Klara – Wanita dalam Keheningan dan Kenangan (Bagian 5)

16/10/2014
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 511 kali

BAB 5. HIDUP MENURUT NASIHAT INJIL

(La penitenza)[i]

SantaClaraDi biara Santo Paulus, sementara Para Suster (monache di coro) anggota biara bernyanyi di kapel, Santa Klara bekerja tangan sebagai pembantu sebagaimana biasanya. Santa Klara tinggal di biara ini tidaklah lama, mengingat bahwa Biara Santo Paulus ini bersahabat baik dengan para bangsawan kota Assisi. Apalagi Para Suster penghuni biara tersebut sebagian besar berasal dari keluarga bangsawan atau keluarga terhormat. Waktu para suster penghuni biara mengetahui bahwa sanak keluarga Santa Klara kecewa atas tindakan Santa Klara, mereka pun kawatir seluruh biara akan terkena akibatnya. Mereka pun tidak mau membela “orang yang tidak waras”macam ini. Inilah alasan dasar Santa Klara ingin segera meninggalkan biara tersebut dan mau tinggal agak jauh dari kota.

Terdapat kelompok “Para Wanita Bertobat”. Mereka membentuk kelompok hidup pertobatan disebut Kelompok Wanita Sant Angelo di Panzo[ii]. Para ahli berpendapat bahwa kelompok wanita tersebut merupakan kelompok orang-orang saleh yang hidup dengan membentuk kelompok. Mereka biasa berdoa bersama, menjalani hidup menurut nasihat injil, tetapi mereka tidak memiliki pedoman hidup yang disyahkan oleh wewenang Gereja. Pada waktu itu terdapat banyak kelompok wanita yang hidup menurut nasihat injil yang membaktikan hidup kepada Allah tetapi tidak masuk biara.[iii] Selanjutnya Kardinal Hugolino berusaha membenahi kelompok-kelompok tersebut menjadi satu keluarga besar. Biara San Damiano diminta menjadi biara teladan bagi kelompok-kelompok tersebut.

Menurut kisah Santa Klara, ia pindah dari Biara Benediktin dan dinggal bersama dengan kelompok Para Wanita Saleh tetapi tidaklah lama. Waktu Suster Agnes[iv] bergabung dengan Santa Klara, sanak keluarga menjadi bingung. Dalam Kisah Santa Klara diungkapkan, “Telah dikatakan bahwa Santa Klara berdoa dengan tekun. Doa-doanya berpengaruh terhadap banyak jiwa atau orang melakukan pertobatan. Ia memiliki adik putri bernama Agnes, orang saleh tak berbeda dengan dirinya. Dan ia bermaksud agar adik putrinya bertobat, meninggalkan dunia mengikuti dia masuk biara.[v] Ia tekun berdoa agar adiknya rela membaktikan diri kepada Allah dengan segenap hati dan budi. Ia berdoa secara khusuk agar terjadi keselarasan kehendak antara Agnes dan dirinya.

Ia berdoa kepada Allah dengan tak putus-putusnya. Semoga Allah berkenan menggerakkan hati Agnes. Dan agar Agnes tak tenggelam dan tegiur oleh kecenderungan dunia dan dapat melepaskan diri dari pernikahan duniawi dan bersedia memelihara kemurnian untuk dibhaktikan kepada kemuliaan Allah. Pada dasarnya keduanya telah lama saling mengasihi. Waktu Santa Klara meninggalkan dunia, keduanya tetap saling merindukan. Tuhan Allah mendengar doa Santa Klara. Agnes mendapat inspirasi untuk mengunjungi Santa Klara yang berada di Biara[vi] Sant Angelo di Panzo. Ia berkunjung hampir tiap hari. Akhirnya ia pun timbul keinginan untuk membaktikan hidupnya kepada Allah selamanya. Mendengar keinginan Agnes tersebut, Santa Klara penuh bahagia dan memeluknya erat-erat. Serentak ia berkata, “Adikku terkasih, kakakmu bersyukur kepada Allah dengan sepenuh hati, karena Allah sudi mendengarkan doa kakakmu untukmu”.[vii]

Penerimaan Agnes tentu saja menimbulkan masalah baru. Santa Klara baru berumur 18 tahun, pada malam ia meninggalkan rumah, diterima oleh Santo Fransiskus dan para saudara. Ia pun mendapat pertanda syah dengan pemotongan rambut yang mendapat pengakuan secara gerejawi. Ia pun bisa tinggal bersama Para Putri Saleh di biara Sant Angelo di Panzo. Sanak keluarga tak mungkin lagi mengganggu Santa Klara. Tetapi Agnes baru berumur 16 tahun dan tidak menerima upacara pemotongan rambut secara resmi, artinya belum mendapat perlindungan gerejawi.

Agnes menjalani hidup pertobatan. Ia tinggal bersama dengan Santa Klara di biara Sant Angeli di Panzo bersama Para Putri saleh. Ia mendapat bimbingan langsung dari Santa Klara. Tetapi terjadi masalah dengan sanak keluarga. Waktu sanak keluarga mengetahui bahwa Agnes telah meninggalkan rumah dan tinggal bersama Santa Klara di biara Sant Angelo di Panzo, mereka amat marah. Hari berikutnya, sanak keluarga dengan disertai 12 algojo di bawah wewenang Tuan Monaldo, paman Santa Klara dan Agnes, mendatangi biara Sant Angelo di Panzo dengan dalih untuk mengunjungi Klara dan Agnes. Mereka berusaha menemukan Agnes untuk diajak pulang ke rumah. Mereka tidak memperdulikan lagi Santa Klara, karena Klara telah berada dibawah perlindungan Gereja. Tetapi terhadap Agnes mereka masih bisa memaksa dengan kekerasan, karena Agnes belum menjadi anggota biara resmi dengan pemotongan rambut. Mereka tidak takut terkena ekskomunikasi, walaupun melakukan kekerasan terhadap Agnes.[viii] Mereka pun mempertanyakan Agnes, “Kenapa kamu tinggal di sini? Pulanglah ke rumah sekarang juga”. Tetapi Agnes menjawab, “Kami tidak mau pulang. Kami tidak mungkin berpisah satu sama lain dengan kakak”. Tuan Monaldo tak sabar lagi dan memerintah 12 algojo menyeret Agnes dengan menjabak rambutnya ke luar biara. Agnes amat menderita.

Sementara 12 algojo memaksa Agnes ke luar biara, Agnes merasa dirinya berada di mulut singa. Ia berteriak minta tolong, “Kakak Klara tolong, jangan sampai adikmu ini dipisahkan dari Tuhan Yesus Kristus!”. Mendengar teriakan Agnes, Santa Klara segera berlutut di hadapan Allah dan berdoa dengan air mata mengalir. Semoga adiknya tabah dan penuh percaya kepada Allah. Semoga daya kuasa ilahi turun atasnya.[ix]

Sementara Santa Klara berdoa, 12 algojo berhasil membawa Agnes ke luar dari biara. Ia diseret mendaki bukit. Agnes meronta-ronta tak mau menyerah, hingga pakaian terkoyak dan rambutnya pun tercabut karena dijambak. Agnes jaatuh tak sadarkan diri. Tetapi berat badan Agnes menjadi amat berat hingga mereka pun tak sanggup lagi mengangkat tubuh Agnes. Dengan usaha bagaimana pun mereka tidak sanggup mengangkat tubuh Agnes. Tubuh Agnes tak bisa mereka gerakkan.

Sanak keluarga dan 12 algojo menyerah. Mereka pun menyindir, “Kiranya semalaman kau makan besi, sehingga berat badanya amat berat”. Tuan Monado, pamanya amat marah mengangkat tangan untuk memukul Agnes. Tetapi ia sendiri merasakan bahwa tangannya amat sakit sebelum memukul. Ia pun berteriak kesakitan. Mereka segera kembali ke Assisi. Agnes ditinggal sendirian.[x]

Santa Klara mengikuti dari belakang. Ia menemukan Agnes dalam keadaan lunglai. Ia memegang tangan dan mengajak Agnes bangun serta mengajak untuk melayani Tuhan Yesus Kristus. Agnes segera bangun dengan penuh kelegaan. Ia mengalami kehadiran Tuhan Yesus sehingga ia berhasil dalam perjuangan melawan sanak keluarga. Ia mempersembahan seluruh dirinya untuk melayani Tuhan Yesus. Santo Fransiskus memotong rambut Agnes dan menasihati agar ia melayani Tuhan Yesus Kristus bersama dengan Santa Klara.[xi]

Telah tiba saatnya bagi Santa Klara untuk menemukan tempat baru. Pada mulanya hanya Santa Klara seorang diri, tetapi kini Agnes telah bergabung. Kiranya banyak putri-putri yang lain akan menyusul. Santo Fransiskus berpikir untuk mencari tempat yang pantas bagi mereka, mengingat bahwa spiritualitas Fransiskus akan diabadikan melalaui mereka. San Damiano yang Fransiskus perbaiki, kiranya menjadi tempat yang pantas untuk Santa Klara dan para putri yang ingin membaktikan diri untuk melayani Tuhan Yesus Kristus.

Dalam Kisah Santa Klara diungkapkan, “Selanjutnya Santa Klara meninggalkan Biara Santo Paulus menuju Biara San Angelo di Panzo. Tetapi hati Santa Klara belumlah tenteram. Santo Fransiskus menasihati Santa Klara agar ia pindah ke Gereja San Damiano. Gereja tersebut telah lama dinubuatkan oleh Santo Fransiskus bahwa akan ditempati oleh para putri miskin. Santa Klara sendiri merasa tenteram tinggal di Gereja San Damiano.[xii]

Di samping Agnes yang telah bergabung dengan Santa Klara, ada banyak putri-putri lain, yaitu Pacifica, adik Bona teman akrap Santa Klara. Benvenuta yang berasal dari keluarga terhormat do Perugia dan beberapa lagi putri-putri yang berasal dari keluarga terhormat datang bergabung. Bapak Uskup Guido mengenal mereka dengan baik. Beliau menerima dengan resmi kelompok para putri yang melakukan pertobatan dengan pedoman injil suci. Hidup pertobatan menurut injil suci menjadi istilah yang dikenal pada waktu itu. Mereka menjalani hidup mengikuti Yuhan Yesus Kristus tanpa mengikuti sipiritualitas ordo mana pun.

Kelompok hidup pertobatan tersebut bukanlah suatu ordo religius mengingat:

Pimpinan bukanlah seorang imam, tetapi awam, sebagaimana Santo Fransiskus. Pada waktu itu ia belum ditahbiskan menjadi diakon. Santo Fransiskus pada dasarnya tidak mau ditahbiskan menjadi diakon, karena ia ingin tetap menjaga semangat hidupnya sebagai orang yang dina. Selanjutnya Santo Fransiskus menyusun Anggaran Dasar untuk di syahkan oleh Bapa Suci. Sementara kelompok hidup para putri San Damiano menjalani hidup mengikuti pedoman hidup pertobatan Santo Fransiskus sebagaimana para saudara lainya, yaitau hidup menurut injil suci.

Menjelang Santa Klara meninggal, ia mengungkapkan pengalaman hidup awal. “Setelah Allah Bapa di Surga menganugerahkan kepadaku untuk melakukan pertobatan, dengan mengikuti contoh dan nasihat bapa kita Santo Fransiskus, tak lama setelah ia melakukan pertobatan, saya bersama saudari-saudari dengan rela menjanjikan ketaatan kepada Bapa kita Santo Fransiskus. Waktu beliau menyaksikan[xiii] bahwa mereka tidak takut sama sekali dengan semangat kemiskinan, kesulitan hidup, kesusahan dan kehinaan, tetapi sebaliknya mereka menganggap segala hal tersebut merupakan sumber kebahagiaan sejati. Santo Fransiskus berkenan menulis pedoman hidup bagi mereka. “Karena kalian mendapat inspirasi ilahi dengan suka rela menjadi Putri-Putri dan Pelayan Tuhan kita Yesus Kristus dan Bapa Surgawi. Dan rela membaktikan diri sebagai permaisuri Roh Kudus. Dan dengan suka rela menjalani hidup injili. Kami berjanji atas nama diri saya sendiri dan persaudaraan bahwa kami mau memelihara anda sekalian secara khusus sebagai mana kami memelihara para saudara dina”. Santo Fransiskus telah membuktikan sanggup memelihara para saudari sesuai dengan janji hingga akhir hidupnya. Ia pun berharap agar para saudara juga tekun memelihara para saudari selaras denga yang Santo Fransiskus janjikan kepada mereka.[xiv]

Menurut Anggaran Dasar Santa Klara tersebut, para saudara Fransiskan bertanggungjawab memelihara para saudari Klaris. Tetapi terdapat sesuatu yang terasa bertentangan dengan Anggaran Dasar tersebut. Dalam Anggaran Dasar Tanpa Bulla diungkapkan bahwa “Hendaknya para saudara tidak menerima janji setia terhadap seorang putri manapun. Tetapi setelah mereka mendapat nasihat seperlunya, hendaknya mereka pergi melakukan pertobatan yang selaras dengan mereka.”[xv]

Santa Fransiskus tak menghendaki para saudara fransiskan bertugas memelihara para saudari Klaris. Demikian juga Santo Fransiskus tak menghendaki para saudara mendirikan kelompok religius bagi para wanita dan menjanjikan ketaatan kepada mereka. Santo Fransiskus menerima janji kesetiaan terhadap Santa Klara dan para saudari Biara San Damiano dalam situasi khusus. Mereka dianggap sebagai anggota persaudaraan sebagaimana para saudara lain. Santa Klara menghendaki agar kehendak Santo Fransiskus tersebut ditulis secara resmi dalam Anggaran Dasar.

