XV. Correptio Fraterna

Dilihat: 268 kali

Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru cukup sering disebutkan bahwa dalam persaudaraan Kristen para Saudara saling menasehati, saling menegur, saling memperbaiki. Bahkan sudah diperkembangan semacam prosedur yang perlu ditempuh. Prosedur itu disajikan Mat 18:15. dst dalam rangka suatu “tatatertib” menjemaat. Gagasan “saling menasehati” sebagai sesuatu yang wajar ditemukan pula misalnya dalam Flp 4:2-3; lTes 5:14; Ibr 3 13;10:24. Maksud dari “saling menasehati’/menegur/ mengajak” itu ialah: saling menolong untuk tetap setia, pada janji-janji baptisan.

Tradisi hidup membiara

Dalam tradisi hidup membiara tradisi jemaat awali itu tetap dipertahankan dan diteruskan. Para Yesuit muda (dahulu) secara sistematis “dilatih” dalam hal itu. Para novis secara teratur mesti saling menunjuk kesalahan dan kekurangan, cacat-cela dan keanehan yang mengganggu. Itu salah satu dari sekian banyak “latihan rohani” yang oleh para novis dijalankan. Entahlah sejauh mana “latihan sistematis” itu menghasilkan Yesuit yang rajin saling menegur, menasehati, mengritik dan sebagainya. Paling tidak terhadap orang luar para Yesuit jarang saling mengritik. Sebaliknya, apa yang sebenarnya buruk, kalau dilakukan seorang Yesuit, mati-matian dibenarkan oleh teman Yesuit, biar duduk perkaranya sedikit diputar-putar. Kita juga tahu bagaimana Fransiskus pun meneruskan tradisi kebiaraan itu dengan mengajak para saudara: sebagai berikut: Jika ada antara mereka, di mana pun juga, yang mau bertingkah-laku menurut daging dan tidak menurut roh, maka saudara-saudara lain yang tinggal bersama saudara itu harus memperingatkan, membina dan menegurnya dengan rendah hati. Bahkan para minister tidak terkecuali: Adapun semua saudara yang menjadi bawahan para minster-dan-hamba hendaknya menaruh perhatian pada apa yang diperbuat oleh minster-dan-hambanya secara wajar dan dengan saksama. Dan jika ternyata ada yang bertingkah-laku menurut daging dan tidak menurut roh searah dengan cara hidup kita, maka orang itu harus mereka peringatkan tiga kali (bdk AngTBul bab V). Dan hal-hal serupa ditemukan dalam semua tarekat kaum religius. Bahkan “saling menasehati/menegur” (dahulu) dilembagakan dalam apa yang diistilahkan sebagai “capittulum culparum”. Oleh karena lembaga itu sudah merosot menjadi formalisme belaka, akhir-akhir ini diganti dengan apa disitilahkan sebagai “revision de vie” atau “sidang (komunitas) pembabaruan”. Entahlah sejauh mana dipraktekkan.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi

Sebab saling menasehati, menegur, mengecam, tetap dilaksanakan.Adaberbagai syarat yang harus dipenuhi, kalau “pengamalan kasih” itu mau berhasil dan tidak menghasilkan yang terbalik dari pada apa yang dimaksudkan.

Pertama-tama: orang-orang yang bersangkutan mesti secara real terlibat dalam persaudaraan. Orang yang hanya secara statistik terdaftar jangan “menasehati” sesama saudara dan orang yang tidak terlibat dalam persaudaraan kiranya tidak terbuka untuk kritik dari pihak orang yang tidak dirasakan sebagai saudara. Orang yang “saling menasehati” mestilah orang yang saling percaya dan tidak menaruh rasa curiga atau syak-wasangka satu sama lain. Dan kepercayaan yang diandaikan tidak dapat dipaksakan, tetapi secara spontan mesti ada atau berkembang.

Kedua:Orang yang saling menasehati/menegur/kritik mestinya bertindak demi kepentingan saudara yang dinasehati, bukan dengan maksud (tersembunyi) membenarkan dirinya atau memaksakan diri kepada sesama saudara. Motif real mestinya kasih belaka. Jangan “nasehat/teguran” disertai amarah atau gusar – sebagaimana ditegaskan oleh Fransiskus, apa lagi kalau amarah dan gusar itu tercetus oleh karena orang merasa tersinggung atau sakit hati. Boleh jadi ada alasannya untuk naik pitam. Kalau demikian “nasehat/teguran” sebaik-baiknya ditunda dahulu sampai suasana reda dan tenang kembali.

Yang ketiga ialah: Tidak sembarangan orang bisa begitu saja menasehati/ menegur sembarangan orang. Hanya di mana ada saling percaya yang disebebut di atas nasehat/teguran boleh jadi berhasil. Kalau hubungan positip itu tidak ada hasil nasehat/teguran hanya negatip saja. Tentu saja lain halnya jika atasan sebagai atasan (bukan sebagai saudara) merasa wajib bertindak. Apa yang memimpin atasan sebagai atasan ialah kepentingan persaudaraan, bukan kepentingan masing-masing saudara secara perorangan.

Yang keempat: Jangan memberi nasehat dengan cara tergopoh-gopoh. Dahulu orang mesti memberi saudara yang bersangkutan kesempatan untuk sendiri menjadi insaf dan sadar. Jangan segera “menegur”.Ada orang yang selalu merasa dipanggil untuk “menasehati” setiap saudara pada setiap kesempatan. Itu berarti: Orang suka mencampuri urusan lain orang, dialami sebagai pengganggu dan “neasehatnya” ditertawakan saja.

Yang kelima ialah: Dasar untuk “menasehati/menegur sesama saudara hanya ada bila saudara itu secara terus-menerus menyeleweng dalam hal yang cukup penting, yaitu yang membahahayakan saudara itu sendiri atau pun seluruh persaudaraan Dan apa yang ditegur mesti benar-benar penyelewengan, bukan hanya lain dari saya atau yang saya cita-citakan. Bukan saya yang menjadi ukuran sesama saudara.

Akhirnya, keenam: orang yang diberi nasehat atau ditegur diharapkan cukup rendah hati untuk tahu akan keterbatasannya sendiri dan kemungkinan bahwa keliru atau pun salah. Selebihnya orang itu mesti sedikit terbuka, sehingga – paling tidak sesudah beberapa lamanya dan mawas diri sedikit, setelah reaksi emotional sudah mereda – sehingga mau menelan apa yang kurang enak bagi dirinya.

Karya penyelamatan

Saling mehasehati dan menegur menjadi karya penyelamatan. Yak 5:19 berkata sebagai berikut: Jika diantara kamu ada yang menyimpang dari kebenaran (=perilaku yang sesuai dengan iman) dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketatahuilah bahwa barang siapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa (=jati diri orang itu dari maut dan menutup banyak dosa sehingga tidak lagi dilihat Allah).

Dasar: saling bertanggung-jawab

Seluruh gagasan dan praksis “saling menasehati/menegur”, yang dianjurkan Perjanjian Baru dan diteruskan dalam tradisi kebiaraan berdasarkan keyakinan bahwa orang beriman bertanggungjawab yang satu terhadap yang lain. Orang bertanggung jawab atas keselamatan sesama saudara baik di dunia maupun di akhirat. Orang percaya tidak dapat acuh-tak-acuh terhadap nasib sesama saudara dalam iman bedasarkan kasih persaudaraan. Orang tidak dapat lepas tangan dengan berkata: Itu bukan urusan saya. Orang turut bertanggungjawab atas kepentingan sejati sesama saudara. Memang kepentingan sejati dan hanya kepentingan sejati melulu. Boleh jadi saudara itu sendiri tidak sadar akan apa kepentingannya sendiri, kepen­tingan yang sebenarnya. Kasih persaudaraan tidak menuntut, bahkan tidak mengizinkan setiap keingingan dan harapan sejati sesama saudara dilayani. Orang berhak untuk menilai mana kepentingan sejati sesama saudara, mana kepentingan gadungan yang dilihat saudara itu sebagai kepentingan sejati. Nasehat dan teguran antara lain bermaksud membuka mata sesama saudara terhadap apa yang sesungguhnya penting bagi diri saudara itu sendiri.

Bukan hal yang gampang

Sudah jelaslah kiranya bahwa praksis “saling menasehati” bukan hal yang gampang dan mudah. Seringkali dalam keadaan nyata orang didak bisa bertindak dengan harapan bahwa ada hasil positif. Tetapi orang yang benar prihatin terhadap keselamatan sesama saudara selalu dapat berbuat sesuatu, sebagaimana yang dikatakan lYoh 5:16: “Kalau ada seorang yang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut; tentang itu tidak kukatakan bahwa ia harus berdoa”. ”Dosa yang mendatangkan maut” kiranya murtad dari i­man, kepercayaan kepada Allah dan Kristus. Yesus pun dalam Yoh 17 tidak mendoakan “dunia”, yaitu mereka yang secara sadar dan mutlak menolak tawaran Allah. Hanya siapa berani mengatakan bahwa ada saudara yang melakukan dosa yang mendatangkan maut itu? Maka, bagaimana pun juga orang selalu dapat berdoa dan Allah akhirnya entah bagaimana akan memberi kehidupan sejati, keselamatan kepada sesama saudara.

Saling mendoakan

Orang kadang kala berkesan bahwa kita tidak banyak berdoa untuk semasa saudara, kecuali doa formal dalam misa, ofisi dan sebagainya. Orang pun berkesan bahwa kita kadang kala lebih merepotkan diri dengan keselamat­an orang yang berada di luar rangka persaudaraan religius/fransiskan dari pada dengan keselamatan sesama saudara. Namun kita membentuk persaudaraan karismatik dengan maksud saling menolong untuk menjadi selamat di dunia dan di akhirat.