Klara – Wanita dalam Keheningan dan Kenangan (Bagian 3)

22/09/2014
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 476 kali

 BAB 3.  KEADAAN SANTA KLARA DAN MASYARAKAT PADA ZAMANNYA

Kita cenderung memahami  seorang tokoh yang sedang kita baca (Santa Klara atau yang lain) sesuai dengan zaman kita. Seolah-olah ia hidup pada zaman kita. Cara demikian menghambat pemahaman. Hendaknya kita memahami adat istiadat budaya pada zaman Santa Klara agar kita dapat lelbih menegenal Santa Klara secara lebih mendalam. Karena tidak semua kecenderungan masyarakat  ditentang oleh Santa Klara. Banyak hal yang amat bermanfaat dalam membangun hidup memmbiara. Hendaknya kita memahami latar belakang budaya masyarakat, terutama keluarga besar Santa Klara. Kita mulai mengamati seorang saksi mata yang bernama Yoanni[i] dari Ventura Assisi[ii]. Ia pernah menjadi pembantu rumah tangga di keluarga orangtua Santa Klara, sehingga ia mengenal Santa Klara, sewaktu ia masih kecil. Ia bersumpah dan memberi kesaksian sebagai berikut:

“Dia pernah menjadi pembantu rumah tangga keluarga orang tua Santa Klara. Santa Klara  berada di rumah orangtuanya hingga berumur kira-kira 18 tahun. Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan di kota Assisi, baik dari pihak keluarga bapa dan ibu termasuk keturunan bangsawan.[iii]  Ayahnya bernama Tuan Fafarone, kakeknya bernama Tuan Ofreducso anak dari Tuan Bernardino. Santa Klara adalah seorang anak yang terpuji, bertindak dan hidup seperti halnya seorang suster di dalam biara.” Waktu masih seorang anak, ia biasa disebut Mommola[iv]. Kiranya mengandung arti senanda dengan sebutan orang dewasa Madonna (Proc. 20, 2: Ff 3141).

Waktu (saksi mata Yoanni) ditanya tentang hidup Santa Klara, ia menjawab bahwa rumah[v] -nya adalah istana[vi] yang amat besar di tengah kota. Di tengah terdapat ruang amat luas. Makanan[vii] begitu berlimpah ruah tetapi Santa Klara cenderung menyimpan sebagaian untuk dibagikan[viii] kepada orang miskin. (Setelah menginjak dewasa Klara dipanggil Madonna, selaras dengan sebutan sebagai keturunan bangsawan).[ix]

Masyarakat pada waktu itu terbentuk menjadi dua kelas masyarakat, yaitu kelas masyarakat yang disebut “maggiori” (kelas tinggi) dan “mainori” (kelas rendah). Di kota tersebut barang kali hanya terdapt 20 keluarga bangsawan yang menjadi tuan tanah[x]. Merekalah tuan tanah yang memiliki banyak pekerja. Waktu Santa Klara masih kecil terjadi peperangan antara Kota Assisi dan Perugia. Keduanya ingin memperlebar daerah kekuasaan. Pada kesempatan itu kelompok masyarakat mnengah seperti para pedagang, yang memiliki uang tapi bukan keturunan bangsawan, mulai unjuk gigi memberontak terhadap sisten feodalisme. Masyarakat umum juga mulai menuntut hak demokrasi tak mau lagi menerima sistem feodalisme. Keluarga orang tua Santa Klara terpaksa mengungsi ke Perugia selama 5 tahun. Sehingga Santa Klara yang lahir dari keturunan bangsawan tidak memiliki kebebasan. I harus tetap tinggal di istana, menerima pelajaran dan pembinaan di dalam rumah. Relasi dengan masyarakat terbatas sesuai dengan sistem feofalisme. Budaya feodalisme mengajar bahwa wanita mulia harus tetap tinggal di rumah, dipingit, tak boleh bergaul dengan masyarakat pada umumnya.

Secara keseluruhan masyarakat pada waktu itu terbentuk menjadi beberapa kelas:

  1. Orang-orang berpendidikan, terutama para calon imam. Jenjang pendidikan para calon imam pada waktu itu mulai dari pelantikan akolit, tahbisan diakon dan tahbisan imam. Tetapi selanjuntnya, semua orang yang menjalani pendidikan calon iman, tidak harus menjadi imam. Banyak orang yang telah menjalani studi bisa menjadi sekretaris, penulis, accounting dan ahli hukum. Pada waktu itu seluruh pendidikan diselenggarakan oleh Gereja. Pemerintah belum menyelenggarakan pendidikan persekolahan bagi masyarakat. Maka kelompok pertama dalam masyarakat adalah kelompok orang-orang berpendidikan.
  2. Kelompok bangsawan atau ksatria, yang biasanya berasal yang kelurga bangsawan. Tetapi bisa juga berasal dari masyarakat menengah yang memiliki uang, seperti Santo Fransiskus, yang dengan biaya mahal sanggup membeli perlengkapan perang, baik pakaian, alat perang maupaun kuda.
  3. Kelompok ketiga terdiri dari masyarakat umum, para pekerja harian, petani dan tukang.

Mengingat bahwa keadaan masyarakat terbentuk menjadi beberapa kelompok sebagaimana terungkap di atas, artinya penguasa masyarakat hanya terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok fedodal atau ksatria dan kelompok orang kaya yang ingin semakin kaya.[xi] Merekalah sumber dan akar dasariah terjadinya perang.  Mereka mencari kepentingan sendiri. Mereka melupakan kepentingan masyarakat umum, masyarakat biasa dan sederhana.

Dalam proses pendidikan pada waktu itu, pendidikan diprakarsai oleh Gereja. Gereja mendirikan seminari, menjadikan orang berpendidikan, dan menjadi karyawan serta menduduki jabatan imamat. Secara tidak langsung Gereja berpihak pada penguasa, para bangsawan dan ksatria serta orang kaya. Para menguasa ingin memperluas kekuasaan mereka dengan perang mewalawan kota terdekat.  Masyarakat biasa menjadi korban. Laki-laki harus bertempur. Banyak orang meninggal, dan cacat. Istri-istri mereka menanggung beban penderitaan keluarga. Banyak orang menjadi janda, anak-anak menjadi yatim piatu. Perang berakibat fatal, kematian, cacat, kelaparan dan terjangkitnya penyakit menular.

Di samping itu, mengingat banyaknya korban akibat perang, tergeraklah orang-orang tertentu, terutama para kesatria. Mereka pun menjadi sadar akan peristiwa yang menimpa mereka, sehingga mereka pun mulai menaruh belas kasihan kepada koraban perang. Dengan syair-sayair mereka mengungkapkan kembali kenangan para ksatria yang telah gugur sekaligus menaruh perhatian para korban. Muncullah idiologi baru gambaran tentang ksatria. Ksatria bukan hanya mengandalkan keperkasaan, tetapi juga keahlian dan kebijaksanaan, segakligus penuh perhatian kepada orang-orang lemah, terutama kepada para wanita. Terbentuklah kelompok ksatria dan bangsawan yang disebut Graal. Mereka  sanggup menunjukkan keberanian dan kebijaksanaan mereka dengan berusaha pergi ke Tanah Suci untuk mencari piala yang pernah dipergunakan oleh Tuhan Yesus pada perjamuan malam terakhir. Mereka berhasil menermukan setelah diberitahu tempat disembunyikannya piala tersebut.

Pada waktu itu terdapat beberapa kelompok orang yang sanggup mendramatisasi syair-syair tentang para ksatria dan sekaligus dapat menyampaikan dalam bentuk lagu-lagu hiburan bagi masyarakat.[xii] Santo Fransiskus memiliki bakat dalam seni hiburan (Trovatore) juga. Mereka menggunakan bahasa Perancis untuk lagu-lagu hiburan.[xiii]

Dalam budaya ksatria, mereka mengutamakan kejujuran dan kesetiaan pada sumpah janji. Biarpun harus mati, mereka tetap berpegang teguh pada kejujuran dan kesetiaan. Orang yang tidak setia pada janji, dianggap sebagai orang yang memalukan, dianggap orang yang berdosa berat. Para bangsawan pun bercita-cita mau menjadi ksatria.

Para pedagang cenderung hanya untuk memperkaya diri, dan memperhatikan diri sendiri, seperti ayah Santo Fransiskus. Sementara para ksatria memiliki pemahaman luas. Mereka menyadari bahwa kuasa mereka terletak dalam pembaktian hidup penuh kasih  bagi sesama, terutama bagi mereka yang lemah. Kasih mereka sungguh tulus.

Syair-syair terungkap memuliakan para wanita, yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Banyak ksatria berani melang-lang dunia  supaya dapat mengungkapkan rasa kasih mereka terhadap kekasih,  para wanita. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka sungguh ksatria, sanggup mengungkapkan keperkasaan, kebijaksanaan, ketulusan dan kesetiaan mereka kepada kekasih.

Santo Fransiskus pun menampilkan diri sebagai ksatria sejati. Ia menunjukkan keteguhan batin dan kesetiaan serta menunjukkan sikap hormat terhadap wanita sebagaimana seorang ksatria sejati. Bahkan ia mengangkat martabat wanita sebagai mempelai Kristus. Lebih dari itu, Santo Fransiskus memeluk “Putri Kemiskinan” Tuhan kita Yesus Kristus. Santo Fransiskus kiranya tak pernah berpikir Santa Klara sebagai pasangan kasih. Walau pun ia memperhatikan Santa Klara sepenuh hati, tetapi sebenarnya ia membaktikan seluruh dirinya demi Tuhan Yesus Kristus. Demikian juga Santa Klara kiranya tak berpikir bahwa Santo Fransiskus menjadi ksatria idola bagi dirinya sendiri, tetapi menjadi ksatria Tuha Yesus Kristus. Keduanya saling memahami. Santo Fransiskus menampilkan semangat sebagai seorang ksatria sejati. Santa Klara menampilkan martabat seorang wanita idaman sejati. Keduanya membaktikan seluruh diri mereka demi Tuhan Kita Yesus Kristus.

Idola seorang ksatria terhadap seorang wanita pada waktu itu terdapat tiga hal: 1. Terkenal nama baiknya dan bijaksana; 2. Memiliki sikap sopan santun dan rendah hati; 3. Cantik jelita.

1. Terkenal nama baiknya, pandangan masyarakat pada waktu itu, para wanita bangsawan hendaknya baik secara moral, luwes tindakannya, terhormat, mendapat pendidikan budi pekerti lapang dada, dapat menempatkan diri di tengah masyarakat. Menurut saksi mata, Santa Klara termasuk wanita idola, “Saksi mata mengatakan bahwa, siapa pun memuji bahwa Santa Klara orang baik, orang kudus…”[xiv] “Ia mengenal Bunda Klara sebagai orang kudus, sebelum Beliau memasuki biara hidup bhakti, sementara masih di rumah orangtuanya. Dari segala yang ia kenal tentang Santa Klara, beliaulah wanita terhormat dan menjadi contoh teladan dalam hal keyakinan dan kesetiaan”.[xv]

Bona,[xvi] Madonna Bona de guelfuccio de Assisi, adik putri dari Sr. Pacifica. Setelah Sr. Pacifica memasuki biara San Damiano, ia menjalani hidup sebagai awam dan menikah. Ia menjadi saksi mata kekudusan Santa Klara. Ia memberikan kesaksian sebagai berikut: “Ia (Bona) mengenal Santa Klara sejak Klara masih di rumah orangtuanya…Waktu Klara memasuki biara, ia telah menginjak dewasa dan berumur kira-kira 18 tahun. Ia selalu tinggal di rumah saja. Ia biasa mengurung diri, karena ia lebih suka mngurung diri, tak mau dikenal orang. Waktu orang berkunjung ke rumahnya, ia pun menyembunyikan diri. Ia adalah orang baik sekali dan selalu berbuat baik. Waktu saksi mata ditanya, ia tahu hal-hal tersebut dari mana. Karena ia biasa bersahabat dengannya” (Proc. 17, 4: FF3126).

Rumah Santa Klara berdampingan dengan lapangan umum yang begitu luas. Pada waktu itu tak ada radio, televisi, gedung bioskop dan sarana hiburan lain. Pada waktu sore hari terutama pada musim panas para remaja biasa bermain di lapangan umum. Remaja yang saling tertarik bisa diintip dari jendela. Bona mau mengatakan bahwa sejak kecil Santa Klara tak pernah mau menampilkan diri.  Waktu tamu datang di ruang tamu, mereka pun tak akan melihat Santa Klara, dipanggil pun tak datang. Budaya pada waktu itu mengajarkan bahwa remaja pada umumnya bisa pergi ke sana ke mari, pergi ke pasar bisa pergi dengan bebas. Tetapi wanita keturunan bangsawan tidak diperkenankan keluar rumah seorang diri. Kadang kala diijinkan pergi keluar tetapi harus didampingi oleh orang yang bisa dipercaya. Artinya Santa Klara tidak memiliki kebebasan penuh, seperti remaja pada umumnya. Ia mewarisi pendidikan  sebagai orang yang selalu waspada dalam menempatkan diri di tengah masyarakat.

2. Memiliki sikap sopan santun dan rendah hati, biasanya orang keturunan bangsawan sedikit sombong. Tetapi Santa Klara tidaklah demikian. Ia menampilkan diri sebagai orang yang memiliki sikap sopan santun dan rendah hati. Ia tak pernah memandang rendah orang lain. Orang lain pun tak merasa direndahkan sewaktu bergaul dengan Santa Klara. Ia tak pernah menunjukkan diri sebagai Tuan Putri. Wanita semacam dialah yang menjadi idaman para ksatria. Ksatria pun siap membaktikan diri sepenuhnya untuk wanita tersebut. Tentu saja belum terjadi sebagaimana Injil maksudkan untuk “pergi menjual segalanya dan membagikannya bagi orang miskin” (Mt 19, 21).  Hal itu hanyalah mengungkapan bahwa wanita semacam itulah yang diidamkan para ksatria pada waktu itu. Dan mereka akan membaktikan seluruh dirinya untuk mendapatkannya.

Saksi mata mata mengungkapkan bahwa “Bunda Klaralah orang yang murni badani dan rohani. Ia amat dihormati oleh semua orang yang mendengar dan melihat dia. Sebelum memasuki hidup membiara, ia sungguh orang baik hati dan rendah hati”.[xvii] “Bunda Klara adalah perawan murni, dan selama di rumah orangtuanya selalu berbicara hal-hal kudus. Ia penuh belas kasih dan bagitu menarik…”[xviii]

“Bunda Klara berasal dari keluarga bangsawan dan memiliki sikap sopan santun dalam percakapan”.[xix]

3. Cantik jelita, Tuan Ranieri de Bernardo de Assisi saksi mata, bersumpah mengatakan bahwa “Santa Klara adalah orang yang sungguh cantik jelita. Banyak orang melamar tetapi tak seorang pun ditanggapi, termasuk dirinya. Ia melamar beberapa kali tapi tak mendapat tangapan. Santa Klara tidak mau lagi mendengar rayuan apapun. Tetapi sebaliknya Santa Klara memberikan khotbah kepadanya untuk meninggalkan dunia[xx] juga.[xxi]

Kita saksikan bahwa Celano tidak melaporkan secara terperinci tentang riwayat hidup Santa Klara. Bahkan tidak menyinggung para Suster yang menjadi saksi mata. Bahkan terdapat saksi mata yang mengenal Santa Klara selama ia masih berada di rumah orangtuanya. Terdapat begitu banyak orang yang melamar Santa Klara. Tetapi Santa Klara tidak menanggapi mereka semua. Artinya,  Santa Klara menjadi wanita yang memiliki keutaman lengkap dan mejadi idola  serta diinginkan banyak orang. Tetapi pernikahan pada waktu itu bukanlah pilihan orang yang bersangkutan, tetapi pilihan orangtuanya. Keluarga yang bersangkutan hendaknya mengenal dengan baik satu sama lain.  Bahkan bila keluarga tersebut keturunan bangsawan, biasanya pemerintah setempat turun tangan atau ambil bagian dalam proses pernikahan.

Gereja pada waktu itu mengajar tentang proses pernikahan agar kedua belah pihak saling mengasihi. Walaupun pihak putri yang  menurut budaya pada wakatu itu tak punya hak memilih, tetapi gereja mengajarkan bahwa sekurang-kurangnya ia punyak hak untuk menolak calon yang dipilih oleh orangtuanya. Kiranya Santa Klara menggunakan hak tersebut beberapa kali untuk menolak calon suami hingga berumur 18 tahun. Sebenarnya wanita berumur 18 tahun termasuk agak terlambat untuk menikah. Karena pada waktu itu wanita diperbolekan menikah pada umur 14 tahun. Sr. Agnes, adik Santa Klara masuk biara pada waktu ia berumur 28 tahun, setelah ia banyak kali menolak semua pelamar. Waktu Santa Klara telah berada di Biara, Agnes menyusul masuk biara juga.

Apalagi pada waktu itu bila seorang istri tidak punya anak, bisa diceraikan dan dikembalikan kepada orangtuanya. Walaupun Gereja melarang tindakan tersebut. Tetapi budaya masyarakat tetap menjalankan  perceraian. Menurut hukum pria dan wanita memiliki hak sama, tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Waktu Santa Klara bertemu Santo Fransiskus, ia menolak untuk dinikahkan. Tuhan Ranieri de Bernardo de Assisi menyampaikan kesaksian.



[i] Dewasa ini Giovanni di Ventura.

[ii] Dialah seorang pelayan di Keluarga orang tua Santa Klara, tetapi bukan pelayan biasa, dia sebagaimana anggota keluarga.

[iii] Kedua orangtuanya berasal dari keluarga bangsawan.

[iv] Anak yang mulia.

[v] Di tengah terdapat lapangan terbuka, dan dilingkupi kamar-kamar tinggal: keluarga dan para pembantu.

[vi] La corte, di tengah terdapaat lapangan terbuka, dan seluruhnya diliputi benteng tertutup.

[vii] Orang biasa dan orang miskin begitu terkesan tentang makanan.

[viii] Santa Klara tidak memiliki kebebasan untuk membagikan secara langsung, (budaya mengajar bahwa gadis yang baik hendaknya tinggal di rumah), seringkali ia menitipkan kepada orang lain.

[ix] Pada waktu itu ia menjadi primadona di istana.

[x] Tanah yang dianugerahkan oleh Kaisar atau Raja.

[xi][xi] Mereka cenderung mengutamakan diri sendiri dan menyombongkan diri.

[xii] Hiiburan langsung dari kelompok seni.

[xiii] Setiap kali Santo Fransiskus melantunkan lagu biasanya dalam bahasa Perancis.

[xiv] Proc. 13, 1: FF 3094 (Saksi mata: Sr. Chirstiana de Bernaardo da Suppo de Assisi).

[xv] Proc. 1, 1: FF 2925 (Saksi mata: Sr. Pacifica de Guelfuzio de Assisi).

[xvi] Adik putri dari Sr. Pacifica.

[xvii] Proc. 2, 2: FF 2945 (Saksi mata: Sr. Benvenuta dari Perugia.

[xviii] Proc. 16, 2: FF 3117 (Saksi mata: Tuan Ugolino de Pietro Girardone).

[xix] Proc. 19, 1: FF 3138 (Saksi mata: Tuan Pietro de Damiano de Assisi).

[xx] Artinya Santa Klara telah lama memutuskan mau meninggalkan dunia. Ia mau membaktikan diri kepada Allah demi Injil suci Tuhan Kita Yesus Kristus. Tetapi belum mendapat kesempatan yang pantas. Kiranya sedang mencari kesempatan untuk mendengar nasihat Santo Fransiskus.

[xxi] Proc. 18, 2: FF 3132: (Saksi mata: Tuan Ranieri de Bernardo de Assisi).

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *