semangat hidup Santo Fransiskus. Demikian juga Saudara Elias, yang walaupun sibuk dengan mencari dana pembangunan basilika, tetapi sebagai Saudara awal tentu juga tetap berpegang pada semangat hidup Santo Fransiskus.

Terdapatlah sumber tulisan yang kiranya tak dirangkum oleh para penulis awal. “Suatu hari terdapatlah seorang imam yang memberi pembinaan di Biara San Damiano (Santa Klara mengundang orang ahli spiritual untuk datang memberi pembinaan). Dan kiranya hadir juga para Saudara Dina, Saudara Egidius, orang yang lugu. Waktu ia mendengar istilah-istilah yang sulit-sulit dia pun berpikir, barangkali pendengar tidak paham. Ia pun meminta agar pembicara berhenti bicara. Imam tersebut sabar dan berhenti berbicara. Saudara Egidius menjelaskan dengan istilah sederhana. Selanjutnya pembicara melanjutkan. Santa Klara sendiri berkomentar, “Waktu mendengar kata-kata Saudara Egidius, sepertinya mendengar kata-kata Santo Fransiskus sendiri”. Karena Saudara Egidius berbicara dengan bahasa sederhana. Santa Klara selalu teringat Santo Fransiskus. Bila ia menyaksikan hal-hal yang sederhana, ia pun teringat Santo Fransiskus. Walaupun Santo Fransiskus telah wafat sekian lama. Saudara Egidius kiranya sering pergi ke Biara San Damiano. Biar pun Santa Klara bukan pengkhotbah, tetapi ia pun begitu peka terhadap semangat hidup dan cita-cita Santo Fransiskus.

Kita ketahui juga bahwa pada tahun 1244-1246 diadakan kapitel besar di Genova. Pada waktu peringatan meninggalnya Santo Fransiskus pada tanggal 4 Oktober, Minister General Crescenzio mengumumkan agar semua Saudara yang mengenal Santo Fransiskus hendaknya membagikan pengalaman secara tertulis untuk dikumpulkan ke sekretariat provinsi masing-masing. Tulisan tersebut diharapkan dapat menjadi sumber dasar semangat hidup Fransiskus. Karena pada waktu itu hanya terdapat satu tuliasan yang disiapkan oleh Thomas dari Celano, dalam proses kanonisasi Santo Fransiskus. Kiranya Santa Klara pun menulis pengalaman pershabatanya dengan Santo Fransiskus. Karena Santa Klara sendiri juga berjuang mengingat kembali nasihat-nasihat Santo Fransiskus dalam usaha membina para Suster San Damiano, setelah Santo Fransiskus wafat. Santa Klara kiranya mengirim tulisan tersebut kepada Thomas dari Celano. Thomas merangkum tulisan-tulisan tersebut menjadi buku kedua Celano. Sisanya yang tidak dirangkum, kiranya sebagian dipakai oleh Santo Bonaventura. Para Saudara lain kiranya juga menggunakan sumber-sumber tersebut untuk menulis kisah Santo Fransiskus juga. Saat itulah saat yang penting dalam penulisan riwayat hidup Santo Fransiskus, karena banyak saksi mata masih hidup dan berbagi pengalaman seacara tertulis.

Saudara Leone, Saudara Rufino dan Saudara Angelo kiranya juga berbagi pengalaman secara tertulis. Di samping itu terdapat 3 Saudara yang tinggal di tempat terpencil, di kota Grecio mencatatat pada panggal 11 Agustus 1246 dan ketiga Saudara tersebut juga mendengar kesaksian Saudara Filippo, Saudara Illuminato dan Saudara Masseo. Saudara Iovanni juga mendengar kesaksian Saudara Egidio, dan Saudara Bernardo. Artinya, kisah Santo Fransiskus begitu legnkap, karena mendapat bantuan dari berbagai pihak yang langsung berhubungan dengan Santo Fransiskus.

Santa Klara sendiri kiranya memberikan kesaksian juga, walaupun namanya tak disebut secara langsung. Tanpa sumbangan kesaksian dari Santa Klara, kiranya buku Celano Kedua tidaklah lengakap. Terdapat dua hal yang kiranya berasal dari Santa klara:

  1. Santo Fransiskus berdoa di depan Salib di biara San Damiano dan Tuhan Yesus berbicara kepada Santo Fransiskus.
  2. Waktu Santo Fransiskus sedang memperbaiki gereja San Damiano, ia pun menubuatkan bahwa kelompok Para Putri Miskin akan menempati gereja tersebut.

Di samping itu, sumber penulisan kiranya berasal dari Santa Klara. Setelah Santo Fransiskus berhasil menyelesaikan Gereja San Damiano, ia pun ingin agar pelita gereja San Damiano tetap menyala. Tetapi sebagai orang miskin, ia tidak ada uang untuk membeli minyak. Ia pun pegi meminta-minta. Kisah Ketiga Sahabat memberikan kesaksian. “Santo Fransiskus begitu bahagia menyaksikan segala ciptaan. Ia membaktikan seluruh dirinya. Setelah pamit Bapa Uskup, ia kembali ke biara San Damiano dengan penuh bahagia. Ia memilih pakaian seragam sebagaimana biarawan padang gurun,[xiv] untuk dirinya sendiri. Ia menghibur imam di Gereja San Damiano dengan kata-kata yang ia dengar dari Bapak Uskup… Ia berkeliling salmbil bernyanyi memuji Allah dengan penuh bahagia. Ia meminta-minta batako untuk membangun Gereja San Damiano. Ia mengajak masyarakat untuk menyumbang dengan mengatakan, “Barangsiapa menyumbang satu batako akan mendapat satu berkat. Barangsiapa menyumbang dua batako, ia akan mendapat dua berkat. Barangsiapa menyumbang tiga batako juga akan mendapatkan berkat berlimpah”. Karena kasih terhadap Allah, Santo Fransiskus menghibur masyarakat dengan kata-kata sederhana yang keluar dari hati. Ia tidak pernah menggunakan bahasa yang berasal dari dunia pendidikan. Banyak orang menertawakan dia. Bahkan ada orang yang menganggap dia sebagai orang tidak waras. Tetapi banyak orang merasa kasihan, hingga menitikkan air mata. Karena pemuda tersebut pernah menjadi pepimpin remaja penuh sukacita dan kemewahan. Tetapi sekarang telah berubah total, karena kasih kepada Allah. Ia tidak malu dan takut sama sekali, walaupun orang lain memandang rendah. Ia bersyukur kepada Allah selalu”.[xv]

Dalam 2 Celano dikatakan, “Suatu hari waktu Santo Fransiskus sedang mengetuk pintu untuk meminta-minta minyak demi petila Tuhan tetap bernyala, ia sempat mengintip, ternyata rumah teman lama. Ia merasa malu dan membalikkan diri untuk kembali. Kemudian ia sadar dan menegur dirinya sendiri, “Mengapa Saudara menjadi orang pemalu, mengapa tak sanggup mengalahkan rasa malu demi Tuhan Yesus Kristus?” Ia segera kembali ke rumah itu lagi dan mengetuk pintu untuk kedua kalinya untuk minta minyak untuk pelita gereja San Damiano. Kiranya ia berhasil mengalahkan diri. Ia bernyanyi memuji Tuhan dengan bahasa Perancis.”[xvi]

Satu hal lagi, kiranya Santa Klara menulis pengalammya, “Suatu saat ketika Santo Fransiskus mendekati biara San Damiano, Saudara Elias mendesak Santo Fransiskus untuk berbagi pengalaman injili dengan “anak-anak putrinya” (para suster) di biara San Damiano. Setelah ia merasa didesak berkali-kali untuk melakukannya, ia pun bersedia pergi ke biara. Waktu para Suster San Damiano siap mendengar pengarahan dari Santo Fransiskus, mereka tidak hanya ingin mendengar suaranya, tetapi ingin memandang dirinya juga. Santo Fransiskus datang dan mengangkat wajah memandang Salib Tuhan kita Yesus Kristus. Ia berdoa dengan suara lantang. Ia meminta abu dan menaburkannya di seluruh tubuhnya dan sisanya ditaburkan di kepala. Lalu duduk sebentar (mereka menunggu ingin mendengar suaranya). Ia berdiri dan berdoa Mazmur 51 dengan suara lantang. Lau ia pergi meninggalkan mereka. Khotbah selesai”.[xvii]

Dari berbagai pengalaman tersebut, kiranya kita sedikit memahami persahabatan rohani yang begitu mendalam antara Santa Klara dengan Santo Fransiskus. Santo Fransiskus pun menjalin persahabatan rohani yang mendalam juga dengan Santa Klara, walaupun ia tak menyebut namanya secara langsung dan tertulis. Tetapi Santa Klara selalu mengingat baik secara lisan maupun tertulis nilai-nilai persahabatan rohani dengan Santo Fransiskus. Santa Klara selalu mengingat hidup dan nasihat Santo Fransiskus walaupun ia telah wafat sekian lama. Bila kita tidak memiliki sumber dari Santa Klara, kiranya kita pun tak mengenal Santo Fransiskus secara mendalam. Hidup dan tulisan Santa Klara pada dasarnya merupakan sumber spiritualitas Fransiskan.

———————————————————

[i] Rnb 12,1; 4: FF 38.

[ii] Reg. Cl. 1,3-4: FF2751-2752.

[iii] Rec. Cl. 6,1: FF 2787.

[iv] Agar tidak menjadi sandungan bagi Saudara lain.

[v] Kiranya Santo Fransiskus berdoa tetapi belum mendapat inspirasi jelas, sehingga ia bertama kepada para saudara.

[vi] Santo Fransiskus percaya bahwa Saudara Silvester dan Santa Klara berkenan kepada Allah.

[vii] Leg. Mag. 12,1-2: FF 12041205.

[viii] Tempat cuci tangan untuk Santo Fransiskus.

[ix] Seperti seorang ibu memberi minum susu kepada bayinya.

[x] Proc. 3,29: FF 2995.

[xi] Proc. 4, 16: FF 3014.

[xii] Reg. Cl. 1,3: FF 2751.

[xiii] Masalah bertumpuktumpuk: dana basilika, nasalah dimulainya pendidikan persaudaraan, dan pentinya doa. Dalam persaudaraan terjadi kesalah pahaman visi.

[xiv] Pada waktu itu biarawan padang gurun bisa tinggal seorang diri untuk berdoa dan bertapa.

[xv] 3 Comp. 21:FF 1420-1421.

[xvi] 2 Cel 13: FF 599

[xvii] 2 Celano 207: FF 796.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *