XII. Sebentar Saya Menetap, Lalu Keluar Dari Dunia

Dilihat: 302 kali

“Fuga mundi”: dasar tradisional hidup pertapaan dan kerahiban

Apa yang disebutkan sebagai “fuga mundi” (lari dari dunia) menjadi gagas­an dasar dalam tradisi pertapaan dan kerahiban. Konsili Vatikan II dan Kitab Hukum Kanonik terbaru masih juga meneruskan tradisi itu. Sebagai ciri dasar pada hidup religius, hidup membiara, disebutkan “separatio mundi” menjauhkan diri dari dunia. “Berpisah dengan dunia” itu nyatanya ada pelbagai bentuk dan kemungkinannya, dari secara lokal lari ke gurun atau gunung sampai dengan berupa komunitas tinggal di rumah ditengah dunia ramai. Bagaima Fransiskus dengan pengikutnya mempertahankan dan mewujudkan unsur yang amat tradisional itu?

Pada Fransiskus

Pada awal Wasiatnya Fransiskus merenungkan awal hidupnya dalam pertobatan. Proses pertobatan diringkas dan ditutup dengan penegasan dalam bahasa Latin: Et parum steti et exivi de saeculo”. Sebentar saya menetap (sebagai pertapa, oblatus?), lalu keluar dari dunia. Ungkapan “exire de saeculo” pada abad XIII sudah lazim dan biasanya berarti: Masuk biara (rahib, kanunik). Tetapi Fransiskus jelas mengerti ungkapan itu secara lain sedikit. Sebab nyatanya Fransiskus tidak masuk biara, ia malah meninggalkan “statusnya” (dalam Gereja) sebagai “pertapa/oblatus” resmi pada gereja S. Damianus. Maka perlu ditanyakan bagaimana Fransiskus (dalam praktek, sebab ia bukan seorang teoretikus) memahami ungkapan tradisional itu.

Kata “dunia” dalam bahasa Indonesia cukup luas wilayah artinya, sama seperti kata latin “saeculum”. Kata itu dapat berarti “dunia” sementara dan fana, lalu orang “meninggal dunia”. “Dunia” dapat berarti (dalam tradisi kristen) apa yang jahat dan buruk, profan dan materialis belaka. Maka muncul “orang duniawi”, “keinginan duniawi”. Kata “dunia” (saeculum) dapat juga berarti: masyarakat umum, dunia ramai. Dengan arti sedemikian kata itu dipahami bila dikatakan bahwa para pertapa dan rahib meninggalkan dunia dengan lari ke gurun atau gunung serta hutan. Dengan “masuk biara” orang masuk sebuah dunia khusus, tersendiri lepas dari dunia ramai, masyarakat. Tetapi kata “dunia” dapat berarti: nilai-nilai, kepentingan, kedudukan dan peranan yang diusahakan, dikejar, direbut dan dipertahankan manusia, secara perorangan dan dalam kebersamaan.

Meninggalkan dunia profan

Fransiskus tidak masuk biara, tetapi tetap hadir dan berkeliling di dunia ramai, masyarakat di zamannya. Kendati demikian Fransiskus yakin bahwa meninggalkan dunia, tidak hanya masyarakat sejauh buruk dan jahat, tetapi juga apa yang pada dirinya baik. Sebab selanjutnya Fransiskus, sambil berada ditengah-tengah masyarakat, tidak lagi diatur oleh prinsip, nilai dan kepentingan yang lazimnya menentukan dan mengatur masyarakat, yaitu: relasi dengan famili dan kaum kerabat; Fransiskus memang memutuskan hubungan dengan sanak-saudara dan teman-temannya dahulu; kepenting­an ekonomis; Fransikus menjual miliknya, meninggalkan warisan dan dunia perdagangan dan memilih kemiskinan real, sosio-material; kedudukan sosial, menjadi anggota kelompok tertentu dalam masyarakat dengan pe­ranan dan kedudukan khusus, kuasa dan pengaruh dalam masyarakat: Fransiskus menjadi “orang pinggiran”, pengemis dan gelandangan di jalan, tanpa kedudukan kuasa, pengaruh atau gengsi dalam masyarakat. Pokoknya Fransiskus meninggalkan segala prinsip dan nilai yang menentukan masyarakat manusia.

Meninggalkan dunia ‘gerejawi’

Termasuk ke dalam “dunia” yang ditinggalkan Fransiskus ialah masyarakat gerejani di zamannya. Juga dalam masyarakat gerejani Fransiskus mau menjadi “orang pinggiran”, bawahan dan pelayan semua, tanpa peranan kedudukan serta pengaruh khusus. Tidak mau menjadi “rahib”, tidak menjadi “rohaniwan” (meskipun diberi tonsura klerikal oleh P. Inosentius III), tidak menjadi pertapa/oblatus: Ia lepas dari nilai dan prinsip yang nyatanya mengatur masyarakat gerejani pada abad XIII.

Gereja di masa itu dan sekarang memang sebuah masyarakat, lembaga, yang mempunyai struktur yang mirip dengan struktur masyarakat pada umumnya. Gereja nampak sebagai lembaga Feodal dengan struktur dan jenjang kuasa yang jelas: Paus, primat, metropolit, uskup, pastor, rohaniwan. Masyarakat yang terdiri atas tiga “klas”, yaitu: Para rohaniwan, semacam bangsawan rohani, yang mempunyai segala hak dan kuasa; para rahib/rubiah yang bertugas “berdoa dan beribadat”; para awam yang hanya perlu bekerja dengan rajin, boleh membangun keluarga untuk menjamin penerusan umat manusia dan terutama “Gereja” dan membayar pajak serta memberi sumbangan untuk menghidupi para rohaniwan. Tetapi mereka tidak berkuasa dan tidak bersuara. Sayanglah bahwa sampai sekarang halnya dalam Gereja Roma Katolik belum banyak berubah dan struktur sosialnya malah diperketat.

Nah “dunia gerejani” itu pun ditinggalkan Fransiskus. Secara real ia tidak menjadi rohaniwan, rahib dan pun pula tidak menjadi “awam” seperti yang lain. Fransikus tidak cocok dengan dunia gerejani dan tidak cocok dengan dunia profan, entah fedoal entah borjuis. Satu-satunya prinsip, asas tunggal kehidupannya ialah Injil Tuhan kita Yeaus Kristus sebagaima ia memahaminya.

Terbawa oleh Injil, Fransiskus meninggalkan masyarakat buatan manusia dan dengan demikian menjadi pengikut Yesus. Apa yang diwartakan dan diwujudkan Yesus dalam hidup-Nya ialah Kerajaan Allah. Dan Kerajaan itu bukan ciptaan manusia, tidak berwujud masyarakat buatan manusia. Sebab Kerajaan Allah tidak lain dan tidak bukan ialah Allah dan apa yang langsung diciptakan Allah yang meraja. Dan ciptaan Allah (oleh karena ciptaan Allah) bukan buatan manusia dan akhirnya akan menghancurkan apa yang dibuat manusia, termasuk Gereja sejauh Gereja buatan manusia, lembaga ciptaan orang, meski orang beriman sekali pun. Semuanya ditinggalkan Yesus, yang dalam masyarakat-Nya menjadi orang pinggiran, ditinggalkan Fransiskus justru oleh karena hanya mau diperintah, dirajai oleh Allah semata-mata dan menunggu apa yang diciptakan Allah. Fransiskus memang dengan jujur menghormati lembaga Gereja, mentaatinya tapi hanya oleh karena melalui lembaga buatan manusia, Allah dapat merajai dan memerintah melalui Injil. Adegan tentang Fransiskus yang mendengar Injil pengu­tusan dibacakan, cukup menarik dan relevan. Frangiskus merasa dirinya langsung disapa oleh Yesus sendiri, dipanggil. Namun ia minta keterangan dari pihak imam yang membuat misa itu. Apa sebabnya? Melalui lembaga Gereja (yang mempunyai pegawainya) Injil, suara Yesus sampai kepada Fransiskus. Ia tidak mentaati imam itu, melainkan hanyalah Yesus yang memanggil.

Para pengikut Fransiskus

Fransiskus mendapat pengikut. Ia pun mengharapkan mereka juga dengan cara yang sama meninggalkan dunia, kedudukan sosio-ekonomis dalam masyarakat feodal dan borjuis dan masyarakat Gerejani. Seorang rohaniwan/imam yang bergabung dengan Fransiskus tidak dapat, terus menjadi pastor atau kanunik atau memegang kedudukan mana saja dalam lembaga Gereja.

Dengan demikian sekitar Fransiskus berkembanglah sebuah kelompok, ordo fransiskan, suatu persaudaraan, paguyuban, yang ditengah masyarakat, baik sipil maupun gerejani, meninggalkan dunia dan masuk suatu dunia baru, masyarakat lain tempat hanya Injil Tuhan kita Yesus Kristus, Injil Kerajaan dan pertobatan, menjadi penentu dan nilai pengatur. Kelompok itu tidak mengenal perbedaan klas dan gologan. Fransiskus menerima segala macam orang: bangsawan, petani, tukang, rohaniwan dan awam, orang terpelajar dan buta huruf. Mereka semua “saudara” saja. Tidak ada atasan dan tidak ada bawahan, hanya ada pelayan yang saling mentaati dan saling melayani. Tidak ada rumah tetap dan tidak ada jaminan untuk masa depan berupa milik. Dengan bekerja mereka mencari nafkah atau pun mengemis saja. Dan selalu sebagai saksi atas suara Anak Allah dengan perkataan dan perbuatan, seluruh keberadaannya sambil merenungkan dan menkontemplasikan Yesus Kristus yang tersalib, satu-satunya pola hidup dan model mereka. Sungguh suatu dunia baru, suatu dunia. lain di dalam dunia lama, termasuk dunia lama Gereja feodal dan berkuasa serta bergengsi.

Ketegangan yang ditimbulkan Fransiskus dan saudara-saudaranya

Antara dunia baru ciptaan Injil melalui Fransikus dan dunia lama, masyarakat sipil dan gerejani, tidak dapat tidak ada ketegangan. Meskipun Fransiskus serta pengikut-pengikutnya tidak ingin melontarkan “kritik masyarakat”, namun dunia baru yang ditempuh kelompok Fransiskus merupakan tantangan bagi masyarakat. Sebab masyaarakat itu dikonfrontasikan dengan suatu cara hidup yang dapat tampil dimana saja pesan Yesus Kristus secara serius dihayati, paling tidak secara serius ingin dihayati. Maka tidak mengherankan bahwa kelompok Fransiskus, Ordo fransiskan terus-mene­rus mengalami tekanan dari pihak dunia lama, masyarakat, baik sipil maupun gerejani. Tekanan untuk menyesuaikan diri kembali dengan masyarakat umum itu, kembali menerima nillai-nilai – ekonomis, sosial, politik – yang menjadi penentu masyarakat itu serta pengaturnya. Di zaman Fransiskus dan selanjutnya itu berarti: kembali menyesuikan diri dengan tatanan feodal, borjuis kapitalis dan neo-kapitalis. Ikut-serta dalam lembaga-lembaga masyarak itu dan bagi dirinya pun mengadopsi struktur feodal dan borjuis itu.

Dan mesti diakui bahwa agak segera dan terlalu sering “dunia lama” berhasil memaksakan diri kepada dunia baru yang ingin diwujudkan Fransiskus dan ordonya. Ordo fransiskan yang di luar masyarakat tampil sebagai sebuah utopia (=ou topos = tidak bertempat) dijinakkan dan diserap oleh dunia lama, khususnya dunia lama gerejani, sebua lembaga feodal, borjuis, kapitalis dan neo-kapitalis denga “klas-klas” tertentu, dengan kuasa sosio-ekonomis serta politis. “Orde Baru” Fransiskus terlalu sering menjadi “Ordo Fransiskan”, yang dalam masyarakat dan Gereja ingin berkuasa, i­ngin bergengsi, yang menjadi ordo klerikal dan ordo pastoral berlembaga, tempat ada “clerici” dan “laici” seperti di luar.

“Dunia baru” Fransiskus: ‘pengganggu’

Tentu saja mimpi Fransiskus tentang “dunia baru” tetap tinggal sebagai pengganggu. Berulang kali dalam sejarah Ordo Fransiskan, mimpi itu kembali ingin diwujudkan, sampai dengan hari ini dengan munculnya cabang baru dalam ordo I (Fratri minori reformati, fratri minori della immaculata). Pembaharuan-pembaharuan sepanjang sejarah fransiskanisme selalu tercetus oleh “mimpi” Fransiskus, dapat bertahan beberapa puluh tahun, lalu kembali diserap oleh “dunia lama”, baik sipil maupun gerejani. Ketegang­an, perjuangan antara “dunia baru” ciptaan Fransiskus, tegasnya ciptaan Injil melalui Fransiskus, dengan “dunia lama”, biar dunia itu dari feodal menjadi borjuis, kapitalis atau sosialis berjalan terus. Dunia lama dalam bentuk mana pun tetap menggodai fransiskanisme untuk menyesuaikan diri. Tetapi fransiskanisme pun tetap (bisa) menjadi tantangan bagi dunia lama itu, kalau pun kerap kali tantangan itu kurang tampak oleh karena fransiskanisme dalam pelbagai cabang yang tercetus oleh mimpi Fransiskus, mengalah saja.

Godaan dan tantangan itu pun menjadi pengalaman fransiskanisme diIndonesia. Memang fransiskanisme seperti mula-mula tampil di bumiIndonesiasudah “jinak”. Sebab tampil terutama dari segi institusionala, sebuah lembaga misioner/pastoral dalam rangka lembaga Gereja Roma Katolik di Indonesia yang rasa-rasanya, terutama menekankanaspek misioner dan pastoral yang dilembagakan. Memang Gereja Kristus di Indonesia sampai sekarang tampil sebagai sebuah “Lembaga”, semacam “ormas” yang terorganisasi dalam pelbagai sub-lembaga. Dan Ordo Fransiskus tampak sebagai salah satu sub-lembaga dalam meta-lembaga Gereja Roma Katolik itu. Nampaknya fransiskkanisme di Indonesia seluruhnya diserap oleh “dunia lama”, lembaga Gereja Roma Katolik.

Fransiskanisme di Indonesia sudah jinak. Matikah?

Fransiskus serta teman-temannya dalam masyarakat feodal dan borjuis abad XIII memimpikan dan berusaha mewujudkan suatu “dunia baru”, suatu dunia lain, suatu dunia yang dilihat sebagai lebih sesuai dengan pesan Yesus Kristus yang tercantum dalam Injil-Nya. Sepanjang sejarah fransiskanisme terlalu sering membiarkan dirinya diserap oleh “dunia lama”. Di Indonesia fransiskanisme sejak awal sudah jinak, tidak menawarkan suatu alternatif dalam Gereja neo-feodal, borjuis dan neo-kapitalis. Lihat saja bagaimana fransiskan dan sekian banyak fransiskanes berputar-putar saja pada tempatnya dalam lembaga Gereja Roma Katolik itu, sebuah sub-lembaga di samping sekian banyak sub-lembaga lain.

Hanya boleh dan harus ditanyakan: Matikah untuk selamanya mimpi Fransiskus? Tidak mungkinkah, tidak realistiskah mimpi itu kembali diusahakan perwujudannya dalam situasi nyata menjelang akhir abad XX dan di Indonesia? Beranikah para pengikut Fransiskus dari Indonesiadan di Indonesiasecara real dan nyata menawarkan sebuah alternatif yang menjadi tantangan Injili bagi masyarakat dan Gereja di Indonesia? Beranikah para pengikut Fransiskus di Indonesia (secara formal jumlahnya tidak kecil) bergabung untuk benar-benar menjadi tantangan. Apakah masa depan Injil di Indonesia terjamin oleh Gereja neo-feodal, borjuis dan neo-kapitalis itu? Fransiskus dan teman-temannya bukan revolusioner sosial, politik atau gerejani, bukan penganut “teologi pembebasan”. Sebaliknya, didalam masyarakat dan Gereja sebagaimana adanya mereka menciptakan dunia baru, seperti Yesus dalam masyarakat dan agama bangsanya sebagaimana adanya memperlihatkan dampak Kerajaan yang Ia beritakan. Fransiskan tidak usah menjadi revolusioner sosio-pilitik, gerejani atau religius. Tetapi alangkah hebatnya bila mereka secara serius berusaha menciptakan suatu dunia baru, dunia Injili di dalam masyarakat sebagaimana adanya. Mengapa? Oleh karena mereka menjadi ahli waris mimpi Fransiskus Asisi, “homo alterius saeculi”, yang dalam masyarakat sebagaimana adanya “exivit de saeculo”, keluar dari dunia; “fuga mundi” ala Fransiskus.