IV. Membedakan Kehendak Allah

Dilihat: 352 kali

S. Paulus mengajak jemaat di Roma antara lain avv: “Berubahlah oleh pembaharuan budi, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenam pada Allah dan yang sempurna” (Rm 12:2). Pembaharuan budi tersebut adalah suatu pembaharuan, perubahan, pertobatan kemampuan untuk menilai. Suatu pra-syarat, suatu pra-andaian hidup Kristen yang utuh-sempurna dan berkenan pada Allah ialah: Membedakan dari antara sekian banyak kemungkinan dan tawaran, mana yang dikehendaki Allah, mengenal kehendak Allah yang kudus. Dan membeda-bedakan, mengenal kehendak Allah yang nampaknya sederhana nyatanya teramat sulit. Hendak mengenal kehendak Allah yang sebenarnya kita membutuhkan “pembaharuan budi”, pembaharuan hati. Dan pembaharuan itu sebuah karunia dari Allah.

Manusia sebagaimana adanya dalam hal “membeda-bedakan” kehendak Allah nyatanya amat buta. Di dalam dirinya ditemukan sekian banyak hal dan keinginan serta kecenderungan yang malah tidak disadari namun sa­ngat mempengaruhi pikiran, penilaian dan peri-laku manusia. Dalam keadaan nyata mustahil kita mengenal kehendak Allah murni-bersih. Kita membutuhkan karunia yang mencabut dari hati kita kabut dan kegelapan, yang mencengkam budi kita serta menyesatkannya. Kita memerlukan penerangan khusus dan kurnia guna membedakan kehendak Allah.

Itulah sebabnya mengapa kita perlu memohonkan karunia itu pada Allah yang dengan Roh-Nya dayat menerangi hati dan budi kita. Bapa Fransiskus menyediakan sebuah contoh sebagai berikut: Allah yang Mahatinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hatiku dan berilah aku: iman yang benar, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna; berilah aku, ya Tuhan, perasaan yang peka dan budi yang cerah, agar aku mampu melaksanakan perintahmu yang kudus dan yang takkan menyesatkan. Karunia “membedakan” itu kita pun mohon penuh kepercayaan, sebab pasti diberikan kepada siapa saja yang dengan jujur dan ihlas memintanya.

Di lain pihak kesucian kita tidak dikerjakan oleh Allah melulu, sehingga manusia pasif saja. Kesucian dihasilkan oleh semacam kerja sama antara Allah yang berprakarsa dan manusia yang tidak memasang kendala dan menyingkirkan rintangan. Manusia pun mesti berbuat sesuatu, meskipun perbuatan manusia sendiri tidak menyumbang apa-apa bagi penyelesaian karya Allah.

Maka tidak cukuplah kita memohonkan Roh Kdus, agar kita mengenal kehendak Allah dengan harapan sia-sia bahwa pada suatu hari Roh itu mencurahkan pengenalan itu secara ajaib à la sebagian karismatik dewasa ini. Kita tidak hanya mesti meminta, lalu menuggu saja. Kita pun mesti berbuat sesuatu guna mengenal, mencari mengenal kehendak Allah.

Tentu saja kita sudah mengenal kehendak Allah pada umumnya. Seperti yang ditegaskan oleh S. Paulusterbawa oleh Roh ilahi: “Inilah kehendak Allah, pengudusanmu” (lTes 4:3). Itu malah dialamatkan kepada sebagian jemaat di Tesalonika yang menggemari micam-macam percabulan. Dan pengudusan itu tidak, hanya pengudusan dasariah oleh kasih karunia Allah yang membenarkan orang durhaka (Rm 4:5; 8:33). Pengudusan itu tentu saja dasar dan pangkal. tetapi tidak berhenti di situ. Kehendak Allah maunya lebih dari itu. Pengudusan yang dincar-incar Allah olehnya telah diucapkan dalam Injil: “Haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu di Surga sempurna” (Mat 5:48). Maka Allah menghendaki kesempurnaan, pengudusan Yang tertinggi. Mana kesempurnaan/penngudusan yang tertinggi bagi saya, tidak dapat saya ketahui atau tentukan sebelumnya. Maka tidak seorang pun dapat puas dengan tingkat kesempurnaan, kekudusan tertentu, seolah-olah itulah yang dikehendaki Allah. Allah menghendaki tingkat yang paling tinggi, yang selalu bisa meningkat.

Itulah pengenalan umum dan pertama mengenai kehendak Allah yang mesti kita cari. Segala apa yang menghalangi kehendak itu dan menjauhkan kita dari pelaksanaan kehendak itu, apa yang membuat kita menjadi lamban dan membatasi kesempurnaan dan kekudusan kita tidaklah sesuai dengan kehendak itu, melainkan berlawanan.

Lebih terinci kehendak Allah dikenal melalui hal-ihlwal kehidupan manusia, baik secara perorangan maupun dalam kebersamaan. Hal-ihwal, situasi umat manusia pun dapat melengkapkan kehendak Allah berkenaan dengan saya. Harapan, kecemasan, kesedihan dan kegembiraan, keberhasilan dan kegagalan manusia pada umumnya dapat menjadi “tanda zaman”, yang lebih jauh memerincikan kesempurnaan dan kekudusan aya yang dikehendaki Allah. Dan pun pula segala apa yang mendatangi saya, menimpa saya tanpa keterlibatan apa lagi kesalahan pribadi, bisa saja menyatakan kehendak Allah. Sebagai orang yang percaya kita yakin bahwa segala apa diselenggarakan oleh Allah demi keselamatan mereka yang percaya. Menurut keterangan S. Paulus: Kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 8:28), kalau pun apa yang terjadi berlawanan dengan kehendak Allah dan tidak dikerjakan oleh-Nya. Karena itu segala sesuatu dapat menjadi penyataan perkenanan Allah. Setiap orang dalam hal-ihwal hidupnya dan dunia dapat berkenalan dengan kehendak Allah mengenai dirinya.

Kesehatan dan kekuatan badani dan Penyakit dan kelemahan menduduki tempatnya dalam rencana Allah tentang saya. Tempat dan lingkungan di mana kita hidup, menjadi petunjuk dari kehendak ilahi; tempat, lingkungan dan keadaan itu, bukan tempat, lingkungan atau keadaan lain. Orang yang dengannya kita bertemu, mesti bergaul dan kerja sama dan sebagainya entah lancar dan baik entah sulit dan tersendat-sendat menyingkapkan bahwa disanakesmpurnaan dan kekudusan kita diperincikan oleh kehendak Allah. Justru penyataan kehendak Allah melalui hal-ihwal kehidupan menjadli paling pasti. Sebab sehubungan dengan hal-ihwal itu orang sukar menipu dirinya dan menuruti kehendaknya sendiri saja. Oleh karena Allah menghendaki kita menjadi sempurna dan kudus justru dalam kehidupan nyata serta hal-ihwalnya, orang tidak boleh berontak dan mendurhaka oleh karena orang menolak kehendak Allah bahwa dalam kehidupan nyata itu orang mesti menjadi sempurna dan kudus. Tentu saja tidak boleh dikatakan bahwa Allah menghendaki semua hal negatif yang mendatangi dan menimpa manusia, sama seperti Ia tidak menghendaki Yesus dianiaya, disiksa dan dibunuh. Karena itu pun orang, sesuai dengan kehendak Allah, boleh mencoba mengubah, mencegah hal-ihwal, tanpa berontak dan mendurhaka kalau usaha gagal. Apa yang dikehendaki Allah ialah: Ditengah-tengah hal-ihwal itulah kita menjadi sempurna dan kudus sesuai dengan keadaan itu. Dan dengan demikian bahkan yang negatif menjadi pegangan dan pedoman bagi kehidupan kita sebagai orang yang mencari kehendak Allah. Kehendak itu tidak usah dicari di lain tempat yang bukan tempat nyata kita sekarang.

Bagi para religious khususnya ketaatan menyingkapkan kehendak Allah berkenaan dengan kekudusan dan kesempurnaan si religius. Dengan janji ketaatan, seorang religius tidak menjanjikan melakukan itu atau ini, yang disuruh atasan religius yang berwewenang. Apa yang dijanjikan ialah: ketaatan, menyesuaikan kehendaknya sendiri (bukan pikiran atau penilaian) dengan kehendak wewenang manusiawi selama kehendak itu tidak nyata berlawanan dengan kehendak Allah yang pasti. Janji itu diterima oleh Allah dan karena itu Allah justru menghendaki ketaatan itu, meskipun instansi manusiawi tersesat dan keliru, kurang bijaksana dan kurang baik. Tidak segala apa yang disuruh atasan begitu saja disuruh oleh Allah, yang hanya pasti menghendaki ketaatan yang dijanjikan. Perintah atasan dan aturannya hanya kesempatan bagi si religius untuk melaksanakan kehendak Allah itu. Dengan cara demikian, dan hanya dengan cara demikian, kehendak atasan religius menyingkapkan kehendak Allah. Jangan menjadi terlupa bahwa apa yang disebut sebagai “kaul ketaatan” mengenai ketaatan itu sendiri, bukan apa yang demi ketaatan dilakukan si religius. Memang paling baik jika juga apa yang diperintahkan atasan sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi atasan sendiri bukan bawahan, mesti mencari kehendak Allah dalam hal itu, sehingga kesempurnaan dan kekudusan si atasan menjadi terwujud.

Maka dengan pelbagai jalan kita dapat berkenalan dengan kehendak Allah dan pengenalan itu mesti kita usahakan. Dan bukan suatu usaha gampang dan enteng, mengingat kegelapan yang meliputi kita. Tidak mudah menemukan kehendak Allah dalam hal-ihwal kehidupan, situasi hidup sehari-hari, peristiwa kecil-besar yang mendatangi dan menimpa kita. Omong tentang “tanda-tanda zaman” gampang, tetapi sulit menafsirkan tanda-tanda zaman, sehingga kehendak Allah dan bukan kehendak manusia menjadi tersingkap. Sulit pula melihat mana kehendak Allah dalam keputusan dan peraturan dari pihak pemimpin Gereja dan lembaga religius.

Dan itulah sebabnya mengapa kita tetap mesti mohon pada Allah dan Roh Kudus, agar mereka membaharui budi kita, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah apa yang baik, yang berkenan pada Allah dan yang sempurna. Kita mesti mohon dan berusaha memperoleh budi yang baru, oleh karena itulah pra-syarat untuk melakukan kehendak Allah. Amin.