XVIII. Hidup Dan Karya

Dilihat: 324 kali

Gaya hidup, cara hidup religius tanda hadirnya Kerajaan Allah; bukan pekerjaan tertentu

Profesi religius merupakan suatu perjanjian, mengikat seseoraug kepada Allah untuk sesuai dengan spiritualitas kelompok kaum religius tertentu mengahayati Injil Yesus Kristus dalam rangka yang digariskan oleh ketiga nasehat Injil yang dikaulkan. Dan itulah yang menentukan suatu gayahidup, cara hidup atau wujud hidup Kristen khusus dan itu pun secara menyeluruh. Wujud hidup Kristen itu menjadi sebuah tanda di dunia ini bagi Kerajaan Allah, Allah sedang dan akan secara defintif meraja nanti. Allah yang dalam Kerajaan-Nya itu pada dasarnya transenden, melampaui dunia serta segala nilainya. Di situ, dalam gaya hidup terletak sumbangan khusus kaum religius bagi keseluruhan umat Allah yang sedang menempuh sejarahnya. Maka segi itu, cara hidup khusus sebagai tanda, jadi secara “pu­blik”, mesti diutamakan. Itu secara tegas ditekankan oleh konsili Vatikan II dan Kitab Hukum Kanonik yang terbaru. “Kerasulan” kaum religius terutama terletak dalam kehidupan, bukan dalam salah satu karya tertentu. Kelompok kaum religius bukan sebuah sarekat karya, kalau pun boleh jadi (dan nyatanya sering terjadi), bahwa mereka oleh pastor dan uskup (meskipun menandatangani dokumen-domumen Konsili Vatikan II) dinilai sebagai “tenaga kerja” (murah), bahkan “tenaga inti” menurut penyataan para uskupIndonesia. Kardinal Suenens di Belgia tempo hari sampai menggoncangkan kaum religius disana justru oleh karena “si karismatikus” (tetapi itu masih masa depan waktu itu), “menuduh” mereka oleh karena kurang “pastoral” (=karya).

Hidup religius: bentuk kekristenan khusus, jangan difungsio­nalkan

Semuanya itu berarti bahwagayahidup kaum religius sebagai bentuk kekristenan khusus, mempunyai nilainya sendiri dan itulah nilai utamanya.Gayahidup itu tidak (boleh) “difungsionalkan”, dipakai untuk sesuatu yang lain. Itu misalnya terjadi dengan selibat para imam/diakon (praja) dalam Gereja Latin. Selibat itu diabdikan kepada karya, tugas sebagai penjabat paripurna Gereja. Itu juga terjadi dalam apa yang disebutkan sebagal “sarikat rasuli”. Mereka memang – seprti kaum religius – mengikrarkan ketiga kaul yang berisikan ketiga nasehat injil. Tetapi tidak secara publik, melainkan secara privat saja. Penghayatan nasehat itu difungsionalkan untuk karya sebagai pejabat Gereja (klerikal). Apa yang menentukangayahidup orang itu bukan nasehat Injil, melainkan tugas pastoral/misionernya.

Demikian juga halnya dengan “lembaga sekular”. Anggota-anggotanya tetap awam dangayahidupnya awami. Penghayatan nasehat injil difungsionalkan untuk sebagai awam secara total melibatkan diri dalam usaha membangun dunia ini sesuai dengan maksud Allah. Tetapi bagi kaum religiusgayahidupnya tidak difungsionalkan untuk salah satu tugas atau karya. Sayanglah bahwa kerap kali orang berkesan bahwa terutama tarekat-tarekat klerikal yang sungguh tarekat religius, memfungsionalkangayahidup itu untuk karya (pastoral/misioner). Anggota-anggota tarekat itu kerap kali pertama-tama menjadi pejabat Gereja (imam) dan demi tugas dan jabatan gerejani itu mereka menjadi “religius”. Sebenarnya mereka “tarekat rasuli”. Hanya waktu didirikan belum ada “tarekat rasuli” macam itu dalam tata hukum Gereja, sehingga agak terpaksa juga mereka menjadi religius. Umumnya tarekat itu berada dalam tradisi spiritualitas Ignasius Loyola. Hanya Ignasius (dan Yesuit) tidak memfungsionalkangayahidup bagi karya (klerikal), tetapi sebaliknya: karya klerikal, jabatan Gereja difungsionalkan bagigayahidup khas, karisma, khusus yang disalurkan melalugayahidup yang digariskan oleh ketiga nasehat Injil. Maka bagi kaum religiusgayahiduplah sebagai tanda Kerajaan dan bukan karya menjadi paling penting.

Kontemplatif: gaya hidup religius paling murni
Religius aktif: gejala “baru” dalam Gereja Barat, apalagi Timur

Karena itugayahidup religius dalam bentuk paling murni ditemukan dalamgayahidup kontemplatif. Lama sekali Gereja hanya mengakuigayahidup kontemplatif (rahib/rubiah) sebagai hidup religius sejati. Para “mendicantes” (Fransiskan, Dominikan, Karmelit) pada abad XIII mesti berjuang untuk diterima sebagaigayahidup religius yang melibatkan diri dalam karya pastoral/misioner (tidak berlembaga seperti dahulu para canonici regulares). Tarekat religius aktip, baik klerikal maupun awami, adalah sebuah gejala dalam Gereja Latin yang relatif baru. Sebenarnya tarekat awami (suster, bruder) religius aktip baru pada abad XX ini mendapat kedudukan mantap-resmi sebagai religius dalam tata hukum Gereja (Codex th 1917). Dan dalam kekristenan Timur (baik katolik maupun ortodoks) tarekat religius aktip tidak pernah berkembang. Terpengaruh oleh Gereja Latin memang pernah dicoba, tetapi tidak dapat mempertahankan diri dan berakar. Karena itu orang boleh saja memasang sebuah tanda tanya besar atas kenyataan bahwa dewasa ini kekristenan Timur (Eropa Timur, Rusia) diban­jiri oleh tarekat religius aktif (antara lain fransiskan), sesuatu yang berlawanan dengan tradisi kuat kekristenan Timur dan mungkin sekali hanya mencetuskan reaksi negatif saja.

Karya dalam corak hidup religius. Fransiskus? Fransiskan? Yesus?

Jadi hanya dalam Gereja Latin berkembanglah hidup religius “aktif”, berarti: yang secara prinsipial dan tidak secara insidental (seperti dahulu terjadi, dalam Gereja Latin dan sekarang masih terjadi dalam kekristenan Timur) melibatkan diri dalam pelbagai macam karya pastoral, sosial, amal kasih, misioner. Ini memang sesuai denga aktivisme Latin/Yunani. Tetapi tidak mustahil bahwa karya yang ditangani mengaburkangayahidup yang seharusnya selalu diutamakan. Kita memang ingat akan agak segera bangkit di kalangan para pengikut Fransiskus. Pokok inti pertikaian itu ialah soal ini: Apakah “gayahidup” menurut karisma Fransiskus mesti diutamakan dan karya difungsionalkan, atau bolehkahgayahidup disesuaikan dengan karya pastoral yang dilembagakan? Tentu saja Fransiskus, menurut karismanya, mau “pastoral”, tetapi terlebih pastoral “bebas”, “free lance”, bukan pastoral yang berlembaga. Kita tahu juga bagaimana para “zelanti” dan “spirituales” pada permulaan kalah dan fransiskan menyesuaikangayahidup dengan karya (pastoral klerikal) yang berlembaga. Tetapi kita juga tahu bahwa apa yang diperjuangkan para zelanti dan spiritual di bawah tanah terus-menerus menganggu para pengikut Fransiskus sampai dengan hari ini.

Karya, kerja dipadukan, difungsionalkan demi tanda Kerajaan Allah

Kebanyakan kelompok kaum religius dewasa ini menangani karya, bahkan ada yang menspesialisasikan diri dalam karya pastoral (katekese misalnya) amal kasih (pendidikan, perawatan), sosial dan bahkan budaya. Itu boleh saja dan dapat sesuai dengan panggilan khas kaum religius. Sebab kaum religius tetap tinggal dalam rangka dunia ini dan di situ mengikuti Yesus. Yesus tidak hanya memberitakan Kerajaan Allah yang dekat, tetapi juga dalam bentuk sementara menghadirkannya dengan tanda, yaitu dengan menjembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat dan mendidik murid-mu­ridnya dan rakyat. Yesus menawarkan semacam “etika”, praksis didunia ini. Hanya karya Yesus itu selalu dalam rangka pemberitaannya tentang Kerajaan. Yesus menyembuhkan orang sakit dan sebagainya bukan demi kesehatan (itu tugas ilmu kedokteran), tidak mendidik orang, supaya dapat berperan dalam rangka masyarakat (itu ditangani oleh pendidikan sekular, entah negara entah lembaga sosial seperti Gereja). Dengan lain kata: karya Yesus terpadu dalamgayahidup yang seluruhnya ditentukan o1eh Kerajaan.

Demikianpun karya kaum religius mestinya terpadu dalamgayahidupnya sebagai tanda Kerajaan yang diberitakan Yesus, sehingga karya difungsionalkan bagigayahidup. Karena itu kaum religius seharusnya tidak mena­ngangi karya (yang nampaknya sekular dan profan dan dewasa ini pun ditangani oleh negara, macam-macam lembaga politis, ekonomis dan sosial (tentara dan pertamina, N.U, Muhamadiah, Honda dan Toyota pun membuka sedeqah, mendirikan rumah sakit, rumah jompo bagi mantan pegawai dan sebagainya) demi nilai duniawi (kesehatan, ketampilan, peran dalam masyarakat dan sebagainya). Tentu nilai-nilai itu pun menjadi tercapai tetapi bagi kaum religius bukan itulah yang diutamakan. Sama seperti mu’jizat Yesus demikian pun karya kaum religius berperan sebagai “tanda Kerajaan” dan oleh karena itu sesuai dengan gaya hidupnya sebagai “tanda Kerajaan” itu. Dalam rangka ini slogan “option for the poor” yang di mana mana dicanangkan mendapat isi dan motivasi real bagi kaum religius. Kar­yanya pertama-tama tertuju kepada mereka yang kurang menikmati karunia Kerajaan di dunia ini.

Penutup

Maka dalam prakteknya kaum religius, baik secara idividual maupun secara kolektif, mesti mengutamakangayahidupnya dan mengintegrasikan karya dalamgayahidup itu, sehingga karya difungsionalkan. Karya mesti dipasang dalam rangkagayahidup kelompok religius dan spiritualitas khasnya.

Tidak dapat disangkal bahwa terutama tarekat religius klerikal (nyatanya Ordo Fransiskan memang juga sudah lama menjadi tarekat klerikal secara nyata, meskipun secara formal barang kali tidak) sangat terancam bahaya para anggota, pejabat Gereja yang terlibat dalam karya pastoral yang berlembaga, mengutamakan karya dari pada gaya hidupnya. Pengalaman tarekatS. Fransiskussecara jelas mengilustrasikan bahaya itu yang mengalahkan teralu banyak “clerici” dalam Ordo Fransiskan.