XIV. Dosa Dalam Hidup Si Religius

Dilihat: 350 kali

Misteri kasih Allah dan misteri kejahatan yang melingkupi si religius

Hidup manusia, hidup orang Kristen, hidup seorang religius/fransiskan diliputi misteri dua rangkap. Adamisteri rahmat Allah, kasih Allah yang menurut S. Paulusmencintai manusia selama masih dalam doa dan memusuhi Allah (Rm 5:8 10), misteri kasih Allah yang diluhurkan S. Yohanes. Tetapi juga ada misteri kejahatan, ”mysterium iniquitatis”. Nyatanya cita-cita luhur yang diwartakan, diinginkan dan diusahakan, tidak jadi terlaksana, tidak menjadi terwujud terbentur, pada “mysterium iniquitatis”, rahasia kejahatan. Dan boleh jadi bahwa semuanya terbalik. Sebab menurut pame Latin: “corruptio optimi, pessima” (korupsi dalam apa yang paling baik, menjadi korupsi yang paling buruk). Yang mau terbang sampai kelangit, berakhir dibawah bumi, di dalam “neraka”, api yang tak terpadamkan menurut Injil.

Si pornograf Roma Kuno, sastrawan dan pesajak, Ovidius (Metamorphosae, VII, 19-20) sudah mengalami misteri itu – sebagaimana juga dialami oleh S. Paulus – dan dengan bakat seninya Ovidius merumuskannya sebagai berikut:

Sed gavat in vitam nova vis,
Aliudque cupido,
mens aliud suadet.
Video meliora, proboque,
deteriora sequor.

Artinya:

Tetapi kehidupan diberati kuasa gaib
Saya menghasratkan yang satu
pada hal budi menyarankan yang lain
Saya melihat apa yang baik dan aku pun memujinya
namun yang jeleklah yang saya turuti.

Pengalaman si kafir disetujui seorang Kristen yang unggul, yang namanya sudah disebut S. Paulus. Ia pun mengatakan (Rm 7:10): Bukan apa yang kukehandaki, yakni yang baik, aku perbuat, melainkan apa yang tidak kukehendaki, yaitu yang jahat, aku perbuat.

Di antara “orang kudus” Perjanjian Baru

Orang Kristen dalam Perjanjian Baru biasa disebut “orang kudus”, berarti: Orang yang dikuduskan oleh Allah, disendirikan untuk menjadi peserta dalam kekudusan Allah sendiri, milik Allah yang kudus. Kekudusan itu suatu keadaan obyektip yang dikerjakan Allah, bukan manusia. Tetapi keadaan obyektip itu mesti terwujud melalui pelaksanaan diri yang dikuduskan dalam kesucian moral, etis. Dan di situ manusia turut berperan. Maka urutannya ialah: Allah dahulu, manusia kemudian.

Maka dosa yang nyatanya terjadi diantara orang-orang kudus pun menjadi soal dan problema yang terus digumuli umat yang kudus sepanjang sejarah, mulai dengan Perjanjian Baru, khususnya 1Yoh, dalam montanisme (abad II/III), poenitentia publica, poenitentia privata, sakramen tobat yang dalam bentuk tradisional mengalami sebuah krisis yang parah dewasa ini, kendati synode uskup yang membahas malasalah itu (1984) tetapi yang hasilnya masih juga dinantikan.

“Misterium iniquitatis”, rahasia dosa tidak hanya dalam lingkungan tradisi Kristen digumuli, tetapi masalah yang sama digumuli oleh Hiduisme dan Buddhisme. Misteri itu tersembunyi dalam ajaran kedua tradisi religius itu mengenai “karma”, kaitan yang tak terelakkan antara perbuatan baik/jahat serta akibatnya (samsara), yang didalamnya manusia terjerat dengan tidak ada jalan keluar kecuali menghentikan keberadaannya dalam nirwana, sehingga lingkaran setan didobrak.

Vita consecrata

Hidup religius disebutkan sebagai “vita consecrata”.gayahidup yang dikuduskan, sebagai saluran khusus, terperinci guna mewujudkan “cosecratio”, pengudusan, yang terkandung dalam baptisan. Hidup religius, profesi dan “consecratio” religius berurat berakar, dalam baptisan, tegasnya dalam apa yang terungkap dalam sakramen itu menjadi suatu pengudusan total, menyeluruh, secara eksklusip menjadi milik kudus Allah yang kudus semata-mata, Allah satu-satunya penentu kehidupan. Dari situ berpancarlah kesucian moral khusus yang tetap diharapkan dari kaum religius, kesempurnaan kasih yang mempunyai ciri khas (eksklusif) di dunia sementara ini. Pengudusan religius mengintensifkan kekudusan dan kesucian moral/etis umum dan tidak mendispensaikan dari pengudusan dan kesucian moral umum kristen itu. Askese dan ulah tapa dalam hidup religius berperan sebagai sarana kesucian moral yang diintsensifkan itu.

Dosa berlawanan dengan kekudusan Kristen, apa lagi dengan kekudusan religius, namun terus terjadi juga di kalangan kaum religius. Dosa memang tidak masuk akal, sebagaimana dikatahan Yer 2:32: “Dapatkah seorang dara melupakan perhiasannya atau seorang pengantin perempuan melupakan ikat pinggangnya? Tetapi umat-Ku melupakan Aku sejak waktu yang tidak berbilang lamanya” dan bahkan berlawanan dengan kodrat: “Bahkan burung ranggung di udara mengetahui musimnya, burung tekukur dan burung layang-layang dan burung bangau, tetapi umat-Ku tidak mengetahui hukum Tuhan” (Yer 8:7). “Masakan salju putih akan beralih dari gunung Siryon? masakan air gunung habis, air yang sejuk dan mengalir? Tetapi umat-Ku telah melupakan Aku …telah mengambil jalan simpangan, yakni jalan yang tidak diratakan” (Yer 18:14-15). Namun dosa bisa menjadi seolah-olah kodrat kedua (Yer 13:23).

Hidup religius sebagai “conversio” secara historis berkembang antara lain sebagai reaksi dan protes terhadap dosa yang terjadi diantara “para kudus” (orang-orang Kristen), tetapi hidup religius sendiri pun diracuni oleh dosa.

Apa itu “dosa”?

Apa itu “dosa”, misteri kejahatan yang meracuni eksistensi manusia dan kaum religius?

Dosa pribadi (lain dari “dosa asal”, yang merupakan keterasingan dasariah manusia dari Allah) seolah-olah menghidupkan kembali dosa asal melalui perbuatan lahir-batin pribadi. Injil (Mrk 7:14-15, 20-23) menekankan segi batiniah. Yang lahiriah memanifestasikan segi (sikap) batin, sikap “hati”, inti terdalam manusia.

Dosa yang sebenarnya pertama-tama bersifat religius, menyangkut relasi manusia dengan Allah. Dengan dosanya atau secara total manusia menolak Allah yang secara efektif mencintai – jadi tidak: Menolak Allah begitu saja – (bdk Mi 6:3 dst), atau tidak secara bulat dalam batas kemungkinan menanggapi kasih Allah. Tradisi katolik – berbeda dengan tradisi reformasi – secara tegas suka membedakan antara “dosa berat” dan “dosa ringan” (mortale, veniale). Sebenarnya hampir saja tidak ada perbuatan manusia sebagai manusia yang tidak berdimensi “dosa” (simul iustus et peccator). Cukuplah orang ingat akan para kudus, mistisi seperti Fransiskus, yang secara langsung mengalami (tidak hanya tahu, seperti kebanyakan orang Kristen) apa itu “dosa”, lalu merasakan diri “orang berdosa”, bukan pertama-tama karena salah satu perbutan konkret, melainkan karena mengalami dalam dirinya suatu ketidaksesuaian dasar antara dirinya dan Allah Yang kudus dan mencintai mereka.

Dosa “teologis” tersebut tidaklah sama dengan “dosa sosial”, berarti: gangguan dalam atau pun retaknya relasi antara manusia di dimensi mendatar dan itu pun secara lahiriah: tidak menuruti aturan permainan seperti ditentukan masyarakat/adat. Bahkan dosa teologis tidaklah sama dengan dosa moral (yang menekankan segi batiniah, tanggungjawab manusia). Sebab dosa moral/etis pun pada dirinya terletak di dimensi mendatar, relasi antara manusia, yang didukung Allah, sehingga hanya secara tak langsung menyangkut relasi dengan Allah.

Namun demikian “dosa teologis” tersebut selalu mempunyai dimensi sosial, menggagu relasi dengan sesama manusia, bahkan sesama makhluk, relasi yang sebenarnya ada. Dan sebaliknya juga:dosa sosial (asal tidak la­hiriah belaka) dan dosa moral dan dosa “kosmis” (berarti: mengganggu relasi antara manusia dan relasi manusia dengan alam-dunia) selalu berdimensi teologis/religius. Sebab relasi dengan Allah (yang terganggu oleh dosa teologis) bukan salah satu relasi disamping relasi dengan sesama manusia dan dengan alam dunia, tetapi melandaskan semua relasi lain dan merupakah suatu dimensi pada relasi-relasi lain itu. Perbedaan antara “profan” dan “sakral” dalam pendekatan Kristen sebenarnya tidak ada, meskipun manusia (religius) selalu condong membuat perbedaan semacam itu sehingga memisahkan etik diri teligi. Gejala itu cukup tersebar luas di kalangan umat Katolik dan kaum religius.

Dimensi religius/teologis yang mendasar itu berlandaskan Yesus Kristus, Allah-manusia, tempat Allah dan dunia bergabung menjadi satu wujud kasih Allah Yang menjalin relasi dengan manusia dan melalui manusia de­ngan dunia semesta, sebuah relasi atau dimensi yang melampaui relasi Penciptaa – ciptaan-Nya (berbeda, terpisah).

Adapun dimensi teologis-kristologis yang ada pada dosa tampak dalam Gereja, umat beriman sebagai “sakramen penyelamatan”. Dan itulah sebabnya mengapa “dosa” (religius-sosial-kosmis) di dalam rangka sakramen penyelamatan itu tidak dapat tidak mendapat dimensi gerejani, berlawanan dengan dan merusak kekudusannya. Dosa anggota Gereja melawan Allah dan manusia serta dunia, selalu berlawanan dengan Gereja yang kudus dan sejauh Gereja itu kudus. Dalam rangka tanda penyelamatan sebagai tanda penyelamatan (lain halnya dengan gereja sebagai badan sosial) tidak ada tempat bagi tindakan lahir-batin yang menolak atau tidak sepenuhnya menanggapi penyelamatan yang ditawarkan kasih Allah.

Dimensi pengampunan

Dimensi gerejani pada dosa menjadi landasan bagi dimensi gerejani pada pengampunan dosa dari Allah. Justru dimensi pada dosa dan pengampun­annya menjadi dasar bagi dimensi gerejani pada pertobatan pertama (bap­tisan) maupun pada pertobatan selanjutnya (sakramen tobat). Relasi antara Allah dan anggota “sakramen penyelamatan” yang rusak tidak dapat pulih lepas dari relasi dengan manusia dalam Gereja. Dan dimana relasi dengan Allah dan Kristus terganggu dan kendur (dosa ringan), disanawajar dan sesuai bahwa relasi itu diluruskan dan dihidupkan serta dilancarkan kembali dengan, dalam sakramen Gereja, meluruskan relasi dengan manusia di dalam Gereja itu.

Jika kita sendiri dalam diri kita mengalami paradoks yang dialami Ovidius dan dialami Paulus dan yang digumuli umat Kristen awali, maka baiklah kita ingat juga akan lYoh 3:19-20 yang menandaskan: “Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita dihadapan Allah, sebab jika kita dituduh oleh hati kita, Allah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu”.