Klara – Wanita dalam Keheningan dan Kenangan (Bagian 1)

09/09/2014
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.169 kali

{ Bartoli M., Chiara: una donna tra silenzio e memoria, San Paolo, Cinisello Balsamo, 2001}

Diterjemahkan dari Bahasa Thai oleh Sdr. FX. Sutarja

BAB 1.  SIAPAKAH SANTA KLARA DARI ASSISI

 Orang yang pertama kali  menanyakan “Siapakah Klara dari Assisi?” hendaknya Thomas Celano, penulis sejarah. Ia menulis riwayat hidup Santo Fransiskus waktu Santa Klara masih hidup. “…inilah tempat kudus. Di tempat inilah Santo Fransiskus memulai karya dasariah dengan mendirikan ordo yang di kemudian hari menjadi terkenal, yaitu “Ordo Para Wanita Miskin”[i] dan perawan kudus. Di tempat inilah Klara yang rendah hati menjadi batu penjuru yang bermutu dan dan kokoh dalam keluarga ordo Saudara-Saudara Dina yang telah berdidiri tegak. Santa Klara berjanji setia di hadapan Allah atas nasihat dan peneguhan  Santo Fransiskus.  Ia menjadi teladan utama bagi keselamatan jiwa banyak orang tak terhitung jumlahnya. Ia lahir dari keturunan bangsawan. Dengan rahmat Allah ia menempuh jalan keutamaan dengan mulia. Ia menjaga kemurnian badan dan lebih lagi kemurniah batin. Umur masih muda tetapi ia mencapai kedewasaan dalam kebijaksanaan dan rohani dan murni dalam cita-cita, setia dan teguh dalam kasih kepada Allah. Ia penuh dengan kebijaksanaan dan kerendahan hati. Klara berarti cahaya. Karena itu (sebagaimana Celano tulis) “Klara[ii] selaras dengan namanya membawa cahaya”. Lebih lagi Klara membawa terang melalui kesaksian hidupnya. Keutamaan hidupnya membawa cahaya terang benderang”[iii]

Biasanya kita memuji orang waktu dia telah meninggal. Tetapi Celano memuji Santa Klara waktu ia masih hidup dalam biara. Tulisannya mengajak kita berpikir, apa maksudanya. Tentunya Celano bermaksud menulis sejarah untuk memperkenalkan Santo Fransiskus sebagai teladan agar seluruh dunia mengenal siapakah Santo Fransiskus, dan hidupnya. Tetapi waktu menceritakan tentang Santo Fransiskus, ia menyinggung juga Santa Klara yang hidupnya begitu menonjol. Celano juga bermaksud memperkenalkan Ordo Para Wanita Miskin. Celano juga memahami keinginan Bapa Suci Gragorius ke 9 yang meminta Celano menulis sejarah Santo Fransiskus. Beliaulah Kardinal Hugolino teman dekat Santo Fransiskus and Santa Klara, sebelum diangkat menjadi Bapa Suci. Sehingga Celano menulis sejarah Santo Fransiskus  dan menyinggung Santa Klara juga. Waktu Celano menulis idiologi Santa Klara dengan sungguh-sungguh, ia pun mengutip Anggaran Dasar Santa Klara “…akhirnya perkenankanlah saya mengahiri kata-kata singkat untuk para perawan yang membaktikan diri kepada Allah dan hambanya yang tak berguna dari Tuhan Yesus Kristus ini, hidup dan Anggaran Dasar yang pantas dimuliakan ini, yang diteguhkan oleh Bapa Suci Gregorius ke 9.  Anggaran Dasar tersebut ditulis waktu beliau menjadi Kardianal di Ostia[iv]. Beliau menghendaki agar diadakan penyelidikan khusus dan ditulis sejarah khusus[v]

Celano memuji Bapa Suci.  Mengingat bahwa Anggaran Dasar yang dijalankan oleh para Suster merupakan Anggaran Dasar yang ditulis oleh Bapa Suci sendiri dan diserahkan kepada para Suster sewaktu beliau menjadi Uskup Ostia dan Klara diminta menjalaninya.

Waktu Celano menulis sejarah Fransiskus bagian 1 (1 Celano) (1228-1230), Santa Klara berumur sekitar 36 tahun. Bila dibandingkan dengan anggota lain, Santa Klara mendapat perhatian khusus di tengah saudara-saudari lain yang memasuki keluarga Fransiskan.