Santa Klara mengutip kata-kata Santo Fransiskus yang terungkap dalam Wasiat dengan istilah “melakukan pertobatan”: “Setelah Tuhan Allah menganugerahkan kepadaku, Sdr. Fransiskus untuk “melakukan pertobatan..”[xvi]

Istilah “melakukan pertobatan, menjalani penitensi” merupakan istilah yang biasa dipakai pada abad ke 13. Artinya, mereka yang merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama. Mereka menyebut dirinya sebagai orang yang rendah, hina dina, dan orang berdosa. Mereka menyebut diri pengikut Kristus. Karena mereka percaya bahwa jalan satu-satunya memperoleh keselamatan hanyalah melalui Kristus. Karena itu orang yang menjawab kasih Tuhan Yesus Kristus menjalani hidup pertobatan, melakukan penitensi.

Kita memiliki dokumen yang ditulis oleh Giacomo da Vitry, imam asal Belgia. Beliau ingin bertemu Bapa Suci di Kepausan untuk mengurus tahbisan uskup. Beliau bertemu Santo Fransiskus. Beliau pun sempat mengunjungi Biara San Damiano pada tahun 1216. Kiranya setelah 5-6 tahun Santa Klara dan para suster San Damiano menjalani hidup bersama. Beliau amat tertarik cara hidup mereka, hingga beliau menulis Surat dari Kota Genova kepada rekan di Belgia. Surat tersebut merupakan dokumen yang amat berharga. Karena dokumen tersebut berasal dari orang luar, bukan dari keluarga Fransiskan, yang sempat mengunjungi Santa Klara dan para anggota biara San Damiano dan sempat bertemu Santo Fransiskus. Dokumen tersebut diungkapkan sebagai berikut:

“Saya sungguh mendapat menghiburan dengan mendapat kesempatan menyaksikan banyaknya awam wanita dan pria yang berasal dari keluarga kaya dan terhormat rela mengorbankan diri, meningalkan segalanya demi melayani Tuhan Yesus Kristus. Mereka berani meninggalkan dunia dengan menyebut diri mereka Saudara Dina.[xvii] Terhitung Bapa Suci dan para Kardinal sungguh menghargai kesaksian hidup mereka. Mereka tidak memperdulikan hidup kduniawian sama sekali. Mereka penuh semangat menyelamatkan banyak jiwa dari pengaaruh keduniawian dengan melakukan pertobatan. Dan banyak orang tertarik untuk bergabung dengan mereka untuk melakukan pertobatan.[xviii] Dengan bantuan rahmat Allah mereka berhasil maju dan berkembang secara mengagumkan. Masyarakat yang menyaksikan keberhasilan mereka pun amat terkesan dengan mengatakan, “Datanglah dan lihatlah sendiri”. Mereka menjalani hidup sebagaimana kelompok Kristen awal sebagaimana terungkap dalam Kitab Suci. Mereka hidup bersatu padu menjadi satu tubuh. Pada waktu siang hari mereka pergi kota-kota dan kampung-kampung untuk memberikan kesaksian hidup agar masyarakat juga melakukan pertobatan. Pada waktu malam hari mereka kembali ke biara atau pergi ke tempat-tempat sunyi untuk berdoa.

Sementara Para Wanita Miskin tinggal di biara, agak jauh dari kota. Mereka hidup dengan kerja tangan. Mereka merasa tidak tenang dan tenteram bila masyarakat mengkawatirkan hidup mereka atau begitu menghormati dan memuji mereka secara tidak semestinya…

Kelompok tersebut membuat para imam dan para Kardinal merasa malu (para pembesar Gereja), merasa sungkan untuk menasihati dan berkhotbah di depan mereka, terpaksa membisu di depan mereka. Karena mereka sendiri hidup tak selaras dengan semangat Injil.”[xix]

Giacomo de Vitry sendiri telah berpengalaman dalam mendampingi kelompok-kelompok Kristen yang hidup dalam pertobatan. Waktu menyaksikan kelompok hidup pertobatan Para Putri Miskin di biara San Damiano, ia pun kagum. Ia pernah menulis Kisah Maria di Oignies, seorang Suster Agustin. Waktu beliau mengadakan perjalanan ke Lombardia bertemu kelompok “Para Saudara Dina”. Dan waktu beliau mengunjungi kota Assisi, Umbria, beliau bertemu dan mengenal “Para Saudara Fransiskan” baik pria maupun wanita yang melakukan pertobatan dengan hidup menurut nasihat Injil. Beliau menyadari bahwa mereka inilah kekuatan Gereja dalam membaharui Gereja semesta.

Inilah abad para wanita dalam mengambil bagian dalam membangun dan membaharui Gereja. Kelompok para wanita miskin tersebut ambil bagian dalam tugas pewartaan hingga ke tanah suci sebagaimana para serdadu perang “Crusade”. Para wanita miskin mengikuti gerak para pengkhotbah keliling dari kampung ke kampung. Mereka mendapat inspirasi ilahi, sanggup menulis pengalaman-pengalaman rohani dan menghayati hidup rohani yang begitu mendalam.

Giacomo de Vitry memberi kesaksian bahwa “Terdapat banyak wanita muda saleh tidak mau tinggal di rumah, di tengah dunia yang membahayakan jiwa mereka. Mereka membentuk kelompok hidup bersama yang bukan dalam bentuk hidup membiara. Mereka memiliki pedoman hidup dan pimpinan yang bijaksana. Mereka belajar dan menjadi orang berpendidikan, terutama mereka hidup sebagai orang saleh. Mereka hidup dalam doa, puasa dan kerja tangan serta hidup dengan rendah hati”.

Giacomo de Vitry mengagumi kelompok-kelompok hidup para putri miskin, yang hidup di rumah dengan kerja tangan, menghayati hidup miskin, dan memelihara semangat berpuasa. Suatu cara hidup baru terjadi, mereka biasa berkumpul bersama tetapi bukan sebagai suatau kelompok hidup bhakti atau ordo.

Waktu Giacomo de Vitry mengunjungi biara San Damiano, beliau menyaksikan bahwa terdapat lagi kelompok para putri miskin yang menjalani hidup injili, serupa dengan para putri miskin yang terdapat di Eropa Utara, yang membaktikan hidup dalam doa, kerja dan memelihara semangat hidup berpuasa dan dalam kemiskinan.

Hendaknya kita menaruh perhatian secara khusus tentang “semangat hidup berpuasa”. Semangat hidup Santa Klara dan Santo Fransiskus dalam hal menghayati “hidup pertobatan” dengan semangat injil kiranya tak begitu berbeda. Tetapi dalam hal “semangat hidup berpuasa” kiranya berbeda. Terdapat dua hal yang kiranya terdapat perbedaan antara Santa Klara dan Santo Fransiskus. Pertama, Santo Fransiskus menghendaki agar Santa Klara menjadi pimpinan biara, sebenarnya Santa Klara tidak sependapat. Pada kenyataannya Santa Klara menjalankan tugas sebagai pimpinan biara, sebagai semacam tugas yang mesti dijalankan, walaupun tak selaras dengan suara batin. Kedua, semangat hidup beruasa, yang Santa Klara lakukan begitu keras. (Semangat kemartiran Santa Klara begitu kuat, mengenang kemartiran beberapa Saudara Dina awal, tetapi sebagai seorang wanita mengalami keterbatasan mengingat panggilan hidup membiara. Dengan berpuasa, ia menjalani semangat kemartiran). Pada awal Santa Klara melakukan pertobatan, ia berusaha begitu keras agar bisa mengikuti semangat hidup Santo Fransiskus. Ia melakukan semangat berpuasa secara khusus. Thomas dari Celano mengungkapkan: “Coba kita renungkan, dapatkah seseorang sungguh bisa mengikuti cara hidup Santa Klara dalam hal melakukan puasa? Ia berpuasa tiga kali sepekan, yaitu hari Senin, Rabu dan Jumat.[xx] Ia berpuasa keras, tidak makan sama sekali. Ia berpuasa berselang-seling setiap hari. Pada hari tidak puasa juga hanya menyantap sekedarnya. Tetapi pada waktu puasa, ia sama sekali tidak makan. Pada waktu pesta pun ia hanya menyantap sekeping roti dan air putih. Karena itu tidaklah heran bila Santa Klara jatuh sakit dalam jangka waktu panjang, mengingat ia berpuasa begitu ketat. Badannya lemah dan tak punya kekuatan.”[xxi]

Waktu Santo Fransiskus mengetahui keadaan tersebut, ia pun menyampaikan hal tersebut kepada Bapa Uskup Guido. Bapa Uskup melarang Santa Klara untuk tidak berpuasa terlalu keras. Sekurang-kurangnya ia harus makan satu setengah once.[xxii]

Pemahaman tentang puasa berbeda antara Santa Klara dengan Santo Fransiskus. Bagi Santa Klara, berpuasa merupakan hal yang amat penting, untuk menyiksa diri, juga dalam hal tidur. Dalam Kisah Santa Klara diungkapkan:

“Di samping itu Santa Klara juga tidur di lantai tanpa alas. Ia tidur di atas ranting-ranting batang anggur, dengan bantal sebatang kayu. Selanjutnya badannya menjadi lemah. Ia kemudian menggunakan pakaian sebagai alas tidur dan dengan bantal terbuat dari jerami. Akhirnya Santa Klara amat menderita. Ia menderita amat lama. Ia terpaksa menggunakan jerami sebagai alas tidur atas perintah Santo Fransiskus”.[xxiii]

Mengapa Santa Klara begitu bersemangat menyiksa diri dengan berpuasa sedemikian berat, lebih dari yang Santo Fransiskus lakukan dan masyarakat pada umumnya? Walaupun secara lahiriah tidaklah terdapat suatu perbedaan. Tetapi secara batiniah sungguh berbeda. Santo Fransiskus tak pernah berpuasa untuk menghukum diri sendiri atau untuk melakukan pertobatan. Tetapi Santo Fransiskus penuh kesadaran akah kebutuhan dasariah manusiawi. Legenda Perugia mengungkapkan:

“Santo Fransiskus tidak hanya menyadari pentingnya puasa, tetapi para Saudara Dina juga sadar akan pentingnya “berjaga”, tidak tidur. Seringkali mereka beristirahat atau dengan dahan anggur kering menjadi alas dan batang-batang pohon anggur untuk bantal kepala atau dengan se bongkah batu. Mereka mengikuti cara Bapa Franasiskus. Mereka tidak melindungi diri dengan pakaian hangat untuk melawan hawa dingin. Kedua tangan mereka bekerja keras dan tali pinggang ditaruh bandul untuk menyiksa diri. Atau mereka menyiksa diri dengan sarana lain yang dapat mereka temukan. Mereka melakukan hal demikian dalam jangka waktu lama. Tetapi Santo Fransiskus sendiri tidak setuju dengan cara-cara demikian. Ia takut para Saudara Dina akan menjadi lemah dan sakit. Maka dalam pertemuan persaudaraan Santo Fransiskus melarang, tak seorang pun melakukan penyiksaan diri selain cukup mengenakan satu jubah.

Saya yang menyampaikan tulisan ini, menjadi saksi mata, karena saya ambil bagian di dalamnya. Santo Fransiskus selalu sadar dalam bertindak dengan bijaksana. Demikian pula dalam hal puasa, penyiksaan diri, berjaga, maupun dalam hal semangat kemiskinan. Segalanya dilakukan dengan bijaksana, seperlunya, dan tak berlbihan. Tetapi untuk dirinya sendiri, sejak awal pertobatan hingga menjelang kematiannya, ia melakukan puasa dan berjaga dan penyiksaan diri secara keras. Tubuhnya lemah, sebab Ia memperlakukan tubuhnya amat keras. Dan ia pun tidak mau menjadikan dirinya menjadi batu sandungan bagi sesama”.[xxiv]

Semangat menghayati puasa Santa Klara melebihi para Saudara Dina awal. Pada abad pertengahan terdapat keutamaan kebiasaan kirsten untuk menguasai kecenderungan badani. Keutamaan hidup pada waktu itu terdapat suatu kesadaran bahwa dalam diri manusia terdapat pertentangan antara yang bik dan yang jahat. Bahkan terdapat ajaran sesat yang mengatakan bahwa, “Dalam diri manusia terdapat pertentangan yang jahat dan dan yang baik. Semua yang berupa benda merupakan hal yang buruk. Bahkan badan manusia pun terkandung hal yang buruk, karena terdapat keinginan badaniah. Bahkan terdapat beberapa orang yang tidak mau memelihara badan dengan berpuasa sampai mati, dengan alasan untuk mengalahkan yang jahat dalam dirinya. Mereda kira cara tersebutlah terbaik untuk menguasai yang jahat dalam dirinya. Tetap Santo Fransiskus tidaklah berkeyakinan sedemikian. Ia mengandalkan rahmat Allah dan bijaksana. Kesempurnaan manusia tidak tergantung pada kemampuan menguasai kecenderungan daging belaka. Tetapi rahmat Allah yang menganugerahkan keyakinan bahwa tubuh manusia pun memiliki martabat luhur karena telah telah diciptakan oleh Bapa di Surga dan ditebus oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Tentunya terdapat suatu kelemahan manusiawi tetapi tidaklah seluruh badaniah merupakan yang buruk yang harus di benci dan dianggap jahat. Kelompok Catari yang berusaha hidup secara sempurna berpengaruh terhadap masyarakat pada umumnya dan para religius yang mengikuti nasihati injil Tuhan kita Yesus Kristus. Mereka mengajarkan bahwa kesempurnaan hanya bisa diperoleh dengan menguasai badaniah manusia (sumber kecenderungan kelekatan duniawi). Mereka juga mengajarkan bahwa secara badaniah wanita memiliki kecenderungan berbuat dosa lebih daripada pria. Bila pria pun harus melakukan puasa dan berjaga untuk menguasai kecendaruangan jahat dalam dirinya, wanita tentunya harus melakukan lebih dari pada pria untuk menguasai segala kecenderungan dosa”.

Pandangan pertobatan Santo Fransiskus amat berbeda dengan ajaran tersebut. Santo Fransiskus memandang segala ciptaan baik adanya. Sehingga Santo Fransiskus menulis “Pujian Segala Makhluk Ciptaan”. Ia memandang segalanya secara positif, termasuk kecenderungan napsu manusiawi. Santo Fransiskus tidak memandang bahwa tubuh manusia merupakan sesuatu yang jahat, walaupun terdapat suatu kecenderungan keinginan jahat. Tubuh manusia bukanlah musuh jiwa. Tetapi tubuh manusia merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan, sehingga Santo Fransiskus menyebut “Saudara Keledai”[xxv] (fratello asino). Pada abad pertengahan terdapat pendapat bahwa tubuh manusia merupakan musuh jiwa, yang harus dilawan dan dikalahkan dengan puasa dan penyiksaan. Santo Fransiskus sendiri pernah mengalami sakit mata hingga hampir buta. Ia mengatakan bahwa kita harus memelihara tubuh kita sepantasnya supaya kita tetap berada dalam semangat kebahagiaan dan supaya tubuh kita tak terlalu berat untuk berjaga dan berdoa. Sehingga tubuh kita tak lagi mengeluh “lapar dan haus, tak kuat lagi untuk berdoa”. Maka hendaknya kita perlu memberi makan sepantasnya. Tetapi bila kita telah memberi makan sepantasnya dan masih mengeluh dan malas, maka kita perlu menggunakan cemeti untuk mengajar Saudara Keledai tersebut agar ia mau berjalan. Tetapi bila kita tidak memberinya makan, bagaimana mungkin kita mau memaksanya berjalan? Walaupun Santo Fransiskus mengajar sedemikian rupa, tetapi ia sendiri masih juga menyiksa tubuhnya sendiri. Kare ia begitu haus dan rindu akan Allah.

Waktu Santo Fransiskus sakit mata. Para saudara mengjaknya untuk pergi ke dokter. Ia pun bersedia. Dokter mata pun membakar sebatang besi hingga merah menyala. Santo Fransiskus berbicara dengan Saudara Api dengan lembut: “Tuhan Allah telah menciptakan Saudara agar memancarkan keindahan sebagaimana ciptaan lain. Saudara begitu indah mulia, perkasa dan penuh kegunaan. Tolonglah saya. Demi kasih Allah yang begitu cinta kepada Saudara. Saya mohon kepada Allah yang menciptakan Saudara, semoga Saudara mengurangi panas saudara, agar saya mampu bertahan”. Santo Fransiskus menghargai martabat tubuh yang begitu lemah, tetapi tidak memandang rendah. Sehingga ia berdoa agar memperolah ketabahan.

Kadang kala Santa Klara sendiri pun belum memahami “arti dasariah puasa dan matiraga” yang dilakukan oleh Santo Fransikus. Sehingga Santa Klara hanya mengikuti kebiasaan lama bahwa ia “harus menyiksa tubuhnya sendiri”. Semakin menderita berarti semakin dekat dengan Allah. Itulah ajaran yang diwarisi. Penyiksaan tubuh menjadi kebiasaan. Semakin kita sanggup menguasai kecenderungan tubuh, semakin dekat dengan Allah.

Akhirnya Santa Klara sendiri memahami secara tepat makna “puasa dan matiraga”, sebagaimana Santo Fransiskus ajarkan. Dalam Surat ketiga kepada Agnes dikatakan, “Hendaknya Anda tetap bijaksana, Anda hendaknya tetap menaruh simpati kepada yang lemah dan sakit, sebagaimana Bapa Fransiskus ajarkan. Dan hendaknya menyediakan makan sepantasnya bagi mereka”.[xxvi]

Para Suster mendapat pakaian untuk kerja tangan sehingga nyaman. Bunda berusaha mencari pakaian tersebut sesuai dengan ukuran para Suster. Pakaian tersebut amat berguna baik untuk dipakai pada waktu musim dingin maupun musim panas sesuai kebutuhan.[xxvii]

Santa Klara pada akhirnya memahami bahwa tubuh manusia bukanlah “musuh” jiwa. Walaupun demikian,kecenderungan tubuh hendaknya tetaplah harus diatur hingga selaras dengan kehendak Allah.Tetapi di pihak lain, tubuh sepertinya pantas mendapat hukuman dengan berpuasa, dan hendaknya memiliki ketekunan dalam menanggung penderitaan. Pada mulanya Santa Klara dengan berani mengatur diri sendiri apa pun yang ingin dilakukan terhadap tubuhnya. Tetapi waktu tubuhnya menjadi sakit dan lemah ia pun membiarkan diri dirawat oleh Saudari lain.

Pada akhir hidup Santa Klara, ia mengalami banyak penderitaan, bersama dengan para Suster di biara San Damiano. Suster Phillipa saksi mata memberikan kesaksian. “Ia mengungkapkan bahwa terdapat seorang Suster bernama Suster Andrea dari Ferrara. Ia sakit tenggorokan. Santa Klara memahami bahwa ia ingin disembuhkan. Suatu malam waktu Suster Andrea berada di kamar timbullah rasa sakit tenggorokan tak tertahan. Ia menekan tenggorokannya keras-keras hingga tak bisa berbicara. Secara instink dan inspirasi ilahi Bunda Klara mengetahuinya dan berbicara dengan saksi mata tersebut. “Pergilah ke kamar Suster Andrea yang sedang menderita sakit begitu berat. Berilah minum dan ajaklah kemari”. Ia pun melaksanakannya. Suster Andrea sendiri menyimpan pengalaman tersebut. Akhirnya ia pun menceritakan kejadian tersebut kepada para Suster”.[xxviii]

Puasa dan berjaga hanyalah sarana melakukan pertobatan. Bagi Santo Fransiskus melakukan pertobatan berarti juga menerima segala penderitaan badaniah. Bagi Santa Klara pertobatan juga menerima segala penderitaan baik penderitaan yang terjadi dalam dirinya maupun penderitaan yang menimpa para Suster.

——————————————

[i] Menjalani “hidup pertobatan”, cara hidup baru dengan semangat injili.

[ii] Kiranya nama tempat, biara Para Putri Saleh.

[iii] Pada waktu itu untuk masuk biara tidaklah mudah: harus berasal dari keluaga terhormat, membawa harta warisan, memiliki dasar pendidikan. Para wanita saleh, berasal dari masyarakat biasa dan sederhanya, ingin mengalami hidup bersama, doa bersama dan bekerja di tengah masyarakat dan membaktikan hidup bagi Allah dan msayarakat. Mereka tidak memiliki pedoman hidup, tak ada proses formasi, semacam kelompok pendalaman rohani.

[iv] Chatarina nama baptis.

[v] Bukan biara pada umumnya seperti Biara Santo Paulus, Benediktin, tetapi Kelompok Para Wanita Saleh”. Walau pun Santa Klara sendiri bukanlah anggota, tetapi hanya sebagai tamu, menjadi pelayan bagi mereka.

[vi] Sebenarnya bukanlah Biara seperti biara Santo Pauo, tetapi biara Para Putri Saleh, yang belum memiliki pedoman hidup resmi.

[vii] Leg. Cl. 4: FF 3204

[viii] Hukum Gereja pada waktu itu mengatur bawha penganiayaan terhadap anggota religious terkena ekskomunikasi.

[ix] Leg. Cl. 25. FF 3205.

[x] Inilah mukjijat awal yang terjadi selama Santa Klara masih hidup.

[xi] Leg. Cl. 26:FF 3206.

[xii] Leg. Cl. 10: FF 3174, Proc. 12, 5: 20, 7: FF 3089; 3146.

[xiii] Santo Fransiskus tak pernah berpikir untuk mendirikan Ordo, tetapi setelah menyaksikan kehadiran Santa Klara dan Agnes, ia pun memikirkan untuk mendirikannya.

[xiv] Reg. Cl. 6,1-4: FF 2787-9.

[xv] Rnb 12,4: FF 38.

[xvi] Was 1.

[xvii] Pada zaman itu tidaklah mudah masuk biara. Tetapi banyak orang ingin memasuki biara, melakukan pertobatan. Mereka pun membentuk kelompok hidup bersama dengan mengucapkan janji setia tetapi tidak memiliki suatu Anggaran Dasar. Terdapat pimpinan rumah, atau pimpinan biara. Mereka memelihara hidup bersama dengan kerja tangan atau merawat orang sakit dan karya lain. Giacomo da Vitry pun mengurus kelompok hidup bersama tersebut di daerah Eropa utara, Belia, Perancis dan German.Beliau pun pergi mengunjungi kelompok para putri miskin di Perugia yang pada waktu masih dalam proses minta ijin resmi dari kepausan.

[xviii] Mereka berusaha agar masyarakat melakukan pertobatan dan meninggalkan dunia.

[xix] Surat Giacomo de Vitry, ditulis di Genova, Oktober 1216.

[xx] Ia tidak makan sama sekali, bukan hanya berpuasa seperti kita, makan hingga kenyang satu kali.

[xxi] Leg. Cl. 18: FF 3194.

[xxii] Leg. Cl. 18. FF 3195.

[xxiii] Proc. 1,8: FF 2932: Bagaimana mungkin ia bisa bertahan hidup dengan cara demikian? Proc. 3,5: FF 2971: Pada hari ke dua, ke empat dan ke enam berpuasa. Sementara hari lain ia hanya makan sekeping roti dan air tawar.

[xxiv] Leg. Per. 2: FF 1546; Fior. 18: FF 1848.

[xxv] Kuda atau keledai beban.

[xxvi] 3 Let. Cl. 31: FF 2985.

[xxvii] Reg. Cl. 2,16-17.

[xxviii] Proc. 3,16: FF 2982.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *