III. Dipenuhi Dalam Seluruh Kepenuhan Allah

Dilihat: 641 kali

“Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi didalam seluruh kepenuhan Allah” (Ef 3:19b). Jika kita berdoa, agar dikurniai dengan pemahaman akan Kristus serta misteri-Nya dan dengan pengenalan akan kasih Kristus, makan maksudnya: Agar kita menjadi penuh dengan Allah. Memang Yesus Kristus menjadi penyataan unggul Allah di dunia ini. Sebab seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia (Kol 1:19). Maka menjadi penuh dengan Kristus berarti menjadi penuh dengan keilahian, dinamika Allah, Allah berupa dinamika. Kristus perlu “tumbuh di dalam kita, agar sampai kepada kedewasaaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef 4:13b). Artinya: Kristus didalam kita (Ef 3:17) sudah sampai ketingkat perkembangan normal dan penuh dan menyingkirkan segala apa yang lain dari dalam diri kita. Sedemikian rupa, sehingga bukan Sang Ego saya hidup di dalam saya, melainkan Dia, Yesus Kristus (Gal 2:20). Semestinya kita sekalian dengan jati diri dan segala apa yang berpancar dari padanya, menjadi serupa dengan Kristus dan, sama seperti Dia, menjadi penuh dengan dinamika Allah. Dan itu pun pada gilirannya sama dengan “Kita diajari oleh Allah, dibimbing oleh Allah, oleh dinamika Allah ialah Roh Kudus. Kita diajari oleh Allah, sudah diajari oleh-Nya dan membiarkan Allah terus mengajar kita (lYoh 2:27). Cara kita berpikir menilai, merasa, menjadi cara Kristus dan Allah berpikir, menilai merasa. Itu pun berarti bahwa kita, seperti Tuhan sendiri, dipimpin oleh Roh Kudus. Roh Allah. Peri laku kita pun mestinya sama, serupa dengan peri laku Allah, selaras, searah dengan maksud Allah berkenaan dengan kita dan dengan dunia.

Jika demikian terjadi, maka misteri Kristus dan kasihnya menghasilkan buahnya dalam kita, sudah mencapai tujuannya yang dipasang oleh Allah.

Kristus menjadi penyataan Allah untuk menyingkapkan siapa sebenarnya Allah bagi manusia dan pun pula menyingkapkan mana kehendak Allah berkenaan dengan manusia. Jika kita menerima penyataan itu serta melakukannya, tujuan yang ditentukan Allah sudah tercapai. Kristus pun menjadi penyataan kasih manusia yang menguduskan, yang mau melaksanakan sesuatu dalam manusia. Nah, mana kala sesseorang membiarkan dirinya dipimpin oleh Roh Allah, kekudusan itu ditanam dan bertumbuh sampai ke kesempurnaannya. Dengan demikian segi misteri Kristus itu pun dalam diri kita menjadi terwujud sebagaimana yang dikehendaki Allah.

Selanjutnya aktivitas manusiawi kita menjadi “rohani”, oleh Roh dibersihkan dan diilahikan. Karena itu kita juga berkenalan dengan Allah dan dapat memperkenalkan-Nya kepada orang lain. Kalau demikian, Kerajaan Allah, Allah yang dengan Roh-Nya “memerintah”, menentukan, menjadi terwujud dalam kehidupan kita dan kita sudah sampai kepada tujuan penyelamatan kita sebagai makhluk dan Anak Allah.

Kalau demikian hasil pemahaman akan Kristus dan pengenalan akan kasihnya, jelaslah sudah pemahaman dan pengenalan itu merupakan karunia unggul. Tidak mengherankanS. Paulusberdoa dan mengajak orang beriman berdoa, agar mereka kiranya mendapat karunia itu. Bagi kita sekalian pun teramat penting, tidak hanya bahwa kita memohonkan karunia itu, tetapi juga bahwa permohonan itu dikabulkan. Teramat perlu pulalah kita berbuat apa yang ditentukan sebagai pra-syarat, agar permohonan kita dikabulkan oleh Allah.

Syarat pertama ialah: Benar-benar ingin berkenalan dengan Kristus dan syarat kedua tidak lain dant tidak bukan ialah: Kesediaan tanpa syarat menerima karunia pengenalan akan Kristus itu dan tidak mundur terhadap segala apa yang menyertai pengenalan itu.

Allah tersedia menawarkan karunia itu kepada semua orang, agar karya Allah di dunia menghasilkan seluruh buahnya. Apakah orang akan hidup lama atau tidak di dunia, apakah menghasilkan banyak atau sedikit, keberhasilan dan kegagalan, jerih payah hidup rohani yang batyak atau hanya sedikit dicobai, apakah menikmati banyak hiburan atau sebaiknya, semuanya itu dan bagaimana diatur oleh Allah tidak dapat diketahui sebelumnya. Tetapi pada dasarnya semuanya itu hal sampingan saja dan tidak menyangkut inti pati hidup Kristen dan hidup rohani. Tetapi apa yang tidak dapat diragukan ialah: Allah menghendaki semua orang berkenalan de­ngan Kristus dan kasih-Nya. Karunia itu ditawarkan kepada setiap orang beriman dan kepadanya semua dipanggil; semua mestinya penuh dengan Allah dan Kristus Yesus. Itulah panggilan untuk tumbuh menjadi kristus sempurna secara rohani menjadi dewasa. Begitulah panggilan “semua orang kudus” semua orang Kristen. Jumlah tahun tidak memegang peranan yang menentukan. Setiap orang dapat sampai di situ selama hidupnya berlangsung. Pastilah demikian panggilan saya dan rahmat yang perlu untuk mewujudkannya pasti dapat saya peroleh.

Tetapi ada dua syarat yang dipasang. Saya mesti bebas atau dibebaskan dari egotisme dan egoisme. Egotisme berarti orang berpusatkan diri tanpa melanggar batas yang wajar, egoisme berarti egotisme yang bengkok, menyeleweng, melangkahi batas yang wajar. Orang mesti bebas dari kedua-duanya. Syarat kedua yaitu: Dengan mendesak memohon karunia itu. Tidak bolehlah orang memasang halangan bagi karunia yang disediakan Allah itu bagi kita semua. Halangan itu dapat saja berupa berpegang teguh pada pendapat dan anggapan manusiawi yang sebenarnya egotis atau egois; dapat berupa keterikatan pada suatu kepekaan manusiawi yang melangkahi batas. Memang kepekaan yang melampaui batas di bidang mana pun selalu menjadi halangan bagi karunia Allah. Sebab kepekaan itu me­ngacaukan kebatinan dan keseimbangan, sehingga okng tidak mampu lagi melihat dan menilai realitas sesuai dengan kebenaran dan menata realitas itu sebagaimana mestinya. Kepekaan yang melampuai batas membuat apa yang sampingan dan serba kebetulan serta sepele menjadi yang paling penting dan utama, sehingga orang tidak lagi melihat semua pada tempatnya yang wajar. Cinta diri pun selalu menjadi halangan bagi karunia Allah, yaitu cinta diri yang membuat diri orang sendiri menjadi pusat dan poros kehidupannya. Demikian pun halnya dengan keterikatan pada apa yang material, fana sementara, meski mempunyai nilai rohani sekalipun. Karunia Allah dan adanya penuh dengan Allah mengandaikan manusia secara batiniah kosong dan bebas terhadap segala apa yang tidak termasuk kepenuh­an ilahi itu. Pendeknya: Orang mesti lepas dan bebas dari segala yang tidak dapat berjalan, atau nyatanya tidak berjalan bersama Roh Kristus, sehingga Roh itu dapat merasuki apa saja yang menjadi milik kita yang paling pribadi.

Selanjutnya syarat kedua. Karunia itu mesti dimohonkan dengan mendesak dan berdasarkan keyakinan bahwa karunia itulah yang paling bernilai. Keyakinan itu kiranya mencetuskan suatu keinginan yang siap-sedia. Kiranya kita sudah tahu betapa besar peranan yang dipegang “keinginan akan kesempurnaan” dalam hidup keigamaan manusia. Tetapi “keinginan” itu sebenarnya tidak lain dan tidak bukan ialah: pengenalan akan kasih Kristus dan Allah.

Doa permohonan, meminta kasih-karunia Allah, selalu suatu unsur pen­ting. Kita barangkali kurang memohon. Dan kalau pun kita berdoa demikian, kerap kali doa itu terlalu menusiawi, berarti dangkal dan dengan sikap: Ya, asal jadi, formal saja. Apa lagi kalau ada “ahli” yang menyebarkan pendapat bahwa doa permohonan sebenarnya kurang berbobot, egois dan sebaik-bainya orang memanjatkan doa puji syukur. Tentu saja doa permohonan bisa saja menjadi egois, sampai seperti doa puji syukur. Tetapi meng­ingat bahwa doa Yesus dalam Injil berupa doa permohona, bahwaS. Pauluskerap bermohon dan mengajar umatnya bermohon, maka merendahkan doa permohonan merendahkan Yesus dan Paulus serta sekian banyak orang beriman. Hanya formalisme tidak pada tempatnya dan membunuh setiap hidup sejati. Dan apa yang kini kita renungkan bukan sembarangan permohonan, melainkan doa yang meminta apa yang paling 1uhur, paling bernilai, satu-satunya yang sungguh perlu, yaitu permohonan untuk mendapat pengenalan akan Kristus dan menjadi penuh dengan Allah. Amin.