XI. Paguyuban Religius

Dilihat: 217 kali

Perjanjian Baru: ‘kamu semua adalah saudara’

Menurut kesaksian Perjanjian Baru orang Kristen pada umat perdana biasa saling menyebut dan menyapa sebagai saudara. Dan menurut Mat 23: 8 seharusnya demikian, sebab Yesus menegaskan: kamu semua adalah saudara. Meskipun kekristenan awal tidak berusaha mengubah struktur masyarakat, namun dalam pendekatan dasariah mereka sama saja. Diantara mereka yang mengenakan manusia baru “tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat dan orang tak bersunat, orang barbar atau Skit, budak atau merdeka. Sebab Kristus adalah semua di alam segala sesuatu” (Kol 3: 11), “tidak ada laki-laki atau perempuan, tetapi semua adalah satu dan sama dalam Kristus Yesus” (Gal 3: 28). Kesamaan dasar dan kesamaan nilai semua orang percaya tidaklah mesti berarti bahwa semua juga sama peranannya dalam rangka umat Kristen.

Paguyuban Kristen awali seperti digambarkan dalam Kis 4: 32-37; 2: 43-47; 15: 6 dst memperlihatan bahwa ada “rasul-rasul”, “penatua-penatua” dan ada semacam ketua, Yakobus saudara Tuhan. Tetapi kenyataan itu tidak merusak kesamaan sebagai saudara, sehingga seluruh umat sedunia dise­but sebuah “persaudaraan”, yang menyebut Allah sebagai Bapa bersama (lPtr 5: 8; 1: 17-23). Di kemudian hari, waktu kekristennan secara sosial dan politis di atas angin, semua perbedaan sosio-politis dari masyarakat menyusup pula kedalam umat Kristen, sehingga persaudaraan meluntur dan sapaan formaslisme liturgis “saudara” menjadi formalisme belaka. Tetapi muncul juga reaksi, yaitu gaya hidup religius (kerahiban), yang berusaha meneruskan paguyuban awali, persaudaraan jemaat perdana di Yerusalem, dengan Allah sebagai Bapa, yang terwakili oleh Sang Abas, vices gerens Dei. Biara para rahib merupakan satu keluarga orang yang bersaudara.

Persaudaraan Kristen awali yang mau diteruskan oleh hidup religius, yang menurut hukum Gereja haruslah hidup berkomunitas, hidup dalam persaudaraan konkret, bukan suatu persaudaraan wajar, alamiah seperti misalnya persaudaraan Yahudi yang berdasarkan kebangsaan yang sama. Sebaliknya, persaudaraan Kristen malah mendobrak huhungan alamiah dan wajar. Yesus menandaskan (Mat 12: 48-49): Siapa ibu, saudara dan saudariku? Ialah mereka yang melakukan kehendak Bapa-Ku. Persaudaraan Kristen berdasarkan iman kepada Allah yang berwajah Yesus Kristus dan yang dikumpulkan oleh Roh Kudus. Persaudaraan itu sebuah persaudaraan karismatik – kalau mau dikatakan demikian – dan persaudaraan religius yang meneruskannya pun sebuah persaudaraan karismatik. Persaudaraan itu diwujudkan melalui cinta persaudaraan dan kasih timbal-balik, sebagaimana secara khusus ditonjolkan dan digarisbawahi dalam karangan-karangan Yohanes (Yoh 15: 17; lYoh 3: 11; 2Yoh 5 – 6 dll). Baiklah diingat bahwa kasih persaudaraan itu berbeda dengan kasih kepada sesama. Kasih persudaraan selalu timbal balik, pada hal kasih kepada sesama dapat sepihak, sehingga bahkan musuh tercakup olehnya. Oleh karena karangan-karangan Yohanes menonjolkan kasih persaudaraan, kasih timbal balik, dalam karangan-ka­rangan itu tidak ditemukan “perintah” sebagaimana tercantum dalam Injil sinoptik: cintailah musuhmu seolah-olah karangan-karangan Yoh tidak tahu menahu tentang cinta kepada musuh. Seorang saudara yang menyeleweng dari iman, dari ortodoksi, tidak boleh diterima di rumah dan tidak boleh diberi salam lagi. Sebab ia bukan saudara (bdk. 2Yoh 10-11).

Persaudaraan religius: persaudaraan “rohani”

Di dalam persaudaraan dasar umat Kristen yang nyatanya sangat meluntur, kaum religius membentuk persaudaraan-persaudaraan “rohani”, persaudaraan dalam Roh Kudus yang membagi-bagikan karunia menurut kehendak-Nya. Persaudaraan itu diwujudkan melalui kasih persaudaraan yang berbuah dalam kesehatian dan persekutuan, kesetiakawanan.Ada“koinonia”, komunio/komunitas rohani dan jasmani, sebagaimana yang digambarkan dalam Kis 4: 33-37.

S. Augustinus dalam Angaraan Dasar yang ditulis untuk sebuah komunitas kurang lebih kerahiban, sangat menganjurkan dan menekankan persaudaraan karismatik itu. Jika kadang kala dikatakan bahwa ciri khas Ordo ciptaan Fransiskus Asisi, ialah persaudaraan, “saudara-saudara” (dina), maka janganlah orang terlalu menekankan itu. Persaudaraan termasuk kedalam hidup religius, sangat ditekankan oleh Augustinus dan Fransiskus dalam hal itu (seperti dalam banyak hal lain) cukup bergantung pada tradisi Augustinus. Bukan gagasan persaudaraan yang menjadi kekhasan Fransiskus, tetapi caranya ia mau mewujudkan gagasan Injili itu, bukan menurut model jemaat perdana di Yerusalem, melainkan menurut model Yesus dengan rombongan murid-Nya, dimana tidak ada rabi atau bapa atau magister atau pemimpin, kecuali yang ada di surga dan Kristus (Mat 23: 8 dst). Persaudaraan religius, termasuk persaudaraan fransiskan mau memulihkan “firdaus” dan mengantisipasikan surga. Begitulah cita-citanya yang menginspirasikan persaudaraan religius dan mengarahkannya, tetapi tidak pernah seluruhnya terwujud.

Tetap eksis kendati kesulitan-kesulitan

Sebab persaudaraan “rohani”, yang tidak mempunyai dasar wajar dan alamiah, nyatanya amat sulit dilaksanakan oleh manusia yang kerap kali masih jauh dari rohani. Tidak dapat tidak dalam persaudaraan religius, termasuk persaudaraan fransiskan, ditemukan macam-macam ketegangan, bentrokan antara manusia. Namun demikian mereka semua, kendati perbedaan pendapat, bentrokan, ketengangan dan persaingan, tetap saudara. Dan bahwa kendati kesulitan-kesulitan manusiawi seperti itu mereka tetap tinggal bersama, tidak tercerai-berai kemana-mana, sudah membuktikan kekuatan Injil dan Roh Kudus yang menciptakan persaudaraan, komunitas rohani dengan manusia kedagingan. Boleh saja orang mengeluh tentang kekurangan dalam persaudaraan, asal tidak lupa bahwa toh ada persaudaraan dan persaudaraan yang bertahan. Suatu mukjizat yang patut dikagumi dan tidak hanya dikeluhkan. Orang mesti bercita-cita luhur sehubungan dengan persaudaraan, tetapi juga mesti realistis, jangan berkhayal, jangan mengharapkan terlalu banyak. Seorang Minister jenderal Fransiskan pernah berkata demikian: Jangan bertanya apa yang saya terima dari persaudaraan dan apa yang boleh saya harapkan, tetapi orang seharusnya bertanya: Apa yang dapat saya berikan kepada persaudaraan (kumunitas) dan apa yang boleh diharapkan persaudaraan, komunitas dari saya. Pendirian itulah yang realistis, namun sangat idealistis juga.

Baiklah disadari pula bahwa persaudaraan itu sendiri, hidup bersama sebagai saudara, menjadi kesaksian publik tentang kekuatan Injil dan Roh Kudus serta tentang apa yang ditujui seluruh persaudaraan Kristen. Bertahan dalam persaudaraan, komunitas, tidak melarikan diri, entah bagaimana, kendati ketegangan, bentrokan, persaingan, menjadi kesaksian yang paling jelas.

Saling menerima dan saling mengampuni; sarana-sarana mengatasinya.

Konkritnya itu berarti orang saling menerima sebagimana adanya, selama tinggal dalam batas yang memungkinkan persaudaraan, saling memaafkan dan saling mengampuni terus menerus. Betapa banyak nas Perjanjian Baru menekankan hal semacam itu, sehingga jelas pula bahwa umat perdana pun sudah bergumul dengan soal yang sama: membentuk persaudaraan rohani dengan manusia kedagingan. Boleh dibaca: lPtr 4: 7 dst; Rom 12: 3; 13: 8; Mat 18: 15; lYoh 3: 11. Tetapi juga secara posisif: Saling mendekati, sa­ling mendukung, saling menolong dalam segala keperluan. Menjadi semakin setia pada persaudaraan. Dan jangan terlupa: Kerja sama di bidang apa pun, khususnya di bidang misioner, pastoral, kerasulan. Pengikut-pengikut Fransiskus kadang kala mau berbangga (dengan kurang berdasar) atas persaudaraan Fransikan. Tetapi nyatanya mereka khususnya dalam kerja dan karyanya menjadi individualis, “Single fighter”, yang kadang kala lebih mudah kerja sama dengan orang luar dari pada dengan sesama saudara. Personalisme Fransiskan terlalu sering menjadi individualisme yang langsung berlawanan dengan persaudaraan religius dan fransiskan.

Sarana klasik dan biasa untuk menghayati dan mempertahankan persaudaraan ialah antara lain memberi pendapatan, perolehan jasmani, ekonomis kepada persaudaraan, komunitas dan membiarkan komunitas menentukan bagimana akan dipakai. Boleh jadi ada orang yang berkesan bahwa apa yang ia sumbangkan, oleh komunitas diboroskan, disalahgunakan dan sebagainya. Baiklah ia menegur komunitas, tetapi jangan mengundurkan diri dan menjadi ekonom bagi dirinya saja. Sarana lain yang klasik dan khususnya dalam tradisi Fransiskan mestinya dipertahankan ialalah: secara teratur berdoa bersama, makan bersama secara teratur, rekreasi bersama dan rapat bersama, meskipun boleh saja sangat membosankan dan dialami sebagai pemborosan waktu. Kalau orang tidak memanfaatkan sarana-sarana tradisional itu ia lama-kelamaan menempatkan diri di luar persaudaraan nyata dan menjadit anggota ordo, tarekat statisktik melulu. Namun ia pernah memprofesikan untuk hidup bersama dengan saudara dan berusaha mewujudkan persaudaraan rohani yang dicitakan Injil sebagai antisipasi persaudaraan, komunio, koinonia di surga.