VI. Maju Selangkah

Dilihat: 249 kali

“Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadanya” (Yoh 8:29). “Aku tidak mencari kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 5:30). Itulah ucapan-ucapan Yesus yang kiranya menyangkut kita juga – kalau tidak, mengapa tercantum dalam Injil? – dan dapat mengajarkan sesuatu kepada kita. Menganggap kehendaknya sebagai miliknya sendiri yang dapat dipakai sekehendak hati, oleh Fransiskus dianggap biang-keladi semua dosa (Pth II) dan baru setelah orang menyerahkan diri sepenuhnya untuk taat ia menjadi miskin (Pth III, 3). Memang S. Fransiskus berguru pada Yesus. Dan Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata. seperti yang dikutip diatas, tetapi terlebih dengan pribadinya dan perbuatannya. Yesus sendiri sebenarnya tidak mempunyai otonomi, tetapi secara funngional sama dengan Bapa yang mengutus-Nya. Ucapan-ucapan Yesus menyingkapkan jati diri-Nya. Dan itulah kiranya menjadi pengarah dalam kehidupan kita yang percaya padanya.

Tuhan kita tidak hanya mencari mengenal kehendak Bapa, tidak hanya melaksanakan dan menyelesaikan kehendak itu (Yoh 4:34), tetapi Ia maju selangkah. Seseorang bisa saja mencari mengenal kehendak atasannya. entahlah siapa, dan dengan setia melakukkannya. Dan terpujilah orang itu. Orang bisa maju selangkah dengan mencintai kehendak itu. Dan itulah yang dibuat oleh Yesus sampai tingkat tertinggi, sehingga terwujudlah sebuah identifikasi antara kehendak Yesus dan kehendak Allah, sehingga tidak ada otonomi lagi. Sepenuh-penuhnya Yesus mendekap kehendak Bapa. Ia memakan, menikmati kehendak itu sebagai makanan hidup, “Makan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 4:34). Dan itulah pula cita-cita kita yang terakhir.

Tidak hanya mengenal dan melakukan kehendak Allah, tetapi dengan sebulat hati pasrah mencintainya. Cinta sejati, kasih Kristen, berarti: Selalu mengutamakan yang lain, kasih sepihak, kasih searah, entah dibalas entah tidak digubris, tanpa menuntut balasan. Dan itulah penyelesaian dan penyempurnaan kita sebagai makhluk, sahabat dan anak Allah. Tanpa syarat atau tawar-menawar menyerahkan diri kepada asal-usul dasar dan sumber segenap keberadaan kita. Dihadapan Allah kita memang serba majemuk dan serba kaya. Kita tidak hanya makhluk, sahabat dan anak Allah, tetapi juga saudara Anak Tunggal-Nya, rasul dan utusan Tuhan kita Yesus Kristus. Kekayaan dan keluhuran itu jarang kita sadari, namun semuanya berasal dari kehendak Allah. Dan itulah sebabnya tidak cukup kita mengenal dan melaksanakan kehendak Allah, agar keluhuran dan kekayaan kita ja­ngan hilang, tetapi malah bertambah. Kita pun mesti mencintai kehendak Bapa, tidak menahan apa saja bagi diri kita sendiri, seperti dikatakan S. Fransiskus(SurOr 29); mencintai dengan segenap hati, segenap budi, segenap tenaga kehendak manis sedap Pencipta kita, Bapa kita, kebaikan kita yang tertinggi yang mencakup segala kebaikan lain, sahabat ilahi, Bapa surgawi yang hanya baik, hanyalah Allah yang adalah kasih. Dari padana-Nya berpancarlah segala yang baik dan indah serta benar, Bapa kakak kita, Yesus Kristus. Disitu, pada Dia, pada kehendak-Nya ditemukan istirahat nyaman, kegembiraan, rasa puas dan kenyang yang sepuas-puasnya. Sebab kegembiraan kita yang terbesar terletak dalam kesadaran kita bahwa “seluruh kebenaran” (kehendak Allah) terlaksana (Mat 3:15), seluruh kehendak Allah yang adalah kebenaran, keselarasan dan kasih melulu.

Dalam perayaan Ekaristi- kita menyanyikan :”Tu solus Sanctus, Tu solus Dominus, Tu solus Altissimus, Yesu Christe, cum Sancto Spiritu in gloria Dei Patris”: Hanya Engkaulah kudus, hanya Engkaulah Jujungan, hanya Engkaulah Yang Mahatinggi, Yesus Kristus, bersama Roh Kudus dalam kemuliaan (daya penyelamatan semarak) Allah Bapa. Kehendak Allah itulah yang mesti menjadi terwujud dalam hidup kita. Dan kalau demikian, maka “kebenaran dilakukan”, menurut ucapan Yoh 3:21, artinya: Realitas ilahi yang menyata dalam Yesus Kristus menjadi nyata dalam diri kita dan kehidupan kita. Lalu keluh kesah bapa kita Fransiskus, atau pun lain orang: “Amor non amatur”, kasih tidak dikasihi, boleh berhenti.

Bagaimana mungkin kita nyatanya toh masih juga tidak sampai “menik­mati” semuanya itu, tidak benar-benar mencintainya? Bukankah di situ kita menemukan segala apa yang dapat diinginkan dan dirindukan manusia? Bukankah itulah yang dalam lubuk hati kita kejar dan dibawah sadar kita incar-incar ? Kehendak Allah yang dilakukan dan dengan jujur dicintai memberi kita apa yang dapat diberikan oleh kehendak Allah dan mau diberikan, yaitu Allah sendiri dengan segala harta kekayaan-Nya. Bagaimanakah mungkin Allah yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri tetapi menyerahkannya bagi kita semua, tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan dia? (Rm 8:32). Sebagaimana Allah memberikan dirinya kepada Anak-Nya, demikian ia memberikan diri-Nya kepada makhluk terpilih, yang siap menerima Allah sendiri yang seolah-olah demi kasih mohon diterima. Dan dengan menerima Allah manusia sampai kepada puncak penyempurnaannya sendiri.

Tetapi Allah tidak hanya Omega, akhir dan penyelesaian seluruh keberadaan kepunyaan kita, tetapi Allah pun Alfa, awal dan asas, titik pangkal segala sesuatu. Segalanya berpancar dari Allah (“regressus” dalam istilah S. Bonaventura) dan justru karena itu segalanya (mau) kembali kepada Allah (regressus). Di luar kemauan kita sendiri kita terlibat dalam “egressus”, tetapi tanpa kehendak kita sendiri kita tidak menjadi terlibat dalam “regressus”. Nah, mencintai dan mendekap kehendak Allah itulah yang menggerakkan kita, memasukkan kita kedalam “regressus”, arus ke atas menuju yang, tertinggi dan terakhir, Omega ilahi.

Hendak mencari kehendak Allah sebagaimana mestinya dan melakukannya sebagaimana wajib, kita mesti terlebih dahulu mencintainya, benar-benar mengasihinya. Bukanlah suatu pengalaman umum bahwa orang mesti mencintai sesuatu terarik olehnya, sebelum akan berusaha memperolehnya dan memegangnya terus? Kita bukan budak dan hamba seorang Majikan yang menakutkan dan dengan demikian memaksa kita melakukan kehendaknya, taat kapadanya tanpa satu pun bunga api cintakasih. Sebaliknya, kita menjadi anak Bapa, yang tidak menginginkan kita mengabdi dengan takut dan karena wajib. Ia mengharapkan kita mengabdi karena cinta-kasih dan keikhlasan seorang anak.

Cinta-kasih yang pada akhir sedang menunggu kita dengan semarak kemuliaannya, kasih itu pun pada awal jalan yang kita tempuh menuju yang terakhir itu. Dengan lambat tapi kuat secara tersembunyi Ia mendorong kita, mirip dengan kekuatan gaib yang membuat bunga merekah. Semakin kita mengasihi Bapa, semakin kita siap sedia dengan batuan yang tidak pernah tidak ada, membina dan memperkuat dalam diri kita prasyarat cinta kepada kehendak Allah, yaitu ketenteraman hati. Semakin kita mencintai kehendak Allah, semakin bersih dan murni maksud dan ujud kita dalam melakukan kehendak itu.

Sebab suatu hal yang sedemikian penting, seperti kehendak Allah yang kita cintai, kita nikmati dan kita rasakan, pasti memberi kita kekuatan untuk mulai mengarahkan segenap daya kita dan membangkitkan dalam kita kesediaan menyampaikan segala kurban yang perlu.

Mau mencintai kehendak Allah berarti kita mempunyai Awal dan Akhir, Alfa dan Omega. Lalu apa yang terentang antara kedua titik itu, tidak dapat tidak menjadi terwujud. Sebab kehendak Allah tidak lain kecuali Allah sendiri sejauh mengarahkan diri kepada manusia, anaknya yang terkasih sebagai petunjuk dan pedoman; kehendak Allah ialah Allah sendiri sejauh kita menjadi sasaran cinta-kasihnya yang khas, sasaran kasih-karunia-Nya. Sasaran itu ialah diri manusia pribadi, yang diciptakan Allah, yang dipanggil Allah untuk mengenal dan mengasihi Allah, bahkan memilikinya.

Maka dari itu kehendak Allah tidak lain kecuali kebaikanvya yang bulat, kebaikannya bagi kita manusia masing-masing. Satu-satunya kebaikan yang tidak akan lenyap, satu-satunya kebaikan yang olehnya seluruh hidup patut diatur dan diarahkan. Dan kebaikan itu boleh dimiliki oleh kita ma­sing-masing dengan kemauan dan hati. Kehendak kudus yang sedemikian memang dapat kita cintai; padanya dapat kita lekat secara mantap dan tetap, oleh karena kehendak itu kudus, seluruhnya benar, seluruhnya murni, seluruhnya baik. Dialah mesti kita kasihi, supaya Ia pun menjadi akhir-ul-kalam, Omega yang baik dalam dirinya dan karena dirinya, awal dan akhir dan puncak kebaikan. Mengapa kita pun mesti mengasihi Allah? Ya, oleh karena Allah adalah Allah, tidak terbatas, tidak berhingga, tidak terukur. Amin.

Fransiskus yang sudah mengalami duduk perkaranya dalam AngTBul XXIII, 9 dst menjajikan suatu pujian yang merupakan ajakan bagi kita, para pengikutnya. Baiklah dibaca atau dibacakan.