Klara – Wanita dalam Keheningan dan Kenangan (Bagian 11)

01/01/2015
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 361 kali

BAB 11. KEKUDUSAN SANTA KLARA

st-clareSesungguhnya semua saksi mata percaya kekudusan Santa Klara. Tetapi masing-masing saksi memandang dari sisi yang berbeda. Contohnya, Giovani yang pernah menjadi pembantu di rumah keluarga Santa Klara mengungkapkan, “Sementara Santa Klara masih di rumah orangtuanya, ia biasa mengenakan pakaian sederhanya, pakaian rangkap berwarna putih.[i]

Thomas Celano mengungkapkan bahwa pakaian rangkap Klara berupa pakaian kasar. Pakaian dikenakan untuk penitensi. Orang pada umumnya tidak melakukan hal tersebut. Orang serumah kiranya mengetahui dengan jelas dan heran. Mengingat pakaian semacam itu tidak biasa dipakai orang pada umumnya, bila tidak bermaksud menjalani penitensi. Karena itu mereka tentu heran bahwa orang keturunan bangsawan yang begitu kaya berkenan mengenakan pakaian se kasar itu. Ia lebih suka mengenakan pakain sederhana dan tidak mencari dan mengenakan pakaian indah sebagaimana para keturunan bangsawan pada umumnya.

“Di samping Santa Klara memiliki hati yang penuh belas kasih, ia pun selalu bertekun dalam doa-doa pribadi. Ia selalu bertekun dalam doa yang tak kunjung putus. Ia selalu dekat dengan Tuhan Allah. Walaupun ia tidak punya Rosario, ia pun menggunakan batu-batu kecil sebagi ganti Rosario, dibaktikan kepada Tuhan Allah.”[ii]

“Waktu Santa Klara berada pada usia yang bagi para wanita seuisanya begitu mudah berubah dengan mengikuti dunia, ia mendapat inspirasi khusus untuk memilih hidup yang selaras dengan kehendak Allah. Ia mengenakan pakaian rangkap begitu kasar sebagai usaha menjalani penitensi, agar selaras dengan Kristus.

Ia menunjukkan kasih suci. Ia mulai mengenal bahwa keindahan dunia ini akan mengalami kemerosotan dan menjadi layu seperti bunga. Sehingga ia menaruh harga barang duniawi di bawah kemuliaan rohani, harta surgawi. Inilah alasan dasar mengapa ia mengenakan pakaian rangkap kasar untuk menyiksa diri atau menjalani suatu penitensi. Pakain luar mungkin nampak indah, tetapi pakaian rangkap tidaklah demikian. Ia lebih suka mengenakan Kristus yang menderita. Celano mengungkapkan bahwa untuk menjadi orang kudus butuh penyiksaan badani. Pada waktu itu terdapat kebiasaan penyiksaan badan dan batin. Dan tanda kekudusan nampak dalam dua hal:

  1. Masyarakat pada umumnya mengenal kekudusan seseorang dengan kemampuan membuat mukjizat. Artinya ia memiliki kekuatan batin. Bahkan bila orang tesebut telah meninggal. Kekuatan batinnya masih nampak dan bisa dirasakan. Dengan menyentuh jenazahnya kita sembuh dari suatu penyakit. Ia sungguh orang kudus.
  2. Para ahli mengungkapkan bahwa kekudusan nampak dalam moralitas hidupnya, dan harapan suci dan kasih yang teguh. Hidup penuh kasih dan bakti. Walaupun tak kuasa membuat suatu mukjizat, ia pun termasuk orang kudus.

Selaras dengan pandangan para ahli tersebut, dalam kisah Santa Klara juga terungkap. Tetapi mukjizat juga terjadi dalam diri Santa Klara sebagaimana saksi mata ungkapkan. Tetapi kekudusan Santa Klara nampak dalam hidup harian yang amat biasa. Thomas dari Celano mencatat hal tersebut.

“Tindakan kekudusan dan hidup sempurna merupakan ungkapan kekudusan Santa Klara. Kita ingat kembali kisah Yohanes Pemandi dengan Yesus. Ada yang bilang, Yohanes Pembaptis tidak pernah melakukan suatu mukjizat sebagaimana dilakukan oleh Yesus. Tetapi kekudusan tak hanya pada kemapuan membuat mukjizat. Yesus sendiri menyebut bahwa Yohaneslah Elia baru. Kekudusan Santa Klara pun nampak dalam hidup harian yang amat biasa. Walaupun tak ada saksi mata, kekudusan Santa Klara pun tetap terpancar.

Waktu Santa Klara masih hidup kekudusannya telah terpancar,[iii] kebaikan budinya dan terutama kekudusannya hingga kini sinarnya tetap terpancar tanpa batas. Di samping itu daya mukjizatnya pun terjadi baik selama ia masih hidup maupun setelah kematiannya. Hal tersebut perlulah diceritakan.[iv] Saya bersumpah hal itu memang sungguh terjadi. Tetapi ternyata masih banyak lagi yang tidak sempat kami cantumkan.[v]

Thomas dari Celano mengungkapkan mukjizat yang terjadi sebagai berikut, “Yakomelo, seorang begitu kasihan karena buta sejak umur 12 tahun. Ia biasa minta-minta. Pada waktu itu hanya sedikit orang yang rela berbagi rejeki. Ia pun harus di tuntun ke mana pun ia pergi. Bila tidak dituntun, ia bisa tergelincir dan jatuh, sebagaimana telah terjadi. Pada suatu malam waktu Yakomelo sedang tidur lelap di bawah jembatan di Narni, ia melihat penampakan bahwa seorang putri menghampirinya. Putri tersebut mengatakan, “Yakomelo, mengapa tidak menemui saya di Assisi? Anda akan sembuh!” Waktu ia bangun, ia pun menceritakan kepada rekannya yang buta bahwa ia melihat suaatu penampakan tentang seorang Putri dari kota Assisi. Rekannya mengatakan, “Kami pernah mendengar tentang seorang Putri di Kota Assisi. Waktu ia telah meninggal, terdapat saksi mata bahwa kuasa Tuhan Allah tetap tinggal dalam dirinya untuk menolong orang-orang sakit untuk disembuhkan.

Setelah mendengar cerita tersebut, Yakomelo segera berangkat ke kota Assisi. Ia merasa begitu bersemangat seolah-olah ingin terbang agar segera sampai di kota Assisi untuk disembuhkan. Waktu ia telah sampai di kota Assisi, ia pun agak kecewa, karena kubur Santa Klara dikelilingi banyak orang tak terhitung banyaknya. Ia tak sanggup mendekat sama sekali. Ia berbaring dengan bantal batu di depan Gereja Santo Gorge.

Waktu ia sedang tidur lelap iapun melihat penampakan dan mendengar suara “Yakomelo, Tuhan Allah menganugerahkan rahmatNya bila Anda bisa masuk ke dalam…”. Ia pun bangun dan berteriak di tengah kerumunan banyak orang. Ia minta jalan untuk menyaksikan kasih Allah. Banyak orang merasa kasihan kepadanya dan memberi jalan kepadanya. Ia melepas pakaian dan alas kaki serta kantong di lehernya dengan sikap sopan. Lalu melangkah ke kubur Santa Klara. Ia berbaring dan tidur dengan tidak lelap. Ia mendengar Santa Klara berkata kepadanya, “Anakku bangunlah, karena Anda telah sembuh!” Ia segera bangun. Matanya dikedip-kedipkan. Ia begitu bahagia bisa melihat terang matahari. Ia bersukaria memuji Tuhan Allah dan mengajak semua orang untuk memuliakan Allah yang telah melakukan mukjizat yang begitu mengagumkan dengan perantaraan Santa Klara”.[vi]

Pada waktu itu pakaian yang dikenakan Santa Klara hanya pakaian kasar yang biasa dipakai oleh para pembantu pada umumnya. Yakomelo sendiri tidak tahu tentang Santa Klara sebelumnya. Ia hanya berpikir tentang seorang Putri. Setelah ia bisa melihat, ia baru menyadari bahwa beliaulah Santa Klara. Pakaian para imam dan para biarawan tetaplah sama tak berubah, selain disesuaikan dengan keadaan cuaaca setempat untuk menjaga kesehatan. Sehingga tetaplah sederhana.

Mengapa Thomas dari Celano tidak mengungkapkan peristiwa tersebut? Cerita tersebut merupakan bagian dari proses kanonisasi yang dipimpin oleh Bapa Uskup Spoleto. Thomas sendiri mengambil sumber-sumber tersebut seperlunya.

Kita saksikan bahwa orang buta tak begitu mempedulikan Siapakah Santa Klara, yang ia butuhkan hanyalah kesembuhan. Ia berpikir seperti orang pada umumnya bahwa kekudusan seseorang terletak pada kemampuannya melakukan mukjizat. Persis seperti wanita sakit pendarahan dalam injil. Iapun tak berpikir siapakah Yesus, tetapi ia hanya percaya kekudusanNya sanggup menyembuhkan dirinya.

Tetapi mukjizat terjadi dengan syarat tertentu, terutama kepercayaan. “AnakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mk 5:34). Kebiasaan pada zaman Santo Fransiskus dan Santa Klara pun demikian, bahwa mukjizat terjadi dengan suatu syarat tertentu dan melalui proses yang perlu dijalani.

  1. Hendaknya memiliki iman kepercayaan. Kepercayaan tersebut ditindaklanjuti dengan suatu tindakan nyata. Percaya yang ia dengar, “Pergilah ke kota Assisi”. Ia melakukan suatu semangat ketaatan dengan melakukan perintah dengan penuh antusias.
  2. Hendaknya pergi berziarah. Ia pergi untuk memohon dan memperoleh suatu berkat. Suatu perjalanan rohani atau ziarah batin (“Marilah kita pergi ke rumah Tuhan kekota suci Yerusalem” (Mzm 122:1-2).
  3. Tuhan Allah akan menganugerahkan rahmatNya di tempat yang telah ditentukan. Walaupun ia tertidur lelap di kubur Santa Klara. Ia memasrahkan segala-galanya kepada kehendak Allah dengan perantaraan seorang putri. Ia pun percaya bahwa Allah-lah yang melakukan mukjizat dengan perantaraan orang pilihanNya.

[i] Proc. 20, 4: FF 3143. Pakaian sederhanya yang biasa dipakai orang pada umumnya. Sebenarnya keturunan bangsawan biasa mengenakan pakaian mewah dan mulia.

[ii] Leg. Cl. 4: FF3159, FF 3160.

[iii] Celano menekankan moralitas hidup Klara, bukan mukjizat.

[iv]Pentinglah diceritakan karena terdapat bukti.

[v] Leg. Cl. 49: FF 3262.

[vi] Leg. Cl. 53.: FF 3267-3268.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *