Klara – Wanita dalam Keheningan dan Kenangan (Bagian 6)

22/10/2014
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 462 kali

BAB 6. SEMANGAT KEMISKINAN

knotsDalam dekrit Clara Calris Praeclara, kanonisasi Santa Klara diungkapkan, “Santa Klara jatuh cinta dan mengikuti semangat kemiskinan”. Santa Klara memiliki dasar keutamaan dan motivasi murni untuk memiliki semangat kemiskinan sebagai harta mulia. Ia pun amat mencintai dan memeluk semangat kemiskinan dengan setia dan teguh.[i] Dalam Kisah Santa Klara, Celano mengungkapkan tentang kanonisasi Santa Klara:

“Akhirnya Santa Klara mengikat diri dengan semangat kemiskinan suci dengan teguh. Dan menerima semangat kemiskinan suci sebagai sahabat sejati. Ia tidak mau menerima apa pun selain Tuhan kita Yesus Kristus. Ia pun mengajar para putri pengikutnya agar mereka pun tak perlu menghendaki apa pun selain Tuhan Kita Yesus Kristus. Bagi Santa Klara permata termahal adalah kerinduannya terhadap Kerajaan Allah. Ia telah menjual segala-galanya untuk memperoleh Kerajaan Allah. Hatinya tak lagi kawatir akan harta duniawi lagi. Santa Klara mengulang beberapa kali bahwa hidup bhakti mereka kiranya berkenan kepada Allah. Kekayaan sejati mereka adalah kemiskinan suci. Mereka akan setia selamanya. Karena merekalah perlindung yang aman dengan menara penjaga,[ii] yaitu semangat kemiskinan suci. Santa Klara sering mengingatkan agar semua suster menjalani hidup mengikuti kemiskinan Tuhan kita Yesus Kristus. Bunda Maria yang miskin sejati menempatkan Putranya di palungan. Inilah kerinduan hati seperti seseorang merindukan permata indah mulia. Ia menjaga diri agar jiwanya tak tercemar debu duniawi.[iii]

Kita memahami bahwa Santa Klara telah memilih untuk menghayati hidup mengukuti Tuhan kita Yesus Kristus sebagaimana Santo Fransiskus. Ia telah menjual segala miliknya dan membagikan kepada orang miskin. Tindakan tersebut menjadi contoh teladan bagi para suster lain. Ia telah memilih cara hidup dengan penuh kebebasan.

Memilih hidup miskin merupakan hal yang amat penting bagi Santa Klara yang hidup di biara San Damiano. Ia pun begitu prihatin terhadap semua suster dalam biara. Ia mengungkapkan pengalaman hidup dalam tulisannya.

Mengapa semangat kemiskinan merupakan hal yang dasariah bagi Santa Klara?

Sebelum abad ke 13 masyarakat berada dalam keadaan hidup di perkampungan. Pekerjaan utama mereka bertani. Hasil panen tidaklah begitu banyak. Bahkan hasil panen kadang-kadang gagal. Apa lagi pada wakatu itu berada dalam situasi tidak aman karena perang. Tetapi mereka tak kekurangan makanan, tetap cukup persedian makan. Bagi mereka yang sungguh-sungguh tak ada persediaan makanan, mereka pun masih mendapat dari tetangga atau dari sanak keluarga. Walaupun mereka akan mendapat perlakuan sebagai orang hina.

Pada awal abad ke 13 terjadilah urbanisasi besar-besaran. Akibatnya di kota menjadi padat dan hidup mereka menjadi tak saling mengenal. Timbullah banyak orang miskin di kota. Orang-orang kota pun tak peduli terhadap orang miskin. Orang miskin menjadi sumber masalah, tak lagi seperti sebelumnya. Para petugas pemerintah pun tak sanggup memperhatikan mereka secara keseluruhan. Perlulah relawan untuk membantu memperhatikan mereka.

Masalah kemiskinan masyarakat pun menjadi masalah Gereja. Tetapi para petugas Gereja pun tidak begitu mengenal masalah kemiskinan masyarakat, karena mereka tidak mengalami sendiri. Sehingga mereka pun tak bisa membantu sepantasnya.[iv] Pada waktu itu muncul pula kelompok anti Gereja, karena cara hidup para petugas Gereja tak selaras dengan ajaran Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Mereka hidup kaya dan melupakan orang miskin.

Terdapatlah Surat kepada Santo Bernardus yang di tulis oleh Everono di Steinfeld, seorang heretik. “Kitalah pengikuti Yesus sejati, seperti para rasul. Kerena kita tidak hanya mewartakan secara lisan cara hidup sederhana, hidup berbakti bagi sesama, tetapi kita juga melakukan secara nyata. Sementara mereka yang menamakan diri Katolik[v], tak melakukannya dalam hidup nyata”.

Pada waktu itu muncullah inisiatif pribadi dan kelompok untuk menghayati semangat kesalehan pribadi. Tetapi kebanyakan mereka tidak menjalani hidup selaras dengan Injil suci, terutapa para heretik, ajaran sesat. Waktu Santo Bernardo berkhotbah, seorang heretik mencibir dan mengatakan “keledai[vi] kalian gemuk-gemuk”. Bahkan terdapat juga orang yang membuka cap (cappuccio) milik Santo Bernardus untuk melihat leher yang kurus karena banyak pantang dan puasa. Kelompok heretik tersebut tak henti-hentinya mencaci maki Santo Berdardus. “Tak usah bilang “saya hidup miskin” tetapi ‘keledainya gemuk (mobil mewah)”. Saatnya orang-orang miskin dan awam unjuk rasa menyaksikan para petugas Gereja hidup tidak selaras dengan ajaran Tuhan Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh. Tak cukuplah hanya mengandalkan beberapa orang religius menjalankan keutamaan secara pribadi, sementara para anggota religius lain hidup berlimpah ruah.[vii] Ordo religius hendaknya menjalani hidup miskin seturut ajaran Tuhan kita Yesus Kristus. Hidup tanpa jaminan.

Dalam situasi masyarakat sedemikianlah Santa Klara tampil. Dalam hal tertentu semangat kemiskinan Santa Klara berbeda dengan semangat kemiskinan Santo Fransiskus. Secara pribadi Santa Klara menjalani semangat hidup miskin bersama dengan para saudari biara San Damiano, dengan mengandalkan hidup pada kemurahan Allah. Ia hidup dengan tidak mengandalkan harta kekayaan duniawi sama sekali. Waktu Santa Klara belum meninggalkan dunia, ia menaruh belaskasih kepada Santo Fransiskus dan para saudara yang hidup miskin. Ia biasa pergi memberikan makanan bagi orang miskin,[viii] yang sedang memperbaiki Gereja Portiuncola.

Kita perlu memperhatikan kembali tulisan-tulisan yang berhubungan dengan semangat kemiskinan Santa Klara dan para suster di biara San Damiano. Perbedaan semangat kemiskinan Santa Klara dan para Suster San Damiano berbeda denan Santo Fransiskus dan para Saudara Dina. Karena semangat kemiskinan Santa Klara hanya mengandalkan kemurahan Allah lewat sesama yang rela datang berderma. Sementara Santo Fransiskus dan para Saudara Dina sebagai pria bisa pergi meminta-minta sedekah.[ix] Mereka mengikuti cara hidup Yesus dan para rasul yang diutus berdua-dua mewartakan kabar gembira dari kampung ke kampung.[x] Karena itu saat ini hendaknya kita perlu merenungkan kembali arti kemiskinan secara lain. Santo Fransiskus meminta Santa Klara dan para suster tinggal di biara San Damiano.[xi] Tetapi mereka hendaknya hidup dalam kemiskinan dan dalam persaudaraan. Inilah alasan lain Santa Klara meninggalkan Biara Santo Paulus.[xii] Santa Klara bercita-cita ingin menjalani hidup seturut Injil Suci. Hidup penuh kepasrahan kepada kemurahan Allah, sebagaimana Tuhan Yesus Kristus mengajar prinsip hidup di puncak gunung. Dalam Anggaran Dasar Tanpa Bulla diungkapkan: “Hendaknya para saudara tetap berbahagia bila tinggal bersama dengan orang-orang yang dihina, orang miskin, orang sakit, orang kusta, dan para peminta-minta di pinggir jalan”.[xiii]

Santa Klara hendaknya memilih cara lain lagi dalam menghayatai semangat kemiskinan. Waktu ia menulis Anggaran Dasar, menjelang akhir hidupnya, (setelah memiliki banyak pengalaman hidup). Ia meringkas betapa sulitnya membina para suster. Berikut inilah pengalaman Santa Klara:

“Santo Fransiskus bapa kita, beliau sendiri dapat mengetahui bahwa kita tidak takut terhadap keadaan begitu miskin, berbagai kesulitan dan macam-macam penderitaan bahkan terjadi penganiayaan dan direndahkan oleh dunia. Tetapi sebaliknya, kita justru menerima segala hal tersebut dengan penuh kebahagiaan. Setelah menyaksikan hal-hal tersebut Santo Fransiskus bersedia menulis pedoman hidup untuk kita…Saya Saudari Klara dan bersama para Saudari semua bersedia menjajikan dengan setia[xiv] semangat hidup kemiskinan di hadapan Allah dan di hadapan Santo Fransiskus bapa kita. Hendaknya para pimpinan yang menggantikan saya dan para saudari semua memelihara semangat kemiskinan secara ketat selalu selama hidup. Artinya kita tidak menerima suatu harta warisan baik secara pribadi maupun wali, atau pun sesuatu yang disebut harta kekayaan, kecuali sebidang tanah, demi kelangsungan hidup sepantasnya dan agar bisa hidup terpisah dalam biara. Dan sebidang tanah tersebut dimaksudkan untuk menanam sayur untuk sekedar menyambung hidup”.[xv]

Pada mulanya Santo Fransiskus tidaklah bermaksud untuk mendirikan suatu ordo. Beliau takut Santa Klara dan Para Suster tak sanggup hidup dalam kemiskinan. Tetapi Santo Fransiskus sendiri menyaksikan bahwa mereka ternyata sanggup menghayati hidup miskin berkat bantuan ilahi. Sehingga ia mau menulis pedoman hidup sederhanya bagi mereka. Dalam pedoman hidup tersebut Santo Fransiskus berjanji akan memelihara Santa Klara dan para saudari selanjutnya.

Bila kita membaca Anggaran Dasar Sanata Klara saat ini nampaknya begitu mudah. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian, Anggaran Dasar Santa Klara merupakan hasil perjuangan sepanjang hidup. Bila kita perhatikan: “Santo Fransiskus bapa kita, beliau sendiri dapat mengetahui bahwa kita tidak takut terhadap keadaan begitu miskin, berbagai kesulitan dan macam-macam penderitaan bahkan terjadi penganiayaan dan direndahkan oleh dunia. Tetapi sebaliknya, kita justru menerima segala hal tersebut dengan penuh kebahagiaan. Setelah menyaksikan hal-hal tersebut Santo Fransiskus bersedia menulis pedoman hidup untuk kita…” Hendaknya kita ingat juga bahwa sanak keluarga Santa Klara berjuang mati-matian untuk mengambil kembali Santa Klara ke rumah. Bila Santa Klara mau menjadi biarawati seperti para suster Vincent de Paul, kiranya keluara akan siap mendukung. Tetapi Santa Klara memperlakukan diri sebagai pembantu atau menjadikan dirinya sebagai orang miskin dan hina, sehingga sanak keluarga yang berasal dari keluarga bangsawan tak merelakannya. Mereka merasa dihina dan malu di depan masyarakat dengan adanya anggota keluarga menghayati hidup miskin dan hina dina. Tetapi sebaliknya, kita justru menerima segala hal tersebut dengan penuh kebahagiaan.[xvi] Artinya menghayati semangat hidup misksin bukanlah demi kesempurnaan diri sendiri atau masalah pribadi. Tetapi menghayati hidup miskin demi mengikuti Tuhah Yesus[xvii] dan selalu dekat dengan Tuhan. Mengikuti Tuhan Yesus Kristus membuahkan kebahagiaan dan ajaranNya membawa orang kepada kebijaksanaan. Dalam dekrit kanonisasi Santa Klara, diungkapkan, “Santa Klara jatuh cinta kepada semangat hidup miskin, memiliki keinginan untuk menjadikan semangat hidup miskin menjadi warisan yang diidam-idamkan. Dan ia penuh kerinduan untuk memeluknya era-erat”.[xviii] Ungkapan tersebut sebenarnya telah terungkap dalam Surat Pertama kepada Agnes dari Praga. Surat tersebut memperkenalkan diri sendiri (sebutan “Anda” (kemiskinan suci), bukan sebutan akrab “Saudari”). Sebagaimana terungkap, “Kemiskinan yang membawa kebahaagiaan. Barangsiapa mencintai dan memeluk Anda, Anda akan membalas dan ia akan berlimpah kekayaan abadi.[xix] Oo kemiskinan suci[xx] barangsiapa memperoleh dan menginginkan Anda Tuhan Allah akan berkenan menganugerahkan Kerajaan Allah sebagai harta warisan. Dan Allah akan menganugerahkan hidup abadi kepadanya dan kemuliaan sejati (Mt 5,3). Oo kemiskinan yang mulia[xxi] Tuhan kita Yesus Kristus Raja semesta alam dan surgawi, dahulu dan sekarang, Allah berkenan bersabda satu kali untuk selamanya, segalanya terjadi (Mzm 33,9). Allahlah yang telah memilih[xxii] Anda secara khusus.[xxiii]

Bagi orang pada umumnya hidup miskin berarti hidup dalam kesengsaraan dan kesusahan.[xxiv] Tetapi bagi Santa Klara hidup miskin membawa kebahagiaan dan sukacita. Menghayati hidup miskin dengan menjalani puasa bukan hanya demi mengejar kesempurnaan bagi diri sendiri melalui berpuasa dan pantang.[xxv] Tetapi motivasi dasariah hidup miskin yang dihayati Santa Klara adalah mengikuti kemiskinan Tuhan kita Yesus Kristus, yang berkuasa atas surga dan bumi telah memilih hidup miskin dan lemah. Putra Allah yang mahakuasa dan pencipta langit dan bumi telah memilih hidup miskin, kekurangan dan hina dina.

Penulis juga mengungkapkan, “Ungkapan tertulis tentang semangat kemiskinan tersebut tak pernah ditemukan sebelumnya, bahkan dalam tulisan Santo Fransiskus sekalipun.” Walaupun Santo Fransiskus sendiri menjadi tokoh teladan dalam menghayati semangat kemiskinan. Tetapi Santo Fransiskus sendiri menulis amat sedikit tentang semangat kemiskinan dibanding dengan tulisan Santa Klara. Mengapa demikian? Karena perjuangan[xxvi] untuk memperoleh previlege hak kemiskinan bagi biara San Damiano amatlah sulit dan butuh waktu perjuangan sepanjang hidup Santa Klara.

Dalam kisah Santa Klara yang ditulis oleh Thoman Celano diungkapkan bahwa terdapat para ahli sejarah meragukan kebenaran akan semangat kemiskinan biara San Damiano . “Tak usah ragu-ragu lagi. Santa Klara tahu benar kebutuhan dasar persaudaraan para suster San Damiano. Ia menghendaki agar para suster memeluk semangat kemiskinan. Ia mohon kepada Bapa Suci Innocent ke 3 agar dianugerahi previlege kemiskinan bagi dirinya sendiri dan bagi para suster. Bapa Suci berkenan menganugerahkan previlege kemiskinan sesuai dengan permohonan Santa Klara. Bapa Suci menyaksikan dengan jelas bahwa Santa Klara dan anggota biara San Damiano memiliki cara hidup yang amat berbeda dengan kelompok-kelomk hidup bhakti lainnya. Karena tak ada kelompok hidup bhakti mana pun mendapat previlegi kemiskinan suci selain Santa Klara seorang diri”.[xxvii]

Mengapa para ahli meragukan semangat kemiskinan Santa Klara? Mereka tidak menemukan dokumen resmi previlege kemiskinan suci yang diberikan Bapa Suci kepada Santa Klara. Biasanya semua dokumen penting yang dikeluarkan oleh Bapa Suci tersimpan juga di kepausan, tetapi mengapa di biara San Damiano tak ditemukan dokumen tersebut? Sehingga mereka meragukan kebenaran bahwa Santa Klara sungguh menerima previlegi kemiskinan suci. Barangkali Santa Klara memang meminta previlege kemiskinan suci sungguh-sungguh. Tetapi apakah Bapa Suci sungguh-sungguh menganugerahkannya kepada Santa Klara? Mengingat tak ada bukti di biara San damiano. Tetapi terdapat saksi mata yang mengungkapkan bahwa Santa Klara sungguh menerimanya. Tetapi dokumen tersebut hilang. Terdapat juga para peneliti dan menemukan dokumen tersebut tetapi juga meragukan keasliannya. Karena biasanya dokumen resmi kepausan pada waktu itu ditulis dalam bahasa Latin. Apalagi pada abad ke 15 terdapat seorang peneliti bernama Mariano da Firenze menulis tentang Santa Klara. Ia mengungkapkan bahwa telah menemukan seluruh dokumen tentang Santa Klara. Tetapi ia tidak pernah menyebut dekrit Bapa Suci Innocent ke 3. Tulisan tersebut menimbulkan keraguan bagi para ahli.

Kiranya kita juga hendaknya berpikir bahwa waktu Santa Klara memohon previlegi kemiskinan tersebut, ia tidak bertemu langsung dengan Bapa Suci. Barangkali ia memohon melalui Bapak Kardinal atau pengantara lain. Karena Santa Klara tak mungkin keluar dari biara San Damiano. Dan tak terdapat bukti bahwa Bapa Suci Innocent ke 3 mengunjungi biara San Damiano. Waktu Bapa Suci mendengar adanya permintaan tentang previlege kemiskinan kiranya beliaupun heran mengingat tak pernah seorang pun memohon hal tersebut. Bila terdapat yang disebut “draft” dan bukan “tulisan” dekrit tentang privilege, berarti document tersebut tidak resmi dan tidak mengikat.

Thomas dari Celano sendiri kiranya juga menimbulkan sedikit kebingunan bagi para pembaca dengan menyebut Bapa Suci Innocentius. Bapa Suci Innocentius ke 3 atu ke 4 tak disebutkan dengan jelas. Saksi mata mengatakan bahwa Santa Klara menunggu Bapa Suci untuk mengesahkan Anggaran Dasar dan menganugerahkan previlege kemiskinan. Artinya orang yang mengesahkan Anggaran Dasar Santa Klara dan menganugerahkan previlelge kemiskinan adalah Bapa Suci Innocentius ke 4 sebelum Santa Klara meninggal. Marco Bartoli, penulis buku ini menjelaskan bahwa kiranya Thomas dari Celano tak memberikan penjelasan terperinci. Mengingat terdapat saksi mata yang mengungkapkan bahwa Bapa Suci Innocentius ke 4-lah yang mengesahkan Anggaran Dasar dan memberikan previlege kemiskinan secara resmi. Barangkali Bapa Suci Innocentius ke 3 memberikan “draft” sementara, sebagai ijin awal untuk menjalani hidup pertobatan, pedoman hidup sebagaimana ditulis oleh Santo Fransiskus untuk mereka.

