XIII. Karisma Dasar Yang Sama – Karunia-Karunia Pribadi Yang Berbeda

Dilihat: 293 kali

Persaudaraan Kristen

Persaudaraan Kristen pada umumnya dan persaudaraan religius khususnya tidak berarti:memukul ratakan segala sesuatu. Suratkepada jemaat di Roma (12:3-8) menguraikan bahwa semua anggota jemaat mendapat karunia beriman yang sama, sehingga mereka menjadi satu tubuh Kristus, Tetapi serentak mereka mempunyai karunia-karunia khusus, pribadi yang berlain-lainan, yang semua diukur, dinilai menurut ukuran iman ber-sama. Kousekuensi praktis untuk hidup menjemaat diuraikan dalam Rm 14:1-10. Dalam rangka karunia bersama, iman orang mesti tersedia menerima karunia-karunia pribadi yang berbeda. Baiklah diingat bahwa “karunia-karu­nia” (Roh Kusdus, karisma) biasanya bukan sebuah keajaiban, melainkan bakat-bakat wajar, normal dan para-normal, yang dalam orang beriman (dapat) dipergunakan Roh Kudus untuk membina jemaat atau bakal jemaat. Maka apakah bakat itu sebuah karisma atau tidak ditentukan oleh iman yang menjadi dasar dan kerangka berfungsinya karisma itu.

Persaudaraan Religius, Persaudaraan “Karismatik”

Apa yang berlaku bagi persaudaraan Kristen pada umumnya, diperincikan lebih lanjut dalam persaudaraan religius, persaudaraan “karismatik”. Bila orang melalui proses pematangan secara definitif memilih hidup religius sebagai wujud kekistenan pribadinya, ia memilih perincian karisma kaum religius, sebagaimana ditentukan oleh salah satu spiritualitas khusus dalam rangka sipritualitas Kristen. Itu berarti bahwa orang menggabungkan diri dengan kelompok tertentu, ordo, kongregasi, tarekat itu atau ini. Maka mesti diandaikan bahwa orang yang bersangkutan menjadi peserta dalam karisma dasar hidup religius dan karisma dasar kelompok yang dengannya ia menggabungkan diri. Bila seorang misalnya masuk Fransiskan, maka diandaikan ia menjadi peserta dalam karisma hidup bakti religius, dan peserta dalam karisma khas fransiskan (dalam salah satu variannya OFM, OFMCap, OFMconv, TOF). Mesti diketahui, bahwa karisma dasar kelompok tertentu tidak terletak dalam karya yang (kebetulan) ditangani oleh kelompok itu. Bila orang memilih kelompok tertentu, tentu saja diandaikan orang yang bersangkutan secukupnya tahu mana kemungkinan yang tersedia dalam rangka Gereja Roma Katolik (Latin, Timur). Kalau tidak, orang tidak dapat memilih wujud konkrit hidup religius, yang pada dirinya – seperti sudah direnungkan – sebuah abstraksi yang tidak ditemukan dalam realitas. Maka orang tidak dapat memilih “masuk religius, masuk suster, bruder atau pater” saja. Ia mesti memilih mau apa presis sebagai jalan hidup pribadi.

Karisma Bersama, Karisma Dasar Persaudaraan Religius

Karisma bersama itulah yang menjadi dasar persaudaraan religius konkret ini atau itu. Kalau tidak ada, orang – secara bertanggung-jawab – tidak dapat/boleh menggabungkan diri dengan kelompok tertentu. Tentu saja mungkin sejak awal orang keliru. Sebenarnya ia tidak mendapat karisma itu, tetapi menyangka bahwa mendapat. Tetapi kekeliruan semacam itu, kekeliruan dasar, tidak boleh begitu saja diandaikan, mengingat bahwa “panggilan” dimatangkan melalui sebuah proses cukup lama dan digembleng secara khusus selama novisiat. Hanya bila orang sama sekali tidak tahu bahwa ada pelbagai karisma dasar hidup religius, kekeliruan itu mudah diterima. Tetapi umumnya adanya kekeliruan awal semacam itu mestinya dibuktikan. Kita tahu bahwa Gereja Roma dewasa ini agak gampang memberi “dispensasi” dari profesi definitip, mungkin terlalu gampang. Orang mau tidak mau berkesan bahwa profesi itu tidak diambil serius, sebagaimana diambil serius oleh Fransikus misalnya yang menetapkan bahwa setelah orang “di-terima dalam ketaatan” tidak boleh lagi keluar dari Ordo. Fransiskus tidak senang dengan “monachi vagantes”, yang tidak stabil dan mudah mengubah haluan hidup.

Karisma Pribadi

Tetapi disamping dasar yang sama ada karunia pribadi masing-masing orang. Hanya karunia pribadi selalu mesti difungsionalisasikan dalam rangka karisma bersama, konkretnya dalam rangka persaudaraan. Nyatanya tidak jarang karunia pribadi dirasakan sebagai penggangu persaudaraan. Setiap kelompok sosia, khususnya kelompok tradisional, sangat cenderung memukul ratakan semua. “Rahib yang sama dan kap yang sama”, seperti dahulu dikatakan. Kolompok tidak mentoleransi dan menerima bahwa ada orang yang menonjol, yang “melebihi yan lain”. Semua saudara seharga dan senilai, lalu diambil kesimpulan keliru: semua mesti sama saja.Ada“iri hati” khusus, yang diistilahkan sebagai “zelotopia”. Semua mau bersemangat berapi-api, lalu sukar menerima bahwa yang satu lebih bersemangat, lebih berhasil, lebih suci, lebih pintar, lebih populer dari dirinya sendiri. Boleh dikatakan bahwa “zelotopia” itu kerap kali merancuni persaudaraan religius.

Namun justru demi persaudaraan dalam Roh Kudus, persaudaraan karismatik, karunia pribadi masing-masing saudara mesti diterima, asal tetap berfungsi dalam rangka karisma bersama. Jemaat di Korintus diracuni oleh “zelotopia”, yang memperlawankan Apollos dengan Paulus (1:12 dst). Tetapi Paulus tersedia menerima Apollos sebagaimana adanya, tersedia menerima bahwa dalam rangka iman dan karunia kerasulan bersama, Apollos menempuh jalannya sendiri, tidak menyesuaikan diri dengan karisma pribadi Paulus. Katanya (lKor 16:12) tentang saudara Apollos: “Telah berulang-ulang aku mendesaknya untuk bersama dengan saudara-saudara lain me­ngunjungi kamu, tetapi ia sama sekali tidak mau datang sekarang. Kalau ada kesempatan baik, nanti ia akan datang”.

Kita juga tahu bahwa di satu pihak Fransiskus tidak mentoleransi saudara yang berkeliaran di luar ketaatan, berarti di luar persaudaraannya, di luar karisma bersama. Tetapi lain fihak Fransiskus menegaskan bahwa setiap saudara mestinya ingin memiliki Roh Tuhan dan kerjanya yang kudus. Dalam rangka persaudaraan Roh Kudus serta karunia-Nya yang bermacam-macam mesti diberi peluang yang seluas-luasnya. Fransiskus tidak menyetujui pameo bahwa semua rahib mesti sama kapnya.

Maka dalam rangka persaudaraan religius (fransiskan khususnya), yang bukan sebuah “tentara”, sebuah “militia Christi” dengan “disiplin ketat” dan pakaian serta perilaku yang seragam, mesti diterima bahwa ada perbedaan antara saudara yang satu dengan yang lain. Mesti diterima adanya perbedaan pada tingkat karisma bersama. Yang satu seorang religius/fransiskan yang lebih baik dari pada yang lain dan yang lain lebih suci dari pada yang satu. Dalam hal konkret pandangan mengenai karisma bersama boleh saja berbeda dan perbedaan itu mesti diterima. Maka apa yang diistilahkan sebagai “dialog” antara anggota-anggota kelompok perlu guna mencari apa yang secara real mungkin daam kelompopk konkret, meng­ingat orang yang ada. Cita-cita tetap ditawarkan, tetapi perwujudannya tidak dapat dipaksakan.

Karisma pribadi: yang ‘biasa’ dan yang ‘luar biasa’

Selanjutnya ada perbedaan dalam karisma pribadi. Adayang “biasa” dan ada “yang luar biasa” (Vatikan II). Biasanya perbedaan “karisma” sebenarnya perbedaan bakat dan kemampuan dengan segala implikasinya, termasuk dampak sosialnya. Semua saudara mesti menerima, menghargai semua bakat yang dikurniakan Tuhan yang dalam rangka karisma dasar menjadi karisma pribadi masing-masing orang. Jika ada saudara yang mendapat bakat para-normal, dalam rangka karisma dasar itu pun menjadi karunia Roh Kudus Yang diberi peluang seperlunya. Iri-hati, zelotopia menjadi tanda bahwa orang merasa “minder” dan rasa minder sebenarnya kesombongan belaka. Bukan “iri hati” dan kesombongan, jika karisma saudara yang satu, yang diperkembangkan dan dimanfaatkan mendorong saudara yang lain untuk juga menemukan, mengembangkan dan memanfaatkan karisma pribadinya. Itu namanya “mengikuti teladan”.

Maka perlu sekali setiap orang mengenal karismanya sendiri (kiranya tidak ada seseorang yang tidak dikurniai dengan salah satu bakat khusus). Boleh jadi orang mesti cukup lama mencari dan mencoba, sebelum benar-benar menemukan karismanya sendiri. Tetapi serentak sangat perlu orang me­ngenal keterbatasanya. Janganlah terjadi orang mencita-citakan sesuatu yang melampaui bakat dan kemampunnya,misalnya: menjadi sarjana atau pun imam, pada hal bakatnya sangat praktis sehingga mesti menjadi tukang kayu atau tukang kebon misalnya. Paulus (Rm 12:3) sudah menegaskan: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikurniakan Allah kepada kamu masing-masing. Mengejar sesuatu yang melampaui kemampuan, bakat seseorang, menjadi frustrasi belaka dan apa yang ada tidak ditemukan, dan tidak diperkembangkan dan tidak dimanfaatkan untuk membinma iman dan persaudaraan. Janganlah seorang yang berbakat teknis mau menjadi filsuf atau teolog. Jika orang memaksa diri ataupun dipaksa lain orang, bakat, karisma pribadi tidak berkembang dan apa yang diusahakan, diusahakan dengan percuma dan tidak berhasil.

Jadi hendaklah setiap saudara religius mengenal baik karisma pribadinya maupun keterbatasannya.