XIX. Maria, Quae Es Virgo Ecclesia Facta

Dilihat: 293 kali

Abad XII-XIII Devosi Marial mulai marak

Pada abad XII-XIII, zaman Fransiskus, devosi marial mulai marak dan mulai menempuh masa jayanya, yang dalam Gereja Roma Katolik berlangsung sampai Konsili Vatikan II dan sana sini masih berlangsung terus. Pada abad XIII devosi marial belum sampai ke puncak dan masih mesti bersaing misalnya dengan devosi kepada Malaikat Agung Mikhael, yang tempat ziarahnya di Italia Selatan, Apullia atau devosi kepadaS. Martinusatau pun Jakobus yang tempat ziarahnya di Spanyol, Compostela. Dan di Asisi devosi kepada S. Maria masih terancam oleh devosi kepada pelindungkotaS. Rufinus. Promotor devosi marial yang berbobot dan luas pengaruhnya ialah Abas biara (sistersien) Clairvaux,S. Bernardus, doctor mellifluus, pada abad XII. Fransiskus seseorang dari rakyat “biasa” dan ia pun ikut dalam devosi rakyat kepadaS. Mikhaelmisalnya. Sebelum mendapat stigmata di gunung Alverna beliau mengadakan puasa selama 40 hari untuk menghormati baik S. Maria maupun S. Mikhael, seolah-olah sama kedudukannya dalam devosi beliau. Jadi devosi Fransiskus kepada S. Maria tidak boleh dikatakan amat mencolok atau luar biasa di zaman itu. Memang Fransiskus jatuh cinta kepada S. Maria degli Angeli di Porziunkula, tetapi disana pun Maria disamping para malaikat, yang – menurut Tomas Selano – kerap mengunjungi tempat itu dan menganugerah­kan macam-berkat (mukjizat).

Arti ‘devosi’

Adapun apa yang diistilahkan sebagai devosi (dari kata latin: devovere, mengharamkan sesuatu atau dirinya bagi seorang dewa atau Allah, membaktikan diri kepadanya) berarti: dalam penghayatan iman dan agama (Kristen) seseorang (atau pun tempat, bahkan barang) diikutsertakan dan diberi tempat. Orang bisa berdevosi khusus kepada Kristus Raja, luka-luka Kristus, salib Kristus dan sebagainya. Tetapi juga orang yang dianggap berdekatan dengan Allah dan Kristus dapat menjadi sasaran devosi, sehingga penghayatan relasi dengan Allah disalurkan melalui penghayatan relasi dengan “Orang Kudus”. Seharusnya manusia “kudus” itu tidak boleh dilepaskan dari Allah atau Kristus dan menjadi sasaran terakhir devosi. Kalau demikian tuduhan reformasi bahwa umat katolik menyembah berhala memang benar. Devosi Fransiskus, meskipun orang kerakyatan, ternyata cukup sehat, sehingga sasaran terakhir selalu Allah dan Kristus. Bisa dibaca misalnya daftar orang kudus yang diikutsertakan Fransiskus dalam doa syukur yang tercantum dalam AngTBul XIII. Mereka semua diminta untuk turut bersyukur kepada Allah, tidak menjadi sasaran syukur.

Devosi Fransiskus kepada Maria

Devosi Fransiskus kepada Maria (Yang dalam doa syukur tersebut disusul malaikat Mikhael, Rafael, Gabriel) menginspirasikan kepada Fransiskus dua doa. Yaitu Antifon untuk ofisi sengsara, susunan Fransikus, dan suatu sajak kecil yang memberi salam kepada Maria, yang dikagumi dan dipuji oleh karena Allah bertindak dalam Maria Ibu Yesus tidak menjadi mandiri dan yang akhirnya dikagumi ialah Allah Tritunggal.

Dalam sajak itu ada ucapan yang sedikit sulit dimengerti. Latinnya begini: Maria, quae es virgo ecclesia facta. Bagimana mesti dibaca dan diterjemahkan: Maria, yang menjadi perawan Gereja, atau: Maria yang adalah perawan yang menjadi Gereja. Selanjutnya masih ada soal apakah “ecclesia” menunjuk kepada gedung gereja atau kepada gereja Kristus sebagai realitas rohani? Bahwa Fransiskus berpikir kepada gedung Gereja bisa disarankan oleh apa yang selanjutnya dikatakan tentang Maria: Istana, kemah, rumah, pakaian. Seolah Fransiskus berpikir kepada Maria Yang mengandung Anak Allah, Yang Mahatinggi sendiri dan sama seperti gereja juga dikuduskan oleh Roh Kudus (yang disimbolkan oleh minyak konsekrasi gereja). Sedikit sukar memastikan bagaimana persis pikiran si pesajak, Fransiskus. Ataukah beliau memikirkan kedua Gereja itu serentak; gedung gereja sebagai simbol Gereja rohani?

Maria sebagai Gereja

Kami memilih tafsiran dan terjemahan yang disajikan dalam terjemahanIndonesia: Maria adalah Perawan yang dijadikan Gereja (Huruf besar). Gereja sendiri dalam tradisi juga kerap kali disebut “perawan” (tetapi juga pelacur) sejalan dengan Hawa sebelum berdosa yang juga dikatakan perawan dan kalau tidak berdosa bahkan tetap perawan.

Fransiskus dengan menyebut Maria sebagai Gereja kiranya terpengaruh oleh sebuah tradisi yang sudah lama ada, meskipun belum begitu jelas dirumuskan seperti terjadi dalam sajak Fransiskus. Tradisi itu suka memparallelkan Hawa dengan Maria seperti Adam dengan Kristus. Tetapi juga, Gereja diparallelkan dengan Hawa. Dari situ berkembanglah bahwa Maria diparallelkan dengan Gereja dan menjadi model Gereja, yang mendahului Gereja. “Model” tidak sama dengan “typos” dengan arti kata biasa, yaitu sebuah realitas yang pada tingkat lebih rendah mengantisipasikan, mempralambangkan apa yang pada tingat lebih tinggi menjadi terwujud. Seluruh typologi yang dipakai dalam tafsiran Kitab Suci berdasar typos dengan arti yang demikian. Model adalah sesuatu yang lain. Yang dimaksud sekarang ialah model yang diistilahkan sebagai “stufen-model”. Artinya: Realitas yang mau dibuat dengan ukuran besar (sebuah gedung misalnya) lebih dahulu dibuat dengan ukuran kecil, presis sama dengan yang besar hanya ukurannya berbeda. Begitulah Maria menjadi model, typos, Gereja Yesus Kristus. Gereja itu sudah menjadi terwujud dalam Maria, semua unsur yang menjadikan Gereja Kristus sudah berkarya dan efektip dalam ibu Yesus.

Dan yang dimaksudkan dengan Gereja sekarang bukan badan sosial de­ngan seluruh aparatnya: Hirarki, ibadat, sakramen. Apa yang dimaksud sekarang ialah misteri Gereja, karya penyelamatan Allah melalui Jesus Kristus yang berkat karunia iman menjadi terungkap dalam badan sosial Gereja. Nah, misteri Gereja itu pada tingkat pribadi (tetapi tentu dalam kaitannya dengan umat manusia seluruhnya) menjadi terungkap dalam Maria. Maria memang disebut penuh rahmat, artinya penuh dengan daya penyelamatan ilahi (Roh Kudus) tetapi juga terpuji (oleh Elisabet dalam Kitab Suci, oleh kitab Suci sendiri) sebagai orang yang beriman.

Apa yang, dari segi Gereja, membuat gereja sebagai organisasi, badan sosial, lembaga sosial-religius menjadi Gereja Kristus, menjadikannya “Gereja misteri”, tidak lain dan tidak bukan ialah: Iman, dengan arti sepenuhnya: menyerahkan diri, mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah sebagaimana menyata dalam Yesus Kristus. Karena iman itulah karya penyelamatan yang berlangsung di dunia menjadi nampak dan daya penyelamatan diberi wujud duniawi, manusiawi. Nah, pada Maria karya penyelamatan yang sama menjadi efektif, menjadikannya penuh rahmat dan ibu Yesus, Juru selamat semua, termasuk Maria. Dan itu terjadi oleh karena Maria berkata: Jadilah padaku menurut firman-Nya, yang denganya Maria mengungkapkan imannya kepada Allah yang menjanjikan Juru Selamat-Nya. Anak dari Yang Mahatinggi dan Anak Allah. Maria menyerah.

Maria: orang beriman yang selesai, sempurna

Maria adalah orang beriman penuh dan unggul, orang beriman yang selesai, yang karena imannya menampung seluruh daya penyelamatan Allah melalui Kristus di dalam dirinya dan karenanya Maria orang kudus yang unggul. Dan demi “persekutuan orang kudus” (=orang beriman) Maria menyangkut semua orang kudus yang lain. Selama hidup di dunia iman Maria sudah menyangkut semua, menguntungkan bagi semua, mengantisipasikan iman Gereja dan mewujudkannya demi semua.

Iman Maria tidak hanya “model” iman lain orang, tetapi juga “cermin”, teladan iman itu. Pada Maria terlihat apa itu “iman” dari sudut orang yang beriman dan cita-cita yang semakin dapat didekati, meski tidak tercapai seluruhnya sekali pun. Iman – subyektif – berarti: Merelakan diri seutuhnya kepada rencana Allah dan mengandalkan Allah sebagaimana adanya tanpa usaha “permak” Allah sedikit sehingga cocok dengan manusia. Dan itu pun dalam kegelapan dan kekaburan mengenai apa sebenarnya “rencana” Allah serta maksud-Nya. Dengan 1ain perkataan: Orang sebelumnya tidak tahu bagaimana nasibnya nanti di dunia ini. Dari hari ke sehari orang hidup dalam kepercayaan yang kabur, yang setiap hari mesti diwujudkan, diamalkan sesuai dengan situasi, yang langkah demi langkah menyingkapkan kehendak Allah.

Iman itu mengimplikasikan kesetiaan terus-menerus pada kehendak Allah, konkritnya: kesetiaan pada situasi yang tercipta oleh kehidupan nyata. Berarti antara lain kesetiaan pada tugas yang nyata seperti diserahkan kepada seseorang oleh kehidupan dan yang barangkali tidak sesuai dengan apa yang diinginkan dan direncanakan orang sendiri; kesetiaan pada kelompok, persaudaraan, tempat orang ditempatkan oleh kehidupan nyata; kesetiaan pada pelbagai kewajiban, besar kecil yang nyatanya dibebankan kepada orang. Meskipun orang tidak tahu dan tidak melihat kemana ia dibawa dan diantar dengan cara demikian, namun ia tetap mengandalkan Allah saja yang dengan cara yang serba kabur membimbing orang ke tujuannya. Maria memang juga tidak tahu sebelumnya mana implikasi dari keputusannya menerima apa yang ditawarkan kepadanya oleh Allah. Namun ia menyerah dan mempercayakan diri.

Devosi maria berarti: mengikutsertakan Maria dalam penghayatan imannya dan menghayati relasi dengan Maria sebagaimana adanya. Devosi itu berarti pula dengan satu dan lain cara mengekspresikan bahwa orang mengakui kedudukan dan peranan Maria yang unik dalam tata penyelamatan, sebagai ibu Juruselamat semua. Dalam tata penyelamatan nyata Yesus Kristus tidak ada tanpa Maria, sebagaimana seorang anak tidak ada tanpa ibunya. Dan karena imannya Maria menjadi ibu Yesus. Devosi marial berarti pula bahwa orang percaya bahwa Maria, entah bagaimana, dengan kedudukan dan peranan unggulnya menyertai orang yang beriman, seperti Maria dan itu pun berdasarkan persekutuan orang kudus. Devosi marial khususaya berarti: secara konkrit sedikit mendekati iman Maria dan caranya ia beriman; sepenuhnya mengintegrasikan diri kedalam rencana Allah yang langkah demi langkah tersingkap dalam hidup nyata. Setia pada kehidupan nyata sebagaimana diselenggarakan oleh Allah melalui, macam-macam faktor manusia, yang barangali tidak sesuai dengan kehendak Allah namun berperan dalam “rencana-Nya”.

Devosi Marial bukan salah satu devosi fakultatif

Pada zaman Fransiskus devosi marial mulai marak dan antara abad XIV dan XX mengalami masa jayanya. Fransiskus tidak mempunyai problema dengan devosi itu, tetapi dapat memadukannya dengan hidup rohaninya yang berpusatkan Allah dalam Kristus Yesus. Sesudah Konsili Vatikan II (dan untuk sebagiannya disebabkan oleh sikap dan perilaku sementara Bapa Konsili yang jelas tidak tahu mengintegrasikan devosi itu kedalam hidup rohaninya dan hidup menggerejanya) devosi marial mengalami kemerosotan yang cukup mencolok. Kalau hanya ekses dan keterlaluan dipotong, memang tidak mengapa, malah perlu, Tetapi devosi marial bukan sembarangan devosi, yang entah ada entah tidak ada, tidak membawa dampak bagi keutuhan penghayatan iman. Devosi marial bukan salah satu devosi fakultatif. Yang fakultatif hanya caranya devosi itu diekspresikan. Tetapi devosi itu sendiri mesti ada demi integritas iman Kristen. Dan sebabnya ialah: Maria nyatanya mempunyai kedudukan dan peranan unggul dan tunggal dalam tata penyelamatan. Kedudukan dan peranan itu mesti diakui dan dihayati oleh mereka yang percaya kepada Yesus Kristus, Anak Allah, tetapi juga anak Maria. Marialah tempat Allah berpijak pada umat manusia dan orang tidak boleh mengambil sikap acuh-tak-acuh terhadap tempat itu. Maria adalah model Gereja seluruhnya dan model iman semua orang beriman. Untuk menjadi orang beriman yang sejati orang perlu bercermin pada modelnya itu. Membuang model itu tidak menghina Maria, syukurlah ia terluput dari penghinaan dari pihak orang dungu, tetapi sa­ngat merugikan iman orang beriman, yang tidak bisa tahu lagi bagaimana benar-benar beriman.

S. Fransiskus pada abad XIII berkata: “Maria, yang adalah perawan yang dijadikan Gereja”, model Gereja dan model orang beriman, yang didalamnya terkandung semua kebajikan dan keutamaan lain, seperti terkandung dalam Gereja yang kudus dan beriman. Dengan demikian mariologi oleh Fransiskus diintegrasikan kedalam ekklesiologi. Gagasan itu diangkat kembali oleh konsili Vatikan II, Maria seolah-olah dikeluarkan dari Gereja yang hidup dan yang dia sendiri menjadi modelnya.