I. Mohon Memahami Rahasia Kristus

Dilihat: 357 kali

Bdk Ef 3:18-21;Kol 2:2b

Dalam doanya (Ef 3:18-21) S. Paulus sambil bersujud (ay 14) dengan khusuk, hangat dan mendesak memohon Allah, agar mendapat bagi kaum beriman suatu karunia yang amat penting. Mana karunia itu? Karunia “memahami Kristus”. Yang dimaksud bukan pemahaman intelektual yang serba jernih, yang menyelami seluruh realitas Kristus. Kristus tak mungkin dipahami secara demikian. Apa yang dimohonkan S. Paulus justru agar orang beriman memahami bahwa tidak memahami Kristus, agar mereka mendapat pengertian tentang misteri, rahasia Kristus (bdk Kol 2:2b), yang tak terbatas dan tak berhingga dan karena itu melampaui segala pengetahuan (ay 19b).

Itulah permohonan pertama. Itulah suatu karunia yang patut diinginkan “segala orang kudus”, yaitu orang beriman, semua mereka yang karena dipanggil teruntuk menjadi peserta dalam Mitsteri Kristus itu penyelamatan dalam Kristus Yesus.

Mana manfaatnya pemahaman yang tidak memahami, “Docta ignorantia” semacam itu? Memang ada suatu “pengetahuan” rohani dan akali, serba kabur dan samar-samar namun justru “pengetahuan” yang “menikmati”. S. Bonaventura menyebutnya “scientia saporativa”. Manfaat utama “pengetahuan yang menikmati” itu ialah: Meyakinkan orang bahwa apa yang sungguh baik, setiap kebaikan yang unggul, yang tidak ada taranya, ditemukan dalam Kristus; seluruh kepenuhan Allah, kepenuhan kebaikan ilahi, “summum bonum” terletak dalam Yesus Kristus.

Berdasarkan pemahaman akan Kristus semacam itu dan keyakinan tersebut kiranya menjadi lebih mudah bagi kita selalu dengan sadar namun spontan, seolah-olah secara naluri, mengutamakan diri Kristus, hukum dan kehendaknya.

Dan itulah prasyarat bagi hidup Kristen yang sejati dan bidup rohani hidup dalam Roh, yang tulen.

Sebab sudah jelas bahwa hal-ihwal, pencobaan dan kesusahan zaman ini (bdk Rm 8:18), segala korban yang sesuai dengan penyelenggaraan ilahi dibebankan atau pun dengan suka rela dicari orang, dirasakan sebagai gampang, tidak berarti banyak, jika dibandingkan dengan kebaikan tak terukur dan terperikan dan ilahi itu. Termasuklah pula nilai-nilai manusiawi sejati dan sangat positif, seperti kesejahteraan, inteligensi, kepandaian, keluhuran budi, keindahan, semu hal yang menjadi andalan manusia dan yang membuatnya merasa senang dan bahagia. Namun berhadapan dengan Kristus, semuanya menjadi kurang penting bagi kita. Pauluslah yang memahami dan mengungkapkan duduk perkaranya sebagai berikut: Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi, karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya (Flp 3:3-7). Itulah yang merupakan akibat wajar dan spontan dari pengenalan akan Kristus, yaitu: dengan agak mudah meninggalkan segala nilai lain yang lepas dari Kristus.

Tetapi, agar berbuah hasil, pengetahuan akan Kristus itu mesti bersungguh-sungguh dan mendalam, benar-benar meninati rahasia Kristus. Dengan pengetahuan dangkal orang tidak sampai; dengan pengetahuan teoretis ilmiah, yang tidak menyapa, tidak menggugat, tidak menantang, tanpa keterlibatan pribadi, orang pasti tidak berhasil dalam segala sesuatu dan senantiasa mengutamakan dan memprioritaskan Kristus. Pengetahuan, pema­haman, pengenalan akan Kristus itu mestinya “saporativa”, mesti menikmati Kristus, sehingga Kristus dalam lubuk hati dialami sebagai sesuatu yang berada pada kita dan bagi kita sendiri dan dalam kesadaran yang terdalam, dalam hati-nurani, synderesis dalam istilah S. Bonaventura, menjadi orang, pribadi yang hidup Kristus tidak boleh menjadi suatu bayangan kabur, sosok yang berdiri diambang pintu kesadaran, tetapi tidak boleh masuk. Janganlah ia menjadi kabut yang sebenarnya tidak berarti apa-apa bagi kita. Sebaliknya, seluruh Kristus hendaknya dapat masuk kedalam kesadaran dan hati kita dan disana menempati pusat.

Hanya pemahaman akan Kristus yang teramat perlu tetap suatu karunia, karunia yang teramat penting, tetapi terus karunia belaka, yang hanya oleh Bapa dapat dianugerahkan Usaha kita, industria menurut S. Bonaventura, untuk memahami misteri Kristus tentu saja mesti ada dan menjadi pra-andaian. Tetapi usaha manusia belaka tidak pernah akan sampai ke tujuannya, kalau seandainya kasih-karunia Allah dan Kristus sendiri tidak mendahului dan mendampingi.

Maka karunia itu mesti dimohonkan dengan mendasak dan terus-menerus. Dan – menurut S. Paulus – kita mohon bersama “semua orang kudus”, sambil bergabung dan bersatu dengan semua orang beriman, bersama segenap tubuh Kristus, yaitu Gereja-Nya.

Memang dalam doa liturgi berulang kali kita memohon “scientia saporativa” itu, pemahaman yang menikmati misteri Kristus. Doa-doa itu seolah-olah berkisar sekitar permohonan pokok itu. Dan karunia yang dipohonkan itu diminta untuk semua “orang kudus”, untuk semua orang beriman, agar sekalian memahami dan menikmati segala kebaikan rohani.

Tetapi dalam penyelenggaraan ilahi semua kebaikan bergantung pada kebaikan rohani utama, yaitu misteri Kristus. Memang “kasih Allah akan dunia ini begitu besar, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya tidak binasa, melainkan beroleh kehidupan kekal” (Yoh 3:16). “O inaestimabilis dilectio caritatis, ut servum redimeres, Filium tradidisti”, “O Cinta kasih yang tak terduga, untuk menebus si budak, si Anak telah Kauserahkan. Dialah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6) dan tidak seorang pun datang kepada Bapa selain melalui Dia (Yoh 14:6). Itulah pengentalan semua karunia yang dapat dianugerahkan dalam tata penyelamatan. Itulah inti sari pemahaman utuh akan Kristus, akan misterinya, yang tak terbatas dan tak terselami.

Maka mestinya kita memohonkan dan terus memohonkan karunia itu. Semoga Kristus dan Bapa Tuhan kita menganugerahkannya. Dan mereka pasti tidak menolak, jika permohonan itu bersungguh-sungguh dan jujur, jikalau kita sambil berdoa siap-sedia seutuh-utuhnya menerima penyataan Kristus itu serta segala akibatnya bagi pribadi kita.

Kesungguhan dan kejujuran yang perlu itu tidak terlalu mudah dan gampang. Mari kita terutama memohon Roh Kudus, yaitu Roh Kristus, agar Ia membaut kita memahami dengan tepat misteri Kristus yang tak berhingga, oleh karena Kristus tidak ada tara bandingnya dan yang menyebabkan Kristus mesti dicari, dikasihi dan dinikmati mendalam dan melampaui segala sesuatu.

Bapa kita Fransiskus, kiranya lebih dari siapa pun, memperolah karunia pemahaman akan misteri Kristus, sehingga secara batiniah dan secara lahiriah diserupakan dengan Dia. Dan itulah jalan yang beliau rintis dan tunjuk bagi kita pula, sehingga sebagai pengikut beliau kita wajib mencoba menempuh jalan yang sama, a la Padre Pio OFMCap. Amin.

(Tentang Padre)Pio OFMCap, lihat misalnya Majalah HIDUP no. 24 Tahun LVI, 16 Juni 2002: laporan utama: Gelar Santo untuk Padre Pio, 16 Juni 2002)