Khun At Sengthaphan: Sebuah Catatan Tentang HIV/AIDS

15/09/2016
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 174 kali

khun-at-1Mereka mamanggilnya At. Nama lengkapnya At Sengthaphan, salah satu pasien penghuni St. Clare Hospice di Lamsai, Thailand. Pria yang berusia sekitar 40 tahun ini berasal dari Loei Province di Timur Thailand. Sejak tahun yang lalu ia mendiami St. Clare Hospice.

Seperti patient umumnya, salah satu gejala mereka yang sudah terkena AIDS adalah warna kulit mereka menjadi hitam. Dalam pengalaman saya dalam sepuluh tahun terakhir mengamati para patients, walaupun saya tidak langsung bersentuhan merawat mereka, pada umumnya mereka yang datang dalam keadaan seperti itu, setelah beberapa waktu meminum obat ARV kulit mereka akan mengering, terkelupas seperti sisiksisik ular dan akan terlepas satu demi satu dan kemudian kembali menjadi normal seperti biasa. Tentu saja gatal sehingga mereka akan cenderung menggaruknya. Itulah tanda-tanda antibodinya mulai bekerja lagi.

Hari kamis tanggal 8 September yang lalu para staff datang melapor and meminta ijin ke saya untuk mengunjungi Si At. Maklum Sdr. Tardja yang bertanggung jawab di Hospice sendang libur. Si At dirumahsakitkan. Mereka meminta ijin untuk mengunjunginya. Kebetulan dia direkomendasikan dari Rumah Sakit Lamluka ke rumah sakit yang agak jauh dari Lamsai. Rumah SakitĀ  Bamrungrat. Sekembalinya mereka melaporkan bahwa dia sangat bahagia karena dikunjungi. Si At ditempatkan di ruang isolasi karena menurut dokter di kulitnya ada virus yang bisa menular.

Jumat, 9 September staff kembali menemui saya dan melaporkan bahwa perawat dari Rumah Sakit Bangrungrat dimana At dirawat menelpon dan meminta mereka datang untuk menjemputnya karena si At pulang ke St. Clare Hospice. Ia marah-marah sama perawat dan dokter. Para staff kami tentu saja lebih senang si At di sana karena bisa tinggal di ruang sendiri, di bawah pengawasan perawat dan dokter dan tentu saja kesehatannya bisa terus dikontrol. Kalau dia balik tentu akan merepotkan para staff yang juga sebenarnya para pasients, dan mereka takut akan menularkan ke yang lain. Saya meminta mereka untuk pergi dan berbicara dengan para perawat rumah sakit dan dengan si At. Dalam hati saya mengatakan mungkin sudah saatnya dia mau pulang ke penciptanya sehingga baik juga kalau dia kembali ke St. Clare Hospice dan meninggal ditemani para staff. Paling tidak dia tidak meninggal sendiri. Teringat misi awal St. Clare Hospice.

Setelah beberapa saat mereka menelpon saya. Ternyata Si At sudah mempersiapkan diri dan siap untuk pulang. Dia mengatakan ke para perawat bahwa apapun yang terjadi dia memilih untuk ke St. Clare Hospice. Para perawat juga sudah tidak menginginkan Si At tinggal di rumah sakit karena dia mulai bersikap kasar terhadap mereka. Akhirnya dia dipulangkan dan ditempatkan di salah satu ruang kosong yang tadinya untuk ruang istirahat para staff.

khun-at-2Sabtu, 10 September saya menemui para staff dan berbicara dengan mereka. Mereka memberikan laporan laboratorium dari rumah sakit. Ternyata di kulitnya itu ada telur. Mengikuti nasihat dokter para perawat membersihkan kulitnya yang bersisik itu dengan cara mencukur. Tentu saja dia kesakitan dan marah-marah, teriak-teriak, dan minta pulang ke St. Clare Hospice. Setelah mendengar laporan, sayapun menjelaskan kepada para staff bahwa memang ini salah satu gejala kalau antibodinya mulai bekerja bila pasien dalam keadaan seperti ini. Hampir semua pasient kita memang begitu. Saya lalu memberi contoh beberap pasien yang punya keadaan sama seperti At yang kebetulan masih hidup dan tinggal di St. Clare Hospice. Dua staff kita yang baru ini mereka belum punya pengalaman sebelumnya seperti ini akhirnya mengerti. Saya bilang rawat aja dia baikbaik. Perlahan-lahan kulitnya akan kembali normal seperti biasa.

Setelah itu saya bilang ke mereka. Kebanyakan pasient kita kalau dibawa ke rumah sakit biasanya keadaannya makin parah atau lemah. Para dokter hanya memberi obat sesuai dengan keluhan mereka yang kadang-kadang justru membuat mereka makin parah dan meninggal. Banyak dari pasient kita lebih memilih tinggal di St. Clare Hospice daripada di Rumah Sakit. Ini kadang melelahkan kita para staff. Mungkin juga karena di St. Clare Hospice perhatian yang diberikan berbeda kalau di Rumah Sakit.

Akhirnya kepada para assistant perawat, perawat, dokter atau siapa saja yang bekerja dengan orang-orang HIV/AIDS bisa melihat gejala-gejala ini. Saya tidak tahu menjelaskannya secara medis tapi menurut pengalaman kadang-kadang muncul symptom yang merupakan tandatanda bahwa antibodinya mulai bekerja. Jangan cepatcepat menganggap itu sebagai penyakit baru. Butuh
waktu untuk mengamati itu. Terima kasih dan semoga sharing ini bermanfaat.

Kontributor : Sdr. Alforinus Gregorius Pontus OFM
(Misionaris Fransiskan asal Indonesia di Thailand)

 

 

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *