Klara – Wanita dalam Keheningan dan Kenangan (Bagian 2)

15/09/2014
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 602 kali

BAB 2. SUMBER-SUMBER UTAMA MENGENANG SANTA KLARA

Tak lama setelah Santa Klara meninggal, Bapa Suci Innocentius ke 4 memberi wewenang kepada Uskup Assisi untuk mengumpulkan saksi-saksi untuk memperoleh data yang sebenarnya tentang Santa Klara. Bapa Suci menjadi Celebran utama dalam upacara penguburan Santa Klara.[i]  Bapa Suci yakin bahwa Santa Klara memang orang kudus. Sehingga Beliau mengatakan, “Sebagai ganti misa arwah, kita rayakan misa pesta perawan kudus”. Tetapi Kardinal Rodaldo yang menjabat sebagai anggota dewan penasihat kepausan menasihatkan agar perayaan dilakukan sewajarnya dengan mengikuti aturan hukum yang berlaku.

Waktu masyarakat Assisi mendengar bahwa Santa Klara meninggal, mereka segera berdatangan di Biara San Damiano. Baik pria maupun wanita meninggalkan kota Assisi, hingga kota tersebut lengang. Karena mereka tahu bahwa Santa Klara adalah orang kudus, berkenan kepada Allah,  mereka ambil bagian meratap atas kematian Santa Klara. Masyarakat dan para Ksatria serta angkatan bersenjata lengkap dengan senjata siap untuk menjaga jenazah Santa Klara dan kekayaan yang bernilai agar tak hilang[ii] (Leg Santa Klara 47: FF 3256).

Pada waktu doa arwah, Para Saudara Dina mempersiapkan diri untuk ibadat arwah bagi orang meninggal pada umumnya. Tetapi Bapa Suci mengatakan bahwa tidak perlulah kita merayakan ibadat arwah, hendaknya kita merayakan ibadat orang kudus perawan. Dengan perkataan tersebut bisa dimengerti bahwa Bapa Suci ingin menetapkan Klara sebagai orang kudus, bahkan dalam ibadat arwah bagi Santa Klara. Tetapi Bapak Uskup Ostia mengingatkan bahwa hendaknya ibadat arwah dilangsungkan sebagaimana mestinya. Mengenai penetapan Klara menjadi orang kudus hendaknya dilaksanakan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku dalam proses kanonisasi. Akhirnya ibadat dan misa arwah berlangsung sebagaimana mestinya.

Ibadat dan misa arwah dipimpin langsung oleh Bapa Suci dan didampingi oleh para kardinal serta para petugas kepausan. Bapa Uskup Ostia dalam homilinya menyampaikan tema “kehampaan dari segala kehampaan”. Bapa Uskup mengungkapkan devosi Klara sendiri yang tidak mau memperdulikan hal kehampaan duniawi (Leg. Cl. 47: FF 3257).

Surat Pemberitahuan tentang kematian Santa Klara kepada para Biara lain

(Mulailah pengumpulan data tentang hidup Santa Klara dari para saksi mata). Dimulai dari para Suster di San Damiano. Dimulailah dengan dokumen Surat Pemberitahuan tentang kematian Santa Klara kepada Biara-Biara lain[iii], yang tersebar luas, segera setelah kematian Santa Klara.

Siapakah penulis surat tersebut? Tentu saja penulis surat tersebut orang dari luar biara, karena harus menggunakan bahasa Latin. Dan tentunya orang yang telah terbiasa dengan dokumen tersebut. Barangkali seorang ahli hukum atau orang yang berkecimpung dalam hal dokumentasi. Tetapi isi dokumen tersebut sesuai dengan pesan Suster San Damiano. Terdapat bagian surat tersebut diungkapkan bahwa “Santa Klara cantik sekali. Barangkali memiliki warisan yang amat berharga (bila ia menikah dengan seseorang). Ia berasal dari keturunan bangsawan. Tetapi sebagai ganti  pakaian kebesaran pengantin, ia memilih mengenakan pakaian orang miskin. Ia lebih suka mengenakan pakaian kabung. Sebagai ganti pakaian pengantin, ia memilih pakaian hidup bakti. Dalam hidup membiara kami, ia biasa memberikan peneguhan kapada kami, membimbing kami agar semakain menjalin relasi dengan dengan Tuhan Allah. Ia selalu meneguhkan kami dengan kata-kata yang amat meneguhkan. Kadang kala kami tak memiliki santapan, tak ada pakaian hangat,[iv] dan kekurangan air minum.  Waktu Santa Klara memahami keadaan tersebut, ia berusaha dengan segala macam cara untuk mengatasinya dan meneaguhkan  agar Para Suster tetap memperoleh penghiburan dan ketabahan, dan ia mengingatkan kami, “Berbahagialah, hendaknya kalian bertekun, tetap setia. Hendaklah menanggung beban sikap dan semangat kemiskinan dan kekurangan kebutuhan fisik”. Inilah pemikiran awal Para Suster setelah Santa Klara meninggal, supaya hal tersebut diberitahukan kepada masyarakat. Hal-hal tersebutlah kesan dasar sepintas mereka dalam Surat Pemberitahuan tentang kematian Santa Klara.

Kesan dasar Para Suster San Damiano barangkali tidak selaras dengan kesan Bapa Suci[v], karena cara memandang kedudusan seseorng tidaklah sama. Barangkali orang melihat dari sisi teladan hidup, tulisan atau hal lain. Pada waktu itu ukuran kekudusan terletak pada daya kuasa ilahi yang terpancar lewat orang yang bersangkutan. Masyarakat butuh menyentuh jenazah orang yang dikuduskan tersebut. Orang tersebut mereka percayai sebagai orang kudus bila terbukti doa mereka terkabul dengan perantaran orang kudus. Mereka tidak membutuhkan bukti-bukti kekudusan dan teladan hidup. Tetapi Para Suster memandang keteladanan hidup. Jangka waktu kematian dan kanonisasi Santa Klara sebagai orang kudus hanyalah 2 tahun. Dalam proses kanonisasi Santa Klara menjadi orang kudus, Celano menulis buku yang berjudul, “Hal menarik tentang Santa Klara”[vi]

Kisah Proses Kanonisasi[vii] (Gli Atti del processo di canonizzazione)

Sebenarnya Bapa Suci telah yakin bahwa Santa Klara menjadi orang kudus sejak doa dan misa arwah Santa Klara. Tetapi hal tersebut diperingatkan, agar proses kanosisasi Santa Klara dijalankan sesuai dengan hukum dan kebiasaan Gereja. Sehingga Bapa Suci segera menulis surat kepada Bapa Uskup Spoleto yang berwenang memperhatikan Bapa Uskup Assisi (Assisi termasuk Keuskupan Supragan Keuskupan Agung Spoleto). Uskup Bartolomeo Accorombani menetapkan dewan pelaksana proses kanonisasi Santa Klara untuk segera mendengarkan kesaksian para saksi mata. Dan mengirim semua data kepada Bapa Suci. Bapa Uskup Bartolomeo juga menetapkan para petugas yang terdiri dari para imam, keluarga Fransiskan, baik religius maupun awam. Termasuk juga ia menetapkan seorang ahli hukum yang bertugas merangkum dokumentasi kesaksian para saksi mata secara resmi. Maka pada tanggal 24 November 1253, sekitar 3 bulan setelah wafat Santa Klara didengar para saksi mata. Tempat mendengarkan kesaksian di Biara San Damiano. Daftar Anggota Dewan Pendengar saksi mata terdapat sebagai berikut:

  1. Leonardo, Diakon (Agung, Arcidiacono )
  2. Trevi Giacomo, Imam (Agung, Arciprete)
  3. Sdr. Marco, Assisten r Rohani Biara San Damiano
  4. Sdr. Angelo dan Sdr. Leone, Saudara awal Fransiskan
  5. Martino, seorang awam, Ahli hukum (kiranya bukan Sdr. Martin Sardi ya…)

Dewan Pendengar saksi mata tersebut memanggil 20 orang saksi mata. Semua saksi percaya kekudusan Santa Klara. Tetapi mereka pun dibatasi dalam memberikan kesaksian. Terdapat 4 hal yang hendaknya mereka sampaikan, sebagai berikut:

  1. Hidup Santa Klara waktu di rumah orangtua (sebelum menjalani hidup bakti).
  2. Pertobatan, alasan dasar meninggalkan dunia dan memasuki hidup bakti, terjadi peristiwa apa saja.
  3. Hidup Santa Klara selama di Biara San Damiano (sebagai Suster).
  4. Terjadi mukjijat-mukjijat, atau keajaiban apa saja.[viii]

Pada waktu itu dokumentasi resmi ditulis dalam bahawa Latin. Dokumen tersebut diringkas, hal yang penting saja ditulis. Tetapi dokumen tersebut begitu jelas, nama saksi mata, dan bagaimana mengenal Santa Klara. Terinci sebagai berikut:

  1. Nama Suster 15 orang dari Biara San Damiano.
  2. Seorang wanita yang mengenal Santa Klara sewaktu masih kecil.
  3. Orang Assisi 4 orang, yang terdiri dari 3 orang berasal dari keluarga terhormat di Kota Assisi yang pernah mengunjungi rumah Santa Klara dan 1 orang lagi yang pernah menjadi pembantu di rumah Santa Klara.

Waktu proses dokumentasi data selesai,[ix] semua dokumen dikirim ke Roma untuk diproses selanjutnya sebagai bagian proses kanonisasi. Biasanya dokumen tersebut seluruhnya dikirim ke kepausan. Tetapi kiranya daya kuasa ilahi bekerja, bahwa setelah 8 abad, menjelang pesta 800 tahun Santa Klara, ditemukan dokumen proses kanonisasi yang ditulis dalam bahasa setempat, bukan bahasa Latin di perpustakaan di kota Firence.

Dekrit Kanosisasi Santa Klara[x] (La bolla di canonizzazione ‘Clara claris praeclara’)

Walaupun dokumen proses kanonisasi telah berhasil diselesaikan pada tanggal 29 November 1253, namun kanonisasi Santa Klara  baru terlaksana 2 tahun kemudian, pada tahun 1255 dan bukan oleh Bapa Suci Innocentius ke 4 sendiri. Penulis mempertanyakan, mengapa Bapa Suci begitu terburu-buru ingin melaksanakan kanonisasi Sana Klara justru pada saat doa dan misa arwah Santa Klara? Dalam waktu tiga bulan saja seluruh proses kanonisasi dan segalanya telah selesai. Tetapi menapa harus menunggu 2 tahun untuk pelaksanaan kanonisasi? Penulis segera mencari data untuk menyelidiki peristiwa, sebenarnya terjadi masalah apa?

Ternyata terjadi masalah  di dalam Persaudaraan Fransiskan yang menyebabkan Bapa Suci pusing kepala. Di universitas Paris[xi] terjadi kesalah pahaman antara  para imam religius dan para imam diosesan yang menjajar di Universitas Paris. Pada wakatu itu Para Saudara Fransiskan yang terlibat di dalam peristiwa tersebut tidak menunjukkan semangat ketaatan mereka kepada Bapa Suci yang memutuskan perkara tersebut.[xii] Relasi Bapa Suci dengan Persaudaraan Fransiskan menjadi dingin. Akibatnya kanonisasi Santa Klara ditunda. Tetapi sayang Bapa Suci Innocentius ke 4 wafat.

Kardinal Rainaldo terpilih menjadi Paus yang bergelar Paus Alexander ke 4. Bapa Suci Alexander ke 4 tak menunggu-nuggu lagi. Beliau membatalkan larangan Bapa Suci Innocentius ke 4 kepada Para Saudara Fransiskan dalam mengajar di Universitas Paris. Relasi Kepausan dengan Persaudaraan Fransiskan pulih kembali. Bapa Suci mengeluarkan dekrit kanonisasi Santa Klara (La bolla di canonizzazione) dengan judul “ Cahaya Clara lebih  berkilau” (Clara claris praeclara).[xiii]Upacara kanonisasi dirayakan di Kathedral Anagni pada musim gugur pada tahun 1255. Walaupun dalam Dekrit bergaya Bahasa literatur, tetapi terungkap inti hidup Santa Klara, terutama teladan hidup bagi orang Kristen. Keutamaan Santa Klara diungkapakan sebagai alasan kanonisasi, sekaligus agar umat meneladan hidupnya. Dalam dekrit “Cahaya Clara lebih berkilau”, Bapa Suci mengungkapkan bahwa, “cara hidup Santa Klara yang kudus bersinara terang. Orang lain dapat melihat dan merasakan cerah cahayanya. Cara hidupnya yang mulia pantas  diteladani”. Idealisme seorang wanita pada waktu itu, terutama orang yang menjalani hidup bakti harus bisa menjaga diri, menutup diri, dan berdiam diri, tak dikenal orang lain. Tetapi dalam dekrit tersebut, Bapa Suci mengungkapkan bahwa semua orang mengenal Santa Klara. Santa Klara yang mengurung diri. Tetapi daya kuasa cahayanya tersebar luas”. Ia berada di tempat tersembunyi tetapi cahanya terpancar keluar, ke seluruh dunia. Santa Klara tidak pernah bermaksud agar namanya  tersebar luas. Bapa Suci mengungkapkan bahwa cahaya hidup Santa Klara bersinar terang selaras dengan namanya, walaupun ia berada di biara tertutup. Semua orang dapat menyaksikan, membicarakan dan mendapat pengaruh  dalam hidup nyata.

Hal menarik/kisah Santa Klara menurut Celano[xiv]

Dekrit kanosisasi Santa Klara hanyalah singkat, tak cukuplah untuk mengungkapkan gambaran hidup Santa Klara. Maka dibutuhkan tulisan lain untuk melengkapinya agar umat lebih mendalami semangat hidup Santa Klara. Bapa Suci Alexander ke 4 mempercayakan penulisan kisah Santa Klara kepada Thomas Celano.[xv] Ada ahli yang mengatakan bahwa kisah tersebut bukanlah ditulis oleh Thomas Celano, mengingat penulis tak mencantumkan namanya. Tetapi pada abad ke 15 banyak ahli berpendapat bahwa Thomas Cenalo menulis kisah tersebut. Bapa Suci Gregorius ke 9 begitu mengenal banyak ordo religius, termasuk Fransiskan, telah mempercayakan penulisan Riwayat hidup Santo Fransiskus hingga dua jilid. Kiranya Thomas Celano yang memang orang ahli dan berbakat menulis dipercayai untuk penulisan Kisah Santa Klara. Apa lagi dalam tulisan tersebut diungkapkan bahwa “Celano tidak menggunakan semua data dalam menulis Kisah”.

Dalam kisah tersebut butuh bukti nyata yang sungguh terjadi. (Kisah tersebut berupa sejarah, walaupun tak bermaksud menulis sejarah). Maksud penulisan kisah Santa Klara untuk mengungkapkan teladan hidup Santa Klara agar umat mendapat inspirasi dalam menghayati hidup. Maka penulisan tersebut mengutamakan keteladanan Santa Klara. Mirip dengan cermin yang mengungkapkan gaya hidup seorang wanita yang pantas diteladani bagi para wanita yang menjalani hidup bhakti pada zaman itu[xvi].

Dewasa ini amatlah mudah memperoleh buku cetakan. Tetapi pada waktu itu tidaklah demikian. Karena buku-buku hanya ditulis dengan tangan dan harga mahal. Kisah tersebut terdapat di Biara San Damiano. Di biara lain dibuatkan salinan dan dibacakan dalam hidup komunitas.[xvii] Gagasan penulisan Kisah tersebut untuk dibacakan di Biara-Biara lain di seluruh Eropa, agar para pendengar terutama para suster religius mendengar dan meneladani hidup Santa Klara. Mendengar kisah hidup, tentu saja tidak sedekat dengan pengalaman langsung sebagaimana para suster San Damiano alami.[xviii]

Surat Bapa Suci menjadi pengantar Kisah Santa Klara. Penulis menjelaskan proses penulisan dan situasi nyata pada waktu itu. “Bapa Suci berkenan kepada hambanya yang hina dina ini untuk menulis Kisah Santa Klara Perawan. Supaya para pembaca dan pendengar memahami hidup Santa Klara. Sehingga dibuthkan suatu refleksi dan meneliti bukti nyata hidupnya. Saya juga merasa tersentuh dan merasa bahwa saya tidak ahli dalam mengungkapkannya secara tertulis sepenuhnya. Dan lagi karya ini sungguh penting yang Bapa Suci percayakan kepada saya. Dengan alasan tersebut saya segera mulai menulis kisah mengikuti perintah Bapa Suci. Tetapi mengingat bahwa data yang kami peroleh tidaklah lengkap, saya berusaha mencari bahan tambahan dari Para Saudara Dina yang dekat dengan Santa Klara. Sehingga kisah Santa Klara terbentuk dengan bantuan para saksi mata.”

Marco Bartoli merasa bahagia dapat membandingkan yang Celano tulis tentang peristiwa-peristiwa nyata. Secara keseluruhan tulisan ini berbicara tentang saksi mata 20 orang. Celano memegang semua data, tetapi ia tidak menggunakan seluruhnya. Apa alasan sebenarnya?

  1. Leg. Cl. FF 3151, “…di samping ia telah dapat  bertemu dengan Cahaya Abadi, wanita lemah tersebut juga dibantu sehingga dapat bertemu dengan Cahaya Abadi juga. Karena bisa juga wanita tersebut ada kemungkinan  bisa tergoda untuk berbuat dosa dan kesalahan lain. Tetapi Allah telah merencanakan kehendakNya. Allah menghendaki agar Santa Klara Perawan yang mulia lahir ke dunia untuk menjadi terang bagi para wanita di seluruh dunia…”[xix] Pada kesempatan ini pantaslah dipuji, bahwa Santa Klara, sebagaimana wanita pada umumnya memiliki kelemahan, tetapi ia justru menunjukkan kekudusannya seperti Santo Fransiskus.
  2. Celano termasuk orang ahli. Ia menulis untuk masyarakat umum. Ia menggunakan bahasa sederhana yang bisa dipahami masyarakat, sebagaimana diungkapkan dalam Leg. Cl. FF 3152, “Saya menulis dengan bahasa sederhana dan lurus-lurus, supaya para pembaca tertarik pada kesaksian hidup Santa Klara yang begitu mengagumkan”. Pada zaman itu biasanya tulisan semacam itu dibacakan di kamar makan, waktu pertemuan atau pada waktu rileks bersama. Walau pun ia menggunakan bahasa yang sederhana, Celano yang ahli, ia pun berusaha agar tulisan tersebut berkenan kepada Bapa Suci, sehingga ia tidak menuliskan secara keseluruhan. Ia menggaris bawahi kutipan-kutipan yang berkenan kepada Bapa Suci. Celanolah pengarang lakon. Celano bermaksud agar tulisan berkenan kepada Bapa Suci yang pernah menulis Anggaran Dasar bagi berbagai biara. Maka Celano memilih peristiwa-peristiwa hidup Santa Klara dan menjelaskannya agar berguna bagi para suster yang menjalani hidup bakti di berbagai biara.[xx] Sehingga tilisan tersebut barangkal kurang  mengutamakan semangat dasariah hidup Para Saudara Dina. Hendaknya kita meneliti secara dasariah maksud tulisan tersebut.

Tulisan-Tulisan Santa Klara

Pantaslah kita bersyukur kepada Biara Santa Klara San Damiano yang tetap memelihara tulisan-tulisan  asli Santa Klara. Tetapi terjadi hal yang mengherankan. Banyak buku yang diterbitkan pada abad pertengahan tak memuliakan Santa Klara. Karya-karya Santa Klara berupa Anggaran Dasar, Wasiat dan Surat-Surat kepada Santa Agnes kurang dipublikasikan. Karya-karya diremehkan. Kita pantas bersyukur kepada Allah. Kita dapat mewarisi semangat hidup dan cara berpikir Santa Klara. Sejak abad pertengahan hingga pada zaman Theresia dari Avila, tilisan-tulisan para religius wanita tak begitu di kenal di kalangan Gereja. Santa Klara berhasil memelihara keheningan hingga kita bisa menemukan tulisan-tulisannya (sehingga ia tak lagi berdiam diri lagi). Jelaslah kita sungguh memiliki tulisan-tulisan Santa Klara dalam bentuk Anggaran Dasar, Surat-Surat kepada Santa Agnes dari Praga serta Wasiat dan Berkat.

————————————————————

[i] Bapa Suci sendiri sempat mengunjungi Santa Klara menjelang wafatnya.

[ii] Pada abad perengahan bila orang kudus meninggal, masyarakat datang untuk menyentuh jenazahnya. Mereka percaya bahwa dan kuasa ilahi keluar dari orang kudus tersebut.

[iii] Pada waktu itu dikenal Kongregasi Biara San Damiano, belum disebut Para Suster Klaris. Mengingat bahwa Bapa Suci Gregorius ke 9 sedang berusaha mempersatukan semua Biara Para Wanita Miskin menjadi satu.

[iv] Pada waktu musim dingin udara dingin sekali. Bila orang hanya memiliki satu pakaian hangat saja tidaklah cukup, bisa kedinginan.

[v] Setiap kali Gereja hendak menetapkan orang kudus dibutuhkan penelitian sejarah hidup.

[vi] Bapa Suci butuh tulisan sejarah hidup agar bisa dijadikan teladan hidup bagi masyarakat.

[vii] Pada waktu terjadi laporan ke pangadilan, hendaklah terdapat saksi. Tetapi dalam kisah proses kanonisasi Santa Klara, para saksi diminta merenungkan kembali kekudusan Santa Klara.

[viii]Kebiasaan pada waktu itu tak beda dengan sekarang, mukjijat apa saja yang Tuhan Allah tunjukkan lewat Santa Klara, dan orang kudus pada umumnya.

[ix]Satu salinan dokumen berada di tangan Celano, untuk menulis sejarah. Hal yang aneh terjadi, Celano memegang data, tetapi ia tidak menggunakannya secara lengkap. Kiranya tugas Celano menulis yang selaras dengan keinginan Bapa Suci Innocentius ke 4.

[x] Pedoman Proses Kanonisasi menurut Bapa Suci Innocentius ke 4.

[xi] Pada wakatu itu semua mahasiswa merupakan calon-calon iman, sekurang-kurangnya telah menerima pelantikan akolit. Tak seorang awam pun diperbolehkan studi di universitas kepausan tersebut.

[xii] Dasar masalah tak diungkapkan secara jelas. Mengapa Para Saudara Fransiskan tak taat kepada keputusan Bapa Suci.

[xiii] “Clara claris praeclara”  berarti “cahaya Klara (cahaya) lebih bercahaya di tengah orang-orang ber-cahaya”.

[xiv] Thomas dari Celano

[xv] Ada banyak bukti bahwa Kisah Santa Klara ditulis oleh Thomas Celano, walaupun tak dicanatumkan penulis.

[xvi] Hidupnya memberikan inspirasi.

[xvii] Cukup didengar, tak bisa membaca sendiri.

[xviii] Hidup Santa Klara menjadi cita-cita, tak lagi bisa dirasakan sentuhannya secara langsung.

[xix] Pemikiran yang membias pada abad pertengahan, terutama para imam, religius dan para ahli. Semua manusia cenderung berbuat salah dan dosa. Tetapi para wanita lebih lemah dari pada pria. Sehingga Santa Klara yang memiliki kelemahan justru menunjukkan kekuatan kekudusannya.

[xx] Karena pada zaman itu terdapat banyak wanita membaktikan hidup mereka di berbagai biara. Kardinal Hugolino ingin mempersatukan semua biara berada dalam naungan Biara San Damiano.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *