V. Melakukan Kehendak Bapa

Dilihat: 296 kali

“Sebab Aku turun dari surga bukan untuk melakukan kehendakku sendiri, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 6:38). Ucapan Yesus itu berlaku untuk kita sekalian dan masing-masing. Kita berada dan hidup bukan untuk melakukan kehendak diri kita sendiri, tetapi kehendak Dia yang menciptakan kita dan memberi kita kehidupan.

Prasyarat untuk melakukan kehendak itu ialah: mengenalnya. Kehendak itu kita kenal melalui doa tekun dan dengan mantap mencari kehendak itu. Meskipun mengenal kehendak Allah mutlak perlu, namun tidaklah cukup. Kehendak Allah yang sudah dikenal mesti terlaksana. Siapa yang mende­ngar firman Allah, tetapi tidak melakukannya membangun rumahnya, hidup keigamaan dan rohaninya, diatas pasir. Hanya dia yang mewujudkan firman dan kehendak Allah menjadi aman dan tidak terhanyut oleh taufan dan banjir penghakiman Allah (bdk Mat 7:24-26; Luk 6:47-49).

Untuk mempraktekkan pengenalan akan kehendak Allah orang membutuhkan ketentaraman hati, damai batin. Ketenteraman hati itu diberikan oleh Kristus. “Damai Kutinggalkan bagimu, damaiku Kuberikan kepadamull, kata Yesus (Yoh 14:27). Tetapi janganlah orang keliru mengenai ciri-corak damai dan ketenteraman itu. “Apa yang Kuberikan, tidak seperti yang diberikan oleh dunia” (Yoh 14:27b). Damai batin, ketenteraman hati berarti: Jati diri manusia, kemauannya yang terdalam pasrah kepada Allah, sepenuhnya percaya pada Dia dan mengandalkan Dia. Ketenteraman hati adalah keseimbangan dasariah manusia dengan berurat-berakar dalam Allah dan bertumpu pada Bapa surgawi. Kalau demikian, damai batin, ketenteraman hati dapat saja disertai godaan yang tidak dicari, bahkan godaan hebat; dapat saja disertai pencobaan, penderitaan dan sengsara, bahkan penderitaan dan pencobaan hebat. Ingat saja akan bapa Fransiskus yang di musim dingin diserang oleh syahwat mendera dirinya, melompat dan berguling dalam salju; yang menderita secara badaniah dan dan rohaniah yang, menurut keterangannya sendiri, lebih hebat dari pada kemartiran. Ketenteraman hati tidaklah berarti “istirahat total”. Damai hati terlebih damai yang bertempur, keseimbangan yang tidak terkalahkan dan tidak tergoncang oleh apa saja yang kiranya mengeruhkan den menghilangkan ketenteraman hati, pasrah kepada Allah itu.

Tetapi ketenteraman hati tidak dapat disertai egotisme dan egoisme yang dengan sengaja repot dan sibuk dengan dirinya sendiri, kekuatiran dan kecemasan tentang kepentingan kecil kita sendiri, entah kepentingan jasmani dan badani entah rohani, apa yang olehS. Fransiskusdisebut kekuatiran dan kecemasan dunia ini. Sebaliknya, ketenteraman hati justru membebaskan kita dari kekuatiran dan kecemasan seperti itu. Sebagaimana yang dikatakan S. Fransiskus (Pth XVII): “Dimana ada ketenangan dan samadi, disanatidak ada kecemasan dan kebingungan”.

Damai yang diberikan Kristus, mengembalikan kepada kita ketenangan hati, keselarasan antara hidup dan karya, oleh karena semuanya menjadi terpusatkan Allah yang satu. Damai Kristus berarti: Hati tenang dan jati diri tenteram. Damai itu memerdekakan orang dengan pertama-tama membebaskan kita dari diri kita sendiri; ia mengajar kita menilai segala sesuatu sesuai dengan kebenatan, dengan apa adanya; ia menjadikan kita benar dengan memberi kebenaran. Damai Kristus membuat kita menjadi penurut kasih-karunia dan dorongan ilahi; membuat kita mampu bertingkah-laku sesuai dengan dorongan itu, kendati rintangan yang perlu diatasi; ia pun membuat kita mampu menanggung dan memikul apa yang sesuai dengan penyelanggaran ilahi mendatangi dan menimpa kita tanpa pemberontakan dan kedurhakaan. Damai Kristus membuat kita mencintai dengan kasih sejati dan demi kasih menjadi pelayan.

Kalau demikianlah buah-hasil ketenteraman dan damai hati, jelaslah ketenteraman hati itu menjadi prasyarat untuk melakukan kehendak Allah. Sebab ketenteraman itu menghilangkan apa yang menghalangi pelaksanaan kehendak ilahi. Selebihnya ketenteraman hati memberi kita kekuatan me­ngalahkan apa yang biasanya melawan kehendak Allah. Damai Kristus sebenarnya kekuatan Kristus, yang tidak dapat tidak melaksanakan kehendak Bapa, bukan sebagiannya terapi seluruhnya.

Apa yang perlu untuk melakukan kehendak Allah ialah melepaskan segenap kemauan yang egotis dan egois, kemauan yang terpusatkan dirinya sendiri, melepaskan cinta diri yang melebihi batas. Orang yang harus dan mau melaksanakan kehendak Allah mestinya berdiri dihadapan Allah sebagai orang yang bebas-merdeka, tidak terikat dengan atau terbelenggu oleh sesuatu yang lain. Tetapi belenggu yang paling ketat dan berat bagi manusia ialah Si Aku yang mau mandiri, mau otonom, mau menjadi hukum dan tolok-ukur bagi dirinya. Si Aku yang dengan sadar dan paling sering dengan tidak sadar mengangkat dirinya menjadi tujuan kehidupan dan kaidah peri-laku; Si Aku yang hanya meminati dirinya sendiri saja tanpa memperhitungkan sesuatu atau seseorang yang lain. Tidak usah dibuktikan bahwa Sang Ego itulah menjadi kendala paling besar bagi pelaksanaan kehendak Allah. Selama manusia belum melepaskan – tegasnya oleh Allah dilepaskan dari – Sang Ego, ia tidak bebas dihadapan dan bagi Allah, untuk menjadikan kehendak Allah pusat dan poros kehidupannya.

Melepaskan Sang Ego tersebut pertama-tama suatu sikap menyeluruh terhadap dirinya. Suatu kesediaan mantap untuk menyingkirkan dirinya di mana saja perlu dan kapan saja nyata perlu, menyingkirkan diri untuk membuka jalan bagi Tuhan dan kehendak-Nya. Jadi, perkaranya: sikap penyangkalan diri, suatu kebajikan dan keutamaan-tetap. Belum diperhatikan kasus ini atau itu, dimana sikap itu menjadi terwujud.

Tetapi, sikap dasar tersebut, kesediaan mantap untuk menyingkirkan dirinya memang tidak bertahan, jika tidak didukung oleh praktek dan latihan nyata serta khusus. Maka penyangkalan diri nyata dan terinci mutlak perlu juga. Dan apa yang dimaksudkan sekarang bukan penyangkalan diri yang mutlak perlu agar saya dalam hal ini atau itu melaksanakan kehendak Allah yang saya kenal dan yang wajib dilaksanakan. Apa yang dimaksud ialah: Penyangkalan diri yang tidak wajib, tidak mutlak perlu. Meskipun askese dan mati-raga suka rela dewasa ini tidak laku di pasar hidup rohani, namun tidak berarti: kurang perlu. Manusia moderen, termasuk rohaniwan dan biarawan moderen, tidak sedikit beraskese demi kesehatan, demi olah-raga, demi “fitness” dan sebagainya., Seperti dikatakan S. Paulus: Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan menguasai, me­ngerasi, dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk mem­peroleh karangan yang fana (lKor 9:25). Apakah olah ragawan rohani dalam pertandingan rohani bisa mendispensasikan diri dari askese, mati-raga untuk memperoleh karangan abadi, kesehatan rohani? Anehlah para fisoterapeut, para psikolog dan para pelatih dewasa ini mempropagandakan “askese”, yang oleh para asket profesional klasik kerap dianggap ketinggal­an zaman.

Penyangkalan diri terinci dan tidak wajib tersebut perlu untuk merperoleh dan mempertahankan sikap dan kesediaan untuk untuk menyingkirkan dirinya dihadapan Tuhan. Penyangkalan diri suka-rela perlu, agar orang siap menyangkal diri di mana dan kapan menjadi perlu dan wajib demi kesetiaan pada kehendak Allah, yang antara lain menyata dalam tugas yang dipercayakan dalam situasi yang menuntut tindakan tertentu, melalui perintah atau petunjuk dari pihak para pemimpin, dalam persaudaraan yang mesti dilayani. Tidak baiklah orang berkhayal-khayal. Jika kita tidak pernah mau menahan diri dalam hal yang tidak menuntutnya, bagaimana kita mampu manahan diri, menyangkal diri dalam hal dimana menjadi wajib demi kehendak Allah? Tidak cukuplah orang berkata ia siap sedia menjadi “martir”, mati bersama Kristus à la Petrus, ia pun mesti membuktikannya dengan secara nyata dan konkrit menyangkal dirinya. Tidak boleh orang menunggu saja sampai penyangkalan diri itu dipaksakan kepadanya, Bila orang menunggu saja, mungkin sekali bahwa kesediaan umum untuk menyangkal diri tidak menjadi terwujud, bila mana diharuskan. Jangan orang dengan sembrono memperhitungkan “rahmat Tuhan” pada saat kritis, ja­ngan mencoba meniru “Wisky Priest”.

Melaksanakan kehendak Bapa penting dan perlu. Tetapi melakukan kehendak Allah tidak mungkin tanpa ketenteraman hati dan panyangkalan diri. Kedua itu sebenarnya bergandengan; Penyangkalan diri memberi ketenteraman hati yang menlerdekakan bagi Allah. Amin.