XVI. Persahabatan Rohani

Dilihat: 372 kali

Relasi positif dan negatif

Hubungan antara manusia dapat bermacam-macam sifatnya. Dapat bersifat negatif, seperti permusuhan, atau pun sikap acuh-tak-acuh, tak peduli, lepas tangan. Dalam rangka persaudaraan religius/fransiskan hubungan negatif semacam itu kurang pada tempatnya, meskipun mungkin terdapat juga.

Tetapi manusia dapat dan seharusnya berhubungan satu sama lain secara positif dan dalam lingkup persudaraan religius tentu saja tidak (hanya) atas dasar kepentingan ekonomis atau pun sosial belaka, seperti antara para usahawan, para buruh dan sebagainya. Hubungan yang sedemikian sebenarnya agak lahiriah saja, tidak atau kurang melibatkan diri orang sendiri. Sebuah persaudaraan religius tidak boleh mirip dengan serikat pedagang atau serikat buruh, meskipun kadang kala orang berkesan bahwa ada kelompok religius yang rupa-rupanya hanya bergabung untuk mengelola salah satu lembaga pendidikan/perawatan atau pun “pastoral”, sehingga mereka tampak sebagai karyawan/karyawati salah satu perusahaan, yang kebetulan berjubah, berseragam. Sudah dikatakan bahwa hubungan dalam persaudaraan religius, kharismatik diatur oleh kasih persaudaraan rohani.

Soalnya apakah dalam rangka persaudaraan religius ada tempat bagi hubungan khusus dan mesra antara dua anggota-anggota yang tidaklah sama dengan hubungan dengan semua anggota lain. Sejauh mana hubungan khusus dapat diterima dan didukung, sejauh mana harus ditolak dan dikutuk?

Dalam tradisi hidup membiara memang terdapat sebuah tendensi kuat yang menilai “persahabatan khusus” sebagai sesuatu yang buruk, yang mesti dihindari. Baiklah hal ini direnungkan sedikit, meskipun boleh diterima bahwa tradisi tersebut berdasarkan pengalaman kurang baik, sehingga tidak begitu saja dapat dicap sebagai “ketingalan zaman”, kolot dan di zaman moderen tidak usah dihiraukan lagi.

Macam-macam alasan hubungan khusus

Antara dua orang, i.c. dua orang religius, dapat saja terjalin hubungan khusus atas macam-macam dasar, atas dasar berbagai macam cinta-kasih.

1. berdasarkan eros

Adahubungan seksual yang dijiwai oleh cinta yang disebut “eros”, cinta-birahi. Dan hubungan atas dasar eros itu dapat terjalin antara dua orang yang jenis kelaminnya sama, meskipun lebih biasa orang-orangnya berbeda jenis kelaminnya. Memang eros mengandaikan perbedaan jenis kelamin, tetapi perbedaan itu dapat real tetapi juga dapat tidak real, melainkan terlebih soal pengalaman subyektip belaka. Hubungan homoseksual/ lesbian tidak kurang berdasarkan eros dari pada hubungan hetero-seksual. Kita tahu bagaimana filsuf Yunani, Plato, meluhurkan eros, menjunjung tinggi cinta berahi, tetapi justru antara orang yang jenis kelaminnya sama. Plato tidak terlalu entusias bagi eros hetero-seksual. Dan kalau di dunia Barat dewasa ini ada orang yang mendukung dan mempropagandakan “nikah” homofiletis, maka filsafat yunani tersebut dihidupkan dan dipraktekkan kembali, kendati protes sri Paus. Tentunya diantara mereka yang mengkaulkan “kemurnian selibater” hubungan itu tidak pada tempatnya. Namun rasa-rasanya dewasa ini cukup tersebar luas, mengingat macam-macam skandal seks homo dan hetero, yang akhir-akhir ini, tersingkap di Eropa dan Amerika utara, di mana orang bagi para selibater mau membuka jalan ketiga, relasi afektif yang mesra dan intim, kurang sanggama hetero- atau homo-seksual.

2. dasar kasih persaudaraan

Adahubungan antara saudara yang dijiwai kasih persaudaraan. Hubungan dan kasih itu berdasarkan kesamaan asal-usul, entah biologis-jasmani entah spriritual, rohani dan karismatik. Sudah dikatakan bahwa kasih persaudaraan, sama seperti cinta-berahi, selalu timbal-balik, kalau tidak timbal-balik persaudaraan sudah mati. Sudah jelas bahwa di kalangan kaum religius yang membentuk sebuah persaudaraan rohani, kasih persaudaraan rohani, karismatik, wajar dan pada tempatnya. Hanya kasih itu meliputi semua saudara, sehingga tidak mendasarkan hubungan khusus, yang sedang dipersoalkan ini.

3. dasar cinta persahabatan: persamaan, kecocokan

Tetapi masih ada hubungan persahabatan yang berdasarkan cinta persahabatan. Hubungan itu dan cintanya, berdasarkan kecocokan wajar antara dua pribadi yang secara spontan dan alamiah sesuai satu sama lain. Cinta persahabatan tidak berdasarkan perbedaan (seperti cinta-berahi), melainkan justru kesamaan. Hanya bukan kesamaan asal-usul, malainkan kesamaan sifat, minat, cita-cita dan sifat-sifat, pendeknya kesamaan kepribadian kedua orang yang bersahabat. Dua sahabat saling mendukung, berjuang bersama-sama menuju ke tujuan yang sama, saling melengkapi kekurangan yang ada pada masing-masing sahabat. Perbedaan jenis kelamin dalam persahabatan secara langsung tidak berperan. Hanya secara tidak langsung turut berperan, sejauh yang satu, laki-laki atau perempuan, melengkapi kekurangan wajar alamiah yang ada pada yang lain, perempuan atau laki-laki.

Baik Kitab Suci maupun tradisi Kristen (misalnya Augustinus dan augustinisme) selalu menjunjung tinggi persahabatan, baik yang manusiawi belaka, maupun yaag bersifat religius dan rohani. Bin Sirakh mengangkat suatu. Lagu pujian atas persahabatan (Sir 6:15 dst; 27:16 dst). Bin Sirakh antara lain menegaskan bahwa persahabatan sejati merupakan sebuah mutiara yang tak terhitung nilainya, tetapi juga (6:5 dst) yakin bahwa persahabatan sejati langka dan sukar ditemukan diantara manusia.

Persahabatan rohani

Karena persahabatan sejati mesti dinilai tinggi, maka tidak ada alasan untuk menganggap persabatan kurang pada-tempatnya di kalangan kaum religius. Persahabatan itu bisa saja wajar, tetapi kalau sejati tidak dapat tidak persahabatan wajar manusiawi itu mendapat ciri rohani dalam rangka persaudaraan rohani. Hanya ada satu syarat yaitu: Persahabatan antara dua saudara rohani tidak boleh menjadi eksklusip, sehingga merusak persaudaraan. Bila dua sahabat itu menutup dirinya terhadap sesama saudara, terhadap komunitas, maka persahabatan itu tidak boleh dinilai sehat dalam persaudaraan religius. Bila dua orang selalu menyendiri, hanya merasa “happy” bila ada bersama, maka mungkin sekali persahabatan itu itu tidak berdasarkan cinta persahabatan melainkan cinta-berahi, sehingga menjadi homo- (atau hetero-) seksual.

Langka

Bila, menurut kesaksian dan pengalaman bin Sirakh persahabatan sejati langka, maka boleh dikatakan bahwa persahabatan rohani antara dua orang yang jenis-kelaminnya bebeda lebih langka lagi. Tidak terlalu cepat diandaikan saja ada sifat “rohani”, karismatik dalam persahabatan macam itu: antara laki-laki religius dengan seorang puteri atau wanita, khususnya janda, atau dengan seorang “suster” (yang tetap betina!) atau sebaliknya: persahabatan seorang suster dengan seorang pemuda, bapa, duda ataupun pastor, bruder dan sebagainya.

Janganlah orang terlalu cepat menilai dirinya sebagal seorang Fransiskus dan seorang Klara, yang bisa saja bersahabat, meskipun Fansiskus tidak pernah mau bertemu atau berbicara dengan Klara seorang diri. Sejak awal sampai akhir, hubungan mereka satu sama lain, yang hangat dan mesra, tetap benar-benar “rohani”, kalau pun dalam film dan roman suka diromantisir. Janganlah orang menganggap diri seorang Fransiskus dari Sales yang bersahabat dengan nyonya (kemudian rubiah) Marie de Chantal, Ignasius Loyola yang bersahabat dengan seorang barawati di Roma. Orang Suci tetap cukup langka dan lebih langka lagi sepasang orang suci. Orang lebih baik memperhatikan apa yang dikatakan si mistika fransiskan Angela de Foligno, yang mempunyai banyak sahabat rohani yang laki-laki. Dengan panjang lebar ia menguraikan tentang cinta persahabatan yang sangat membahayakan.

Penutup: Eros tak pernah mati

Janganlah orang lupa bahwa “eros”, cinta berahi tidak pernah mati dan setiap saat bisa bangkit kembali. Cinta berahi dengan berkedok “persahabatan rohani” atau “keprihatinan pastoral”. Sementara orang sendiri barangkali menilainya sebagai “persahabatan rohani”, eros sudah meyusup kedalam. Eros terlalu mudah menyusup dan apa yang mendorong bukan “philia” cinta persahabatan, atau keprihatinan pastoral, melainkan seksualitas si jantan yang berjumpa dengan si betina. Jangan terlupa bahwa misalnya dibelakang jubah perawan yang suci tetap tersembunyi betina, apa lagi jika si perawan bisa membuat “jubah pertobatan” sangat “sexy” dan provokatip merangsang. Jangan tertipu atau menipu dirinya sendiri. Perawan suci, khususnya yang muda, tidak kurang dari pemudi atau janda muda dengan kebetinaannya, mudah membangkitkan kejantanan. Lebih baik orang menjauhi mereka, meski mendekat sekalipun, seperti menjauhkan ular berbisa. Dalam tradisi fransiskan ditemukan sebuah pemeo yang dikatakan berasal dari Fransiskus yang berbunyi sebagai berikut: “Timeo, ne dum Deus nobis abstulerit uxores, Diabolus nobis procuraverit sorores”. Saya khawatir bahwa, sedang Allah mengambil dari kita isteri, si Iblis menyediakan suster bagi kita.