Menjelang Santa Klara wafat, Bapak Krrdinal Ronaldo yang memohon agar Bapa Suci mengesahkan, sebagaimana tertulis. “Waktu diketahui bahwa Santa Klara sakit berat di Assisi, Bapak Uskup Ostia segera meninggalkan Kota Perugia dan berangkat menuju Assisi. Karena Bapa Uskup tersebut begitu menaruh kasih kepada Santa Klara sebagaimana seorang ayah. Beliau begitu mengungkapkan keakraban dengan Santa Klara. Beliau mengirim komuni kudus dan memberikan nasihat rohani kepada semua suster. Santa Klara memohon dengan mencucurkan air mata dengan perantaraan Bapa Uskup, memasrahkan jiwanya dan semua suster. Tetapi ia pun memohon agar Bapa Uskup sudi membantu menyampaikan permohonan previlege kemiskinan suci kepada Bapa Suci. Bapa Uskup Ostia berjanji akan menyampaikan permohonan tersebut. Dan Bapa uskup Ostia berhasil memperoleh sebagaimana Santa Klara mohon.”[xxviii]

Waktu Bapa Suci Innocentius ke 4 datang untuk memimpin perayaan doa dan misa arwah, Beliau meminta agar dimulai proses kanonisasi. Tetapi beliau wafat sebelum kanonisasi Santa Klara. Selanjutnya Bapak Kardinal Ronaldo diangkat menjadi Paus dengan bergelar Bapa Suci Alexander ke 4. Beliaulah yang meng-kanonisasi Santa Klara.

———————————————

[i] Clara Clareis preclara 17; FF 3302 , semangat kemiskian diterima sebagai pasangan hidup

[ii] Walaupun musuh mengepung, mereka tetap aman karena mereka berada dalam menara jaga.

[iii] Leg. Cl. 13: FF 3184-5.

[iv] Bahkan biara Benediktin yang begitu kaya, tanah luas dan banyak pekerja, tetapi mereka pun tak memahami masalah kemiskinan masyarakat. Roh Kudus menggerakkan Santo Fransiskus dan Santa Klara.

[v] Surat sedemikian disampaikan untuk mengkritik Gereja Katolik dan para penyelenggara sekolah kaya dan mahal milik ordo.

[vi] Keledai tunggangan kalian gemuk-gemuk, mobil mahal.

[vii] Para leligius pada umumnya hidup mewah.

[viii] Pada waktau itu Santo Fransiskus dan para saudaranya belum disebut Para Saudara Dina, tetapi kelompok para miskin yang makan dari kerja harian.

[ix] Pada waktu itu para saudara dina bisa berbaring di gubuk dan tempat-tempat penampungan para penderita kusta.

[x] Tetapi para wanita tidaklah mungkin, ada beberapa orang melakukan hal tersebut tapi Gereja tak menghendaki.

[xi] Pada mulanya San Damiano berupa bangunan dua tingkat. Tingkat 1 untuk gereja dan tingkat 2 untuk tempat tidur. Selanjutnya dibangun kamar makan dan dapur.

[xii] Di biara Santo Paulus Santa Klara dapat menyaksikan bahwa para suster menghayati semangat hidup miskin secara pribadi, tetapi sebagai komunitas mereka memiliki segalanya.

[xiii] Rnb 9,2: FF 30.

[xiv] Santa Klara berjanji dan melaksanakan bersama para saudarinya.

[xv] Reg. Cl 6,2.

[xvi] Hidup miskin tanpa jaminan, sengsara dan dihina.

[xvii] Mengikuti Yesus sebagaimana para rasul tidaklah mudah, terutama berkeliling dari kampung ke kampung, tetapi bagi Santa Klara lebih sulut lagi karena harus mengikuti Yesus di dalam biara.

[xviii] “Clara Claris Praeclara 17: FF 3302.

[xix] Ingat pemuda kaya…

[xx] Suci, berkaitan dengan Allah.

[xxi] Ungkapan kelmuliaan Allah.

[xxii] Tuhan Yesus sendiri telah memilih kemiskinan, berarti kemiskinan sungguh mulia.

[xxiii] 1 Let. Cl. 15-17: FF 2864.

[xxiv] Hidup memprihatinkan, penuh kasihan.

[xxv] Masa puasa gerejawi.

[xxvi] Perjuangan berat untuk mendapat pengakuan resmi dari Kardinal dan Bapa suci.

[xxvii] Leg. Cl. 14: FF 3186.

[xxviii] Proc. 3, 32: FF2998.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *