XX. Penutup Khalwat

Dilihat: 223 kali

Menilai diri sendiri

Sebaik-baiknya pada akhir hari-hari bersemadi, mawas diri, dan refleksi ini masing-masing peserta meninjau khalwat yang selesai sudah. Tentu saja boleh menilai pengarah, pemipin selama khalwat ini, tetapi lebih penting orang menilai dirinya sendiri. Apa yang terjadi selama hari-hari ini dengan saya? Atau tidak terjadi apa-apa? Mengapa terjadi sesuatu atau mengapa tidak tetjadi sesuatu? Mengapa semua jerih payah berhasil atau gagal?

Lebih penting lagi orang bertanya: Mana kiranya dampak hari-hari ini selanjutnya? Tidak jarang retret tahuan, sesuai aturan, sangat minimal dampaknya. Tidak berubah apa-apa. Hari-hari ini hanya selingan belaka, yang tidak bersambung dengan yang dahulu dan tidak berkaitan dengan apa yang menyusul. Seandainya selama retret terjadi sesuatu dengan orang, namun kerap kali seolah-olah ditempatkan antara kurung, sehingga dalam hidup sehari-hari tidak berfungsi dan tidak berperan.

Mana hasil sekian banyak retret bagiku?

Maka baiklah orang bertanya pada dirinya sendiri: Mana hasil dari sekian banyak khalwat yang telah saya ikuti? Sebuah contoh kecil: Pernah para pemuda franiskan mengikuti sebuah retret yang berupa “loka karya berdoa” (suatu cara bicara yang tidak saya senangi!). Selama dua minggu dampaknya memang kelihatan – membentangkan tangan, duduk berjongkok, dan sebagainya. – Tetapi tidak kelihatan bahwa mereka lebih rajin, lebih setia dalam doa pribadinya. Sama lesu seperti dahulu, sama langka terjadi.

Tanggungjawab pribadi

Meskipun khalwat dibuat bersama-sama – betul sesuai dengan tradisi persaudaraan fransiskan – oleh karena kebersamaan itu mendukung (kadang-kadang justru tidak mendukung!), namun pada dasarnya sebuah retret suatu usaha yang sangat pribadi dan pertanggunganjawaban terletak pada masing-masing orang sendiri. Demikian pun lanjutan hari-hari bersemadi, doa, mawas diri dan refleksi ini serta dampaknya dalam hidup selanjutnya menjadi tanggungjawab pribadi.

Selama khalwat yang kini selesai pemimpin mencoba mengarahkan perhatian dan pemawasan diri kepada hidup religius dan hidup religius fransiskan. Pokok itu tentu saja mengenai sesuatu yang dasariah dan bukan hal sampingan serta sepele saja dalam hidup sehari-hari besok. Hanya pengarahan dan pemimpin tidak menjamin apa-apa. Boleh jadi bahwa apa yang barangkali dibangkitkan, besok tenggelam lagi dalam arus kehidupan yang barangkali kurang sesuai dan bahkan bertolak belakang dengan hidup religius dan religius fransiskan yang sejati. Godaan memang kuat, kentara sekali bagi kebanyakan diantara kita yang terlibat dalam karya pastoral. Apa yang pernah diajarkan selama pendidikan dan kini diingatkan lagi kerap kali dalam lubuk hati dinilai orang sebagai teori belaka, oleh karena kurang didukung oleh praksis kaum religius dan fransiskan diIndonesia. Banyak kata-kata muluk, banyak kertas yang dihitamkan dengan tinta, banyak rapat dan pertemuan yang diorganisasikan dari atas, tetapi semuanya rasa-rasanya tidak perlu ditanggapi secara serius, apa lagi secara serius dipraktekkan secara perorangan dan dalam kebersamaan sehari-hari.

Tetapi baiklah orang menyadari dan semakin meyakinkan diri bahwa tanggungjawab atas hidupnya sebagai manusia, sebagat orang Kristen sebagai religius dan sebagai fransiskan terletak di tangan orang sendiri dan tidak dapat diserahkan kepada orang lain atau salah satu lembaga, seperti ordo Fransiskan dan propinsi ini atau itu. Lembaga mana saja sebenarnya sarana belaka, yang seharusnya mendukung tetapi nyatanya bisa juga mengha­langi orang untuk secara serius berusaha mewujudkan diri sebagai manusia Kristen data religius fransiskan.

Pesan Fransiskus

Maka nanti kita pulang ke tempatnya masing-masing, ke kerja dan kesibuk­an yang sudah menjadi routine. Mudah-mudahan Roh Kudus yang selama hari-hari ini mendampingi kita, terus mendampingi saudara, mengingat apa yang dianjurkan bapa kita Fransiskus kepada para pengikutnya sepanjang masa dan di mana pun mereka berada dan berkarya:

“Tetapi yang hendaknya mereka perhatikan ialah: keinginan untuk memiliki Roh Tuhan melampaui segala-galanya dan membiarkan Dia berkarya di dalam diri mereka; ingin selalu berdoa kepadanya dengan hati yang murni; ingin rendah hati, sabar dalam penganiayaan dan sakit; dan ingin mencintai mereka yang menganiaya, mencela dan berperkara dengan kita” (AngBul X:8-10),

“Hendaknya mereka bekerja dengan setia dan bakti; sedemikian rupa, sehingga mereka … tidak memadamkan roh doa dan kebaktian suci, yang kepadanya harus diabdikan hal-hal lain yang duniawi.” (AngBul V:1-2)

Amin.