Klara – Wanita dalam Keheningan dan Kenangan (Bagian 4)

26/09/2014
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 554 kali

BAB 4: PERTOBATAN (LA CONVERSIONE)[i]

Dalam bahasa Latin converto-converti-conversus berarti mengubah cara hidup.  Istilah lain poenitentia-poenitentiae berarti  mengubah sikap. Bila diterapkan dalam pertobatan Santa Klara, bertobat berarti mengubah cara hidup. Perubahan cara hidup dari hidup sebagai awam dalam keluarga orangatua Santa Klara menjadi cara hidup bakti dalam biara. Marilah kita bandingkan pertobatan Santo Fransiskus dan Santa Klara.

Dalam Wasiat, Santo Fransiskus menulis bahwa “Tuhan Allah menganugerahkan kepadaku Sdr. Fransiskus untuk mulai melakukan pertobatan[ii]. Waktu saya masih dalam dosa[iii] waktu memandang orang kusta saya merasa jijik. Tetapi  Tuhan Allah menghantar saya ke tengah-tengah orang kusta, dan tergeraklah saya oleh belas kasihan kepada mereka. Setelah saya merasa terbiasa dengan mereka, yang sebelumnya saya merasa jijik, berubah bagiku mejadi sumber penghiburan jiwa dan badan. Setelah itu saya tak menunggu-nunggu lagi untuk meninggalkan dunia…”[iv]

“Meninggalkan dunia” bagi Santo Fransiskus berarti melakukan pertobatan. Dalam tradisi Gereja dan para bapa Gereja telah terbiasa menggunakan istilah teresebut. Sebagai contoh, Santo Athanatius menulis riwayat hidup Santo Antonius, pimpinan biara. Pada abad ke 4 yang telah terjadi pada abad ke 3, “Waktu orangtua Santo Antonius meninggal, ia dan saudarinya menjadi yatim piatu. Waktu itu adik putrinya tersebut masih kecil. Waktu itu Santo Antonius pergi ke gereja dan mendengarkan injil tentang “Orang muda kaya”. Orang muda kaya tersebut menanyakan kepada Tuhan Yesus, bagaimana caranya memperoleh hidup yang kekal. Tuhan Yesus menjawab bahwa bila hendak menjadi orang sempurna, pergilah, juallah yang dimiliki dan berikanlah kepada orang miskin. Engkau akan memiliki harta di Sorga, dan ikutilah Aku … (Mt 19, 21). Santo Antonius merasakan bahwa Injil tersebut ditujukan kepada dirinya. Keluar dari gereja, ia segera membagikan sebagian besar harta kekayaan yang dimiliki. Ia memiliki banyak harta, karena orangtuanya memang orang terhormat dan kaya. Ia meyimpan sebagian kecil harta kekayaan untuk adik perempuan. Ia kembali pergi ke gereja.[v] Di gereja dibacakan Injil tentang “Jangan kawatir tentang hari esok”. Sanato Antonius segera melaksanakan pesan Injil yang baru saja ia dengar. Harta yang ia simpan untuk adik putrinya pun dibagikan kepada orang miskin. Ia menitipkan adik perempuan kepada kelompok prutri di gereja setempat.[vi] Ia sendiri masuk biara. Ia keluar dari kota Alexandria dan pergi ke tempat terpencil di padang gurun. Selanjutnya ia menjadi teladan dalam menghayati cara hidup terpencil  di padang gurun.

Barangkali kita mengira bahwa peristiwa hidup memaksa kita mengubah cara hidup. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. “Hidup pertobatan” merupakan “lahir kembali”, sebagaimana Tuhan Yesus katakan kepada Nikodemus, “Barangsiapa tidak lahir kembali dengan air dan roh tak bisa masuk kerjaaan Allah” (Yoh 3, 5). Dalam hal ini, meninggalkan dunia berarti rela meninggalkan rasa nyaman dan aman di rumah orangtua dan pergi tinggal di padang gurun.  Selanjutnya terdapat kelompok-kelompok serupa. Tetapi tujuan utama adalah mengubah hidup agar selaras dengan cara hidup Yesus Kristus.

Kapan Santo Fransiskus mulai bertobat? Menurut Celano dalam riwayat hidup Santo Fransiskus diungkapkan bahwa “Tangan Tuhan Allah yang mahakuasa menuntun jalan hidup Santo Fransiskus. Tangan kanan Tuhan Allah yang mahakuasa sanggup mengubah jalan hidup seseorang.Dengan perantaraan orang yang dilipih, Tuhan Allah menunjuk orang-orang berdosa memiliki harapan baru untuk melakukan pertobatan.[vii] Agar ia memiliki hidup baru dengan rahmat Allah. Dan ia menjadi teladan bagi semua orang yang melakukan pertobatan kembali kepada Allah.[viii]

Menurut riwayat hidup tersebut, Santo Fransiskus mulai melakukan pertobatan waktu ia sakit. Santo Fransiskus sadar bahwa orang yang keras kepala perlu diajar secara keras pula, hingga sakit secara fisik. Sehingga ia tak lagi merindukan diri untuk menjadi ksatria. Ia juga tak berpikir lagi bahwa dirinya orang penting. Ia tak lagi mencari ketenaran secara duniawi. Ia mulai memandang rendah segala hal yang sebelumnya ia mimpikan dan cita-citakan. Santo Fransiskus menyadari bahwa dirinya melakukan banyak dosa. Ia terbiasa mencitakan-citakan hal-hal yang rendah dan duniawi, sekarang ia memikirkan dan mencita-citakan hal-hal sorgawi.

“Santo Fransiskus didera penderitaan fisik dalam jangka waktu lama. Hidup batinnya berubah total. Waktu ia mulai menyadari kenyataan. Ia pun mulai menyadari kelemahan fisik juga. Ia mulai belajar berjalan dengan dibantu dengan tongkat penyangga. Suatu hari ia pergi ke luar untuk melihat-lihat hijaunya rerumputan dan pemandangan alamiah di sekeliling. Ia merasa amat tertarik dan kagum, tak seperti sebelumnya. Ia begitu terpesona indahnya rerumputan, padang, seperti seorang petani begitu terpesona pada kebun anggur. Sebelumnya ia tak tertarik sama sekali. Bahkan ia menilai bahwa bila orang terpesona tentang hal-hal tersebut hanyalah orang-orang yang bodoh dan tak bijaksana sama sekali”.[ix] Celano hanya mau mengungkapkan bahwa Santo Fransiskus mengalami perubahan batin.

Dalam Wasiat, Santo Fransiskus menulis bahwa, “Yang sebelumnya bagiku merupakan hal yang memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan…”[x] Perubahan batin terjadi waktu ia berhasil mengalahkan diri sendiri. Waktu ia berani memeluk dan mencium orang sakit kusta. Dalam Wasiat diungkapkan dengan tegas, ia “mencium orang kusta”. Waktu Santo Fransiskus bertobat, ia belum bisa disebut “hidup membiara”. Karena pada waktu itu hidup membiara berarti mengubah cara hidup, cara hidup awam menjadi cara hidup membiara, di dalam biara. Bisa kita bandingkan dengan Santo Antonius, setelah meandengarkan Injil dan menjual segalanya, ia pergi ke padang gurun dan banyak orng bergabung dengannya dan mendirikan biara.  Tetapi Santo Fransiskus pada awal pertobatannya hanyalah seorang diri. Pada zamannya, memasuki hidup membiara berarti memasuki hidup dalam biara, seperti biara Benediktin.Tetapi cara hidup Santo Fransiskus pada awal pertobatannya tetap berada di tengah masyarakat.

Santo Fransiskus dan Celano tak menyebut bahwa cara hidup Santo Fransiskus memasuki hidup membiara, mengingat ia “tak meninggalkan dunia”, ia tetap berada di tengah masyarakat. Maka nama kelompok Santo Fransiskus disebut “Kelompok orang yang sedang menjalani hidup penintesi”. Santo Fransiskus mengikuti nasihat Injili yang mengatakan bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatglah dan percayalah kepada Injil” (Mk 1, 15). Istilah dipakai “melakukan pertobatan” lebih baik daripada “melakukan penitensi”.[xi] Perubahan hidup terjadi dengan meninggalkan suatu keyakinan dan cara hidup lama dan menjalani keyakinan dan cara hidup baru. Hidup bhakti pada umumnya terjadi sejak kapan? Kiranya hidup bhakti mulai di Mesir sebagian kecil dan di daratan Eropa pada zaman Kaisar Konstantin menganut agama Kristen. Bahkan agama Krsiten dianggap sebagai agama negara, walaupun di Eropa juga terdapat banyak suku.[xii] Banyak orang melakukan pertobatan menjadi orang Kristen karena adanya kepentingan pribadi. Mengingat bahwa Kaisar Konstantinus mendukung kekristenan. Secara lahiriah kekristenan Roma lebih mulia dari pada kekristenan Yunani. Tetapi secara batiniah sama saja. Artinya orang-orang yang memeluk cara hidup Kristen tidaklah bertobat sungguh-sungguh, hanya semacam ganti pakaian atau cara hidup lahiriah. Orang kristen mengikuti tata cara hidup kristen, tetapi tak sungguh-sungguh menjalani ajaran Kristus. Orang yang sungguh-sungguh ingin menjalani kekristenan sungguh-sungguh cenderung keluar dari masyarakat kristen, dan mendirikan biara atau kongregasi agar dapat menjadi murid Kristus dan melaksanakan ajaranNya  dengan sungguh-sungguh. Sehingga terjadi “pertobatan”. Walaupun orang dewasa yang telah lama memeluk agama kristen pun bisa melakukan pertobatan. Artinya orang yang menghayati hidup kekristenan secara dangkal, melakukan pertobatan batin untuk menjadi murid Yesus sejati.

Dewasa ini banyak orang Katolik tetapi cara hidupnya tidaklah katolik. Mereka menerima semua sakramen Gerejawi, sakramen baptis, penguatan, komuni, dan perkawinan, dan pergi ke Gereja sebagaimana wajarnya. Tetapi mereka tak sungguh-sungguh menghayati kekristenan secara mendalam. Maka orang-orang tertentu yang sungguh ingin menhayati kekristenan berani  “keluar dari dunia”, keluar dari kebiasaan masyarakat dan menjalani pertobatan walaupun tetap berada di tengah masyarakat. Mereka menjadikan Tuhan Yesus sebagai pusat hidup (bdk. Yoh 1,15-16).

Kita sedang membicarakan tentang proses pertobatan. Pertobatan tidaklah terjadi sekali saja, tetapi pertobatan berlangsung terus-menerus. Pertobatan Santo Fransiskus kiranya bermula dari keberaniannya mencium orang kusta, sebagaimana Celano ungkapkan.

“(Dalam perjalanan akhir hidupnya, Santo Fransikus) memiliki rencana untuk mengantar tubuhnya yang mulai melemah, melakukan pertobatan dengan melakukan ketaatan ilahi. Maka ia menghalau keinginan lama yang ingin hidup mengikuti dorongan daging. Karena keinginan tersebut menjadi hambatan yang hendaknya dikuasai dengan cara hidup ketat. Apalagi fisiknya mulai melemah karena sakit. Santo Fransiskus mengatakan kepada para saudaranya, “Saudara-Saudara, marilah kita  mulai lagi, karena hingga kina kita belum berbuat apa-apa, atau tak mengalami kemajuan”. Santo Fransiskus tak menyadari bahwa ia telah mencapai akhir perjalanan dan ia pun tidak bosan-bosannya membaharui janji suci dan siap berinisiatif untuk mulai lagi. Ia ingin kembali lagi menngawali pertobatan dengan memeluk orang kusta dan ingin dihina seperti pada peristiwa masa lalu..” Tak mudah menentukan pengalaman Santo Fransiskus, kapan ia sungguh-sungguh mulai  melakukan “pertobatan”. Bagi Santo Fransiskus, barangkali pertobatan mulai waktu ia mencium orang kusta. Tetapi pada akhirnya bagi dia, “tiap hari merupakan awal pertobatan, marilah kita mulai lagi melakukan pertobatan”[xiii].

Berkaitan dengan keputusan Santa Klara, kita memiliki bukti pasti (lebih dari Santo Fransiskus). Karena setelah kematian Santa Klara terdapat banyak saksi mata yang disumpah untuk memberi kesaksian. Tak seorang pun ragu-ragu lagi bahwa Santa Klara meninggalkan rumah dan pergi mengikuti Santo Fransiskus dan tinggal di biara San Damiano.

Hal yang aneh terjadi, yaitu Santa Klara meninggalkan rumah/meninggalkan dunia. Dan menjalani hidup membiara. Pada hal sebenarnya pada waktu itu belum memiliki biara Fransiskan mana pun. Penulis berusaha menemukan data yang jelas tentang Santa Klara yang meninggalkan rumah dan mengikuti Santo Fransiskus. Masyarakat Assisi memberikan reaksi macam apa waktu mendengar bahwa Santa Klara meninggalkan rumah. Sr. Beatrice, adik Santa klara sendiri memberi kesaksian.

“Ia mengatakan bahwa waktu Santo Fransiskus mendengar bahwa Santa Klara adalah orang kudus, Santo Fransiskus memberi nasihat kepadanya beberapa kali. Sehingga Santa Klara menerima ajakan Santo Fransiskus dan meninggalkan dunia dan segala-galanya. Supaya ia dapat membaktikan seluruh diri kepada Tuhan Yesus Kristus sedapat mungkin. Ia menjual segala harta miliknya[xiv] dan sebagaian harta milik saksi mata. Uang tersebut dibagikan kepada orang miskin. Setelah itu Santo Fransiskus menerima Santa Klara dengan memotong rambutnya di depan altar gereja Portiuncola. Ia dihantar ke biara Santo Paulus. Ia pun membuka selubung untuk menunjukkan kepada semua anggota keluarga dan semua kerabat bahwa tak mungkin lagi ia kembali ke keluarga.”[xv]

Bapa Suci Alexander ke 4 mengeluarkan dekrit kanonisasi Santa Klara dengan mengutip kata-kata saksi mata Sr. Beatrice dengan judul “Clara Claris Praeclara” (Cahaya lebih bercahaya di tengah yang bercahaya) (FF 3286-3288).

Terdapat 4 bagian penting terungkap dalam peristiwa pertobatan Santa Klara, sebagai berikut:

  1. Santa Klara bertemu Santo Fransiskus;
  2. Santa Klara memutuskan  untuk meninggalkan dunia dan menjual segala milik dan membagikannya kepada orang miskin;
  3. Upacara  penerimaan Santa Klara dengan memotong rambut di gereja Portiuncola;
  4. Perjuangan melawan keluarga dan kerabat.

Bila kita bandingkan dengan kisah Santa Klara menurut Celano terdapat kemiripan:

Pada bab 3 “Mengenal dan menjalin persahabatan dengan Santo Fransiskus”.

Pada bab 4 “Dengan bantuan Santo Fransiskus, Santa Klara dapat memasuki hidup membiara”.

Pada bab 5 “Santa Klara berjuang melawan segenap keluarga dengan penuh keberanian dan keyakinan”.

  1. Santa Klara bertemu Santo Fransiskus

Sr. Beatrice bersumpah bahwa Santo Fransiskus mendengar tentang keutamaan Santa Klara yang begitu terkenal, sehingga ia berusaha bertemu dan menasihati Santa Klara.[xvi] Bila kita bandingkan dengan kisah Santa Klara menurut Thomas Celano, diungkapkan bahwa baik Santo Fransiskus maupun Santa Klara mendapat inspirasi dari Roh Kudus untuk saling bertemu. “Telah dikatakan bahwa Santa Klara tidak tertarik kepada seorang pun untuk menikah. Tetapi ia tertarik kepada seseorang yang bernama Fransiskus. Ia melakukan hal-hal yang aneh. Ia menjalankan hidup selaras dengan Tuhan Yesus Kristus. Santa Klara mendapat inspirasi dari Roh Kudus untuk bertemu Santo Fransiskus. Santo Fransiskus sendiri timbul keinginan untuk bertemu Santa Klara”.[xvii]

Tetapi Bona, anak putri Guelfuccio (Madonna Bona de Guelfuccio de Assisi) mengatakan bahwa Santa Klara sendiri yang berinisiatif ingin bertemu Santo Fransiskus. Ia bersumpah bahwa “saksi mata pernah pergi dengan Santa Klara untuk bertemu dengan Santo Fransiskus. Mereka pergi dengan sembunyi-sempunyi agar tak diketahui oleh bapa-ibu”[xviii]

Kita hendaknya percaya pada sumber mana? Kita hendaknya ingat juga bahwa pada waktu itu Sr. Beatrice masih kecil waktu peristiwa terjadi. Di kemudian hari, ia mendengar tentang Santo Fransiskus. Tetapi Bona berusia berdekatan dengan Santa Klara dan ia pun menjadi teman dekat dengan Santa Klara. Ia tahu bahwa Santa Klara sendiri yang berinisiatif ingin bertemu Santo Fransiskus. Ia mengatur rencana pertemuan dan berhasil. Bona juga mengatakan bahwa ia pernah menerima sejumah uang dari Santa Klara untuk diberikan kepada orang yang sedang memperbaiki gereja Portiuncola untuk membeli makanan”.[xix]

Kiranya Santa Klara mengetahui pengalaman Santo Fransiskus, terutama dari Sdr. Rufino[xx]. Sdr. Rufino adalah kemenakan Santa Klara sendiri. Ia telah menjadi anggota para saudara awal Santo Fransiskus. Santa Klara terbiasa berderma kepada orang miskin. Santa Klara memiliki hati yang penuh belasih kasih dan simpati kepada orang miskin, sebagaimana Bona sampaikan, “Bunda Klara memiliki hati yang suci dan murah hati selalu. Belaiau selalu siap melayani Tuhan Allah sehingga Tuhan Allah berkenan”.[xxi] Waktu Santa Klara mendengar tentang Santo Fransiskus dan para saudara awal, ia bersukacita. Karena ia sendiri sedang mencari kehendak Allah. Tetapi ia tidak tahu Allah menghendaki apa atas dirinya. Ia hanya memahami satu hal, yaitu ia tidak mau menikah. Bunda Ortulana, memang orang baik, ia orang saleh, orang baik dan ia suka berziarah. Tetapi Santa Klara tidak mau mengikuti cara hidupnya. Santa Klara beberapa kali membantu memberikan sumbangan kepada Santo Fransiskus dan para saudara awal dalam membangun gereja, pada dasarnya hanyalah sarana untuk mendengar nasihat dari Santo Fransiskus.  Hendaknya ia bertindak bagaimana agar selaras dengan kehendak Allah, bukan hanya sekedar memelihara sikap berbelakasih.

Thomas Celano mengatakan bahwa Allah Bapa, Roh Kudus mendorong keduanya untuk saling bertemu. Pertemuan antara Santo Fransiskus dan Santa Klara memang terjadi sungguh-sungguh sebagaimana terungkap dalam bukti nyata.  Pertemuan tersebut membuat  Santa Klara tidak ragu-ragu lagi. Batinnya menjadi tenteram. Ia sanggup memutuskan dan memilih jalan hidup yang berkenan kepada Allah, menempuh jalan injili. Santa Klara melakukan pertobatan. Santa Klara merasa tidak cukup hanya  mencari Allah, kehendak Allah, dengan membantu dan terkenal dengan memperhatikan orang miskin. Semua hal tersebut tidaklah cukup bagi Santa Klara. Setelah bertemu Santo Fransiskus, Santa Klara mendapat nasihat yang begitu jelas jalan hidup yang harus ia tempuh.

Setelah bertahun-tahun berlalu, Santa Klara mengingat kembali pengalaman awal, pertemuan dengan Santo Fransiskus. Dalam Anggaran Dasar, yang Santa Klara tulis menjelang kematiannya, diungkapkan, “Setelah Allah Bapa yang maha kuasa di Sorga menganugerahkan kepadaku, untuk melakukan pertobatan, menurut teladan dan nasihat Bapa kita Fransiskus, tak lama setelah ia melakukan pertobatan, saya dan beberapa suster berjanji secara sukarela, berjanji taat kepada Anda”.[xxii]

Dengan istilah “dengan sukarela”, Santa Klara memutuskan dengan penuh keyakinan dan jelas telah memilih jalan hidup dan telah memutuskan dengan bebas, dengan sadar, dan telah mempertimbangan dengan matang, walaupun pada waktu itu ia baru berumur 18 tahun.

Menurut Thomas Celano, Santa Klara sendiri yang berinisiatif bertemu Santo Fransiskus. “Dengan demikian Santa Klara bertemu dengan Santo Fransiskus. Tetapi kebanyakan Santa Klara sendiri yang pergi menemui Santo Fransiskus”.[xxiii]  Tetapi pertemuan tersebut terjadi secara tersembunyi, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dan hal itu tak mencemarkan ketenarannya. Ia biasa mengajak teman akrap,[xxiv] setiap kali bertemu dengan Santo Fransiskus. Seorang wanita sembunyi-sembunyi, agar tak diketahui orangtuanya untuk bertemu Santo Fransiskus, orang yang berasal dari Tuhan Allah. Tindakan tersebut bukanlah tindakan yang biasa ia lakukan sebelumnya.[xxv] Bukan hanya Santa Klara yang harus berhati-hati, tetapi Santo Fransiskus sendiri juga menjaga diri agar tidak menjadi batu sandungan bagi masyarakat. Karena di mata msyarakat, Santo Fransiskus sedang mulai menjalani hidup sebagai orang religius di tengah masyarakat, walaupun tidak tinggal di biara sebagaimana orang religius pada umumnya. Masyarakat telah mengenal Santo Fransiskus dan para saudara awal menjalani hidup pertobatan, sesuai dengan injil. Bila masyarakat mengetahui bahwa Santo Fransisksus sembunyi-sembunyi bertemu dengan seorang wanita, tentu saja masyarakat akan kehilangan kepercaayaan kepada mereka. Santo Fransiskus sungguh sangat hati-hati, apalagi Kota Assisi hanya kota kecil, masyarakat saling mengenal. Tetapi Santo Fransiskus pun takut pada keluarga Santa Klara. Bona, saksi mata mengungkapkan hal sama bahwa Santa Klara bersama seorang sahabat diam-diam menemui Santo Fransiskus. “Saksi mata pernah pergi bersama dengan Santa Klara untuk bertemu Santo Fransiskus. Mereka pergi dengan sembunyi-sembunyi, agar orang tua tak mengetahui”.[xxvi] Kiranya Santa Klara lebih banyak mengalami kesulitan, karena keluarga terkenal nama baiknya. Santo Fransiskus memahami dengan baik situasi Santa Klara, karena Santo Fransiskus mengalami betapa sulitnya orangtua memahami peristiwa hidupnya. Santo Fransiskus terpaksa berani melawan orangtuanya yang tidak mengerti cita-cita hidupnya. Ia mendapat perlawanan dari keluarganya sediri dalam menjalani panggilan hidup pertobatan. Karena itu ia memahami betul situasi Santa Klara. Apalagi sebagai seorang wanita keturunan bangsawan, Santa Klara selalu dijaga dan dilindungi secara ketat. Santo Fransiskus sendiri kiranya mengetahui bahwa keluarga Santa Klara telah merencanakan pernikahannya. Bila keluarga mengetahui bahwa Santo Fransiskus membujuk Santa Klara untuk meninggalkan dunia, ia pun akan terkena akibatnya.

Meninggalkan Rumah

Pertemuan antara Santa Klara dengan Santo Fransiskus baru berlangsung belum beberapa bulan. Tetapi Santa Klara begitu terdesak untuk segera “meninggalkan dunia”, sebagaimana terungkap dalam tulisan Celano. “Santa Klara bertannya: “berapa lama harus menunggu?” Pemikiran Celano membandingkan dengan peristiwa perkawinan. Pada waktu itu dalam proses perkawinan dibutuhkan pengantara antara pihak pria dan pihak wanita untuk mengatur berlangsungnya proses perkawinan hingga tuntas. Allah Bapa kiranya menjadi pengantara antara Santa Klara dengan Tuhan Yesus dalam menjalani hidup pertobatan. Waktu Santa Klara siap menanggapi panggilan hidup pertobatan, bisa diibaratkan “menjalani perkawinan dengan Tuhan Yesus”. Santa Klara telah siap menjalani hidup pertobatan, karena itu ia mempertanyakan, “Mengapa harus begitu lama menunggu?” Telah tiba waktunya untuk memutuskan, tak bisa ditunda lagi.[xxvii]

Setelah terjadi pembicaraan, timbullah keinginan untuk mejalani “hidup pertobatan”. Bona, saksi mata memberi kesaksian bahwa “Bunda Klara mulai melakukan pertobatan dengan cara bagaimana? Ia menjawab bahwa “Santo Fransiskus memotong rambut Santa Klara di gereja Portiuncola, sejauh saya dengar. Tetapi ia sendiri tidak melihat secara langsung. Karena pada waktu itu ia pergi ke Roma untuk pergi menyendiri”.[xxviii]

Penulis butuh mencari saksi lain, karena Bona tidak hadir pada peristiwa pertobatan awal Santa Klara. Ia hanya mendengar. Setelah meneliti dengan saksama kesaksian para saksi mata, penulis mengungkapkan sebagai berikut: “Menjelang Minggu Palma, Santa Klara berhasil bertemu Santo Fransiskus, orang yang berasal dari Tuhan Allah. Ia hendak mengetahui dengan jelas dan pasti, hendaknya melakukan pertobatan dengan cara bagaimana, dengan melakukan apa. Santo Fransiskus menasihati Santa Klara agar berpakaian indah dan mengenakan segala perhiasan sepantasnya (sejauh memiliki) dan mengikuti perayaan bersama dengan umat, tetapi pada malam itu hendaknya meninggalkan rumah.[xxix] Santa Klara melaksanakan  nasihat Santo Fransiskus. Ia mengenakan pakaian indah mulia dan mengikuti perayaan di tengah para wanita mulia pula. Ia nampak begitu mulia bercahaya. Hal yang aneh terjadi. Pada waktu penerimaan daun palma, semua orang ikut antri untuk menerima daun palma dari Bapa Uskup. Tetapi Santa Klara seorang diri yang tetap duduk di tempat…”.

Celano mengartikan peristiwa tersebut berbagai macam arti: ada unsur rasa malu, atau rasa rendah hati. Tetapi sebenarnya acara semacam itu telah terjadi setiap tahun. Kiranya ia tidaklah merasa malu. Celano sendiri tidaklah memahami. Nampaknya semacam ada kesepakatan bahwa Bapa Uskup sendiri mengantar daun palma dan menyampaikan kepada Santa Klara. Karena pada waktu itu Santo Fransiskus juga hadir dalam perayaan tersebut. Kiranya Bapa Uskup memberikan pertanda bagi Santa Klara untuk diperbolehkan meninggalkan rumah.

“Pada hari Minggu Palma, semua orang antri untuk  menerima daun palma  dari Bapa Uskup. Tetapi hanya Santa Klara seorang diri tetap duduk diam, sepertinya sedang mengalami kontemplasi[xxx]. Bapa Uskup memperhatikan dan segera bangkit mengantar daun palma langsung ke tangan Santa Klara.[xxxi] Bapa Uskup kembali melanjutkan uparaca. Pada malam itu waktu semua orang telah lelap tidur, Santa Klara mengikuti nasihat Santo Fransiskus. Ia meningalkan rumah melalui “pintu orang meninggal”.  “Pintu orang meninggal”[xxxii] mengisyaratkan bahwa Santa Klara meninggalkan segalanya, seluruh keluarga, masyarakat dan dunia. Ia menuju gereja Portiuncola, gereja kecil di luar kota Assisi. Para saudara telah menunggu sambil berdoa dengan pelita tetap bernyala. Mereka siap menerima kedatangan Santa Klara yang meninggalkan “kota Babilon”. Para saudara[xxxiii]  memotong rambutnya dan ia melepaskan pakaian kemewahannya …”[xxxiv]

Santo Fransiskus memilih hari upacara pada awal pekan suci, memperingati sengasara dan wafat Tuhan Yesus. Pada waktu itu terjadi kebiasaan untuk membaptis orang dewasa pada hari Minggu Palma[xxxv]. Santo Fransiskus memilih hari Minggu Palma sebagai awal hidup pertobatan Santa Klara. Artinya sebagai hari pembaharuan janji baptis dan memasuki hidup mengikuti penderitaan Tuhan Yesus Kristus. Santo Fransiskus meminta Santa Klara untuk berpakaian kemegahan untuk menyambut Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem. Tetapi pada malam harinya, ia pun mengikuti penderitaan Tuhan Yesus memikul salib ke Golgota.[xxxvi]

Santa Klara mengenakan pakaian sederhana[xxxvii], seperti yang biasa dipakai oleh masyarakat biasa atau para petani. Celano mengungkapkan bahwa bukan Santo Fransiskus seorang diri yang memotong rambut Santa Klara, tetapi para saudara. Tetapi saksi mata mengatakan bahwa Santo Fransiskus sendiri yang memotong rambut Santa Klara.

Luigi Padovese mengatakan bahwa “Pemotongan rambut” di depan altar gereja Portiuncola bukanlah upacara janji setia[xxxviii], tetapi sebagai tanda kesediaan menjalani “hidup pertobatan”. Dalam kisah Santa Klara dikatakan bahwa “pemotongan rambut” berarti “meninggalkan dunia”.  Dengan demikian Santa Klara sama seperti para saudara lain yang sedang menjalani hidup pertobatan. Pemotongan rambut sebagai tanda sebagaimana orang hidup membiara[xxxix]. M. Bartoli mengungkapkan bahwa pemotongan rambut berarti memasuki dan menjalani “hidup pertobatan”, hidup mengikuti nasihat Injil. Para saudara awal Santo Fransiskus pun demikian juga, mereka pun belum menjadi biarawan sebagaimana kita pahami dewasa ini. Mereka menjadi kelompok orang-orang yang sedang melakukan pertobatan mengikuti Injil Suci. Pada waktu itu Ordo belum terbentuk. Dengan hadirnya seorang wanita dalam kelompok para saudara tentunya menimbulkan masalah bagi Santo Fransiskus. Tetapi Santo Fransiskus juga senang karena bukan hanya pria tetapi juga wanita menjalani hidup pertobatan. Apalagi selanjutnya Agnes, saudari Klara mengikutinya. Dalam Anggarn Dasar Non Bulata diungkapkan bahwa “Tidaklah diperkenankan wanita menjanjikan ketaatan kepada mereka. Tetapi setelah diberi nasihat di ruang pengakuan dosa, hendaknya ia pergi menjalani hidup pertobatan di tempat yang ia sukai.”[xl]

Mengapa dalam Anggaran Dasar dilarang menerima janji ketaatan seorang wanita, tetapi Santo Fransiskus sendiri melakukan? Kita tentu saja melihatnya sebagai kekecualian. Bahkan biara San Damiano pun merupakan biara kekecualian. Hanya setelah berlangsungnya waktu biara San Damiano sungguh secara kanonik menjadi biara. Hendaknya kita pahami bahwa Santo Fransiskus dan para saudara awal tidak lagi melakukan yang berlawanan dengan Anggaran Dasar. Selanjutnya terserah kepada Santa Klara memilih tempat yang pantas untuk “melakukan pertobatan”. Tetapi Santo Fransiskus dapat mengatur sedemikian pantas. Celano mengungkapkan, “Setelah Klara menerima pakaian pertobatan di depan altar gereja Portiuncola, ‘ibarat melakukan pernikahan dengan Tuhan Yesus’, terjadilah perubahan dalam dirinya, Santa Klara orang yang tidak pantas, menjadi permaisuri Tuhan Yesus Kristus. Selanjutnya Santo Fransiskus mengantar dia untuk tinggal di biara Santo Paulus (Biara Benediktin) untuk menjalani “hidup pertobatan” dengan menjadi pelayan. Dengan harapan, ia tinggal di sana hingga Allah yang Mahakuasa menunjukkan jalan terbaik atas dirinya”.[xli]

Perjuangan melawan sanak keluarga

Waktu sanak keluarga sadar bahwa Santa Klara telah meninggalkan rumah, mereka berusaha memaksa Santa Klara untuk kembali ke rumah. Dalam Dekrit “Clara claris praeclara” diungkapkan bahwa “waktu sanak keluarga memaksa Santa Klara kembali ke rumah, ia menunjukkan ketangguhannya. Ia memegang kain altar dan membuka selubung kepala, menunjukkan bahwa rambutnya telah dipotong”[xlii]. Kisah Santa Klara mengartikan peristiwa tersebut “ waktu sanak keluarga tahu bahwa Santa Klara telah memasuki hidup di biara, mereka serentak pergi ke biara Santo Paulus dengan geram. Mereka bermaksud menarik kembali Santa Klara agar kembali ke rumah. Mereka menggunakan cara macam-macam, dengan sikap marah, dengan membawa beberapa algojo, dengan kata-kata keras dan dengan bujuk rayu juga. Tetapi mereka tidak bisa melunakkan hati Santa Klara sama sekali. Santa Klara menunjukkan dirinya di hadapan mereka dengan berlutut di depan altar, diam sejenak, membuat tanda salib. Ia meraih kain altar, ia yakin tak ada kekuatan manapun di dunia ini sanggup melepaskan dia dari altar Tuhan. Ia pun membuka selubung untuk menunjukkan kepada mereka bahwa rambutnya telah dipotong[xliii]. Sanak keluarga terkejut waktu menyaksikan hal tersebut. Santa Klara kembali mengenakan selubung dan melepaskan kain altar yang ia pegang. Ia merasa tenteram dalam Gereja. Sanak keluarga mundur, kembali dengan hati kecewa. Tetapi mereka belum menyerah kalah. Mereka masih berusaha keras untuk tetap akan membawa Santa Klara kembali ke rumah. Tetapi semakin sanak keluarga berjuang keras, semakin Santa Klara menunjukkan ketegaran hatinya[xliv].

Akhirnya waktu sanak keluarga menyaksikan keteguhan batin Santa Klara, mereka pun mereda kemarahan mereka. Sebenarnya sanak keluarga memiliki kepentingan tersembunyi. Usaha keras mereka untuk menarik kembali Santa Klara ke rumah hanya untuk menunjukkan bahwa ‘hendaknya Santa Klara, sebagai keluarga bangsawan yang terhormat, menjaga kehormatan keluarga, dengan tidak memilih menjalani hidup yang hina sebagai pelayan seperti yang sedang ia lakukan”. Cara hidup seorang wanita bangsawan sebagaimana Santa Klara lakukan sebenaranya merendahkan martabat kebangsawanan keluarga (seperti halnya Santo Fransiskus, cara hidupnya merendahkan martabat orangtuanya). Karena Santa Klara tinggal di biara Benedikktin sebagai seorang pelayan (conserva), belum sebagai biarawati (monache di coro). Ia memilih hidup sebagai orang miskin, rendah hati, melayani Tuhan Yesus. Sanak keluarga bukan hanya berusaha keras agar Santa Klara kembali ke rumah, tetapi agar Santa Klara mengubah cara hidup, (yang selaras dengan martabat bangsawan).

Terhadap peristiwa Santa Klara tersebut, ada yang mengartikan bahwa tindakan Santa Klara tidak hanya “merendahkan” martabat bangsawan, tetapi juga dalam budaya ksatria, ia dianggap sebagai seorang ksatria yang “mengkhianati” janji ksatria. Pada zaman itu kstaria yang berkhianat dianggap membawa aib. Sekali lagi kita sadari bahwa Santo Fransiskus menitipkan Santa Klara di biara Santo Paulus, bukan sebagai biarawati, tetapi sebagai pelayan. Sebagai awam yang sedang menjalani “hidup pertobatan”. Pada waktu itu hukum gereja melindungi orang-orang yang melakukan “hidup pertobatan”.

Penulis juga mempertanyakan, “Mengapa Santa Klara masuk biara hanya sebagai pelayan?” Mengapa pimpinan Suster di biara tak menerima dia sebagai anggota tarekat?[xlv] Pada waktu itu bila seseorang mau menjadi anggota biara harus punya uang. Santa Klara masuk biara Santo Paulus tidak membawa uang atau warisan. Perkawinan pada waktu itu terjadi antara dua keluarga yang memiliki kuasa dalam masyarakat baik keluarga bangsawan maupun raja atau ksatria. Keluarga biasanya memiliki harta kekayaan. Keluarga pihak pria tidak mendukung bila anak mereka menikah dengan pihak putri dari keluarga yang tak lebih kaya. Seorang putri tak cukup untuk menikah dengan modal  kecantikan dan kebijaksanaan dan kepandaian, tetapi harus juga memiliki harta warisan kekayaan. Maka biasanya, keluarga telah membagi harta warisan semenjak anak-anak masih kecil. Bila anak laki-laki mendapat warisan berupa tanah pekarangan. Bila wanita, ia mendapat emas perhiasan dan pakaian kebesaran dan kemuliaan, harta yang bisa dibawa ke mana pun ia pergi. Pada waktu orang datang melamar seorang gadis, ia pun telah mengetahui ia akan mendapat harta keyaan yang dimiliki wanita tersebut. Sebagaimana Beatrice memberikan kesaksian  bahwa Santa Klara telah menjual segala kekayaan dan sebagian kekayaannya dan membagikan kepada orang miskin.[xlvi] Orang sedemikian bila masuk biara harus membawa segala harta dan warisan yang dimiliki. (Kita akan membicarakan kebijaksanaan Gereja tentang harta warisan bagi orang yang masuk biara).

Santa Klara diterima sebagai orang biasa, sebagai pembantu. Situasi pertobatan Santa Klara amat mirip dengan situasi Santo Fransiskus, yang tak mimiliki harta warisan sama sekali. Setelah Santo Fransiskus menyerahkan segala-galanya, termasuk pakaian pribadi di depan Uskup, bahkan masyarakat menyebut Santo Fransiskus sebagai orang tidak waras (Amaldo Fortini menyimpulkan bahwa kiranya Santa Klara telah mendengar tentang peristiwa pertobatgan Santo Fransiskus). Santo Fransiskus menjadi pelayan di sebuar biara[xlvii]. Setelah itu ia menjadi pelayan imam di gereja San Damiano,

Peristiwa Santa Klara memegang kain altar di biara Santo Paulus dengan kencang dan membuka selubung, ia menunjukkan bahwa ia telah meninggalkan dunia dan membaktikan diri kepada Allah. Sanak keluarga tak bisa berbuat apa-apa, karena Gereja melindungi, menyalahi orang yang membaktikan diri kepada Allah akan terkena ekskomunikasi. Situasi seperti ini jugalah yang dialami Santo Fransiskus sebelum beliau ditahbiskan menjadi diakon. Dan Santo Fransiskus pun memohon ijin dan mendapatkannya dari Bapa Suci untuk mulai melakukan hidup pertobatan secara resmi.

Upacara pemotongan rambut Santa Klara di gereja Portiuncola merupakan pertanda nyata bahwa Santa Klara telah membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, ia meninggalkan dunia dan segalanya. Pada waktu itu Santo Fransiskus, pemimpin upaca berumur 26 tahun dan Santa Klara berumur 18 tahun. Santo Fransiskus harus bertanggungjawab atas diri Santa Klara. Hendaknya kita pahami juga bahwa para bangsawan di Kota Assisi menyebut Santo Fransiskus sebagai orang tidak waras. Keluarga Fafarone kiranya merasa terhina menyaksikan anak putrinya menjalani hidup demikian.

Santo Fransiskus telah mempersiapkan diri dan menunggu kedatangan Santa Klara untuk mengikuti Tuhan Yesus Kristus pada jalan penderitaan salib.Santa Klara rela melepaskan pakaian keindahan dan mahal. Ia meninggalkan cara hidup kemewahan di istana dan memeluk hidup dengan susah payah. Tetapi ia sanggup mengikuti cara hidup Tuhan Yesus Kristus yang menderita dan wafat dengan telanjang di salib.

Santa Klara telah memahami cita-cita hidup sedemikian jelas. Tetapi sanak keluarganya memiliki rencana lain terhadap dirinya, sehingga mereka kecewa. Mereka berpandangan bahwa Santa Klara yang memiliki segalanya dan banyak bangsawan melamar telah terjerumus “menjadi pelayan”.

Kita tidak mengetahui bagaimana Santa Klara menjual harta miliknya. [xlviii] Sister Christina, saksi mata memberi kesaksian bahwa “Sanak keluarga Santa Klara mau membeli harta warisan dengan harga lebih mahal, agar Santa Klara bersedia menjual harta warisan kepada mereka. Tetapi Santa Klara telah menjualnya kepada orang lain. Supaya orang miskin tak dicurangi. Ia telah menjual dan membagikannya kepada orang miskin”.[xlix]

Itulah gagasan dan yang Santo Fransiskus lakukan. Ia juga menasihati semua pengikutnya. Bahkan Ia sering mengulangi bahwa “Saya bukanlah pencuri, saya mau mengatakan bahwa harta yang kita peroleh dari minta minta tetap milik orang miskin. Hendaknya dipergunakan seperlunya. Agar kita tidak merugikan orang-orang miskin. Bila kita meminta melebihi keperluan berarti kita mencuri”.[l] Santo Fransiskus memahami bahwa Allah Bapa menciptakan dunia dan segala isinya untuk semua orang. Bila seseorang memiliki harta kekayaan melebihi orang lain, berarti Allah mempercayakan kepadanya untuk memelihara, bukan menjadi pemilik. Allah menghendaki agar ia menyimpan hingga menemukan orang yang membutuhkannya. Ia harus mengembalikan harta tersebut kepada orang yang lebih miskin tersebut. Orang yang lebih miskin memiliki hak lebih daripada kita. Dalam Legenda Pergia juga diungkapkan:

“Waktu Santo Fransiskus sedang beristirahat di Rieti dalam rangka pengobatan mata, setelah dokter mata memberikan pengotan. Kebetulan datanglah seorang wanita miskin asal Magrilone datang ke Rieti. Ia pun  memeriksakan mata juga. Dokter yang merawat Santo Fransiskus menceritakan tentang seorang wanita miskin tersebut. “Saudara Fransiskus, terdapat seorang wanita miskin. Ia sakit mata dan kami rawat juga.  Kami rawat dia  demi kasih kepada Allah.  Kami membayar sendir seluruh biaya perawatan”.  Waktu mendengar cerita tersebut Santo Fransiskus timbul belas kasihan. Ia memanggil saudara yang memelihara dia katanya, “Saudara terkasih, hendaknya kita mengembalikan yang bukan milik kita kepada pemiliknya”. Saudara tersebut terkejut dan bertanya, “Bapa, barang apa yang bukan menjadi milik kita?” Santo Fransiskus menjawab, “Saudara, pakaian rangkap yang kita kenakan inilah, ini bukan milik kita. Kita pinjam dari wanita miskin ini, hendaknya kita kembalikan”.[li]

Bagi Santo Fransiskus segala sesuatu milik mereka yang sungguh membutuhkan.  Pemahaman tersebut diperoleh dalam doa. Ia merenungkan segala sesuatu dalam kerangka Tuhan Yesus Kristus. Ia  memiliki hati yang berbelas kasih, sebagaimana Tuhan Yesus. Santa Klara berpikir sama, ia tidak mau menjual harta miliknya kepada sanak keluarga,[lii] tetapi ia bertindak adil mengembalikan kepada orang miskin. Ia tidak mau mengehaki milik orang lain, tak mau mencuri milik orang yang semestinya memiliki harta tersebut, persis seperti dialami Santo Fransiskus.



[i] Apa motivasi dasar utama pertobatan Santa Klara?

[ii] Pertobatan mengandung dua arti: mengubah cara hidup dan menjalani penitensi, bisa juga berarti mengubah sikap.

[iii] Waktu masih memiliki cita-cita ingin menjadi ksatria, motivasi hidup untuk diri sendiri.

[iv] Test. 1: FF 110.

[v] Di gereja dibacakan Injil tentang “Jangan kawatir tentang hari esok”.

[vi] Waktu itu belum terdapat biara putri. Tetapi ada kelompok putri-putri yang berjanji untuk hidup bersama.

[vii] Tuhan Allah memberikan berkat kepada seseorang bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk debagikan kepada sesama. Ia menjadi sarana atau alat Tuhan Allah untuk menganugerahkan berkat bagi sesama.

[viii] 1 Cel 2: DD 321.

[ix] 1 Cel 3: FF 323.

[x] Was 1-3: FF 110.

[xi] Nasihat  Injil dikatakan bahwa “bertobatlah”.

[xii] Sebenarnya agama Kristen tidak sepantasnya dianggap sebagai agama negara, karena Kekaisaran Roma tak terdiri dari berbagai negara. Tetapi sekurang-kurangnya agama Kristen telah diakui oleh negara, tak lagi mendapat penganiayaan.

[xiii] 1 Celano 103: FF 500.

[xiv] Kiranya harta miliknya sebagai wanita berupa perhiasan pribadi seperti cincin, kalung, intan, pakaian kebesaran yang dapat dijual dengan mudah. Harta kekayaan bukanlah tanah warisan, hanya laki-laki mendapat warisan.

[xv] Proc. 12,2-4: FF 3086-3088.

[xvi] Bdk. Proc. (Proses Kanonisasi) 12,2: FF 3086.

[xvii] Leg. Cl. 5: FF 3162, kedua belah pihak berkeinginan untk salaing bertemu.

[xviii] Proc. 17,3: FF 3125, Santa Klara memulai pertemuan dengan Santo Fransiskus.

[xix] Proc. 17,17: FF 3129, kiranya Santo Fransiskus dan para saudara awal sedang bekerja memperbaiki gereja, melakukan pertobatan.

[xx] Sdr. Rufino, kemenakan St. Klara telah mengikuti Santo Fransiskus.

[xxi] Proc. 17, 2: FF 3124.

[xxii] Anggaran Dasar Klara bab 6, 1.

[xxiii] Bagi orfang luar, termasuk Santo Frfansiskus tidaklah mudah menemui Santa Klara. Santa Klara pun menyadari hal tersebut, sehingga ia mencari-cari alasan untuk bertemu Santo Frfansiskus, dengan alasan berbelanja, atau urusan lain yang masuk akal, yang bisa diterima oleh orangtuanya.

[xxiv] Teman yang memahami betul alasan petemuan dengan Santo Fransiskus.

[xxv] Leg. Cl. 5: FF 3163, Tindakan Santo Fransiskus bukan berasal dari dorongan manusiawi, tetapi dari Tuhan Allah.

[xxvi] Proc. 17,3: FF 3125.

[xxvii] Leg. Cl. 6: FF 3165, Proc. 1,2; 1,1; 4,2; FF 2926;2967; 3000.

[xxviii] Proc. 17,5: FF3127,  “Pergi menyendiri” berarti rekoleksi atau ziarah.

[xxix] Minggu Palma dipilih karena Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem dengan meriah. Tetapi malam itu juga Ia memasuki pekan suci. Artinya sebagaiman Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem dengan penuh kemuliaan, tetapi kemudian menanggung penderitaan dan wafat di salib. Demikian juga Santa Klara mengenakan pakaian mulia, tetapi selanjutnya menggantinya dengan pakaian kesengsaraan sepanjang hidupnya.

[xxx] Kontempalasi, sikap memandang hingga tak sadar.

[xxxi] Kiranya Santo Fransiskus dan Bapa Uskup telah saling memahami.

[xxxii] Meninggalkan rumah melalui “pintu orang meninggal” pintu hanya dibuka untuk membawa jenazah keluar rumah. Santa Klara pergi melalui “pintu orang mati”, berarti  ia telah mati terhadap dunia, meninggalkan dunia dan tidak kembali lagi. Ia sendiri heran bisa membukan pintu yang dikunci rapat dan di depan pintu banyak ditimbun banyak barang berat.

[xxxiii] Celano tak menyebut nama Santo Fransiskus, tetapi Para Saudara.

[xxxiv] Leg. Cl. 7-8: FF 3167-3170.

[xxxv] Dewasa ini diadakan permandian pada malam paska.

[xxxvi] Pada waktu itu Santo Fransiskus bukanlah seorang Diakon, tetapi masih sebagai awam biasa. Tetapi ia memimpin perayaan dalam mengenangkan Tuhan.

[xxxvii] Bukan pakaian terbuat dari karung.

[xxxviii] Pada zaman itu orang yang memasuki hidup membiara diawali dengan tonsura.

[xxxix] Dewasa ini seperti memasuki postulant.

[xl] AngTBul 12, 4: FF 38.

[xli] Leg. Cl. 8: FF 3172, Santo Fransiskus memahami bahwa Santa Klara ingin melakukan pertobatan sesuai dengan nasihat Injil. Bagi pria bisa tinggal di mana saja, tetapi bagi wanita tidaklah demikian. Untuk sementara semacam menjadi postulan Ordo Benediktin hingga kehendak Allah menjadi jelas baginya.

[xlii] Tanda melakukan pertobatan.

[xliii] Hukum mengatur bahwa orang yang telah memasuki biara berada di bawah hukum Gereja, berada dalam perlindungan Uskup setempat.

[xliv] Inilah awal Santa Klara ambil bagian dalam penderitaan Kristus. Ia semakin menyerupai Kristus, ia semakin memiliki keteguhan batin. Leg. Cl. 9: FF3173.

[xlv] Pada zaman itu bila terdapat seorang suster datang dari tempat lain biasanya dianggap sebagai anggota biara.

[xlvi] Proc. 12,3: FF 3087, Pada waktu itu Beatrice masih kecil.

[xlvii] 1 Cel 16, FF 347.

[xlviii] Sanak keluarga meminta agar harta warisan dijual kepada mereka, tetapi Santa Klara menolak. “Yang dia miliki, milik orang miskin”, Secara harafiah ia lakukan “Milik orang miskin dikembalikan kepada orang miskin.”

[xlix] Proc. 13,11: FF 3104, Santa Klara melakukan nasihat injil, “menjual segala yang dimiliki”.

[l] Leg. Per. 111. FF 1670.

[li] Leg. Per . 52: FF 1602.

[lii] Bila Santa Klara menjual harta miliknya kepada segenap keluarga, berarti ia masih saja menyimpannya, seperti “pencuri”.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *