II. Mengenal Kasih Kristus

Dilihat: 264 kali

“… dan agar kamu dapat mengenal kasih Kristus, sekali pun ia melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:19a). Karunia pokok yang dimohonkanS. Paulus bagi semua orang beriman, yaitu pemahaman akan misteri Kristus, diperincikan lebih lanjut, sehingga menjadi pegenalan akan kasih Kristus. Tidak lagi suatu pemahaman umum tentang seluruh misteri Kristus itu, melainkan pengenalan akan sebagiannya, intinya yang paling dasar dan paling utama, yaitu: Pengenalan akan kasih Kristus. Kasih itulah segi Kristus yang paling mencolok, paling terasa, paling patut dipuja dan paling manis-sedap.

Jika pengenalan akan kasih Kristus itu dimohonkan, mesti dimohonkan, maka sebabnya ialah: Kasih itu melampuai segenap pengetahuan manusiawi. Pengenalan akan kasih Kristus itu sama ciri coraknya dengan setiap pemahaman akan Kristus dan berasal dari luar jangkauan manusia. Pengenalan akan kasih itu adalah perkara hati dengan arti kata alkitabiah, jati diri manusia. Pengenalan itu terlebih hasil kasih dari pada buah akal, terlebih perkara intuisi, rasa hati, dari pada perkara penalaran dan pemikiran. Menurut cara bicara S. Bonaventura pengenalan akan kasih Kristus bukan perkara “intellectual” melainkan perkara “affectus”. Bukan perkara pengetahuan kering dan dingin, pengtahuan teologi tanpa hati atau ilmu tanpa kalbu, melainkan suatu pengenalan sedap yang menikmati, merasakan, mendekap Tuhan. Pengenalan itu tidak hanya atau terutama menyangkut akal-budi, tetapi terlebih memuaskan manusia seluruhnya serta segala kemampuannya, terutama kemampuan untuk mencintai. Maka dari itu pengenalan akan kasih Kristus bukan keistimewaan segelintir intelektual, ahli dan berbudaya tinggi, yang mendapat otak yang secara tajam dan mendalam bisa memikirkan segala apa. Sebaliknya, pengenalan akan kasih Kristus dapat (dan mau) dikurniakan kepada “semua orang kudus” tanpa kecuali dan barangkali paling sesuai dengan dan teruntuk bagi orang yang kurang mampu, orang sederhana dengan hati besar. Sebagaimana ditegaskan Hikmat-kebijaksanaan ilahi yang menjadi manusia: Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan otang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil (Mat 11:25-26; Luk 10:21). Sebab perkaranya bukan pengetahuan ilmiah, melainkan perkara pengetahuan para kudus.

Kita dapat berkenalan dengan kasih Kristus dengan menyimak luasnya dan nilainya segala sesuatu yang diperoleh-Nya bagi kita. Segalanya itu diuntukkan Kristus bagi semua manusia dan hanya kendala dan rintangan manusiawi yang dapat merampasnya dari kita, yaitu dosa dan terlebih apa Yang oleh S. Paulusdiistilahkan sebagai “daging”, egotisme dan egoisme. Dengan arti itu pun Fransiskus bicara tentang “membenci” tubuh/daging. Dari pihak Kristus segalanya selesai sudah, segala yang perlu selesai dikerjakan waktu bergantung pada salib (Yoh 19:30). Segalanya “dibelinya” bagi kita dengan harga mahal yang lunas dibayar (lKor 6:20; 7:23). Dan apa Yang diperoleh dan dibeli Kristus tidak ada batasnya dan tidak ada ukurannya, oleh karena membuat kita menjadi peserta dalam yang ilahi, yang tidak tahu batas atau ukuran. Sebab apa yang diperoleh-Nya bagi kita ialah apa yang abadi, yang habis pencobaan hidup ini tidak dapat hilang lagi (lPtr 1:4).

Kita pun berkenalan dengan kasih Kristus dengan merenungkan susah-payah dan jerih-payah yang ditanggung Kristus guna memperoleh apa yang ilahi dan adi-manusiawi. Demi kita Kristus menanggung seluruh keberadaan kita sebagaimana adanya, kecuali dosa pribadi. “Karena anak-anak itu dari darah dan daging, maka Anak, Kristus, menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka (Ibr. 2:14). Memang Imam besar yang kita punya, bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibr 4:15), kalau pun Ia berdaging serupa dehgan daging (=eksistensi) yang dikuasai dosa (Rm 8:3b). Maka segala apa yang dengan berpancar dari dosa menimpa manusia menimpa Kristus pula sampai penyataan dosa yang paling ngeri: penderitaan bermacam-macam dan kematian di Salib. Kristus, Anak dari yang Mahakudus, menanggung segala apa dan tersemprot oleh apa yang paling tidak kudus, yaitu dosa, dengan maksud membebaskan kita dari kutuk (Gal 3:13) dan mehgembalikan kita kepada kekudusan Allah.

Hendaknya kita bermenung: Kelemahan yang pa1ing merendahkan harkat manusia telah diterima dan ditanggung Kristus: Rasa jijik, takut, kuatir, sedih, kerapuhan jasmani-rohani, semuanya menimpa Dia dan membuat Dia menjadi sama dengan kita. Anak Allah tidak menjadi orang asing di negeri manusia, supaya membuka bagi manusia kesempatan tidak tetap tinggal orang asing di negeri Allah.

Sudah lama kita mengetahui semuanya itu. Justru karena itulah semua hal yang mengerikan itu menjadi “biasa-biasa” saja seperti kacang goreng. Isi yang sebenarnya dari semuanya itu hampir selalu lolos dari pemahaman dan hati kita. Tidak lagi kita secara mandalam tergoncang oleh kenyataan bahwa Anak Allah merendahkan diri sampai menjadi serupa dengan budak tersalib (Flp 2:7) dan menutupi dirinya yang paling murni dengan daging yang dikuasai Dosa, sehingga yang terberkati oleh Bapa menjadi kutuk (Gal 3:13) guna menebus semua dari kutuk. Kata-kata dan ucapan-upacan semacam itu kita ulang-ulang terus, tetapi mirip dengan piringan hitam, pita kaset, secara mekanis, tidak terkesan, tanpa keterlibatan pribadi. Karena itu semakin pentihg dan perlu kita secara pribadi merenungkannya dan de­ngan demikian mecoba menyelaminya.

Setelah orang berkenalan dengan kasih Kristus dengan jalan mengamati apa yang diperolehnya bagi kita dan merenungkan harga yang telah dibayar olehnya, setelah orang sampai mengenal sambil menikmati kasih Kristus itu, maka kasih itu mulai berkarya di dalam diri orang dan mencurahkan kebaikan tak terukur kedalam hatinya. Dan yang paling penting dan utama justru kasih itu sendiri. Kasih Allah ialah kasih Kristus sendiri tercurah kedalam hati kita berupa Roh Kudus (Rm 5:5), Yaitu kasih Allah kepada Allah dan kasih Allah kepada seluruh makhluknya, khususnya manusia. Siapa yang berkenalan dengan kasih Kristus tidak dapat tidak mengasihi Kristus dan Allah. Tentu saja mengasihi Allah dan Kristus tidaklah mungkin tanpa Allah dan Kristus. Kasih mereka sendirilah yang dengannya manusia mesti mencintai mereka. Dan karunia pertama yang dianugerahkan oleh kasih Kristus yang dikenal itu ialah justru kasih itu.

Hanya kasih sejati sebenarnya tidak lain dari ketaatan. Kata Yesus: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal dalam kasihKu, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal dalam kasihnya (Yoh 15:10); jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh 14:15).

Maka kasih sejati kepada Kristus yang berpancar dari pengenalan akan kasih itu membuat kita menjadi taat. Dan akibatnya yaitu: Tolok ukur kasih sejati ialah tingkat ketaatan kita, ketaatan kepada Kristus, kasih Kristus yang pengenalannya dikurniakan kepada kita.

Hanya kataatan berdasarkan kasih mamatikan setiap egotisme dan egoisme dalam manusia, egotisme dan egoisme yang membuat sang Ego menjadi tolok ukur segala sesuatu. Barang kali itulah – yaitu ketakutan kepada akibat pengenalan akan kasih Kristus – yang membuat kita dalam lubuk hati agak segan berkenalan dengan kasih Krislus yang kita tolak dan singkirkan setelah mulai memfirasatkan mana akibatnya bagi cinta diri kita.

Maka dari itu menjadi pentinglah bahwa, kendati rasa takut yang bersembunyi, kita mencari-cari, membuka diri kita bagi pengenalan akan kasih Kristus itu guna menghilangkan rasa rakut awali itu dan sampai kepada penyerahan diri seutuhnya kepada Kristus dan kesediaan terhadapnya. Penting kita tidak diintimidasikan oleh ancaman dari pihak Si Aku kita sendiri, ancaman bahwa hidup kita selanjutnya menjadi kurang peduli akan keinginan dan kebutuhan pribadi kita, tetapi sepenuhnya mendarmabaktikan diri kepada Tuhan yang dikasihi.

Pengenalan akan kasih Kristus melampaui segala ilmu manusiawi dan tak mungkin direbut oleh manusia sendiri. Oleh karena itu kita bersamaS. Paulusmemohonkan karunia itu dengan kesediaan dari pihak hati dan budi kita. Amin.