XVII. Sopan Santun “Curialitas” Dalam Pergaulan

Dilihat: 319 kali

Fransiskus: seorang curialis (beralap-santun)

Dalam “Pedoman hidup” (AngBul III:10-13)[1] bagi para pengikutnya Fransiskus menganjurkan juga kepada mereka semacam “tata pergaulan”, suatu tata krama. Waktu para saudara bepergian di dunia, artinya:begerak dalam masyarakat luas, hendaklah mereka murah hati (mites), tidak berlagak (mo­desti) … sopan santun dalam berbicara dengan semua orang”. Dengan lain perkataan: Fransiskus ingin para pengikutnya tahu adat, beradab dan tidak menjadi orang kampungan.

Dibelakang anjuran itu tersembunyi sesuatu yang harus diketahui. Sebab “sopan santun” Fransiskus bukan sembarangan tata krama, melainkan tata krama khusus, sebagamana diperkembangkan di kalangan para ksatria di Perancis (Utara) dan di zaman Fransiskus disebarluaskan di Italia dan mulai ditiru oleh para “kaya baru” di kota, para warga kota yang berada. Pokoknya: Fransiskus ingin para pengikutya sebagai ksatria Kristus menjadi “curialis”.

Tomas Celano (lCel 83) menyajikan semacam “potret” Fransisikus. Dengan seni bahasa rhetorikanya Tomas menggambarkan Fransiskus batin-lahir. Celano memang pernah bertemu dengan Fransiskus dan ternyata terpikat oleh kepribadian beliau. Segala macam sifat watak yang baik didaftarkan dalam potret. Memang bagi Tomas, Fransiskus sudah seorang kudus (baru diresmikan) tanpa kerut atau noda. Hanya ada satu ciri Fransiskus yang sedikit di luar rel “orang kudus” tradisional, tidak lazim dalam sebuah hagiographi zaman pertengahan. Tomas mengagumi “curialitas” Fransiskus, seorang yang terdidik dan terlatih dalam “tata krama” para satria. Fransiskus yang miskin, rendah hati yang menyebut dirinya “idiota”, tidak makan huruf dan tidak berpendidikan, Fransiskus yang lahiriahnya nampak gelandangan, bukan orang kampungan yang tidak tahu adat. Sebaliknya ia seorang “curialis”.

Arti kata “curialis”

Adapun kata Latin “curialis/curialitas” di zaman Fransikus mempuanyai arti khusus. Kata itu membawa orang kepada “curia”, istana ksatria, kraton para raja. Di istana para ksatria dan di kraton para raja di Prancis pada abad XII diperkembangkan suatu cita-cita ksatria yang luhur. Ksatria mesti “curialis”, cocok dengan cita-cita “curia” itu dalam seluruh penampilannya. Ksatria mesti setia sampai mati kepada Rajanya, kepada Tuan putri yang kepadanya ia jatuh cinta meskipun mesti mengurbankan segala apa dan sedalam-dalamnya merendahkan diri. ksatria mesti “murah hati” (largis, largitas, liberalis), suka memberi tanpa memperhitungkan kepentingannya sendiri, ia mesti siap berjuang untuk iman sampai mempertaruhkan nyawanya, melindungi Gereja, membela para janda, yatim piatu, kaum fakir miskin, orang lemah, menghargai wanita dan membantu para tuan putri dan nyonya yang membutuhkan bantuan. Dan selalu dengan budi luhur dan peri-laku halus dan mulia. Selaku satria, dalam situasi serba sulit mesti berpegang pada aturan, tata-krama, tata pergaulan yang halus dan cukup berbelit-belit.

Fransiskus berkenalan dengan cita-cita ksatria Prancis tersebut dan sangat tertarik olehnya sampai mau menjadi satria. Ia mendengar para artis berkeliling membawakan roman-roman tentang para ksatria tersohor, Roland, Carulus Magnus, Olivier dan ia sendiri menghafal nyayian-nyanyian Perancis yang meluhurkan para pahlawan, keluhuran budinya dan kehalusan peri lakunya. Mungkin oleh ibunya, yang kiranya berasal dari Prancis dan mungkin seorang bangsawati, Fransiskus barang kali sudah dididik sedikit dalam tata pergaulan yang halus itu. Memang tentang Fransiskus muda, yang berlum bertobat kepada Injil, para hagiographnya mencatat bahwa sang pemuda adalah “curialis”, tahu adat para ksatria dan menirunya. Curialitas sudah melekat padanya sebagai semacam “kodrat” kedua dan sifat wajar (K3S I, 3). Dikatakan Fransiskus mengawasi dirinya jangan-jangan menyakiti lain orang dengan kata-kata yang kasar dan meski pun ia suka akan putri, namun tidak pernah mengatakan sesuatu yang jorok dan tidak senonoh, suka membantu orang lemah dan miskin. lCel 17 berceritera: Sekali peristiwa Fransiskus sebagai pedangang gesit sibuk di gudang ayahnya untuk menjual barangnya dengan laba sebesar-besarnya. Secara kasar ia membentak seorang pengemis. Tetapi segera Fransiskus menyesal bahwa berlaku berlawanan dengan cita-cita ksatria yang dengan sopan mesti menolong kaum fakir miksin. Legenda Perusina mencatat bahwa Fransiskus tahu bergaul dengan semua lapisan masyarakat dan tahu adat masing-masing golongan. Pokoknya Fransiskus seorang “curialis”, tahu sopan santun yang halus dan sesuai.

“Curialitas” ikut ditobatkan

Keutamaaan “sipil”, peradaban yang sudah diserap si pemuja Francesco di Pietro di Bernardone turut bertobat bersama dengan diri Francesco. Meskipun Fransiskus dengan teman-temannya mau menjadi “minores”, hina-dina dan secara situasional mengidentifikasikan diri dengan kaum gelandangan di Asisi, namun Fransiskus tidak meninggalkan peradabannya bersama dengan uang, pakaian dan status sosialnya. Ia mempertahankan terus kehalusan budi dan tata pergaulan ditengah-tengah orang kasar yang tidak tahu adat, apa lagi adat para ksatria Prancis. Baik K3S (I, 3) maupun lCel (17) menekankan bahwa Fransiskus selalu memperlakukan orang miskin dengan kehalusan budi dan secara “curialis”, sesuai dengan tata krama kalangan atas. Mungkin kaum gelandangan merasa malu diperlakukan dengan cara demikian dan bagi lain orang pasti menjadi suatu teka-teki, bahwa orang yang tampaknya kasar dan biadab, sungguh tahu adat dan berbudi luhur serta halus. 3Soc menjelaskan sedikit duduk perkaranya dengan menambah suatu motivasi. Frasiskus selalu “curialis” oleh karena Allah. Dalam orang miskin Fransikus bertemu dengan Maharajanya yang menjadi miskin, dan yang kepadanya ia bersumpah setia. Memang bagi Fransiskus semua makhluk, terutama semua manusia dan teristimewanya orang miskin menjadi sebuah epifani, penampakan Allah dan Kristus. Itulah sebabnya mengapa Fransiskus mepertahankan peradabannya juga dalam lingkungan kasar dan biadab. Ia jatuh cinta kepada tuanputri Kemiskinan yang pakaiannya ia kenakan. Karena kekasihnya itu Fransiskus tersedia merendahkan diri namun selalu dengan sopan dan santun terhadap tuanputrinya itu. Gaya hidup lahiriah Fransiskus memang kasar, jubahnya berbau keringat, penuh kutu-kutu, jarang ia mandi atau membasuh dirinya, tetapi budinya tetap luhur dan perilakunya halus sebagaimana layaknya bagi “miles Christi”, ksatria Kristus. Dan itulah, justru, karena berdasarkan keyakinan mendalam, bisa memikat semua orang. Mereka merasakan bahwa Fransikus tidak main sandiwara. Adatnya yang halus mencerminkan budi yang luhur, budi seorang ksatria sejati.

Dan dengan demikian Fransiskus memperlihatkan bahwa kemiskinan ekonomis dan status sosial rendah tidak usah bertarti: watak kasar, perangai biadab, kelakuan kurang ajar dan tidak tahu pergaulan yang halus. Apa yang memutuskan bukan keadaan lahiriah, melainkan jiwa seseorang, budinya.

Pengikut-pengikut Fransiskus

Pengikut-pengikut Fransiskus datang dari segala lapisan masyarakat. Cukup banyak orang bangsawan dan terdidik, tetapi juga ada orang kam­pungan dan buta huruf. Tetapi Fransiskus ingin bahwa mereka semua tahu adat, atau belajar adat, sehingga dapat berlaku sebagaimana layak bagi ksatria meja bundar, sebagai “miles” maharaja, Kristus. Maka hal itu dicantumkan dalam acara hidup para pengikut. Dalam AngTBul I, 7 terdapat anjuran ini: Siapa pun datang kepada para saudara, entah kawan entah lawan, entah pencuri entah penyamun, mereka mesti diterima dengan baik hati. Dan di mana pun para saudara berada, mereka secara rohani, mesti saling menghormati dan saling menghargai dengan teliti tanpa gerutu.

Jadi, juga di kalangan sendiri para saudara mesti tahu adat. Fransiskus tidak menginginkan kelompok yang secara sosio-ekonomis kelompok pinggiran, menjadi segerombolan orang kampungan. Sikap yang penuh rasa hormat merangkul baik para saudara maupun orang luar. Sudah dikutip petunjuk Fransiskus bagi para saudara mana kala bepergian di dunia, di masyarakat ramai. Mereka mesti halus budi (modesti) dan berbicara sopan dengan semua orang sebagaimana mestinya. Jelaslah Fransiskus ingin bahwa para saudara dalam pergaulannya dengan masyarakat tahu adat dan tata krama. Semua orang mesti tercakup dalam kehalusan budi dan kesopanan perilaku.

Tentu saja Fransiskus tahu dan mengalami (bukankah ia kecewa sekali dengan kelakuan biadab para ksatria perang salib yang mengepung kota Damietta) bahwa cita-cita ksatria jarang menjadi terwujud dan “curialitas” dalam masyarakat bahkan dalam masyarakat para ksatria mudah merosot menjadi formalisme, sandiwara dan kulit kosong. Mudah saja tata pergaul­an yang halus tidak mencerminkan budi yang luhur, tetapi hanya menutupi kekerasan dan kelicikan hati. Ini a. l. terbukti, jika tata pergaulan yang sopan menjadi pilih kasih dan tidak mencakup semua orang tanpa membeda-bedakan.

Curialitas: saluran kasih sejati

Fransiskus yang bertobat kepada Injil Yesus Kristus memakai “curialitas” sebagai saluran kasih sejati yang merangkul semua orang, bahkan semua makkluk. Waktu pelipisnya mau diselar, Fransikus minta saudara Api, agar memperlakukan Fransiskus dengan “curalitas”, oleh karena Fransiskus pun selalu memperlakukan saudara api secara “curialis”.

Dalam Fioretti (37) tercantum sebuah ceritera yang menyingkapkan pikiran Fransiskus. Pernah ia bertemu dengan dan menginap pada seorang yang sangat halus dan sopan kelakuannya. Fransiskus sangat ingin orang itu dapat menjadi temannya. Sebab ia ternyata mempunyai watak yang cocok dengan seorang saudara dina sebagaimana yang diharapkan Fransiskus. Fransiskus memberi penjelasan sebagai berikut: “Curialitas” merupakan saudari kasih kepada sesama. Ia memadamkan rasa benci dan mempertahankan cinta-kasih. Orang yang berwatak “curialis” bisa menjadi pemberita Injil perdamaian dan cinta-kasih.

“Curialitas” tulen memang bukti dan sarana kasih sejati. Pada suatu hari seorang ibu miskin minta tolong pada Fransiskus, – demikian diceritakan 2Cel 92 – Fransiskus mau saja memberikan mantolnya kepada ibu itu, tentunya seizin saudara Gardian. Tetapi Gardian agak berkeberatan juga. Lalu Fransiskus memakai akal sebagai berikut: Katanya: Saudara Gardian, saya selalu mengenal saudara sebagai seorang yang “curialis”, sopan terhadap saya. Nah, sekarang buktikanlah kesopanan saudara sungguh-sungguh sejati dengan memberikan mantol saya kepada ibu ini. “Curialitas”, sopan-santun sejati berpancar dari cinta-kasih dan rasa hormat sejati.

Curialitas pada semua makhluk

Fransikus mencintai dan menghormati tidak hanya semua manusia, tetapi malah semua makhluk. Karena itu Fransiskus memperlakukan semua makhluk dengan sangat sopan dan halus, diperlakukan sebagai saudara/saudari yang terhormat. Mengesankanlah semua ceritera (entah benar entah hasil buah khayal) yang tersedia tentang caranya Fransiskus bergaul dengah binatang. Fransiskus pun mengharapkan makhluk itu pun sopan terhadap dirinya. Sudah dikutip ceritera tentang api yang diajak menjadi curialis terhadap Fransiskus dan tidak terlalu menyiksa pelipisnya (bdk lCel XXIX).

Dengan caranya sendiri Fransiskus yang bertobat kepada Injil dapat mengkristenkan “curialitas” sopan tata pergaulan yang kerap kali menjadi formalisme belaka. Bahkan kerap kali kesopanan diinspirasikan egoisme dan mengelabui sesama. Orang berlaku halus dan sopan untuk mendapat sesuatu atau mencapai maksud-tujuannya sendiri. Karena itu orang hanya sopan dan halus terhadap orang tertentu saja, yang kiranya dapat menguntungkan dan selama menguntungkan.

Sebaliknya, sopan-santun sejati, “curialitas” injili memperlihatkan rasa hormat, penghargaan dan kasih sejati kepada sesama manusia. Aturan formal dan konvensional yang berlaku dalam masyarakat tertentu (seperti di zaman Fransskus di kalangan para ksatria) diperdalam dan ditingkatkan menjadi pengamalan kasih sejati yang menghormati sesama sebagai gambar dan Citra Allah dan Kristus.

Memang tata pergaulan seperti yang disepakati antara manusia yang berbudaya bermaksud mencegah diri orang dari segala tindakan dan perkataan yang bagimana pun juga bisa mengganggu atau menyakiti sesama manusia. Sekaligus mau diperlihatakan bahwa diri sesama manusia mau dihargai dan dihormati. Karena itu tata pergaulan itu dapat menjadi aturan dan wujud kasih injili dan penghargaan Kristen terhadap sesama manusia.

Karena itu pun sopan santun yang halus mengandaikan adanya budi yang luhur dan hati tanpa marih. Orang mesti peka sekali, segera dapat melihat dan merasa apa yang kiranya menggangu dan menyakiti sesama. Suatu kepekaan halus yang segera melihat tindakan dan kelakuan mana oleh sesama manusia agaknya dialami sebagai kurang enak. Orang yang benar-benar sopan pertama-tama memperhatikan kepentingan dan keperluan sesama manusia. Ia pun rela mengurbankan dirinya demi lain orang.Adasuatu perasaan spontan: apa yang bisa dan apa yang tidak bisa dalam situasi nyata.

“Curialitas” memerlukan askese

Dan itulah sebabnya mengapa “curialitas” mengandaikan askese, penguasaan diri dan tertib diri yang ketat. Sebab orang yang sopan mesti di mana-mana dan selalu mengutamakan sesama dan apa yang sungguh-sungguh berguna bagi sesama dari pada kesenangan dan keenakannya sendiri. Orang sopan pun mesti dan dapat menyesuaikan diri dengan sesama, meskipun itu berarti: menomorduakan dirinya serta apa yang menyenangkan dirinya. Orang yang “curialis” selalu mesti dan dapat mengatur diri­nya: Jangan mengganggu orang lain. Ia tidak bisa bertindak begitu saja sesuai dengan keinginan, selera dan nafsunya sendiri. Sedapat-dapatnya ia menuruti keinginan sesama, meskipun tentu saja tidak menjadi “penurut”, yang ikut-ikutan saja tanpa berpikir dan melepaskan identitasnya sendiri. Menjadi orang sopan tentu saja tidak berarti menjadi konformis, yang tidak lagi mempunyai wajahnya sendiri atau seorang oportunis yang tidak memiliki prinsip lagi. Namun bersopan selalu mengandaikan beraskese, menguasai dan menertibkan dirinya demi sesama manusia.

Seperti dikatakan Fransiskus dalam Anggaran Dasar, “curialitas”, berlaku sopan, juga memainkan peranan besar dalam hal “bepergian di dunia”. Anjuran Fransiskus itu justru terdapat dalam rangka perutusan para saudara di dunia sebagai utusan dan penginjil Kristus. Mereka memang bertugas “memperdengarkan suara Anak Allah” dengan pelbagai cara. Dengan gayahidupnya yang seharusnya cukup provokatif oleh karena menyimpang dari pada apa yang lazim dalam masyarakat luas. Tetapi, caranya mereka bergaul dengan sesama jangan menjadi halangan bagi penginjilan. Dalam tingkah-lakunya dan tutur sapanya mereka mesti memperlihatkan bahwa Injil memperhalus budi manusia dengan menamam kasih sejati dan penghargaan mendalam kepada sesama manusia. Langkah-laku yang sopan mencerminkan kasih dan penghargaan itu. “Curialitas” menjadi pelayanan Injil oleh karena berupa pelayanan tanpa pamrih kepada sesama.

Curialitas dalam berpastoral

Maka saudara-saudara dina, khususnya mereka yang berpastoral mesti mempunyai dan membina “curialitas”. Mereka mesti tahu adat dan tata krama seperti laku dalam masyarakat tempat mereka berkarya. Mesti ada perasaan halus dan kepekaan dalam pergaulan dengan semua lapisan masyarakat. Secara spontan, tanpa berpikir panjang, mereka mustinya tahu apa yang dapat diterima, apa yang tidak dapat diterima, apa yang menggangu dan menyakiti hati sesama dan apa yang menyenangkan sesama. Orang misalnya mesti merasakan kapan dan berapa lamanya dapat mengunjungi orang. Kapan bisa datang dan kapan diharapkan pergi. Orang mesti secara spontan merasa berapa sering atau berapa langkah orang tertentu dapat dikunjungi, diajak dan sebagainya. Orang mesti tahu perkara mana dapat dicampuri, dan perkara mana tidak dapat dicampuri. Mesti ada kepekaan dalam hal berbicara dengan orang, sejauh mana dapat diteruskan, selalu mesti halus dan sopan, tidak boleh menjadi kasar. Janganlah orang k.l. dipaksa untuk membuka rahasia pribadi yang tidak mau dibuka. Ja­ngan main psykho-analis amatiran dengan orang yang tidak mau “dianalisis”. Memang dewasa ini di kalangan para karyawan pastoral tersebar luas semacam pnyakit: amatirisme psikho-logis dan psikhiatris, yang tidak pada tempatnya, memperkosa hak asasi manusia atas rahasia pribadinya dan biasanya menghasilkan buah negatif belaka.

Bahasa selalu mesti halus, omongan kasar dan kotor, lelucan jorok dan kasar tidak diharapkan dari pemberita Injil dalam situasi mana pun. Rasa-rasanya di kalangan rohaniwan/biarawan tersebar luas adat untuk melampiaskan frustrasi seksual si bujangan melalui omongan jorok dan lelucon kotor.

Tentu saja kadang kala orang boleh, mungkin malah harus menjadi terus terang dan bicara blak-blakan. Tetapi terus terang dan blak-blakan tidak sama artinya dengan kasar, kurang ajar, dan membentak orang. Fransiskus kadangkala, akibat tekanan batin, dapat meledak dan membentak saudara dengan alasan sepele. Tetapi beliau selalu menyesal dan berusaha membetulkan rugi yang didatangkannya atas sesama saudara, sesama manusia, yang tidak diperlakukan dengan “curialitas” yang Fransiskus anjurkan bagi para pengikutnya. Dan selalu orang mesti secara spontan merasakan apa yang bisa dibicarakan dan apa yang tidak bisa dibicarakan kalau tidak diminta. Setiap manusia mempunai hak asasi atas “privacy”. Bahwa bawahan diharuskan “membuka suara hati” bagi atasan, atau pemimpin rohani yang didrop dari atas, bukan praktek yang tradisional dalam Fransiskanisme yang selalu menghormati kepribadian masing-masing orang dan percaya, pada Roh Kudus sebagai pemimpin rohani para beriman.

Orang yang sopan juga memperhitungkan dalam perilaku dan tutur-sapanya, lingkungan tempat ia hidup dan berkarya, kelakuan dan cara bicara yang oleh masyarakat luas dinilai kurang pada tempatnya atau, kurang sesuai dengan “status” seorang biarwan atau rohaniwan. Orang sopan memperhitungkan kesan mana diberikannya pada sesama. Misalnya: pergaulan antara jenis kelamin yang berbeda.Adamasyarakat yang dibidang itu cukup toleran dan bisa menerima banyak, pada hal dalam masyarakat lain orang sangat ketat dan mudah orang menjadi batu sandungan (dan buah bibir). Dalam “berpergian di kita mesti memperhatikan “aturan” yang berlaku. Dewasa ini kadang kala (di pulau Jawa misalnya) terdengar keluh­an (biasanya orang yang sudah berumur sedikit) bahwa para rohaniwan/biarawan muda di bidang pergaulan antara orang yang jenis kelaminya berbeda tidak tahu adat, terlalu bebas, tertolong oleh kebiasaan bahwa tidak mengenakan pakaian seragam sebagai rohaniwan/biarawan.

Di lain pihak kasih yang mesti disalurkan melalui “curialitas” juga memasang batas pada sopan santun sipil. Kasih melarang main sandiwara demi kehalusan, tata pergaulan, melarang mengalah saja di mana dan kapan kepentingan sejati sesama dikorbankan demi tata-krama yang berlaku dalam masyarakat: Jangan-jangan ada yang tersinggung; jangan-jangan saya dianggap sombong. Kasih melarang melayani setiap keinginan egois sesama manusia, yang sebenarnya merusak dan menodai citra Allah. Demi kasih ada kalanya orang mesti melanggar tata-krama, tata pergaulan sipil.

Penutup: Tidak sekedar kulit

Pokoknya curialitas, sopan-santun halus menurut Fransiskus merupakan suatu keutamaan kristen dan injili saudari cinta-kasih sejati. Jadi bukan “konvensi” belaka, kulit kosong, topeng dan sandiwara. Karena itu curialitas sejati tidak mungkin dengan tidak ada kasih sejati, kasih tanpa pamrih, tanpa rasa hormat mendalam terhadap sesama manusia.

Tidak mungkin pula “curialitas” tanpa askese, penguasaan diri dan pengorbanan diri. “Curialitas” menjadi pelaksanaan Injil dan justru karenya itu Fransiskus tetap menjunjung tinggi “curialitas” “courtoisie” para ksatria Prancis, yang dikristenkan dan diinjilkan oleh Fransiskus, “miles-Christi” yang sopan.


[1]    (10)Aku pun menganjurkan, menasihatkan dan mengajak saudara-saudaraku dalam Tuhan Yesus Kristus agar sewaktu bepergian di dunia, janganlah mereka berselisih, bertengkar mulut dan menghakimi orang lain; (11)tetapi hendaklah mereka itu murah hati, suka damai dan tidak berlagak, lembut dan rendah hati, sopan santun dalam berbicara dengan semua orang, sebagaimana pantasnya. (12) Mereka tidak boleh naik kuda, kecuali kalau terpaksa karena keadaan yang sungguh-sungguh mendesak atau karena sakit. (13)Di rumah mana pun mereka masuk, hendaklah mereka katakan lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. (14)Sesuai dengan Injil Suci, mereka boleh makan apa saja yang dihidangkan bagi mereka.