X. Profesi Religius

Dilihat: 270 kali

Pertobatan ke dua: awal kehidupan religius

Pertobatan kedua yang menjadi awal bentuk keristenan yang disebut hidup religius dan yang mengubah diri orang serta hidupya, sehingga selanjutnya secara eksklusif mau ditentukan oleh Kerajaan Allah semata-mata, mengakibatkan bahwa dalam kekristenan macam itu sedikit banyak menjadi terwujud apa yang digambarkan dalam khotbah “di palataran” yang tercantum dalam Injil Luk 6:20-49. Khotbah di bukit memang sebagiannya sama, tetapi sangat berlatar belakang masyarakat Yahudi pada abad II, sehingga tidak begitu mudah diaktualkan (Mat 5-7). Adapun pertobatan tersebut serta implikasi eksistensialnya diperteguh dan diresmikan oleh apa yang diistilahkan sebagai “Profesi”. Istilah itu diturunkan dari kata Latin “Pro-fite­ri/fari”. Artinya: Menyatakan (sesuatu) didepan umum, secara resmi. Apa yang dalam profesi religius didepan umum, secara publik, dinyatakan ialah: Keputusan pribadi untuk, mewujudkan kekristenannya secara khusus, kekrisgtenan yang ditentukan oleh Kerajaan Alah melulu, sebagaiman diharapkan di akkhir zaman menjadi terwujud secara universal. “Allah yang menjadi segala dalam segala” (lKor 15: 28), Allah satu-satunya penentu segala-galanya, satu-satunya nila yang masih sisa bagi manusia.

Pada saat tertentu dalam hidupnya seseorang beriman dan berdasarkan i­mannya didepan seluruh umat Allah (yang dihadirkan oleh pejabat universal) menyatakan keputusan dasariah bahwa, dengan menanggapi kehendak Allah yang beprakarsa melalui “panggilan”, untuk dalam rangka seluruh umat dan demi seluruh umat, menghayati Injil Yesus Kristus secara khusus.

Profesi dan kaul

Baiklah disadari dengan tegas bahwa “profesi” sebenaraya sesuatu yang lain dari pada “kaul”, meskipun kerap kali begitu saja disamakan. Profesi jauh lebih luas dari pada (isi) ”kaul” (ketiga nasehat Injil yang perannya masih dapat direnungkan). Nyatanya ada “profesi”, benar benar “profesi” yang tidak memuat kaul. Ordo III Fransiskan sekular (Karmelit, Dominikan) memang mengikrarkan “profesi”, dengan arti kata tegas dan tepat, tetapi tidak mengikrarkan “kaul”.

Profesi religius kelanjutan profesi baptisan

Profesi pada umumnya dan profesi religius pada khususnya merupakan suatu perincian lebih lanjut dari “profesi” (janji + pengudusan) yang tercantum dala baptisan. Orang yang dibaptis dan menyetujui baptisannya di depan umum, publik, mengikat diri pada Yesus Kristus sebagai pengarah kehidupannya, dikhususkan, dikuduskan bagi Allah. Adapun profesi, khususnya profesi religius, mengarahkan perwujudan profesi baptisan ke jurus­an tertentu, yaitu secara eksklusip bagi Allah yang meraja secara definitip, Allah yang melampaui dunia namun memberikan dirinya secara definitip kepada manusia.

Profesi: keputusan pribadi yang dipublikkan

Pada dirinya, dilihat dari segi orang yang bersangkutan, profesi ialah keputusan pribadi yang dinyatakan didepan umum, adalah menyeluruh. Profesi itu menyangkut seluruh diri orang serta kehidupan yang berpancar dari diri orang, baik secara memanjang – seumur hidup di dunia – maupun secara mendatar (seluruh hidup dalam segala dimensinya). Menurut hukum gereja “profesi” dapat “sementara”, namun menurut hakekatnya profesi mesti “kekal”. “Profesi sementara” sebenarnya tidak mewujudkan hakekat profesi. Maka dari segi orang yang bersangkutan juga profesi yang menurut hukum “sementara” seharusnya kekal. Keputusan definitip sudah diambil dan dinyatakan didepan umum. Dalam rangka Ordo Fransiskus sekular tidak ada “profesi sementara” dan Anggaran Dasar Fransiskus pun tidak tahu tentang “profesi sementara”. Maka juga dalam profesi sementara seharusnya orang secara definitip dan eksklusip mengikat dirinya pada Allah yang datang mewujudkan kedudukannya sebagai satu-satunya penentu keberadaan manusia. Maka pada saat profesi, pada saat tertentu dalam hidupnya, seseorang seolah-olah mengentalkan seluruh hidupnya dan menentukan arah orientasi segenap eksistensinya.

Inti, hakekat profesi

Adapun inti, hahekat profesi religius ialah: keputusan untuk membiarkan dirinya dan hidupnya seluruhnya ditentukan dari “luar” dirinya, yaitu oleh apa yang disebut “Kerajaan Allah”, Allah yang meraja secara definitip di akhir zaman. Tetapi justru itulah yang di dunia ini mau diantisipasikan melalui cara hidup orang yang berprofesi, yang mewajibkan diri untuk membiarkan Allah semata-mata menentukan segala sesuatu. Dan bentuk hidup Kristen yang muncul ialah sebagaimana digambarkan dalam khotbah di palataran yang disebut di muka (Luk 6:20-49): Ialah suatu eksistensi yang ditentukan oleh Kerajaan Allah, suatu eksistensi yang melampaui dan de­ngan demikian berlawanan dengan “kesepuluh perintah”, yang justru mempertahankan, dan membela nilai-nilai dasar manusia di dunia, nilai-nilai sekular (moral). Apa lagi ekistensi itu berlawanan dan melampaui tatanan masyarakat manusia. Eksistensi itulah eksistensi kaum religius pada umumnya, yang lebih lanjut diperincikan, divariasikan oleh apa yang dise­butkan sebagai “spiritualitas”. “Hidup religius” memang sebuah abstraksi (hukum). Apa yang secara real ada hanyalah:gaya hidup religius begitu atau begini, misalnya: Fransiskan, Yesuit, Karmelit, Benediktin dan sebagainya.

Apa yang diprofesikan?

Maka apa yang diprofesikan bukan “hidup religius” (apa lagi kaul kebiaraan), melainkan hidup-religius khusus ini atau itu. Seorang Fransiskan memprofesikan dan mewajibkan diri untuk mewujudkan “hidup fransis­kan”, dalam kerangka “hidup religius” menurut hukum, hidup fransiskan sebagaimana digariskan dalam Anggaran Dasar, yang pada gilirannya merumuskan visi Fransiskus bagi para pengikutnya: spiritualitas fransiskan. Saya kerap kali berkesan bahwa kaum religius pada umumnya, termasuk sementara pengikut Fransiskus, kurang menyadari bahwa memprofesikan Angaran Dasar, tidak menjadi “religius”, apa lagi religius klerikal, melainkan Fransiskan (dalam salah satu variannya lagi).

Maka melalui profesi orang secara dasariah menyangkal dirinya, si Aku yang mandiri (dan berhak mandiri dalam batas tertentu). Si Aku yang mandiri itu diganti dengan Allah, seperti Ia menyatakan diri dalam Yesus Kristus. Allah itu secara eksklusip menjadi penentu hidup orang yang berprofesi. Tidak ada nilai manusiawi, sekular manapun yang masih boleh berperan sebagai pengatur dan pangarah serta penggerak keinginan, pikiran, perasaan dan tindakan. Maka isi profesi bukan “kaul” atau “nasehat”, melainkan diri orang yang secara total mendharmabaktikan dirinya kepada Allah melulu. Segala apa yang lain ditempatkan dalam rangka ini, sehingga semua nilai lain kehilangan otonominya. Dan justru karena pembaktian, “pengudusan” total itu profesi religius boleh saja dianalogkan dengan “kurban”.

Pelaksanaan Profesi Religius

Jika profesi religius berisikan keputusan, definitip yang diambil pada saat tertentu, maka keputusan itu tinggal dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen dalam kehidupan sebagaimana nyatanya akan berlangsung. Pada saat profesi orang memang tidak tahu bagaimana nanti akan terjadi. Di zaman “pasca moderen” ini orang mulai mempersoalkan apakah keputusan macam itu masih mungkin. Bagaimana orang dapat memutuskan sesuatu yang belum ada, mengingat bahwa tidak ada – dalam pikiran pasca-moderen itu – sesuatu pun yang mantap, definitip. Manusia tidak bisa menentukan apa-apa. Setiap saat ia (dengan bebas) boleh dan mesti memilih antara sekian banyak kemungkinan yang melalui situasi nyata ditawarkan. Dalam alam pikiran macam itu sebuah “profesi religius” tidaklah mungkin. Namun demikian tetap dipertahankan. Bagaimana rofesi dapat dipertahankan? Hanya oleh karena orang tetap beriman, percaya bahwa ada sesuatu, tegasnya, pribadi yang defintip dan mantap. Namanya Allah yang berwajah Yesus Kristus. Manusia memang tidaklah mantap, sangat lincah dan suka berubah-ubah terus menerus, menyesuaikan diri dengan situasi, supaya situasi itu menguntungkan bagi dirinya. Tetapi dalam profesi orang tidak membaktikan diri serta hidupnya kepada manusia mana pun termasuk dirinya sendiri yang tidak stabil dan goyah terus. Orang mendharmabatikan diri serta hidupnya kepada Allah yang mantap. Allah itulah yang memberikan kemantapan pada kehidupan manusia, sehingga manusia dapat mengambil keputusan yang mencakup seluruh kehidupan yang tidak diketahui. Orang tidak percaya pada manusia, tidak mengandalkan dirinya, tetapi mempercayakan diri serta hidupnya kepada Allah, satu-satunya andalan yang mantap. Memang tanpa iman eksistensial yang mendalam, profesi religius tidak masuk akal dan tidaklah mungkin. Profesi itu dimungkinkan oleh iman yang dewasa dan mantap.