Dengan menulis demikian, artinya orang Assisi yang mengenal Klara percaya bahwa Santa Klara telah menjadi orang kudus selama ia masih hidup. Sebagaimana Celano menulis, “Klara berasal dari keluarga yang memiliki keutamaan”. Hal seperti inilah sikap dasariah pada abad ke 13. Biasanya orang yang ditetapkan menjadi orang kudus berasal dari keturunan bangsawan[vi]. Tetapi kalau kita amati sungguh-sungguh, keutamaan Santa Klara memang sempurna: “…kemurnian badani dan rohani, hidup cerah sebagai ungkapan ketulusannya, dan ungkapan kasih sempurna kepada Allah.  Celano mengungkapkan keyakinannya sebagai berikut: “Bapa Suci Gregorius ke 9, orang yang pantas memangku jabatan tertinggi, begitu mengungkapkan kasihnya yang tulus kepada Klara, sebagai seorang bapa. Bapa Suci menggunakan cara-cara macam-macam supaya Klara menerima kekayaan supaya bisa digunakan menjadi jaminan untuk memelihara para suster dan keperluan lain pada masa depan. Bapa Suci memberikan kekayaan kepada Klara. Tetapi Klara menolak mentah-mentah dan ia juga menolak segala anugerah khusus Bapa Suci yang lain. Walapun Bapa Suci berjanji akan memberikan dispensasi janji kemiskinan, “Bila anakku takut melanggar janji yang telah dikaulkan, kami akan memberikan dispensasi”. Tetapi Klara menolak katanya, “Bapa Suci, Ananda tidak menginginkan apa pun selain ingin mengikuti Tuhan kita Yesus Kristus saja”[vii]  

Peristiwa tersebut mengungkapkan bahwa Bapa Suci sungguh mengenal Santa Klara dan Beliau sungguh menyadari bahwa Santa Klara sungguh mencintai Tuhan kita Yesus Kristus. Ia mau menjalani hidup injili secara sempurna. Begitulah Klara berani menolak kehendak baik Bapa Suci, “Bapa Suci, Ananda tidak menginginkan apa pun selain ingin mengikuti Tuhan kita Yesus Kristus saja”[viii] Santa Klara sungguh memiliki kebebasan batin dan Santa Klara menujukkan dengan jelas bahwa kehendak baik Bapa Suci tak selaras dengan hidup injili yang hendak ditempuh. Dalam hal inilah Santa Klara amat berbeda dengan para wanita yang menjalani hidup bakti sebelumnya pada zaman itu. Satu hal lagi, waktu Santa Klara mendengar bahwa beberapa Saudara Dina menjadi martir di Maroko, Sr. Caecilia memberi kesaksian berikut: “Bunda Klara bertekat ingin menjadi martir. Demi kasih kepada Allah. Bunda Klara ingin segera berangkat ke sana. Sr. Caecilia yakin bahwa sejak itulah Santa Klara mulai menderita sakit badani”.[ix]

Mungkin kita berpikir bahwa  Santa Klara tidak sungguh-sungguh dalam mewujudkan cita-citanya menjadi martir. Tetapi tidaklah demikian bagi Santa Klara. Ia bertekad bulat ingin mewartakan kabar gembira injili. Biarpun berisiko mati dan dianiaya pun ia siap. Ia sungguh bertekad ingin menjadi martir seperti 4 orang Saudara Fransiskan yang telah mendahuluinya. Kita mungkin juga berpikir bahwa Santa Klara tidaklah bijaksana dengan keinginannya untuk pergi bermisi untuk menjadi martir. Karena ia menjadi pimpinan biara. Bagaimana mungkin seorang pimpinan biara kontemplatif bertekad ingin pergi ke misi untuk menjadi martir? Tetapi sesungguhnya keingingan untuk menjadi martir menunjukkan kepada kita bahwa Santa Klara memiliki kebebasan berpikir, berkehendak dan bercita-cita yang berdasarkan kebebasan injili, ia ingin menjalankan hidup injili dan mewartakan injil. Cara berpikir demikian mendapat inspirasi dan contoh teladan hidup Santo Fransiskus.

Waktu Celano memuji Santa Klara dalam kaitanya dengan penulisan sejarah Santo Fransiskus, sebenarnya Celano beresiko. Karena Ia sedang menampilkan tokoh seseorang wanita yang untuk pertama kalinya tampil dalam sejarah, seorang wanita yang memiliki kebabasan batin dalam berpikir dan bertindak. Tetapi ia siap menanggung risiko, mengingat bahwa hal itu akan berkenan kepada Bapa Suci, yang sungguh mengenal Santa Klara dan menyerah kepada Santa Klara karena cara berpikirnya yang benar dan selaras dengan injil. Di samping itu pada abad ke 13 terdapat satu kelompok hidup bakti di Italia tengah yang bertekad menjalani hidup injili, dan banyak kelompok hidup bakti semacam itu tetapi tak selaras dengan hidup injili. Bapak Kardinal ingin agar semua kelompok hidup bakti bersatu padu dan menjadikan Biara San Damiano menjadi pedoman utama. Tetapi Kardinal juga menhendaki agar semua kelompok hidup bhakti mengikuti kebijaksanaannya. Itulah yang menimbulkan Santa Klara mengalami sedikit gangguan dalam kebebasan batin.[x] Celano kemudian menceritakan tentang Santa Klara dan para suster untuk dijadikan contoh bagi kelompok hidup bhakti.

Celano menyelesaikan tulisan sejarah hidup Santo Fransiskus bagian pertama pada tahun 1230. Dalam tulisan tersebut ia memuji “Klara”, menyebut nama “Klara”, dan menjelaskan panggilan dan awal perkembangan hidup para suster di biara San Damiano. Penulis juga memahami bahwa Celano memaparkan bahwa Bapa Suci Gregorius ke 9 amat berkenan kepada Santa Klara. Beliau juga berkenan mengunjungi dan menghendaki agar Santa Klara menjadi teladan para wanita lain yang hidup membiara. Tetapi setelah 18 tahun berlalu terjadilah suatu yang kiranya aneh. Celano dapat   mengumpulkan dokumen untuk memperbaharui sejarah hidup Santo Fransiskus, yang kita kenal dengan 2 Celano. Dia sanggup mengumpulkan banyak bahan secara lengkap, karena Pimpinan biara San Damiano meminta kepada semua suster untuk berbagi pengalaman tentang Santo Fransiskus secara tertulis untuk disampaikan kepada Celano. Tetapi penulis buku ini, “Klara: wanita dalam Keheningan dan Kenangan”, waktu membaca sejarah panggilan hidup Santo Fransiskus menurut 2 Celano merasa heran. Karena Celano dapat mengungkapkan sejarah perkembangan panggilan hidup Santo Fransiskus waktu di Biara San Damiano yang tak terdapat di 1 Celano. Dan ia hanya menyinggung seorang suster yang berada di Biara San Damiano dengan tidak menyebut nama Santa Klara dan panggilannya walaupun hal itu terdapat dalam 1 Celano.

Penulis mempertanyakan bahwa Santo Fransiskus memperbaiki Gereja San Damiano dan meramalkan bahwa kelak akan menjadi tempat tinggal para wanita kudus di tempat ini, tetapi tidak menyinggung Santa Klara sama sekali. Penulis menemukan alasan. Karena dalam perkembangan selanjutnya Persaudaraan Fransiskan terjadi perubahan. Dan sikap Bapa Suci terhadap Santa Klara juga berubah. Bapa Suci mengunjungi Santa Klara di Biara San Damiano dan menganugerahkan “Previlege Kemiskinan”. Tetapi Bapa Suci memaksa Santa Klara untuk menjalani Anggaran Dasar yang Bapa Suci tulis. Persaudaran Fransiskan mengalami krisis tak lama setelah Celano menulis riwayat hidup Santo Fransiskus bagian pertama (pada tahun 1230). Dalam pertemuan di Assisi terjadilah perpecahan persaudaraan menjadi dua kelompok: Kelompok pendukung Br. Elia da Cortona dan kelompok yang mendukung pimpinan baru, Br. Crescenzo da lesi. Mereka mempermasalahkan tentang Wasiat Santo Fransiskus atau salah satu tentang tulisannya. Dalam Wasiat, Santo Fransiskus memperingatkan para saudara untuk memelihara semangat menghayati injil secara keseluruhan. Tetapi dalam pertemuan, terutama para saudara yang berpendidikan tinggi, terutama para saudara imam, berpendapat bahwa dalam Injil mengandung banyak implikasi: terdapat ayat-ayat yang mengharuskan, yang menjadi norma, dan yang hendaknya dilaksanakan; dan ada juga ayat-ayat yang sifatnya nasihat-nasiha dan usul-usul. Tetapi tidak semua ayat dapat dilaksanakan begitu saja. Wasiat Santo Fransiskus merupakan cara Santo Fransiskus mengingatkan para saudara dan bukan suatu Anggaran Dasar baru yang berlakunya mengikat, kalau tidak menepati dinilai melanggar aturan. Terdapat pendapat lain bahwa kita hendaknya melakukan sejauh kita bisa. Wasiat tersebut menjadi bahan perdebatan di antara para saudara. Karena pertemuan tidak bisa sepakat, maka dibentuklah panitia untuk mempelajari Wasiat tersebut. Hal-hal mana yang menjadi pertentangan disampaikan  kepada Bapa Suci untuk diputuskan. Hal-hal yang menjadi permasalahan sebagai berikut:

–          Ketaan kepada Injil

–          Hendaknya memahami Wasiat Santo Fransiskus dengan cara bagaimana.

–          Penggunaan uang.

–          Semangat kemiskinan.

–          Kepemilikan rumah.

–          Ijin mendengar pengakuan dosa[xi].

–          Hal khotbah[xii].

–          Hal mendidik novis[xiii].

–          Hal pemilihan Minister General.

–          Hal spiritual assistent untuk para suster dengan aturannya.

Kesimpulan – Wasiat Santo Fransiskus hendaknya diperlakukan sebagai hukum yang mengikat atau sebagai peringatan? Menurut ensiklik Quo elongati yang diumumkan pada tanggal 28 September 1230, Wasiat Santo Fransiskus tidak mungkin diperlakukan sebagai hukum yang mengikat. Menurut kebiasaan diperlakukannya suatu hukum tak mungkin ditulis seorang diri. Hukum hendaknya disepakati dalam Kapitel Persaudaraan. Wasiat tidak diajukan dan disyahkan dalam Kapitel Persaudaraan. Wasiat bukanlah hukum syah yang mengikat. Bila seorang Saudara Dina melakukannya, dialah terpuji, tapi bila tidak, tidaklah bersalah, tetapi Anggaran Dasar hendaklah dihayati.

Dalam Anggaran Dasar dikatakan “hendaknya dijalankan selaras dengan semangat Injil”…Bagaimana ungkapan tersebut hendaknya dipahami. Seluruhnya harus dijalankan atau tidak. Bapa Suci menjawab bahwa “Hendaknya kita melakukan discernment secara injili maksud ajaran Yesus dan Anggaran Dasar hendaknya dijalankan selaras dengan ajaran dan semangat Injil. Dalam Anggaran Dasar dikatakan bahwa kita menjanjikan 3 nasihat injili[xiv]. Ketiga nasihat injili tersebut merupakan hukum yang harus ditaati. Sementara aturan yang lain bersifat nasihat moral yang tidak mengikat, tetapi diharapkan dijalani demi kesempurnaan hidup, sejauh dapat dilakukan[xv].

Hal kepemilikan uang dan rumah merupakan suatu nasihat rohani dan bukanlah hukum yang mengikat. Hal itu hendaknya dijalankan seperlunya.

Relasi Para Saudara Fransiskan dengan Para Suster hendaklah dipahami secara dasariah. Masalah dasar terdapat dua hal yakni, relasi yang terbentuk atas dasar kebiasaan dan relasi atas dasar Anggaran Dasar yang disyahkan oleh Bapa Suci. Menurut Anggaran Dasar yang ditulis oleh Bapa Suci, dikatakan bahwa semua Saudara Fransiskan tidak diperkenankan menjalin relasi entah menjadi pempimbing rohani atu urusan lain dengan Para suster, selain Saudara yang mendapat ijin dari kepausan. Mengingat bahwa Roma tidaklah begitu jauh dari Assisi dan Kardinal Hugolino[xvi] pun pada waktu itu bertanggungjawab atas semua biara di Italia tengah bisa dihubungi. Pada waktu itu terdapaat banyak kelompok hidup membiara yang disebut “Para Wanita Miskin”. Pada mulanya kelompok tersebut menjalin kesatuan. Kardinal Hugolino menulis Anggaran Dasar yang ketat untuk mereka jalankan. Beliau juga menghendaki agar semua biara tersebut menjalin kesatuan dengan Biara Santa Klara. Biara San Damiano diharapkan menjadi biara teladan. Kardinal Hugolono juga menghendaki agar Para Saudara Fransiskan tak lagi mencampuri urusan hidup membiara Para Suster tersebut. Tetapi relasi antara Biara San Damiano dan Para Saudara Fransiskan telah terjadi secara alamiah sejak awal. Maka Para Saudara Fransiskan tak perlu lagi minta ijin secara khusus lagi kepada Bapa Suci. Kardinal Hugolino bermaksud membenahi kembali semua biara yang menamakan “Biara Para Wanita Miskin” secara ketat. Larangan untuk tidak mencampuri urusan “Biara Para Wanita Miskin” tersebut ditujukan kepada semua biarawan dan para imam lain yang bermaksud menjalin relasi dengan mereka. Sementara relasi Santo Fransiskus dan Santa Klara telah terbentuk sejak awal, sebelum Kardinal Hugolono mengeluarkan ensiklik Quo elongati pada tahun 1230, untuk menanggapi masalah-masalah yang terjadi dalam interen Persaudaraan Fransiskan. Semua Biara berada di bawah kekuasaan Kepausan, termasuk Biara Santa Klara San Damiano. Dalam hal inilah semua pimpinan biara hendaknya menunjukkan ketaatan kepada Bapa Suci. Tetapi hanya Santa Klara seorang diri berani protes. Bahkan dari kalangan Para Saudara Fransiskan pun tak ada seorang Saudara yang berani mengungkapkan keberatan. [xvii]

“…terjadilah suatu peristiwa. Bapa Suci Gregorius ke 9 melarang Para Saudara Dina untuk memberi bimbingan rohani kepada Para Suster, kecuali mendapat ijijn dari Bapa suci. Setelah Santa Klara mendengar larangan tersebut Santa Klara menjadi kecewa. Ia kawatir para suster kurang mendapat nasihat rohani. Santa Klara berbicara langsung kepada Bapa suci Gregorius ke 9, “Kalau demikian halnya, bila Bapa Suci melarang Para Saudara Dina untuk berbagi makanan rohani kepada kami, Bapa Suci hendaknya melarang Para Saudara Dina untuk tidak berbagi makanan jasmani sekalian kapada kami”[xviii]. Santa Klara juga meminta agar semua Saudara Fransiskan kembali menghadap pimpinan dengan pesan,”Kalau tidak berbagi makanan rohani, tak usah juga berbagi makan jasmani”. Waktu Bapa Suci mendengar peristiwa dan sikap Santa Klara tersebut, Beliau mempercayakan Pimpinan Persaudaraan Fransiskan untuk memberikan bimbingan rohani selanjutnya” (Leg. Cl. FF 3232).

Santa Klara sedemikian  berani karena ia bermaksud menjaga semangat hidup injili Santo Fransiskus[xix]. Satu hal lagi Santa Klara tidak setuju dengan Bapa Suci dapat kita lihat dalam Surat kepada Santa Agnes dari Praga[xx]. “Mengingat hanya satu hal yang penting (Luk 10,42). Berhubungan denan masalah ini hambamu ini mengingatkan Anda (menurut pengalaman) demi kasih kepada Allah, yang Anda baktikan diri sebagai persembahan kudus dan berkenan kepadaNya (Yer 12,1) (FF 2874)

Sambil mengenang kembali tekad Anda seperti halnya Rachel[xxi] yang lain (Kej 29, 4). Hendaknya tujuan hidup Anda dipegang teguh. Dan keberhasiln yang telah diraih hendaknya dipertahankan. Bila Anda hendak melakukan apa pun, hendaknya dilakukan sepenuh hati. Jangan berhenti melakukan keutamaan (Ams 3, 4). Terutama hendaklah Anda melangkah dengan kebebasan dan keteguhan batin. Janganlah terhambat biarpun hanya olehdebu tanah sekalipun. Hendaknya maju dan berkembang terus dngan penuh keyakinan dan semangat kegembiraan menempuh jalan orang-orang terberkati sebagaimana Anda yakini dengan pasti (FF 2875).

Jangan percaya kepada siapapun[xxii] yang berusaha membujuk kita keluar dari cita-cita kita, atau pun menghambat jalan hidup kita (Rm 14, 13). Singkirkan segala hambatan yang berusaha  menghalangi kita dalam menghayaati janji kita kepada Allah atas ilham Ilahi (Mzm 50, 14) (FF 2876). Berhubungan dengan masalah ini, supaya Anda tetap berjalan dengan teguh pada cara hidup selaras dengan perintah Allah (Mzm 199, 32), hendaknya Anda mendengarkan nasihat Saudara Elias[xxiii], yang menjadi Pimpinan dan Minister General kita.[xxiv] Dan hendaknya Anda mendengarkan nasihat mereka yang begitu bernilai melebihi persembahan (FF 2877).

Barangkali ada seseorang menasihati untuk menyimpang jalan lain, dan menjadi hambatan jalan hidup kita, sebagaimana Anda telah janjikan, atau berlawanan dengan jalan panggilan hidup kita, hendaknya Anda menghormati Beliau, tetapi tak perlu mengikuti nasihatnya. Andalah perawan murni Putri Kemiskinan. Hendaklah Anda berpegang teguh pada Kristus yang miskin (FF 2878).

Dari Surat Santa Klara kepada Santa Agnes tersebut kita pahami bahwa Santa Klara bertekat untuk menjalani hidup injili Pada awal hanya Sdr. Elias berani mendukung gagasan Santa Klara. Tetapi pada akhirnya Bapa Suci juga memahami dan mengijinkan agar Biara di Praga menjalani hidup persis seperti di Biara San Damiano. Pada satu sisi Santa Klara berhasil mempertahankan cita-citanya. Tetapi di sisi lain nampaknya relasi Bapa Suci  Gregorius ke 9 dengan Santa Klara terasa dingin. Pada dasarnya Bapa Suci bermaksud memelihara semangat hidup Santo Fransiskus dan Santa Klara.

Hendaknya kita pahami juga bahwa 2 Celano berhasil di terbitkan atas kehendak Minister General Crecenzo da lesi yang mengajak semua orang yang mengenal Santo Fransiskus untuk menyumbangkan pengalaman mereka untuk dijadikan data penulisan. Data tersebut diserahkan depada Celano. Selanjutnya Celano menggunakan data tersebut untuk menulis 2 Celano yang kiranya lebih lengkap daripada 1 Celano. Namun 2 Celano tidak menulis secara langsung tentang Santa Klara dan Saudara Elias. Celano berusaha menyenangkan hati semua pembaca. Data lain yang kiranya tak digunakan oleh Celano, dikumpulkan dan ditulis menjadi dua buku lagi yaitu Kisah Ketiga Sahabat dan Legenda Perugina.

Terjadi relasi khusus antara Biara San Damiano dan Santo Fransiskus[xxv]. Dalam hal ini kita belum sempat membandingkan tulisan tersebut. Tetapi hal tersebut amat mirip dengan Anggaran Dasar Santa Klara bab 6. Kita lihat Santa Klara menulis Anggaran Dasar pada tahun 1253, sekitar 10 tahun setelah Celano menulis 2 Celano, 1243. Para ahli telah membandingkan bahwa tulisan tersebut amat mirip. Aartinya, barangkali Santa Klara mengutip sebagian dan 2 Celano atau Celano mendapat data dari Santa Klara. Kiranya Santa Klara menulis sesuatu tentang Santo Fransiskus hal yang tidak diketahui oleh orang lain. Tetapi Celano sendiri tidak mengungkapkan sumber asal data tersebut. Hanya Santa Klara seorang diri mengetahui sumber tulisan tersebut.

“Santo Fransiskus Bapa bapa kita, waktu beliau menyadari bahwa kita tidak takut dan kawatir terhadap keadaan kemiskinan, kesusah-payahan hidup, kepedihan, atau dihina, atau direndahkan oleh dunia. Tetapi sebaliknya justru kita mengalami kebahagiaan batin denan peristiwa tersebut, bapa kita berkenan menulis pedoman hidup untuk kita. Karena Santo Fransikus sendiri mengungkapkan bahwa kita menjalani hidup selaras dengan ilham ilahi, bertindak sebagai putri-putri dan pelayan Tuhan kita Yesus Kristus dan Allah Bapa di Sorga dan mempersembahkan diri menjadi mempelai Roh Kudus dengan memilih hidup mengikuti semangat Injil Suci.[xxvi] Saya berjanji atas nama diri saya dan atas nama Para Persaudaraan  Saya hendak memelihara Para Saudari secara khusus sebagaimana Saya memperhatikan Saudara-Saudara saya sendiri[xxvii]

Setelah 2 Celano, nama Santa Klara tak disinggung lagi. Pada masa itu hanya sedikit saudara yang mengenal Santa Klara. Bahkan Santo Bonaventura sendiri  yang belajar di Paris, waktu terpilih menjadi Minister General juga tak begitu mengenalnya. Waktu Beliau hendak menulis nasihat kepada Para Suster Klaris, ia pun bertanya kepada Saudara Leone, “Siapakah Klara?”[xxviii]

Terdapat satu bukti lagi yaitu “Pohon Kehidupan”[xxix]. Dokumen tersebut tidak dimasukkan dalam riwayat hidup Santo Fransiskus oleh Celano dan Santo Bonaventura. Di kemudian hari Ubertino da Casale menulisnya (FF 2098). “Biara San Damiano merupakan tempat pertemuan teman-teman angkatan Santo Fransiskus serta tempat pesan kepada Santa Klara tentang kenangan kepada Santo Fransiskus. Dan mereka juga menyerahkan dokumen yang mereka tulis. Mengingat Persaudaraan Fransiskan sedang mengalami krisis perpecahan. Mereka yakin bahwa Santa Klara bersedia memelihara dokumen tentang Santo Fransiskus dan cita-cita semangat hidup  Santo Fransiskus.

Pada awal berdirinya Ordo Para Saudara Dina, Santo Fransiskus belum menulis Anggaran Dasar, mengingat anggota persaudaraan hanyalah sedikit. Masing-masing menjalani hidup sesuai dengan dorongan batin atau mengikuti kesalehan pribadi.  Waktu jumlah anggota persaudaraan makin bertambah, Bapa Fransiskus mulai menulis Pedoman Hidup Persaudaraan. Pedoman Hidup tersebut mendapat persetujuan daari Bapa Suci. Anggaran Dasaar tersebut mengutamakan tentang semangat hidup miskin secara dasariah. Anggaran Dasar tersebut juga hanya sebagai ajakan dan bukan suatu paksaan. Tetapi mengingat semakin banyaknya anggota persaudaraan, bentuk anjuran tersebut tak begitu efektif. Maka Santo Fransiskus menulis lagi Anggaran Dasar baru yang lebih mengikat.

Anggaran Dasar baru tersebut dicatat oleh Saudara Leone atas perintah Santo Fransiskus. Selama penulisan Anggaran Dasar tersebut, Santo Fransiskus berada dalam suasana doa, supaya Saudara Leone bisa menulis selaras dengan yang Santo Fransiskus maksudkan, selaras dengan  inspirasi Allah dalam doa tersebut. Santo Fransiskus dapat memahami sebelumnya bahwa Anggaran Dasar akan mengalami kemunduran dan kemajuan. Maka ia pun menulis Anggaran Dasar terbaru selaras dengan inspirasi ilahi. Mengingat terjadinya perubahan tersebutlah Santo Bonaventura sengaja tidak mengutip “Riwayat Hidup Awal” Santo Fransiskus. [xxx] Di samping itu beberapa Saudara Dina bertindak yang tak selaras dengan Anggaran Dasar.  Santo Bonaventura juga tidak mau mencemarkan nama Persaudaraan Fransiskan dengan menulis kejadian yang sebenarnya, hingga waktu yang pantas diungkapkan. Bila Santo Bonaventura berani mengungkapkan hal yang sebenarnya sejak awal, kiranya akan lebih baik. Supaya dokumen tersebut tetap terselamatkan[xxxi].

Tuhan Yesus Kristus menunjukkan kasih setianya kepada Santo Fransiskus yang begitu menderita karena menulis Anggaran Dasar yang ditentang oleh Para Saudara Dina sendiri. Tuhan sendiri menghendaki agar Anggaran Dasar tersebut disyahkan secara resmi demi Persaudaraa pada masa depan. Tuhan Yesus sendiri berseru dengan suara lantang, “Fransiskus, anakKu yang terkasih,… kami sedang berbicara dari Sorga dengan anakKu terkasih, Kami sendiri yang menciptakan Anggaran Dasar tersebut. Kami hanya menggunakanmu sebagai alat kami agar Anggaran Dasar tersebut berhasil. Kami menghendaki agar Anggaran Dasar tersebut dijalankan secara harafiah dan tak ada kekecualian. Barangnsiapa tidak mau penepati Anggaran Dasar biarlah mereka keluar dari persaudaraan. Karena kami tidak menghendaki Anggaran Dasar tersebut untuk diubah” (FF 2098-2099).

Pada awalnya, penulis tetang “Klara: Wanita dalam Keheningan dan Kenangan” kawatir dokumen asli telah hilang. Tetapi ternyata dokumen tersebut masih tersimpan di Biara San Damiano. Karena Santa Klara sendirilah yang menyimpan dokumen tersebut. Kelihatannya Santa Klara telah hilang berlalu dari hidup Para Saudara Dina. Tetapi pada kenyataannya, Santa Klara sendirilah yang masih teguh setia pada semangat hidup Santo Fransiskus. Dan ia juga orang yang menyimpan dokumen-dokumen awal Para Saudara Dina. Dokumen-dokumen tersebut menyimpan semangat awal hidup Santo Fransiskus dan para Saudara Awal. Kiranya mengherankan bahwa Minister General sendiri dan sebagai Santo bisa juga mengambil keputusan yang tidak sepantasnya dengan mengabaikan dokumen asli tersebut.


[i] Waktu itu belum disebut Ordo.

[ii] Klara berarti cahaya.

[iii] 1Cel 18;FF 351 “Bukan hanya hidupnya yang bercahanya tetapi juga keutamaan hidupnya bertebar cahaya”.

[iv] Kardinal Ostia.

[v] 1 Celano 20; FF 353.

[vi] Raja, Bangsawan, kecuali Santo Fransiskus yang keturunan pedagang.

[vii] Leg. Cl: FF 3187, Prc. FF 2937, 2965, 2980.

[viii] Mengikuti Tuhan Yesus Kristus berarti menjalani hidup injili.

[ix] Proc. FF 3029.

[x] Semua Biara terjadi perubahan. Otoritas Gereja setempat mengusulkan bentuk hidup sesuai dengan pendapat mereka. Santa Klara sendiri terpaksa menerima Anggaran Dasar yang disodorkan kepadanya untuk sementara. Tetapi pada akhirnya Santa Klara menulis sendiri Anggaran Dasar sendiri. Bagi dia tidaklah mudah. Karena segalanyanya haarus mulai lagi. Pada waktu itu terdapat banyak bentuk hidup injili, tetapi tak ada pegangan hidup bhakti yang selaras dengan yang dicita-citakan.

[xi] Pada waktu itu perlu ijin uskup setempat.

[xii] Ijin Bapa Suci.

[xiii] Awal novisiat, sebelumnya tak ada.

[xiv] Hidup bhakti menjanjikan tiga semangat injili yakni kemurnian, kemiskinan dan ketaatan. Walaupun dalam Injil hal tersebut hanya berupa nasihat. Tetapi bagi Lembaga Hidup Bakti 3 nasihat injili tersebut menjadi hukum yang mengikat selaras dengan Anggaran Dasar.

[xv] Menaati hukum tak secara harafiah, tetapi menjalani semangat humum.

[xvi] Sebelum beliau menjadi Paus.

[xvii] Belakangan Para Saudara Fransiskan tak puas dengan jawaban Bapa Suci yang mewajibkan Para Saudara Dina untuk mentaati Anggaran Dasar yang baku, sementara yang lain hanyalah bersifat nasihat rohani. Hanya Santa Klara seorang diri berani protes, demi oenghayatan injil secara sempurna.

[xviii] Biasanya Para Saudara Dina berbagi di Biara San Damiano makanan yang mereka perolah dari minta-minta. Sejak adanya larangan tersebut, Santa Klara melarang Para Suster untuk tidak untuk melakukan kerja tangan, termasuk jahit-menjahit barang kudus, biarpun bisa dijual sekalipun.

[xix] Bapa Suci pada dasarnya belum memahami semangat hidup injili Santo Fransiskus. Santa Klara segitu bijaksana dan sangat hati-hati terhadap Anggaran Dasar yang belum selaras dengan yang ia inginkan. Tetapi ia pun tak setuju dalam beberapa hal.

[xx] Waktu Santa Agnes memahami cara hidup di Biara San Damiano, ia pun ingin agar Biara di Praga juga tidak memili jaminan apapun. Ia pun mohon agar dianugerahi kehususan tersebut. Pada awalnya Bapa Suci tidak berkenan. Santa Agnes kemudian menulis Surat Kepada Santa Klara (kita tidak punya dokumen tersebut). Tetapi dari jawaban Surat Santa Klara kepada Santa Agnes kita bisa memahami bahwa Santa Agnes hendaknya bersikap bagaimana baiknya, menerima saja? Lalu Santa Klara menasihati Santa Agnes bahwa tak perlulah ia mendengarkan nasihat siapa pun, termasuk Bapa Suci, karena Beliau belum memahami sepenuhnya hidup injili Santo Fransiskus. Bukan berarti bahwa kita tidak taat kepada Bapa Suci, tetapi kita hanya mengingatkan agar Bapa Suci memahami hidup injili Santo Fransiskus.

[xxi] Pencuri yang mencuri patung tuangan dan menyembunyikannya di bawah tempat duduk untanya. Anda pun demikian pula hanya. Ayahndnya memeriksa dan menyuruh Rachel bangkit berdiri supaya bisa diperiksa. Tetapi Rachel tidak mau berdiri. Ayahnda pun tidak memaksa dan tak jadi memeriksa karena ia tidak mau berdiri. Yang Santa Klara amati adalah keteguhan batin Santa Agnes untuk meraih cinta-cita. Kita hendaknya teguh setia dalam menghayaati semangat kemiskinan suci. Santa Klara bukanlah bersikap keras kepala, tetapi teguh setia meyakiini dan menjalani semangat kemiskinan sebagai anugerah khusus. Maka hendaknya kita teguh setia menjalaninya.

[xxii] Termasuk Bapa Suci, jangan takut kita tidak sendirian.

[xxiii] Eli adalah Sanhedren dan Elia adan nabi.

[xxiv] Teman Santo Fransiskus dan memahami semangat hidup kita.

[xxv] Tidak menyinggung Santa Klara.

Santo Fransiskus Bapa bapa kita, waktu beliau menyadari bahwa kita tidak takut dan kawatir terhadap keadaan kemiskinan, kesusah-payahan hidup, kepedihan, atau dihina, atau direndahkan oleh dunia. Tetapi sebaliknya justru kita mengalami kebahagiaan batin denan peristiwa tersebut, bapa kita berkenan menulis pedoman hidup untuk kita. Karena Santo Fransikus sendiri mengungkapkan bahwa kita menjalani hidup selaras dengan ilham ilahi, bertindak sebagai putri-putri dan pelayan Tuhan kita Yesus Kristus dan Allah bapa di Sorga.

[xxvi] Hidup penuh keyakinan.

[xxvii] Kata-kata tersebut menggunakan otoritas Santo Fransiskus, seperti warisan yang berhargabagi Para Suster (Anggaran Dasar Santa Klara 6:2-5), 2 Cel. FF 793.

[xxviii] Beliau hanya mengenal sedikit pengalaman persahabatan antara Santo Fransiskus dan Santa Klara, yang tertulis di antara Para Suster di Biara San Damiano.

[xxix] Ditulis pada 50 tahun setelah Santa Klara mainggal dunia.

[xxx] Terdapat banyak hal yang tak tertulis dalam dokumen Persaudaraan. Sehingga terdapat juga beberapa Saudara yang menulis tentang Santo Fransiskus dan menyerahkan kepada Santa Klara di Biara San Damiano.

[xxxi] Selanjutnya terjadi kesalah-pahaman dalam persaaudaraan dan bahwkan perpecahan.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *